
Di Hutan Belantara beberapa Hari Kemudian ....
Lucky dan Francis telah berkamuflase sempurna menyatu dengan pepohonan dan alam. Mereka hampir mencapai markas Axel Anthony sementara Silvester dan seorang lain bersiap dengan senjata untuk mulai menembak dari jarak 900 meter. Dua hari lamanya mereka merayap menyusuri hutan untuk mencapai jarak terdekat dari markas Axel Anthony. Merayap pelan dan teratur. Hanya merayap.
Tak bisa dipungkiri ia merindukan gadisnya yang bergelung dalam selimut. Ia memikirkan Reinha saat malam begitu gulita, saat pagi cahaya mentari menembus dedaunan oak, bertanya dalam hati; apakah gadis itu terbangun kecewa karena ia menghilang? Ia tak menepati janji untuk mendekapnya sampai pagi. Saat ia membasuh wajah di sungai jernih, senyumannya terkulum pada bayangan bibir Reinha yang selalu mengumpat, pada tiap kekerasan frontal yang dilakukan gadis itu. Ia berharap semua ini segera berakhir dan ia akan kembali pada kekasihnya.
Mereka dalam pengintaian ke markas Axel, 4 hari selanjutnya. Menunggu untuk pelajari aktivitas markas dan hari ke empat mereka akan menyelamatkan Pequeena. Tidak seperti planning semula, mereka butuh waktu lebih lama.
Pequeena ditawan di sebuah ruang sempit di dekat kemah utama Axel Anthony. Di sana banyak wanita-wanita tawanan. Mereka dikeluarkan pada malam hari untuk meramaikan malam pekat tetapi Queena tidak ada di antara mereka. Gadis itu ditempatkan di sebuah ruangan yang sangat intim bagi Axel Anthony dan tidak perlu ditebak, Axel mungkin telah menodainya. Ia harus benar-benar fokus menyelamatkan Queena dan jika beruntung ia akan melubangi mata Axel.
Lucky dan Francis akan masuk ke markas Axel Anthony untuk membawa Queena pada hari ke-empat. Lima menit krusial dan mereka diberi waktu 15 menit untuk keluar dari sana setelah menemukan Queena. Menara pengawas berisi prajurit Axel, berjaga-jaga bahkan di waktu malam. Mereka merayap semakin dekat. Silvester mengokang senjata. Ia akan menembak pengawas menara. Perburuan Silvester dimulai. Satu letusan, seorang jatuh dari ketinggian menara. Satu tembakan mengubah suasana lengang pagi itu.
Pasukan terkejut, berlarian mengambil posisi sementara Francis menyusup memasang granat di tiap sisi kemah. Akhirnya tembakan dimulai, bersahut-sahutan di hutan rimba yang sepi. Burung-burung beterbangan di udara menghindari keributan yang diciptakan manusia.
Mereka akan menghancurkan tempat itu hingga rata dengan tanah. Lucky menuju tempat Queena disekap. Ia dihadang orang-orang Axel dan dengan sigap menyingkirkan mereka satu-persatu, memutar batang leher dan menembak tanpa ampun. Ia mengisi peluru, menarik pelatuk dan menembaki siapa saja yang terlihat olehnya.
"Queena?" Lucky memeluk gadis yang ketakutan saat menemukannya meringkuk di bawah tempat tidur, bersembunyi mungkin ketakutan mendengar suara tembak-menembak di luar ruangnya disekap. Gadis itu pasti lewati hari-hari buruk. Meski demikian, hanya ada luka goresan kecil di pipi tanpa goresan sayatan dan ia terlihat layu mengering sepertinya tidak makan selama berhari-hari.
"Lucky?!
Mata Queena tak bisa ungkapkan dengan kata-kata saat ia melihat Lucky.
"Aku tahu kau akan datang selamatkan aku." Ia bicara sambil menangis dan memeluk Lucky kuat.
"Apa Ibuku baik-baik saja?"
"Kita tidak punya banyak waktu Queena, tempat ini telah dipasangi granat dan akan meledak. Aku akan membawamu keluar."
Queena mengangguk dan berlindung dibalik tubuh Lucky sementara Lucky mengangkat senjata bersiap habisi siapa saja yang terlihat. Mereka hendak keluar dari sana ketika Axel Anthony mendorong pintu dengan senjata juga bersiaga menembak. Axel menyeringai ketika melihat Lucky Luciano, pembunuh sang Ayah.
"Lucky?!" desisnya dengan nada gembira. "Senang kau datang ... aku bisa habisi kau dengan mudah." Masih menyeringai.
"Axel ... " sapa Lucky membalas seringai itu. "Apakah kau tidak punya orang lain untuk diculik? Kau melibatkan orang yang salah."
Axel meringis, menatap Lucky setengah mengejek, "Tentu saja. Apa maksudmu aku perlu menculik kekasih-mu alih-alih menculik Puteri Viktor?! Jangan memancingku, aku bisa menculik gadis cantik-mu saat ini juga."Ia mulai memprovokasi Lucky.
Lucky tidak terpancing, ia tenang terkendali. Alisnya terangkat tinggi, ia berdecak.
"Kau bisa dengan teliti mengetahui kekasihku tetapi tak benar-benar tahu siapa pembunuh Ayahmu yang sebenarnya? Sungguh di sayangkan," balas Lucky mencemooh.
Mata Axel membara, "Kaulah pembunuhnya."
"Tentu saja itu menurutmu, tapi saranku ... caritahulah!"
Lucky hanya punya waktu tersisa 10 menit untuk membawa Queena keluar dari markas Axel.
"Pergilah! Aku akan mengampuni-mu. Gadis itu milikku, Lucky ... " katanya dingin. Itu memberi Lucky banyak informasi. Sementara cengkeraman Queena di rompi anti pelurunya semakin mengencang.
"Aku akan membawanya! Kau bisa mencari gadis lain ... itupun jika kau selamat hari ini. Aku berniat melubangi matamu."
Axel melempar senjatanya, ini pertanda mereka akan berduel.
"Tak semudah itu. Lewati aku dulu. Aku belum cukup bersenang-senang dengannya." Ia kembali menyeringai kali ini pada Queena.
Lucky melempar senjatanya dan mereka mulai bertarung. Jab dan hook juga tendangan demi tendangan terlontar. Keduanya jatuh bangun di dalam ruang sempit itu. Hingga suatu ketika Lucky berhasil memukul Axel hingga tersungkur dekat Queena. Tanpa diduga Queena meraih pistol yang terselip di tubuh Axel dan tanpa ragu menembak tubuh Axel. Tangannya gemetaran dan mata mulai buram. Itu menghentikan Axel sementara waktu. Queena melangkah melewati Axel tetapi Axel meraih kaki Queena hingga terjerembab. Queena berbalik dan menodong senjata tepat di kepala Axel, tetapi tak menembaknya. Queena menendang pria itu sangat keras hingga kakinya bebas.
Lucky meraih Queena sementara Axel mengerang kesakitan terlihat ingin meraih senjata dan menembak Lucky tetapi tak dilakukannya sebab jaraknya terlalu jauh. Lucky memungut senjatanya dan mengarahkan pada mata Axel.
"Senang bisa melubangi kepalamu." Pucuk senjata di mata kiri Axel. Namun, tangan Queena menahan Lucky membuat pria itu menyipit. Queena menggeleng meminta Lucky untuk tidak menembaki Axel Anthony.
"Lihatlah Axel, gadis yang kau culik ini telah menyelamatkan nyawamu. Lain kali aku akan melubangi kedua matamu."
Lucky dan Queena keluar dari sana tepat sebelum sebuah granat meledak. Keduanya terlempar jauh. Lucky memeluk Queena erat. Debu-debu dan pecahan material bangunan melayang ke langit bening sebelum berjatuhan laksana hujan, telinganya berdenging. Dunia gelap di sekitarnya.
"Enya, apa kau menungguku kembali? Aku merindukanmu."
****
"Mengapa foto Kakek diturunkan?!"
Arumi berdiri di ruangan tamu dan bersungut-sungut sementara beberapa pelayan menurunkan potret kebanggaan Tuan besar Diomanta. Marya selalu merinding tiap melihat foto kakeknya itu, teringat ia pernah memeluk sepatu Tuan Dio dan mendapat tendangan. Mungkin karena melihat Marya yang selalu ketakutan, Sunny memutuskan untuk menurunkan potret tersebut dan memindahkannya ke ruang kerja.
"Jika Kakak membenci Kakek, itu urusanmu. Aku sangat menyayanginya," tambah Arumi mulai kesal.
"Aunty Sunny yang meminta pelayan untuk menurunkannya." Marya mendekati Arumi. Ia membawa nampan makanan Ibu. "Kau harus ke sekolah dan mendaftar, aku akan menemanimu."
Arumi cemberut, "Aku bisa sendiri. Lagipula aku tak ingin teman-temanku tahu, kau kakakku. Itu sangat menyebalkan."
"Baiklah, berhentilah berkerut dan pergilah sarapan. Aku sudah membuatkanmu penekuk apel yang sangat lezat. Hmmm?!"
Arumi memandang Marya dengan wajah muak, "Aku akan berhenti berkerut kalau Kakak pergi dari sini! Mengapa tidak bersembunyi saja terus?"
Marya menghela napas berat, tak ingin tanggapi atau ladeni kekesalan adik sambungnya lebih jauh. Ia harus pergi ke kamar Ibu membawakan makanan dan obat. Saat hendak melewati Arumi, tiba-tiba saja kaki Arumi terjulur hingga Marya yang tidak melihat sodoran kaki itu, terjerembab jatuh dan keningnya menubruk tepian anak tangga pertama.
Nampan melayang di udara sebelum jatuh. Mangkuk dan gelas menghantam lantai timbulkan bunyi pecah-belah sedang Marya menahan sakit di keningnya. Tangannya juga tak sengaja menginjak beling pecahan gelas.
Ia menjerit saat pecahan kaca itu merobek tangannya.
"Marya?!" Elgio dan Abner yang baru datang sekonyong-konyong berlari pada Marya.
"Apa yang terjadi?"
"Aku terjatuh, Elgio. Padahal ini bubur untuk Ibu," jawab Marya hampir menangis bukan karena Arumi atau tubuh terluka, tetapi karena jam sarapan Ibu akan lewat. Ia harus membuatkannya lagi.
"Kemarikan tanganmu!"
Elgio mengeluarkan sisa beling dan menahan darah yang keluar dari tangan Marya dengan dasinya. Seminggu meninggalkan Marya di Paviliun Diomanta sungguh sangat menyiksanya. Kini melihat Arumi berkelakuan buruk pada Marya, Elgio meradang. Ingin rasa menampar Arumi. Buah jatuh tak jauh dari pohon. Meski masih belum genap 16 tahun, Arumi punya jiwa kriminal tingkat tinggi. Elgio menjadi sangat waspada.
"Arumi?! Apa kau sengaja menyakiti Kakakmu?"
Teguran tidak suka Sunny membuat Arumi makin menekuk wajah. Saat mendengar ribut-ribut suara Arumi, Sunny kembali ke ruang tamu. Senang melihat dua ponaan itu mengobrol tetapi Arumi ternyata jahati Kakaknya.
"Minta maaf padanya!"
"Aku tak berbuat apa-apa? Mengapa kau memarahiku, Aunty?" Wajah cemberut Arumi menatap Marya.
"Arumi?!" pekik Sunny.
"Aku benci padamu, pada Ibu juga. Aku akan pergi dan tinggal bersama Valerie. Aunty Valerie lebih mengerti aku dibanding kalian berdua."
"Apa kau terluka, Ruhi?" tanya Sunny menatap nanar pada Marya sementara rahang Elgio membatu.
"Aku akan mengobatimu," kata Elgio pelan.
"Tidak apa Elgio, aku baik-baik saja."
"Marya ... aku akan mengobatimu," bisik Elgio nyaris berguman, ia menahan murka. Di depan matanya Arumi berani mengganggu Marya. Hatinya memerah.
"Aku akan membawa Aruhi pulang. Lagipula, Nyonya Salsa sudah cukup sembuh, bukan?"
"Elgio ... beri aku sedikit waktu. Arumi cuma sedang kesal." Marya menatap kekasihnya mencoba membuat Elgio tenang. Wajah pria itu memerah hingga ke kuping-kupingnya.
Aku tak bisa hidup tanpa melihatmu, Marya. Seminggu ini aku nyaris gila. Elgio berkata dalam hati dan berharap Marya mendengar. Marya menatapnya dengan iris cokelat keoranyean yang begitu memikat.
"Ini berat juga bagiku tanpamu, Elgio. Aku akan mengurus Ibu sedikit lagi hingga Ibu bisa melihatku di pernikahan kita," jawab Marya pelan.
"Baiklah. Apakah perlu kuminta Bibi Mai kemari?" Elgio memegangi tangan Marya yang terluka.
"Aku bisa sendiri."
"Bisakah, kita makan malam bersama nanti?" tanya Elgio penuh harap dan sedikit terhibur saat Marya mengangguk.
***
Sementara Reinha gelisah menunggu tanpa kabar. Lucky tak terlihat, ia kehabisan cara memancing pria itu datang padanya. Ke mana pria itu pergi? Bukankah ia harus mengirim kabar meskipun hanya tanda seru? Apakah rasa lapar Lucky padanya terpenuhi setelah berhasil menyeret ia ke ranjang? Meskipun mereka berakhir hanya dengan pelukan dan kecupan.
Reinha pergi ke ruang penyimpanan senjata membuka lemari besi dan mengeluarkan Barret M82. Seminggu ini Reinha serius berlatih menembak dan Muay Thai. Tujuannya cuma satu, membalas Lucky Luciano. Suatu waktu ia akan memakai topeng, mengendarai mobil dan menculik Lucky Luciano saat pria itu tak sadar. Ia akan menembak bius dari jarak jauh, menyandera pria itu dan akan menyekapnya di pulau terpencil. Pulau yang tak terdata dalam satelit hingga tak ada yang bisa menemukannya. Hanya mereka berdua kemudian ia akan menyiksa Lucky Luciano. Reinha sumringah untuk skenario brilian itu.
Berani sekali pria itu menyinggung perasaanya, mengendap pergi saat ia tidur. Lucky berjanji mendekapnya sampai pagi tetapi pria itu menghilang sebelum pagi datang. Menghilang begitu saja tanpa pamit menyisakan teka-teki tak terpecahkan.
"Apa kau sudah dapat kabar? Bukankah kamu dan Claire sangat dekat?" tanya Reinha sementara Augusto sama sekali tak bisa menolong Nona-nya yang terus uring-uringan.
"Nona, Puri Luciano telah dikosongkan sejak seminggu lalu. Hanya ada pengawal berjaga-jaga."
"Aku akan ke Faith Hill mumpung kakakku tak ada di Durante Land."
Reinha menenteng gunbag membuat Augusto keheranan. Untuk apa pergi ke Faith Hill menenteng Barret M82? Apa yang akan Nona-nya tembak?
"Bagaimana kalau ternyata seminggu ini, brengsek itu menyelundupkan wanita dan bermesraan di Puri Luciano? Kau tahu kebiasaan lama susah hilang. Aku akan mengintai dan menembak tepat di jantungnya."
Augusto berdehem. Reinha terlihat sangat kalap akibat merindukan Tuan Lucky.
"Baiklah, coba kita ke sana."
Augusto yang tak bisa menahan geli ikuti kekonyolan Reinha, Bos-nya yang mabuk cemburu. Mereka berkendara ke Faith Hill dan berhenti di sebuah bukit tak jauh dari Puri Luciano. Reinha pergi ke atas sana, memasang senjata laras panjang memakai helm yang sudah ditempeli dedaunan. Penyamaran tak masuk akal, mengingat Reinha mengenakan jaket kulit warna merah menyala yang bahkan bisa di lihat dari radius ribuan kaki dan celana jeans hitam.
"Kau boleh pergi, aku akan mengintai seharian di sini."
"Nona, bukankah ini tidak masuk akal? Di Puri Luciano benar-benar hanya ada pengawal."
"Pengawal dibayar untuk setia, bagaimana kalau mereka ternyata berbohong untuk melindungi tuannya?"
Augusto mengangkat bahu tak sanggup lagi untuk menahan tawa. Reinha memakai ear phone dan mengunyah buble gum mengusir jantungnya yang berdetak akibat merindukan Lucky. Ia akan mengintai Lucky sama seperti yang dilakukan pria itu padanya. Reinha meniarap dan mulai mengintai. Augusto berdiri tak jauh darinya sebisa mungkin tidak meledak tawa. Ia terkekeh tak tanggung-tanggung akhirnya dan berhenti saat Reinha berbalik mengancam, hendak menembaknya. Ia membungkuk pura-pura ketakutan.
"Apakah Anda menemukannya, Nona?" tanya Augusto penasaran setelah beberapa menit kemudian.
Puri Luciano terpampang di bawah teleskop. Reinha membesarkan optik berkali lipat. Mendesah melihat pengawal di mana-mana.
"Aku akan menunggunya di sini."
"Nona ... Tuan Lucky mungkin sedang menjalankan misi. Anda tahu bahwa pria itu punya banyak kerjaan." Augusto coba membujuk Reinha.
"Pergilah! Beli sesuatu dan mengunyahlah! Aku pusing mendengarmu mengoceh."
Augusto melihat Reinha mulai mengantuk, ia bahkan telah menguap berkali-kali. Angin sepoi-sepoi dan suasana alam sangat mendukung. Reinha melipat tangan dan nyaris tidur di atas dedaunan kering.
"Apakah aku perlu menggantikan Anda, Nona?"
"Ya, kau benar... kemarilah! Kau lihat ruangan paling atas di lantai dua? Pria itu biasa bersenang-senang di sana."
Reinha mendengar lagu dengan volume besar, menutup mata dan biarkan pikirannya melayang jauh pada Lucky. Ia pernah menggigit Lucky di ruangan lantai dua itu. Ia tak menduga beberapa Minggu kemudian Lucky Luciano adalah kekasihnya. Reinha tersenyum. Tetapi di mana dia?
Should've known your love was a game (Seharusnya tahu cintamu adalah sebuah permainan)
Now I can't get you out of my brain (Sekarang aku tidak bisa mengeluarkanmu dari otakku)
Oh, it's such a shame (Oh, sayang sekali)
"Aku baru tahu, seseorang mengintai orang lain sambil mendengar lagu," bisikan cukup jelas dari sebelah Reinha.
"Berisik, kau awasi saja lantai dua," seru Reinha jengkel.
"Hmmm, bagaimana jika seorang wanita benaran ada di sana menunggu Lucky?"
"Mana?!" Reinha mematikan lagu di ponsel yang hanya bikin dirinya makin galau.
"Ia sedang membuka baju di sana."
"Kemari Augusto, aku akan menembak pa- ... "
Kalimatnya berhenti. Reinha mendelik dan menganga saat melihat siapa yang sedang tiarap dengannya. Si pria terlihat mengawasi teleskop dengan kening mengkerut. Wajahnya penuh luka goresan baru dan lebam. Bulu-bulu kasar menggelap di sepanjang rahang. Ia beralih dari teleskop pada Reinha, menatap Reinha lembut.
"Apa aku perlu menembak kekasihmu juga?" tanyanya berat.
"Kau ... brengsek sialan ... " seru Reinha tak mampu menahan luapan emosi. Lucky meraih gadis itu ke dalam pelukan, di bawah pohon-pohon rindang perbukitan.
"Hai Enya, aku merindukanmu."
***
Maaf ya, gak ada visual. Silahkan hallu maksimal....
Chapter ini paling krusial sebenarnya. Tetapi gimana ya ... auhh ahhh... Lucky Luciano karakternya terlampau kuat. Aku sendiri jatuh cinta padanya.
Aku mencintaimu, cintai aku.
Rimagasi Woso (Terima kasih banyak)