Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 128 Poor Maribella ....



Pagi hari setelah insiden panas-dingin yang gagal terjadi.


Abner duduk tenang seperti biasa sedang Elgio tak berhenti menatapnya penuh selidik. Abner penuhi panggilan Elgio dengan wajah kusut masai semalam dan tebak kelanjutannya. Elgio tak berhenti mengolok hingga buat Abner makan hati. Mereka akhirnya minum kopi dan mengemil sambil dengar Elgio Durante mengomel panjang lebar luas keliling bola bumi. Pria itu seperti bocah 11 tahun saat mengomel. Abner bernapas berat saat Maribella masuk sediakan sarapan. Cenat-cenut saat wanita itu bergerak di sampingnya. Mengapa baru di usia setua ini, ia baru jatuh cinta pada Maribella.


Reinha Durante dan Marya Corazon bergabung di meja makan terlihat berbinar-binar dengan kantong belanjaan.


"Maribella, aku dan Marya punya sesuatu untukmu," ujar Reinha mengangkat kantong-kantong belanja saat melihat Maribella masuk dengan mangkuk makanan.


"Emm, aku baru terima banyak barang kemarin, Nona. Kalian berdua tak perlu lagi habiskan uang untuk beli mantel juga sepatu dan tas. Hmm?" sahut Maribella tak berani melirik pada Elgio yang tampak begitu tertarik pada Abner. Kedua pria itu hanya saling berpandangan seakan bicara lewat telepati. Wajah Maribella merona merah saat ingat kejadian semalam sedang Marya tak berani melihat pada Maribella. Ia akan kembali meledak tawa jika ia berani lakukan itu.


"Kau akan sering ke kantor kakak karena mereka semakin sering minta makan siang dari Durante Land. Kau tahu bahwa seseorang di sana sangat seksi dan genit hingga bisa buat beberapa pria tergila-gila." Melirik Abner. "Aku tak bisa biarkan Maribella-ku tersayang terlihat biasa saja. Oh, tidak. Aku siapkan beberapa mantel hangat untukmu dan Marya belikan kau gaun yang sangat cantik Maribella. Kau adalah pengasuh terbaik kami, jadi kau harus terlihat up to date. Aku akan bawa banyak barang dari Double L nanti. Semoga suamiku tak keberatan aku gunakan kartu VIP sementara dia merangkak di semak-semak."


Maribella keheranan dengan tingkah dua remaja di hadapannya. Belakangan mereka bawakan ini-itu dan menurutnya itu buang-buang uang. Ia mendapat banyak pakaian tiap bulan, hanya saja ia jarang pakai sebab ia cuma tinggal di rumah dan memasak. Beberapa dari mereka malah masih berlabel dan terlantar dalam almari pakaiannya.


"Apa kalian tak punya kantin di kantor, Elgio?" tanya Marya pelan. Elgio dan Abner tampak seperti dua pendekar sakti yang saling menjegal dengan ilmu tenaga dalam. Sungguh konyol lihat tingkah keduanya.


"Benar. Kalian tak bisa gaji chef untuk kafetaria kantor? Merepotkan Maribella saja!" keluh Reinha.


"Abner?! Tanya saja pada Abner," jawab Elgio.


"Mengapa aku, Elgio? Kau tak punya jawaban sendiri?" bentak Abner lekas marah.


"Ya Tuhan, kau mengagetkanku Abner Luiz. Belakangan kau sangat temperamental, ya. Aku rindukan waliku yang sangat bijaksana. Apa karena sesuatu dalam dirimu tertunda ...."


Terputus.


"Sialan kau, Elgio Durante. Habiskan sarapanmu dan lekas berangkat ke kantor!" Abner menatap Elgio tajam.


"Baiklah," sahut Elgio terkekeh sangat senang lihat Abner menegang. "Maribella, aku rasa aku ingin makanan spesial untuk rapat tertutup siang nanti juga besok. Bisakah, antarkan ke kantor nanti?"


Elgio hanya perlu cari cara agar Maribella dan Abner terus berdekatan. Benar-benar berharap Abner akan takluk pada Maribella.


"Lagi?" tanya Reinha tidak senang.


"Rapat ini hanya untuk beberapa orang saja."


"Baiklah, Tuan Muda. Mengapa kalian berdebat? Aku telah habiskan hidupku untuk buat makan siang sejak Tuan Leon masih ada. Aku senang melakukannya."


"Oh tolonglah, berhenti memanggilku Tuan Muda. Aku akan jadi orang tua sebentar lagi."


"Baiklah," angguk Maribella. "Tuan Elgio, Augusto akan kembali nanti malam bersama istrinya."


"Pria itu menikah?" tanya Reinha.


"Ya, atas permintaan neneknya sebelum meninggal untuk menikahi seorang gadis. Jadi, Augusto akan membawanya serta agar bisa temani kita di sini."


"Oh baiklah, aku senang Augusto kembali meski dia tak patuh padaku," kata Elgio mengingat bagaimana setianya Augusto pada adik perempuannya sedang Reinha paham maksud sang kakak, pura-pura tak dengar.


Hari semakin siang ketika Maribella putuskan untuk temui Hansel Adelio dan bicarakan hubungan mereka setelah mengirim makanan ke kantor. Abner sedang rapat dan meskipun ingin melihat pria itu, ditahan-tahannya. Ia duduk berhadapan dengan Hansel Adelio di restoran pria itu.


"Apa karena Tuan Abner? Kau menyukainya Maribella?"


Maribella terdiam sementara Hansel tampak sangat kecewa. Tatapan mata pria itu sangat sedih.


"Maribella jika kau berubah pikiran, kita bisa mulai lagi dengan benar," harap Hansel saat Maribella akan pergi.


Maribella tak menjawab, semuanya terjadi begitu saja dan akan terasa sangat salah jika Maribella tetap berikan Hansel harapan palsu. Oh, ia merasa sangat buruk pada Hansel Adelio tetapi ingat kejadian semalam saat dirinya dan Abner hampir lepas kendali, Maribella merasa ia dan Abner terikat oleh cinta. Maribella berbunga-bunga sepanjang hari sebab besok pagi ia akan berkencan dengan Abner setelah sekian lama mereka hanya bak dua orang asing dalam rumah yang sama.


Sementara Abner dan Elgio di kantor dan temui Luna Hugo dengan penampilan yang jauh berbeda. Ia mengenakan kemeja seperti biasa tetapi tak lagi memakai rok skirt mini yang seksi. Luna memakai midi skirt kembang yang tutupi bokongnya dengan sempurna, dan kemeja dengan kancing-kancing tertutup rapi dibalut blazer. Ia benar-benar buat satu kantor terperangah. Saat melihat Abner, gadis itu tersenyum seperti biasa dan seolah-olah lupa bahwa mereka pernah berkencan 48 jam dan Abner putuskan dirinya semalam.


Elgio melirik Abner pada walinya yang tiba-tiba seperti Casanova.


"Fokuslah, Elgio!"


"Kau menakutkan Abner. Kau terus saja teriaki aku tentang pengendalian diri. Lihat dirimu sendiri! Kau seperti kuda tanpa tali kekang!"


"Aku dan Luna putus semalam. Berhentilah berpikir aku permainkan wanita!"


"Dan kau langsung pergi dengan Maribella?" keluh Elgio terlihat tak suka. "Abner, kupikir kau sangat bijaksana soal hasrat."


"Dengar bocah! Aku lakukan banyak kesalahan. Tak sadari perasaanku dari awal pada Maribella dan terhasut saat Mai pergi kencan dengan Hansel. Kami akan akhiri kencan dengan kekasih masing-masing dan bersama mulai besok pagi."


Semudah teori. Semudah yang pria itu katakan. Tidak. Luna tampak santai dan biasa saja dengannya di kantor sepanjang hari. Mereka bertemu untuk bahas urusan kerjaan dan Luna terlihat profesional. Pukul delapan malam saat ia sibuk depan laptop. Pintu apartemennya berdering kedatangan tamu. Abner tergesa-gesa datangi pintu yakini Maribella berkunjung. Ia sengaja tak datang makan malam ke rumah besar berharap wanita itu muncul di apartemennya. Ia berjanji dirinya akan lebih terkendali pada Maribella. Saat pintu terbuka, Luna berdiri di pintu. Pria itu mendesah kecewa.


"Kau tak bisa lakukan ini padaku, Abner! Kau campakkan aku demi seorang pelayan dan kau menghinaku dengan jadikan aku teman kencan untuk buat Maribella cemburu," kata Luna dan wanita itu mabuk parah, terlihat dari cara berdirinya yang tidak seimbang dan bau tajam alkohol dari mulutnya.


"Kau minum-minum, Luna? Aku akan antar kau pulang."


Sebelum Luna menjawab, tubuhnya duluan limbung dan Abner terpaksa membawa Luna ke dalam apartemen, baringkan Luna di sofa. Luna sepertinya habiskan sangat banyak minuman keras. Ia terus tidur sambil marah-marah.


"Aku tak pernah diperlakukan seperti ini, dan kau tega lakukan itu padaku!"


Wanita itu mulai lagi menggerutu dengan mata terpejam dan suara berat terbata-bata.


"Aku akan antar kau pulang, bangunlah Luna!" kata Abner serba salah.


"Kau sangat jahat, aku tak percaya kau lakukan itu padaku. Kau putuskan aku semalam, buru-buru menyuruhku pergi dan menyeret pembantumu ke dalam apartemenmu. Apakah kau puas bercinta dengannya? Aku kembali untuk lihat kau menarik tangannya. Apa kau puas tidur dengannya dan menyakitiku, Tuan Abner? Wanita itu terlihat seperti malaikat tetapi dia hanya seorang pelacur murahan," ujar Luna mulai menangis. "Kau menyakiti hatiku dan harga diriku." Ia mengumpat dan memaki tak tentu arah sangat-sangat jujur setelah mabuk-mabuk.


Di sanalah Abner sepanjang malam mendengar gerutuan Luna. Ia memeriksa ponsel Luna tapi tak bisa akses ponsel itu untuk caritahu alamat Luna. Menelpon kantor tengah malam hanya timbulkan sensasi. Akhirnya Abner Luiz, putuskan biarkan Luna tidur di kamar tamu. Ia masuk ke kamarnya sendiri, lupakan soal makan malam dan tak bereskan westafel yang berantakan. Ia hanya berharap Maribella tak datang untuk dapati Luna tidur di apartemennya.


Hari masih pagi ketika Maribella menenteng rantang sarapan dan diantar Augusto, yang telah kembali ke rumah semalam bersama seorang gadis muda yang diperkenalkan Augusto sebagai istrinya, pergi ke apartemen Abner. Maribella telah siapkan telur kukus yang lezat dan roti daging. Ia membuatnya dalam dua porsi.


Maribella menekan bel pintu apartemen Abner dan tak ada jawaban. Ia menunggu. Abner mungkin masih tidur karena hari masih sangat pagi. Maribella akhirnya menggesek key lock card dari saku mantel dan masuk ke dalam. Tak ada suara apapun, Abner mungkin tidur atau pria itu sedang mandi. Maribella terus menuju ke dapur, siapkan sarapan dan memutar musik instrumental dari pemutar musik yang ada di dapur. Ia menata meja dengan berbunga-bunga. Mereka akan mulai berkencan pagi ini dan ia berharap banyak sebab ia temukan dirinya jatuh cinta pada pria itu. Ia sedang membungkuk di westafel bersihkan cucian kotor yang tak seberapa ketika pintu kamar terbuka. Ingin menengok tetapi tak tahu harus bagaimana pasang raut wajahnya sebab ia gelisah sepanjang malam bayangkan pertemuan mereka yang akan terjadi pagi ini. Menunggu Abner menyapa.


"Nona Maribella?!" tegur Luna Hugo hingga Maribella terpaku sejenak. Luna di sini? Bermalam bersama Abner? Tanyanya pada diri sendiri. Maribella memutar kepalanya, menengok dan temukan Luna di depan pintu ruang tidur Abner dengan kemeja pendek, besar dan sepertinya itu kemeja milik Abner. Napasnya tercekat di tenggorokan serasa seolah dicekik. Paha-paha Luna terpampang sangat menggiurkan dan sedikit bekas kemerah-merahan di beberapa tempat. Maribella membendung gemuruh rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Apakah mereka berbaikan? Apa mereka habiskan malam bersama?


"Nona Luna ...." Maribella sedikit gemetaran selesaikan cucian, keringkan piring ke dalam rak. "Anda sudah bangun? Aku sedang bersih-bersih."


Meskipun merasa sangat cemburu, Maribella berusaha terlihat biasa saja. Tetapi, itu tak berhasil. Semakin ditutupi ia semakin kedapatan seperti buku yang mudah dibaca. Ia tak pandai berbohong tentang rasa dan tak pandai menipu dengan raut wajah. Ia yakin Luna sedang lihat ia terluka sebab matanya sedikit buram.


"Anda datang pagi sekali?" tanya Luna. "Maaf aku tak sopan, kemejaku kotor, jadi ... aku memakai kemeja milik Abner," kata Luna.


Maribella mengangguk-angguk. Ingin bertanya Anda menginap di sini? Tetapi, ia hanya menggigit bibirnya saja. Tampak sangat bodoh sebab Luna keluar dari ruang tidur Abner.


Seakan membaca pikiran Maribella. "Abner sedang mandi," kata Luna lagi saat Maribella masih terdiam.


"Ya, aku akan segera pergi. Silahkan sarapan," kata Maribella menatap nanar pada dua mangkuk sarapan. Bagaimana bisa?


"Tidak, menunggu Abner selesai mandi? Kita bisa sarapan bersama?" tanya Luna melongok ke kamar Abner.


"Tidak, Nona. Aku harus segera kembali. Semoga pagi Anda menyenangkan."


Maribella mengambil mantel, kembali memakai sepatu, tak sadari kekeliruan saat sepatu high heels Luna berdampingan dengan sepatu Abner di depan pintu. Wanita itu keluar dari apartemen. Ia baru saja jatuh cinta dan baru saja jatuh terluka. Tak ingin gunakan lift, Maribella lewati tangga turun dan terduduk di sana. Ia hanya mengulang dua pertanyaan yang sama.


"Apakah mereka berbaikan? Apakah mereka habiskan malam bersama?"


Sedikit lemas turuni tangga, masukan tangan ke dalam mantel, mencari kehangatan dan kekuatan untuk hatinya di sana. Maribella melangkah di pagi yang dingin sebab Augusto diminta untuk tak menungguinya. Ia berpikir mereka akan sarapan tanpa buru-buru dan ia akan bereskan apartemen Abner.


Bayangan Luna yang seksi, menggoda dengan kemeja dan paha yang kemerahan terus mengejarnya. Tadinya ia berbunga-bunga tiba-tiba saja layu dan mengering. Apakah ia berani bertanya pada Abner? Tidak mungkin.


Ketika temukan taxi, Maribella kembali ke rumah. Masih dengan pertanyaan yang sama.


"Apakah Luna dan Abner berbaikan? Apakah mereka habiskan malam bersama?"


Maribella ingin kehilangan harapan tetapi ia belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Wanita itu abaikan apa yang ditemuinya tadi pagi dan akan bertanya pada Abner nanti saat ia mengirim makan siang untuk rapat tertutup di kantor. Ia yakin dengar sendiri Abner katakan bahwa ingin mereka kencan dan bersama. Jadi, Maribella percaya pada Abner.


Ketika waktunya mengantar makan siang tiba, wanita itu pergi ke sana diantar Augusto. Memakai dress yang dihadiahkan Marya dan mantel hadiah dari Reinha, memoles lipstik tipis-tipis dan malah menghapusnya sebab ia sukai warna pink natural bibirnya. Rambutnya digerai lalu memakai syal. Sampai kapanpun ia tak akan bisa saingi Luna yang sangat cantik dan memukau, so ..., Maribella berpikir untuk jadi dirinya sendiri dan apa adanya. Tak peduli ia mungkin akan dihina. Nyatanya ia hanya seorang pengasuh.


Aroma sempurna eclairs menguap dari dalam kotak kue. Abner dan Elgio sangat suka eclairs juga pada profiterole yang beku. Ia sampai di kantor menenteng kantong makanan dan berharap bisa bertemu Abner untuk bertanya langsung. Pria itu tak menelpon atau kabari dirinya karena mereka harusnya sarapan bersama pagi tadi.


Jelang jam makan siang, suasana kantor tampak sepi. Semua orang pergi ke kantin sepertinya.


"Oh, Maribella. Tuan Elgio menunggu makan siangnya. Wah, luar biasa ya, aku jadi penasaran pada rasa makanan sebab Tuan Elgio juga Tuan Abner sepertinya hanya makan makanan dari rumah," sapa salah seorang staf saat melihatnya.


"Apa mereka masih rapat?" tanya Maribella.


"Tidak, mereka sedang istirahat."


"Baiklah, bisakah aku bertemu Tuan Abner?" tanya Maribella lantas ragu. Bagaimana jika pria itu terganggu. "Oh lupakan saja!"


"Maribel, Tuan Abner ada di ruangannya. Silahkan saja ke sana. Kurasa semua orang sedang istirahat."


Maribella bimbang tetapi saat menengok ke arah ruangan Abner, pintunya terbuka. Baiklah, tak ada salahnya bertemu. Ia datangi ruangan kantor, masih ragu-ragu tetapi ketika akhirnya sedikit melihat ke dalam ruangan, ia semakin yakin bahwa Abner dan Luna tak jadi berpisah. Abner bersandar di meja kerja sedang Luna merapat pada pria itu, mereka bermesraan di siang bolong. Maribella berdecak, hembuskan napas perlahan sebelum putuskan pergi dari sana.


"Hallo Maribella," panggil Elgio menggoda pengasuhnya saat Maribella hendak masuk ke lift.


"Tuan Elgio, aku antarkan makan siangmu. Semoga Anda menyukainya, Tuan."


"Kau sendiri, sudah makan siang, Maribella? Mari makan bersamaku dan Abner?" pinta Elgio persilahkan Maribel ikut dengannya.


Maribella menggeleng lesu. "Aku akan makan siang di rumah, Tuan."


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Elgio curiga lihat wajah memerah Maribella dan menengok ke arah ruangan kantor Abner.


"Oh tidak, tentu saja tidak. Aku hanya harus kembali. Sampai jumpa di rumah," katanya buru-buru masuk ke lift.


Sedikit berkerut, Elgio hampiri ruangan Abner untuk melihat. Ia berdecak.


"Abner Luiz, makan siang kita datang," seru Elgio angkat kotak makanan selamatkan Abner dari cengkeraman Luna. Sedang Luna terkejut buru-buru menjauh. "Kau tak makan siang, Luna?" tanya Elgio lagi pada Luna yang salah tingkah. Apakah perlu buat peraturan untuk tidak bermesraan di kantor?


"Aku akan segera pergi," katanya langsung kabur. Elgio perhatikan Luna hingga wanita itu menghilang di tangga.


"Kau tahu Abner, Maribella pergoki kau dan Luna. Kupikir, segalanya berakhir untukmu!"


"Hei, hei, apa kau lihat aku merayu Luna?" serang Abner emosional.


"Tidak, tapi Maribella lihat Luna bersamamu. Aku akan tempatkan kau di laboratorium atau kau bekerja dari rumah, jika kau malah bermesraan di kantor di jam-jam produktif, Abner."


"Ya, kita perlu aturan itu! Dilarang bermesraan di kantor! Di larang pacaran satu kantor! Keluarkan peraturan itu segera," sahut Abner serius. "Kemana Maribella pergi?" tanyanya lagi kalang kabut.


"Kau harus tegas, Abner!"


"Ya, aku akan belajar darimu saat hadapi Irish!" sahut Abner.


"Kau keterlaluan, Abner!"


"Elgio, apa yang kau lihat belum tentu itu yang terjadi," balas Abner tajam.


Elgio mengangkat bahu sedangkan Abner mendesah jengkel dan buru-buru pergi. Elgio tatapi Abner pening sendiri. Wali-nya itu sangat payah. Pandai merajut kisah tapi tak tahu cara membuat simpul dan mengakhirinya. Luna terlihat tak ingin perpisahan. Ia terus melekat pada Abner seakan tak ingin sisakan celah untuk Maribella.


***


Wait me Up .....