
"Kau tahu Reinha ... " ucap Claire lirih, "saat kami kecil, Lucky dan aku ditinggalkan oleh pembunuh orang tua kami di sebuah terowongan kumuh."
Reinha tidak yakin ingin dengar, tetapi Claire yang ceria bernada turun dan emosional saat bercerita. Mereka di kantin menunggu Ethan, Marya dan yang lainnya sebab Ibunda Ethan mengirimkan makanan dan banyak cookies ke sekolah untuk santap siang, merayakan ulang tahun remaja lelaki itu. Mereka menundanya dari jam istirahat hingga kelas berakhir agar bisa seru-seruan tanpa was-was pada bel masuk kelas.
"Lucky menyembunyikan aku di lorong sangat gelap dan ia pergi mencari makanan untukku. Kami tak pernah seperti itu sebelumnya. Orang tuaku adalah orang berada dan kami hidup sangat berkecukupan. Kami tak pernah makan makanan sampah sampai hari itu, Lucky membawakan aku pastel de nata sisa, entah dipungutnya dari mana. Aku dilarang keluar dari sana sebab anak-anak di terowongan itu sering diperjual belikan pada pedofilia, jadi, aku meringkuk sepanjang hari di antara bau kotoran orang. Aku tak diijinkan menangis sebab jika aku lakukan itu, persembunyianku diketahui dan kakakku tak akan bisa selamatkan aku dari perdagangan manusia. Lucky memberitahuku bahwa kami tak boleh menangis meski kami sangat sedih sebab keadaan kami akan bertambah buruk dan kami mungkin akan berpisah. Ia bekerja pada seseorang yang menguasai terowongan, jadi penjahat kecil dan mendapat sedikit uang untuk membelikanku makanan dan selimut. Kau tak tahu, ia jadi penjahat saat usianya belum 10 tahun karena keadaan."
Claire tanpa sadar menangis. Gadis itu selalu ceria tanpa beban tapi ternyata ia juga punya luka masa kecil. Mereka hidup di negara di mana pemerintah berusaha keras mengendalikan mafia dan jaringannya yang seakan tak pernah berakhir dari masa ke masa. Jika kau berpikir bahwa mafia itu keren, kau salah sobat, itu hanya ada di dunia khayal. Mereka itu sangat kejam.
"Suatu hari, Lucky bertemu Tuan Mendeleya, ayah Pequeena. Pria itu menolong kami, ia menebus kami dengan bayaran yang sangat mahal dan membawa kami ke kediamannya. Sejak itu kami dibesarkan olehnya hingga Lucky dewasa dan bisa menghasilkan uang sendiri. Orang tua Queena menghilang beberapa Minggu lalu dan Queena disandera. Ia juga telah dinodai hingga hamil. Kau tahu, aku pikir kakakku tidak bermaksud menyakitimu. Ia sangat mencintaimu. Aku mengenalnya dengan baik, Reinha. Ia berhenti jadi jahat agar pantas bersamamu. Kuharap kau tak begitu sakit hati padanya sebab ia terus bersedih belakangan ini."
"Apa dia memintamu memberitahuku ini?" tanya Reinha. Ia memikirkan Lucky Luciano sepanjang siang. Ya Tuhan, ia masih di tingkat tiga sekolah menengah atas dan jatuh cinta setengah mati pada seorang Lucky Luciano.
"Aku pikir, kau harus tahu, mengapa ia berkata ingin menikahi Queena? Aku tak benarkan tindakannya, tetapi jika berada di posisinya, mungkin aku akan lakukan hal yang sama meskipun aku harus korbankan kebahagiaanku. Ia hanya ingin, Queena tak dipermalukan. Kau tahu, Queena adalah seorang dokter muda dan kehidupannya telah kacau karena dihamili penculiknya yang salah target."
Reinha menggeleng lesu, "Lucky bisa bicara padaku dulu, Cla. Aku percaya padanya, aku mencintainya. Dia itu kekasihku."
"Semoga kalian membaik. Kau tahu, ketika tahu ia sangat jatuh cinta padamu, aku sangat senang karena kau sahabatku."
"Eh, kau hamil Cla?!" Abram Hartley yang baru datang menginterupsi kemudian tertawa terbahak-bahak, "Ya Tuhan, kau memang payah dalam hal menjaga diri. Aku ingin tahu berandal mana yang sebabkan kau hamham. Ya Tuhan, kau itu masih anak kecil. Apa dia pe ...."
Claire menghapus air mata sebelum membelalak jengkel pada Abram, "Eh?! Kau bermasalah dengan indera pendengaranmu, Abram Hartley. Cobalah periksa ke ahli THT jangan-jangan sumbatan serumen (kotoran telinga) menumpuk berlapis-lapis di dalam sana. Kau tahu itu bisa menyebabkan otitis media supuratif kronik (congek) permanen. Tidak congek saja kau susah dapat pacar apalagi kalau sampai permanen? Kau mungkin akan jadi pertapa."
Abram berengut, "Kembali dari liburan mulutmu makin sadis. Bagaimana kalau kau saja yang periksakan aku, Cla?" Abram mendekat pada Claire dan condongkan kuping. "Apa kau melihat tumpukan kotorannya?" tanya Abram semakin merusuh.
"Eeeeuuuuu ... jorok ... jorok ... ke sana kau berandal!" pekik Claire memukuli Abram dengan kotak tisu. Abram meringis kesakitan.
"Ramai sekali," kata Marya bergabung di meja, tersenyum geli melihat tingkah teman-temannya. Ia tak pernah merasa bersemangat pergi ke sekolah seperti saat ini. Untuk pertama kali ia sangat-sangat mencintai sekolahnya ini.
"Hai semua!"
Ethan muncul tak berapa lama kemudian mengambil tempat dekat Marya. Cowok itu menopang dagu dan menatap Marya terang-terangan suka. Ia melamun jauh.
"Oh Tuhan, aku berharap di umur 18 tahun bisa berkencan dengan Marya Corazon. Apa ini? Aku malah diundang ke pernikahannya."
Ethan Sanchez berkeluh kesah tak menyadari Reinha Durante meraih kotak tisu dari tangan Claire dan memukul topangan tangan Ethan hingga dagu Ethan tersungkur di meja makan.
"Menjauh darinya Ethan! Atau ...."
"Ya, baiklah." Ethan angkat tangan. "Atau Elgio yang temperamental akan ratakan hidungku. Nah, coba lihat apa yang Ibuku kirimkan?"
Marya terkekeh geli sedang Claire dan lainnya tertawa besar saat Ethan membuka kotak kue dan wajah lucu Doraemon nongol di sana ditemani berkeping-keping Dorayaki.
"Kue ulang tahun apa ini? Doraemon? Berapa usiaku kini, hingga kue ulang tahunku model begini?" keluh Ethan menyingkirkan kue ulang tahun itu dari hadapannya.
"Untung kau tak punya pacar. Jika tidak, kau bisa disangka Nobita Nobi," celetuk Abram geli.
"Kau benar," decak Ethan miris tak berselera melihat kue ulang tahun berwarna biru itu.
"Ibumu lupa kalau kau telah dewasa dan tidak menonton kartun lagi," ujar Marya masih geli.
"Sepertinya aku tetap balita di mata Ibuku, huh?" Ethan membuka kotak lain. "Ada chocolates roll tart dan coffee culture, em, sepertinya ini khusus untuk Reinha. Ibuku berharap kau jadi pacarku, Reinha Durante," kata Ethan Sanchez mengedip pada Reinha. Ia menjulurkann tangannya hendak menyentuh Reinha. Remaja itu mendadak genit, "Ibuku benar-benar menyukaimu. Kau saja jadi pacarku, ya?"
"Eh, menjauh darinya Ethan Sanchez!" kotak tisu telah berpindah kembali ke tangan Claire dan Ethan mendapat dua ketukan keras di tangannya dari Claire.
Ethan mendesah jengkel, "Apa ini? Kalian seperti jadi "pengawal kekasih kakakku"? Teman sekelasku adalah kekasih kakakku?!"
"Tidak begitu rumit ketimbang belajar matematika," sahut Abram dan duduk di samping Claire. "Dan sahabatku adalah kekasih pengawalku," ejek Abram Hartley.
"Eh?! Apa maksudmu?" tanya Reinha dan Claire barengan.
"Bukankah kau berkencan dengan pengawal Reinha, Claire Luciano? Aku melihatmu berciuman dengannya di depan minimarket menuju Durante Land," celoteh Abram hingga wajah Claire merah padam. "Kupikir kau hamham dengan pengawal Reinha Durante."
"Benarkah Claire?!" Reinha menyipit. "Jadi, pengawalku sekarang agen ganda?"
"Itu tidak benar Reinha!" Claire memelototi Abram yang segera menjauh. "Kau ini, mau mulutmu kugoreng dalam minyak panas?" Kotak tisu nyaris melayang di kepala Abram.
Marya tak berhenti tersenyum geli. Mereka sangat lucu.
"Em, aku dan Reinha harus segera pergi," kata Marya. "Jadi, bisa kita mulai?"
"Baiklah," kata Ethan. "Apa aku harus meniup lilin? Jiwa cool-ku seakan tercoreng."
"Ya ... lakukan!" jawab mereka kompak. Ethan meniup lilin di atas kue Doraemon merasa geli sendiri. Ia seperti anak 5 tahun.
"Selamat ulang tahun Ethan Sanchez. Semoga kau menemukan kekasihmu, Shizuka Minamoto."
***
Elgio menunggui Marya di halaman sekolah. Agak kesal saat Ethan mengikutinya dari belakang melangkah sejajar dan bicara dengan Marya. Saat Ethan berbalik dan melihatnya, remaja itu melambai menyapa. Elgio tak membalas. Ethan berbalik pergi dan Elgio mengembang senyuman saat melihat Marya berlari-lari kecil padanya. Abaikan teman-teman satu sekolah yang memandang iri, Marya mendatangi Elgio dan memeluknya.
"Hei ... hei ... ada apa ini? Apa kau melakukan kesalahan dan sedang menyogokku atau apa?"
Marya tersenyum kecil dan berguman, "Aku tak suka mereka memandangimu."
Elgio terkekeh senang kekasihnya cemburu, "Ya baiklah. Nanti aku akan datang gunakan topeng ninja agar tak ada yang melihatku. Aku juga akan memakai mantel panjang agar bokongku tersembunyi." Masih tersenyum kecil. Ia ingin bertanya, mengapa Ethan mengejar Marya tetapi ia merasa sangat idiot jika cemburu lagi. Jadi ia berkata, "Ayo, kita pergi."
"Kita tak menunggu Reinha? Dia masih di dalam!" kata Marya.
"Augusto bisa menjemputnya nanti. Kita akan pergi ke makam Ayah dulu dan baru ke rumah Ibumu."
Seakan tahu ia ditunggu, Reinha berlarian dari dalam gedung sekolah."
"Hai Kak, aku ikut," sapa-nya langsung masuk ke dalam mobil. Duduk tenang di samping Augusto.
"Kau melarikan diri dari Lucky Luciano? Ia akan datang untuk seminar lanjutan," ujar Elgio heran.
"Tidak. Kurasa hubungan kami sudah berakhir," jawab Reinha menyimpan derita.
"Benarkah?"
Akhirnya hubungan yang pincang itu tutup buku. Namun, sesuatu mengganggu Elgio. Adiknya patah hati dan Elgio tak suka itu. Saat bersama si brengsek Lucky, Reinha bersinar ceria bak mentari.
"Apa kau senang sekarang, Kak? Aku akan mengejar Giuseppe Gustav. Pria itu juga pria pusaka sama sepertimu, jadi aku akan mewarisi seluruh hartanya saat dia mati," ujar Reinha terdengar seperti membaca sajak patah hati yang sangat ironi. Ia sangat sensitif hari ini. Itu semua karena Lucky mungkin benar-benar serius dengan kata-katanya. Pria itu pergi setelah menurunkannya di sekolah dan Reinha mengirim pesan untuk bertemu sepulang sekolah tetapi Lucky tak menanggapi.
"Enya?! Kau menyalahkan aku? Apa Lucky menyakitimu?!"
"Lupakan saja! Aku hanya mengeluh, tak berharap ada yang mendengarku. Lucky Luciano juga pria pusaka, satu-satunya Luciano yang tersisa, tetapi dia tak punya kekayaan warisan pusaka sebab kedua orang tuanya dibunuh ketika mereka masih kecil. Sayang sekali ...."
"Hei Enya ... Apa yang kau bicarakan?"
Reinha tak menanggapi, ia memakai kacamata gelap dan bersandar. Gadis itu diam-diam menangis, bingung pada suasana hati yang penuh dilema, apa yang harus dilakukan? Bagaimana jika Lucky menyerah dan pergi?! Ia terjebak pada marah dan ketakutan kehilangan Lucky, belum pernah merasa seburuk ini.
Mereka akan keluar dari gerbang sekolah ketika Lucky Luciano menunggangi motor dan merintangi mereka. Pria itu turun dari motor dan melepas helm. Ia mendekati mobil.
"Ya Tuhan, brengsek ini ... haruskah anarkis begitu?" Elgio mendengus kesal saat melihat kelakuan urakan itu. Lucky mengetuk kaca mobil.
"Haruskah kau bertingkah menyebalkan begitu?" serang Elgio.
"Maafkan aku, Elgio. Biarkan aku membawa Enya."
Sementara Reinha tampak sangat terkejut dan melepas kaca mata hingga Lucky begitu terpukul melihat muka sembab gadis itu.
"Aku tak membalas pesanmu sebab kupikir lebih baik kita bicara langsung."
"Pergilah dan selesaikan kisah kalian! Aku tak akan ikut campur meski nanti kau patah hati, Enya," gerutu Elgio.
Lucky dan Reinha terlihat saling mencintai sangat-sangat mendalam dan Elgio bingung tentang kisah mereka. Adiknya yang sempurna jatuh cinta pada pria berantakan seperti Lucky Luciano, hanya Tuhan yang tahu akhirnya.
"Kau akan mengantarnya ke Paviliun Diomanta sebelum makan malam, Lucky! Kami akan menunggu di sana!"
Lucky mengangguk dan menunggui Reinha hingga turun, memakaikan Reinha helm dan mengaitkan pengaman. Reinha naik di boncengan dan memeluk Lucky erat. Mereka menghilang dengan cepat. Elgio memijat keningnya. Ia harus mulai terbiasa melihat Lucky Luciano kelayapan di dekatnya.
"Aku mempekerjakan pengawal yang tak setia padaku!"
"Maafkan aku, Tuan. Aku sangat menyesal," sahut Augusto paham kata-kata itu merujuk padanya, ia melirik spion kepada Elgio seraya membungkuk minta maaf.
"Tak ada guna lagi."
Kendati demikian Elgio harus memberitahu Lucky Luciano agar menghentikan aktivitas jahatnya dan tidak menyeret Reinha. Wajah Elgio berubah muram.
"Jangan bersedih Elgio. Semuanya akan baik-baik saja!" kata Marya menghiburnya.
"Aku harap begitu."
Mereka mampir di Hadriana Florist sebelum pergi ke Heaven Memorial Hills. Tangan Marya digenggam dalam kantung mantel saat mereka melewati makam-makam. Elgio suka melakukan itu sebab tangan Marya sangat pas dalam tangannya. Suasana menjadi sangat mendung untuk keduanya. Suatu waktu Elgio duduk di makam hingga menjelang sore. Ia telah ditinggal seorang diri. Ayahnya mewarisi Durante Land dan banyak harta tetapi Elgio merasa tak lengkap tanpa Ayah. Ia menyesal karena sangat bandel sewaktu ayah masih hidup.
"Hai Ayah ... hai Benn ... " sapa Elgio dan menaruh kembang di atas makam. Terakhir kali datang, ia putus asa mencari Aruhi dan Ayahnya mungkin sedang mengolok-olok dari atas sana sebab Elgio sama sekali tak menyadari keberadaan Aruhi di Durante Land selama bertahun-tahun.
"Hai, Ayah Leon? Apa kabarmu?" tanya Marya lirih. Ia mengangkat wajah menatap langit sore. Setiap kali menaruh bunga di makam Leon Durante, Marya selalu mengenang pria itu sebagai malaikat penyelamat yang baik hati.
"Hai Ayah ... aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Tangisan Marya tercekat di ujung tenggorokan, kelopak mata memanas dan ia mulai terisak.
"Apa kabarmu, Ayah?"
Wajah Ayah sangat tampan saat hendak bekerja dan senyuman hangat Ayah selalu penuh kedamaian. Ayah yang lembut dan penuh cinta, Ayahnya yang luar biasa.
"Kau tahu Elgio, aku tak pernah makan mie instan. Aku pernah sangat kelaparan sewaktu kecil dan ketika Ayahku pulang tengah malam, beliau membuatkan aku mie instan."
Elgio memeluknya menghadap makam, "Ketika mereka pergi, hanya kenangan yang bisa kita simpan untuk obati rindu. Hmm?!"
"Aku merindukannya, sangat."
"Benn, pria yang baik."
Marya mengangguk, "Berbahagialah di sana, Ayah, hanya itu satu-satunya cara untuk mengurangi kesedihanku."
Jika Ayah masih hidup maka Ayah akan mengenakan jas hitam mengkilap yang hebat di hati pernikahannya. Dengan rambut licin serta wajah berseri-seri, Ayah akan mengaitkan tangannya ke lengan Ayah dan menemaninya menuju altar. Ayah akan mengurangi kegugupannya menghadapi pemberkatan. Sayang disayang, Marya akan melangkah sendiri nanti seperti yang sudah-sudah, tanpa Ayah.
"Jangan menangis lagi!" bujuk Elgio. "Benn akan sedih jika kau terus menangis." Pria itu mengusap lengan Marya untuk menenangkan sedih hati.
Banyak yang ingin Marya ceritakan pada sang Ayah. Tentang Ibu ... Marya ingat Ayah pernah bilang, -jangan membenci ibu tetapi jangan percaya pada Ibu, tetapi Marya yakin bulat bahwa Ibu telah berubah. Marya bisa rasakan dengan hatinya. Ibu sungguh menyesali masa lalu.
Mereka kembali dalam diam, waktu berlalu dan manusia memang ditakdirkan menghadapi kematian. Hidup ini cuma ada satu kepastian, melangkah menuju kematian. Entah kita menguburkan seseorang atau kita dikubur oleh seseorang. Tak ada yang abadi.
***
Semoga Suka ya.... Jangan lupa Vote aku yah tiap hari Senin....