Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 110 If I Let You Go ....



Elgio mengejar Marya ke Paviliun Diomanta, berhenti sejenak di taman kota dan tenangkan pikiran. Ia tak bisa hadapi Marya dengan kemarahan yang sama sebelum kembali lajukan mobil. Suasana rumah lengang seperti biasa, mungkin akan berubah besok saat Arumi pulang. Ia masuk ke dalam kamar dapati Marya masih berkutat dengan buku-buku pelajaran.


"Apa kau sudah makan, Elgio?" tanya Marya pelan. Mereka marahan tetapi ia tak boleh biarkan Elgio kelaparan apalagi di rumah Ibunya.


"Belum, Marya," sahut Elgio berdiri di ambang pintu serba salah meski bersyukur Marya akhirnya bicara. Ia ingin pengertian pada Marya pada kondisi sensitif gadis itu. Betapa ia mencintai Marya yang bicara padanya tanpa alihkan perhatian dari buku di hadapannya.


Marya berhenti belajar, lepaskan kaca mata dan berdiri datangi Elgio. Tanpa banyak bicara ia lepaskan dasi dan mantel pria itu lalu jas kerjanya.


"Pergilah mandi lalu kita makan bersama."


Mendorong Elgio ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu. Marya masih di sana saat shower menyala, kendalikan suasana hati yang sangat buruk. Problematika ini bermula dari Elgio sembunyikan seorang wanita dan seseorang itu adalah Irishak Bella. Demi apapun, ia benci pada Irish, meski tak punya tatapan suka yang terang-terangan, ada sesuatu pada Irish yang sangat mengganjal Marya.


"Baiklah, cukup sampai di sini, Marya!"


Elgio tak beritahu dirinya karena itu tak penting. Itu berarti, Irish tak penting atau Marya tak penting tahu sebab bukan hal penting. Marya sulit menerima. Ia hela napas panjang, kuat dan dalam sebelum hempaskan perlahan. Tetapi Elgio bersumpah tak bersama Irish dan tak bertemu wanita itu. Masalahnya selesai, mengapa hatinya tak ingin pahami? Ia sangat-sangat cemburu. Oh apa ini? Keluh Marya kesal. Mereka bertengkar hebat hari ini soal Irish.


"Ya Tuhan, apa susahnya Kau kirimkan Irish jodohnya sendiri agar dia tak menganggap Elgio kekasih masa depannya," gerutu Marya menatap loteng berharap Tuhan kabulkan doanya.


Memori Marya melayang jauh mengingat betapa Elgio telah lakukan banyak hal untuk buatnya bahagia. Ia cukup melukai Elgio hari ini dengan curiga.


Marya siapkan pakaian ganti Elgio dan kembali ke pintu kamar mandi. Elgio punya banyak masalah di kantor dan ia curigai suaminya pergi dengan Irish. Marya mengetuk kepalanya sendiri. Apa yang telah ia lakukan? Kembali mengetuk keningnya sendiri dan terkejut saat pintu kamar mandi mendadak terbuka. Elgio keluar dengan handuk yang lingkari pinggangnya.


"Maafkan aku karena berlebihan padamu," ujar Marya menunduk terpekur pada jari-jari kaki Elgio. Ia bicara sangat kasar dan tidak-tidak pada Elgio karena terbakar marah dan cemburu. Wajahnya terangkat dan mata mereka bertemu. Raut tampan dan mata yang bersinar kelabu sungguh perpaduan menyegarkan untuk dinikmati mata cokelatnya. Tak menolak hanya merekah dengan berdebar-debar ketika Elgio menyahutinya dengan kecupan ringan di kening. Kemudian pria itu membungkuk dan mencium bibirnya. Butiran air jatuh dari rambut yang masih basah. Saat rambutnya berantakan, pria itu sungguh seksi.


Elgio merengkuh pinggang Marya hati-hati sebelum menciumnya lagi pelan-pelan, lebih lama sebagai kalimat ganti untuk, mari baikan. Pria itu menggendong sang wanita dengan satu lengan pergi ke ranjang dan mencumbunya di sana. Mereka lalui hari-hari yang buruk dan Irish adalah ujian cinta. Mestinya mereka tidak goyah dan terpancing sebab mereka berdua sama-sama tahu, tak akan sanggup hidup jika terpisah satu sama lain. Mereka ditakdirkan seperti sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang mata.


"Harusnya aku lebih pengertian dan lebih sabaran," ujar Elgio.


Bagaimanapun ia lebih tua dari Marya dan wanitanya itu sedang mengandung. Sudah beberapa minggu ini Marya alami banyak guncangan suasana hati. Karena takut lukai si jabang bayi, juga banyak sekali interupsi yang terjadi, ditambah Marya harus giat belajar, Elgio tak pernah lagi menyentuh istrinya. Padahal, mereka butuh hal-hal bergairah yang romantis dan mesra untuk redakan stress, mood yang lebih baik juga ikatan yang lebih solid di antara mereka. Ia meraih pergelangan tangan Marya dan tempelkan bibirnya di sana, pejamkan mata dan rasakan detak nadi gadis itu seakan mengisi ulang energi dirinya dengan denyut Marya. Ketika mata terbuka, ia tersenyum pada Marya yang hanya perhatikan tingkahnya tanpa ingin bertanya.


Sepenuh hasrat Elgio buat kejutan setelah kecupan ringan, melompat dari satu titik ke titik lain yang tidak biasa hingga kecemburuan Marya menguap tanpa bekas hanya sisakan tiga kata krusial dan satu tanda baca, mereka saling memiliki. Menunda rasa lapar, Elgio mengajak Marya mengembara bersama dengan sangat hati-hati meskipun menggebu-gebu seperti lahar panas, berharap setelah bercinta, mereka akan merasa lebih baik, lebih bahagia, lebih positif dalam hubungan dan berhenti saling cemburui satu sama lain karena itu cuma buang-buang energi.


Malam merambat dan dinding-dinding Paviliun Diomanta lebih jadi saksi bisu untuk percintaan keduanya dibanding rumah mereka di Durante Land.


"Apa kau sudah makan?" tanya Elgio berat mendekap Marya dan mengelus perut yang tidak terlihat bengkak. Ia juga sangat bersalah pada istrinya itu. Berjanji tak akan sembunyikan apapun dari Marya lagi.


"Belum," sahut Marya dan Elgio mendesah kecewa, tak sukai jawaban itu tapi tidak berniat marah. Mereka baru saja baikan.


"Bagaimana dengan Ibu?" tanyanya lagi di kepala Marya.


"Ibu sudah makan dan sedang tidur. Aku pikir kau pulang ke Durante Land. Maafkan aku membuatmu gusar," kata Marya pelan terdengar menyesal. Bayangkan akan tidur sendirian buatnya gundah gulana. Ia terbiasa tidur dalam dekapan Elgio dan malam akan terasa sangat menyiksa jika pria itu tak di sisinya.


"Tidak, Marya. Kau tak bisa tidur tanpa aku. Jadi, tak mungkin kutinggalkan kau sendirian," sahut Elgio ingin Marya berhenti menyesali sikapnya sendiri.


"Bisakah kita bangun? Kau harus makan, Marya!" Elgio masih mengusap perut Marya pelan sebelum berhenti dan menarik Marya bangun.


Marya kembali kenakan kemeja kedodoran dan legging hitam. Rambutnya digelung asal-asalan dan wanita itu selalu cantik memesona. Mereka pergi ke ruang makan.


"Duduklah!" suruh Elgio saat mereka sampai di ruangan makan buat Marya mengerut. Seorang asisten rumah tangga tampak bersiap-siap di meja makan, hidangkan makanan. Pria itu mengisi piring sebelum sodorkan pada Marya. "Kau boleh marah padaku atau kesal padaku, tapi jangan lupa kalau kau punya seseorang yang harus selalu diperhatikan di dalam sana."


Marya mengangguk. "Maafkan aku!"


"Makanlah, Marya! Maafkan sikap kasarku padamu!"


Aroma ruang makan adalah aroma lemon yang sangat kental. Marya makan dibawah pengawasan Elgio. Saat perut kenyang, otak lebih maksimal bekerja dan setelah bercinta, keduanya semakin ingin berduaan. Mereka beralih ke ruang belajar di lantai atas tetapi Elgio tak ijinkan Marya belajar hanya menarik Marya duduk di pangkuannya dan ikuti saran Ethan Sanchez untuk sering-sering mengajak si bayi bicara. Tak percaya keparat itu mengajarinya banyak hal.


"Maaf harus dengarkan pertengkaran orang tuamu. Kau bahkan telah dinamai Baby Cute oleh sahabat Ibumu. Aku akan bacakan dongeng sebelum tidur untukmu dan jangan coba-coba dengar suara lain selain suaraku!" ujar Elgio panjang pada si bayi yang berada dibalik perut datar sang istri. Ia terhasut kata-kata Ethan Sanchez. Marya mendelik pada Elgio, tak percaya suaminya mengancam bayi mereka. Ia tak tahan lucu. "Kita akan segera bertemu sebentar lagi sebab kami akan kunjungi dokter kandungan dan menjengukmu," kata Elgio lagi memeluk Marya.


"Apa tidak terlalu cepat Elgio?" tanya Marya berdebar-debar. Mereka akan melihat bayi mereka di layar USG, bayangkan itu, Marya jadi sangat gembira. "Dia mungkin masih sangat kecil," ujar Marya antusias.


"Ya, tetapi dia akan segera membesar dan perutmu akan bengkak. Kau akan meledak-ledak macam tadi dan aku akan jadi pesakitan," keluh Elgio pura-pura muram.


"Aku akan berusaha lebih keras mengontrol emosi. Apa aku harus berhenti sekolah saat perutku membesar?" tanya Marya terdengar pasrah. Ia tak mungkin ke sekolah dengan perut melendung.


"Em, ya. Aku akan carikan guru untukmu. Maafkan aku!"


Marya mendongak pada Elgio dan terhibur saat pria itu menciumnya seakan tak puas bersamanya tadi di kamar. Marya berbalik pada Elgio dan membalas pria itu. Entah apa yang terjadi setelah ini, Marya tak berharap ada lagi salah paham. Ia akan menggugah rasa cinta Elgio padanya, besok atau lusa dengan cara yang masih ia pikirkan.


***


Sementara di sebuah Apartment ....


Irish menutup diri dan menolak semua panggilan masuk termasuk dari walikota yang ingin bertemu, dari kejaksaan dan dari pihak penyidik. Ia berhenti menonton berita dan hanya terbaring dalam kegelapan untuk pulihkan dirinya sendiri. Niatnya untuk kabur terhalang kondisi tubuh yang down dan drop. Jiwanya masih bisa bangkit dan menyemangatinya, tetapi tubuh terluka terlalu dalam hingga hanya ingin beristirahat. Ia tak mungkin pergi visum dan menuntut Hellton, keparat itu. Tiap mengingat perlakuan Hellton padanya Irish gemetar oleh murka dan benci.


Carlos Adelberth datang dengan rutin memasak makanan untuknya, tawarkan bantuan untuk memanggil dokter tapi Irish menolak. Carlos tampak terpukul melihat Irish kesakitan seperti itu.


"Irish, aku akan memanggil seorang asisten untuk menemanimu. Kau tahu, aku harus pergi," ujar Carlos duduk di sisi pembaringan perhatikan wanita yang lemah tak berdaya itu.


"Apa kau kembali ke Gaza?" tanya Irish ingin ikut.


"Tidak, Irish," jawab Carlos terdengar lesu. "Sesuatu terjadi pada Oriana Fritelli dan aku harus mencarinya."


Meskipun sangat tidak menyukai Oriana Fritelli dan kata-kata setajam belatinya, Irish terganggu dengar kabar teman-teman seprofesinya menghilang.


"Di mana Oriana, Carlos?"


"Oriana pergi menemui ketua sepa*ratis, panglima perang pembebasan di ujung pesisir Timur, Thomas Adolfus. Oriana berkeyakinan Thomas libatkan anak-anak lokal dalam peperangan dan ia pergi untuk caritahu kebenaran tentang perekrutan itu. Sepertinya Thomas sangat tersinggung pada sikap abrasif Oriana. Ia digudang pasok fasilitas penyimpanan dermaga ketika sebuah serangan terjadi di sana dan Oriana menghilang. Aku benci pada sikap tanpa kompromi dan gigih yang kalian berdua punya. Bisakah kalian hanya meliput berita di industri hiburan? Wawancarai sutradara atau bintang film lebih aman, ketimbang soroti fasisme dan rezim apalagi mengejar-ngejar kejahatan Mafia. Kau bukan wonder woman yang punya kekuatan supernatural, Irish. Kau bisa dibunuh mafia jika ceroboh dan mereka sangat terlatih untuk menemukanmu meski kau bersembunyi di gua batu."


Irish tak bisa menyangkal, perkataan Carlos memang benar.


"Lupakan soal aku, bagaimana cara kau temukan Oriana?" Irish pernah alami hal itu. Diculik ******* dan dibawa ke kamp pelatihan mereka. Ia tak makan berhari-hari dan nyaris diperkosa, beruntung Carlos menemukannya. Tetapi kini, ia tetap saja diperkosa oleh orang yang ia singgung.


"Adolfus minta tebusan pada pemerintah untuk nyawanya. Tebusan yang tak masuk akal. Uang tebusan akan dipakai mereka untuk memasok senjata ilegal dan menyerang pemerintah. Kau tak melihat berita? Negara kita baru keluar dari krisis dan negara tak bisa sia-siakan ratusan juta Euro untuk seorang peliput berita meskipun wartawan sepertimu mengabdi untuk negara. Kau hanya akan mati sebagai martir dan dikenang sebagai pahlawan negara. Atasanku, ijinkan aku menghilang selama 72 jam untuk selamatkan Oriana sebab militer kita tak bisa terlibat secara resmi, Irish."


"Kau sendirian?" Irish tahu Carlos sangat hebat tetapi kelompok sepa*ratis adalah warga negara yang sakit hati dan bergerak dengan pedoman dibawah hasutan pihak-pihak tertentu untuk memberontak. Mereka terkadang tak punya nurani, menganggap siapapun yang menyinggung mereka adalah musuh. Mereka sangat sensitif.


"Tidak, aku akan bentuk tim malam ini. Aku harus pergi ke penjara untuk bawa Lucky Luciano keluar dari sana dan ikut denganku. Pria itu tak punya rasa takut, ia memegang senjata sejak berumur 13 tahun dan sangat berpengalaman. Aku rekomendasikan dia pada pemimpin untuk ikut denganku. Sebagai imbalan ia akan dapat keringanan hukuman." Carlos menatap Irish menimbang apakah ia perlu beritahu Irish. "Kau akan terima demo militan Irish karena menyeret Lucky Luciano. Pria itu dicintai masyarakat satu kota dan orang pinggiran sangat memujanya karena dermawan," kata Carlos akhirnya. "Nona Reinha Durante meminta dukungan doa tiap malam di daerah pinggiran dengan buka layanan sosial untuk tunawisma dan anak-anak terlantar. Ia mengurus mereka di sana pada malam hari dan bersekolah di pagi hari."


"Atensi publik?" sindir Irish makin pening. Ia tak suka pada Reinha Durante juga pada Aruhi. Buruk, sebab Aruhi Diomanta, istri Elgio Durante adalah ponakan Hellton Pascalito.


"Tidak, aku mengenal Durante dengan baik, aku berasal dari sana Irish, Durante Land. Mereka hanyalah orang-orang rendah hati yang punya style down to earth. Dari Tuan Abner aku tahu kalau Reinha Durante lakukan hal semacam itu bahkan saat bayi Lucky Luciano dan September lahir," kata Carlos.


"Kau tak bisa abaikan kejahatan Lucky Luciano, Carlos! Kupikir dunia akan buka mata," keluh Irish. Ia tak mungkin mampu melawan Reinha Durante. Seumur hidup malang melintang di jagad jurnalis, baru sekali ini ia bertemu dua gadis yang sangat cerdas dan sangat mengagumkan. Reinha Durante dan Nyonya Durante. Ia punya semacam takdir yang aneh dengan Durante Land dan Diomanta.


"Lucky Luciano sangat kontroversial bahkan tak jarang menentang tata Krama Mafia, mendobrak aturan mereka yang dogmatis. Ia kirimkan bantuan yang dibutuhkan berulang kali pada pemerintah di masa-masa sulit saat terjadi pergolakan sementara kita sibuk terjebak di tengah konflik negara lain. Pemerintah mungkin pertimbangkan itu. Kini ia akan dimintai pertolongan sekali lagi dan akan terima kompensasi, semacam bebas bersyarat. Mungkin akan bayar denda pada Negara, entahlah, aku menebak. Tetapi, kau tak bisa menghilang Irish, kau akan tetap berdiri di pengadilan jadi saksi. Sayangnya, banyak yang akan bersaksi melawanmu nanti untuk ringankan Lucky Luciano."


"Aku putuskan tak akan pergi ke pengadilan! Kau akan kembali dan membawaku keluar dari sini. Aku rindukan Islandia dan ingin hidup dengan tenang di sana."


"Apa karena pria itu?" tanya Carlos Adelberth dan saat Irish tak menjawab, Carlos menarik kesimpulan. "Apa pria itu mengancammu?"


Irish tak menyahut. Tubuhnya merasakan pria itu dan ia menjerit marah di dalam sana.


"Bangunlah dan makanlah bubur. Aku membeli banyak bahan makanan di kulkas. Seorang asisten akan kemari dan menemanimu."


"Tidak, Carlos. Aku bisa sendiri!" tolak Irish. "Hati-hatilah di sana dan kembalilah, bawa aku ke Islandia."


"Baiklah, sampai aku kembali, tolong jangan terlibat masalah Irish! Atau aku tak bisa menolongmu!"


Carlos pergi dari sana setelah Irish makan dan minum obat, menutup tirai dan nyalakan lampu tidur. Dari cara Carlos kuatir pada Oriana, Irish yakin terjadi sesuatu di antara mereka. Oriana cemburu berat padanya meski disembunyikan dengan rapi dibalik raut cerdas dan anggun. Irish tak bisa samai prestasi Oriana tetapi menangkan perhatian Carlos hingga Oriana menganggapnya saingan. Irish juga suka memancing Oriana untuk gusar. Tetapi, dengar Oriana menghilang, Irish merasa galau.


Ia kembali mengantuk oleh reaksi obat dan saat pintu apartemennya diakses masuk, ia pikir Carlos mungkin kembali dan lupa sesuatu. Atau pria itu datang dengan asisten abaikan penolakan Irish. Hening, saat langkah-langkah berat masuki ruang tidurnya.


"Carlos?! Apa kau lupa sesuatu?" tanya Irish serak di antara serangan kantuk, dapati bayangan hitam besar melangkah pelan ke arah ranjang.


"Carlos?!"


Tak ada sahutan.


Selimut diungkap pelan dan seseorang berbaring di sisinya, membawanya ke dalam lengan-lengan keras dan sebuah usapan di bibirnya yang masih bengkak buat Irish memaksa matanya untuk melihat lebih jelas sebab Carlos tak akan lakukan itu, tak akan menyentuhnya seintim itu. Keningnya disentuh oleh telapak tangan seakan mengukur suhu sebelum tubuh besar itu makin merapat padanya.


Irish mengerang frustasi saat dapati wajah yang sangat ia benci menatapnya di bawah redup sinar lampu kamar tidur.


"Harusnya tak kubiarkan kau pergi, Irishak!"


***


Wait me up!!!


Wajib tinggalkan komentar....