
Seminggu berlalu sejak sore yang indah di Red Twilight. Lampu mobil dinyalakan, Lucky dan Reinha, menikmati pekatnya malam, berbagi kisah. The Milky Way di atas sana menyimpan sejuta misteri, pantulan kehidupan cinta mereka sendiri sementara Augusto awasi mereka dari belakang sembari mengirim pesan pada Marya untuk menahan Elgio di luar lebih lama. Nona-nya sedang berkencan.
Seminggu sejak itu, Reinha masih sibuk di sekolah dan Lucky masih sama, antara ada dan tiada. Tiba-tiba datang dan tiba-tiba menghilang. Reinha ingin tahu, apa yang pria itu lakukan? Apakah wanita cantik yang akhirnya Reinha ketahui bernama Valerie mengganggunya? Apakah ia mengurusi Queena? Pria itu sering mengabaikannya dan berlari saat mendapat panggilan dari Puri jika itu tentang Queena.
Mereka janjian nonton film terbaru di bioskop suatu ketika. Reinha sangat senang dan menunggu Lucky di pintu masuk. Lucky mungkin telat, jadi ia masuk dan duduk di dalam bioskop menonton film sembari menanti. Hingga film berakhir Lucky tak kelihatan. Pria itu juga tak membalas pesannya. Reinha coba pahami, ia berjanji tidak akan terlalu banyak menuntut dari Lucky. Jadi, ketika Francis menelpon dan akan menjemputnya untuk kencan bersama Lucky Luciano, murungnya sirna. Ia menjadi sangat bersemangat, separuh menyeret Marya hunting dress di butik Purple dan M23 Fashion.
Mobil jemputan memasuki halaman Paviliun Durante dan Reinha mengintip dari lantai dua. Akhirnya ia akan bertemu Lucky lagi. Ia cepat-cepat keluar dari kamar setelah menyemprot parfum Jasmine yang sangat ia sukai. Jantungnya benar-benar berpacu cepat akibat produksi hormon cinta pada pria yang dulunya sangat ia benci. Mereka akan segera bertemu, pipinya memerah dan nyaris terjungkal di ujung tangga saat matanya terpekur pada ruang tamu. Tidak ada Francis.
Yap ....
Pria yang menjemputnya adalah kekasihnya yang tinggi dan tampan, manly dan cool ..., Lucky Luciano. Elgio Durante, kakaknya juga sangat tampan dengan wajah klimis dan rahang kokoh yang licin, ia memuja Elgio, tetapi kini ia beralih haluan. Rasa-rasanya ingin menuruni hand rail dan masuk dalam lengan-lengan pria itu. Lucky Luciano-nya berdiri gagah di bawah sana sementara Elgio dan Abner mematung setelah saling pandang. Pikiran mereka berdua sama, "berani sekali dia datang ke Paviliun Durante?".
"Maaf, aku mungkin mengganggu. Bolehkah aku membawa Enya untuk pergi berkencan?" tanya Lucky sopan.
Reinha terpana dari lantai atas, campuran antara sumringah meluap-meluap dan harap-harap cemas. Butuh pria dengan nyali super berani untuk datang ke rumah seorang gadis sedang ia tahu, ia sama sekali tak disukai. Meskipun terlihat membaik, Elgio dan Tuan Abner belum sepenuhnya turunkan restu untuk mereka berdua. Reinha tak pernah tahu, Elgio dan Tuan Abner belum temukan cara untuk memisahkan keduanya.
"Hanya karena aku melunak, bukan berarti lampu hijau untukmu. Hmmm?!"
Mata Elgio menyipit hingga kerutan matanya terlihat. Ia tak menyukai Lucky sama sekali dan itu tidak berubah.
"Aku merindukan, Enya," jawab Lucky terus terang. "Jadi, kami janjian untuk kencan dan
makan malam."
Sinar mata Lucky Luciano sangat lembut dan meredup setiap kali ia menyebut nama Enya. Sementara Reinha mangap sempurna tak tahu caranya mengatup. Ia serasa melejit bebas menembus loteng seperti roket, berkobar-kobar, ia ketagihan mencintai pria itu.
"Apa yang akan kau lakukan jika tak diijinkan?" tanya Elgio tajam.
Lucky berpikir lama, tatapannya lurus pada Elgio dan tersenyum sedikit, "Aku akan makan malam di sini dan berkencan dengan Enya di ruang tamu." Mengangkat bahu seakan pasrah sebab tak ada pilihan lain.
Elgio kehabisan kata. Makan malam di ruang makan lalu berkencan di ruang tamunya? Not bad. Sebenarnya itu lebih bagus, ia bisa mengawasi keduanya tetapi melihat Lucky Luciano berkeliaran di rumah bisa bikin mood-nya jelek. Apakah ia akan merayu Reinha di ruang tamu? Di hadapan wali dan Kakak laki-lakinya?
"Kami hanya akan membaca buku ... " kata Lucky lagi menerka dengan benar pikiran Elgio.
Lucky Luciano rupanya tahu bagaimana cara membuat Elgio mati langkah.
"Ya, kau boleh membawa Enya berkencan. Tetapi ada syaratnya ...."
"Baiklah, aku tak keberatan."
Lucky mengangguk. Syarat apapun asal bisa bersama Reinha, ia tak akan keberatan. Maka dari itu, ia sedikit mengerut saat mendengar salah satu aturan paling nyeleneh yang khusus diciptakan untuk Reinha.
"Enya tidak boleh pulang lewat dari pukul 8 malam atau ia akan tidur di kandang hewan bahkan jika hanya lewat dari satu menit," kata Elgio tegas.
Lucky serius memikirkan permintaan Elgio. Saat ini pukul enam lewat, habis di jalan 20 menit dan bolak-balik berarti 40 menit. Ia akan mengajak Reinha ke sebuah tempat yang cukup jauh, mereka akan bersama dalam 1 jam 20 menitan sedangkan saat kencan ... tahulah ... waktu bersama kekasih segitu mana cukup? Itu sama seperti setengah helaan napas melihat Reinha dan satu ketukan, Reinha harus dipulangkan. Elgio terlihat jelas ingin pisahkan mereka.
"Ya, baiklah. Aku akan pergi ke restoran, makan buru-buru bila perlu menelan steak bulat-bulat hingga tersedak."
Reinha menyahut ketus, turuni tangga, buat seisi ruang berpaling padanya. Ia mengenakan gaun merah marun one off shoulder, pamerkan sebelah bahu yang sangat indah, sedang sebelah bahu lain tertutup dan berlengan panjang hingga ke pergelangan tangan. Pipinya merona merah oleh Coral blush on ... mungkin juga oleh terpaan pupil memuja Lucky ... dan red lipstik-nya sangat-sangat berani. Ia melayang-layang oleh tatapan intens Lucky.
"Kau ini ... cepat pulang dan rajin belajar! Jangan sibuk pacaran!" seru Elgio menatapnya tak suka.
"Ya, ya, ya. Mentang-mentang kekasihmu tinggal serumah dan sangat encer, kau jadi keterlaluan padaku." Reinha bersungut kesal. "Aku bahkan biarkan Kakak dan Marya berkeliaran dalam rumah dan saling menggoda tanpa mengusik. Harusnya aku jadi perusuh, jika tau begini balasannya."
"Anak ini ... bawa keningmu kemari!" Elgio bersiap dengan jemarinya akan mengutik kening Reinha.
"Apa yang akan kami lakukan dengan waktu sesingkat itu?" gerutunya jengkel. Ia berpaling pada Abner, "Ayolah ... Tuan Abner ... tolonglah! Aku tak akan macam-macam. Kekasihku lebih baik dalam hal mengendalikan diri dibanding kakakku," ejek Reinha malas tahu.
Reinha merengek pada Abner yang selalu tak bisa melihat gadis itu mengemis sedang Elgio ingin menjewer kuping Reinha untuk asal bicara dan blak-blakan itu.
"Pergilah! Aku akan menunggumu kembali. Jangan merusak kepercayaanku," kata Abner tak indahkan lirikan tajam Elgio.
"Kau memang yang terbaik." Reinha maju, memeluk Abner sukacita dan mencibir pada kakaknya. Elgio berdecak melihat perilaku adik perempuannya. Dia terlihat mulai berantakan sementara kekasihnya terlihat lebih sopan.
Marya tergopoh-gopoh turuni tangga dengan mantel di tangannya. Ia juga berdandan sangat rapi membuat kening Elgio berkerut.
"Di luar sangat dingin, pakailah ini!" Marya kedipkan satu mata sebelum membantu Reinha kenakan mantel.
"Eh, kau mau kemana, Honey?" tanya Elgio. "Ikut dengan mereka?"
"Tidak, Elgio. Aku juga ingin mengajakmu bersamaku. Kita akan membaca buku di The Windows."
Marya tersenyum dan memeluk lengan Elgio. Ia akan mengalihkan Elgio agar tak merecoki Reinha. Gadis seusia mereka mungkin labil dan bodoh tetapi tidak cukup na'if bagi Reinha Durante untuk bertindak memalukan. Marya percaya Reinha hanya perlu kesempatan untuk menemukan cinta, seperti dirinya dan Elgio.
"Bisakah kami pergi sekarang? Aku akan mengantarnya pulang dan mungkin agak telat, maafkan aku," pamit Lucky. Ia ulurkan tangannya pada Reinha dan mereka masih bertatapan sebelum pergi dari sana.
Elgio dan Abner saling pandang, Abner angkat bahu, pikirannya buntu.
***
Lucky membawa Reinha ke sebuah tempat, di sisi selatan kota. Mereka sampai di sebuah pondokan kecil menghadap sebuah danau di tengah belantara Pinus.
"Jika tak bersamamu, tempat ini agak seram. Persis di film-film horor. Ini sama sekali tidak romantis," keluh Reinha agak kecewa.
"Kupikir kau gadis pemberani. Turunlah dan ganti pakaianmu!"
"Eh?! Kupikir kita akan kencan romantis dan makan malam?"
"Jam segini?" Alis Lucky terangkat, "Ini masih terlalu sore. Kita akan bersenang-senang dulu sebelum makan malam."
Francis mendekat berpakaian prajurit lengkap dengan rompi anti peluru dan memegang senjata.
"Kita akan bergerilya di dalam hutan. Kita akan berburu dan kau ada di timku. Hmmm?!" kata Lucky pada Reinha.
"Timku telah siap, Bos. Senang memburu Anda!" kata Francis menyeringai.
"Ingatkan prajuritmu, jangan coba-coba menembak gadis cantik yang bodoh ini atau aku akan melempar kalian ke danau."
Lucky terkekeh, ia ingin menyentuh Reinha dan bibir merahnya yang menantang tetapi menahan diri. Otaknya sudah setengah jalan menuju kekacauan paling nyata melihat Reinha dalam balutan nice dress dan pipinya yang merona sedang Reinha masih separuh menganga saat Lucky menggiringnya ke dalam pondokan, menyodorkan satu bag berisi pakaian ganti. Ia masih tak mengira kencannya seekstrim ini.
"Kau butuh bantuan?! Aku bisa membantumu," ujarnya menggoda. Ia melepas kemejanya tanpa aba-aba, Reinha segera berpaling meskipun ia ingin melihat pria itu tanpa kemejanya. Ia ingin mengintip.
Ya Tuhan, aku mabuk kepayang padanya.
"Aku ingin menunjukkanmu suatu mahakarya tetapi waktu kita terbatas. Aku akan menunggu di luar."
Pria itu keluar sementara Reinha cemberut. Kirain mereka akan makan malam romantis persis waktu di Civic Center. Ia melepas gaun sedikit kepayahan dengan kancing belakang meski akhirnya berhasil juga. Tadi saat kenakan gaun, Marya ada di sisinya. Saat ini ia tak mungkin melolong pada Lucky, bisa fatal akhir ceritanya. Ia bertukar dengan celana serta kaos oblong ... Reinha membelalak ... kaos putih itu berukir wajahnya dan Lucky.
"Ya Tuhan, apakah dia setampan ini?" gumannya tanpa sadar.
"Cepatlah, Enya! Musuhmu sudah menunggu. Apa kau butuh aku untuk melepaskan gaunmu?" tanya Lucky dari luar.
"Tidak, terima kasih." Reinha balas berteriak.
Reinha segera keluar dan Lucky telah bersiap dengan rompi anti peluru di tangan. Ia memakaikan Reinha replika seragam militer lengkap dengan kamuflase lorengnya, rompi anti peluru, sarung tangan, helmet dan topeng pelindung wajah dari kaca transparan. Lalu memakaikan gadis itu sepatu boot. Reinha terkagum-kagum, Lucky Luciano tahu ukurannya dengan tepat. Apa ia tahu ukuran ... ?! Wajahnya memerah.
"Aku tahu ukuran pakaian dalammu juga, jika itu yang kau pikirkan," kata Lucky menembak tepat sasaran.
Reinha meringis, "Ya, aku tak heran. Kau memang maniak ...."
"Terima kasih, kekasihku yang sangat cantik. Kau pantas jadi the next Lara Croft."
Lucky berdiri, mengambil senjata dan mengisi peluru kemudian melempar senjata kepada Reinha.
"Your gun, pretty girl ... and let's go!"
"Senjata sungguhan? Kalian gila?"
Reinha memekik ketika yang dipegangnya bukan airsoft gun tetapi senjata sungguhan.
Lucky tersenyum, "Peluru ini dari kaca. Tidak akan melukaimu tapi akan terasa ketika kau tertembak. Telunjukmu tidak boleh di atas pelatuk. Aku memberi komando, kapan kau boleh menarik pelatuk. Mengerti?"
Reinha mengangguk. Mereka keluar dari pondokan.
"Bravo Team telah siap di posisi," lapor salah satu prajurit.
"Hari ini kita akan jadi The Army yang membasmi teror*s," katanya pada Reinha. "Aku ingin pamerkan sesuatu yang lebih bar-bar dari ini, dunia nyata saat orang-orang sepertiku menyerang musuh ... tetapi ... kurasa ini tidak buruk."
"Charlie team, ready for war," seru seorang prajurit lain.
"Apa strategimu, B?"
Yang dipanggil B berpikir keras, "Tidak ada, Bos. Just hit."
"Maka matilah kita. Kau tahu Francis itu pengatur strategi yang sangat cerdas? Kau akan dibantai sungguhan olehnya. Terserahlah! Masuk saja ke sana dan berburulah!"
Sore penuh kejutan itu dimulai, 4 memburu 4. Langit mulai menggelap tetapi cukup bercahaya untuk melihat musuh. Reinha mengendap-endap di belakang Lucky dengan senjata teracung, mengikuti Lucky berlarian dari satu pohon ke pohon lain. Meskipun ini semacam stimulasi, tubuhnya mulai memompa adrenalin.
Lucky memberi kode agar Reinha berlari ke pohon di depannya dan ia akan melindungi Reinha. Gadis itu berlari dengan lincah dan Lucky tak bisa menahan senyuman geli melihat wajah Reinha yang serius dibalik topeng. Pria itu mengikutinya ke sana, sampai pada Reinha dan merapat padanya. Bahkan dibalik pakaian tebal, aroma parfum gadis itu terendus oleh hidungnya.
B memberi aba-aba musuh mendekat arah jam 4. Lucky memberi tanda pada Reinha untuk menembak. Jadilah, Reinha menembak tepat sasaran dan tidak meleset sebab prajurit Bravo berteriak "Hit" pertanda ia tertembak dan gugur. Lucky memberi jempolnya memuji.
Prajurit Charlie maju perlahan sementara Bravo tersisa 3 orang. Lucky gunakan tangan, beri kontak mata ke mata pada Reinha, ia akan pergi ke balik batu besar. Reinha akan mengikuti. Reinha mengangguk.
Lucky Luciano berlari ke balik batu, meniarap dan mengintai. Seseorang terdengar mendekat dari derak kayu kering yang terinjak. Lucky telentang memeluk senjata. Ia menunggu dan menghitung lalu memberi kode agar Reinha berlari padanya. Gadis yang grogi itu berlari cepat, sayang sekali, ia tersandung sesuatu saat hendak mencapai Lucky. Tak tanggung-tanggung senjatanya terlempar dan tubuhnya jatuh tepat di atas Lucky.
Lucky melepas topengnya dan topeng Reinha, singkirkan senjatanya, mengaitkan jemarinya di belakang tengkuk untuk jadikan bantal biarkan Reinha terbaring di atasnya.
"Aih, gadis ini merepotkan saja. Dia bisa buat aku mati sia-sia."
Reinha tak berniat bangkit. Ia terkekeh di dada Lucky Luciano.
"Aku tersandung sesuatu. Aku tak bersiap untuk ini. Masih tak percaya, aku memoles lipstik merah untuk dilihat penunggu hutan."
Reinha berbisik sangat dekat pada Lucky. Ia akan menyingkir tetapi Lucky buru-buru menahannya.
"Kau bisa memolesnya lagi nanti untuk menggodaku, Sayang."
"Waktumu hampir habis, Sayang. Aku tak jadi menggodamu dengan bibir merah benderang. Aku akan memoles lagi saat menaiki mobil dan pulang ke Durante Land."
"Tidak segampang itu. Kau masih milikku sampai pukul 9 malam."
Lucky melepas helm Reinha dan helmnya yang sangat mengganggu dan mencium gadis itu, tak peduli pada tim-nya yang telah dibantai Francis. Siapa peduli?
Seruan "Hit" menggema di tengah hutan di antara erangan suara binatang hutan. Langit telah sepenuhnya membuta. Sekali lagi siapa peduli, gadis berlipstik merah dan beraroma Jasmine lebih menggoda. Matanya bahkan bercahaya dalam kegelapan.
"Pantasan saja timnya kacau, kapten mereka malah sibuk berciuman dibalik batu."
Francis menodong senjata pada Lucky yang telah berubah posisi, tengkurap di atas Reinha sedang tangan Reinha memeluk leher Lucky erat membuatnya tersangkut pada bibir Reinha. Mereka berhenti berciuman saat kepergok Francis.
"Senang bisa menembakmu, Bos!"
***
Seperti biasa, aku akan bertanya ... apakah Readers suka chapter ini?!
Nikmati ini sebagai hiburan karena kesakitan-kesakitan hati sedang mencari celah untuk mengisi chapter.
Rimagasi (Terima kasih)
Jao Mora Neè Miu (I Love You)