
"Apa Ibu sudah baikan?"
Marya masuk ke kamar Salsa dan menyapa coba untuk terdengar ceria. Meski sudah membaik, kondisi Ibu belum betul-betul pulih. Salsa memandangi Marya mengernyit. Gadis itu terlihat agak kacau.
"Kau terlihat sembab, Nak? Apa kau bermasalah dengan Elgio?" tanya Salsa hati-hati. Aruhi mengingatkannya pada cinta buta dan sesaat pada Ebenn, pengawal pribadinya, Ayah Aruhi. Dirinya hanyalah gadis muda dan na'if, bodoh dan menggebu-gebu. Ia jatuh cinta pada Ebenn dan mereka melakukan satu kesalahan dalam penyerahan termanis, itu berakhir dengan tragis. Meskipun, ia yang menulis keburukan itu.
Marya berpaling pada kaca cermin di kamar sang Ibu. Wajahnya terlihat kusut masai dan Marya menyesal tak membasuh wajah dahulu sebelum bertemu Ibu setelah kembali dari makam.
"Tidak, Bu. Elgio sangat menyayangiku, dia tak akan menyakiti aku, Bu," jawab Marya lirih.
"Tetapi, wajahmu terlihat muram. Apakah ada sesuatu yang mengganjal?"
Marya menggigit bibirnya kuat. Bagaimana ini? Ia tidak mungkin menyakiti hati Ibunya. Namun, ia masih memikirkan Ayah dan wajah Ayah terus terbayang-bayang sepanjang sore ini.
Setelah pemakaman Ayah, Aruhi selalu menangis dibalik selimut, terlebih saat hujan, saat udara mampu bekukan dedaunan dan angin bertiup kencang di musim dingin. Aruhi memikirkan Ayahnya yang terbaring di tanah pemakaman, bertanya-tanya, apakah Ayah kedinginan? Aruhi ingin pergi ke sana dan menyelimuti Ayah tetapi takut mengatakan keinginan itu pada Bibi Mai.
Ia pernah ke makam bersama Bibi Mai, ia menyembunyikan satu apel dan dua jeruk dalam saku mantelnya. Saat akan pulang ia menaruhnya di makam Ayah berharap Ayah memakannya agar Ayah tak kelaparan sebab berhari-hari tak makan, tetapi sampai bulan berikutnya saat ia kembali ke makam, buah-buahan itu masih di sana, mengerut dan kering.
Jadi Aruhi semakin sedih sebab Ayah tak pernah ada lagi. Ayah telah hilang dan lenyap, ia ditinggal sendiri. Air matanya tiba-tiba pecah. Tahun-tahun berlalu dan sakitnya ternyata tidak pergi dengan mudah. Apa ini? Apakah ia terkena sindrom menjelang pernikahan?
"Ada apa?" Salsa berubah panik dan mendekat. Wanita itu mengulurkan tangannya ingin memeluk namun bimbang, ia ragu ingin menyentuh Marya.
"Ti-ti-dak, Bu."
"Bicarakan pada Ibu, barangkali ada yang bisa kulakukan untukmu. Hmm?!"
Marya mencoba membendung tangis, ia malah terisak makin keras.
"A,a-ku hanya merindukan Ayahku. Aku akan menikahi Elgio dan aku akan melangkah di altar sendirian. Itu membuatku sangat sedih."
Salsa berhenti di tengah jalan, diam tanpa kata. Ia memikirkan ini selama berhari-hari, apakah Aruhi akan memaafkan dengan mudah sedangkan kenangan yang dibuatnya untuk Aruhi terlalu pahit? Matanya berkabut oleh penyesalan tak berujung. Ia takut pada kenyataan tak akan mampu menggapai Aruhi.
Apakah ia bisa menghapus luka di hati Puteri yang telah ia sia-siakan itu? Hidup dengan harta serba melimpah tidak lantas membuatnya abadi dalam bahagia. Ia hanya seonggok daging berdarah yang penuh dosa dan nista pada seorang anak kecil. Penyesalan yang terlalu terlambat untuk ditebus. Ia tak tahu, apa yang telah ia lakukan pada anak itu. Sunny mengatakan bahwa Aruhi menderita sejenis gangguan mental, gadis itu takut pada lingkungan sosial dan Salsa sendirilah penyebab trauma gadis itu.
"Aruhi ...."
"Maafkan aku Ibu, bukan bermaksud menyakitimu. Aku hanya sangat sedih. Aku akan ke dapur dan membuatkan Ibu makanan." Marya berbalik buru-buru pergi.
"Tidak! Jangan pergi," cegah Salsa. "Ibu ingin bertanya padamu, maafkan aku Aruhi. A-a-apakah Ayahmu sangat menderita?" Pertanyaan melirih itu mengejutkan Marya, meski nyaris tidak terdengar. Marya menatap wajah Ibunya nelangsa. Apakah jawabannya akan mempengaruhi Ibu? Tetapi kendatipun begitu, tak akan perbaiki keadaan. Ayah tak akan kembali seberapa keras Ibu menyesali.
Marya mengangguk, "Ayah tidak memberitahuku bahwa ia sangat menderita tetapi aku tahu ia sangat mencintaimu, Ibu. Aku ada di sana saat-saat terakhir Ayah mengatakan akan pergi ke langit dan jadi bintang yang paling terang. Ia memintaku, jangan membenci Ibu karena Ayah sangat menyayangimu, Ibu." Marya kembali terisak sedih. Mengapa ia merasa tak punya kekuatan jika itu tentang Ayah? Sangat jelas terjadi, hidup Ayah tak baik-baik saja setelah Ibu pergi. Ayah menderita sampai napas terakhirnya.
"Maafkan aku." Itu adalah kata maaf berulang kali, semakin diucapkan semakin dalam penyesalan yang menggerogotinya. Salsa terkena kutukan oleh masa lalu. "Apakah kamu bersungguh-sungguh mengampuni Ibu, Aruhi?"
Marya terdiam sebelum mengangguk dan mendekati Ibunya, ia meraih tangan Salsa dan menggenggamnya penuh kasih sayang, "Aku sangat menyayangimu meski aku bingung pada banyak hal. Aku harap kita bisa bersama seperti seorang Ibu dan anak."
Jawaban yang menohok, Salsa memeluk Marya coba kurangi derita Puterinya itu dan dirinya sendiri.
"Aku tak tahu, iblis mana yang merasuki aku Aruhi. Betapa menyesal-nya aku meninggalkanmu hari itu. Apa kau ketakutan kala itu?"
Marya ingin mengatakan ia menderita setengah sosiofobia bertahun-tahun dan sangat tersiksa tetapi Ibu cukup menderita oleh dosa-dosanya sendiri, Marya tak ingin menambahkan beban padanya.
"Ibu, aku senang melihatmu hari ini. Maaf kalau tingkahku membuat Ibu tidak nyaman
Aku akan ke dapur dan memasak sesuatu yang Ibu sukai."
Marya membuka pintu lalu pergi tinggalkan Salsa dengan penderitaannya sendiri. Salsa terdiam ditengah ruang. Bukankah ia pantas menerima cambukan derita yang rasanya baru dimulai? Aruhi begitu manis, tumbuh jadi gadis yang sangat bersahaja dan berkarisma malaikat seperti Ayahnya.
"Marya?!"
Sementara Elgio, Abner dan Sunny yang duduk di ruang tengah terkejut saat melihat Marya melangkah dengan wajah setengah basah dari kamar Salsa.
"Hey, ada apa?" tanya Elgio. Pria itu mendatangi Marya dengan cepat. Ia terlihat tak suka. "Kau menangis? Ada apa?" tanyanya cemas.
Marya tampak sangat muram, "Kurasa aku belum benar-benar pulih, Elgio. Aku masih merasa sakit setiap kali aku teringat pada Ayahku."
"Kemarilah!"
Satu pelukan kehangatan menentramkan hati Marya. Tanpa Elgio di sisinya, Marya seperti ikan tanpa air, ia bisa mati kehabisan napas dan Elgio adalah udara yang menyelamatkannya.
"Kamu sudah pulih, Marya. Jika tidak, kamu tak akan seperti saat ini. Setiap orang punya masa lalu dan, yang sangat menyakitkan memang agak susah dilupakan. Itulah mengapa membuat kenangan manis itu penting. Apa kita pulang saja?!" tanya Elgio sementara Abner dan Sunny berdiri tak jauh.
Marya menggeleng, "Tidak Elgio. Aku akan buatkan Ibu sesuatu."
"Aruhi ... " panggil Sunny mendekat. "Di dapur cukup banyak asisten rumah tangga dan mereka bisa sediakan makanan untuk Ibumu. Bagaimana kalau kamu mengajak Elgio menghirup udara sebentar di taman belakang? Ini belum terlalu sore."
Keduanya saling pandang. Elgio mengusap wajah Marya yang basah dan membawanya pergi.
"Aku ingin tahu apa yang terjadi," kata Salsa dan berpamitan pada Abner pergi ke kamar Salsa. Sedang Marya dan Elgio hanya berkeliling dalam diam.
"Kau tidak bisa terus-terusan bersedih, Marya. Itu membuatku merasa gagal berada di sisimu," kata Elgio membuka percakapan dari hati ke hati di antara mereka saat Marya mulai tenang. Mereka berhenti melangkah. Elgio menghirup udara kuat-kuat dan dalam. "Kita tak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah keadaan, tetapi, di masa depan aku berjanji kau akan mendapatkan semua kebahagiaan yang tak pernah kau rasakan selama 17 tahun ini. Aku berjanji, akan menjagamu ...." Elgio bersungguh-sungguh dan Marya tak ragukan itu. Elgio telah lakukan banyak hal untuknya, lebih dari yang ia butuhkan.
"Kau tahu, jika kau tak temukan aku, mungkin saja umurku tak panjang, Elgio. Aku mungkin mati lebih cepat karena menderita."
Elgio menariknya mendekat. Wajah Marya terangkat dan Elgio menatapnya lekat-lekat.
"Aku pernah memberitahumu Albert Einstein dan filosofi tentang tidak ada ruang dalam kehendak bebas?! Apa kau masih ingat?" tanya Elgio sembari menyingkirkan helaian rambut dari dahi Marya.
"Ya. Segala sesuatu ditentukan, awal dan juga akhir, oleh kekuatan-kekuatan yang tidak dapat kita kendalikan?"
Elgio mengangguk. "Kita semua menari dengan irama yang misterius, dilantunkan di kejauhan oleh pemain yang tak terlihat." Elgio mendekap gadis itu dan sembunyikan Marya dalam mantelnya. Kedua tangan Elgio berkaitan erat, mengungkung Marya dalam rangkulannya. "Bagaimana kalau kita menari saja ikuti irama dan biarkan Tuhan mengatur segalanya untuk kita?
Marya mengangguk dibalik mantel, ia memeluk Elgio erat.
"Ayo kita ke Bali, aku penasaran pada banyak hal. Tari Kecak dan mengapa matahari di Kuta sangat sensasional padahal itu matahari yang sama dengan yang kita punya di sini?"
"Emm ... sebenarnya, Bali adalah pulau yang di kelilingi oleh laut dan bukan hanya sunset di Kuta yang indah. Setiap pantai yang menghadap ke Barat dari Bali sangat indah dan mereka punya banyak sunset, Marya. Tidak hanya itu, tiap pantai yang menghadap sang timur juga sangat indah dengan sunrise-nya."
"Benarkah?"
"Emm .... Sayang sekali, kita tidak akan pergi ke Kuta, di sana terlalu ramai. Kau tak akan begitu suka. Ada sebuah tempat yang sangat indah di Bali, menghadap ke lautan luas dan kau bisa menonton lumba-lumba di pagi hari di habitat asli mereka."
"Benarkah?" Marya mengangkat kepalanya semakin antusias. Beruntung sekali ia memiliki Elgio Durante di kehidupan ini.
"Emmm ... kau akan terpesona." Elgio mengajaknya berdansa tanpa irama masih mendekapnya erat dalam mantel.
"Aku tak sabar ingin pergi ke sana denganmu."
"Baiklah." Elgio mengusap kepala gadis itu dengan dagunya. "Apa kau berhenti bersedih?" Elgio membuka mantel dan mengintip gadis yang tak mau lepas dari pelukannya itu.
"Ya. Aku punya kekasih yang luar biasa. Your love so beautifull, Elgio Durante."
Elgio tertawa kecil, mengecup kepala Marya. Kaki-kaki mereka masih berdansa.
"Kembalilah ke dalam dan bicaralah pada Ibumu. Kau mungkin telah membuatnya gelisah. Saat kamu menerima Ibumu kembali, kupikir tak boleh hanya setengah hati. Kau terlihat seperti hendak menyiksanya."
"Aku bersalah padanya." Marya bersembunyi di dada Elgio. Ia mungkin telah membuat Ibunya sangat sedih.
"Lihat aku! Jangan terlalu serius memikirkan masa lalu. Kita tak bisa selamanya terjebak di sana. Hmm?!"
Marya mencoba tersenyum, menyimpan Ayah di dalam hati meski kesedihannya masih menghangat.
Dari balik kaca jendela, Salsa dan Sunny perhatikan dua sejoli itu. Elgio Durante terlihat begitu sangat pengertian dan mampu mengatasi kesedihan Aruhi dengan sangat baik.
"Aku tak percaya, kita menemukan Aruhi. Terlebih gadis itu seperti jelmaan malaikat."
Salsa mengangguk, "Sunny, aku belum tenang. Aku yakin Valerie tak akan tinggal diam. Kita menjauh darinya dan menikahkan Aruhi dengan Elgio Durante. Lakukan sesuatu!"
"Keadaan ini memburuk, Kak. Lucky Luciano terjebak pada Reinha Durante dan pria itu telah kehilangan arah. Valerie akan sangat senang menghabisi kita."
"Apa kau takut?" tanya Salsa pelan.
"Tidak, Kak. Saatnya kita berhenti demi Aruhi dan Arumi. Kita tak bisa meninggalkan mereka nama dan harta haram."
"Aku tak cemaskan Aruhi, Sunny. Puteriku bersama pria terhormat seperti Elgio Durante. Aku bisa mati dengan tenang. Aku memikirkan Arumi." Salsa bernapas dengan berat. Setiap memikirkan Arumi kepalanya berdenyut sakit.
"Arumi di luar kendali, apalagi jika ia sangat dekat dengan Valerie."
"Aku akan meminta Aruhi carikan guru privat untuk Arumi. Jangan ijinkan dia syuting!"
"Baiklah. Jangan terlalu banyak pikiran, Kak." Sunny menyentuh lengan Salsa dan mengelusnya memberi semangat.
"Satu lagi, jangan biarkan Valerie menyentuh Aruhi. Aku gelisah wanita itu mengganggu pernikahan Puteriku."
"Aku akan mengurusnya, Kak. Waktunya makan, Kak! Si berandal itu dan kekasihnya sudah datang."
Ya, tepat sekali.
Lucky Luciano menggandeng tangan Reinha berharap Tuan Abner yang melihat mereka paham pada hubungan mereka. Abner menggeleng pening. Ia selalu pening melihat Lucky Luciano. Ia memegangi tengkuknya yang menegang. Keduanya terindikasi mabuk cinta dosis tinggi, bisa jadi over dosis.
"Apakah kami terlambat untuk makan malam, Tuan Abner?" tanya Lucky sopan.
Abner menggeleng, "Harusnya kalian lebih lama di luar dan datang 15 menit setelah jamuan makan malam dimulai. Dengan begitu, aku tidak terlalu lama melihat kalian."
Reinha cemberut dan duduk di samping Abner, memeluk lengan Abner dan bersandar padanya. Ia seperti seorang Puteri yang cengeng.
"Aku tak suka saat kau jadi jahat, Tuan Abner. Kau satu-satunya yang bisa aku andalkan saat kakakku marah. Kau membuatku jadi sedih."
Abner berdecak, "Gadis bodoh ini, pandai sekali membuatku merasa bersalah."
Mereka berkumpul di meja makan dalam suasana paling canggung. Elgio hembuskan napas berat saat melirik Lucky Luciano yang duduk tepat di sampingnya dan Reinha di hadapannya yang terus-terusan berpandangan, seakan mereka akan seberangi meja makan dan melarikan diri berdua, pergi ke tempat yang sunyi. Ya Tuhan, kebodohan macam apa ini? Akhirnya Elgio tak tahan juga. Ia sedikit condong pada Lucky dan menegur.
"Bisakah kau berhenti menatap Enya seakan-akan adikku ayam goreng crispy?"
Lucky terkesiap sebelum melipat kening. Elgio menyelidikinya sejak tadi. Apakah tatapannya seperti ingin mengunyah Reinha? Ia harus mengontrol wajahnya. Lucky Luciano susah payah beralih pandang dari Reinha dan wajah bak peri itu kepada plate makan malam. Ia malah melihat Reinha di sana dan ciuman mereka tadi sore. Pria itu menggerutu pelan sebab Reinha sekali lagi telah menjeratnya.
"Itu karena satu ruangan ini berisi orang-orang aneh yang saling diam. Lebih baik aku memandangi Enya," jawabnya berterus-terang.
"Kau terlihat tidak waras." Elgio berkata lagi. Jadi, seperti itu dulu Abner melihatnya jatuh cinta pada Marya. Seperti linglung persis Lucky Luciano saat ini. Elgio kembali ke posisi duduk.
"Aku tak menyangka akan makan malam bersama para penjahat yang aku buru," kata Elgio lebih pada dirinya sendiri, cukup keras didengar Lucky Luciano. Tentu saja Elgio terpukul ia akan menikahi Aruhi Diomanta, itu berarti Salsa akan jadi mertuanya, sedangkan adiknya pacaran dengan Lucky Luciano.
"Kau menikahi Puteri mereka. Beruntung itu Aruhi bukan Arumi."
"Diamlah! Kau tahu, urusan kita belum kelar. Aku belum berhenti mengejarmu."
"Ya, baiklah. Kupikir kau mengajakku bicara. Aku mengalah padamu sebab Enya. Aku sangat mencintainya."
"Kau tahu pasti jika kau macam-macam dengan Enya. Singkirkan wajah bergelora itu darinya. Sungguh menggelikan untuk dilihat."
"Tenanglah Elgio Durante! Berhenti marah-marah! Ya Tuhan, kau dan Enya pemarah sekali ya?!"
***
Semoga suka chapter ini....