Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 40 Beauty Marya ... The Sadness Lucky...



"Elgio, boleh aku masuk?"


Marya berdiri di depan pintu, bertanya ragu-ragu. Saat marah Elgio sungguh menakutkan dan ia ingin tahu, adakah sesuatu yang bisa dilakukannya untuk menghibur kekasihnya itu?


"Elgio?! Ini aku ...."


Bisakah kau berbagi kesedihanmu denganku?


Tak ada sambutan dari dalam. Marya masih menunggu 10 menit, main-mainkan ujung sandal berbulu yang dipakainya menghentak kecil pada lantai. Keningnya mengetuk - ngetuk pintu kamar Elgio pelan, berharap pria itu membukakan pintu. Kamar begitu sunyi seolah-olah Elgio tak ada di dalam sana, sungguh menggelisahkan. Menyadari Elgio tak merespon, Marya berbalik pergi sambil menunduk lesu padahal ia ingin menemani pria itu seperti yang sering dilakukan Elgio ketika ia sedang bersedih dan putus asa. Mengapa Elgio tak mengijinkannya untuk melakukan hal yang sama?


Klek ....


Pintu mendadak dibuka, menghentikan langkah Marya. Gadis itu berbalik dan sekelebat tubuh Elgio melesat cepat, meraih tangannya dan menyeret Marya ke dalam kamar. Pintu tertutup keras di belakang mereka. Elgio merengkuh Marya hingga melekuk menempel padanya. Tangan besarnya melingkari tengkuk Marya hingga mendongak padanya. Pria itu tanpa basa-basi, tanpa ampun mencium Marya membabi-buta. Ia mendesak Marya membuka bibir dan menuntut ijinan untuk menjelajah ke dalam. Kaitan lengan di pinggang Elgio begitu kencang dan Marya menggapai-gapai mencari pegangan. Ia tak menduga Elgio akan bertindak ekstrim.


Apakah menerjang sebrutal itu, bisa mengalihkan kemarahan Elgio?


"Hei ... El-gio ...."


Marya terengah-engah. Elgio seperti hendak melahap habis dirinya. Marya sedikit kesakitan saat pria itu menggigit dan berusaha mendorong Elgio menjauh. Tetapi ketika tangannya sampai di dada pria itu dan merasakan detak jantung Elgio di telapaknya, ia malah terhipnotis. Dibiarkan saja, Elgio bergerak leluasa menyentuhnya. Ia mencengkeram baju Elgio kuat dan mata terpejam sepenuhnya meresapi sensasi demi sensasi yang memabukkan itu. Bibir Elgio melenguh di cekung lehernya membuat Marya merinding. Jika tak dihentikan sekarang mereka akan berakhir di ranjang. Apalagi ranjang hanya berjarak lima langkah, sungguh gawat darurat.


"Elgio ... berhentilah! Aku mohon ... " ujar Marya menahan percikan yang menggelora di dalam dada. Apakah mereka akan merusak ranjang hari ini? Oh, tidak.


"Biarkan aku, Marya. Wajah iblis Luciano benar-benar membuatku marah. Aku ingin terbang ke Faith Hill dan melubangi kepalanya."


Elgio bicara setengah mengerang di leher Marya sementara perasaan manis mengisi relung jiwa Marya. Meskipun ia inginkan lebih, Marya berusaha menjauhkan diri sekuat tenaga. Elgio mengangkat wajah, terlihat berat tak ingin sudahi cumbuan penuh rayuan mematikan itu. Matanya masih berkabut sendu saat menatap Marya, meski sangat tipis. Elgio seolah menerima sedikit kesembuhan dari ciumannya barusan.


"Apa yang terjadi? Apa Lucky Luciano menyentuh Reinha?" tanya Marya di antara irama kencang desah napasnya.


Pria itu tak menjawab, tak berniat meladeni pertanyaan Marya. Sebagai ganti, rahangnya membeku. Marya mengangkat tangan menyusuri wajah rupawan di hadapannya, berusaha menenangkan kemarahan. Elgio benar-benar menawan dan pria itu adalah miliknya.


"Boleh kulihat tanganmu?"


Kening Marya dikecup sebelum didekap erat. Elgio mengatur napas agar kembali berirama normal biarkan Marya melerai pelukan. Tangan gadis itu turun menyusuri lengan dan sampai di tangan Elgio. Ia mengangkat tangan Elgio dan mengerut. Darah mengering di sana tetapi tidak dengan kemarahannya pada Reinha meskipun ia terlihat penuh penyesalan. Marya mencari kotak obat dan membersihkan luka sebelum mengoles obat merah dan membungkus luka itu.


"Kau harus mendengar penjelasan Reinha."


Elgio menghela napas berat, "Kurasa adikku telah tergoda padanya. Aku tak bisa biarkan itu, Marya. Lucky adalah penjahat, pembunuh. Ia seorang mafia, gangster, pecundang dan kau tahu bahwa kehidupannya tidak pantas untuk Enya. Aku tak akan sanggup melepas adikku."


Marya meraih tangan Elgio, "Reinha bukan sembarang gadis. Dia sangat cerdas dan tegas Elgio. Aku yakin Reinha tak akan mudah terjebak hal-hal konyol. Bukankah kamu terlalu keras padanya? Reina tidak menyukai hubungan yang dangkal sebab jika seperti itu, ia pasti sudah menjalin kisah cinta dengan laki-laki populer dari sekolah lain. Mereka mengejar-ngejarnya, Elgio."


Marya terdengar masuk akal, tetapi cinta kadang tidak sesederhana itu. Reinha terlihat sangat nyaman dalam pelukan Lucky. Mata Reinha tak bisa berbohong, sekalipun ia berusaha sangat keras menyelubungi dengan kebencian. Reinha, adiknya dan ia mengenal gadis itu sangat baik. Elgio menghempas napas kasar. Apa yang dilakukan bajingan itu, hingga Reinha terpengaruh pesonanya?


Brengsek! Mengapa harus Lucky Luciano?


"Mari bicarakan tentang kita, apakah kau perlu mencoba gaun pengantin karena kita akan menikah dalam waktu dekat?" tanya Elgio.


Ia mencoba lenyapkan tatapan kejujuran Lucky yang sangat mengusik. Saat mengatakan mencintai Enya, mata pria itu seperti berpelangi. Ia bahkan mengucapkan nama "Enya" sepenuh hati. Saat Lucky mencegahnya meraih Enya, buku-buku jari pria itu bahkan bertuliskan nama "ENYA". Entah siapa yang terpesona pada siapa, Elgio tidak ingin mempercayai insting bahwa keduanya telah terikat secara emosional.


Ia melempar punggungnya ke atas tempat tidur dan membentang lengannya di sana kemudian menarik Marya hingga terlentang di lengannya. Mereka mengobrol menatap langit rumah.


"Aku tak menyangka akan menikah di usia 17 tahun," jawab Marya pelan.


Elgio berbalik menghadap Marya dan mengatup lengannya hingga mereka berhadapan.


Apakah Reinha kesakitan ditampar olehnya? Apakah ia sedang menangis sekarang? Haruskah aku melihatnya, memeluknya? Tidak. Reinha tak boleh jatuh cinta pada Lucky! Pria itu sangat berbahaya dan punya banyak musuh.


Elgio menyibak helaian rambut yang jatuh di wajah Marya. Ia membelai bibir Marya yang agak bengkak karena cumb*an kasarnya tadi.


"Apa aku menyakitimu tadi? Aku tak bermaksud begitu!" ujarnya mengecup Marya pelan.


"Jika kau terus begini, aku akan kembali ke hunian Bibi Maribel. Aku mungkin tak akan bertahan sampai hari pernikahan."


"Maafkan aku tidak menepati janji."


Ia memang menggebu-gebu pada Marya, saat ini, saat semakin dekat Marya akan jadi miliknya ... tetapi hasrat itu selaras dengan kasih sayang dan cintanya yang begitu murni. Keinginannya masih membara seperti saat ia mencium Marya di Broken Boulivard tetapi ia tak akan bertindak sejauh mencium Marya. Tidak ... sampai Marya benar-benar siap secara psikis. Matanya meneduh saat mengamati iris cokelat oranye Marya yang bersinar terang dan memikat.


"Apakah, kau adalah malaikat yang kebetulan tersesat di bumi? Kau punya mata yang sangat cantik dan bening. Ngomong-ngomong, mengapa kau selalu merasa sedih jika pergi ke kamar mandi? Bisakah kau beritahu aku? Apakah beberapa hari, masih sama sakitnya?"


Marya menatap Elgio tanpa berkedip. Matanya berubah suram begitupun raut mukanya.


"Aku selalu teringat Ayahku tiap kali aku menyikat gigi. Berkatmu, aku merasa baikan."


"Begitukah?"


Marya mengangguk, "Aku selalu mendengar suara Ayahku saat aku di kamar mandi dan saat menatap kaca kamar mandi. Terkadang aku sangat merindukannya."


"Kemarilah!" Elgio memeluknya hangat. Kita akan mulai terapi besok. Aku mungkin tak bisa menemanimu."


"Tak apa Elgio, aku bisa bersama Bibi Mai. Kau yakin tak ingin melihat keadaan Reinha? Apa kau menamparnya? Ia sangat terluka."


"Aku tak akan bicara padanya untuk sementara waktu." Elgio mengecup bibir Marya membuatnya diam.


"Elgio ...."


***


Viktor dan Lucky duduk berdampingan di sebuah bangku menghadap taman belakang yang luas sementara puluhan -mungkin ratusan burung merpati berkeliaran di sekitar mereka.


"Kita tidak bisa bergerak sekarang Lucky! Walikota yang baru sangat jeli dan tak berpihak. Ia mengunci ruang, memenuhi janji kampanye untuk serius membasmi kejahatan."


Viktor melempar makanan dan burung-burung merpati berebut mematuk jagung dan kacang-kacangan begitupun Lucky. Sayap-sayap burung merpati mengepak hasilkan suara gemuruh dan riuh kicauan mereka memenuhi langit taman belakang. Suasana ini sungguh menyenangkan, apalagi jika Reinha ada di sisinya, bersandar pada bahunya dan mengaitkan tangan pada lengannya. Lucky melempar jagung keras, tanpa sadar seperti melempar lembing.


"Padahal dia adikmu, V. Dia jadi walikota dengan uangmu," ujar Lucky.


Ia terdengar gusar pada walikota dan juga mengeluh pada kenangan raut wajah Reinha Durante yang begitu indah. Pria itu menghela napas dalam-dalam, menghirup udara segar peternakan, mengisi paru-paru dan saat berhembus, sorot tajam Reinha bergelayut di pelupuk mata. Akh sial, ia menginginkan Reinha Durante. Mata Lucky berubah kelabu. Ketika memeluk Reinha di gudang dalam keheningan, ia merasa menemukan rumah yang nyaman. Hati berbunga-bunga saat Reinha tak mendepaknya seperti yang sering gadis itu lakukan. Aroma jasmine Reinha menulis kisahnya sendiri di ujung kepala Lucky. Sungguh mengesankan begitupula pukulan Elgio.


Apa gadis itu baik-baik saja? Apa ia perlu menelpon dan mencari tahu keadaanya? Apa ia perlu menyuruh Claire pergi ke Durante Land dan menjenguk Reinha? Apa ia habisi saja Elgio Durante dan menculik Reinha, menyekapnya di perbukitan Tuscany dan jadikan Reinha miliknya? Jiwa kriminal Lucky bangkit dan mencuat tanpa ijin, segera dihalau jauh-jauh. Reinha mungkin akan meratakan se**ngkang*nnya.


"Justru karena dia adikku, jangan sampai aku kedapatan." Suara Viktor mengembalikan pikirannya.


"Rocco Antony membocorkan rahasia kita pada pemerintah. Ia rincikan secara detil. Untuk sementara paket tak bisa dikirim. Jangan mengambil tindakan apapun, V. Kurasa kau lebih perhitungan."


Viktor menengok padanya, "Kau terdengar seperti Lucky Luciano. Wellcome home, my son. Kau tahu mengapa kau dibawa kemari?" Viktor mengarahkan pandangannya jauh ke depan. Menerawang bersama beberapa merpati yang terbang meninggi. "Para eksekutif Familly Club' sangat berang padamu dan mengirim petisi untuk melenyapkanmu. Aku terpaksa beraksi mengancam akan mencungkil matamu."


"Apa kau juga marah padaku?" Lucky bertanya pelan. Bukan rahasia lagi jika V sangat menyayanginya hingga menimbulkan kecemburuan pada yang lain bahkan Valerie. Teringat Valerie pernah menggodanya di suatu malam membuat Lucky merasa berdosa pada Victor. Ia nyaris pergi ke kamar wanita itu dan bercinta dengannya, lupakan perintah terlarang ini "jangan ambil daging ditempat Capo mengambil roti". Jika Victor tahu, ia bisa dihukum mati.


"Ya, itulah mengapa aku memintamu ke peternakan ketimbang pergi ke Mansion meskipun Valerie ngotot kau harus ke Mansion. Tempat ini terlalu surgawi bahkan untuk meludah."


Lucky menepuk tangan dari remah-remah jagung yang menempel di telapak tangannya. Ia melipat tangan dan bersandar ke kursi.


"V, aku akan lakukan pekerjaan terakhirku dan berhenti. Aku ingin mengejar wanita murah hati seperti Brigitta dan menikah lalu hidup dengan damai di suatu tempat dengan terhormat."


Viktor lakukan hal yang sama setelah melempar makanan terakhir di tangannya. Ia mengibas perca jagung di tangan sebelum melipat kedua tangan dan meniru cara Lucky duduk. Hanya satu yang bisa buat seorang pria berhenti berambisi, seorang gadis. Lucky terlalu sentimental, ia harusnya tidak jatuh cinta, sebab ia akan jadi mafia hebat di masa depan dengan kecerdasannya.


"Kau benar-benar jatuh cinta pada Puteri Durante?"


Lucky tersenyum kecil, "Tak akan mudah bagiku sebab ia adik Elgio Durante dan gadis itu punya standar yang terlalu tinggi, ia sangat angkuh dan punya harga diri yang menakjubkan."


"Kau terdengar seperti pria yang sangat jatuh cinta. Gadis itu persis Queena, watak koleris mereka memang memikat."


Pernyataan Viktor membuat Lucky bergidik. Jadi, Reinha memang diawasi. Ia harus mengirim peringatan pada Reinha.


"Kau seperti mengenalnya dengan baik," ucap Lucky mengeluh.


"Maafkan aku. Sunny Diomanta mengintai gadis itu, mereka mencari Aruhi, Puteri Salsa Diomanta yang hilang."


"Mengapa mengintai Reinha?"


"Elgio Durante anak tunggal, pria pusaka Durante, satu-satunya pewaris Durante Land. Reinha mungkin adik angkatnya atau bisa jadi Leon punya wanita simpanan, Ibu Reinha. Salsa terlalu menginginkan Puteri yang dibuangnya dulu hingga mengira Reinha adalah Aruhi. Ada baiknya jika kau menikahi Reinha Durante sebab kau bisa jadikan Queena kekasih Elgio."


"Tidak, ada banyak pria di dunia ini. Jangan Elgio Durante."


"Elgio pria yang kusuka, sempurna untuk jadi menantuku. Aku berharap Queena, entah bagaimana, takdir mempertemukannya dengan Elgio Durante."


"Elgio itu temperamental dan mudah marah. Queena tidak cocok untuknya. Astaga, ia terlihat serasi jika disandingkan dengan Dokter bedah seperti Jason Cassano."


"Ya, Queena magang satu rumah sakit dengan Cassano. Pria itu tak akan menerima latar belakang Piqueena jika dia tahu Queen adalah Puteri seorang Mafia."


Setiap keluarga punya masalah tidak terkecuali dengan Piqueena yang tak tahu apa-apa tentang pekerjaan sang Ayah. Fatal jika gadis itu tahu dan semoga Valerie tidak membuka bibir jahatnya.


"Kau tak akan mencungkil mataku, jika aku berhenti?"


"Jika kontainer 9 dan 13 terkirim tanpa masalah kau boleh pergi tetapi kau tahu aku dan Valerie tidak berkompromi untuk kegagalan, bukan? Aku memikirkan selama dua hari ini, untuk melepasmu. Aku ingin kau hidup bebas, layak terhormat dan kelak menjaga Queena dan Brigitta. Kau tahu jelas, tak ada aturan tertulis bahwa bawahan tidak boleh menyingkirkan sang Tetua saat aku tampak tua dan lelah. Sunny Diomanta mulai bergerak untuk menentangku. Ia mulai menjilat dan mendukung Valerie."


"Aku tak terkejut," sahut Lucky muak.


"Hawa dipuncak gunung kadang memang lebih hangat daripada di lembah. Sayangnya di puncak gunung tidak tersedia banyak ruang lapang sehingga harus diperebutkan. Valerie mulai menyukai hawa di puncak gunung."


Viktor bicara mencuplik sebuah pepatah tentang kekuasaan dalam organisasi mafia. Di mana, hanya satu orang yang boleh duduk di puncak, yang keputusannya dianggap keputusan Dewa dan tahta itu diperebutkan bahkan meskipun harus didapat melalui gelimang darah.


"Baiklah. Aku tak akan mengecewakanmu."


"Satu lagi Lucky. Kau harus habisi Rocco Antony tanpa tinggalkan jejak, selesaikan dengan rapi dan sempurna. Pria itu harus menerima hukuman sebagai 'simbolis' atau anggota lain akan bertingkah seenaknya saat mereka ditangkap."


"Harus aku?" tanya Lucky pelan.


Seekor burung merpati terbang tinggi pulang ke sangkarnya, di sana, seekor merpati lain menunggu. Merpati yang tak pernah ingkar janji dan jadi simbol kesetiaan pada pasangannya.


"Ya ... itu syarat terakhir dan mutlak. Jika kau berhasil, tak akan ada yang menghalangimu untuk terbang bebas dan bergabung bersama kekasihmu, berbagi sangkar dan menikmati hari yang indah."


"Apa kau berjanji, mereka tak akan berakhir di atas piring sebagai santapan makan malam yang lezat?"


***


Mohon dukungannya selalu ....


Apakah Readers menyukai Chapter ini?!


Mengapa?!