Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 125 Broken Making in Love ....



"Mai, aku ingin bersamamu malam ini."


Maribella tertegun dalam ketegangan. Dirinya dan Abner Luiz bukan lagi remaja belasan tahun yang bepergian ke tepian hutan untuk hindari pekerjaan rumah. Mereka di sebuah apartemen pribadi seorang pria. Bukan sembarang pria! Tetapi pria itu sahabat waktu remaja yang telah menjelma jadi pria matang dan kini sedang menatapnya penuh harap, memintanya untuk tinggal untuk habiskan malam bersama.


Sebuah kalimat berisi kata-kata bermakna dalam ..., merujuk pada habiskan malam bersama bagi dua orang dewasa berusia jelang 30 tahun adalah ajakkan berbagi kehangatan dan dengan intim. Maribella terpekur pada ujung sepatu Abner sedang tangan mereka masih terjalin bahkan bertambah kuat seakan tak ingin terurai. Mereka tak mungkin hanya makan malam dan menonton. Maribella tanpa sadar menggeleng.


"Abner ... kau berciuman barusan dengan Luna dalam lift dan biarkan kancing blouse-nya terbuka lebar di depan matamu," keluh Maribella pelan.


"Ciuman sepihak, Mai. Aku tak sembarang menyentuh wanita," sanggah Abner cepat. Maribella akan salah paham pada ciuman yang dibuat Luna tadi. Cengkeraman tangan Abner mengencang.


"Abner ...."


"Mai, aku menginginkanmu. Aku sadari beberapa hari ini, aku hanya menginginkanmu. Bisakah kau tinggal malam ini?" tanya pria itu lagi dengan nada parau dan saat mata mereka bertemu, Maribella tak menyangka malam ini akan tiba saat mereka berdua bertatapan penuh gejolak hasrat. Butuh waktu lama bagi Maribella untuk berpikir. Abner bantu Maribella mengambil keputusan. Ia menarik wanita itu keluar dari dalam lift dan kembali ke apartemen. Maribella terseok-seok di belakang antara ingin pergi dan ingin bersama Abner sebab dekat Abner terlihat sangat menggiurkan. Pintu tertutup di belakang mereka dan genggaman di tangan semakin kuat.


"Abner ... " guman Maribella lirih.


Jika ikuti dorongan hati, ia ingin bersama Abner malam ini. Maribella sadari perasaannya pada Abner saat Hansel coba menyentuhnya tadi pagi. Ia tak nyaman dan merasa ganjil bersama Hansel. Berbeda saat tangan Abner kaitkan jemari mereka. Ia pejamkan mata sebab sentuhan ..., begitu pudarkan akal sehat.


"Abner ... " tahan Maribella di tengah ruangan paksa Abner berbalik padanya. Maribella menggeleng hingga Abner sadari keinginan sesatnya yang keliru. Mereka masih berpegangan hanya terdiam. Abner lantas merangkul pinggang mungil Maribella erat pulihkan kesadaran.


"Maafkan aku ...," bisik Abner, "tidak seharusnya begini."


Maribella membalas pelukan itu. "A,a,aku tak bisa ingkari perasaanku padamu, Abner. Tetapi, kurasa ini salah," ujar Maribella sukai kemesraan itu. "Kau putuskan Luna seperti tadi, bukankah itu sangat menyakiti perasaan seorang wanita? Lagipula, aku masih kencan dengan Tuan Hansel."


"Baiklah, Mai," angguk Abner. "Mari kita makan bersama dan aku akan antarkan kau pulang," sahut Abner tak ingin lepaskan pelukan.


Kedua wali Durante akhirnya duduk di meja ruangan makan di dapur apartemen Abner Luiz. Apartemen Abner bergaya Japandi dengan sedikit aksesoris dan ornamen. Furnitur dan dekorasi dalam ruangan berbahan dasar kayu dengan warna cat netral dan natural, gabungan unsur barat dan timur secara sempurna. Cat dinding di dominasi warna putih beri nuansa elegan, bersih, lapang berbaur serasi dengan kepribadian Abner Luiz yang tenang dan teduh.


"Aku menyukai dapur apartemen ini," kata Maribella karena suasana terasa canggung. Mereka nyaris berakhir di kamar pria itu. Maribella bukan baru sekali dua kali ke apartemen Abner. Ia malah sering ke apartemen Abner untuk awasi saat apartemen pria itu dibersihkan bagian cleaning service. Terkadang, ia malah yang bereskan apartemen Abner saat pria itu sibuk.


"Ya, Maribella. Kau tahu bahwa konsep sederhana ini memiliki elemen tradisional yang kuat."


"Tetapi tetap modern." Maribella berpikir untuk mendekorasi ulang huniannya. Ia sibuk di dapur dan mengurusi ini-itu, kamarnya sendiri berantakan. Ia kadang tidur di kamar belakang yang disiapkan khusus untuknya.


Meja makan Abner hanya cukup untuk dua orang. Mereka berhadapan dan tak bisa hindari lutut mereka bertemu di bawah kolong meja. Maribella gugup sedari tadi sebab sentuhan Abner bahkan dibatasi mantel hangat tebal tak pelak buat ia meremang.


"Emm, aku memasak hotcpocth dan nasi. Tetapi, aku jadi tidak berselera makan jadinya," kata Abner saat Maribella gelisah tapi tak ingin hindari wanita itu. Ia malah duduk makin rapat ke meja makan dan biarkan paha mereka bersentuhan dengan sengaja.


"Aku bawakanmu, Moussaka Bulgaria dan ... " ujar Maribella berpikir lebih baik mereka bertengkar daripada baikan sebab mereka jadi seperti orang asing.


"Emm, aroma yang menggiurkan. Baiklah, mari kita makan!" sahut Abner pura-pura biasa saja. Ia ingin pergi ke seberang dan menggendong wanita itu ke dalam kamar.


Elgio akan tertawakan dirinya. Tunggu sampai Elgio tahu ia hampir menyeret Maribella pergi ke ranjang dan lupakan dua prinsip. Abner yakin Elgio akan mengejeknya sampai tahun depan.


Sementara Maribella makan, Abner perhatikan. Luna sangat menarik dengan tubuh sintal menggoda, tatapan tajam dan bibir seksi yang bikin panas-dingin. Bandingkan Maribella yang menawan dengan senyuman bersahaja di atas bibir tanpa polesan tetapi sangat alami berwarna natural dan sorot mata lembut. Mengapa ia begitu bodoh tak sadari betapa menariknya Maribella? Wanita itu ada di meja sarapan tiap pagi tetapi ia abaikan kehadirannya dan bahkan hampir kehilangan Maribella sebab Hansel Adelio sepertinya tergila-gila pada Maribella.


"Abner, kau tak bisa akhiri hubunganmu dengan Luna seperti tadi, aku tak menyukai itu. Aku juga seorang wanita."


Dan Maribella pikirkan perasaan orang lain. Ia sangat peduli seolah-olah bisa posisikan dirinya di tempat Luna. Sungguh istimewa.


"Kupikir kau tak sukai Luna? Kau bicarakan soal ...."


"Maafkan aku soal itu. Kurasa a,a,aaa-ku cemburu padanya," kata Maribella tanpa bisa berbohong menunduk tatapi mangkuk makanan dengan wajah merah padam.


Abner tersenyum meraih tangan Maribella di atas meja dan satukan jemari mereka.


"Aku akan putus baik-baik dengan Luna besok. Aku harap kau lakukan hal yang sama, Mai. Mari bertemu lusa pagi dan sarapan bersama denganku di sini. Mari berkencan."


Maribella mengangkat wajah ke seberang meja pada jarak setengah depa dan ia jatuh cinta pada Abner Luiz.


"Jika sudah selesai, aku akan antarkan kau pulang."


Begitulah akhirnya malam itu Abner antarkan Maribella kembali ke rumah besar. Mobil masuki pekarangan. Elgio dan Marya nikmati suasana malam dari balkon dan perhatikan mobil Abner saat masuki halaman rumah.


"Elgio, kurasa Abner dan Maribella akhirnya berbaikan."


Marya sukai pelukan Elgio di pundaknya. Bungkusan selimut pada tubuh makin rapat dan Elgio menyangga dagu di puncak kepala Marya, menonton adegan di bawah seperti sedang menonton sebuah drama romantis.


"Ya, dan rumah kembali damai. Aku berharap si berandal baik-baik saja. Aku tak tahan lihat Reinha bersedih. Aku belum temukan cara untuk caritahu kabar Lucky!"


Marya mengangguk, hembuskan napas berat. Reinha sangat tabah dan tetap bersemangat di sekolah. Jika berada di posisi Reinha, Marya mungkin sudah lemas duluan. Oh tidak, dirinya tak setangguh Reinha. Marya berharap tak ada prahara lagi dengan kisah cintanya. Irish menghilang. Apakah paman Hellton menyekap Irish? Oh tidak, paman Hellton terlihat sangat menyayanginya dan Arumi tetapi sangat terganggu pada Irish. Apa Irish juga mengganggu Paman Hellton?


Marya kembali hembuskan napas berat. Ia kembali amati parkiran belakang saat Abner bukakan pintu mobil, berdampingan menuju hunian belakang. Saling menengok dan tersenyum di bawah lampu-lampu taman belakang yang terang.


"Mereka manis sekali, Elgio."


Elgio tersenyum lebar, "Lihatlah Abner, apakah dia sedang gunakan akal sehatnya? Kau tahu Abner seperti ilmuwan, ahli biologi. Ia akan jelaskan segala situasi secara ilmiah. Apakah ia akan jelaskan kondisi biologi-nya saat ini?" kata Elgio saat Abner meraih jemari Maribella, menggenggam erat sebelum bergandengan.


Marya terkekeh geli. "Oh Tuhan, semoga keduanya bisa menikah, Elgio. Aku takut kehilangan Maribella."


"Em, kita lihat saja nanti!"


Kembali pada hunian ....


Maribella sampai di depan pintu hunian dan tampak sangat berat berpisah.


"Sampai jumpa Mai, selamat beristirahat," pamit Abner terlihat tak ingin lepaskan jemari mungil Maribella.


"Trims sudah antarkan aku pulang," sahut Maribella mengangkat wajah dan menatap Abner. Sorot mata lembut Maribella seperti medan magnet, menarik Abner padanya. Abner mendesah berat, menarik napas dan hembuskan perlahan, menolak hasrat yang tiba-tiba mulai intro untuk mainkan melodi. Ia kembali mendesah jengkel saat dapati dirinya ingin mainkan melodi itu.


"Ini rumit, Mai. Aku tak ingin berpisah," kata Abner terdengar putus asa dan sebelum Maribella berkata-kata, Abner tak mampu menahan diri lagi meski dua prinsip hidup dalam bercinta, teriaki ia dengan lantang dari dasar alam bawah sadar. Abner Luiz menyerah pada hasrat, merangkul pinggang kecil Maribella tiadakan jarak di antara mereka.


Ketika mata-mata terkatup, tubuh saling mendekap, kepala dimiringkan, tangan bertautan, hal paling menyenangkan sedang diciptakan. Tak ada artikulasi hanya tersisa insting dalam ciuman yang penuh gairah dan berdebar-debar sehingga tak ada kata-kata ataupun kalimat mampu gambarkan keindahannya. Mereka mulai ciuman pertama yang polos dan sederhana di malam yang mulai membuta.


Elgio Durante berdecak lihat bagaimana Abner menyerah pada hasrat.


"Tutup matamu Marya!" kata Elgio sembari menutup mata Marya yang terkekeh geli.


"Sudah kulakukan sejak gejala Tuan Abner akan mencium Maribella muncul. Mengapa kau boleh melihat?" protes Marya.


Elgio berdecak mengecup puncak kepala Marya sekali lagi. "Aku punya bahan untuk mengganggunya. Saat aku semaput dulu, Abner suka mengolok-olok aku, buat tekanan darahku melonjak. Kini, tiba giliran-ku balas dendam," sahut Elgio amati Abner yang tak sabaran merengkuh pinggang Maribella dan membawa wanita itu masuk ke dalam hunian. "Lihat dia sesumbar tentang prinsip percintaan. Prinsip apanya?" geleng Elgio.


"Jangan merusuh Elgio!" Marya berbalik padanya, amati wajah Elgio yang tampak lelah tapi sangat-sangat tampan. "Padahal semalam mereka bertengkar di sana gara-gara Maribella menyinggung Luna dan Tuan Abner tampak tak terima."


"Cinta kadang aneh," sahut Elgio memeluk Marya. "Masuklah Marya! Angin malam tak bagus untukmu!"


Elgio menuntun Marya masuk saat lampu hunian Maribella dimatikan. Elgio menidurkan Marya, menatap wajah belia gadis itu di bawah lampu kamar. Berdecak teringat pada kelakuan Abner.


Sementara entah bagaimana dua orang di dalam hunian telah bergumul untuk lepaskan sweater dan mantel. Desahan napas dan erangan iringi jantung yang berdetak oleh hasrat yang menggebu-gebu. Mereka bergulat di atas sofa, pasang aksi saling lucuti pakaian lupakan rencana awal untuk berkencan dua hari lagi setelah putus dengan kekasih masing-masing. Ketika gelora makin menjadi-jadi buyarkan akal sehat dan keinginan bercinta memenuhi panggilan raga, rengkuhan semakin kencang, tak ada jalan untuk berhenti.


"Mai, kurasa aku benar-benar menginginkanmu," bisik si pria mulai lucuti bibir si wanita sembari lepaskan pakaian yang masih melekat, tak pedulikan udara malam yang menikam hingga ke balik-balik kulit.


"Abner, kita harus berhenti sekarang," ujar Maribella terdengar gelisah tetapi makin merapat pada Abner. Ia seperti memegang madu dan racun di tangannya.


"Kau ingin berhenti?"


"Aku tidak yakin," sahut Maribella biarkan tubuh mungilnya dalam dekapan Abner. Ia melayang saat pria itu menyentuh lehernya.


Mendadak saja ponsel Abner berdering sangat nyaring hancurkan fantasi. Kedua insan itu terlonjak kaget, saling menatap sebelum tersenyum lebar. Maribella bahkan tertawa geli di pundak Abner yang lantas memeluk Maribella erat hancurkan sisa-sisa gairah yang masih ada.


"Telpon itu menyelamatkan kita," ujar Abner bangkit.


Maribella mengangguk. "Apakah dari Luna?" tanya Maribella pelan mendadak sangat gelisah seakan ia baru saja selingkuh dengan kekasih orang. "Ini buruk, Abner," keluh Maribella lagi merasa sangat-sangat kecewa pada dirinya sendiri karena terjebak pada hasrat.


"Em, Elgio Durante," jawab Abner. "Apa Nona Marya akan melahirkan?"


"Tuan Muda?" tanya Maribella lekas bangkit dan rapikan pakaiannya yang carut-marut seakan Elgio hendak datang dan pergoki mereka.


"Elgio Durante?"


"Abner?! Apa aku mengganggumu?" sapa Elgio dari seberang.


"Ya, di waktu yang tepat," jawab Abner terdengar ngos-ngosan. Anehnya ia mendengar nada penuh ejekkan dari Elgio Durante. Apa bocah itu mengintainya?


"Apa kau sedang olahraga, Abner? Napasmu seperti baru habis jogging 10 putaran tanpa henti di Broken Boulivard? Pukul berapa ini? Rajin sekali kau?" tanya Elgio beruntun sengaja bikin saraf-saraf Abner jadi keriting.


"Katakan ada apa, Bocah? Apakah aku juga harus bekerja di waktu malam?" seru Abner kesal.


"Wah, kau pemarah sekali Abner Luiz? Sepertinya kau sangat terganggu? Apa kau bersama Luna?"


"Apa maumu, Elgio Durante? Kau buatku kesal saja!" sahut Abner gusar.


"Aku perlu beritahu kau sesuatu yang sangat penting!" kata Elgio pelan seakan ada sesuatu yang sangat rahasia.


"Ya, aku mendengarkanmu. Katakan ada apa?"


"Aku melihat seorang pria mencumbu pengasuhku di depan hunian dan membawanya masuk sebelum matikan lampu. Kukira itu Tuan Hansel tetapi aku melihat mobil yang sangat kukenal di parkiran," ungkap Elgio dengan nada pelan tetapi cepat dan tergesa-gesa.


"Oh, kau bocah sialan ... " maki Abner sementara Maribella duduk semakin grogi.


"Oh, jadi itu kau?" tanya Elgio kalem.


"Oh, aku bisa gila hidup denganmu, Elgio Durante!"


"Sebaiknya kau kemari, Abner! Kita harus bicara serius. Aku yakin kau pasti lupakan dua prinsip bercinta yang terus kau kumandangkan jika saja aku tidak menelpon."


"Kau mengintaiku, Elgio Durante?"


"Aku mengawasimu! Kau bertingkah seperti Don Juan. Kencani satu wanita tapi menggoda wanita lain. Apa ini?" Berdecak.


"Akkhhh sialan ...."


"Aku menunggumu, Abner Luiz. Apa kau pikir aku hanya akan menonton kau lolos ke hunian Maribella sedang Luna bergelayut di lenganmu sepanjang siang?"


Tak ada jawaban. Hening. Abner kehilangan kata.


"Kau berkencan dengan Luna Hugo dan coba-coba ganggu hasratmu dengan pengasuhku?" Suara Elgio makin meninggi.


"Hei ...."


"Cepat kemari sebelum aku gunakan pengeras suara hingga satu Durante Land tahu kelakuanmu!" pekik Elgio cukup keras hingga Abner jauhkan ponsel dari kupingnya.


Elgio matikan ponsel, terkekeh lebar lantaran senang berhasil buat dua pengasuhnya kalang kabut. Elgio sepertinya tak akan biarkan Abner lewati malam dengan tenang setelah berhasil menghancurkan impian bercinta pria itu.


***


Cintai aku, jangan lupa kirim vote tiap Senin.


Aku mencintai-mu Readers.