Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 94 Come to Me, Elgio....



Arumi berdiri di depan sebuah bangunan sederhana dengan papan iklan besar bertuliskan D & M studios. Agak ragu tetapi pertemuan terakhir dengan manajer D&M mencapai kata sepakat untuk perolehan kontrak eksklusif. Ia akhirnya masuk ke bangunan tua dan langsung ke ruangan yang telah disediakan pihak manajemen rumah produksi untuk mulai sesi pemotretan. Sang gadis belia begitu senang akhirnya dapat kontrak eksklusif untuk produk-produk yang akan mengisi katalog sebuah bisnis fashion.


"Nona Arumi Chavez, senang anda bergabung bersama kami."


Seorang pria, manajer dari rumah produksi yang merambah ke bisnis fashion, berperawakan tinggi dan terlihat sangat ramah, menyambutnya di pintu studio. Mereka janjian akan foto produk di sore itu.


"Terima kasih untuk kerja sama ini, aku sungguh sangat tersanjung," balas Arumi coba untuk rendah hati.


"Kita bisa segera mulai pemotretannya, Nona."


Studio dipenuhi display pakaian wanita. Kemeja, dress dan segala macam produk fashion untuk wanita.


"Kita akan mulai dengan kemeja dan pakaian formal wanita. Anda bisa lakukan dengan sempurna sesuai arahan fotografer dan kita hanya butuh 2 take untuk tiap produk untuk persingkat waktu."


"Baiklah."


"Ini fotografer kita, Dev Bianco," kata manajer perkenalkan pria yang sedari tadi sibuk dengan kamera.


"Hai, namaku Dev," sapa fotografer jabat tangan Arumi erat, ia tersenyum sedikit.


"Halo Dev, aku Arumi."


"Yah, aku tahu. Sering lihat dirimu di iklan, Nona."


"Senang bertemu denganmu," ucap Arumi antusias.


"Aku juga, Nona. Aku penasaran pada kemampuan Anda." Dev tersenyum seadanya.


"Semoga tak mengecewakanmu, Dev. Aku suka berdiri di depan kamera dan dipotret," kata Arumi sumringah berusaha menjaga mood. Ibu dan Aunty berbaikan dengannya walaupun tak mengundang ia kembali pulang ke rumah. Aruhi juga sangat peduli padanya meski tak terang-terangan. Semoga keadaan membaik bagi mereka semua. Ia berjanji akan hidup lebih baik dan sayangi Aruhi.


"Anda hanya perlu pahami bahwa, persaingan produk di marketplace hanya berjarak 1 klik saja, Nona. Jadi, harapan kami, raih perhatian calon konsumen dengan foto terbaik dan mempesona Anda. Bisakah?" kata manajer sebelum pergi. "Aku akan keluar sebentar dan kembali untuk lihat hasilnya."


"Baiklah," sahut Arumi.


Seorang asisten bantu Arumi bertukar pakaian.


Kamera dinyalakan dan awal yang bagus untuk Arumi dimulai. Tak susah jadi model sebuah produk fashion ketimbang model iklan layar televisi. Arumi suka bergaya di depan kamera, jadi kebahagiaan tersendiri saat wajah belianya terlihat cemerlang di kamera.


Sekali take Arumi berhasil berikan foto-foto yang bagus dan memuaskan. Dev beri tanda sempurna di akhir foto dan mereka akan beralih ke sweater dan baju-baju musim dingin.


"Take a rest 15 menit, Nona dan kita akan mulai lagi," kata Dev.


Arumi duduk di sofa ruangan itu dan membuka botol minuman yang dibawanya. Ia main kucing-kucingan dengan Ethan sejak sore tadi dan berhasil lolos saat Ethan sibuk dengan pelanggan. Ia akan diomeli dan diketuk kepalanya besok, bodoh amat. Arumi hanya perlu dapatkan peluang ini untuk hibur diri sendiri dan buktikan eksistensi diri.


"Bisa lanjut, Dev? Kebetulan mood-ku sedang baik," pinta Arumi setelah minum air.


"Oh, baiklah."


Kilatan cahaya kamera loncat-loncatan dan saling memburu. Arumi terus tersenyum mahal, menjual produk yang dipakainya. Kilatan terakhir sebelum Arumi merasa agak pening. Satu tembakan kamera flash, Arumi tak sadarkan diri.


Entah berapa lama pingsan, saat tersadar, Arumi terbaring di atas sofa empuk dan kamera terus menyala. Seseorang mengatur gayanya. Arumi merasa sangat pening, tak sanggup bangun.


"Apa yang terjadi?"


"Sedikit dikatup pahanya!" pinta Dev pada sang asisten. "Ya, tahan!"


"Apa yang terjadi?"


"Bukan seperti itu!" Dev mendekat. Arumi tahu ia hanya kenakan pakaian dalam. Ia telah ditipu.


Tangan Dev bergerak di tubuhnya dan gadis itu coba untuk bangun.


"Maaf Arumi Chavez, kita melompat ke sesi underwear. Kurasa aku bisa dapat foto penuh imajinatif, gadis dalam balutan underwear. Sungguh indah dilihat."


Dev berguman senang dan mulai memotret. Mereka melepas underwear dan berganti beberapa kali. Arumi mulai ketakutan sebab ia sadar secara penuh tetapi tak sanggup lindungi dirinya sendiri. Itulah mengapa Ethan mengatainya bodoh!


"Kau bisa pergi!" kata Dev pada asisten. Langkah kaki menjauh di antara nyala kamera dan pintu tertutup. Tak lama, Arumi rasakan tubuhnya dijamah, bergerak erotis menyusuri tiap lekukan seperti sedang berikan pijatan relaksasi. Gadis itu bergidik. Ia mulai menangis sebab tak ada satupun yang akan selamatkan dirinya.


"Ssshhh, jangan menangis, Arumi! Aku hidupkan video, kau akan bangun dengan banyak gairah dalam dirimu dan kita akan lihat hasilnya nanti."


Dev bergerak di atasnya melepas sisa-sisa pakaian yang melekat di badannya.


"Apa aku dikutuk karena sakiti kakakku? Bisakah seseorang selamatkan aku?" Ia memekik dalam hati, ketika tubuhnya yang muda dan polos tersentuh. Berpikir mungkin seperti ini yang dialami Aruhi dan Reinha Durante?


"Aku memang bodoh, ya Tuhan ...." Arumi bergerak lunglai seakan tulang-tulangnya telah copot. Tubuhnya ditindih dan desah napas menderu perlahan berhembus di sekujur tubuhnya. Ia akan kehilangan kesuciannya di usia belum 16 tahun akibat kebodohan juga karma buruk.


Ia tak berharap Ethan datang dan melihat ini sebab Ethan pasti akan mengumpat bodoh. Tak apa ia disebut idiot, bisakah datang saja selamatkan aku? Arumi Chavez hampir hilang kesadaran penuh ketika kaki-kakinya dilebarkan. Seorang psikopat bernama Dev yang baru dikenalnya tak sampai beberapa jam gerayangi tubuh dan liur yang melengket begitu menjijikan dan ia kedinginan saat udara lewat. Dev berbisik di bibirnya.


"Aku beruntung akan tiduri seorang gadis perawan."


***


"Elgio, kurasa kita harus berhati-hati pada Irish. Ia punya banyak dokumen dan bukti kejahatan Familly Club' dan akan menyeret semua orang ke penjara. Mereka pantas menerimanya, tetapi Nyonya Salsa, Sunny dan Lucky Luciano dalam masalah."


Abner dan Elgio di ruang kerja perusahaan dan bicara perlahan.


"Apa yang dia punya, Abner?!" tanya Elgio.


"Banyak Elgio. Irish bahkan punya kejahatan Familly Club' yang tak kita miliki, informasinya dua kali lebih canggih dari yang kita punya."


"Meskipun Lucky Luciano juga Diomanta telah berhenti, tetapi mereka akan tetap di penjara jika kasus ini dibuka oleh Irish."


"Apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin biarkan Nyonya Salsa pergi ke penjara. Marya pasti akan sangat terluka, Abner. Kami akan ke dokter kandungan sore nanti. Aku yakin Marya cuma masuk angin biasa tetapi aku butuh kepastian."


"Tak bisa, Elgio. Semua pegawai lembur dan pukul 7 malam nanti ada rapat dengan dewan direksi dan para ketua divisi, kau tahu apa artinya? Ini penting."


"Baiklah, aku akan menunda hingga besok. Kembali ke Irish, apa yang harus aku lakukan?" tanya Elgio kebingungan. Bukan hanya Reinha yang menyukai Lucky Luciano, setelah banyak hal buruk dan berandalan itu berada di sisinya selama masa sulit, Elgio menyukai Lucky Luciano untuk hidup bersama Reinha. Keduanya sangat cocok terlihat meski Lucky harus tuntaskan masalah dari masa lalu.


"Aku akan temui Irish," ujar Abner berpikir untuk tak biarkan Elgio temui Irish. Kendati Irish Bella telah terlihat kembali normal, tak ada yang tahu isi hatinya. Jangan sampai saat bertemu kembali dengan Elgio, cintanya kembali bersemi. Abner tak ijinkan itu terjadi.


"Apa aku perlu bertemu dengannya?" tanya Elgio. "Kurasa Irish tak main-main soal menyeret Lucky dan Diomanta ke penjara. Sama seperti kita, Irish telah mengincar Familly Club' sejak lama Abner. Data-data Irish akurat dan terpercaya. Tak susah bagi kejaksaan untuk memeriksa skandal kejahatan mereka. Ketika Nyonya Salsa, Sunny dan Lucky terekspos, kita akan lihat banyak kerusakan. Aku tak bisa berdiri di belakang mereka Abner," keluh Elgio.


Satu Durante Land yang tak berdosa akan dipertaruhkan. Penghuni Durante Land hanyalah orang-orang kecil berjiwa murni dan hidup bersamanya dengan damai selama bertahun-tahun tanpa kejahatan. Satu-satunya kejahatan yang dilakukan penghuni Durante Land adalah memburu landak yang merusak perkebunan. Ia tak mungkin khianati mereka meski Marya taruhannya.


"Aku akan bertemu, Irish," kata Abner mengulang pernyataan yang sama.


"Mungkinkah kita biarkan saja mereka ke balik penjara untuk penebusan dosa?" tanya Elgio mengelus kening. Marya memang akan terima keadaan Ibunya tetapi jika sampai Nyonya Salsa sakit dan menderita di penjara, kondisi Marya bisa jadi memburuk.


"Kita akan cari cara nanti, saat ini, cobalah fokus untuk rapat."


Elgio menghela napas berat, ia tak bisa selamatkan penjahat meskipun kini mereka bertobat dan korbankan penghuni Durante Land. Tetapi Reinha dan Marya terikat secara emosional. Tak ada cara lain. Satu-satunya cara, Abner harus bertemu Irish dan lihat sejauh mana wanita itu bertindak.


***


"Elgio, kamu di mana?"


Satu pesan masuk dari Marya dan Elgio perhatikan jam, pukul 8 malam. Ia sedang rapat koordinasi dengan semua divisi. Abner tampak sangat serius soal pengolahan produk perusahaan.


"Aku sedang rapat, Marya. Sabar ya, aku akan segera pulang," balas Elgio.


"Aku ingin melihatmu, Elgio Durante. Bolehkah aku video call?"


Pria itu belum sempat balas pesan saat ponselnya bergetar, panggilan video dari Marya.


"Kita bisa koordinasikan dengan tim lain untuk penjualan di bulan mendatang ...," Kepala Divisi marketing bicara di depan layar presentasi.


Elgio diam-diam senyapkan bunyi dan terima panggilan video. Dengan ponsel bersembunyi dibalik berkas yang ia pegang, tersenyum senang meski letih saat Marya terlihat dilayar ponsel. Wajah kekasihnya sangat stunning, muda dan natural.


"Elgio," sapa Marya. Tak ada suara. "Aku menunggumu," katanya lagi.


Elgio tersenyum, tak mungkin bicara di ruang rapat sedang kepala divisi berjejer di sisi kiri kanannya. Pria itu tersenyum sedikit, namun matanya bersinar penuh cinta, kedipkan mata. Elgio menulis di secarik kertas dan tunjukan pada Marya.


"Aku sedang rapat. Kau tidak belajar?"


"Sudah. Aku ingin bersamamu, bisakah kau cepat pulang?" tanya Marya penuh harap.


"Baiklah. Belajarlah dan tidurlah lebih dulu!"


Marya menggeleng cemberut. "No, I am waiting for you."


"Rapatnya sangat penting," balas Elgio lagi.


Marya manyun-manyunkan bibir, menggeser sudut pandang fokus ke arah ranjang. Istrinya dandani ranjang hingga terlihat fantastis. Sprei berganti dari cream ke warna merah sisipi kesan penuh gairah ditambah banyak bantal-bantal kecil penuhi ranjang.


Elgio melirik wajah-wajah di ruang rapat yang serius dengan presentasi. Pria itu mulai duduk dengan gelisah.


Suasana tempat tidur bertambah romantis sebab tiang-tiangnya di pasangi tirai tipis transparan dari kain tulle dengan motif bunga-bunga tipis yang terikat di tengah-tengah tiang. Sangat dramatis dengan sebaran kelopak bunga penuhi ranjang hingga ke lantai. Tampak indah dengan dekorasi bunga-bunga juga banyak lilin elektrik yang menyala redup.


Emejing, pria kita semakin gelisah.


Apakah kekasihnya itu dengan sengaja bangkitkan gairah secara halus? Konsentrasi Elgio pada rapat menguap total.


Saat kamera kembali pada Marya, gadis itu telah dengan sengaja biarkan bahu dan lehernya polosan hingga napas Elgio tertahan di ujung kerongkongan sebelum memburu, longgarkan dasi. Mata-mata melebar saat Marya tersenyum penuh rayuan. Pupilnya bergerak cemas takut kepergok seseorang, agak lega dapati tak ada yang perhatikan dirinya.


"Come to me, Elgio!" bibir Marya bergerak slow motion dengan keseksian durjana bikin nyawa Elgio Durante meregang dan langsung merah membara raut tampan persis orang mabuk udang level akut.


Pria itu menggeleng, tak mungkin ia pergi. Rapatnya sangat penting atau Abner akan menghajarnya. Elgio mengumpat dalam hati. Kini, Marya tahu cara lancarkan serangan untuk merusak pengendalian dirinya. Gadis itu baru saja lakukan itu, merasukinya. Saat Elgio berpikir untuk bertahan sedikit lebih lama lagi, Marya berdiri di tengah kamar half naked; tubuh kekurangan bahan. Duduk di ranjang, gundah gulana.


Ooopss!!!


Elgio Durante mengejang, pertahanannya roboh seketika. Pria malang yang terhasut hasrat itu, mendadak bangkit hingga seisi ruang rapat menengok pada interupsinya.


"Apa ada yang salah?" tanya Abner menyipit lihat wajah aneh Elgio, tegang dan kaku.


"Aku harus pergi," kata Elgio tanpa ekspresi.


"Ini rapat penting," sahut Abner dingin.


"Maafkan aku, istriku sedang sekarat," ucap Elgio dengan nada tercekik seperti kambing siap disembelih batang lehernya. Tanpa peduli pada tatapan bingung para hadirin rapat juga tatapan murka Abner yang seolah terkoneksi langsung padanya. Abner pahami sekarat dengan cara berbeda karena sang wali hapal seluk beluk Elgio Durante lebih baik dari siapapun yang ada di perusahaan. Abner terlihat ingin lemparkan kursi rapat pada otak kecil pria itu. Elgio pergi dari ruang rapat setelah banyak kali membungkuk. Kaki-kakinya terseret di antara jantung yang berdetak mengerikan gegara bayangan Marya yang menakjubkan.


"Aku datang dan sebaiknya kau bertanggung jawab karena aku walk out dari rapat karenamu," raungnya pada Marya dengan getaran false setelah ia berada di luar kantor. Sementara Marya cekikan senang di tengah kamar sebab berhasil menyegel pria itu.


***


Aku slow saat bikin konflik.... Nikmati ya, chapter-chapter patah hati seperti biasa akan mengisi tetapi slow gitu...


Dukung juga tulisan ringan terbaruku.... Masih chapter 1. Tentang kehidupan seorang wanita yang punya kehidupan cukup rumit bersama suaminya yang penuh rahasia dan bos-nya yang garing.