
Marya mencincang makan malamnya tanpa selera. Raut lembut itu mendung merundung kelabu seperti akan segera turun hujan deras. Ia sudah berusaha mengontrol emosi tetapi hatinya tak karu-karuan dan ia tak konsentrasi untuk lakukan apapun.
Sedang Elgio Durante duduk di samping Marya salah tingkah melirik Marya yang gelisah. Apa yang terjadi? Bad mood-nya tadi berpindah pada Marya.
"Apa makananmu tidak enak, Sayang?" tanya Salsabila kuatir. Aktivitas di meja makan terhenti, kecuali Arumi yang tak peduli. Ia hanya harus makan banyak untuk mulai jejali rumus Matematika ke dalam otaknya, meski ia sangsi setelah perut terisi tanpa cela, ia tak akan tergeletak di tempat tidur. Efek kekenyangan adalah tidur. Beruntung juga ia berhenti jadi model, tak ada aturan makan. Oh, masa bodoh dengan seseorang yang bernama Ethan Sanchez.
Sementara Marya serius pada piring makannya. Mengapa seseorang harus jadi kekasih masa depan kekasihnya? Ini bukan tentang nalar, ini masalah hati. Ia cukup tabah terima kenyataan, banyak gadis idolakan Elgio Durante, tetapi tak akan sanggup jika ada yang benar-benar menyukai kekasihnya. Raut itu makin turun seperti awan gelap berisi jutaan butir air siap tercurah, tinggal tunggu satu kipasan angin saja.
"Aku akan makan nanti, Ibu," ujar Marya mendadak bangkit dan tinggalkan meja makan, pergi dengan cepat.
"Aruhi?!"
"Marya?!"
"Apa masalahnya belum terselesaikan?" tanya Salsa keheranan pada Elgio. Yang ditanya ikutan bangkit.
"Maafkan kami, untuk makan malammu yang terganggu. Aku akan mengatasinya."
Elgio tinggalkan meja makan dan menyusul Marya ke kamar gadis itu.
"Marya, mari kita bicara!" ajak Elgio dari luar pintu kamar mandi. "Maafkan aku, harusnya aku tak beritahu kamu soal tadi."
Marya keluar dari kamar mandi, wajahnya basah sehabis dibasuh.
"Apa aku membuatmu cemas? Aku tak bermaksud begitu Elgio. Aku cuma tak tahu cara atasi suasana hatiku yang buruk," keluh Marya.
"Ayo kita pergi keluar? Ini belum terlalu malam. Mungkin suasana hatimu bisa berubah bagus. Aku ingin membeli beberapa kemeja baru dan jas. Kau bisa melihat beberapa dress untuk dirimu sendiri."
Elgio meminta Abner lakukan reservasi untuk pelanggan VIP di Double L Distro and Fashion Factrory. Mereka akhirnya pergi ke sana. Elgio lumayan penasaran pada bisnis Lucky Luciano, sedikit curiga, pria itu benar-benar menjual fashion bukan opium berkedok fashion. Jadi, ketika mereka sampai di sana dan kenyataannya ..., Double L diluar ekspetasi Elgio.
Tempat itu seperti surga untuk para pecinta fashion. Double L berkelas bahkan dibanding Dream Fashion. Dengan atmosfer homely yang sangat kental untuk standar-standar kenyamanan berbelanja, mengusung konsep one stop shopping, pria itu berhasil buat Elgio manggut-manggut, greatest of Lucky Luciano. Terdapat taman dan air mancur di bagian dalam yang menyala di malam hari. Sedang di sisi barat, terselip cafe bar untuk yang lelah belanja. Live music diputar dari sana untuk temani pengunjung Distro.
"Tempat ini sangat keren Elgio," puji Marya. Murungnya langsung pergi.
Mereka disambut keramahan dua orang pramuniaga berpenampilan bak model majalah fashion mode. "Tuan Elgio Durante dan Nyonya Durante, silahkan! Saya antar ke ruangan Anda." Langsung digiring ke ruangan private yang lagi-lagi tawarkan kenyamanan tingkat tinggi.
Display didorong pada mereka dan pramuniaga yang supel bertindak promosikan produk berkualitas mereka. Elgio biarkan Marya memilih kemeja untuknya dan beberapa blazer. Marya mengerut saat melihat poster Lucky Luciano di papan iklan.
"Apa Tuan Lucky jadi model untuk fashion outlet ini, Elgio?"
Elgio mengangguk meski ia tak suka Lucky, ia harus akui pria itu hebat, sangat detil.
"Tempat ini miliknya, Marya."
Marya angguk-angguk. "Aku pilihkan beberapa untukmu, maukah kita coba? Di ruang ganti?" tanya Marya.
"Tidak, ini ruangan VIP, Marya. Tak ada ruang ganti di sini," kata Elgio menggoda.
"Apa kau akan berganti sementara pelayan toko berjaga-jaga? Mereka akan melihatmu!" ujar Marya tidak suka. Matanya kembali gelisah. Gadis itu polos dan sangat manis.
Elgio terkekeh geli sebelum berbalik pada pramuniaga. "Bisakah tinggalkan kami?"
"Baik Tuan, silahkan panggil kami jika Anda butuh bantuan," jawab salah stau dari antara mereka ramah.
"Aku suka putih di gantungan nomer 5 itu, Marya," tunjuk Elgio lepaskan mantel, jas dan kemejanya.
Marya amati kemeja yang dimaksud, agak bingung sebab modelnya sama saja, tetapi Elgio inginkan satu di antara mereka. Saat ia berbalik, Marya kedip-kedip matanya tidak jelas melihat Elgio tanpa atasan. Pria itu berdiri di sana dan bercekak pinggang. Belakangan jika jantungnya berdebar, gadis itu akan refleks meremas tengah dadanya, persis saat ini.
"Kau akan terus di situ? Sementara aku kedinginan?"
"Kamu bisa pakai sendiri, Elgio?" protes Marya merona merah.
"Apa gunanya punya Istri?" keluh Elgio.
Masih tersimpul merah, gadis itu dekati Elgio dan pakaikan pria itu kemeja. Dahinya mengerut saat melihat pundak dan punggung Elgio. Masih satu tangan ketika Marya tertarik pada bekas luka bakar di tubuh pria itu.
"Aku baru menyadari sekarang, ini bekas yang waktu itu?!" tanya Marya. Saat Elgio tanpa atasan di kamarnya beberapa waktu lalu, Marya lewatkan bahu terbakar itu.
Elgio mengangguk dengan alis terangkat tinggi, senang Marya masih ingat padanya, pada kejadian itu. Alasan ia tak hapus bekas luka karena ingin mengenang kejadian itu.
"Ya, aku menyeret bocah tulalit yang sangat cengeng dari api dan dapat salam dari kayu loteng rumahnya. Kupikir Aruhi hilang ingatan ten ...."
Marya berjinjit cepat, melekat pada Elgio dan membungkam pria itu dengan ciuman. Elgio sering akut cerewetnya jika bicara tentang masa lalu sama persis bocah lelaki 11 tahun, mengoceh sangat berisik. Jadi, Marya melucuti bibir pria itu tanpa ampun hingga Elgio berhenti bicara. Abaikan kemeja yang masih terjebak di satu lengan, mereka malah sibuk berciuman. Elgio lekas mabuk kepayang, tersengal-sengal oleh gairah yang meledak-ledak pada kekasihnya yang bermata cokelat terang keoranyean. Pria itu membalas Marya abaikan fakta, mereka tidak di Durante Land. Sensasi tekanan pada bibir-bibirnya tafsirkan sentuhan sebagai suatu hal mutlak untuk saling memiliki. Tak ada yang bisa kalahkan sensasi ciuman sambaran kilat lips to lips yang membungkam. Elgio berikan akses penuh pada kekasihnya, biarkan gadisnya mengemudi. Biarkan Marya mengatur ritme yang cocok, bermain dengan tempo lambat, mengendalikan dirinya. Ia mulai menggila oleh ulah Marya. It's so soft but so hot, mereka segera saja terbakar jika saja Marya tak berhenti.
"Aku selalu merindukanmu tiap ingat kejadian itu. Betapa kau sangat menyayangiku meski kau sangat bawel Elgio," ujar Marya pelan di antara desah napas tak beraturan. Bibir pria di depannya telah sepenuhnya basah, seksi sekali dia. Marya pergi ke bahu pria itu, jika tidak ia pasti akan ketagihan. "Apa terasa sakit?" tanya Marya lagi berjinjit ingin amati lebih dekat.
Elgio merengkuh pinggang Marya dan menggendongnya hingga Marya bisa melihat bekas korengan yang sebenarnya ceritakan tentang kengerian. Bara panas dari balok loteng rumah, mengecap pundak dan sedikit melahap punggungnya tinggalkan bekas panjang di sana.
"Aku terbaring di rumah sakit, tak berharap kau datang dan menangisi aku. Kepalaku pasti pening jika kau datang waktu itu. Saat aku sembuh, kau menghilang. Aku mencarimu sejak itu dan memikirkanmu."
Marya menyusuri bekas hitam legam terbakar, bergerak di sana, mengelus, seakan membaca mantra pengusir sakit.
"Gara-gara ini, aku tak bisa jadi model untuk majalah pria dewasa," canda Elgio mengusir sensasi yang timbul akibat sentuhan yang mengeksplorasi kulitnya itu. Punggungnya meremang.
"Maafkan aku," ujar Marya memeluk leher Elgio erat. Dalam dunia Aruhi, Elgio adalah superhero, yang menghalau api dan datang menyelamatkannya.
"Tentu, jika sering disambar seperti tadi, tidak susah untuk memaafkanmu," bisik Elgio di rambut gadis itu. "Sering-sering saja, Marya."
***
Tidur dalam dekapan kekasih cantik nan berani, Lucky Luciano benar-benar temukan dirinya nyenyak dan terlelap. Setiap kali ia gelisah dan cemas, Reinha memijat pundak dan menepuk punggung halus, lalu mendekapnya lebih erat. Gadis itu semangatinya hingga ke alam bawah sadar berikan banyak kecupan di puncak kepala dan keningnya sisakan rasa nyaman berujung pada kebahagiaan, mengubah dahaga liar hanya jadi semacam percikan-percikan sensasi tak berarti sebelum padam tak berbekas. Gadisnya yang luar biasa.
Tengah malam ketika Lucky tersadar, berupaya keras melawan mata berat yang ingin terus rapat, wajah Reinha terkantuk-kantuk di atasnya, jatuh-bangun tetapi gadisnya tetap berusaha terjaga. Ia mirip Ibu ketika menungguinya saat ia sakit. Lucky melihat jelmaan sosok Ibu dalam pribadi Reinha Durante.
"Kau mirip Ibuku, Enya," ujar Lucky di antara sergap kantuk. "Kau tidak pulang?"
Rambutnya dibelai Reinha berulang kali berisi kasih sayang seorang kekasih sejati.
"Tidak, aku akan bersamamu sepanjang kau butuh aku. Beruntung Elgio di Paviliun Diomanta. Jika tidak, aku tak mungkin bersamamu. Kau tahu Kakakku tak akan suka. Lagipula, Tuan Abner dan Sunny di sini tadi ingin melihat keadaanmu. Apa kau merasa baikan?"
"Ya ... berkatmu," sahut Lucky serak. "Tidurlah, Enya!"
"Tidak, kau saja yang tidur. Mengapa kau sangat bodoh Lucky? Bukankah instingmu setajam belati? Apa kau tak sadar minumanmu mengandung racun?"
"Aku tak yakin ia akan menyerangku dengan itu. Kupikir Valerie tak serendah itu."
"Bagaimana jika aku tak di sana? Jika ia menyeretmu ke ranjang, aku tak peduli, tapi kau tahu, dosis tinggi bisa membunuhmu."
"Kau adalah takdirku, itulah mengapa, kau di sana untuk menyelamatkan aku. Tidurlah, aku akan menjagamu."
Reinha tak menyangka ia akan bersama Lucky sedekat ini untuk kedua kalinya. Mereka tidur bersama secara teknis meski tak terjadi apa-apa. Reinha renungi raut Lucky Luciano saat pria itu mengigau, menyimpan suara beratnya yang getarkan sukma juga napas kecemasan pria itu.
"Apa sebelumnya kau pernah tidur dengan Valerie?" tanya Reinha tak tahan oleh penasaran. Jika diberi kesempatan, Reinha ingin merobek mulut wanita itu.
"Tidak ...."
Lucky tak bicara lagi setelah itu, minuman beracun yang diteguknya di restoran, bisa jadi penyebab ia semaput. Reinha tetap berikan pelukan terbaik meski lengan-lengannya sendiri mulai keram serta posisi duduk mulai mengganggu.
Entah berapa lama, Reinha coba melek, berkali-kali menguap, coba menghitung penjumlahan yang rumit agar mampu halau kantuk. Namun, ketika akhirnya ia benar-benar tak sanggup, Reinha pasrah dan terkulai di puncak kepala Lucky Luciano. Terbius campuran aroma shampo dan glacier pria itu, Reinha terbenam makin berserah pada mengantuk.
Dalam tidurnya mereka berada di Civic Center, gaunnya melorot jatuh ke lantai dan Lucky membawanya ke ranjang bertaburan kelopak mawar mewangi. Pria itu menyentuhnya dengan manis hingga Reinha kehilangan kewarasannya. Mereka di tengah hutan, dibalik batu berciuman tanpa jeda, di saksikan pepohonan Pinus, di antara aroma anyir lumut hutan. Ia menggerayangi pria itu seakan temukan waktu terbaik untuk gigitan termanis.
Ia melihat pria itu dalam mimpi, berenang di danau pamerkan bisepnya yang indah, di bawah pijaran luna, di antara lambaian ilalang kuning keemasan tepian danau dan riak-riak gelombang air yang tertiup bayu. Lucky membawanya berdansa, berputar-putar di atas pasir danau dan mereka bercumbu di samping api unggun. Mata pria itu berkilat-kilat oleh gelora asmara dan mereka tak saling kendalikan diri di bawah lampu merah.
Reinha melihat Lucky di restoran bersama Valerie. Wanita itu mendera kekasihnya di atas kursi restoran, melepas kemeja Lucky dengan bibir merah terang sensualnya, Reinha menahan napas. Valerie menyentuh dada kekasihnya dan berbisik penuh bisa, lidahnya menari-nari di wajah Lucky. Amarah Reinha bangkit tetapi tak bisa pergi untuk pisahkan mereka, kaki-kakinya berat seakan terpasak pasung. Tangan Valerie tiba-tiba terayun, tampak gigi-gigi garfu sangat tajam berkilau diterpa lampu restoran, terhunus tepat di dada Lucky dan satu hentakan, jantung kekasihnya keluar dari balik rusuk. Pria itu kehabisan napas, menggelepar seperti ikan tanpa air.
"Enya, pergi dari sini!" Pria itu bicara lamat-lamat padanya yang membeliak ketakutan.
"Lucky .... No ...." Lucky berlumuran darah.
Reinha tak mampu berlari, tubuhnya seakan memikul beban puluhan ton.
"No ...." Ia menangis karena tak sanggup menjerit. Mulutnya seakan dijahit.
"No ...." Tersengal-sengal.
Tubuhnya diguncang perlahan. Reinha sontak bangun dengan napas ngos-ngosan. Saat matanya terbuka, Lucky Luciano menatapnya cemas. Ia tidur dalam dekapan Lucky, di pangkuan pria itu.
"Kau bermimpi buruk, Enya?" tanya Lucky prihatin.
Reinha pegangi dada yang berdetak kacau, menenggak liur dari rongga mulut yang gersang. Sesak napas dan isakannya bahkan ikut ke dunia nyata. Mimpi yang sangat buruk.
"Enya?!" Lucky pegangi lengannya kuat. "Hei ... sadarlah!"
"Apa kau sudah baikan?" tanya Reinha mengernyit, coba kendalikan diri. Satu sapuan pandang ke seluruh ruangan, ia tersadar, mereka bukan di kamar hotel lagi. "Di mana ini, Lucky?"
Kamar itu begitu indah dengan banyak lampion merah hati, semerah laksana cinta mereka. Perpaduan Jasmine dan Peony peach begitu pula aroma manis entah apa, merebak di hidungnya.
Hari masih gelap di luar. Apa ia bermimpi lagi? Lucky terlihat membaik meski pucat seperti mayat hidup. Reinha merapat, bergelung di leher Lucky Luciano dan tenangkan diri di sana. Aroma Glacier pria itu membantunya sadar penuh.
"Di kamarku. Aku membawamu pulang ke rumah."
Sesuatu yang manis dan hangat mengalir dalam darahnya. Ia berdesir karena berada di kamar pribadi kekasihnya dan kembali menghirup aroma di ceruk leher pria itu.
"Apa aku terlalu mabuk tidur? Aku tak sadar dibawa kemari."
"Maafkan aku. Ini masih jam 3 pagi Enya. Tidurlah!"
"Tidak. Aku bermimpi buruk," keluh Reinha gelisah. "Bisakah kau menjauh dari Valerie? Wanita itu menakutkan."
Lucky hembuskan napas tertahan yang terhimpit dalam dada. Waktu akhirnya tiba, hal yang ditakutinya meski belum benar-benar terjadi, kini tinggal menanti ledakan. Valerie tak akan tinggal diam. Mereka telah menyinggung harga dirinya; Lucky menolaknya, Reinha permalukannya, Elgio Durante akan nikahi Aruhi Diomanta membuat Sunny berbalik membangkang ... sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi ... walau Lucky tak tahu pasti sedahsyat apa nanti. Pria itu memeluk Reinha makin kuat tiba-tiba takut. Jika saja ia tak jatuh cinta setengah mati pada Reinha, bahaya serumit apapun akan ia hadapi. Ia punya banyak kelemahan kini, Queena di satu sisi dan Reinha jadi kandidat terkuat dari kelemahannya.
"Kamar ini indah sekali?" bisik Reinha.
"Ini penyambutan dari Queena untukmu."
"Begitukah? Aku tersanjung. Aku sangat cemburu padanya karena bisa melihatmu tiap hari."
"Aku jarang di rumah. Waktuku habis menguntit seorang gadis. Kupikir, aku telah jadi psikopat sekarang karena terobsesi pada seseorang."
***
Tinggalkan komentar di bawah, apakah Anda menyukai chapter ini?!
Cintai saja aku....