Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 61 Lagu Penghancuran ....



Sementara Lucky Luciano mengemudi gelisah. Sejak kemarin, ia memikirkan cara untuk pulihkan hubungan mereka terutama cinta Reinha padanya. Laksana paku tertancap di pohon kayu, mudah saja paku dicabut tetapi bekasnya masih melubang di sana. Ujung mata mengintai Reinha lantas mengeluh frustasi sebab gadis itu berkutat dengan ponselnya. Lucky benar-benar tertekan. Susah payah taklukkan Reinha, pertempuran panjang dan misi berbahaya bahkan kalah berat ketika Lucky mengejar cinta-nya pada Reinha Durante. Sungguh-sungguh idiot ia sakiti gadis itu dan seolah mulai dari nol terlebih ia tak lagi miliki hati Reinha secara utuh.


Broken Boulivard saat ia melihat Reinha di dalam bis melarikan diri ke Civic Center dan Lucky menahan sesak. Bayangan Reinha yang manis saat terbuai dalam pelukannya lewati hutan Til kuno hadir kembali. Mereka banyak membuat momen indah, termasuk, kala Reinha bersamanya di tepian api unggun dengan wajah jatuh cinta yang tak dapat disembunyikan gadis itu. Kini momen itu menusuk Lucky berulang-ulang. Ia merindukan sorot Reinha saat menyerah padanya.


So Fu***** stupid ....


Playlist dari ponsel Reinha terkoneksi ke audio mobil sejak tadi, mulanya biasa, mendadak saja memutar lagu sendu dengan lirik gundah gulana, benarkan anggapan; lagu sedih wakilkan perasaan seseorang. Reinha sepertinya ingin Lucky mendengar lagu-lagu itu. Menyimak lirihan pilu, "I don't wan't to love anymore, if love is you" dari Greg Hatwell dan Adele Roberts, Lucky menahan napas, lirik lagu itu menendangnya tepat di ulu hati. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mencerna. Reinha sibuk dengan ponsel, tak peduli sedikitpun, gadis itu mengelak bicara padanya.


Apakah ia harus membalas Reinha, berharap temukan lagu dan lirik yang pas untuk sampaikan pada Enya betapa sangat kelabu hatinya, betapa ia berkubang dalam penyesalan ditiap hela napasnya. Ia tak mungkin membaca prosa patah hati atau Reinha akan melemparnya keluar dari mobil.


Lampu merah ketika intro musik pembuka lagu milik Olivia Rodrigo - Driver's License yang benar-benar bikin remuk-redam. Lucky mulai gerah, Reinha sungguh-sungguh patah hati oleh pernyataan bodohnya tentang menikahi Queena dan Lucky Luciano tak tertolong saat ini hadapi amarah Reinha.


Sedikit ada harapan saat Reinha bicara walaupun kalimat-kalimat gadis itu malah membuat Lucky seakan lebih baik ditikam belati berkali-kali.


"Usia kami sama, 17 tahun, tetapi ia berhasil ciptakan 'wrecking song' (lagu penghancuran) yang mematikan dan jadi trending topik, sedang aku sibuk berlarian bersama seorang pria kesana-kemari. Ya Tuhan, kau bisa ciptakan lagu 'wrecking future' (penghancuran masa depan), Enya ... " gerutu Reinha sinis pada dirinya sendiri, ia kembungkan kedua pipi sebelum hembuskan keras-keras seluruh angin dari sana.


Nada gadis itu terdengar penuh kekecewaan seolah menyesal telah jatuh cinta padanya. Lucky meringis terserang kehampaan yang merobek daging hingga retakan tulang-tulangnya. Tak disangka ia menjadi sangat kesakitan oleh lontaran kalimat-kalimat beracun itu. Mobil melaju saat lampu hijau menyala, cukup mengebut sebelum berbelok di taman kota dan Lucky hentikan mobilnya di pinggir taman, di dekat sebuah jembatan buatan yang dipenuhi puluhan angsa.


Mereka harus bicara, jika Reinha menyerah padanya, ia tidak punya alasan pertahankan gadis itu, tak bisa memaksa meskipun gadis itu telah mengambil napas dan setengah jiwanya. Menyedihkan harus berakhir begini gara-gara kebodohan dan keegoisannya semata.


"Jangan bercanda! Aku bisa telat ke sekolah." Reinha berseru geram dan membeliak marah, "Aku bisa terlambat. Apa yang kau lakukan?"


Lucky memutari mobil dan membukakan pintu.


"Turunlah! Setidaknya kita harus bicara, Enya. Diam tak akan selesaikan masalah."


Reina turun dan mereka berhadapan. Lucky tak mampu memendam kegalauannya lebih lama, ia menjadi sangat sensitif oleh ungkapan Reinha. Ia tak bisa mengontrol diri, menjaga emosi dan berpikir rasional atas tindakannya lagi. Tidak lagi, Reinha telah memegang tali kekang, Lucky tersiksa dan telah kehilangan harga dirinya. Mungkin bagi Reinha, ia belum cukup mengemis maaf.


"Jika aku bisa, Enya ... aku akan memutar kembali waktu dan pergi ke hari itu. Aku tidak punya alasan, mengapa mengatakan kalimat bodoh tentang menikahi Queena sebab kupikir aku harus bertanggung jawab pada kehidupan seseorang yang telah membawaku dan Claire dari liang kematian. Ya, kau tak perlu dengar, sebab itu cuma alibi-ku. Kau tak perlu ampuni aku."


Sorot mata Lucky berkilat-kilat. Reinha belum pernah lihat Lucky Luciano sepedih itu. Pikirannya sendiri kalut, jual mahal sementara setengah mati merindu. Apa masa lalu Lucky sangat buruk?! Berapa banyak rahasia yang pria itu simpan dan tampak kelam? Lucky menatap Reinha pasrah.


"Baiklah Enya, katakan apa maumu? Aku bisa kamuflase mengikutimu. Jika kau ingin aku hilang dari pandanganmu, aku akan pergi. Kau tak akan melihatku lagi setelah pagi ini."


Reinha terpaku. Apakah ia yakin bisa jalani hari tanpa melihat Lucky Luciano? Seminggu kemarin ia merasa sangat menderita. Setiap berhenti di lampu merah, ia merindukan pria itu dan itu terasa perih.


"Lagipula, kau tak bisa berlarian bersama pria dungu seperti aku. Kau butuh seseorang terhormat seperti kakakmu. Pergilah kencan dengan Ethan Sanchez atau Giuseppe Gustav. Tak ada yang bisa aku lakukan untukmu hingga membuatmu bangga. Aku hanya sampah dan berani sekali sampah ini menyakiti seorang gadis sepertimu. Aku akan mengantarkanmu ke sekolah. Masuklah! Jangan cemas, aku tak akan menemuimu lagi," katanya kalut. Pria itu membuka pintu mobil dan mengangguk pada Reinha menyuruhnya masuk.


Reinha kembali ke dalam mobil tanpa jawaban dan Lucky berubah pemurung. Pandangannya fokus ke depan tanpa senyum, ia menoleh keluar mobil tetapi pikiran penuh kesedihan makin menumpuk melihat seorang gadis memeluk kekasih di boncengan motor dan seakan tak peduli pada dunia. Kekasihnya menghalau angin dan si gadis berlindung di belakangnya mencari kenyamanan. Patah hatinya semakin parah.


Buku-buku jari Lucky di atas tuas persneling dan nama ENYA tercetak di sana. Urat-urat mencuat dari jemari kecokelatan dan menggenggam tuas kuat. Reinha yang terluka ingin menyentuh Lucky tapi harga diri membatasinya.


Apakah mereka akan berakhir seperti ini?


***


Mobil Marya melewati taman kota dan tak sengaja menangkap dua sosok, Lucky dan Reinha serta gestur merana keduanya. Marya hembuskan napas berat. Setiap kisah cinta menghadapi rintangannya sendiri. Semoga mereka berdua berakhir baik. Reinha tampak tak bersemangat seminggu ini tetapi tak ingin membagi dengannya.


Marya turun dari mobil di halaman sekolah dan Ethan Sanchez menyambutnya. Marya sepertinya harus berterus terang pada Ethan untuk tak terlalu dekat-dekat dengannya. Marya belum bicara ketika Ethan duluan buka mulut.


"Aku akan mengajari adikmu sopan santun!"


"Apa yang terjadi?" tanya Marya tidak terkejut, sebab anak-anak tingkat tiga sangat gregetan pada perilaku Arumi, adik sambungnya itu.


"Adikmu banyak drama."


"Eh! Jangan mengganggunya Ethan!"


Ethan suka pada Marya yang lembut dan rendah hati, jadi ketika bertemu Arumi yang sangat mirip rupanya dengan Marya tetapi berkarakter terbalik, jiwanya meronta-ronta ingin kerjain Arumi habis-habisan.


"Aku hanya memberinya tugas dapatkan tanda tangan seluruh siswa tingkat tiga. Tidak susah-kan itu? Arumi bisa berpergian dari satu siswa ke siswa lain dan main drama. Dia sungguh berbakat," ucap Ethan skeptis.


"Memangnya apa yang Arumi lakukan?"


"Tingkahnya menyakiti mataku. Genit, tidak ikuti peraturan, terlambat ke sekolah, adikmu kriminal berwajah malaikat. Dia merundung teman lain di hari pertama dia masuk sekolah."


"Seburuk itu?!" Meski tak suka pada Arumi, Marya tetap tak tega Arumi di kerjain Ethan.


"Kau lihat saja nanti! Nah, lihat dia! Baru saja diomongin ... " decak Ethan, "sudah bertingkah."


Arumi turun dari mobil dan seorang gadis lain yang terlihat sangat cupu berlarian padanya separuh membungkuk dan mengambil tas Arumi.


"Perundungan dilarang di lingkungan sekolah," kata Ethan. "Aku akan memberinya pelajaran!"


"Kau boleh lakukan itu, tetapi jangan terlalu keras padanya," pinta Marya.


"Tenang saja, Marya. Aku menyukaimu." Ethan mengedip genit padanya dan percepat langkah mengejar Arumi. Marya geleng-geleng, jika Elgio Durante mendengar ini, bisa jadi pria itu akan menendang Ethan melayang ke atap bangunan sekolah.


"Hei, anak manja!" panggil Ethan Sanchez.


Arumi berhenti dan berbalik seakan tahu sapaan "Anak Manja" itu memang untuk dirinya. Ia terlihat tak suka melihat Ethan Sanchez tersenyum jahat padanya.


"Ada apa?! Kau tak puas menyiksaku merapikan buku-buku di perpustakaan sepanjang sore kemarin? Aku akan mengadukanmu pada Kepala Sekolah."


"Aku tak peduli, aku punya video saat kau merundung anak lain di sekolah ini. Itu lebih menarik untuk diperlihatkan pada Komite Sekolah. Menyenangkan jika orangtuamu harus menghadap dan kau kena sanksi sosial."


"Apa maumu?!" Arumi berengut jengkel.


Ethan tak menjawab, ia meraih kedua tangan Arumi dan meletakan tasnya di atas tangan-tangan itu. Arumi tampak langsung limbung, tas Ethan Sanchez sangat berat. Apa tas itu berisi beton atau apa?


Ethan mengambil tas dari tangan Arumi saat dilihatnya Arumi cukup payah menggendong tasnya dan memakaikan tas berat itu di punggung Arumi yang tak bisa menolak.


"Bawa tas ini ke kelasku dan taruh di meja-ku dengan baik. Awas kalau isinya menghilang, bahan-bahan untuk penelitian karya ilmiah ada di dalamnya!"


"Aku tak mau, aku ke sekolah bukan untuk jadi budakmu. Mengapa kau tak bawa saja sendiri? Kau tak punya tangan?"


"Kau melakukan pada gadis yang barusan lewat?! Mengapa aku tak boleh lakukan hal yang sama padamu?"


Arumi makin emosional, "Dia itu asistenku sejak aku di taman kanak-kanak!"


Ethan berdecak, "Wah hebat sekali, jadi, kau membuly orang lain sejak taman kanak-kanak. Luar biasa, Arumi Chavez. Bawakan itu ke kelasku!"


"Aku tidak mau. Lagipula tasmu sangat berat."


Ethan tersenyum mengejek, "Baiklah, coba kita lihat apa kata netizen tentang seorang artis muda belia multi-talenta berwajah malaikat di depan kamera tetapi sangat jahat di kehidupan nyata." Ethan merogoh kantong seragamnya dan keluarkan ponsel. Ia memainkan jari-jari di atas screen, menggeser kesana-kemari dan saat temukan video Arumi, ia menyeringai. "Kemana ya, aku harus mengirimnya? Apakah ke fanpage-mu? Fans-mu akan berubah jadi antifans. Kau tahu perundungan di sekolah itu tindakan kriminal."


"Hei ... apa yang kau lakukan bodoh?"


Arumi makin melonjak kesal, telinganya memerah dan ia hampir menangis. Siapa brengsek yang berani mengambil video itu? Ia akan mencari tahu dan membalasnya nanti.


Ethan mengutik kening Arumi keras mendengar seruan "bodoh" itu hingga Arumi menjerit sakit. Kening mulusnya berbekas.


"Senior!!! Kau tak bisa seenaknya memanggil orang. Kaulah manusia paling bodoh di sini! Kau memang menyebalkan. Aku akan kirimkan ini sekarang dan bye bye Arumi!"


"Apa yang kau lakukan? Aku bisa kehilangan kontrak." Ia berseru marah dan berusaha merebut ponsel dari tangan Ethan tetapi tangan Ethan terangkat sangat tinggi. Remaja itu bahkan berjinjit hingga Arumi tak bisa menggapai ponsel itu.


"Lihat dirimu! Kau ketakutan sekali." Ethan kembali mengoloknya. "Bersikap baiklah selama di sekolah. Kau tidak boleh merundung gadis lain di sekolah ini seenak jidatmu. Aku menunggumu di perpustakaan nanti sore."


"Lagi?!" tanya Arumi sebal. Dongkolnya mencapai ubun-ubun. Ia harus pergi syuting. Ini semua gara-gara Ibu. Apa pentingnya sekolah? Ia bisa hasilkan banyak uang dengan jadi artis. Bikin repot saja.


"Sebenarnya tidak, tetapi kau mengacaukan rak paling akhir. Harus diperbaiki, jika tidak aku akan mengirim videomu ini pada ... media mungkin. Ledakannya lebih dahsyat."


Arumi menganga, "Aku akan datang. Tetapi kau harus berjanji menghapus video itu!"


Ethan Sanchez berdecak, ia menunduk hingga sejajar dan menatap kejam gadis itu, "Kau tak bisa kompromi soal itu denganku." Ethan melangkah pergi.


"Aku akan mengadukanmu pada Ibuku," jerit Arumi jengkel.


Ethan berbalik sambil melangkah, ia mengerling sebelah mata pada Arumi yang memerah menahan marah. Ethan mengangkat tangannya mengirim kode, "Okay".


"Kau boleh adukan aku ke Perdana Menteri juga. Jika kau ingin."


Marya yang melihat kejadian itu tak tega padanya. Ia berjalan cepat mendekati Arumi.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Marya pelan.


Arumi menatapnya kasar, "Semua ini pasti ulahmu kan, Kak? Kau menyuruh Ethan mengerjai aku kan?"


"Arumi ... kau harus belajar sopan santun saat di sekolah," kata Marya coba sabar.


"Masa bodoh, teman-temanmu membenciku. Aku membencimu, sangat. Menyingkir dari penglihatanku!" Gadis itu pergi dengan wajah kesal tinggalkan Marya yang keheranan. Mengapa sikap Arumi sangat-sangat kasar?


Arumi berlari di koridor menuju lantai tiga bangunan sekolah, ke kelas Ethan. Ia tak berhenti menggerutu pada Ethan Sanchez. Mendekat kelas Ethan, pikiran Arumi berubah. Isi tas ini sepertinya sangat penting. Jika ia menyembunyikan isinya, Ethan pasti akan kena masalah. Baguskan? Biar cowok itu tahu rasa.


Arumi pergi ke lantai paling atas gedung, menaiki tangga dengan susah payah dan menurunkan tas itu di lantai. Ia celingukan penuh waspada, tak ada siapapun. Ragu-ragu sebelum membuka resleting tas, ia mengintip ke dalamnya. Sekali lagi menoleh kiri-kanan takut tingkahnya direkam lagi.


Arumi masukan tangan ke dalam tas memeriksa isi tas, ia mencari file penting Ethan.


"Apa ini? Mengapa terasa licin dan ... dan ... " Arumi yang penasaran dan dipenuhi irama balas dendam pada Ethan abaikan insting. Ia membuka resleting tas sampai habis dan langsung berteriak kaget saat kepala ular keluar dari kegelapan julurkan lidah bercabangnya yang mengerikan. Arumi sontak mundur ketakutan sementara si ular merayap keluar dari dalam tas. Arumi bangkit berdiri dan hendak berlari namun ia menubruk Ethan Sanchez keras. Ethan memegang lengannya kuat.


"Kena kau ...." Ethan merekamnya di ponsel dan tertawa terbahak-bahak.


"Kau ingin membunuhku? Kau penjahat Ethan Sanchez." Arumi meronta kuat. Tidak percaya ia menggendong seekor ular di punggungnya. Ia bergidik.


"Kau harus berkenalan dengan materi penelitianku itu Arumi. Dia terlihat menakutkan tetapi tak pernah menggigit orang."


"Kau sangat jahat." Arumi menangis marah sebab takut pada ular. Tubuh Arumi merinding geli dan jijik.


"Mengapa kau memeriksa isi tas orang lain tanpa ijin? Aku menyuruhmu menaruhnya di kelasku dengan hati-hati. Mengapa kau menggendongnya ke sini? Kau pasti ingin aku kena masalah, kan? Nah, nikmati saja ulahmu itu!"


Sementara si ular merayap makin dekat dan Arumi tak mampu menahan kengerian melihat ular besar bercorak kecokelatan yang mengkilap di bawah sinar mentari pagi.


"Lepaskan aku, tolonglah!"


"Kembalikan dia ke dalam tas! Kau tidak patuh dan membukanya."


"Maafkan aku! Lidahnya sungguh horor, Ethan. Kau anak penyihir? Bawa-bawa ular ke sekolah?" Arumi berjinjit ngeri. Aruhi pasti tahu hal ini. Arumi menggeram marah. Ide pingsan berkelebat di benaknya, ia sering lakukan taktik ini pada Aunty Sunny dan Ibunya untuk membuat mereka panik.


"Jangan coba-coba pingsan, Drama-Queen! Kau tahu, aku akan dengan senang hati meninggalkanmu di sini bersamanya."


***


Note :


Beberapa chapter lagi, semua karakter dalam Novel ini akan terlibat konflik secara bersamaan.


Aku berharap nikmati saja ya tanpa spekulasi. Jika Novel ini tidak sesuai ekspetasi readers silahkan ditinggal, aku rela. (Menangis meraung-raung)


Aku mencintaimu Readers ....


Bajawa, 14 - 05 - 2021.


Senja Cewen....