Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 60 Dua Pria Cemburui Ethan....



Elgio menuruni tangga menuju ruang makan. Ia menghindari Marya sejak semalam oleh sebab cemburu. Padahal ia ingin membaca buku yang mereka beli dan berduaan di kantor habiskan malam. Ia menarik napas dalam-dalam. Mengapa Marya tidak peka? Bahwa ia tak menyukai Ethan Sanchez sedikitpun.


"Kau terlihat aneh, Elgio? Apa seminarmu tidak lancar? Kau tidak mengacau di sana dan terus memandangi Nona Marya, kan?"


Abner dan mulut ajaibnya selalu berhasil memancing emosi. Mereka menuruni tangga.


"Pancing saja terus, Abner. Kau hampir menangkap hiu biru." Elgio malas meladeni Abner lebih jauh. Ia ingin habiskan sarapan dan buru-buru pergi ke kantor. "Apa ada hal menarik hari ini?"


Abner menggeser ponsel, "Elgio, kau mendapat undangan wawancara di salah satu stasiun Televisi untuk Man Of The Match di kota ini. Apakah kau bersedia pergi ke sana? Kau akan di wawancara secara eksklusif oleh seorang reporter cantik yang terkenal sangat berani."


Elgio menggeleng, "Aku banyak urusan. Kau saja yang pergi dan jawab pertanyaan mereka."


"Sayang sekali mereka mengundangmu bukan aku."


Elgio berhenti di tengah tangga, "Abner ... pernikahanku semakin dekat. Aku butuh istirahat."


"Baiklah."


"Ada yang lain?"


"Ya .... Giuseppe Gustav mengundang Reinha makan malam bersama. Ia ingin membahas masalah kontrak Dream Fashion dan Flamingo Shopping."


Elgio mengernyit, "Bukankah kontraknya baru saja berjalan dua minggu?"


"Aroma-aromanya, pria itu sangat tertarik pada Reinha," jawab Abner. Tebakan Abner mungkin benar. Pria mana yang tidak tertarik pada Reinha Durante? Adik perempuannya itu punya karakter kuat tak tertandingi, ia bisa memikat pria dengan kecerdasan dan ketegasannya. Juga percaya diri yang memancarkan energi positif. Reinha yang cantik, supel bisa menaklukan pria dengan keberaniannya. Ia tak segemulai yang dipertontonkan.


"Jangan beritahu Enya sekarang."


"Aku jadwalkan makan malam itu, besok malam ...."


"Atur pertemuan mereka diam-diam."


"Elgio ... kau harus berikan dia kebebasan untuk menentukan nasibnya. Jangan mengekangnya."


Elgio menggerutu, "Kau terlalu memanjakannya dan sangat keras padaku! Lihat dia, berlarian dengan preman tidak jelas itu. Aku sungguh muak pada hubungan Enya dengan Lucky Luciano."


Abner memegangi tengkuknya. "Baiklah. Stop marah-marah. Kembali tentangmu, apa kau setuju untuk di wawancara?"


"Apakah aku butuh penghargaan untuk prestasi saat ini?" semprot Elgio gusar.


"Ya Tuhan, Elgio Durante. Kau bermasalah dengan jiwa temperamental-mu. Sebaiknya kau segera ke dokter ...."


Elgio hendak meninju Abner di bawah tangga ketika terkejut setengah mati melihat siapa yang berkunjung pagi-pagi buta. Mengapa juga bibi Maribel membiarkan dia masuk? Raut Elgio semakin masam saat dapati Lucky Luciano berdiri di ruang tamu. Apa pria itu sejenis makhluk astral, yang akan datang saat namanya disebut?


"Kau ini sungguh mengganggu ketenangan batinku. Ada apa kemari pagi-pagi?" tanya Elgio melupakan sopan-santun.


"Kau meninggalkan flash-mu di ruang Kepala Sekolah kemarin. Jadi, aku membawanya kemari." Lucky Luciano mengangkat flash disk di tangan kanannya.


"Terima kasih sudah sangat merepotkanmu Tuan Lucky Luciano ... pergilah!" Elgio maju hendak mengambil flash, tetapi Lucky kembali menggenggam benda itu, jauhkan dari jangkauan Elgio.


"Tidak! Ucapan terima kasihmu akan aku terima dalam bentuk undangan sarapan pagi," kata Lucky hingga mata Elgio melebar. Berani sekali dia?


"Kami tak buatkan sarapan. Kami akan makan di kantor," jawab Elgio merapikan dasinya.


"ELGIO! Sarapan sudah siap. Kemarilah!" Suara keras Marya memanggil dari ruang makan.


"Ooopss," ujar Lucky naikkan satu sudut bibirnya penuh kemenangan, waktunya pas. "Tuan Abner ... apa kabarmu?" sapa Lucky sopan pada Abner. Yang disapa hanya bisa gelengkan kepala seraya kembali pegangi tengkuk yang menegang. Semakin hari semakin banyak masalah yang muncul. Oh Tuhan, Reinha Durante menyukai gangster ini, entah ada apa dengan selera gadis yang sangat Abner sayangi itu?!


Lucky Luciano berpenampilan hitam-hitam, ia memakai celana jeans ripped pamerkan tempurung lutut, jaket kulit hitam membungkus tubuhnya dengan banyak gelang hitam di pergelangan tangan, pantulan badboy sejati dan tidak terbantahkan. Abner memijat kening, pria itu tak berkemeja, resleting bagian atas sedikit terbuka dan Abner tidak salah mengenali tato yang menyembul di dada Lucky Luciano, wajah Reinha. Ya Tuhan, apa-apaan ini?!


Elgio berdecak sebelum menatap Lucky menginterogasi, "Kau dan Reinha pasti sedang bermasalah makanya kau mengusik kami pagi-pagi. Segera akhiri kisah cinta kalian dan jalani kehidupan masing-masing! Jangan memaksa diri terlalu berlebihan."


Lucky mengangkat bahu tak ingin tanggapi, tapi ia bicara juga meski terdengar tak yakin.


"Hubungan kami baik-baik saja. Sayang sekali harapanmu tidak terwujud."


"Terserahlah, kau boleh ikut sarapan. Aku tak bisa menolak musafir di pagi hari," keluh Elgio setengah hati. "Kau akan mendoakan pernikahanku berjalan lancar."


"Kau tak mengundangku?!" tanya Lucky mengekor ke ruang makan, mereka mengobrol santai seakan mereka berteman dekat.


"Tolong jangan datang! Kecuali kau bersedia berdiri di pintu gereja memegang sangkar merpati selama pemberkatan pernikahan."


Mereka sampai di ruang makan. Meski tak menyukai Lucky, Elgio tetap duduk di sampingnya dan Abner di sisi lain Lucky Luciano. Reinha melongokkan kepala ke kamar makan sambil melihat jam.


"Semuanya, aku berangkat duluan ya."


"Kau tidak sarapan?!" tanya Lucky sebelum Elgio buka mulut.


"Tidak!" Seakan tersadar sesuatu ia gagap. "A, a, aa-ppa?!"


Reinha angkat muka dari tas yang sedang ia periksa, tajamkan pupil mata, menyapu ruang makan sebab ia mendengar suara .... Ya Tuhan, ia mengucek mata. Tak salah lihat, kekasihnya yang brengsek ada di ruang makan rumahnya? Apa yang coba Lucky lakukan? Dia duduk dengan nyaman di samping Elgio dan Abner seakan dia anggota keluarga Durante.


"Pagi Enya ...." Kau menyiksaku makanya aku datang pagi-pagi.


Lucky melambai ketika melihat Reinha kebingungan sedang Elgio kehilangan selera makan. Pria itu hanya menekuri wajah di hadapannya. Marya duduk salah tingkah, masih bingung kenapa Elgio bertingkah seperti sapi sakit gigi.


Reinha terpaksa menyeret kaki ke ruangan makan dan duduk di samping Marya, di depan Lucky. Reinha menyerang dengan pandangan gusar pada Lucky Luciano.


"Apa di rumahmu kehabisan pangan? Bisnismu sedang kolaps?"


"Mereka tak bisa beroperasi, walikota sangat kejam pada mafia. Aku benarkan?" tebak Elgio sarkas. Ia amati sikap dua manusia itu, tertarik, mereka pasti marahan.


Lucky mengedip bahu pada cemoohan dua kakak-beradik. Ia tak punya jawaban, lagipula tak berniat jelaskan pada mereka bahwa ia berhenti jadi penjahat gara-gara jatuh cinta mati mampus pada Reinha Durante.


"Aku berharap bisnismu di pusat kota bukan hasil pencucian uang, Lucky."


Elgio bicara terang-terangan. Pria itu jelas tahu sebab Elgio memburu aktivitas mereka, menunggu waktu tepat untuk mengirim mereka pada pihak berwenang. Tak akan terjadi lagi, semenjak Viktor pergi, Lucky tak berurusan dengan Familly Club' meski ia tahu, mereka sedang rencanakan sesuatu padanya.


"Nyonya Salsa Diomanta lebih tahu, darimana uang penyokong bisnis itu," kata Lucky basa-basi membuat rahang Elgio mengejang sebab perkataan Lucky menyentil Marya meski Marya tampak tidak terkejut.


Atmosfer ruangan makan jadi aneh. Abner menyipit memandangi dua pasang kekasih sembari mengunyah penekuk. Marya dan Reinha serba - salah sedang Elgio juga Lucky yang tampak aneh, deviasi perilaku.


"Kalian akan terus saling menyerang dan biarkan sarapan membeku?" tanya Abner melerai perang dingin itu.


"Marya, kita akan menonton film dokumenter nanti siang bersama Ethan. Kami sudah melihatnya kemarin tetapi kita akan melihat lagi bertiga," bisik Reinha.


Ia coba hindari perhatian intens Lucky Luciano yang tak berhenti menatapnya. Dia terlihat sangat berantakan, sama sekali tak bersihkan wajah dari janggut baru tumbuh, hingga mereka berkelebat hitam pekat di sepanjang rahangnya. Reinha susah payah alihkan wajahnya.


Tenanglah Enya, tenanglah, jangan biarkan brengsek itu menang. Apa maksudmu tenang saja? Pria itu membiarkan dadanya terbuka dan kau ada di sana. Menyebalkan sekali.


Lucky sama sekali tak tertarik pada sarapan pagi. Ia hanya ingin melihat Reinha. Sementara Elgio menahan napas mendengar nama Ethan disebut-sebut.


"Emm Reinha ..., Ethan mengirim pesan, apa dia boleh menjemput kita dan barengan ke sekolah? Hari ini ulang tahunnya."


"Ulang tahun Ethan?!" Reinha segera membongkar ponsel dan mengecek akun sosial media Ethan. Ia menunjukan pada Marya. Keduanya terlihat antusias.


"Apa kita perlu mampir ke Supernova dan membelinya kado?" tanya Marya serius tak perhatikan raut dongkol Elgio.


Aktivitas di ruang makan berhenti total kecuali Abner yang terlihat tidak peka. Bukannya tidak peka, ia tak akan bisa memilih kubu jika pertengkaran meletus. Jadi, ia memilih akan mengisi energi saja.


"Ethan mengundang kita ke pesta ulang tahunnya," kata Reinha memekik pelan. Wajahnya ceria. Terlalu ceria.


"Apa kita boleh pergi, Reinha?!" tanya Marya, ekor matanya melirik pada Elgio yang berkerut.


Reinha bersemangat, "Tentu saja boleh!"


"Tidak boleh!"


Elgio dan Lucky berseru serentak. Ekor mata keduanya saling melirik, terkejut oleh jawaban kompak tanpa aba-aba.


"Kalian tak boleh pergi! Aku tak ijinkan." Elgio menatap dua gadis di depannya berang.


"Dia benar," sambung Lucky. "Aku akan mengantarmu ke sekolah. Aku akan mencabut sendi tangannya jika Ethan Sanchez berani menyentuhmu seperti kemarin," lanjutnya lagi.


Reinha mengangkat wajah membelalak pada Lucky.


"Kau akan pergi bersamaku, Marya." Elgio menatap Marya tajam.


"Eh?!" Marya keheranan. "Bukannya kau ingin ke kantor pagi-pagi? Aku bisa bersama ...."


"Apa kau tak peka?! Aku tak menyukai Ethan Sanchez sedikitpun."


"Kalian berdua cemburu pada Ethan Sanchez?" tanya Reinha.


"Aku tak suka pada sikapnya yang sok dewasa," serang Lucky dari seberang.


"Dia benar," sambung Elgio setuju pada Lucky. "Apaan kau Marya? Kemerah-merahan di dekat Ethan Sanchez sepanjang sore kemarin? Aku melihat kalian berdua saling menyikut." Elgio hampir bersungut.


"Baiklah. Kakak boleh menyimpan Marya dalam saku jas-mu dan bawa dia kemanapun kau pergi. Aku akan pergi bersama Ethan."


"Ya, kau lebih cocok dengannya," sahut Elgio mendukung dan Lucky mendesah jengkel.


"Aku akan ikut denganmu, Enya," ujar Lucky memaksa. Ia akan menculik Reinha jika gadis itu menolak. Reinha terlihat hendak protes, tetapi Lucky menyambung. "Kau bisa bermesraan dan pegang-pegangan tangan dengannya di dalam kelas, aku tak peduli. Atau kau boleh menonton film dokumenter sambil berpelukan, aku tak ingin peduli. Tetapi pagi ini, aku akan mengantarmu ke sekolah."


Raut dan sorot mata Lucky sendu, ia patah hati. Mereka bertatap-tatapan dari seberang ke seberang. Wajah Reinha merah padam tetapi ia bersorak dalam hati, "Kena kau brengsek."


"Jadi, Ethan menggodanya juga?" tanya Elgio pada Lucky.


"Ya, sepanjang aku berdiri di depan podium. Ethan membuatnya merah-merona, tampak sangat mesra. Tak bisa dipercaya padahal ada kekasihnya berdiri di depan ruangan," keluh Lucky terdengar luluh lantak. Reinha tak berhenti jungkir balik di kedalaman sana.


"Dia menggoda istriku dan adik perempuanku di sore yang sama? Apa dia ingin mati?"


Lucky menengok Elgio tahu cara membuat Elgio marah.


"Ethan Sanchez tergila-gila pada Marya, istrimu dan menebar harapan palsu pada adik perempuanmu. Kelihatannya begitu."


"Wah, apa yang akan kita lakukan padanya?" Elgio berbalik pada Lucky.


"Kau punya ide?" balas Lucky.


"Kau-kan preman, kau pasti punya seribu satu cara untuk menghajarnya."


Mereka sama-sama tidak menyukai Ethan Sanchez tetapi mereka juga tak saling menyukai satu sama lain.


"Ethan butuh diberi pelajaran oleh seorang temperamental sepertimu." Lucky mengangkat bahu, membalas Elgio.


Reinha dan Marya melongo tidak percaya melihat kedua pria di depan mereka. Keduanya cemburu pada Ethan Sanchez.


Mereka bahkan belum menyentuh sarapan dan Marya merasa kenyang. Jadi, pria besarnya itu cemburu?! Marya tak mampu menahan senyuman geli dan melempar pandang pada Reinha. Jadi, ini penyebab Elgio mendiamkannya semalaman suntuk bahkan berlanjut di pagi hari. Elgio masih cemburui Ethan Sanchez?


"Kau tersenyum?! Aku benarkan?! Ya sudahlah. Terserah kau saja. Aku akan pergi kantor." Elgio bangkit berdiri hendak meninggalkan ruang makan.


"Elgio, bukan begitu!" Marya ikutan berdiri. Elgio benar-benar lucu saat cemburu.


Abner memijat keningnya. Ya Tuhan, apakah mereka harus menodai kesucian meja makan berisi sarapan lezat dengan cemburu dan saling serang? Ia menghabiskan sarapan lebih banyak dari yang biasanya.


"Bukan begitu Elgio ...."


"Lalu?!"


"Eh itu, Ethan terus menggodaku ... em ... soalmu. Tentang menungguimu, memasak untukmu dan mengasuh ... em ... setelah kita menikah," ucap Marya terputus-putus melirik pada Elgio lalu pada Lucky, wajah Marya memerah sempurna.


"Aku hampir melemparinya dengan spidol."


Marya tertawa kecil, "Kau manis sekali, Elgio."


Marya masih bersemu kemerahan. Dipegangi kedua pipinya yang menghangat sedang Elgio melirik gemas pada Marya. Wajah kuning pucat gadis itu berubah bak mawar merah muda. Elgio menggigit ujung bibirnya. Lihatlah dia, tampak seperti pria idiot, cemburu pada hal yang tidak jelas. Mereka berpandangan dipenuhi cinta. Reinha memutar bola mata.


"Berhentilah bertingkah begitu! Menggelikan sekali!" Reinha mencibir. "Aku kehilangan selera makan. Aku akan pergi duluan, Marya."


"Kita akan ke Paviliun Diomanta nanti malam Enya. Kau tak boleh pergi ke acara ulang tahun Ethan." Elgio menatap Reinha setajam silet, "Jika kau menyukai Ethan, kau bisa akhiri hubunganmu dengan pria ini dan jangan jadi badgirl. Aku tak suka itu."


Reinha menggerutu, "Baiklah. Aku mendengarkanmu, Kak. Aku pergi!"


Lucky ikut berdiri. "Tuan Abner, aku perlu memberitahumu hal penting. Bisakah kita bertemu nanti?"


Lucky bicara sambil melangkah, menyusul Reinha yang terlihat ingin terbang dan menghilang darinya.


"Aku akan menghubungimu Lucky!"


"Baiklah. Makasih untuk sarapannya, Elgio Durante."


Pria itu menghilang dan suaranya terdengar putus asa saat memanggil Enya. Elgio menggeleng. Semoga mereka benaran putus.


"Aku akan menunggumu sarapan, Marya?"


Marya mengangguk, mulai sarapan meski ia tidak begitu lapar. Mereka akan ke rumah Ibu nanti malam. Ia menyukai itu.


"Aku akan menjemputmu dari sekolah."


"Bagaimana dengan seminar-mu?"


"Abner akan gantikan aku, Pak Jerry lihat sendirikan, teman-temanmu hanya tertarik padaku pada kita?"


"Itu karena mereka mengidolakanmu, Elgio."


"Kau tidak?!"


"Eh?!"


"Kau terlihat tidak cemburu aku digilai teman-teman sekolahmu?"


Marya hanya diam. Elgio harusnya tahu, ia ingin membawa Elgio kabur kemarin dari ruangan aula.


"Aku benarkan? Kau tidak cemburu ...." Nada Elgio sangat suram.


"Kau salah, Elgio." Marya mengangkat wajahnya, "Aku ingin melarikanmu dari ruang aula dan berduaan denganmu. Aku tak suka mereka memandangi bokongmu. Itu membuatku sesak napas dan ingin mencukur kepala mereka."


Abner hampir tersedak melihat Elgio kelelep oleh kalimat-kalimat Marya.


"Abner ... bisakah aku absen pergi ke kantor. Kami akan berduaan saja hari ini. Kami akan pergi ke pantai," kata Elgio tak lepas memandangi Marya. Hatinya berdenyut-denyut.


"Dan bergulingan di pasir?!" lanjut Abner sembari dekati Elgio. Pria itu mendepak dahi Elgio dengan telapak tangannya seperti memukul nyamuk. "Wake up, man. Kau harus ke kantor! Nona Marya harus ke sekolah."


"Abner, tolonglah! Sekali ini saja ...." Elgio mengemis tetapi Abner menjewer kuping Elgio hendak berlalu dari ruang makan.


"Jangan Tuan Abner! Kasihan Elgio, kupingnya bisa sakit." Marya mendekat ke sana menggosok telapak tangannya minta ampun.


"Apa kupingmu juga mau dijewer, Nona?! Berani-beraninya menggombal di pagi hari dan mengacaukan pria ini."


Marya mundur menjauh, takut juga dijewer Tuan Abner. Elgio melirik padanya, kedipkan satu mata. Elgio jelas merencanakan sesuatu.


"Augusto akan mengantarmu ke sekolah. Jika aku biarkan Elgio mengantarmu, aku yakin ia akan berbelok ke pantai."


"Aku juga ingin ke pantai dengannya," guman Marya pelan tetapi Abner mendengarnya.


"Ais, aku bisa gila. Pergilah ke sekolah sekarang juga!"


Marya menghilang dengan cepat melihat Abner mengamuk. Ia yakin Elgio punya rencana untuk mereka hari ini. Itu terlihat dari tatapannya yang membuat Marya seakan plastik, meleleh dalam api.


***


"Apakah Kalian Menyukai Chapter ini?" Banyakan dialog daripada narasi di part ini. Semoga suka, ya ....


Aku mengatur sistem untuk update setiap pukul 3 pagi waktu Indonesia Bagian Timur. Kira-kira tayang dalam 15 menitan, 3 :15, jadi teman-teman bisa baca pagi hari saat insomiac.


Aku telah menulis 5 chapter lanjutan tetapi akan update satu chapter tiap hari sebab aku harus bekerja.


Kecuali,


Jika aku menerima permintaan lebih dari 30 komentar di chapter ini untuk crazy up maka aku akan luluh pada Readers yang setia.


Ikuti akun Noveltoon - ku ya, Senja Cewen.


Ja'o Mora NeƩ Masa Miu (I love you All)


Rimagazi (Terima kasih)