
"Bukankah ini rencanamu dari awal? Kabari istrinya saat Tuan Lucky sembuh?"
Magnolio Jose menekuk kening, bicara gerah pada sikap kakaknya yang terlihat tak ingin lepaskan Lucky Luciano. Ingatkan dirinya pada seseorang yang dilepas pergi dengan berat karena dunia mereka berbeda. Dirinya terlahir di Pesisir Timur di mana mereka tak punya waktu untuk cinta dan sejenisnya. Kehidupan hanyalah berisi perjuangan dan peperangan. Para wanita bercinta dengan pria hanya untuk panjangkan keturunan agar tidak punah dan lanjutkan perjuangan pendahulu sedang para pria hanyalah banteng yang selalu siap bertarung tiap saat. Menikah, punya anak tetapi hidupmu habis untuk jaga belantara Pesisir Timur dari orang asing. Keadaan telah berlangsung bertahun-tahun. Dulunya mereka hidup dengan damai, sampai beberapa ilmuwan datang dan lakukan penelitian temukan banyak harta berharga. Tanah mereka akhirnya jadi tanah berdarah karena terus ada perebutan bahkan genosida.
"Mengapa kau ingin menahan Lucky Luciano? Kau tahu Ratruitanae, penyamun kejam yang sering menjarah dari rakyat kita dihabisi oleh istri Lucky Luciano 3 km di luar zona Biara. Kau tahu apa artinya, dia bukan sembarang wanita."
"Lalu?"
"Okay, kakak perempuanku sepertinya belum paham. Mungkin kau belum pernah lihat serbuan Eurocopter Tiger dengan sepucuk meriam 30 mm, 8 rudal Anti tank, roket dan serenteng peluru menyerang kita. Aku hanya suka berurusan dengan pemerintah. Tetapi kau menyandera Lucky Luciano dan istrinya, mereka tak berkaitan dengan pemerintah bahkan telah mengirimkan banyak senjata juga bantuan untuk kita. Kau di luar kendali, Ratruitanae. Ini semua karena kau dan Cataleia jatuh cinta pada Lucky Luciano!"
"Hentikan, Kak!" Cataleia yang sedari tadi diam akhirnya bicara.
"Apa aku salah? Kau terlihat menciumnya penuh perasaan sementara pria itu tidur lelap. Yang benar saja!"
"Magnolio?!" Cataleia terlihat muram seperti pencuri yang kepergok sedang Ratruitanae menatap adiknya, tidak heran. Hanya wanita tak normal yang bisa menolak daya pikat seorang pria yang bernama Lucky Luciano.
"Kalian bisa berhenti sekarang. Apa yang kalian harapkan darinya sedang ia sendiri tak ingin disentuh? Tolong pikirkan kembali, kenapa Anda disebut-sebut sebagai Yang Terpilih? Lagipula Lucky Luciano bukan guimo (Pejuang Suku), hanya orang asing!"
Jika ada Ayahnya, Magnolio yakin tak bisa halangi salah-satu saudarinya nikahi Lucky Luciano sebab Ayahnya sangat ingin jadikan Lucky menantu untuk sebuah kekuatan. Bisa jadi, Ayahnya akan lakukan ritual jadikan Lucky Luciano guimo ketika pria itu tak sadarkan diri. Ia harus buat Ratruitanae lepaskan Lucky Luciano dan istrinya.
"Bukan itu alasan aku marah!" ujar Ratruitanae.
Magnolio panjangkan sabar. "Kamu, Cataleia, aku, akan menikahi salah satu di antara kerabat kita yang akan berjuang bersama pertahankan Pesisir Timur, Kak! Itu aturan yang telah kita perbarui. Sadarlah! Kita tak cocok duplikasi kehidupan orang-orang bagian Barat karena kita harus mengejar kesejahteraan generasi penerus kita."
Sementara anak-anak Thomas sibuk berdebat, Reinha Durante dan Lucky Luciano, masih berciuman penuh kerinduan, so long relay, bahkan semakin menjadi-jadi. Take and give, ciuman itu berubah jadi hot mode sebelum berhenti dengan enggan, sisakan tatapan penuh emosi dan puncak hidung yang bergesekan.
"Enya ... betapa aku memujamu."
Mereka dipertemukan oleh gema Red Twilight yang mengalun penuh cinta. Keduanya masih dalam ruangan, Reinha seakan takut Lucky menghilang, lingkari tangan di leher sang kekasih dan bersembunyi di leher pria itu. Ia pejamkan mata di sana, mengusap belakang kepala Lucky Luciano rasakan irama berdenyut pembuluh darah dibalik kulit yang lebih cerah. Bayangkan suaminya sekarat selama berhari-hari, Reinha pejamkan mata makin kuat. Lalu bayangan lain melintas, Lucky Luciano yang terbaring mati suri sementara tangan Cataleia menyentuh tubuh suaminya, Reinha menjadi gelisah. Ia pergi ke leher Lucky dan beri kecupan di sana. Mereka harus segera pergi dari desa Thomas tetapi tak ada niat bangkit berdiri. Reinha masih di atas pangkuan suaminya dan pria yang baru bangun dari kematian tak ingin berhenti menghirup aroma tubuh istrinya. Mereka hanya berciuman dan berpelukan, tak ingin berpisah bahkan hanya berjarak satu inci.
"Apa Francis baik-baik saja?" tanya Lucky bicara susah payah di telinga Reinha. Ia mendesah berat eratkan pelukan saat bibir Reinha terapung di lehernya. Apakah ia bisa pinjam salah satu rumah di komunal Thomas dan bercinta dengan istrinya? Jiwanya mulai meronta.
"Ya, aku harap dia segera siuman, Lucky!"
"Francis sangat tangguh, apakah lukanya parah?" tanya Lucky kuatir pada Francis dan pada reaksi tubuh saat suara serak Reinha bangkitkan sesuatu dari dalam dirinya.
"Aku yakin Amora Shine akan sembuhkan Francis."
"Apakah Amora ...."
"Dia sangat lucu, ya Tuhan, Lucky. Matanya seperti matamu dan Claire. Kau tahu, ia terlelap dalam lengan Francis." Bayangan tentang Amora Shine yang menggemaskan buat Reinha ingin segera pulang. Ia akan menimang Amora sepanjang hari.
"Enya ... aku masih tak percaya kau sungguh-sungguh datang."
"Kau selalu tak tepati janjimu, padaku! Tetapi aku selalu penuhi sumpahku padamu. Aku mencintaimu, Lucky!"
"Ini bukan cinta, Enya. Ini lebih dari cinta, jika hanya cinta saja, tak mungkin rasanya sekuat ini. Aku seperti lilin, kaulah apinya, lelehkan aku hingga tak tersisa."
"Kau manis sekali, Lucky! Apakah kau akan berpuisi sementara Ratruitanae terlihat inginkanmu jadi miliknya?"
"Tak akan terjadi. Percayalah padaku. There's no love like your love for me, Enya. Aku melihatmu dalam tidur panjangku. I am so sorry, My Dear."
"Aku tak tidur nyenyak selama sebulan, Lucky, begitu pula Claire."
Lucky bernapas sesak, "Apa Claire baik-baik saja?"
"Claire ada di perbatasan saat ini, dia memaksa ingin ikut, ia tiba semalam dan mengganggu Carlos, memaksa Carlos antarkan dirinya kemari."
"Oh, lihatlah kini! Adikku dan istriku, perpaduan yang menarik!"
"Lucky, kita harus pergi! Kurasa, gadis-gadis di sini tak keberatan jika kau nikahi mereka satu-persatu! Mengapa kau bertambah tampan setelah mati suri sebulan lebih? Ya Tuhan, harusnya aku nikahi saja pria gendut, botak dan jelek, jadi aku tak perlu takut gadis lain jatuh cinta pada suamiku."
Lucky memeluk pinggang sang kekasih erat dan tenggelam dibalik rambut beraroma mint. Separuh tak percaya Reinha telusuri Pesisir Timur untuk menemukannya. Lucky Luciano seakan masih takjub, memaksa terus melihat Reinha. Ia takut cuma bermimpi dan takut saat terbangun ternyata bukan Reinha yang menciumnya. Tatapan dalam dan penuh cinta, tetapi gelisah.
"Enya, apa aku bermimpi?"
Mereka bertatapan, Reinha menyusuri kelopak mata Lucky sukai tatapan mata innocent pria itu, seperti mata anak kecil yang tak berdosa. "Oh, ya astaga. Tuan Luciano, kau bermasalah dengan pesona jantanmu. Apakah aku akan terus gelisah selama sisa hidupku takut kau berlari dengan wanita lain di belakangku?" keluh Reinha perhatikan bagaimana bisa Lucky Luciano benar-benar menggaet hatinya dengan janggut panjang berantakan dan rambut awut-awutan, bukannya terlihat sembrono, pria itu malah terlihat sangat menggiurkan. Reinha tak akan pernah ijinkan Lucky Luciano keluyuran di Pesisir Timur. Ini yang terakhir. Usianya masih 18 tahun dan apakah Lucky akan tetap cintai dirinya hingga ia berusia 88 tahun? Reinha menggeleng ngeri, ia tak akan katakan apapun tentang Lucky Luciano.
"Em, kurasa akulah yang ketakutan kini sebab kau terlihat bukan seperti gadis biasa, Reinha Durante. Mari pamitan dan pergi." Lucky berujar sembari mencium bibir Reinha. Keberanian Reinha buat gadis itu semakin terlihat seksi, sungguh aura yang memancing-mancing gairahnya.
"Baiklah!"
Reinha turun dengan berat hati, mengambil tas, memakai jaket kulit, menguncir rambut tinggi. Dengan hati-hati menyimpan jubah, kerudung juga kalung suci. Meski tak punya mata biru bening seindah samudera, Reinha Durante adalah perwujudan sejati rupa seorang peri dengan wajah mungil, rahang halus feminim yang mempesona dan sorot mata selembut sutera tetapi bisa sangat mematikan. Ia memakai kembali cincin pernikahannya. Amati jari Lucky Luciano, cincin pria itu tak ada di jarinya. Mungkinkah disimpan Francis.
Berpelukan biarkan Lucky bertumpu padanya, Reinha bawa suaminya lewati halaman pergi ke rumah utama. Di sana Magnolio dan keluarganya berkumpul. Para prajurit berjaga-jaga, mereka bahkan bersiap-siap dengan senjata. Magnolio terkejut melihat sosok Suster Gemma Benadeth yang lembut berubah jadi Nyonya Luciano dalam balutan hitam-hitam berpenampilan seperti salah seorang agen wanita CIA dengan senjata di paha. Jadi, kecantikan gadis muda itu benar-benar bukan bualan terlebih nyali-nya yang luar biasa berani.
"Terima kasih Anda semua telah merawat suamiku. Aku akan bawa suamiku pulang! Aku harap Anda berdua tak keberatan!" kata Reinha menatap tajam pada Cataleia dan Ratruitanae. Bicara tegas dan berulang kali mendongak pada Lucky Luciano benar-benar takut terjadi sesuatu pada suaminya.
Kendatipun merasa konyol harus minta ijin pada wanita lain agar bisa bawa suaminya, Reinha merasa perlu lantaran bagaimanapun juga mereka telah selamatkan Lucky Luciano. Namun, berbagi Lucky Luciano dengan kedua wanita itu?! Oh, yang benar saja.
"Terima kasih, Anda telah bohongi kami." Ratruitanae bicara dengan ekspresi datar.
"Maafkan aku, semua itu lantaran karena aku sangat putus asa saat dengar suamiku hilang di Pesisir Timur."
"Hubungan kami dengan para Biarawati berakhir karena kelakuan Anda."
"Aku tak punya cara lain. Pihak Biara sama sekali tak terlibat, bijaksanalah Ratruitanae. Lagipula, jika aku datang sebagai Reinha Durante, apakah aku akan diterima dengan baik di sini? Aku tak bisa ambil resiko. Lagipula aku bertanggung jawab pada tindakanku, karena aku adalah istri Lucky Luciano. Apa Anda selamatkan nyawa suamiku berharap bisa menahannya di sini, Nona? Apakah dalam hatimu timbul keinginan untuk miliki suamiku?" tanya Reinha sama datar dan tenang tetapi berhasil kenai sasaran.
"Jaga bicaramu! Adalah kejahatan Anda menyusup ke desa kami dengan menyamar jadi seorang Suster dan menipu kami." Ratruitanae berseru dengan intonasi meninggi.
"Jika tak aku lakukan ini, apakah Anda akan hubungi aku dan beri kabar bahwa suamiku masih hidup? Aku lihat Anda dan adik perempuanmu menyukai suamiku. Itukah alasanmu tak beri kabar pada Alberth Costello?" serang Reinha kasar. Reinha beralih dari Ratruitanae dan menatap Magnolio tajam. "Anda akan lepaskan kami, Tuan? Atau aku akan hancurkan tempat ini?"
Cataleia dan Ratruitanae bertukar tatapan sedang Magnolio pandangi kedua saudarinya, berdecak. Pada kedua mata biru yang terjebak pesona maskulin Lucky Luciano.
"Berani sekali mengancam di wilayah kami? Siapa dirimu, Nona?"
"Sayang, tenangkan dirimu! Mereka tak akan menahan aku di sini!" bujuk Lucky memeluk kekasihnya yang marah. Mengecup puncak kepala Reinha dan merayu kekasihnya agar tenang. Ini masalahnya, Reinha Durante dan emosi yang meledak-ledak saat sedang marah akan susah dihentikan. Gadisnya bisa bertindak agresif dan anarkis, sama seperti kakak laki-lakinya. Mereka sangat temperamen.
"Jika aku berkata, tak ada yang boleh pergi dari sini maka tak ada satupun manusia yang bisa melanggar perintahku!" seru Ratruitanae gusar oleh kepongahan Reinha dan menatap Reinha tajam.
"Hanya kaummu yang akan patuhi perintahmu. Aku dan suamiku bukan orang-orangmu."
"Anda berada dalam yuridiksiku dan tidak ada wilayah ekstradisi di sini!"
"Baiklah kalau itu maumu! Kau berkuasa di sini tetapi aku pastikan kita akan hancur bersama! Aku akan hancurkan tempat ini, kau tak berarti apa-apa bagiku, Ratruitanae! Kita bisa coba!"
"Enya ... !" Lucky memeluk Reinha yang marah. "Dear, it's enough. Mereka tak punya hak menahan seseorang di kediaman mereka! Biarkan aku yang bicara, hmmm?!"
"Aku ingin tahu apa yang bisa Anda lakukan?" tanya Ratruitanae.
Reinha keluarkan telpon dan lakukan panggilan, tubuhnya bergetar menahan marah tetapi berusaha keras kendalikan dirinya. Menunggu satelit terdekat sambungkan panggilannya. Seseorang menyahut dari seberang
"My sister ... apakah kau berhasil?"
"Ya, aku temukan Suamiku, tetapi kami tak bisa pergi dari sini dengan alasan yang tak masuk akal! Aku tak peduli lagi, hancurkan tempat ini untukku! Aku akan kirimkan koordinatnya," kata Reinha di telpon penuh kemarahan dan sakit hati. "Kau akan kabari pada Elgio Durante dan Abner Luiz bahwa aku ada di Desa Thomas Adolfus!"
"Reinha?! Kami akan menjemputmu dan Lucky! Aku akan segera sampai. Jangan lakukan apapun, Reinha! Do you hear me, sister?"
"Tak perlu jemput aku dan Lucky! Hancurkan saja tempat ini!" tambahnya dingin.
Suara berisik, telpon sepertinya berpindah tangan.
"Reinha ... apa kau baik-baik saja? Apa Lucky baik-baik saja? Berani sekali menyandera kakakku, apa mereka bosan hidup? Oh, keparat!"
Reinha dan Lucky saling pandang dengar Claire mengumpat dari seberang. "Aku akan datang!"
Sambungan berakhir. Reinha menatap tajam pada Magnolio. "Kupikir setidaknya Anda lebih bijaksana! Kau tahu bahwa F-16 beroperasi untuk penuhi permintaanku karena aku membayar mereka untuk hancurkan tempat ini jika sesuatu terjadi. Kau mungkin tak tahu bahwa misil it bersiap meluncur dari jarak 1000 km, menunggu perintahku."
"Nyonya ...."
"Berani-beraninya sembunyikan suamiku sementara aku menderita di luar sana dan mengancam aku saat ini?" jerit Reinha marah.
"Aku menyelamatkannya bukan menyembunyikannya!" balas Ratruitanae keras.
"Apakah kau merasa memiliki hanya karena kau selamatkan dirinya, Nona? Kau bisa hubungi aku saat kau menemukannya. Aku akan datang tak peduli pada apapun dan akan bawa suamiku pulang!" lengkingan suara Reinha berakhir dengan tangisan. "Kalian lakukan kejahatan pada seorang istri! Jangan berpikir untuk nikahi suamiku. Aku sungguhan akan ledakan tempat ini!"
"Kau sangat-sangat sombong, Nyonya!"
"Ratruitanae hentikan!" tegur Lucky. "Harusnya kau biarkan saja aku mati di gua jika kau selamatkan aku untuk maksud lain. Aku penganut monogami setelah menikah. Hanya seorang wanita dan itu istriku! Saat kau seperti ini, hubungan kekerabatan kita berakhir!"
Reinha berbalik menahan guncangan murka, terduduk dan menangis tersedu-sedu. Merasa kesal karena sangat menderita. Ini adalah sebuah kejahatan pada cinta. Tak sadari seorang gadis kecil berlutut di depannya. Reinha mengangkat wajah saat terima sentuhan dan temukan Puteri Thomas yang masih kecil sedang menatapnya. Gadis kecil itu punya tanda kelahiran, dan sesuai ketentuan, ia akan jadi Pemimpin Suku di masa depan. Ketika wajahnya terarah keluar pintu, Reinha terkejut dapati anak-anak berdiri di luar rumah perhatikan dirinya dengan raut sedih.
Si gadis sematkan anggrek hitam di telinga Reinha, menghapus air mata yang terus mengalir di dua pipinya, mengusap pelan. Mereka bertatapan.
"Mam?! Apakah Anda sungguhan akan hancurkan rumah kami? Anda katakan sangat mencintai kami dan harapkan imbalan yang sama, cinta dari kami. We love you so much, Mam."
Reinha terperanjat. Ia terpaku membisu seakan dapat tamparan keras. Segera sadari kekeliruannya, akan ancaman bodohnya, ia segera mengelus wajah gadis kecil di hadapannya dengan lembut. Ia ajarkan mereka cinta kasih dan kini saat ia marah lalu bicara sembarangan tentang hancurkan desa ini, sesungguhnya ia telah merusak ajarannya sendiri. Tatapan berubah kalut, ia lantas menggeleng. "No, I am sorry, my Dear. Jangan dengarkan ucapan seseorang saat marah. Aku tak sungguh-sungguh sebab kita telah berjanji untuk saling mencintai."
"Apakah Anda pura-pura baik pada kami agar bisa bertemu Tuan Lucky Luciano?"
"I am so sorry!" Reinha jadi sedih hati memeluk sang gadis kecil dan membelai rambut gelombangnya yang sangat indah. "Aku memang menyusup untuk temukan suamiku tetapi aku selalu rindukan perjumpaan denganmu dan saudara-saudaramu." Lepaskan pelukan. Wajah sembabnya terlihat jelas memantul dalam bola mata biru gadis kecil di hadapannya. Ia menyentuh wajah sang gadis. "Bahkan matamu, hidungmu, suaramu terbawa dalam mimpiku. Aku ingin bersamamu. I am so sorry."
"Harusnya Anda beritahukan aku bahwa Anda mencari Tuan Lucky Luciano, aku akan antarkan Anda, Mam."
Reinha terpana pada pernyataan si gadis kecil, mengecup punggung tangannya.
Reinha mengangguk. "Ya, aku keliru. Aku berpikir seperti pecundang dan curigai semua orang sembunyikan sesuatu dariku! Harusnya aku bicara padamu sejak awal."
"Ratruitanae berburu selama berhari-hari untuk temukan Tuan Lucky Luciano atas perintah Ayah. Kakakku tak akan mungkin menahan suami Anda karena ia adalah Pemimpin kami dan hanya bisa menikahi Guimo (Pejuang Suku). Jangan menangis! Aku akan rindukanmu, Mam. Pergilah dan bawa Suami Anda. Aku adalah calon pemimpin suku gantikan Ratruitanae di masa depan. Kau boleh pergi atas seijinku dan kehendakku. Tak ada yang boleh menentangku," katanya lagi meniru gaya kakak perempuannya. "Termasuk kau, Ratruitanae!" tambahnya sedikit membentak hingga Ratruitanae juga Cataleia tersentak kaget lalu saling pandang.
Si gadis kembali pada Reinha, singkirkan helaian rambut dari kening Reinha. Ia bicara sangat lembut. "Tetapi, berjanjilah Anda tak akan lupakan aku, Mam!"
Reinha mengangguk. "I am so sorry, sampai hari ini tak bisa menghapal namamu dan nama saudaramu satu-persatu."
"Aku Chiquimoreth Szeczesny, Mam.... Someday I'll see you again."
"Baiklah, Bonita. Terima kasih telah bebaskan aku dan suamiku. Aku akan rindukanmu dan saudaramu. Anda akan jadi wanita hebat di masa depan, aku akan mendukungmu. Hari ini, Anda dan saudaramu adalah saudara angkatku." Kening mereka bergesekan begitupun hidung mereka lalu berpelukan.
Anak-anak itu berlarian ke dalam rumah dan memeluk Reinha Durante ucapkan salam perpisahan, rasakan ketulusan Reinha pada mereka. Sangat mengharukan untuk dilihat.
"Pergilah!" kata Magnolio menarik napas kuat dan dalam saat ucapan perpisahan berakhir.
Reinha temukan Magnolio sedang menatap lurus padanya dan ia mengangguk berterima kasih.
"Tuan Magnolio, sebagai balasan untuk kemurahan hatimu, jika Anda berkunjung ke Ibukota, mungkin saat Anda temukan bahwa Anda rindukannya, tolong hubungi aku! Jangan terlalu keras berpikir dan jangan abaikan hatimu. Aku berjanji akan mengurusmu. Kau tahu, ia akan datang penuhi panggilanku karena telah berjanji."
Ratruitanae dan Cataleia berbalik pada Magnolio keheranan, tak mengerti apa yang dibicarakan Reinha. Begitupula Lucky Luciano, menyipit pada istrinya. Mengapa mereka terlihat semacam punya rahasia?
Reinha yakin Magnolio menyimpan tawaran meskipun tampak tak peduli.
"Kehidupan kita berbeda, Nyonya Luciano. Anda bisa berjuang karena hidup di dunia yang sama. Aku tak punya mimpi soal hal-hal yang dapat lunturkan perjuangan kami. Harapan kami untuk besok adalah bebas dari perang dan merdeka dari penjarahan, hak hidup dan hak-hak lain seperti yang Anda saksikan. Tak ada hal lain yang lebih penting. Senang mengenalmu, Nyonya Luciano! Aku senang bertukar pikiran dengan seseorang yang sangat cerdas seperti Anda."
"Mungkin saja suatu hari Anda tak mampu menyangkal. Anda bisa beritahu aku." Reinha tinggalkan kartu nama pada Magnolio. Lucky berdecak lihat istrinya yang tampak akrab dengan Magnolio.
"Aku tak akan lakukan itu, Nyonya! Kaumku adalah prioritas kecuali jika ingin berdiri di sisiku di tempat ini. Sesuatu yang tak mungkin terjadi."
"Jangan pesimis, Tuan. Anda belum mencoba! Nomerku di sana, Anda bisa hubungi aku jika butuh bantuan."
"Enya, kurasa kita harus pergi sekarang!" ujar Lucky Luciano gregetan, ingin segera pergi dari sana. "Ratruitanae, Cataleia, terima kasih telah selamatkan aku dan merawatku! Semoga kalian selalu bahagia."
Seorang prajurit datang tergopoh-gopoh dan langsung berbisik di telinga Magnolio. Tak lama berselang, deru lembut, sangat lembut Eurocopter Tiger mengambang di atas pemukiman seakan menunggu aba-aba.
"Waktunya Anda pergi sebab jemputan Anda telah datang, Nyonya!"
"Bye bye, Mam!" Lambaian tangan akhiri kekelaman juga keras kepala serta hanya kelembutan yang bisa runtuhkan amarah.
Begitulah hari yang cerah, ketika Lucky Luciano dibawa Reinha Durante menyusuri setapak yang sama saat Lucky akan pulang terakhir kali, tetapi tak akan diserang lagi sebab Carlos dan Claire duduk didalam kabin Eurocopter awasi dari atas sedang beberapa pengawal Lucky Luciano berjaga di landasan.
Mereka digiring naik dan duduk berpelukan dalam helikopter sedang baling-baling benda itu terus berputar. Mereka akhirnya pergi dari sana, terbang di atas hamparan belantara hijau yang indah. Mereka berciuman dan berakhir dengan dekapan erat.
"Semuanya berakhir kini, Enya. KIta tak akan pernah berpisah lagi!"
Reinha mengangguk di dada suaminya. "Mau pergi denganku, Lucky Luciano?"
"Em ... kemana?"
"Ke sebuah tempat, di mana aku bisa menyiksamu!"
"Enya ...." Terdengar panik tetapi lebih dulu bergetar oleh hasrat.
"Saatnya aku menghukummu, Lucky Luciano!"
***
Cintai aku, kirimkan aku vote ya dan komentar, like juga. Pokoknya dukung Heart Darkness, sebab chapter-chapter berikutnya adalah tebaran banyak karakter yang tak kalah menarik dari Lucky dan Reinha....