Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 53 Lucky for Enya...



"Jadi, kau tahu mereka berkencan?"


Elgio menyipit pada Abner. Sedang Abner diam, pikirkan jawaban. Ia akan mengambil tindakan jika Lucky atau Reinha di luar kendali, tetapi ia belum temukan hal yang bisa jadi pemicu untuk bertindak.


"Lebih baik mereka berkencan secara terang-terangan. Lagipula aku menghubungi Lucky secara pribadi untuk beri ia peringatan."


"Abner?!" Elgio menatap tajam, "Kau selalu bijaksana dan aku menyukainya, tetapi bukankah sekali ini kau kecolongan?"


Mereka bicara serius di ruang kerja. Potret Reinha dalam pelukan Lucky cukup mengganggunya meski Lucky terlihat begitu menyayangi Enya.


"Elgio, jika kau semakin keras pada Nona Reinha, ia akan semakin memberontak. Beri dia wak - "


"Pria itu penjahat, Abner," potong Elgio tajam. "Dia mafia, gangster, penipu, buaya darat, lintah darat dan seribu satu julukan. Orang itu tidak beres. Apakah kau akan biarkan Enya melekat padanya? Ia akan mengubah Enya menjadi penjahat sepertinya."


Elgio tidak ingin berdebat dengan Abner. Ia harus selamatkan Reinha, apapun resikonya sebelum sesuatu yang buruk menimpa adiknya itu.


"Elgio, aku selalu bertindak detil dan kau serahkan padaku untuk mengurusnya." Abner memikirkan cara tetapi belum temukan satupun yang efektif.


"Tidak, kali ini aku akan bertindak. Kita punya banyak bukti kejahatan Lucky Luciano. Aku akan mengirim ke salah satu media kabar dan biarkan penegak hukum menindaknya. Aku tak akan ijinkan Enya bersama bedebah itu."


Tatapan berontak Elgio memaksa Abner berpikir keras. Sayangnya Elgio benar tetapi Elgio tak bisa bersikap ceroboh. Meskipun kenyataannya pria itu penjahat kelas kakap, dalam kehidupan sehari-hari, sepak terjang Lucky Luciano adalah salah seorang pebisnis muda dan terkenal loyal pada wilayah mereka. Ia juga donatur dan aktif di banyak kegiatan sosial.


"Hei Elgio, jangan gegabah! Lucky adalah seorang 'anak emas', hati-hati jika menyerangnya. Ia mengirimkan banyak bantuan pada pemerintah saat wilayah ini krisis. Kau harus pikirkan matang-matang sebelum menyerangnya."


Alih-alih mengirim Lucky ke balik bui, Durante Land malah akan menerima tekanan ketidak-sukaan khayalak.


Elgio mulai kesal, "Baiklah, kau tak bisa diajak kerja sama. Aku akan mengurusnya sendiri."


"Bocah ini, lakukan saja sesukamu! Buatlah keributan lalu lemparkan padaku untuk cari solusi."


Elgio melirik jam, hari merambat sore. Ia akan menghajar Lucky di gym tetapi semangat berpai-api tadi pagi seperti pudar. Reinha sangat mencintai pria itu dan sebaliknya. Lucky menungguinya di sekolah, berdiri seperti pengawal dengan sebotol air mineral dan tak lepas amati gadis itu. Ia memaksa Reinha ke kantin untuk makan siang dan buat Reinha tersenyum sepanjang hari.


Elgio menjadi semakin tidak berdaya tetapi masa depan mereka sangat suram. Masih belum terlambat untuk pisahkan mereka. Elgio menggerutu jengkel dan pergi tinggalkan Abner yang pening, mencari cara tanpa melukai Reinha. Meskipun ia lunak pada Lucky, Elgio bicara fakta dan kebenaran. Lucky tergabung dalam kelompok mafia dan dendam di antara kartel mafia tidak pernah berakhir. Mereka penuh intrik kepalsuan dan propaganda. Bagaimana jika suatu saat ia terlambat bertindak dan Reinha dalam bahaya? Abner akan melihat perkembangan hubungan keduanya selama seminggu ini.


Sementara Elgio kendarai mobil menuju D'Gym Muay Thai. Reinha masih sibuk di sekolah hingga jam sore, kesempatan bagus untuk bicara pada Lucky Luciano.


Lucky menunggu, bersiap di sasana dengan celana pendek dan ia sedang membalut tangannya dengan hand wrap kemudian pakai sarung tinju. Ia menunggu Elgio lakukan strecthing. Beberapa menit kemudian Elgio memberi aba-aba, berdiri saling membungkuk dan pasang kuda-kuda. Sasana sepi hanya mereka berdua.


"Sejak kapan kalian berkencan?" tanya Elgio beberapa menit kemudian mulai lontarkan jab-jab ringan. Lucky menghindar.


"Belum lama. Aku sungguh-sungguh mencintainya."


"Ya, adikku memang beda. Enya tak sama dengan janda dan wanita-wanita yang suka berkelana bersamamu," dengus Elgio. "Apa kau tidur dengannya?" tanya Elgio ajukan dua pukulan dan satu sapuan.


"Itu terlalu pribadi." Lucky berkelit. "Asal kau tahu, kami tak lakukan itu."


"Kuharap begitu ... Enya masih 17 tahun. Kau bajingan jika berani menyentuhnya."


Gambaran Reinha dalam selimut terbalut seperti kepompong dengan surai terurai di atas bantal dan mata indah tersesat jauh dalam mimpi, buyarkan konsentrasi Lucky Luciano. Tembakan telat mendarat di wajahnya.


Elgio menyeringai, "Fokus!"


Ia menjauh biarkan Lucky kembali pusatkan diri.


Lucky susah fokus sementara bayangan Reinha Durante berlarian ke sana kemari di kepalanya.


"Apa yang akan kau lakukan kini, musuhmu yang tak suka padamu, akan datangi adikku."


"Itu tidak akan terjadi, aku akan menjaganya."


Sementara Lucky bersungguh-sungguh dengan ucapannya, Reinha dan Marya berkendara pulang ke Durante Land. Augusto mengemudi sambil melirik spion pada Reinha dan Marya yang sama-sama gelisah. Reinha bahkan terus mengerang frustasi.


"Augusto, apa mereka benar-benar di sasana? Aku bisa gila."


"Ya, Nona. Tuan Elgio pergi setelah berdebat panjang dengan Tuan Abner."


"Ya Tuhan ...."


"Apa kita perlu menyusul?" tanya Marya. Memikirkan Elgio berdua dengan Tuan Lucky Luciano, buatnya mulai mual. Ia memijat kepalanya.


Sebuah mobil buntuti dari belakang, ngebut di sisi mereka dan menikung tajam, memblokir mobil mereka hingga Augusto terpaksa menekan pedal rem kuat.


"Ya Tuhan, ada apa ini?" tanya Marya bertambah cemas. Meskipun terapinya hampir selesai dan ia masih konsumsi obat, ia masih suka gugup untuk keadaan tertentu.


Beberapa orang turun dari mobil, pria berjas rapi seperti para agen kebanyakan. Mereka membungkuk beri hormat. Salah seorang dekati mobil mereka, mengetuk kaca, meminta ijin bicara. Augusto waspada dengan pistol tersembunyi di tangan kanannya.


"Sore ... Nona Reinha Durante," sapa pria itu sopan. "Maaf tidak berniat menakuti, Anda. Kami diminta Tuan Lucky Luciano mengawal Anda untuk makan malam. Apkah Anda bersedia ikut?!" katanya lagi.


Reinha hembuskan napas lega. Kekasihnya telah mulai belajar sopan - santun rupanya.


"Emmm, apa dia telah kembali dari Gym?!"


"Beliau akan tiba bersamaan dengan Anda."


"Baiklah." Reinha hendak turun dari mobil namun Marya menahan pergelangan tangannya.


"Kau tak bisa pergi, apa yang akan kukatakan pada Elgio jika ia bertanya?!"


Reinha separuh memohon, "Buatkan aku jawaban Marya. Aku mengandalkanmu." Ia melepas pegangan tangan Marya dan turun dari sana sedang Marya kebingungan.


"Eh?!"


"Bantu aku sekali ini saja, Marya," pintanya dari balik jendela. Raut muka Reinha berbinar-binar oleh jatuh cinta.


"Aku akan ikut Anda, Nona. Kau tak boleh pergi sendirian." Augusto coba mencegah. Ia keberatan biarkan Nona-nya pergi sendiri meskipun di bawah kawalan anak buah Tuan Lucky.


"Kau selalu berisik Augusto. Aku akan menelponmu nanti, kau bisa menjemputku. Okey?" Reinha kirim kode dengan jemarinya.


"Tidak perlu Nona. Tuan Lucky akan mengantar Anda pulang," sambung si pria.


Reinha tersenyum sebelum melambai pergi dengan wajah berbinar-binar.


"Eh?!" Marya masih tak tahu apa yang harus ia lakukan. "Augusto, apa kau tahu ... apa yang harus aku lakukan? Kau tahu Elgio akan sangat murka."


"Ya, Anda benar, Tuan Abner akan memecatku. Lebih dari itu, aku harus menemani Nona Reinha."


"Baiklah Augusto. Ikuti Reinha sekarang, aku akan turun di halte bus berikutnya dan pergi ke Canal Supernova. Aku akan fitting gaun pengantin dan minta Elgio datang. Sementara itu kau ikuti Reinha dan bawa dia pulang."


Hanya itu ide terbaik saat ini. Fitting gaun pengantin lumayan butuh waktu dan Marya akan pikirkan cara untuk menahan Elgio lebih lama di luar rumah, sementara Augusto membawa Reinha kembali.


"Baik Nona."


Mereka berbalik dengan cepat. Marya naik bus menuju Canal Supernova ke salah satu Bridal di sana. Augusto hubungi Francis, tak diangkat lalu pada Lucky Luciano, untuk pastikan penjemputan Reinha. Entah mengapa ... ia merasa gelisah. Mobil yang membawa Reinha mulanya terlihat tetapi tiba-tiba menghilang dengan cepat. Augusto mencoba tetap tenang menyusuri jalanan.


Sementara Reinha duduk dalam mobil diapiti dua pengawal bertampang sangar.


"Bolehkah kami menutup mata Anda dengan kain. Ini kejutan," kata salah seorang di antara mereka.


Ya, dia manis sekali. Pria itu ... manis sekali. Apa dia lakukan hal macam begini pada semua wanita yang dekat dengannya? Reinha mencibir, "Aku akan tanya padanya nanti".


"Baiklah, kalian tidak menaruh bius di dalamnya, kan?"


Mereka terkekeh, "Tentu tidak, Nona."


Matanya ditutup dengan sapu tangan hitam. Mereka memutar musik, lagu Gloomy Sunday. Reinha tak menyukai lagu itu, itu lagu patah hati. Apakah satu mobil sedang patah hati? Reinha rasakan debaran jantungnya bertalu-talu hingga tak sanggup kendalikan dirinya sendiri.


Perjalanan begitu menegangkan lantaran ia bayangkan akan bertemu dengan Lucky dan menerka makan malam seperti apa? Mengapa ia selalu ingin melihat pria itu? Lucky jadi candu saat ini meski sisi lain pria itu mengandung racun.


Dua puluh menit perjalanan dan mereka sampai di suatu tempat. Reinha dituntun berjalan ... entah kemana ... ia menghirup aroma manis caramel macchiato dan cake. Ia tersenyum senang. Reinha duduk di sebuah kursi dan tidak sabaran menunggu matanya dibuka. Seseorang melepas penutup mata. Perlahan ia buka dan kejutan menantinya.


****


Di sasana D'Gym....


Lucky cukup kewalahan hadapi Elgio. Pria pemarah itu benar-benar berbakat jadi petinju profesional. Lagipula ia tak bisa berkosentrasi dengan benar sebab Elgio terus mengintimidasi manfaatkan cintanya pada Reinha.


Ngomong-ngomong tentang Reinha ... apa yang sedang dilakukan gadis itu? Apa ia sedang gelisah saat ini?


Mereka berdua sedang rehat saat Francis tergesa-gesa menghampirinya. Ia berbisik di telinga Lucky lantas membuat pria itu pejamkan mata berusaha tenang. Ia bangkit berdiri datangi Elgio.


Apakah Reinha dan Marya telah kembali dari sekolah? Ponsel Elgio bergetar, satu pesan masuk.


💌Datanglah ke Canal Supernova, La Bella Bridal. Aku akan menunggumu😻😻😻


Elgio tersenyum, sedikit tergelitik oleh emoticon kucing yang dikirim Marya. Ia sungguh pacaran dengan ABG. Elgio akan melihat kekasihnya dalam balutan gaun pengantin. Luar biasa.


💌Apa Reinha bersamamu?


Elgio melepas pelindung pergelangan kaki dan menggulung hand wrap. Ponselnya kembali bergetar.


💌Tidak. Reinha bersama Augusto. Kami berpisah di Broken Boulivard, aku kembali ke kota ingin coba gaun.😍😍😍


Baiklah. Itu berarti Reinha sudah di rumah. Elgio akan hubungi Abner ketika pesan masuk dari Marya lagi.


💌 Please come to me right now, I 💞U.


Elgio mengerang. Ya Tuhan, gadis itu menyematkan emoticon love, imut sekali dia. Elgio lupakan segala hal, ia hanya ingin berlari pada Marya.


***


Sementara Reinha membuka mata perlahan. Di ujung meja makan, seorang wanita duduk sambil memutar gelas berisi sampanye di tangannya. Si wanita cantik, seksi, estetika terbaik yang pernah dilihat Reinha. Berbagai jenis makanan tersaji di atas meja. Reinha menyipit curiga. Meskipun citra-nya halus bak peri, guratan mata wanita itu ... ada yang salah.


"Hai, Reinha ... apa perjalananmu menyenangkan?" tanyanya lembut.


"Eh?! Si-apa Anda?"


Reinha terkejut wanita itu tahu namanya. Si Wanita tersenyum dengan bibir terkatup, sisakan kesan anggun dan angkuh bersamaan.


"Di mana Lucky?!"


"Sedang dalam perjalanan," jawabnya santai.


"Um, baiklah. Siapa Anda, Nyonya?"


Terdengar suara ribut-ribut dari luar. Si wanita melengkung senyum senang. Lucky muncul dengan raut wajah marah. Bara api terpampang jelas di pupil matanya.


"Kau baik-baik saja?!" Lucky mendekat dan memeluk Reinha erat.


"Ada apa?!" tanya Reinha kebingungan. Nada Lucky macam orang ketakutan.


"Lihatlah dia! Langsung datang ketika aku mengundang kekasihnya makan malam. Menarik sekali."


Lucky bicara pelan pada Reinha, "Pergilah bersama Francis, tunggu aku di mobil! Jangan keluar dari sana apapun terjadi. Kau mengerti?!"


Reinha yang tak mengerti hanya manggut-manggut seakan paham. Francis menggiring Reinha tinggalkan Lucky.


"Hai, Valerie .... Apa yang kau inginkan? Membunuh Viktor dan Brigitta sepertinya belum cukup?" serang Lucky dingin.


Wanita itu minum sampanye hingga tandas sebelum bangkit perlahan dengan sangat anggun. Ia hanya mengenakan lingerie seksi dibungkus cardigan sangat panjang. Ia tersenyum se*sual, datangi Lucky.


"Kau terlihat sangat menggiurkan dengan peluh yang mengkilap," ujarnya melempar rayuan. Valerie semakin merapat pada Lucky, "Kau bisa duduk di singgasana bersamaku alih-alih buang-buang waktu mengejar Reinha Durante. Kita bisa bersama berbagi ruang ... bukankah sangat menggoda?"


Jemari lentiknya menyusuri kancing kemeja Lucky, berjinjit dari satu kancing ke kancing lain dengan gaya eksotis yang memancing naluri. Ia sampai di ujung, melepas satu kancing paling atas. Kuku-kukunya menelusup ke dalam, menelusuri dan menggoresi leher Lucky dengan cara yang hanya bisa dilakukan seorang kekasih.


"Kau mabuk?!" Lucky tak menghindar.


"Aku menginginkanmu," kata Valerie dengan nada bergairah dan seksi. Ia melepas cardigannya. Lucky meringis, jika Reinha melihat ini, bisa jadi kisah cintanya yang seumur benih kecambah langsung berakhir. Jika dulu, ia mungkin langsung pergi dengan wanita itu ke ranjang. Kini setelah Reinha datang, ia kehilangan hasrat pada wanita manapun di dunia ini. Ia hanya ingin kembali pada Reinha.


"Valerie, aku tak sama lagi. Tak akan pernah sama."


"Begitukah? Kau mungkin tak sama sebab sedang mabuk cinta. Suatu saat kau akan kembali liar dan primitif seperti pria yang kusuka. Aku akan menunggumu dengan sabar." Ia menyusuri rahang pria itu dan berhenti di bibirnya.


"Aku harus pergi."


Lucky mundur dan berbalik. Valerie dengan cepat memeluk Lucky dari belakang.


"Kau bisa kencan dengannya dan tidur denganku, apa susahnya? Kau bisa jadi milikku saat malam. Hmmm?!"


Lucky melepaskan ikatan tangan Valerie, berbalik dan mendorongnya sejauh mungkin dengan halus.


"Aku tidak lakukan hal itu lagi," kata Lucky tenang. "Kau membunuh Viktor, aku tak bisa lupakan itu. Kita masih akan terus berurusan, jadi kau tak perlu takut kehilangan aku," ujarnya sinis.


Suatu waktu aku akan jadi ular berbisa yang melepas bisa racun ke dalam darahmu. Kau tunggu saja, Valerie.


"Aku melakukannya agar bisa bersamamu. Bukankah pria tua itu sudah terlalu lama nikmati karir dan bersenang-senang? Aku memberikannya kematian yang sangat damai bersama Brigitta yang malang."


Valerie tersenyum sakit.


"Kau iblis ...."


Valerie tertawa, "Kita iblis, Lucky."


"Aku pergi! Jangan coba-coba trikmu pada Reinha, Valerie. Kau tahu aku tak akan tinggal diam."


Lucky pergi tak pedulikan seruan Valerie yang memanggilnya kembali. Ia keluar dari ruang tamu tepat ketika bunyi berisik gelas dibanting. Ia terus menuju mobil, masuk ke dalam dan Francis membawa mereka pergi. Lucky menautkan jemarinya dan menyangga kening. Berani sekali Valerie mengganggu Reinha. Ia menengok pada Reinha dan memeluk gadis itu erat-erat.


"Kau bodoh atau apa?! Jangan mudah percaya pada orang!"


"Tetapi ...." Reinha terkejut melihat pria itu marah padanya.


"Aku akan memberimu kode rahasia, agar kau bisa bedakan aku atau bukan. Hmmm?!"


"Jadi, bukan kau yang ...." Reinha memucat.


"Francis, kita berhenti di counter food center, belikan kami makan dan kau pulanglah ke Puri. Aku akan makan malam dengan Enya."


Selepas Francis pergi, Lucky mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia diam membisu.


"Apa aku baru saja diculik?" tanya Reinha gagu.


"Pejamkan matamu, kita akan pergi ke suatu tempat."


"Tidak .... Siapa wanita itu?!"


Lucky tak menjawab. Mobil berbelok di setapak kecil dan ia kurangi kecepatan. Setapak itu menanjak berbentuk spiral. Mereka mengelilingi sebuah bukit dan semak-semak liar tumbuh sepanjang setapak. Mereka berhenti di tepian tebing tinggi, di bawahnya lembah bebatuan merah tampak sangat indah tertimpa cahaya senja. Sejauh mata memandang, hamparan tebing-tebing merah terbentang indah bak lukisan.


"Indah sekali." Melupakan banyak pertanyaan di benaknya.


Mereka turun dari mobil, Lucky duduk di kap mobil sementara Reinha maju beberapa langkah menghadap ke nirwana barat, menikmati pertunjukan warna senja.


"Amazing ...."


"Ayahku sering menulis syair di tempat ini. Ayahku menamai tempat ini, Red Twilight," kata Lucky. "Kemarilah!"


Reinha menikmati senja dalam dekapan Lucky yang mendadak kuatir tentang masa depan gadis itu. Desah putus asa mengingat Reinha telah terekspos kini dan tidak akan bisa mencegah orang lain untuk mengejarnya. Apa yang telah ia lakukan? Ia membahayakan Reinha.


Lucky menopang dagu di bahu Reinha, menonton mentari kuning yang tidak tergesa-gesa bergulir turun. Pusara angin kencang berputar dari bawah lembah, Reinha mengelus lengannya kedinginan. Lucky lepaskan jaket dan selimuti gadis itu. Tangan-tangan mereka bertaut. Lucky pejamkan mata sedang nadi di leher Reinha berdenyut di pelipisnya. Ia tak bisa menahan diri dan pergi ke sana, menyusuri gadis itu, jatuh padanya.


"Red Twilight ...."


"Hmmm?!"


"Jika nanti ada kejadian seperti sore ini, kau akan mendengar dua kata Red Twilight di antara kalimat acak. Ingatlah baik-baik, that's means I come to you ...."


Mereka berciuman di antara kemuning senja, di antara debar-debar benih ketakutan yang mulai bersemi.


***


Chapter ini sungguh panjang. Semoga suka bacanya.... Follow me, ya.


Jangan lupa like dan komentarnya. Apakah Anda menyukai chapter ini?


Jao Mora Nee Miu .... (I Love You, All)


Rimagasi ....