
Waktu makan malam begitu murung tanpa kehadiran Reinha. Elgio sama sekali tak bicara meskipun tangannya terus menggenggam tangan Marya di bawah kolong meja. Ekspresi wajahnya tak bersemangat.
"Abner, apakah Enya memberi kabar?" tanya Elgio akhirnya mencoba kurangi kegelisahan terlebih ia tidak tahan pada kesunyian.
"Tidak ...."
"Mengapa instingku mencurigai sesuatu?"
Abner mendorong mangkuk yang sudah kosong dan mengusap bibirnya. Ia mengerutkan kening.
"Lucky Luciano sedang dirawat intensif akibat wajahnya yang memar. Kau mungkin telah menciderai otak kecilnya, kalau-kalau pikirmu, Lucky mengejar Nona ke Ibukota. Kau tahu ia menutup bar penuh praktik prostitusi di 25th Avenue mengubahnya jadi sebuah distro. Ia membuat geram eksekutif Familly Club'. Mereka juga sedang dipusingkan oleh walikota kita yang sangat tertib ditambah ia mungkin terkena sanksi dari pemimpin organisasi mereka karena banyak membangkang selama seminggu ini. Jadi, kupikir, ia tak akan buang-buang waktu mengejar Nona. Aku memasang mata-mata di mana-mana sebab Augusto mungkin pengawal ganda. Ia bekerja untukku tetapi terlihat sangat patuh pada Nona Reinha, terlalu na'if jika percaya padanya saat ini."
"Baiklah. Apakah kita tidak punya jadwal sama sekali di Dream Fashion? Rapat mungkin? Aku harus melihat Enya." Elgio bersandar ke kursi makan.
Abner mengatup telapak tangan dan menopangnya di atas meja makan sementara Bibi Maribel membereskan peralatan makan. Marya berdiri, lepaskan tangan Elgio dan membantu Bibi Mai membenahi meja makan.
"Dengar Elgio, percaya pada Nona Reinha itu, penting. Ia sedang tertekan saat ini. Beri dia waktu! Aku pikir dia serius tidak menyukai Lucky."
"Hanya Tuhan yang tahu. Lucky punya pesona jantan yang bisa bikin wanita berlari padanya dengan sukarela. Reinha masih sangat muda dan aku cemas, ia akan terpesona pada bedebah itu."
Setiap kali nama Lucky Luciano disebut, Elgio selalu makan hati. Ia harus menyeret pria itu ke pertarungan liar dan mematahkan lehernya. Ia menyeringai senang seandainya bisa menghajar Lucky Luciano hingga sekarat.
Abner mencibir, "Kau memang hebat, tetapi Lucky Luciano selalu bisa memancing amarahmu. Kau harus belajar darinya cara mengendalikan emosi."
"Baiklah, kau bisa mengundang keparat itu kemari untuk jadi guruku dalam latihan pengendalian emosi dan kau bisa jadi bantal pelampiasan emosi. Menyenangkan saat aku bisa mematuk wajahmu," jawab Elgio mengangkat bahu menantang Abner, tepat saat Marya kembali ke sisinya.
"Kami pergi. Awasi Enya, Abner!"
Elgio hendak mengajak Marya pergi ke bathroom dan melakukan hal-hal sederhana bersama untuk mengganti kenangan buruk gadis itu. Marya selalu pucat pasi saat ke kamar mandi, napasnya tersengal-sengal meskipun sudah jauh membaik, tidak separah saat ia menemukan Marya beberapa waktu lalu.
"Berhenti di situ, Elgio Durante. Ada hal lain, aku harus bicara serius pada kalian berdua."
Elgio mendongak pada langit dan mengeluh. Abner selalu bertindak di waktu yang tepat guna bubarkan kesenangannya.
"Apa lagi? Bisakah kau kembali ke apartemenmu? Kau berkeliaran seperti nyamuk haus darah. Aku sudah bekerja seharian ikuti maumu. Kami hanya akan nonton film romantis dan mengobrol, Marya akan pulang ke kamarnya saat film selesai."
"Aku pindah ke kamar tamu sejak kemarin. Kau tidak sadar?" Abner melipat tangan di depan dada. "Aku menyitir kata-kata mutiara dari seorang bijaksana, Ali Bin Abi Thalib. Ada dua jenis manusia: pertama mereka yang mencari tapi tidak bisa menemukan, dan kedua mereka yang menemukan tapi masih menginginkan lebih. Kau ada di kelompok kedua, lihatlah kau telah kelewatan mabuk cinta hingga aku harus terus pasang mata dan telinga. Kasihanilah aku yang tua dan lelah ini, Elgio Durante. Aku akan mengundurkan diri jika kau mulai tidak serius dan melenceng."
"Ais, kau ini ... apa maumu? Dulu kau menyuruhku pergi kencan, sekarang aku sungguhan kencan kau selalu mengoceh tak karuan."
"Jangan lewati batas. Ingatlah, Nona Marya akan naik kelas ke tingkat tiga." Mata Abner bergerak memberi isyarat ke arah perut Marya. Elgio melotot padanya.
"Aku mendengarkan, kami sudah membahas berulang kali bersama Marya tentang ini. Aih kau ini, kurasa kau ada di golongan pertama, manusia yang mencari tapi tidak bisa menemukan. Jadi, kau mengganggu orang di golongan kedua."
Elgio membawa lari Marya pergi menapaki tangga sambil terkekeh penuh olok dari atas tangga pada wajah Abner yang menggeram.
"Hei, kau ... Elgio Durante. Awas kau ya ...."
Elgio menuntun Marya ke kamar mandi di kamarnya sendiri, mengamati mimik Marya yang selalu memucat tiap menghadap cermin kamar mandi.
"Baiklah, mari sikat gigi bersama! Kita akan melakukannya bersama mulai hari ini. Tetapi sebelum itu, tarik napasmu dalam-dalam lalu hembuskan. Setiap kali kau merasa bernapas terlalu cepat, pejamkan matamu, tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Lakukan lagi sampai kau merasa tenang," katanya memulai hal yang ia sebut "terapi ala Elgio" itu.
Marya menatap ragu pada dirinya sendiri lalu merasa yakin pada Elgio yang mendukungnya dari belakang. Elgio memegangi tangan Marya membuatnya senyaman mungkin. Ia menghela napas berat ikut pejamkan mata. Tidak bisa dipungkiri ia memikirkan Reinha juga. Mungkin saja adiknya itu kesusahan tidur dalam bis. Ia hembuskan napas kuat.
"Bagaimana? Apa kau merasa baikan?"
Marya membuka mata. Ia mempraktikkan sekali lagi sambil menyimak pantulan raut Elgio di kaca. Beberapa hari ini berkat Elgio, ia merasa bisa atasi masalah dalam jiwanya. Ia menemukan dirinya lebih bebas bersama cinta Elgio.
"Apa kau memikirkan Reinha?"
Elgio menatap cermin hampa,"Ayo mulai! Lalu kau akan membantuku bercukur." Elgio mengambil dua sikat gigi dan berdiri di samping gadis itu. Ia mengoleskan pasta dan menyodorkan pada Marya.
"Apa tanganmu sangat sakit?"
Elgio mengangguk sambil menggosok gigi gunakan tangan kiri. Mereka berbagi tatapan di cermin dan tak mampu menahan geli sebab mereka terlihat lucu saat menyikat gigi. Meskipun demikian mereka selesai dengan cepat. Elgio lantas menyiapkan perlengkapan bercukur.
"Aku biasanya mencukur di pagi hari. Tetapi besok aku mungkin sangat sibuk lagipula tanganku masih sakit, aku tak bisa bercukur dengan benar."
"Apa yang harus kulakukan?"
Elgio mendorong kursi tinggi dengan kaki-kaki panjangnya. Ia duduk di atas kursi dan merengkuh Marya menempel padanya lalu melingkari pinggang gadis itu dengan lengan kirinya.
"Pertama, ambil cream pencukur dan oleskan di area sini. Kau bisa rasakan mereka seperti ini."
Ia membungkus punggung tangan Marya dan mengajak telapak tangan Marya berkeliling di bawah rahang dan dagu hingga ke leher. Marya tersenyum lebar sementara Elgio pejamkan matanya menikmati sensasi sentuhan lembut itu. Ia tak menyangka begitu jatuh cinta pada gadis kecil yang dulu sering bikin dia kesal oleh sebab kadar cengeng gadis itu yang sangat tinggi.
"Apa kau dapati mereka?"
"Ya, mengapa kau hilangkan mereka Elgio? Kurasa mereka membuatmu semakin tampan." Suara Marya tercekat di tenggorokan, menahan desakan hati untuk menyentuh bibir Elgio.
"Begitukah?" Elgio membuka mata dan dapati mata Marya sedang melekat padanya.
"Aku tidak suka berantakan."
"Baiklah." Mary mengoleskan perlahan krim pencukur sementara Elgio terus memandanginya tanpa jemu. Mengungkapkan banyak makna tersurat tentang cinta dan kasih sayangnya pada Marya yang mengalir sebening mata air di pegunungan.
"Emmm, apa aku perlu mengoles krim pencukur ke matamu juga Elgio?" tanya Marya melebarkan senyuman.
Setelah beberapa waktu tangannya memegang tangan Marya dan mulai mencukur kearah yang berlawanan. Marya terlihat sangat antusias. Rona wajah memerah dan matanya berseri-seri serta tak berhenti tersenyum. Ia akan menyimpan momen ini sebagai kenangan terbaik.
"Coba kita lihat hasilnya?" Mereka berbalik pada cermin saat wajah Elgio telah sepenuhnya kinclong. "Lumayan, untuk seorang amatiran."
Marya mengusap pelembab dari gel lidah buaya dan champour, menepuk-nepuk pelan rahang tajam Elgio. Mengusap pelan. sentuhan kulit ke kulit itu berakhir penuh gairah tertahan. Elgio meneguk liur dan jakunnya yang bergerak naik turun membuat Marya tak bisa membendung kehendak lagi. Ia memeluk leher Elgio dan mencium pria itu.
"I love you so much, Elgio Durante."
Manis dan menyenangkan. Elgio mengetatkan pelukan. Ia menggendong Marya dan membawa Marya keluar dari kamar mandi tanpa melepaskan pagutan. Mereka berciuman di tengah kamar dan tidak akan berakhir dengan cepat.
"Apakah kita akan menonton film atau membuat film?" tanya Elgio parau.
Hasrat dengan cepat bersabda dan berkuasa atasnya dan ia sepenuh hati pasrah abaikan teguran Abner yang berkelebat di langit-langit kepalanya. Mata Elgio berkilat-kilat di bawah lampu kamar. Ia mencoba menahan diri tetapi ia gagal. Jadi ia mencium Marya lagi dan lagi.
"Tak jadi menonton film?"
Marya menggeleng, "Tidak. Pergilah tidur. Goodnight, Elgio." Marya mengecup dada pria itu sebelum melerai lengan Elgio dan pergi dari sana.
Wajah Marya sumringah dan ia menepuk pipinya yang memanas saat masuk ke dalam kamar tidurnya sendiri. Ia membuka lemari dan mengeluarkan kotak dari dalam almari. Hati-hati ia menyalakan ponsel tua pemberian Ayah. Ia memencet tombol satu.
Silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut. Beep ....
"Ayah, aku sangat bahagia. Aku tak akan menangis lagi di kamar mandi seperti kemarin-kemarin. Aku akan menjalani terapi dan aku akan sembuh dan akan menikahi Elgio. Ayah, aku sangat bahagia. Kumohon Ayah berbahagialah bersama Tuan Leon di sana. Maaf soal Ibu, aku sangat membenci Ibu. Ia tidak menginginkanku sama sekali dan tak ingin menemuiku. Aku hanya punya Ayah saja dan sekarang aku punya Elgio. Aku sayang Ayah dan selalu merindukanmu."
Marya matikan panggilan dan saat itulah matanya membentur kotak surat di ujung layar, berkedip-kedip, memohon untuk diakses. Marya mengernyit dan membuka pesan itu. Ia terkaget-kaget.
"Aruhi, maafkan Ibu."
"Aruhi, bisa kita bertemu? Ibu merindukanmu."
"Aruhi, kau di mana? Maafkan Ibu, Nak. Aku sangat merindukanmu. Bisakah kita bertemu?"
"Aruhi, Puteriku sayang. Aku sangat merindukanmu dan tak tahu harus bagaimana?"
"Aruhi, Ibumu sekarat dan tak punya banyak waktu. Temui Ibu. Aku sangat merindukanmu."
Ponsel itu nyaris terlepas begitu saja dari tangannya. Ia melangkah mundur hingga terjatuh di tempat tidur tanpa sadar memeluk ponsel.
"Ibu, aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu, tetapi ...."
Ia berlari ke kamar Elgio dan terkejut saat mendapati pria itu tanpa atasan.
"Apa yang terjadi?" tanya Elgio saat melihat mata Marya berkaca-kaca hampir menangis. Bukankah gadis itu pergi dengan wajah berbinar-binar. Mengapa ia kembali dengan air mata?
Marya menyodorkan ponsel pada Elgio.
"Apa ini?"
"Aku sering bicara pada Ayah saat aku sedih dan aku menelponnya tadi untuk berbagi kebahagiaan. Tetapi aku menemukan pesan-pesan dalam ponsel itu."
Elgio bergerak cepat dan meraih ponsel, memeriksa dan tercengang.
"Jadi, nomer Benn dipakai Nyonya Salsa untuk menemukanmu?"
Marya mengangguk tak mampu mengenali gemuruh perasaan yang bertarung di dalam dirinya. Ibu merindukannya juga, tetapi mengapa ...?!
"Dengar Marya! Kau jangan cepat mempercayai ini. Kau lihat sendiri, bagaimana Nyonya Salsa menolakmu kemarin, kan? Jika dia menerima pesan suara-mu dari ponsel ini, berarti dia tahu kau masih hidup. Lalu mengapa dia tak mencarimu? Apakah kau menyebutkan namaku dipesan suaramu?"
Marya mengangguk. Elgio benar, mengapa Ibu tak berusaha menemukannya?
"Baiklah. Kau tak akan menemuinya sekarang, Marya! Aku tak akan ijinkan."
"Elgio, Ibuku sakit dan dia ingin bertemu denganku."
"Bagaimana kalau ini jebakan, Marya?"
"Dia sedang sekarat, Elgio."
"Aruhi!!!" bentak Elgio kasar membuat Marya sangat terkejut. Rahang pria itu membatu, seperti itulah Elgio terlihat kalau sedang marah. Matanya jadi kelabu.
"Bagaimana kau bisa sangat mencemaskan Ibumu setelah apa yang Nyonya Salsa tinggalkan untukmu hanyalah penderitaan?" Elgio bertanya dingin dan ketika melihat Marya sedih, Elgio mengumpat dirinya sendiri.
"A, aku tak bermaksud begitu. Hei, honey." Ia mendekat dan meraih Marya ke dalam pelukannya. "Bagaimana kalau ini jebakan? Kau tak boleh pergi menemui Ibumu sampai aku memberitahumu waktu yang tepat."
Marya mengangguk tetapi telah terlanjur menangis. Elgio berpikir mungkin akan memberitahu Abner dan membahasnya terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Salsa dan Sunny entah mengapa terlihat bukan seperti manusia biasa. Mereka seperti jelmaan iblis.
Sementara Abner menghadap potret Tuan Leon yang sangat besar dalam ruang kerja Elgio.
Ditangannya gadget masih menyala memutar video Reinha Durante dalam bis. Ia menjadi sangat pening menonton rekaman kiriman video dari mata-mata yang disuruhnya menjaga Reinha dari jarak dekat tetapi tak boleh terlihat. Abner tak bisa menerka, apa yang sebenarnya terjadi? Satu hal pasti, mata-matanya di kediaman Luciano telah berkhianat.
Elgio benar-benar akan menghukum Reinha jika melihat video berdurasi sangat panjang di dalam gadgetnya. Bisa jadi, Elgio akan mengikuti Reinha besok pagi dan menembak kepala Lucky Luciano.
"Anak-anak Anda sungguh membuatku sakit kepala, Tuan. Jika begini terus, aku tak akan punya keturunan. Sia-sia saja aku dikaruniai wajah tampan tetapi terus berkerut tiap hari. Aku mohon, tolong jaga Nona Reinha."
Abner mengeluh dan menata bunga dalam vas di depan potret Tuan Leon Durante.
Sementara dalam bis ....
Reinha tidur dalam pelukan Lucky Luciano yang terus-menerus membelai rambutnya. Pria itu menggenggam tangan Reinha, mendekapnya seakan tak akan pernah melihat Reinha lagi. Lucky berbaring dalam temaram lampu bis dan melarang matanya mengantuk. Ia akan menikmati Reinha dalam keheningan dan deru halus mesin bis yang memecah kesunyian malam. Beberapa jam lagi, ia akan berpisah dari Reinha Durante dan mencoba peruntungannya, mengubah takdir untuk hidup secara terhormat. Ia melingkari tangan Reinha dengan gelang GPS tracker. Tanpa sengaja telah membuat Reinha terjebak padanya. Ia akan menjaga gadis itu dari jauh. Reinha siuman dari tidur lelapnya.
"Aku yakin kau menaruh sesuatu dalam makananku hingga aku sangat mengantuk dan sangat lemas," sergah Reinha berat. Ia mencoba melawan kantuk yang menyerangnya dengan sangat ganas. Bulu-bulu matanya seakan tertempel perekat. Aroma maskulin Lucky menyentuh hidungnya dan ia telah bersandar penuh pada pria itu.
Tunggu sampai Elgio melihat ini. Kau sudah tamat, Enya. Ia mengerang tak berdaya dalam hati.
"Ya, tetapi bukan bius ... cuma obat anti mabuk dosis tinggi. Kau sangat berisik, jadi aku perlu membungkammu."
"Kau memang penjahat."
"Tapi kau mimpikan aku dalam tidurmu," sahut Lucky eratkan pelukan dan mengelus jemari Reinha sebelum kembali menggenggamnya. Semoga malam ini tak pernah berakhir.
"Enyalah sebelum mencapai Ibukota atau Elgio akan hancurkan wajahmu. Kau tak akan bisa menggoda wanita lagi tanpa hidungmu," bisik Reinha lirih hampir kehilangan kesadarannya secara utuh. Ia bahkan tak sanggup menarik tangan dari genggaman Lucky. Ia lemas oleh mabuk tidur parah.
"Kau satu-satunya yang ingin kugoda, Enya."
"Kau brengsek gila ...."
******
Besok mungkin telat Update, sebab Author harus mendorong beauty case dan mencari sesuap nasi.
Semoga suka Chapter ini. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya.