
"Enya, pergi dari sini!"
"Tidak! Biarkan aku menolongmu!" sambar Reinha marah. Lucky merengkuh Reinha kasar, menyambar bibir gadis itu dengan ciuman panas membabi buta. Matanya menyala, merah terbakar. Pria itu bergetar hebat dan saat petugas hotel bawakan kunci, Lucky oleh sisa-sisa kewarasan, mendorong Reinha keras hingga gadis itu terjerembab jatuh.
Kekasihnya tiba-tiba berubah beringas, Reinha berusaha bangun. Lucky menggesek lock keycard dan terseok masuk abaikan Reinha yang terjengkang ke tembok. Pria itu menutup pintu keras di belakangnya sementara Reinha beringsut bersandar di tembok. Udara lantai begitu dingin, ia memeluk kedua lengannya. Mantel tertinggal di restoran dan dres body shape yang membalut tubuhnya terlalu tipis untuk lindungi diri dari hawa dingin malam dan ruangan hotel ber-AC keras.
Mengapa Lucky abaikan pertolongannya? Reinha mulai menggigil kedinginan bercampur jenis-jenis emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Mereka tidak saling terbuka tentang malam ini dan bertemu di restoran dalam keadaan kacau. Ia mengelus lengan. Harusnya mereka di gudang saja dan terus berbagi cinta hingga hari jadi malam.
"Nona? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Francis. Ia hampiri Reinha dan wajah pria itu lebam-lebam. Francis adalah andalan Lucky tetapi sepertinya pertarungan tidak berjalan bagus. Jas lengan kiri pria itu bahkan sobek dan berdarah.
"Ya ... apa yang terjadi dengannya Francis?" tanya Reinha galau.
"Nona ... ada sesuatu dalam minuman Bos yang membuatnya berubah liar, ganas dan tak terkendali. Mari kubantu Anda bangun."
Reinha menggeleng. Mereka berduaan tadi di gudang dan saling berbohong tentang "urusan" masing-masing. Betapa menyesalnya ia, biarkan sore tadi berlalu.
"Mengapa Valerie lakukan itu padanya?" tanya Reinha murung. Lucky dalam dekapan dan cumbuan mesra seorang wanita buat Reinha bergidik. Ia sangat marah tetapi tak berdaya. Tak mampu gambarkan perasaannya. "Siapa wanita itu sebenarnya?"
Francis menghela napas berat sebelum beri jawaban.
"Valerie, El Capo kami, Nona. Aku berterima kasih Anda sungguh berani tadi. Valerie sepertinya akan berpikir ulang jika ingin menyentuh Anda."
Itu juga berarti Francis harus was-was sebab Valerie tidak akan tinggal diam. Wanita itu pasti akan menyerang Reinha. Francis sibuk lindungi Lucky hingga tak indahkan keberadaan Reinha. Pengawal itu bersyukur keteledorannya, Reinha Durante ada di sana, selamatkan Bos-nya dari cengkeraman Valerie.
"El Capo?" tanya Reinha semakin sering mengelus lengan yang kedinginan.
"Ya, kekasih Tetua kami, Ayah Nona Pequeena."
"Mengapa wanita itu ...."
"Valerie terobsesi pada Bos Lucky dan kupikir ini jebakan. Bos selalu abaikan panggilannya. Terakhir kali Valerie menculik Anda, tujuannya hanya untuk memancing Bos Lucky datang padanya."
"Bisakah kalian berhenti dari pekerjaan tidak jelas ini?"
Francis angkat bahu dan Reinha ingin bertanya banyak hal tetapi pikirannya hanya melayang pada Lucky Luciano.
"Bisakah kau bukakan pintu untukku?" tanya Reinha sembari bangkit. Kakinya sedikit terkilir, ia berdiri pincang.
Francis menggeleng. "Tidak Nona. Biarkan Tuan Lucky atasi dirinya sendiri! Beliau pasti bisa."
"Francis, aku akan berada di sisinya. Sia-sia aku jadi kekasihnya tetapi tak bisa bersama Lucky saat ia butuh pertolongan. Buka pintu ini! Aku harus melihatnya!" kata Reinha putus asa. Apa yang pria itu lakukan di dalam sana?
"Nona, beri Bos waktu 25 menit."
"Aku bisa mati dalam 25 menit," keluh Reinha kembali pada tembok dan menangis sesenggukan. "Biarkan aku memeriksanya, Francis."
"Nona, saat seseorang minuman campuran fly drugs, mereka berubah jadi kasar, beringas, naf ... "
"Oleh sebab itu aku harus melihatnya!" potong Reinha kesal.
"Anda bisa jadi sasaran pelampiasan gairahnya, Nona. Tolong pahami."
"Aku tak peduli. Bagaimana jika aku berhasil menenangkannya?"
Francis menimbang, ia belum pernah dapati seorang wanita seperti Reinha Durante di sekeliling Lucky Luciano. Ia akan buat pengecualian untuk wanita satu ini, ia akan anggap Reinha Bos-nya juga. Francis pergi ke resepsionis dan kembali dengan lock keycard. Kartu digesek.
"Masuklah!" Kuharap cinta Anda berdua bisa atasi segala masalah. "Aku akan menunggu di luar."
"Carikan Lucky pakaian baru!"
Pintu terbuka dan Reinha bergegas masuk ke dalam. Lampu ruangan remang-remang. Reinha melangkah ke dalam kamar yang kosong. Gemericik air di bathroom terdengar halus di antara suara Lucky Luciano yang mengerang dan meraung, di telinganya pria itu sekarat. Ranjang berantakan seakan kekasihnya baru habis bercinta dengan seorang wanita di sana. Kemeja dan blazer Lucky tertinggal di lantai, Reinha memungut dan lemparkan ke tong sampah. Bibir Valerie melekat di kedua benda itu dan Reinha membencinya. Lama menanti dalam diam, pintu kamar mandi terbuka. Lucky keluar dari sana terkejut saat tatapan mata mereka bentrok dalam temaram lampu ruangan. Pria itu menahan napas, terantuk-antuk pergi ke ranjang. Ia duduk di sisi pembaringan basah kuyup dan kedua lengan menyangga tubuhnya. Helaian rambut hitam mengkilap berjatuhan di sekitar mata, sisa-sisa air menetes dari helaian rambut, dibiarkan saja. Reinha ingin bertanya, tetapi ia ragu. Ingin menyentuh tapi bimbang.
"Pergilah Enya, aku bisa menyakitimu!" keluh Lucky sedih.
Reinha beringsut perlahan dan berlutut di hadapan pria itu.
"Aku akan di sini. Kau tak bisa mengusirku, Lucky!"
"Mengapa kau di sana dengan Giuseppe?" tanya Lucky coba alihkan gairah yang masih tersisa bahkan masih setengah. Ia mengepal, menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak merengkuh Reinha pergi ke ranjang. Otot-otot pahanya menegang. "Apa kau suka dia mengagumi-mu?"
"Mengapa kau bersama Valerie? Kau diam saja saat dia mencumbu-mu? Jika tak ada aku, apa kau akan berbagi malam dengannya?"
Lucky mendesah frustasi. Suara Reinha bergaung di kepalanya, bagaimana ia terbakar gairah dan tatapan gundah gulana gadis itu mendesak nalurinya. Raut Lucky kelam saat menatap Reinha.
"So pretty ... sangat-sangat cantik saat kesal," bisiknya tak sanggup mengontrol diri julurkan tangan membelai wajah Reinha yang menatapnya terluka. "Apa aku menyakitimu Enya?"
Bagaimana bisa kata "Enya" membuatnya berdebar-debar dan bergairah.
Reinha mengangguk. "Aku terkilir."
"Kakimu?!" Telapak tangannya menangkup pipi gadis itu. "Apa karena aku mendorongmu sangat keras?"
"Kakiku, hatiku, semuanya terkilir."
"Jika tak kulakukan, aku mungkin akan menyesalinya nanti. Bangunlah Enya! Pulanglah! Ini sudah malam. Kau harus pergi dari sini!" guman Lucky nyaris berbisik. Napasnya naik turun, hasratnya kembali dengan cepat.
Reinha bangkit berdiri, tak indahkan Lucky, selimuti pria yang terlihat tak berdaya itu dan membantunya berbaring. Ia mendekap Lucky kuat dan erat, menciumi pria itu berulang kali.
"Tidurlah, aku akan menemanimu."
"Kau terlihat seperti kekasih sungguhan seorang badboy. Aku mencintaimu Reinha Durante," ujar Lucky. "Tolong pergilah! Aku tak jamin kau akan selamat sampai pagi dengan kondisi fly-ku ini. Aku menginginkanmu. Tolong pergi saja!" suaranya mabuk berat. Jantungnya semakin kencang berdetak dan aroma Jasmine di tubuh gadis itu membuatnya gila.
"Kau akan bisa mengatasinya!"
"Tidak, ini sangat buruk."
"Lihat aku, Lucky Luciano! Kau tak akan lakukan itu padaku, karena kau mencintaiku. Kendalikan dirimu!"
****
Masih sore di kantor Elgio Durante saat ia mendapat kejutan.
"Elgio Durante, aku Irish Bella."
Elgio mengernyit melihat wanita di depannya, pada uluran tangan sebelum menjabat tangan Irish. Matanya menatap Abner menuntut jawaban.
"Maafkan aku Elgio. Ini kepentingan bisnis," sahut Abner seakan tak punya pilihan lain.
"Kita pernah bertemu saat di Kastil Tua, kau masih ingat? Maaf soal kesalah-pahaman waktu itu dan senang bertemu denganmu."
Elgio mengangguk, persilahkan si reporter duduk.
"Apa Anda berhasil melihat masa depan Anda? Kekasih masa depan Anda?" tanya Elgio basa-basi.
Irish tampak terkejut, gadis itu tersenyum cerah dan angguk-angguk kecil. "Ya, aku melihatnya dengan sangat jelas."
"Syukurlah .... Anda tahu, aku menolak wawancara karena aku sangat sibuk persiapkan pernikahanku," kata Elgio ketika si reporter bersiap dengan catatan-catatan kecil di tangannya.
"Maafkan aku jika mengganggu waktu Anda. Aku siapkan beberapa pertanyaan terbuka, kuharap Anda menjawab dengan leluasa."
"Baiklah."
"Tetapi sebelum itu, bolehkah aku minta pendapatmu tentang sesuatu?" tanya Irish Bella tersenyum datar.
"Apa pendapatmu tentang Al Shiva?" tanya Irish Bella buyarkan lamunan Elgio.
Pertanyaan itu tak terpikirkan oleh Elgio. Pria itu melipat kedua tangannya menatap lurus pada Irish Bella. Ia amati gadis di depannya seksama. Sementara Irish Bella mencoba dalami kepribadian Elgio.
"Anugerah Tuhan, kupikir, tidak semua orang bertalenta," sahut Elgio mengira-ngira.
"Anda adalah figure dari kekasih masa depan saya, yang dilukis oleh Al Shiva. Apa pendapatmu?" tanya Irish lagi tanpa keraguan, tanpa takut Elgio akan mendepaknya pergi.
Elgio mengernyit, Irish Bella; tajam, terbuka, percaya diri dan terus- terang. Sangat terang-terangan malah.
"Anda yakin itu aku?" tanya Elgio mengerut.
"Ya," jawab Irish Bella sembari buka ponsel dan sodorkan potret di ponselnya. "Al Shiva, melukismu untuk kekasih masa depanku."
Elgio tersenyum, "Nona Irish Bella ... jika gadis-gadis di kota ini pergi ke Kastil Tua, pada Al Shiva dan minta lukisan foto masa depan kekasih mereka, aku yakin, hasilnya pasti wajahku."
"Anda terlalu percaya diri, Tuan Durante. Apa Anda meragukan berkat Tuhan untuk Al Shiva?"
"Nona Irish ... kadang Al Shiva tidak hanya melukis masa depan kekasih seseorang, tetapi, refleksi pribadi seseorang dan bisa jadi, Anda terlalu kagum padaku hingga itu yang terlihat dari diri Anda di atas kanvas."
Irish tertawa lebar, "Kau benar. Aku tak pikirkan soal itu. Aku pelajari dirimu ketika ditugasi jadi pewawancara untuk Anda, Tuan Elgio Durante. Kurasa, aku terlalu bersemangat."
Tentu saja bersemangat. Raut pria di depannya begitu berkarakter bahkan saat ia duduk tidak nyaman seakan ingin mengusir Irish Bella pergi dari ruang kerjanya. Dagu dan rahang pria itu adalah salah satu keindahan klasik. Tampan tiada tara.
"Aku dengar, kekasih Anda masih di tingkat tiga, Sekolah Menengah Atas?" tanya Irish lagi.
"Ya, gadis itu istriku. Namanya Marya. Kami ada janjian." Elgio tersenyum ketika ingatan tentang Marya melompat macam vampir berkelebat kesana-kemari. Pria itu tersenyum gelengkan kepala. "Nah, bisakah kita mulai wawancara?"
Irish Bella manggut-manggut, ia kagumi Elgio Durante. Caranya menatap, berbicara dan tersenyum.
"Sejak kapan Anda tertarik mengelola bisnis?"
tanya Irish bersiap menulis dan recorder dihidupkan.
"Aku dipaksa mengelola bisnis sejak umurku 15 tahun. Aku jadi workholic, tak pergi kencan dan hanya bekerja. Waliku mendidik aku dengan sangat kejam."
Sindiran Elgio berhasil bikin Abner berengut di ambang pintu masuk. Dalam posisi normal, Elgio mungkin telah tertimpuk pot bunga.
"Ya, Anda digosipkan, em, homoseksual," kata Irish. Itu bukan pertanyaan tetapi pernyataan.
Elgio tertawa lebar, "Kalimat berita terbaik. Itu karena aku jatuh cinta pada seorang balita saat usiaku 11 tahun. Aku tak berhenti memikirkannya."
"Nyonya Marya?"
"Ya. Dia sangat cengeng dan menggemaskan. Tak masalah, kini aku paham orientasiku kemana. Anda bisa lanjutkan pertanyaan."
"Apakah Anda punya trik khusus dalam berbisnis?"
"Tidak ada. Tanggung jawab. Itu saja triknya. Ketika kamu jadi chief untuk ribuan karyawan, yang bisa kamu lakukan hanyalah bertanggung jawab pada bisnismu."
"Aku kagum pada Anda. Apakah Anda punya harapan untuk para remaja di kota ini?"
Elgio mengelus keningnya, sekali lagi melirik jam, apakah Marya jadi temani Ibunya ke Biara seperti pesan suaranya? Apakah ia bisa pergi kencan dengan kekasihnya itu di suatu tempat? Mata Marya yang berserah padanya semalam memecahkan konsentrasi.
"Pertanyaan yang sulit. Bisakah Anda bertanya pada Tuan Abner saja? Aku harus pergi!"
Elgio bangun dan pergi buru-buru. Ia ingin segera bertemu Marya.
"Eh?!"
Elgio keluar dari kantor dan menaiki mobil. Memacu kendaraan menuju Marya. Sangat susah bekerja sedang bayang Marya ikuti dirinya kemana-mana. Kemana mereka akan pergi kencan? Apakah ia perlu reservasi restoran? Marya dan dirinya bukan pecinta makanan restoran. Mereka anak rumahan, itu karena Bibi Mai manjakan mereka dengan makanan-makanan lezat.
Sementara Marya menyambut Ethan Sanchez di rumah. Arumi bersungut-sungut sejak siang dan masih tetap pasang tampang kesal menjelang sore. Ia bicara kasar pada Marya dan Marya hilang akal merebut hati adiknya itu.
"Ya Tuhan, kenapa aku jatuh cinta padamu ya?" Ethan mulai sekarat melihat Marya yang tampak sangat cantik dengan pakaian kasual.
"Ethan?! Berhenti menggodaku, hmm?!"
"Jadikan aku kekasihmu yang kedua. Tak apa, Marya. Aku mau saja." Remaja itu makin kumat, ia mulai memelas tak tentu arah.
"Jika begini terus, aku terpaksa pindah sekolah," keluh Marya.
"Oke, tadi yang terakhir. Aku bisa sakit jiwa jika kau pindah sekolah. Mana adikmu?"
"Di ruang belajar."
Ethan pergi ke ruang belajar mengekor di belakang Marya dan Arumi duduk di antara tumpukan buku. Gadis itu merengut saat melihat Ethan. Ia membaca buku matematika tepatnya rumus Matematika keras-keras. Ethan dan Marya saling pandang, apakah Matematika bisa dibaca seserius itu? Ethan makin pesimis.
"Aku tinggal, ya?" ujar Marya hendak menutup pintu. Ethan menahan kakinya di pintu.
"Aku bisa gila harus beradaptasi dengan Arumi. Bisakah kau tinggal sebentar saja? Kau mau pergi?" tanya Ethan seperti mengemis.
"Iya, aku akan temani Ibu pergi."
"Jangan pergi, Marya!" Ethan memegangi tangan Marya. Seakan tersihir lelaki itu tak lepaskan tangannya.
"Baiklah. Aku akan tinggal di sini, apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Aku perlu tahu nilai akademisnya sebelum putuskan metode belajar untuk Arumi. Ya Tuhan, kau ini sungguhan buat aku terjebak pada gadis bodoh itu."
"Ethan, dia adikku! Jangan katakan dia bodoh."
"Hanya gadis bodoh yang mengumpat seseorang di kartu pengembalian buku perpustakaan dan bubuhi tanda tangan."
Elgio yang tiba di Paviliun Diomanta menghela jengkel perhatikan kedua orang yang berbisik-bisik itu. Cemburunya datang dengan cepat, menyergapnya tanpa ampun. Haruskah mereka bicara seperti itu dan berpegangan tangan? Buru-buru mengebut agar bisa lihat pemandangan beginian?
"Dia terlihat tidak punya motivasi belajar!"
"Bantu saja dia dimulai dari pekerjaan rumah atau apa? Iyakan?" Marya beri dukungan pada Ethan yang tiba-tiba skeptis.
"Tetapi kau tak boleh pergi!" kata Ethan penuh tuntutan.
"Kenapa dia tak boleh pergi Ethan? Bisakah singkirkan tanganmu darinya?" tegur Elgio tidak senang. Marya dan Ethan terkejut di muka pintu. Marya meneguk liur susah payah. Oh, habislah dia. Elgio sangat cemburu pada Ethan, kadar cemburu yang sangat pekat dan tidak tertolong.
"Untung saja kau datang, jika tidak aku akan mengajak Marya pergi berduaan di bioskop," goda Ethan sengaja bikin Elgio meradang. Remaja itu sengaja menatap Marya penuh cinta hingga Elgio makin darah tinggi.
"Apa yang kau lakukan Ethan?" keluh Marya. Elgio sangat mudah marah pada Ethan. Apa yang temannya lakukan?
"Sampai nanti, Marya!" Ethan mengedip genit sebelum tutup pintu tinggalkan Marya cari solusi untuk hadapi Elgio yang berang.
Marya mesem-mesem lihat Elgio Durante yang cemburu buta berdiri di ambang pintu. Pria itu seperti sapi sakit gigi dengan tampang itu. Gegara cemburu Elgio bisa diam-diaman selama satu abad seperti pangeran bisu, kini apa yang harus Marya lakukan? Pria itu berbalik pergi dengan wajah masam. Marya tersadar buru-buru menyusul.
"Elgio ... ya Tuhan ...." Terkutuklah Ethan Sanchez, bikin makan hati saja.
***
Ini bukan badai....
Cintai aku. Jangan lupa vote ya, tiap senin....