
"Mau ikut denganku?"
Arumi bertanya penuh harap, datangi kafe menjelang sore, sebab Ethan kembali bekerja di sana selepas dari kompetisi. Hanya sayang, pegawai lain telah gantikan posisi Arumi hingga Arumi hanya fokus di latihan bela diri juga belajar. Beruntung, Ethan tetap akan berikan les privat sebab Ethan telah dibayar sangat tinggi oleh Aunty Sunny meski belum dimulai. Liburan musim panas hampir tiba, tetapi, Arumi akan tetap belajar di bawah bimbingan Ethan.
"Kemana?" tanya Ethan mengerut, perhatikan Arumi seksama. "Apakah kau punya kejutan untukku?" Kembali menyipit pada Arumi.
Arumi mengangguk. "Em, rahasia. Aku ingin ucapkan selamat untuk kemenanganmu." Seakan sadari kebodohannya, Arumi meringis, "kurasa kau tahu kini, kejutannya hilang."
"Sayang sekali, Arumi," sahut Ethan mengacak-acak rambut Arumi gemas. "Meski aku sangat penasaran tetapi aku harus hadir di pertemuan group Olimpiade. Kami harus ikut pertemuan dan mengisi absensi. Mungkin juga akan berakhir di tempat karaoke dan bersenang-senang."
"Begitukah?" Arumi majukan bibirnya. Padahal ia ingin mengajak Ethan bersenang-senang ke wahana dan berikan pria itu kado.
"Em, memangnya, kau mau ajak aku kemana?"
Arumi tersenyum kecewa. "Suatu tempat."
"Sayang sekali. Nah, lihat itu! Jemputanku datang."
Ethan mengangguk ke luar kafe seraya buru-buru lepaskan celemek. Seorang gadis parkirkan skuter matik, tersenyum ke arah kafe sebelum melangkah datangi kafe. Ia berseri-seri saat melihat Ethan. Menarik, sebab wajah sang gadis berdarah campuran.
"Hai Ethan, apa kau menunggu lama? Maafkan aku, tadi aku harus mengirim pesanan roti ke toko," kata si gadis. Ethan melengkung senyuman, sepertinya alasan sang gadis buat Ethan terpesona.
"Hai Sarah. Tidak mengapa, aku menunggumu," sahut Ethan kembali setelah masukkan celemek ke dalam loker. "Kenalkan, ini Arumi Chavez."
Gadis itu bernama Sarah dan Ethan terlihat berbeda, ia bicara sangat lembut pada Sarah. Arumi doesn't like it.
Sarah ulurkan tangan. "Ya, aku tahu, Ethan. Senang berkenalan denganmu Arumi Chavez, aku Sarah. Kau tahu aku sangat idolakanmu dan kau sangat populer di sekolahku. Kau sangat hebat di layar kaca. Oh kau ternyata lebih cantik dari yang terlihat di televisi. Mengapa kau berhenti main drama serial?" tanya Sarah antusias padanya.
Arumi melirik Ethan dan tiba-tiba kecewa. Em, salahnya sendiri sukai Ethan Sanchez. Ia menjaga rautnya agar tak ketahuan sedang patah hati. Drama queen sepertinya tak susah payah berakting tetapi ternyata pura-pura "baik-baik saja" bikin ia tertekan.
"Aku harus serius sekolah. Banyak pria yang tak menyukai gadis bodoh. Aku harus belajar mati-matian," jawab Arumi terdengar seperti hapalan naskah drama. "Apa kalian akan pergi?" tanya Arumi dengan mimik ceria dibuat-buat.
"Ya, Arumi. Anak-anak sains sering berkumpul untuk bersenang-senang dan berbagi pengetahuan. Tetapi kami mungkin hanya datang untuk mengisi absensi."
"Melelahkan ... " guman Arumi sebab ia tak suka sains yang bikin sarafnya berubah spiral. Tak bisa bayangkan jika ia dibawa Ethan ke pertemuan macam itu, mungkin ia akan jadi bulan-bulanan para otak jenius. Ia tak akan sanggup berada di lingkungan mereka. Well, t**his is the main point and very important; Ethan Sanchez bertemu gadis yang satu frekuensi dengannya, -gadis dengan otak cerdas. Arumi melirik Ethan, gelang pemberiannya telah dilepas, merana sendiri.
Sarah tersenyum lebar. "Um, baiklah. Maaf ya, kita akan mengobrol lain kali. Kami harus segera pergi."
"Arumi ... aku pergi. Sampai jumpa besok ya. Jangan lupa baca materi selanjutnya, aku akan mengetuk keningmu keras, saat kudapati kau gagap." Ethan melambai padanya sedikit mengancam. Si gadis meraih Ethan dan pergi dari sana tinggalkan Arumi yang meringis.
"Ya, Ethan. Semoga hari kalian menyenangkan."
Arumi masih berdiri di sana. Ethan lepaskan keranjang roti dari belakang motor lalu bnatu Sarah naik diboncengan. Arumi mendesah sangat kecewa saat Sarah memeluk pinggang Ethan.
Archilles amati Nona-nya segera hampiri dan beri support. Mereka jadi dekat belakangan meski Arumi lebih banyak mengetuk keningnya sesuka hati. "Nona, tak masalah. Jangan bersedih, saat Tuan Ethan temukan gadis itu tidak seperti Anda, ia akan kembali pada Anda."
Arumi menggeleng, ia telah terluka, Ethan kelihatannya sukai gadis itu. Archilles berdiri di sampingnya merasa iba. Nona Arumi seperti fans fanatik Ethan Sanchez dan pria itu pergi dengan gadis lain. Selama ini, Nona Arumi setia mengekor Ethan Sanchez bahkan sampai menguntit ke rumah pria itu. Mereka keliling semingguan ini beli banyak kado, ujung-ujungnya cuma satu saja yang dipacking rapi untuk Tuan Ethan; sebuah jam tangan.
"Aku hanya gadis bodoh, dan Ethan tak akan sukai gadis sepertiku. Ya sudahlah, lagipula aku tak boleh pacaran."
"Em, sebenarnya hanya pria bodoh yang tak menyukai Anda, Nona," hibur Archilles tak begitu senang lihat si Bos murung.
"Apakah kau berharap dapat tambahan upah dengan menyanjungku?"
Archilles membungkuk serba-salah. "Aku tak berani, Nona. Harusnya Anda berikan saja hadiahnya pada Tuan Ethan agar dia tahu, Anda pikirkan dirinya."
"Huufttt ...."
Arumi naik mobil sedang Archilles mengemudi, perhatikan si bos dari spion yang terus suntuk. Archilles dapat ide cemerlang. Ia terus menyetir, tak tahu apakah harus ajak sang gadis mengobrol atau diam saja? Mobil berhenti di parkiran wahana.
"Eh?! Mengapa kita kemari?"
"Kurasa, suasana hati Anda sedang buruk saat ini. Cobalah naik salah-satu wahana, siapa tahu Anda segera membaik."
"Begitukah?"
Archilles mengangguk. "Ada wahana seram terbaru, mau coba?" tanya Archilles.
Tanpa menunggu Arumi menyahut, sang pengawal turun, bukakan pintu mobil dan menggiring Arumi datangi tempat pembelian karcis.
"Aku akan beli tiket, Nona tunggu di sini ya!"
"Wah, kau lihat itu Archilles, permen kapas? Jadi, Anda membeli tiket Tuan Archilles dan aku akan beli permen kapas. Kau mau satu, Tuan?"
"Tidak, terima kasih Nona."
Arumi mengantri beli permen kapas dan kehadirannya menarik perhatian para pembeli. Beberapa anak-anak yang sukai karakter malaikatnya di drama serial, berbinar saat melihatnya.
"Bukankah kau Arumi Chavez, pemeran Angel dalam Angelic of The City sebelum Naomi Kozan?" tanya seorang Ibu penuh harap.
Arumi mengangguk, sudah beberapa bulan perannya diganti.
"Benar, Nyonya. Terima kasih untuk dukungannya pada drama serial yang aku bintangi."
"Oh, astaga. Kamu lebih cantik dari yang terlihat di televisi. Mengapa tak teruskan main serial di sana?"
"Aku harus sekolah, Nyonya."
"Oh ya ampun, aku berdoa agar Puteriku nanti secantik dirimu, Nona Arumi dan sangat sopan. Dan apakah Tuan Tampan yang bersama Anda tadi adalah pacar Anda, Nona?" Si Nyonya penasaran padanya.
"Eh siapa?"
"Yang sedang mengantri di sana?" Si Nyonya mengangguk ke arah Archilles. Pengawalnya itu mencolok sendiri di antara antrian yang kebanyakan para gadis. Tidak heran setelan yang dipakainya berasal dari Dream Fashion. Bahkan para pria yang ada di sana harus terus menyikut gadis mereka agar tak curi-curi pandang pada Archilles. Arumi berdecak.
"Em, dia temanku," sahut Arumi canggung harus jujur bahwa Archilles pengawalnya.
"Wah, luar biasa." Terdengar tak percaya mereka cuma berteman atau terdengar sesali, mengapa cuma berteman. Kira-kira seperti itu.
Mereka akhirnya berfoto bersama serta minta tanda tangan. Arumi tersenyum manis tak menyangka bertemu penggemar. Tepat setelah permintaan penggemar terpenuhi, Arumi terkejut saat mengangkat wajah, dapati Ethan dan Sarah datang ke wahana dari arah pintu masuk, pegangan tangan. Arumi berbalik, tak ingin melihat, mungkin saja pertemuan mereka batal dan mereka putuskan datang ke wahana. Harusnya, ia bersama Ethan tadi. Arumi fokus pada mesin memutar gula dan benang-benang tipis warna merah muda muncul dari lubang. Arumi menerima pesanan setelah membayar, pegangi tangkai permen kapas kuat. Oleh penasaran ia menoleh, Sarah juga menunjuk permen kapas. Mereka tak lihat dirinya. Arumi buru-buru pergi, nyaris menabrak Archilles saking terus menunduk.
"Eh, Nona?! Mengapa Anda seperti terburu-buru?" tanya Archilles keheranan.
Wajah Arumi mengerut. "Ayo kita pergi Archilles!" Arumi menggandeng pengawalnya yang sekilas melihat Ethan Sanchez bersama Sarah.
"Archilles," Arumi berubah pikiran. Ia menatap pengawalnya. Archilles, meski tidak setampan Ethan Sanchez tetapi seperti namanya, "Archilles yang diberkahi", menyenangkan mata yang melihat, tipikal pengawal eksklusif pada umumnya dalam balutan jas hitam-hitam. Arumi akan buat Ethan cemburu, menahan Archilles. "Coba makan ini, sangat gurih!"
"Aku tak suka cotton candy, Nona! Nenekku berjualan makanan ini di pasar raya. Aku merasa sangat aneh saat makan ini."
"Oh ayolah, coba saja! Ini perintah! Atau mau keningmu diketuk Archilles Lucca?"
Arumi sodorkan permen kapas ke depan hidung Archilles yang jauh lebih tinggi darinya. Archilles melihat ke depan lewati kepala Arumi dan temukan Ethan Sanchez sedang perhatikan mereka, mungkin ingin betulkan penglihatan.
"Baiklah," sahut Archilles membungkuk pada gulali kapas dan cicipi sedikit. Tiba-tiba saja Arumi berjinjit ikut meraup dari satu tangkai permen kapas dari sisi berlawanan hingga dahi Archilles mau tidak mau bersentuhan dengan sudut mata Arumi, Archilles menduga sang Nona tahu gebetannya sedang perhatikan mereka. Arumi terlalu bersemangat bikin Ethan Sanchez cemburu sampai hampir limbung, buru-buru dipeluk Archilles. Berdekatan dan makan satu permen kapas berdua, sangat manis, really works to make someone jealous, harusnya berhasil pancing Ethan cemburu. Arumi pegangi ujung jas Archilles dan wajahnya setengah tenggelam dalam permen kapas sedang sang pengawal berpikir untuk mundur ataukah tetap ikuti rule tanpa rencana ciptaan sang Nona.
"Em, Anda, tak apa-apa, Nona?"
"Em, ya," angguk Arumi salah-tingkah. Ia tampak sungguhan idiot. "Enak bukan? Kau mau habiskan?" tanya Arumi.
"Ya," sahut si pengawal padahal ia tak suka permen kapas, hati-hati lepaskan Arumi dan habiskan sisa permen. "Wajah Anda ada bekas permen," kata Archilles tersenyum keluarkan sapu tangan dan bersihkan sudut bibir Arumi.
"Benarkah? Kurasa karena aku terlalu bersemangat. Ayo kita pergi, Archilles!"
Ethan amati dari jauh tingkah Arumi, pada Archilles, seketika ia merasa terganggu. Jadi, Arumi akan ajak dia naik wahana tadinya, a place full of surprise's itu adalah wahana.
"Sarah, kurasa, aku harus pulang!" kata Ethan sebab ia mulai terusik tetapi tetap bertahan; tak ingin sukai Arumi.
"Tuan Ethan," sapa Archilles dari jauh dan melambai. Arumi lekas berbalik, keheranan mengapa pengawalnya tiba-tiba memanggil Ethan.
"Nona, Anda bisa gunakan aku untuk buat Tuan Ethan cemburu," kata Archilles.
"Eh?" Arumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebodoh itukah dirinya? Archilles bahkan tahu, dirinya pancing-pancing Ethan Sanchez untuk cemburu. Tak butuh waktu lama, Sarah menyeret Ethan Sanchez yang malas-malasan datangi Arumi dan Archilles.
"Nona Arumi, kalian di sini?" tanya Sarah mengerut pada Arumi lalu pada pengawalnya.
Arumi bicara pada Sarah tetapi melirik pada Ethan yang datar, cool dan tampak tak pedulian, ingin selami isi hati pria itu. Ingin lihat sekali saja Ethan Sanchez cemburu saat ia bersama orang lain tetapi Ethan terlihat biasa saja malah ia yang kedapatan cemburui Ethan. So stupid.
"Aku dan Ethan sepakat habiskan sore ini bersama. Jadi, kami menyelinap keluar sebelum pertemuannya selesai."
"Wah, menyenangkan ya, punya seseorang yang bisa diajak kabur." Arumi manggut- manggut sedikit menyindir, teringat mereka berdua saat lari dari kejaran para preman, melirik Ethan yang hanya perhatikan Sarah saat bicara.
"Kami akan main wahana terbaru, Nona. Rumah sakit tua berhantu dan menyeramkan. Apakah kalian ingin bergabung?" sela Archilles.
"Kurasa, Nona Sarah tak begitu tertarik. Kita pergi saja, Archilles."
"Eh kami ikut," sahut Sarah menoleh pada Ethan memohon.
Ethan berdecak. "Memangnya kau berani Arumi?"
"Aku bersama Archilles, apa yang aku takutkan?" Arumi mengedip pada Archilles. "Baiklah, kami duluan. Kalian harus beli tiket dulu."
Arumi menyeret sang pengawal pergi tinggalkan Ethan yang menyipit padanya. Arumi merapat pada Archilles saat sampai di depan gerbang wahana yang dimaksud. Ia sebenarnya tak suka horor, bangunan di depannya benaran sangat seram. Rumah sakit tua tak terurus dan belum masuk saja, bau-bauan aneh telah tercium.
"Eh, apa Anda takut Nona? Kita bisa kunjungi wahana lain saja?" tanya Archilles perhatikan wajah Arumi yang mulai gelisah.
Seseorang datangi mereka dan tawarkan jimat dengan sedikit penjelasan bahwa jimat itu bisa menjaga mereka di dalam sana dari gangguan para hantu jahat. Gelang jimat bisa hasilkan cahaya saat bertemu para hantu sehingga para hantu akan menjauh sebab mereka takut pada cahaya gelang yang telah dimantrai ayat suci tersebut. Arumi dan Archilles sepakat untuk membeli.
"Apa kau takut Arumi? Kau bisa mencoba wahana lain," kata Ethan dari belakang terdengar penuh perhatian dan sedikit cemas. "Kau bisa saja pingsan di dalam."
"Tuan Ethan benar, Nona!"
"Em, tidak. Sia-sia saja beli tiketnya. Lagipula hantu di dalam cuma aktor dengan pakaian yang menakutkan. Ayo masuk!"
"Arumi, tempat ini dinamakan Super Scary Labyrinth of Fear, kau tahu artinya, mereka benar-benar menakutkan," terang Ethan sabar. Tak mengerti mengapa juga Archilles membawa gadis itu mencoba sesuatu yang menakutkan. Juga heran mengapa Sarah ikut-ikutan ingin mencoba sensasi diganggu hantu.
"Oh kau sungguh aneh, Ethan Sanchez, mengapa kau sangat cemaskan aku? Aku bersama pengawalku, kurasa Archilles akan menjagaku dengan baik." Semakin rapat pada Archilles hingga Ethan menatap tajam padanya. Archilles pakaikan Arumi helmet dan kancingkan pengaitnya.
"Oh lihatlah gadis bodoh ini. Pacaran dengan seorang musisi, mengejar-ngejar seniornya di sekolah tetapi bermesraan dengan pengawalnya. Sungguh aneh."
Ethan bicara sembari menarik Sarah pergi lebih dulu. Arumi berikan jempol untuk Archilles sebab Ethan terlihat cemburu dan dibalas anggukkan oleh Archilles.
Seperti yang mereka duga. Di dalam sana sangat menyeramkan. Konsep rumah sakit tua dari jaman klasik yang terbengkalai dan tak terawat mungkin gambarkan pernah ada ratusan mayat mati di tempat ini. Lampu berkedip-kedip suram lalu gelap gulita. Suara, dzzzrttt dzzzrttt si lampu, butiran air yang jatuh setetes demi setetes di atas genangan air sungguh mistis, suara-suara aneh sungguh menyeramkan untuk direspon panca indera. Mereka melangkah dengan hati-hati. Arumi bisa rasakan jantungnya mulai berdebar kencang, ia memeluk lengan Archilles was-was celingukkan.
Dan ....
"AAA kk HHhH, ya Tuhan ... ya Tuhan," jerit Arumi kaget saat sesosok perawat penuh darah tiba-tiba melompat muncul dari sebuah pintu yang hendak ia lewati dengan mata putih bulat dan bibir robek bersimbah darah segar Arumi memeluk Archilles dan bersembunyi di dada pria itu karena kaget.
"Mengapa kau tak mengganggu Ethan Sanchez saja, Hantu? Tuh dia di depan dan sangat pemberani. Oh tolonglah!" Arumi teriaki si hantu.
Ethan Sanchez berbalik merasa konyol dan dapati gadis itu ketakutan sedang Archilles menenangkan Arumi.
"Ya Tuhan, Arumi. Arahkan gelangmu pada si hantu. Percuma saja kau beli gelang pengusir hantu yang sangat mahal," keluh Ethan saat senter di kepalanya soroti Arumi yang tak mau pergi dari dada Archilles dan si pengawal memeluk gadis yang ketakutan itu. Tingkah mereka bikin Ethan, makan hati.
"Kita berpisah di sini! Aku tak bisa pergi bersama gadis penakut yang sok-sok berani." Terdengar gusar. Menarik Sarah tinggalkan Arumi dan Archilles.
"Hantunya sudah pergi, Nona!"
"Benarkah?"
"Ya, begitu pula Tuan Ethan." Harusnya Nona Arumi ambil kesempatan dengan lari ke pelukan Tuan Ethan bukan malah memeluknya. Ia bisa alihkan perhatian Sarah. Tetapi, bagus juga sepertinya Ethan terlihat mulai cemburu.
Arumi semakin takut saat lewati lorong gelap dengan banyak ruang. Suara bayi terdengar menangis di sebuah ruangan, entah suara apa lagi. Ya Tuhan, ternyata lebih seram dari dugaannya.
"Aku akan mimpi buruk sepanjang malam."
"Nona, mereka cuma hantu jadi-jadian."
"Tapi mereka berhasil buatku ketakutan. Apakah kita bisa keluar dari sini?"
"Anda bersamaku, Nona. Rumah sakit ini sangat luas dan kita akan taklukan rintangan ini."
Begitulah akhirnya mereka lewati lorong gelap, masuk ke ruangan demi ruangan dan setiap pintu di setiap sektor berisi penghuni yang dengan senang hati buat Arumi menjerit dan terus menjerit hingga Sampai suatu waktu saat lewati sebuah ruangan tiba-tiba ... Tek Tek Tek Tek ....
Gugup Arumi periksa belakangnya.
"Oh shits ... " maki Arumi.
Si hantu teke-teke bergerak ke arah mereka dan bunyinya bergema dalam ruangan dengan kecepatan merangkak yang mencengangkan hingga buat Arumi merinding.
"Lari Nona!" seru Archilles. Tanpa sengaja pegangan pada Archilles terlepas dan Arumi berlarian di lorong gelap sambil menjerit. Senter di kepalanya terantuk-antuk. Arumi temukan tangga dan naik ke atas hampir terjungkang saat The Nun dengan wajah putih dan kerudungnya yang fenomenal turuni tangga.
Akkhh ....
Arumi kembali turuni tangga sambil terus memekik hingga tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia menjerit makin keras saat sebuah tangan terulur dari balik pintu dan tangannya dicengkeram lalu ditarik ke balik sebuah ruangan. Helmetnya dilepas hingga terjatuh dan lampu senter langsung padam. Ruangan jadi gelap gulita bahkan gelangnya ikutan padam.
"Archilles?! Tolong aku!" Arumi berpikir yang tidak-tidak. "Oh sialan. Bukankah hantu tak boleh menyerang?" jerit Arumi histeris ketakutan. Hanya suaranya saja yang terdengar terus melengking. Ia coba arahkan gelangnya pada si hantu yang menahannya ditembok dingin. Tetapi ia tak cukup kuat angkat tangan sebab dua tangannya dicengkeram hingga tak bisa bergerak.
"Aku menyerah!" teriaknya lagi ingin melambai dan minta bantuan.
Gelangnya tak berfungsi. Ya Tuhan, ia akan menuntut si penjual gelang. Katanya gelang akan menyala saat bertemu hantu. Apanya?
"Archilles, aku di si ...." Terputus.
Tiba-tiba saja dalam kegelapan, satu sambaran pada bibirnya berikut deru napas hangat di wajahnya. Arumi ingin pukuli si hantu yang berani mesum padanya tetapi kedua tangannya dikunci. Ia berusaha menghindar tapi gerakkannya terbaca, bibirnya diikuti. Bahkan saat tak temukan bibirnya, rahangnya jadi sasaran. Ciuman itu semakin gila bahkan diikuti gigitan kecil beralih jadi cumbuan penuh gelora. Ia kedapatan sulit bernapas karena takut sekaligus meleleh dalam kegelapan. Jantungnya berdetak oleh kengerian bercampur sesuatu yang sangat manis.
"Nona Arumi?!" teriak Archilles di antara derap langkah kaki. Ciuman dijeda sebentar, dalam kegelapan, napas terdengar ngos-ngosan.
"Arch ...." Terputus.
Teriakan balasannya dibungkam.
Uuumpphhh ....
Ini gila. Apakah salah satu hantu, adalah fans fanatiknya? Oh habislah dia jika si hantu menyanderanya, ia tak akan bisa keluar dari sini. Anehnya, Arumi malah merasa berbunga-bunga, seperti konser sejuta kembang mawar yang bermekaran di bulan Oktober. Ia bahkan dengar jantungnya seakan bersenandung. Bibirnya mulai menebal, ia merasa sangat mabuk.
"Nona Arumi?!" panggil Archilles keras makin dekat.
Ciuman itu berhenti sejenak kemudian sisakan kecupan berkali-kali sebelum si hantu mesum - hantu gila, entah apa julukannya, menghilang dari sana lewat pintu lain dalam ruangan itu. Sangat cepat tepat ketika Archilles masuk ke ruangan.
"Nona Arumi?!" Archilles dapati Arumi terpaku di tempat. "Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Archilles.
Arumi mengangguk ling lung, napasnya turun naik dan jantungnya berdebar-debar. Apakah Ethan Sanchez? Tapi tak mungkin, pria itu bersama Sarah.
"Aku temukan jalan keluar, ayo pergi dari sini!"
Archilles menuntun Arumi dan lebih anehnya Arumi tak takut hantu lagi. Ia kedapatan mengembang seperti adonan roti yang kelebihan bibit roti, pecah-pecah, tak lama lagi ia bisa meledak.
Saat keluar dari sana, ia masih kebingungan dan keheranan, terlebih Ethan tampak duduk santai menyesap minuman dengan Sarah di sisinya. Ethan terlihat senyum-senyum saat Sarah berkisah. Sarah melambai pada mereka ajak bergabung.
"Arumi, ada apa dengan wajahmu?" tanya Ethan kalem, sodorkan dua kaleng minuman.
"Eh?!" Arumi menyipit curiga pada pria di depannya, amati bibir Ethan yang basah oleh minuman seakan ingin cari petunjuk.
"Kurasa kau tak berhenti menjerit di dalam sana, Arumi Chavez, hingga sesosok hantu gemas padamu dan membungkam mulutmu."
****
Wait me up ya ....
Sepertinya tak sulit menebak siapa yang mesum dalam kegelapan pada Arumi Chavez ....
Lucky dan Reinha nanti ya .... Karena tiap karakter saling berkaitan erat, Authornya, harus bagi-bagi isian dalam chapter (Halah kayak bikin onde goreng aja pake isian segala).
Jangan lupa kirim vote, cintai akuuu ya ....