Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 130 I am Your Daddy ....



"Abner Luiz?!"


Berlima duduk berhadap-hadapan di ruang makan. Abner dan Maribella di satu sisi, ketiga bocah ajaib di sisi satunya. Marya dan Reinha menyangga dagu pandangi bolak-balik Maribella dan Abner penuh cinta. Abner tampak gemas dengan ketiga manusia di hadapannya. Ia menggeram sejak kepergok, sangat susah mencapai level romantisme seperti yang baru saja ia ciptakan bersama Maribella, tega sekali ketiga bocah itu merusuh. Bayangkan jika Luna yang jadi kekasihnya, Abner yakin otak ketiga bocah di depannya akan berevolusi secara ajaib untuk ciptakan kebrutalan yang mengganggu.


"Kapan kau akan nikahi Maribella-kami?" tanya Reinha kedip-kedipkan mata.


"Ya, Tuan Abner ... jangan lakukan saat kami akan pergi olimpiade sebab aku ingin berdansa sampai pagi!" tambah Marya.


"Emm, menikahlah saat Lucky Luciano telah kembali."


"Reinha, kurasa aku tak sabar soal hari itu."


"Benar Marya," angguk Reinha bersemangat. Lupa sejenak bahwa suaminya sedang pergi dan mungkin dalam masalah. Pertunjukan Maribella dan Abner di gudang perkakas buat gadis itu seolah menonton siaran drama berseri terbaik sepanjang sejarah. Sangat - sangat menghibur. Disangka Reinha, pria dan wanita dewasa seperti Maribella dan Abner bisa menampung gejolak hasrat lebih baik dari remaja seperti mereka. Nyatanya, dua orang dewasa itu benar-benar meledak-ledak. Ia geli berpikir, ternyata bukan Elgio Durante pemecah rekor pengendalian diri terburuk tetapi wali mereka yang tercinta Abner Luiz.


Maribella dan Abner adalah perwujudan dewasa yang sangat hidup, tempat mereka bertiga bergantung setelah jadi yatim-piatu dan keduanya sangat sibuk urusi mereka bertiga hingga baru sadari perasaan masing-masing di usia 29 tahun padahal mereka berdua adalah dua orang yang paling intens berinteraksi. Melihat kedua walinya romantis seperti tadi, mereka bertiga sangat bahagia berharap bahkan mendesak agar Abner segera menikahi Maribella.


"Aku akan nikahi Maribella secepatnya," sahut Abner melipat kedua tangan. Maribella sangat terkejut dengar pernyataan itu. Seakan sadari kekeliruannya, Abner berbalik pada Maribella kemudian menarik wanita itu bangkit berdiri.


"Maribella Williams, aku melamarmu malam ini di hadapan ketiga bocah ajaibmu. Em, maukah kau menikah denganku?" tanya Abner pegangi tangan Maribella erat. "Aku benci bayangkan mungkin saja kau akan pergi menikahi pria lain. Melihat kau tersenyum pada Hansel, rasa-rasanya aku ingin menabrak pria itu hingga tenggelam di jalanan. Kau tahu aku sungguh terluka saat kau berpikir untuk pindah ke restoran dengannya. Maafkan aku jika kau merasa terluka dan marah pada sikapku. Menikahlah denganku," tambahnya panjang lebar.


Lama terdiam bahkan ketiga bocah ikut tenggelam dalam diam, ikut pandangi Maribella berharap wanita itu segera menjawab. Abner Luiz tampak mempesona malam itu saat melamar Maribella. Meskipun Maribella cintai Abner, tidak lantas buat ia cepat mengiyakan. Atau mungkin Maribella shock. Hanya pandangi Abner, pada rambut gelombang pria itu yang dirusak oleh tangan-tangannya tadi. Wajahnya memerah tua.


"Kau tak kencan dengan Hansel, apa yang kau pikirkan?" tanya Abner tak sabaran.


"Ka,ka,u tahu bahwa aku tak kencan dengan Hansel?" Maribella semakin merah wajahnya.


"Ya, Hansel beritahu Elgio dan Elgio Durante beritahu aku. Kau ingin pulihkan hatimu, tetapi sebenarnya kau sakit hati pada hal yang tidak terjadi. Luna datang ke apartemenku tadi malam dan ia bertingkah seolah kami habiskan malam bersama untuk buatmu salah paham. Aku tak bisa beri kabar sebab aku harus bertemu klien dan siapkan rapat tertutup. Aku tak tahu apa yang gadis itu lakukan padaku siang harinya. Maribella, aku hanya menyentuh satu wanita dan itu hanya kau saja."


Tanpa penjelasan panjang Maribella tahu bahwa Abner miliknya saat mereka berciuman di gudang tadi.


"Maafkan aku, Abner," keluh Maribella merasa konyol karena bohongi Abner soal kencannya dengan Hansel, juga untuk kesalah-pahaman lainnya.


"Apa kau ingin kencan romantis sebelum menikah?" tanya Abner.


"Tidak," sahut Maribella cepat. Ia memandang Abner dan hatinya benar-benar berbunga pada pria di depannya. "Mari menikah, Tuan Abner Luiz dan berkencan romantis setelah itu."


"Mai ...."


"Yeeyyyyyy ... " sambut Marya bertepuk tangan keras dan Reinha buat kegaduhan di meja makan, pukuli meja makan seakan ia sedang menabuh genderang. Keduanya bersorak hingga nyaris tumpah air mata. Beradu telapak tangan seakan-akan kedua wali mereka berhasil menganalisa problematika rumit. Fiks, secara hormonal dan emosional, Abner dan Maribella matang di segala sisi serta demi apapun, ketiganya sangat-sangat bahagia sebab mereka tak akan kehilangan Maribella.


"Kemarilah, Maribella. Aku benar-benar jatuh cinta padamu," kata Abner dan mendekap Maribella erat-erat. Seakan tak cukup puas, ia menatap Maribella dan menyentuh hidung mereka. Saat berbalik pada Elgio wajah pria itu berubah sangar.


"Dan kau ..., Bocah Sialan! Sebaiknya suruh istrimu belajar masak. Aku akan mengunci Maribella di apartemenku setelah kami menikah," kata Abner menatap tajam pada pemimpin komplotan perusuh, pada Elgio Durante, yang tak sanggup mengulum senyum. Segera mendekap Marya.


"Tuan Abner Luiz?!" tegur Maribella pelan tak suka pria itu kasar pada anak-anak. Abner berbalik melihat Maribella yang mengerut padanya. "Marya sedang hamil. Apa yang Anda lakukan padanya?"


"Ya ya ya, baiklah," pasrah Abner Luiz.


"Aku merasa, kau lampiaskan segala emosi padaku, Abner. Apa kita tak perlu bertemu untuk beberapa waktu mendatang?" keluh Elgio jengkel.


"Huh, memangnya kau bisa tanpa aku?" serang Abner dari seberang.


"Saat ini, kau seperti tak terkendali, beruntung aku pegangi ekormu kuat!" balas Elgio tak kalah sengit.


"Asal kau senang saja. Aku akan bawa Maribella ke apartemenku, malam ini. Jangan coba-coba mengacau!" ancamnya pada ketiga remaja di depannya.


"Tidak bisa, Abner," geleng Elgio. "Hanya karena kau melamarnya bukan berarti kau bebas membawa Maribel pergi. Kau berubah jadi maniak, Abner. Aku yakin kau akan ...."


"Maribella dan aku sangat dewasa, Elgio Durante! Apa yang kami takutkan?" potong Abner tegas.


"Apa kau tak sayang lagi padaku, Tuan Abner?" tanya Reinha cemberut.


"Aish, bocah ini lagi."


"Maribella tak bisa pergi begitu saja, tinggalkan aku!" Reinha sekonyong-konyong pasang wajah memelas. "Lagipula, kau berjanji akan tidur denganku, Maribella, sebab aku susah tidur malam hari."


"Ya, Sayang. Aku tak akan kemana-mana. Begitu pula Tuan Abner Luiz," jawab Maribella berpaling pada Abner. "Tuan Abner, aku keberatan kau kembali ke apartemenmu! Aku akan senang jika Anda tinggal di kamar Anda seperti biasa."


Maribella berpikir, bisa saja Luna datang dan Abner terjebak lagi pada Luna. Meski Abner melamarnya kini, Maribella yakin, Luna tidak akan tinggal diam. Luna tidak sepenuhnya salah, tetapi, entah mengapa Maribella curigai niat Luna.


Maribella akhirnya naik ke lantai dua dan temani Reinha tidur. Masuki kamar gadis yang gelisah, aroma wangi sangat kuat terendus. Maribella langsung pening.


"Apa yang Anda semprotkan, Nona? Aromanya sungguh wangi," tanya Maribella. "Kelewat wangi, malah."


"Glacier, Maribella. Kau tahu, aku tak bisa tidur jika teringat padanya. Jadi, aku suka semprotkan wewangian yang dipakai suamiku."


"Kemarilah, kau harus tidur dan bangun besok pagi dengan pikiran sehat. Aku akan temani kalian pergi olimpiade."


"Benarkah?" tanya Reinha senang. "Kurasa kau tak perlu lakukan itu, Lucky berjanji akan bawakan aku kembang bunga yang indah di hari penghargaan olimpiade, jadi, aku rasa dia akan temani aku pergi ke Civic Center. Kau tahu aku harus menangkan medali Maribella."


"Wah, aku rasa beliau akan tepati janjinya. Semangatlah, Sayang!"


Reinha mengangguk. "Maribella, aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada suamiku. Bagaimana jika Lucky Luciano terluka? Bagaimana jika Thomas menahan suamiku di sana untuk menikah dengan salah satu puterinya? Bagaimana jika ia bertemu seorang wanita dan terjebak dengannya di sana? Oh habislah aku," keluh Reinha mengada-ngada dan merana sendiri pada sesuatu yang sama sekali belum tentu terjadi.


"Aih, aih, aih ..., Nona ..., pikiran buruk macam apa itu? Saat Anda mengikat janji suci di depan Tuhan, aku yakin, Tuhan akan menjaga Tuan Lucky untuk Anda."


"Ya, aku percaya. Tetapi, aku tak berhenti firasat buruk, pertanda apakah ini Maribella?"


"Karena Anda berdua berpisah jauh dan saling rindukan, sebab itu timbullah pikiran buruk dalam hati, Nona."


"Apa yang harus aku lakukan Maribella? Aku ingin tahu kabarnya."


"Bukankah Tuan Abner akan mencari tahu kabar tentang Tuan Lucky besok? Percayakan saja padanya dan kirimkan doa agar suami Anda baik-baik saja. Sekarang, pejamkan matamu, Nona! Bayangkan Tuan Lucky kembali pada Anda dengan sehat dan tanpa terluka. Bisakan?"


"Uhuum ...."


"Bayangkan hal yang manis bersamanya dan aku yakin pesan Anda akan sampai padanya." Maribella memeluk Reinha dan menepuk pundak gadis itu perlahan untuk tenangkan Reinha. Setiap kali Reinha gelisah dan cemas dalam tidurnya, Maribella memijat pundak lembut lalu memeluk Reinha lebih erat.


Maribella semangati Reinha saat gadis itu terlelap, berharap Reinha menangkap supportnya hingga ke alam bawah sadar dan berhenti gelisah. Maribella sering lakukan hal seperti itu sejak Reinha kecil untuk beri rasa nyaman dan tentram meskipun pada Marya tak pernah berhasil tetapi pada Reinha itu selalu berhasil. Ia bahkan mengecup puncak kepala Reinha.


"Lucky ... aku merindukanmu. Awas saja kalau kau tak kembali, aku akan datang ke Pesisir Timur dan mencarimu," gerutu Reinha pada bayangan Lucky Luciano yang tampan. Pada rahang jantan pria itu dan lesung pipinya yang menawan. Reinha jatuh tertidur, mendekap bayangan kekasihnya dalam mimpi.


***


Sementara di Pesisir Timur ....


Suasana terlalu hening di ruangan Oriana. Dua penjaga mendadak kuatir dan hendak memeriksa. Mereka tempelkan kuping di pintu dan tak dengar apapun. Kemudian keduanya bicara dengan berbisik-bisik.


"Pria itu sepertinya sedang merayu si Nona," duga salah satu penjaga berkata pada temannya.


"Kurasa dia tak akan berhasil," balas penjaga lain terkekeh geli.


"Kau akan kalah."


Tangan-tangan beradu. Sepertinya mereka mulai taruhan.


"Coba kita periksa!"


Pintu dibuka perlahan, cahaya lentera berpendar terangi ruangan. Wajah wanita terangkat sejenak, menengok ke pintu pada gangguan yang datang sebelum kembali bergerak di wajah si pria. Sedang si pria mengerang sejadi-jadinya. Dua penjaga itu saling pandang, buru-buru menutup pintu.


"Sini uangmu! Hanya wanita bodoh yang menolak pria perkasa! Tak ada yang pernah kalahkan Goliath dan pria itu berhasil buat Goliath tersungkur."


"Kupikir dia wanita yang keras kepala, ah sialan!" keluh si penjaga yang kalah dan berikan uangnya dengan terpaksa.


Oriana tak mampu menahan tawa geli, terbenam pada Carlos, merasa terhibur di tengah situasi aneh.


"Kuharap Lucky Luciano dan Francis Blanco, baik-baik saja. Mereka tak tertarik padaku, padahal akulah yang harus dicurigai," bisik Carlos di telinga Oriana.


"Thomas dan anak-anaknya bukan orang jahat," balas Oriana.


"Meski demikian, kau harus ikut denganku, Lizzy! Kau tahu, Lucky Luciano tinggalkan istrinya untuk ikut denganku," ujar Carlos lagi. "Tidurlah, perjalanan kita sangat panjang besok! Aku akan menjagamu."


"Wajahmu terluka."


"Wajahku hancur karena ingin bersamamu, dan apa daya, kau menolak lamaranku. Tidurlah!"


Di ruangan lain saat bayangan bergerak di pintu terbantu oleh pantulan lentera, Francis sengaja berpaling belakangi pintu, bersiaga dan ketika bayangan itu mendekat padanya, pria itu berbalik cepat memukuli tangan yang memegang belati dari hasil amati dinding hingga belati terjatuh.


"Akkhh ... " jeritan berasal dari suara seorang wanita. Selendang wajah penyusup terlepas dan ia bergerak cepat menendang Francis hingga terdorong ke atas ranjang, bergerak cepat meraih belati dan meloncat ke atas tubuh Francis kembali menaruh belati di leher Francis.


"Nona Cataleia?!"


"Apa tujuanmu kemari? Apakah kau ingin menculik Anggrek Putih dan membawanya kabur?" tanya Cataleia.


Abaikan dirinya yang bisa saja terluka, Francis tepis keras tangan kiri pemegang belati sebelum mencengkeram leher si wanita kuat, mendorongnya turun dari ranjang.


"Aku tidak punya jawaban!" kata Francis dingin. "Aku hanya temani Bosku kemari antarkan banyak bantuan. Jika ini balasannya, kalian buat kami kecewa."


Cataleia ayunkan belati tapi Francis berhasil menangkap. Tangan mungil Cataleia dipilin hingga belati berpindah tangan dan Francis menggiring wanita yang tersandera itu keluar.


"Jangan harap kau akan keluar dari sini hidup-hidup jika datang dengan rencana licik," geram Cataleia.


"Kita lihat saja nanti, kupikir, aku perlu adukan penyerangan ini pada Tuan Thomas Adolfus dan kita lihat reaksinya."


"Aku tak menyakitimu!" desis Cataleia.


"Tidak, tetapi kau lukai harga diri kami, Nona. Kalian curigai orang yang datang sebagai Donatur? Jadi, ini alasan kau pisahkan aku dan bosku? Serangan konyol ini?" tanya Francis tenang kuatkan cengkeraman.


Sedangkan leher Lucky Luciano oleh belati tajam Ratruitanae sisakan darah yang masih terus mengalir. Sorot marah Lucky Luciano buat sang gadis mulai ragukan instingnya sendiri bahwa Lucky Luciano datang atas perintah seseorang.


"Menyingkirlah dari-ku, Nona!"


"Aku mengawasimu Lucky Luciano!" balas wanita itu tajam. "Kau tak bisa main-main di wilayahku, tidak, selama mataku mengawasimu."


"Lakukan saja sesukamu! Seperti yang kubilang, aku akan segera kembali dan jangan buat permusuhan yang tidak penting. Bagaimana kalau kau segera pergi, aku tidak segan balas melukaimu!"


Pintu terbuka di belakang mereka dan ekor mata Ratruitanae bergerak ke sudut, dapati bayangan dua orang di sana.


"Lepaskan, Bos-ku, Yang Mulia! Atau adik Anda bisa berakhir buruk."


Francis muncul di pintu dengan wajah datar sedang belati yang mirip Ratruitanae pegang bersandar di tenggorokan Cataleia. Francis tampak tak main-main.


"Kau tahu bahwa kau dalam masalah jika menyerang adik perempuanku?"


"Ya, aku tahu dan aku tak peduli. Aku harap Tuan Thomas bangun dan lihat perilaku Anda berdua. Kami bisa kembali ke kapal barang dan bawa bantuan pulang."


"Kakak ... " panggil Cataleia pada kakaknya. Berkomunikasi berdua dalam bahasa mereka tetapi Lucky Luciano cukup mengerti.


"Aku akan buat kesepakatan dengan Tuan Thomas besok pagi dan kami punya tawaran yang sangat bagus. Aku tak bisa beritahu-mu Ratruitanae kepercayaanku padamu hilang. Menyingkir sekarang atau biarkan Thomas Adolfus tahu apa yang dilakukan pemimpin baru mereka?"


Perkataan Lucky Luciano cukup serius, diekspresikan dari wajah marah dengan sorot mata berkilat-kilat di bawah lampu pelita. Ratruitanae segera singkirkan belati dan turun dari ranjang, mundur tetap siaga. Francis lepaskan Cataleia mendorong wanita itu kasar pada Ratruitanae yang langsung mendekap adiknya dan pergi dari sana.


"Kau baik-baik saja, Bos?" Francis hampiri Lucky Luciano dan periksa luka di leher Lucky.


"Ini sangat dalam." Francis keluarkan sebungkus obat serbuk dari salah satu kantong celananya. Saat bepergian, obat itu selalu dibawa untuk berjaga-jaga sebab sangat ampuh keringkan luka.


"Ya, tetapi tak ada racun di belati," sahut Lucky Luciano. Ratruitanae beri tanda intimidasi, jika wanita itu berniat habisi dirinya maka ia akan menaruh racun dari liur katak lokal yang terkenal sangat beracun di belati hingga Lucky tak mungkin hidup lama jika terluka.


"Berbaringlah, aku akan taburkan serbuk obat pada luka Anda."


"Apa si Bajak Laut baik-baik saja?"


"Kurasa dia sedang bercinta dengan si Nona Reporter," sahut Francis serius.


"Semoga dia bisa kendalikan dirinya!" keluh Lucky Luciano.


"Apa orang bisa kendalikan diri mereka saat mabuk kepayang. Tetapi, Nona Oriana seperti kata Thomas tak mudah ditaklukan."


Mereka tak mungkin bahas rencana atau strategi sebab seakan-akan angin bisa berkhianat dan mereka bisa saja ketahuan. Wanita-wanita Thomas sangat cerdas tetapi menakutkan di saat bersamaan.


"Kau tahu Francis, aku harus beli kembang bunga untuk istriku saat ia raih medali. Aku berharap bisa pergi ke Red Twilight dan menonton senja berakhir."


"Baiklah, kurasa Anda akan bawakan sejuta mawar merah di bagasi mobil dan buat Nona Reinha berbunga-bunga."


"Aku akan buat kejutan untuknya, hingga ia lupa bahwa aku terus buat ia gelisah," sahut Lucky. "Bagaimana denganmu Francis?"


Ini pertama kalinya Lucky Luciano masuk lebih jauh ke dalam kehidupan pribadi asistennya setelah sekian lama Francis urusi kehidupan pribadinya.


"Entahlah, Bos," jawab Francis sodorkan sekaleng soda sembari angkat bahunya.


Apakah ia perlu buat kejutan? Tidak, terasa aneh. September mungkin hanya berharap dirinya kembali, tak lebih. Lepas dari siluet suram September yang terus saja menghantui, Francis hanya perlu pulang dan pandangi Amora dalam inkubator, mungkin akan secara resmi menyapa Amora Shine sebagai seorang Ayah.


"Amora Shine, ini Ayahmu, apakah tidurmu nyenyak, Sayang? Ayah merindukanmu."


Ayah?!


Itu sungguh getarkan hati. Mengapa hari terasa lambat berjalan?


***


Mungkin akan update lebih dari satu Chapter hari ini ...