
Minibus bergerak di jalanan memasuki kawasan pepohonan kuno tua. Marya yang hamil muda menolak mode transportasi terbang, duluan merinding bayangkan harus naik benda itu, malah duluan gemetaran. Ia telah gagal jadi billionaire bahkan sebelum mencoba. Atau memang kaya dan benar-benar glamour tidak cocok untuknya. Mereka akhirnya naik minibus Mercedes Sprinter, dari luar tak ada bedanya dengan minibus yang sering berkeliaran di jalanan. Tetapi jangan coba ditanya dalamnya? Lebih tepat dapat julukkan Mercedes Jet sprinter, bisa disejajarkan dengan fasilitas mewah dalam sebuah jet pribadi.
Interior dalam Van begitu unik, di mana, tempat duduk mobil berhadapan, lengkap dengan meja dan lemari pendingin mini. Bukan cuma itu saja, terdapat berbagai fasilitas mewah seperti sistem entertainment dan minibar. Well, this is it; minibus bercita rasa jet pribadi. Marya tampak tak begitu peduli meskipun ada bongkahan berlian di dalam mobil, asalkan Van itu tak terbang. Selonjoran dan bersandar dalam pelukkan Elgio, harusnya manis, kalau saja prianya tak terusan mendung, kalau saja Reinha tak terus bersedih. Entah apa yang dipikirkan Elgio? Sejak Augusto kembali semalam dan Tuan Abner beri instruksi ini-itu, Elgio mendadak murung dan terus menggeram. Sesuatu buatnya naik pitam.
"Apa aku buatmu takut?" tanya Elgio memeluk Marya.
Yang ditanya menggeleng. "Apakah Tuan Abner temukan Maribella?"
"Ya, Maribel tak ingin diganggu. Kurasa, kau dan Reinha harus mandiri sebab Maribella mungkin tak kembali dalam waktu dekat."
"Elgio, apa bibi Mai baik-baik saja?" tanya Marya perbaiki duduknya.
"Ya, Sayang. Beliau ada di Mora, di rumah Pamannya untuk jernihkan pikiran. Kemarilah!"
Dalam dekapan ia ingin tidur, tak berani menoleh pada Reinha berharap Ethan menghibur gadis itu.
Sementara Reinha memilih duduk menjauh, terus saja embuskan napas berat. Ia sulit menghirup udara setelah tahu suaminya hilang kabar. Hidungnya mampet dan ia merasa pening hebat meski telah minum banyak obat. Ia tak bisa tidur semalam terus saja menyesal biarkan Lucky pergi, ia hanya menggeliat di tempat tidur dengan aroma glacier hingga Marya sampai pusing dan muntah-muntah saat coba datang ke kamarnya untuk temani dirinya. Meski berkabung dan terluka, Reinha tak bisa hindari kompetisi. Elgio Durante terlihat tidak pisahkan dirinya dengan Marya tetapi setiap saat menatap tajam pada istrinya, mungkin curiga yang tidak-tidak.
Ethan Sanchez bergabung, ikut mereka. Saat perpisahan tadi sore di sekolah dengan guru-guru dan teman-teman, Arumi menarik pria itu pergi dari keramaian. Menyepi entah kemana? Saat kembali, wajah Arumi berwarna-warni persis permen lollipop. Sedangkan Claire seperti dugaan Reinha tak masuk sekolah dan tak mau pergi kompetisi meski namanya telah terdaftar. Gadis itu sembunyikan diri, entah di mana, Luciano punya banyak tempat untuk menghilang saat mereka terpojok persis keluarga Cullen. Kemungkinan bersama September dan Amora.
Amora ... Akkhh .... September pasti bersedih jika tahu kabar Francis. Reinha mengurut keningnya kuat. Ia harus paksa Carlos pindahkan Francis secepatnya. Bagaimanapun Francis adalah seseorang yang sangat mendukungnya dan Lucky. Ya Tuhan, ini semakin buruk saja. Reinha pejamkan mata berhadapan dengan Ethan Sanchez yang terus pandanginya suram.
"Aku tak punya kata untuk menghiburmu."
"Tak perlu Ethan, katupkan saja mulutmu!" sahut Reinha sebab Ethan kadang menghibur tapi kadang mengacau.
"Aku berharap dia tak benaran hilang atau mati. Ya Tuhan, situasi ini sangat aneh. Kurasa para berandalan seperti Lucky Luciano dan sebangsanya adalah manusia setengah iblis. Mereka tak mudah mati, Reinha," hibur Ethan. "Aih lihat dirimu, Reinha Durante! Kau seperti peramal yang kehilangan indera ke-enam."
Reinha berdecak. "Kurasa kaulah, yang terlihat lebih mirip peramal, Ethan Sanchez ..., kau memakai gelang warna warni di tanganmu." tanya Reinha ganti topik malas-malasan melirik gelang warna-warni dari pintalan benang woll di tangan Ethan.
"Ini pemberian Arumi. Katanya gelang ini punya kekuatan magis untuk lindungi aku!" sahut Ethan Sanchez kalem.
"Lindungimu dari gadis penyihir? Kau mulai tampak bodoh, Ethan!"
"Tidak juga. Ini gelang persahabatan. Kau mau satu? Siapa tahu kau bisa lebih slow setelah pakai ini."
"Tidak, terima kasih. Bagaimana kalau Arumi bacakan jampi-jampi cinta pada gelang itu?"
Ethan Sanchez tersenyum masygul. "Maka kurasa aku akan jatuh cinta setengah mati padanya."
"Sedang kau tak mau mengakuinya karena omong kosongmu soal kebodohan pada cinta?"
Ethan senang Reinha sedikit terhibur. Meski tidak lama sebab gadis itu kembali kisruh masai. Ethan mengambil ponsel dan memotret Reinha.
"Aku akan tunjukkan foto kusammu pada Lucky Luciano suatu waktu! Melihatmu seperti pakaian kusut, aku semakin tak ingin terikat."
Hutan menggelap. Reinha alihkan pandangan keluar. Suatu waktu, ia pernah duduk di pangkuan Lucky dalam bis. Waktu itu ia sangat marah pada berandalan itu. Nyatanya ia berada dalam lengan Lucky bahkan beberapa hari kemudian ia hampir tidur bersama Lucky Luciano. Reinha benci situasi di mana hatinya terus sekarat akibat rindukan Lucky, lebih buruk karena ia tak tahu di mana pria itu berada. Reinha tak sanggup lagi, ia terisak sebab ia dalam pelukkan Lucky Luciano selama 8 jam lewati jalanan ini. Jika dipikir-pikir lagi, mereka sangat manis kala itu.
"Jika kau yakin dia belum mati, maka yakinlah itu. Aku tak bisa menolongmu kali ini tetapi kau tahu bahwa kekuatan pikiran kita sangat mencengangkan, Reinha? Pikirkan hal-hal baik tentangnya dan kau akan temukan kejutan!"
"Aku ingin begitu, tapi tak semudah teorimu Ethan Sanchez. Saat kau mencintai seseorang, tak akan satupun ilmu yang kau pelajari yang mampu menolongmu."
"Baiklah, tenangkan dirimu! Saat otakmu kacau, kau tak akan bisa berpikir!"
Ethan benar, ia sedih tetapi tidak boleh berlarut-larut. Jika Lucky tak penuhi janjinya, maka Reinha akan mencari jalan untuk pergi ke Pesisir Timur.
***
Bisa dibayangkan kelanjutan dari sebuah hati yang remuk redam yang berusaha tegar tetapi dalam benak menolak percaya bahwa terjadi sesuatu pada Lucky Luciano bahkan diam-diam mulai menyusun rencana. Ia akan pergi ke Pesisir Timur dan mencari Lucky.
"Kau tak tepati janji Lucky Luciano ..., jadi ..., aku akan menyusulmu ke sana.
Abaikan nada keras Elgio, Reinha bertekad akan pergi ke Pesisir Timur. Liburan musim panas akan segera dimulai. Jadi, ia akan cari cara untuk pergi ke daerah berdarah itu tanpa sepengetahuan Elgio. Meski demikian, ia berharap Lucky hadir hari ini meski ia tak yakin mampu kalahkan Charles Vasco. "Lucky, mengapa kau lakukan ini padaku?"
"Hallo, C40H60N10O12S2 ?! Apakah soal-soal kimia buatmu mendadak gila? Kau bicara sendirian sejak tadi."
Charles Vasco yang disebut-sebut titisan ahli kimia, Tuan Jhon Dalton, sejak bertemu Reinha beberapa hari lalu sebelum kompetisi terus memanggil Reinha dengan nama sebuah senyawa kimia. Ia coba ajak Reinha mengobrol saat perlombaan selesai sembari menunggu hasil penilaian dipajang. Setiap wajah peserta menegang hanya Reinha Durante yang tampak tak peduli pada hasil. Susah untuk abaikan Reinha Durante yang imut dan sangat cantik. Sepertinya Charles senang dapat tempat duduk bersebelahan dengan Reinha Durante.
"Bisakah kau tutup mulutmu dan jangan ganggu aku, Tuan Vasco?"
"I can't do that, Nona C40H60N10O12S2. Aku sama seperti peserta pria lain dalam ruangan ini tak bisa menolak pesonamu. Kau sangat cantik dan menarik. Lebih menarik dari konfigurasi elektron."
Reinha abaikan Charles. Kembali dengan isi otaknya. Apa yang harus ia lakukan untuk pergi ke Pesisir Timur? Bicara pada Elgio dan Tuan Abner tidak mungkin. Mereka tak akan setuju. Ia mencoret opsi itu. Minta bantuan Carlos? Oh tidak, brengsek itu yang membawa Lucky pergi, Reinha yakin Carlos tak akan ijinkan ia pergi dan akan beritahu rencananya pada Elgio.
"Apa yang harus kulakukan?" bisik Reinha menyangga siku dan kedua tangannya di kepala, berpikir keras. Usianya masih 18 tahun dan Pesisir Timur adalah wilayah konflik. Apakah Lucky ingin begini? Reinha pegangi hatinya yang berdenyut sakit.
"Kau tahu Nona C40H60N10O12S2, aku melihat seseorang yang sangat indah parasnya, aku merasa jatuh cinta padanya dan kurasa C40H60N10O12S2 telah kacaukan otakku." Charles semakin menjadi-jadi.
C40H60N10O12S2 adalah senyawa Oxytocin. Senyawa penghasil rasa senang, bisa dibilang hormon cinta, dalam bahasa anak-anak sains.
Reinha duduk semakin gelisah menjelang pengumuman pemenang abaikan Charles. Berharap ia menang dan Lucky seperti hari-hari kemarin, penuh kejutan yang romantis, terlebih tepati janjinya untuk datang dengan kembang bunga. Reinha berulang kali menoleh ke pintu auditorium ingin segera keluar.
"Apakah kau menunggu suamimu, Nona Oxytocin?!" Charles tak berhenti usil. "Kurasa seorang Mafia sejati yang bertobat tak mungkin keluar dari penjara untuk mendukung istrinya. Aku rasa kau juga tak akan jadi juara kali ini tetapi kau berhasil menangkan hatiku."
Reinha berpaling ke arah lain sebab Charles semakin mengganggu dan saat itulah papan pengumuman berkelip-kelip. Munculkan nama peserta secara acak. Nilai kompetisi keluar berdasarkan urutan terendah. Saat suasana makin menegang, papan itu berhenti berkedip dan tiga nama teratas keluar. Sebuah lampu besar terangi kepalanya dan semua mata tertuju padanya lalu berdiri dan bertepuk tangan meriah.
"Ops, senorita, betapa aku semakin idolakanmu." Charles berdiri dan tepuk tangan terang-terangan jatuh cinta pada Reinha. "Sayang, gadis cantik ini milik Mafia."
Suasana auditorium masih gemuruh saat ia hendak kembali ke bangku duduk setelah beberapa pose ketika Oriana Fritteli yang juga ikut di acara itu datang menghadangnya di tengah jalan dengan seikat kembang bunga. Wanita itu persembahkan pada Reinha dan memeluk Reinha erat.
"Aku tak akan pernah lupakan, segala pengorbanan suami Anda padaku. Maafkan aku, oleh karena aku, Anda sangat menderita."
Oriana bicara di antara gemuruh suara tepuk tangan yang tak berhenti.
"Aku sangat menderita, jika Anda tahu. Tetapi, aku yakin suamiku masih hidup hanya tertahan di Pesisir Timur. Ia harusnya datang hari ini." Reinha mengeluh.
"Jika butuh bantuan, katakan padaku, Nona. Aku akan sebisa mungkin menolongmu."
"Aku ingin pergi ke Pesisir Timur, apakah kau tahu caranya?"
"Jika itu permintaanmu, Sayang sekali, Nona. Aku tak bisa penuhi."
Reinha mengangguk lesu, menerima kartu nama dan kembali ke bangku duduk. Ia mendesah kecewa sebab Lucky benar-benar tak datang untuk tepati janji, bawa kembang bunga. Ia melangkah gontai ke luar gedung, berikan medali dan sertifikat penghargaan pada Profesor Samael lalu pergi ke taman, duduk di sana dan pandangi air mancur dari sisi kolam. Universitas tampak indah dengan bangunan orange bata ingatkan Reinha pada Red Twilight. Seseorang bagikan brosur. Reinha menerima dua brosur, profil kampus dan profil sebuah kongregasi. Biasanya profil kampus dibagikan bersamaan dengan profil jadi Pelayan Tuhan. Meski masih tahun depan tapi beberapa Universitas telah mulai promosi.
Ia duduk pandangi kolam air, terkejut saat sebuah kembang terulur padanya berpikir bahwa itu mungkin Lucky Luciano. Ia segera berdiri dan tersenyum sumringah hanya untuk mendesah kecewa saat Carlos Adelberth berdiri di sana.
"Aku akan temukan suamimu dan bawa dia pulang! Ia berkata bahwa ia akan datang hari ini dengan kembang bunga. Kurasa ia tak bisa tepati janji."
"Aku akan pergi ke Pesisir Timur, kau akan bantu aku pergi ke sana!"
"Reinha, di sana sangat berbahaya. Kau akan lihat kehidupan yang tak pernah kau bayangkan pernah ada."
"Apa aku terlihat peduli Carlos Adelberth?"
"Hei, jangan keras kepala!"
"Aku tak peduli, kau bisa bawakan kembang ini untuk kekasihmu, Carlos. Aku hanya mau suamiku!"
Reinha melempar kembang itu dan menginjaknya hingga hancur sebelum pergi tinggalkan Carlos. Elgio dan Marya berdiri tak jauh hanya untuk rasakan kepedihan gadis itu. Ia kembali ke hotel tak peduli pada apapun. Air matanya jatuh tetesi flyer promosi kampus hingga basah, ia melempar flyer itu ke tempat tidur. Menangis sejadi-jadinya. Ia telah menangis bermalam- malam dan terus menangis tanpa henti hingga sakit kepala.
"Tega sekali kau padaku! Tuhan tolonglah, jangan lakukan ini padaku, bantu aku, biarkan aku bertemu suamiku."
Entah berapa lama ia menangis kesal pada Lucky Luciano ketika matanya membentur flyer kongregasi. Tertarik oleh sebuah tulisan, ia meraih flyer kedua dan ketika baca misi mereka adalah pelayanan kesehatan, pendidikan ke Pesisir Timur, Reinha langsung menghapus air mata. Ia meneliti seksama dapati bahwa penanggung jawab misi itu adalah Padre Pio. Reinha putuskan kembali hari itu juga ke Durante Land untuk bertemu Padre Pio.
***
Sementara di Pesisir Timur ....
Seorang wanita berpenutup wajah bertengger di atas salah satu dahan pohon besar yang ada di hutan itu. Senapan disampirkan ke sisi tubuh dan panah di punggungnya. Ia bersama prajuritnya lakukan inspeksi ke beberapa belantara yang telah ditentukan pemerintah sebagai cagar alam tetapi para penambang liar dengan berani menggali dan mengeruk emas di sana. Beberapa Minggu berlalu setelah penyerangan garimpeiro pada desa mereka hingga sebabkan banyak prajurit meninggal, warga mereka terluka, mereka mengintai aktifitas para penambang liar dan tentukan hari untuk sebuah penyerangan.
Terlihat di depan mata para penambang liar dengan alat berat sedang mengeruk dan perambahan semakin luas. Mungkin 500 kali luas lapangan bola. Kelompok penambang sepertinya punya afiliasi dengan salah satu organisasi kriminal.
"Nona, Tuan Lucky Luciano disekap di salah satu gua bawah tanah. Ia cedera parah dan mungkin telah kehilangan nyawa."
Seorang mata-mata melapor. Si wanita, hanya terlihat mata saja, menggeram.
"Sudah kuduga."
Sejak Tuan Alberth Costello kembali ke desa dan mencari Lucky Luciano sejak itu Ratruitanae berburu ke belantara tiap hari untuk temukan Lucky Luciano. Ratruitanae berjanji akan temukan Lucky sebab di antara mayat-mayat yang bergelimpangan hari itu tak ada jejak Lucky Luciano. Kemungkinan besar Lucky kalah dipertarungan hari itu sebab banyaknya musuh, ia kemudian jadi tawanan para garimpeiro yang sangat banyak waktu itu. Pria itu mungkin kehabisan peluru, tertembak dan tertangkap. Ia mungkin disiksa untuk bersenang-senang. Suatu kehormatan dapat temukan Lucky Luciano dan kabari pada Alberth. Mereka akan dapatkan banyak bantuan lagi.
"Habisi mereka semua tanpa sisa dan selamatkan sandera. Bebaskan semua yang ada dalam penyekapan. Keluarkan Tuan Lucky Luciano dan bawa beliau secepatnya pada Tamali (tabib)."
Ratruitanae lesatkan anak panah dan perburuan itu dimulai di musim panas dengan suhu yang tiba-tiba sangat panas. Desingan peluru dan anak panah penuhi langit sebelum menghujam para penambang yang segera kabur cari perlindungan dan lancarkan serangan balasan. Panah-panah telah dinodai dengan racun dari liur hewan dan sekali kena, para penambang liar tumbang satu-persatu. Siulan sahut-menyahut penuhi langit siang dan panggilan untuk menyerang itu ditanggapi suku-suku lain yang tinggal di sekitar belantara. Para penambang yang tak menduga akan terjadi penyerangan kalang kabut. Tak ada yang dibiarkan lolos. Semua dibantai di hari yang terik itu. Perahu-perahu yang mereka tumpangi saat datang, ditarik dan disita. Suasana menjadi hiruk-pikuk diiringi lengkingan dari bibir-bibir para wanita ikuti suara burung-burung langka yang hidup di pedalaman itu.
"Bawa Tuan Lucky Luciano kepada Tamali (tabib) untuk diobati."
"Nona, kurasa, beliau mungkin sudah tak bernyawa."
Sang wanita, Ratruitanae, hembuskan napas gusar. Adik perempuannya sekarat akibat ulah para penambang liar, kini Lucky Luciano. Dan Ratruitanae dengar kabar Tuan Francis sedang kritis.
"Bawa saja Tuan Lucky Luciano pada tabib dan biarkan beliau menerima perawatan terbaik dari alam!"
Begitulah akhirnya tubuh ringkih yang nyaris tak dikenali dan bernapas sangat lambat itu dibawa Ratruitanae kembali ke desanya. Janggut tumbuh dengan subur di sepanjang rahang, tubuh seakan mengering. Ia sepertinya disiksa oleh para penambang liar sebelum dilemparkan ke gua bawah tanah.
"Bisakah kau selamatkan Tuan Lucky?" tanya Ratruitanae pada tabib yang sedang menumbuk sesuatu dalam argamassa (sejenis lesung) sementara ribuan lilin menyala, alirannya masuk dalam sebuah penampungan.
"Aku akan siapkan erva da graça (Ramuan Rahmat) dan setiap kehidupan adalah milik Pencipta. Aku hanya akan lakukan yang terbaik. Sebagian tubuh pria ini telah berada di dalam ruang kematian, Nona."
Ratruitanae pegangi tangan sang tabib, memerintah tapi memelas. "Selamatkan saja nyawanya, Tamali."
Ramuan Rahmat dari belantara Pesisir Timur adalah daun dengan banyak jari, mirip dedaunan ganja, biasa dipakai untuk melawan sihir tetapi lebih dari itu daun-daunnya dengan aroma tajam menyengat bahkan kucing-pun takut pada tanaman ini, berkhasiat dapat sembuhkan luka dalam.
Lucky Luciano dalam tidur panjang sedang seluruh punggung penuh luka cambukkan yang membusuk. Pria itu tanpa mimpi tak sadari bahwa sang kekasih benar-benar akan lakukan perjalanan berbahaya dalam keputus-asaan penuhi sumpah untuk datang menemukannya.
***
Plot soal Reinha yang akan mencari Lucky, teman-teman di group udah pada tahu ya. Sebab aku kasih kisi-kisinya (kayak mau UN aje) udah lama cuma nunggu hari-hari untuk dilengkapi dan secepatnya tayang.
Aku gak suka karakterku Amnesia. Serius. Trims udah dukung Heart Darkness, membungkuk dalam.
Jangan Lupa Ngirim aku Vote ya, Kak... Jangan pelit sama aku, oh tolonglah, aku mencintaimu.