Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 96 Unknown Feeling ....



"Kau datang, Kak?"


Arumi Chavez tampak sangat gembira saat melihat Aruhi, kakaknya.


"Hmm, ya, aku kuatir padamu. Apa kau baik-baik saja? Ada apa denganmu Arumi?" Marya memeluk Arumi hangat dan mengelus rambut adiknya yang terlihat sangat cantik dengan make up natural di wajahnya. Marya pakaikan underwear lalu piyama tidur sebelum kembali baringkan Arumi.


"Em, karma sepertinya. Aku buatmu kesusahan, jadi, aku terima akibatnya." Suaranya turun dan penuh penyesalan mendalam.


"Berhenti bicara yang tidak-tidak. Apa seseorang menjebakmu?" Marya letakkan handuk lembab di kening Arumi, singkirkan rambut dari sana dan mengelus kepala Arumi pelan.


"Aku tanda tangan kontrak dengan sebuah rumah produksi, tetapi sepertinya mereka menipuku." Tertawa getir.


"Kau kekurangan uang, Arumi?" tanya Marya ketus. "Kau hampir dijahati orang," tambahnya dan bunyi air dari kain basah yang diperas terdengar gemericik di atas ember.


"Aku menyakitimu dan aku pantas menerimanya. Maafkan aku, Kak. Aku sungguh-sungguh menyesal," ujar Arumi, butiran air mata pecah. "Pria itu menjilati tubuhku, Kak."


Marya mengelus ubun-ubun Arumi dan menenangkannya.


"Apa dia menyakitimu?"


"Aku nyaris diperkosa," sahut Arumi. "Oh, bisakah aku pergi mandi? Aku merasa sangat jijik." Arumi merinding dan Marya ingin alihkan perbincangan. Marya alami trauma yang sama, meski tiap mengingat kejadian itu, ia menggantinya dengan kenangan tentang Elgio dan itu cukup berhasil. Namun, Marya sangat tak berharap kejadian itu menimpa adiknya sekalipun ia sangat kesal pada tindakan jahat Arumi.


"Tenangkan dirimu, dan lupakan! Mungkin kau perlu berendam air hangat agar tubuhmu baikan, tetapi aku tak yakin, suhu tubuhmu tidak normal. Apa kita ke dokter saja?"


"Tidak, Kak. Aku akan minum obat dan segera sembuh. Kakak boleh pulang, aku tak apa-apa sendirian," ucap Arumi yakini Marya.


"Apa Ibu masih marah?" tanya Marya.


"Hmmm, aku tak tahu. Mungkin saja, Ibu tak ingin lihat aku dan tak ingin berurusan denganku. Ibu juga tak ingin aku pulang ke rumah. Lagipula, aku harus belajar mandiri. Kau bisa lakukan itu selama bertahun-tahun, aku akan belajar darimu!" Suaranya terdengar penuh tekad.


Elgio dan Ethan masuk ke dalam kamar.


"Apa kau merasa baikan, Arumi?" tanya Elgio prihatin.


"Ya, Kak. Makasih sudah mampir. Maafkan aku untuk hal-hal bodoh yang kulakukan padamu dan kakak di waktu lalu. Aku sungguh menyesal."


"Santai saja, Arumi, kau akan bayar nanti! Aku masih belum lupa," jawab Elgio tersenyum kecil.


"Ya, aku akan terima hukumanku. Kau boleh bawa kakakku pulang, aku akan baik-baik saja." Saat gadis itu menyebut Marya kakaknya, sesuatu yang manis terjadi di antara mereka dan Marya tahu, keduanya akan saling memiliki seperti Ibu dan Aunty Sunny.


"Apa kita bisa membawanya pulang, Elgio. Tak ada yang perhatikan dia di sini," pinta Marya dengan sorot mata sendu pada suaminya.


"Tidak! Aku tak ingin kemana-mana," potong Arumi menggeleng keras. Ia sudah nyaman hidup sendiri. "Aku akan baik-baik saja, Kak," tambahnya.


"Kamu yakin?"


"Ya, pergilah, Kak!" Didorongnya tubuh Marya agar lekas bangun.


"Pergilah Marya, aku akan temani Arumi di sini." Ethan berkata pada Marya yang terlihat tidak ingin pergi. "Aku akan jaga dia! Kau tak perlu takut aku menyentuh Arumi, kau kenal aku dengan baik. Aku tak tertarik pada gadis bodoh meskipun ia tak berbusana. Aku menelponmu tadi karena seseorang harus pakaikan dia pakaian." Ethan bicara serius, melirik pada Elgio yang terus curiga padanya.


"Baiklah, Ethan. Aku akan mencari bibi pengasuh dan kirimkan kemari untuk temani Arumi," kata Marya menoleh pada Elgio.


"Ya, tentu saja sayang. Aku akan minta seseorang dari Durante Land datang kemari! Tidak baik seorang gadis dibiarkan sendirian walaupun bersama pria cerdas yang selalu pakai logika. Ia tak pernah tahu saat ia jatuh cinta, logikanya lenyap," komentar Elgio sunggingkan senyuman usil pada Ethan Sanchez.


"Kita bisa taruhan," tantang Ethan. "Kau tidak perlu kirimkan pengasuh. Aku akan merawat Arumi," kata Ethan lebih tegas dan Marya menyipit saat lihat ekspresi senang Arumi kendati samar-samar. Well, adiknya menyukai Ethan Sanchez. "Jangan salah sangka, aku dibayar untuk mengurusinya," sambung Ethan lagi saat Marya senyum-senyum padanya.


"Kau serius Ethan?"


"Ya, pulanglah! Jangan sampai pacarku sakit!" kata Ethan mulai kambuh isengnya.


"Pacar?!" tanya Marya keheranan.


"Ya, pacarku di dalam sana," sahut Ethan enteng mengangguk pada perut Marya.


"Eh?! Kurasa kau mulai tak waras Ethan Sanchez."


"Pulang sana!" suruh Ethan Sanchez mendorong Marya pelan pada Elgio. "Jika aku tahu kondisimu, aku tak akan minta kamu datang. Maafkan aku, Marya."


Marya tampak berat hati tinggalkan Arumi, tetapi Ethan mengusirnya pergi. Marya dan Elgio akhirnya pulang ke Durante Land.


"Kau serius akan temani aku di sini?" tanya Arumi, meski ia sangat gembira, Arumi agak risih.


"Ya, kau harus makan dulu dan kemudian istirahat. Adikku akan bawakan kita makanan."


Tak lama berselang, suara-suara kaki menaiki tangga menuju flat Arumi.


"Ethan Sanchez, aku bawakanmu pesanan! Mana upahku?"


Seorang gadis muda berdiri di ambang saat pintu terbuka. Ditangannya dua rantang makanan terjulur pada Ethan lalu tangan satunya menengadah, minta imbalan.


"Berapa kau minta?"


"Sebanyak aku bisa katupkan mulut, Kak. Kau minta aku malam-malam datang bawakanmu dan pacarmu makanan. Aku harus jaga rahasia dari Ibu juga. Ini-itu, banyak sekali permintaanmu. Kau tahu mulutku susah tertutup." Sang adik menggerutu di depan pintu.


"Pulang sana!" seru Ethan kasar, melempar segepok uang pada adik perempuannya yang cerewet. "Itu cukup untuk menyumbat rongga mulutmu."


"Kau tak kenalkan padaku, pacarmu?" tanya si gadis terbelalak pada uang pemberian Ethan kemudian berusaha melongok ke dalam kamar.


Braaaakkkkk!!! Pintu tertutup keras hingga sang adik pegangi jantung yang hampir copot.


"Dia pasti jelek sebab kau sembunyikan dia dariku! Apa dia si gadis bodoh kaya-raya yang sering buatmu kesal?" teriak adiknya dari luar sebelum pergi turuni tangga lalu menghilang.


"Apa itu adikmu?" tanya Arumi pelan.


"Makanlah! Jangan bicara padaku apalagi coba merayuku, Arumi Chavez," kata Ethan dan sodorkan mangkuk penuh makanan beraroma lezat.


"Kurasa aku jatuh cinta padamu, Ethan Sanchez." Arumi sekonyong-konyong terus terang. Ethan terdiam sejenak sebelum kerutkan kening.


"Ya, aku telah terbiasa terima banyak cinta, Arumi! Kau boleh suka padaku atau tergila-gila padaku, tetapi aku tak mudah jatuh hati apalagi pada gadis idiot sepertimu."


"Baiklah. Aku akan belajar jadi baik dan pintar. Kau akan mengejarku suatu waktu," kata Arumi menatap Ethan lurus-lurus, bersumpah. Ethan balas menatap si gadis dengan wajah datar dan senyum jahat yang khas.


"Silahkan dicoba, jangan berusaha terlalu keras, Arumi Chavez!"


****


"Apa kau temukan sesuatu yang menarik?" tanya Lucky berbisik pada Reinha di sampingnya di ruangan rapat. Reinha pandangi prianya yang tampan dalam bungkusan blazer hitam, tersenyum sembari menggeleng.


"Belum untuk saat ini," jawab Reinha bolak-balik periksa katalog.


"Maafkan aku, harusnya kita kencan, tetapi malah bekerja dan harus rapat." Lucky raih tangan Reinha dan kaitkan jemari mereka di bawah meja, mengecup sebentar. Tatapannya serius pada laptop. Mereka berdempetan di ruangan rapat staff Double L.


Reinha ikutan rapat bersama Lucky Luciano setelah mandi dan bertukar dengan dress keluaran terbaru dari bagian produksi Double L. Para manager masuk satu persatu, lumayan surprise ketika tahu, kekasih bos mereka, Reinha Durante hadir di ruang pertemuan. Beberapa dari mereka terlihat gugup. Reinha cukup terkenal oleh sebab Dream Fashion, salah satu fashion outlet yang miliki tempat di hati customer. Para pelanggan bicara soal mode, trend, kualitas dan itu merujuk pada Dream Fashion. Dan bicara soal Dream Fashion identik dengan Elgio Durante dan adik perempuannya yang cantik jelita, Reinha Durante. Gadis 17 tahun itu juga sangat famous oleh prestasi yang banggakan di sekolah dan banyak kontribusi untuk medali kota.


"Bisa kita mulai?" tanya Lucky.


"Kita akan launching katalog terbaru, woman atribut, Double L untuk dikirimkan pada customer tetap dan memilih artis untuk endorsement. Kami seleksi tiga public figure yang mungkin cocok untuk endorsement dengan track record bagus, branding bagus tanpa sensasi dan sedang naik daun saat ini."


"Siapa saja mereka?"


"Profilnya bisa dilihat Bos. Penelope Diaz, Amanda Lunar, Vaiya Con Dioz. Mereka adalah artis yang memiliki jutaan followers, ketiganya paling sesuai dengan citra artis untuk produk kita yang akan diiklankan."


Lucky melirik pada Reinha yang hanya diam perhatikan mereka.


"Baiklah, jadi siapa dari ketiga model tersebut yang paling pas gambarkan Double L?" tanya Lucky Luciano. "Aku ingin dengar pendapatmu Enya?"


Lucky Luciano menengok kekasihnya. Reinha amati ketiga model dengan kecantikan klasik yang menggetarkan kalbu. Senyum-senyum mahal nan eksklusive juga wajah berahang tirus dengan tulang-tulang feminim yang indah.


"Cara kerja tim kita mungkin mirip, Lucky. Kita sama-sama perkenalkan produk dan jualan produk. Tetapi, saranku, kau harus percaya pada stafmu, aku hanya ikut sebagai kekasihmu saja," tolak Reinha.


"Ayolah, Sayang. Kurasa kau juga ada dalam daftar staff sebab ENYA adalah salah satu produk terindah Double L." Lucky menatapnya dengan sorot lembut yang bikin Reinha cepat luluh padanya. Apakah pria itu akan datang padanya dengan sorot mata yang sama, bawa-bawa bayi wanita lain di gendongannya? Reinha hembuskan napas berat. Ia nyaris terdengar sesegukkan dan tanpa sadar menggigil.


"Enya?! Apa kau sakit?" tanya Lucky kuatir, sentuh kening Reinha. Dress dari bahan beludru yang dipakai Reinha sangat hangat dan tertutup hingga ke leher tetapi AC mungkin terlalu dingin. Lucky melepas blazer hitamnya dan selimuti Reinha. Tingkah Lucky buat para staff lain di ruang rapat terpesona, terlebih para staffnya didominasi kaum hawa.


"Trims, Lucky. Aku baik-baik saja," sahut Reinha. "Apa yang ingin kau dengar?"


"Endorsement artis dan ketiga model iklan," sahut Lucky.


"Endorsement artis jadi bentuk marketing yang populer akhir-akhir ini. Terus terang, stafmu sangat up to date," puji Reinha. "Strategi endorsement marketing sangat efisien, Lucky. Ada banyak keuntungan dengan gunakan jasa public figure untuk endorse produk Double L jika dibanding iklan konvensional, endorsement lebih terjangkau. Biaya endorse artis mungkin mahal tetapi akan tingkatkan penjualan apalagi jika artis yang kamu pakai punya banyak followers di media sosial mereka. Masyarakat akan mengenal produk Double L, familiar sebelum akhirnya berburu produk Double L. Ini keuntungan dari strategi marketing endorsement."


"Anda benar Nona Durante. Salah satu perjanjian kontrak, artis wajib cantumkan media sosial, website bisnis, blog untuk ciptakan brand awareness."


"Tetapi ada kekurangannya," sambung Reinha. "Rate artis biasanya berbeda-beda. Penelope Diaz pasti pajang rate tinggi sebab jumlah followersnya banyak dan wanita itu miliki citra yang sangat kuat. Vaiya tidak begitu peduli dengan Instagram tetapi ia sangat popular karena gaya fashionnya yang luar biasa. Sedangkan Amanda Lunar, kurasa tim Divisi perlu pikirkan sekali lagi soal Amanda. Ia sering endorse untuk produk fashion dari banyak merk. Lagipula target marketplace Double L sepertinya punya arah yang jelas, Amanda bahkan akan merilis produk fashionnya sendiri, The Lunar." Reinha berpikir sejenak.


"Kekurangan lain dari endorsement, iklan yang tidak akan bertahan lama. You know better, ada uang ada jasa. Durasi iklan pada artis cenderung lebih singkat, berbeda dengan iklan konvensional yang biasanya terikat kontrak untuk jangka waktu tertentu dan biasanya dengan durasi lebih panjang. Ini karena artis biasanya mengiklankan produk kita pada sosial media yang mereka miliki. Kebanyakan endorsement dipajang pada post yang sifatnya sementara seperti insta story di Instagram. Tak masalah jika kita inginkan jam tayang lebih lama, dengan biaya tambahan yang pastinya harus dikeluarkan. Saranku, siasati saja dengan maksimalkan durasi yang terbatas itu untuk beriklan. Berikan semacam ringkasan singkat, padat dan jelas, straight to the point pada artis saat lakukan endorse.


Masih ada kendala endorsement lainnya, aku yakin tim Divisi marketing tahu pasti. Kita cenderung sulit untuk memonitoring karena pihak management artis mungkin akan berikan batasan waktu tayang iklan produk kita. Mereka mungkin akan sesuaikan dengan kesibukan artis, jadi, kadang kita harus berurusan dengan jadwal tayang iklan yang bergeser.


Ini yang terakhir, biasanya setelah di-posting di akun media sosial si artis, kita tak mungkin bisa langsung pantau engagement rate karena semua aktivitas iklan produk ada pada akun si artis yang bersangkutan, kita harus menunggu progress report dari pihak artis untuk ketahui, bagaimana reaksi publik terhadap produk kita yang diiklankan. Aku rasa selama kita peroleh keuntungan dengan menggandeng artis, kekurangan endorsement bisa diantisipasi. Tugas tim marketing mungkin cari solusi untuk atasi masalah ini."


 


Yang hadir di ruang rapat tak bisa sembunyikan kekaguman mereka pada Reinha Durante. Gadis itu pahami dengan benar seluk beluk marketing dan bicara dengan bahasa yang mudah dipahami. Jadi, berita di luar sana tentang Reinha Durante bukan hoaks. Apalagi Lucky Luciano yang terpaku di tempat duduknya tercengang-cengang dan kehabisan kata. Ia mencintai gadis itu tak habis-habis meski sang gadis terus ragukan cintanya.


Bangga ketika mata-mata penuh tatapan kagum para staffnya tertuju pada Reinha. Gadisnya masih muda belia tetapi sangat luar biasa. Saat bicara tentang endorsement, ia lebih mirip wanita karir sejati ketimbang gadis tingkat tiga.


"Kurasa ini yang akan kita bicarakan dirapat? Bukan begitu?" tanya Lucky tanpa alihkan pandangannya dari Reinha.


Para staffnya mengangguk. "Benar, Bos."


"Okay, jadi siapa pilihan kita?" tanya Lucky lagi. Melirik Reinha yang cemerlang. "Itu urusan kalian! Beritahu aku, nanti! Aku harus pacaran dengan kekasihku," ujar Lucky tak peduli pada senyum-senyum staffnya. Ia meraih Reinha dan pergi dari sana.


"Aku memujamu Reinha Durante," kata Lucky Luciano mendorong gadis itu masuk ke lift menuju ruangan kantornya.


"Emm, ya, meski aku terus ragukanmu," keluh Reinha. September akan segera melahirkan bayi dan Reinha tak berhenti gelisah. Jika kekasihnya melihat bayi itu, mungkinkah hatinya tetap beku? Atau prianya akan berubah? Mencair seperti gunung es terkena cahaya mentari. Reinha pandangi kekasihnya dalam lift. Lucky Luciano sangat hebat dengan Double L-nya, tak percaya pria itu memimpin rapat tertutup dengan para staff dan dia sangat tampan dibalik blazer hitam pas badan yang pamerkan otot-ototnya walau tak setampan saat ia memegang senjata.


"Enya, jangan menatapku seperti itu? Kau tahu, belakangan aku tak pandai kelola otakku. Aku mudah panik ... "


Satu kecupan cepat dan pria itu terbungkam.


"Apa yang akan aku lakukan jika kau berubah suatu waktu?" tanya Reinha.


"Kau terus bicara soal itu Enya?!"


Lucky mengerut dan tidak ingin bahas tentang bayi, mereka kembali ke ruang kantor. Lucky masih harus tangani beberapa masalah dan Reinha temani ia dari sofa. Mereka lagi-lagi tidak berkencan.


You are my sunshine, my only sunshine


You make me happy when skies are gray


You'll never know dear, how much I love you


Please don't take my sunshine away


Lagu mengalun di Double L, pengunjung masih berdatangan. Lucky dibalik meja kerja sibuk memeriksa produk. Ini baru dan melelahkan baginya sedang Francis mengirim box bayi dan belum jua kembali. Apa yang dilakukan asisten itu di rumah September? Sudah tengah malam ini. Pria itu bangkit berdiri dan sodorkan tangannya pada Reinha yang sedang menjelajahi e-katalog.


"Mau berdansa?"


Kaki-kaki bergerak perlahan diiringi You Are My Sunshine.


"Mengapa Francis lama sekali mengantarkan box?" tanya Reinha.


"Aku tak tahu, Enya! Bisakah kita berhenti ungkit-ungkit soal bayi saat kita hanya berdua?" tanya Lucky, mereka kehilangan romansa akibat September dan juga bayi.


"Bukankah ini sudah malam?"


Mendadak saja ponsel Lucky berdering. Francis menelpon. Lucky tetap mengajak Reinha berdansa dan gunakan satu tangan untuk angkat telepon.


"Kau lama sekali Francis?" tanya Lucky, "Aku harus rapat sendirian tadi, untung Enya bersamaku!"


"Bos ...." Suara Francis tak enak didengar.


"Ya, apa apa? Aku sedang kencan."


"Bisakah Anda kemari?"


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Lucky menegang. Kakinya berhenti bergerak. Pelukannya di pinggang Reinha jadi kaku.


Suara ribut-ribut berikut barang pecah belah dibanting terdengar dari ujung sambungan.


"Bisakah Anda datang saja kemari?!"


"Tidak, Francis. Aku akan bersama Enya," tolak Lucky menatap Reinha yang tanpa ekspresi.


"Aku takut, September sakiti dirinya sendiri dan bahayakan bayinya," keluh Francis dari seberang terdengar tidak berdaya.


"Apa yang terjadi, Francis?" tanya Lucky dan pelukannya lepas. Pria itu terlihat sangat frustasi.


"Sekali ini saja, temui September!"


***


Tinggalkan komentar untuk chapter ini.... Aku mencintaimu, cintai saja aku.


Jangan lupa ngirim Marya, Elgio, Enya juga Lucky Luciano yang malang vote tiap senin...


Bakalan banyak tipo di sini, aku gak ngecek lagi sebab sangat sibuk seharian bekerja.