
Reinha dan Lucky bersemuka langsung seakan hendak mengukur kekuatan lawan. Sukar bagi Lucky Luciano untuk percaya bahwa ia harus hadapi gadis menyebalkan seumuran Claire. Terlebih Reinha Durante seakan tak terpengaruh pada pesona yang ia tebarkan. Itu hal baru bagi Lucky dan sungguh luar biasa sebab banyak wanita yang ia temui tunjukkan ketertarikan secara terang-terangan. Mereka bahkan menawar diri agar bisa berada dalam pelukannya. Reinha Durante membentuk kastanya sendiri dan tentukan batasan.
Lucky bangkit berdiri sementara Reinha kembali tegak tanpa mengedip. Ekor mata ikuti kemana Lucky pergi. Ia berjaga-jaga pada spontanitas yang mungkin pria itu lakukan padanya.
"Kau sadar pada apa yang kau lakukan? Kau membuatku semakin tertantang," ujar Lucky ringan sambil berjalan pelan memutari meja ke arah Reinha yang tak lepas melirik tajam penuh curiga. Tangan pria itu terjalin di belakang bokongnya.
"Apa aku terlihat sedang main-main? Atau kau belum pernah diancam seorang gadis yang seusia adikmu? Bagaimana kalau kau bersenang-senang saja dengan para wanitamu dan berhenti recoki Elgio?!"
Lucky berhenti di depan Reinha. Tebakan juga pernyataan Reinha entah mengapa berhasil menyulut emosi. Gadis itu masih tak bergeming. Hanya ekor mata saja aktif pelajari situasi.
"Sayang sekali ... Enya ..., aku tak sanggup penuhi keinginanmu. Kau tahu, aku terlalu kompetitif."
"Lalu, apa yang bisa buatmu berhenti campuri urusan Kakakku?!"
Lucky merenung, "Apa kau sedang bernegosiasi?"
Reinha angkat bahu hingga sejajari ujung dagu. Tangan membentuk sudut siku-siku dan dua telapak menengadah.
"Jika tawaran itu menguntungkan kedua belah pihak, mengapa tidak diambil?"
Lucky terlihat serius berpikir. Mata mereka masih bentrok. Ia segera menyeringai senang seolah baru saja lakukan lemparan terbaik dengan poin penuh. Ia menatap Reinha dalam.
"Kau harus ada di kelasku saat aku mengajar dan aku ingin melihatmu setiap hari. Astaga ... bagaimana ini?! Aku jadi punya banyak keinginan aneh ...." olok Lucky tersenyum absurb. Mengapa tak ada satupun wanita di sekelilingnya punya tipikal Reinha? Gadis itu tampak gemulai ketika mereka bertemu di acara perwalian, tetapi ternyata menyeramkan seperti saat ini.
Otot-otot mata dan pipi Reinha berkontraksi, wajahnya memerah sebelum melepas tawa kencang. Tubuh langsing bergetar bahkan nyaris limbung saking kerasnya berderai tawa. Air mata menetes turun pertanda ia merasa sangat lucu.
"Astagaaaa, aku pasti sudah gila dengan datang kemari dan bicara pada bedebah sinting ini?!"
Reinha melangkah kian rapat tepat hampir menyentuh wajah Lucky, sisakan celah sempit beberapa inci di antara mereka. Tawanya memudar sebelum lenyap tak berbekas. Ia mengganti ekspresinya jadi sangat serius.
Reinha berbisik, " Aku memang lemah, tak pandai membela diri tetapi ..., aku punya mesin kecerdasan di atas rata-rata. You know, jangan coba membuat masalah denganku! Aku datang untuk memberimu peringatan, Lucky Luciano. Aku tak peduli sekalipun kamu ketua mafia dan tergabung dalam sepuluh family, kau hanya harus menjauh dari Durante! Jangan ganggu Elgio dan pelihara matamu dariku!"
Lucky berdecak sekali lagi. Berani benar Puteri Durante datang dan menabur ancaman di kediamannya. Lucky akhirnya tersulut juga, ia berkilat geram. Biasanya ia yang selalu menindas orang. Martabatnya ternoda dapati diri tertindas oleh Reinha. Gadis itu lontarkan hinaan seolah Lucky adalah kotoran kucing.
"Ini peringatanku, Lucky. Jadilah sampah jalanan dan jauhi kami!"
Reinha menahan hempasan aroma alkohol yang merangkak di wajah mungilnya. Ia hendak undur diri, tetapi Lucky mekarkan jemari tangan kanan dan melesat cepat mencengkeram leher Reinha. Mata Reinha sontak mendelik dan rahangnya terkatup keras.
"Berani sekali kau datang dan meneror aku di rumahku? Siapa kau, Enya? Duduk manislah di kamarmu dan main bonekamu sebelum timbul hasrat anehku untuk menyentuhmu ...."
Napas pria itu berdesir cepat di wajah Reinha. Pucuk hidung mereka hampir berhimpit kini. Mata Lucky menggelap. Ia menjelajahi bibir Reinha ikuti naluri ingin bergumul di sana.
Namun ....
Reinha Durante menarik sesuatu dari saku jaket secepat kilat semprotkan serbuk beraroma tajam berulang kali ke mata Lucky hingga pria itu menjerit kesakitan. Lucky mengumpat kasar. Pergelangan tangan spontan menutupi kedua matanya.
"AWHHH... what the hell?! Awh f*** ...."
Reinha hendak mendorong pria itu, namun tangan Lucky menggapai dan ia menemukan tubuh Reinha. Lucky melingkari pinggang Reinha erat membawa gadis itu ikut serta terjerembab menghempas ke sofa.
"Oh, kauuu ... gadis gila! Awas saja kau!!!"
Reinha meronta namun Lucky tak ingin lepaskan Reinha semudah itu ... tidak ... setelah gadis itu berani hadiahkan ia serbuk lada. Ia pernah lolos dari kematian tiga kali, oleh sebab itu ia dipanggil Lucky. Lada bubuk tak seberapa efeknya dibanding timah panas, tetapi tindakan tak terduga itu menyentil emosinya.
Melihat Lucky yang tak berdaya, terbitlah ide gila dalam benak Reinha. Seketika ia dengan cepat menganga dan meraup hidung Lucky lalu menggigitnya sekuat tenaga hingga pria itu berteriak kesakitan. Dekapan Lucky terlepas. Ia berusaha mendorong Reinha menjauh. Reinha masih di atas tubuh Lucky, ia kembali menggigit bibir Lucky hingga pria itu mencengkeram jaket dan mendorongnya keras. Reinha terjungkir dengan punggung landing di lantai.
"Kauuuuuu, vampir sialan!!!" Lucky memekik antara marah dan sakit.
Reinha berdiri puas dan melap bibirnya bolak - balik. Jijik sebab telah menyentuh bibir pria yang terkenal suka tidur dengan banyak wanita itu.
"Bersyukur kali ini kau selamat, jika kau macam-macam dan ganggu Kakakku lagi ... kau akan kehilangan sebelah telingamu! Aku janji."
"Reinha?! Apa yang kau lakukan padanya?!" seru Claire tak percaya melihat Lucky melenguh kesakitan.
Claire mematung di pintu. Tadinya ia pergi ke dapur dan meminta asisten rumah tangga sediakan coffee culture dan chocolate roll cake, kesukaan Reinha. Namun, ia mendengar teriak kesakitan Lucky. Jadi, ia pontang - panting nyaris terpelanting saat menghampiri ruangan Lucky.
"Awasi kakakmu baik-baik, Cla!"
Ia berbalik dan pergi dari sana tinggalkan Claire yang melongo kebingungan. Ia hendak menuruni tangga tetapi sekertaris dan dua penjaga terlihat di tengah tangga.
Jadi, Reinha memutar otak serta merta menaruh bokongnya di railing tangga dan meluncur turun dari sana melewati penjaga yang kelabakan.
Ia mendarat mulus di lantai bawah dan tertarik pada guci indah di samping tangga.
PPRRAAANG!!!
Ujung boot sengaja mendorong guci itu hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.
"HEIIII!? APA YANG KAU LAKUKAN?" lengkingan Claire membahana dari atas. Ia terperangah pada kelakuan Reinha Durante seolah melihat Reinha kerasukan roh gentayangan. Meskipun demikian, Claire mengirim kode pada penjaga untuk tetap di tempat dan tak menyentuh Reinha.
Sementara Lucky muncul di sisi Claire pegangi wajahnya yang penuh bekas gigitan. Ia membuka mata susah payah tepat ketika Reinha berjalan lurus menuju pintu keluar. Tangan kanan Reinha Durante terangkat dan ia acungkan jari tengah tanpa menengok lalu berguman penuh makna berharap tembok rumah itu memberitahu pemiliknya
"Lucky but unLucky. So fake ...."
****
Sorry, part Reinha aku selesaikan saja sebab gak mungkin dibikin flashback kecuali tentang Aruhi dan Elgio.
Happy Reading. Jangan lupa jempol dan komentarnya yah, Readerku yang sangat aku cintai.
Rimagasi (Terima kasih)....