Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 58 Memerah Oleh Elgio ....



Sekolah sore saat Elgio dan Lucky pergi ke sana untuk seminar materi bisnis. Marya dan Reinha melempar pandang sedari tadi ... satu server; bisakah dua pria itu mengajar di depan siswa sebab keduanya pebisnis? Meski begitu, Marya dan Reinha duduk dengan tenang dalam aula.


Peminatnya cukup banyak hingga Kepala Sekolah setelah berembuk bersama Pak Jerry, Lucky dan Elgio, sepakat untuk gunakan aula sekolah. Tentu saja banyak ..., siswi yang tak berminat bisnis pun ikut antrian di ruang seminar. Mereka tertarik pada Elgio Durante dan Lucky Luciano.


"Apa yang akan Elgio lakukan di depan sana?" bisik Marya pada Reinha. Elgio akan mengisi jam pertama.


"Aku takut Elgio pajang wajah cintanya padamu sepanjang waktu dan ia bisa kacau," ledek Reinha hingga Marya tersipu-sipu.


"Oh Reinha, apakah aku pergi saja? Kita tidak harus ikut kelas ini, kan?" tanya Marya lagi. Ia mulai gugup. Pipinya kemerah-merahan.


"Tenanglah, Marya. Hei ... wajahmu bersemu merah."


"Hentikan, Reinha!"


"Tenanglah Marya, Kakak telah terbiasa dengan rapat perusahaan, pertemuan bisnis, jadi pasti bisa bawakan materi dengan baik. Kakak sudah lakukan itu sejak umur 15 tahun."


Marya mengangguk. "Ya, aku hanya cemas saja, Reinha."


"Kau cemas, para gadis akan memujanya?!" Reinha menggoda, "Elgio Durante milikmu, kau tenang saja. By the way Marya, kalian pergi kemana Minggu lalu saat kau Absen di kepanitiaan hari terakhir?! Aku penasaran."


"Desa Kuno, Reinha. Kau tahu, kan?"


"Kastil tua? Al Siva?! Kalian bertemu dengannya?"


Marya mengangguk. Ia menyukai perjalanan bersahaja bersama Elgio seperti Minggu kemarin. Mereka membeli frame pigura setelah kembali dari Desa Kuno dan berjanji akan kunjungi tempat itu lagi setelah pernikahan digelar. Mereka akan ke Bali terlebih dahulu. Waktu pernikahannya semakin dekat dan Ibu terlihat sangat bersemangat. Ibu telah kembali pulih dengan cepat dan Marya sangat-sangat bersyukur. Omong-omong tentang Ibu, apa yang dilakukan Ibu saat ini? Marya merindukannya. Apakah Elgio bersedia temani Marya mengunjungi Ibu? Mereka bisa pergi nanti setelah selesai kelas.


Elgio berdiri di podium dan menyalakan laptop. Ia mulai menyiapkan presentasi. Tak diragukan, pria itu sangat percaya diri dan tentu saja luar biasa tampan. Pria itu miliknya, betapa beruntungnya dia. Teringat makan malam romantis di tenda, berdansa di lembutnya rumput dan one cake one kiss, Marya menahan lengkungan bahagia di bibirnya, takut disangka gila sebab senyum-senyum sendiri. Pikirannya dipenuhi Elgio Durante padahal mereka bersama setiap saat di Durante Land. Ia bahkan menemani Elgio pergi ke kantor, mengunjungi laboratorium. Selama sebulan bersama Elgio, Marya benar-benar pulih dengan cepat dari setengah sosiofobia-nya yang sangat mengganggu.


Ethan Sanchez tiba-tiba muncul dan tegak di hadapan kedua gadis itu, buyarkan lamunan Marya. Ia juga halangi pandangan Marya.


"Ethan?! Apa yang kau lakukan?" tanya Marya pelan, ia melongok berusaha melihat Elgio.


"Ya Tuhan, apa kau jarang bersamanya di Durante Land?"


"Hei ... apa yang kau lakukan Ethan?" tanya Reinha saat pandangannya juga terganggu.


"Apa tak bosan bersama di Durante Land? Kalian bahkan berdempetan di sini! Minggir, aku akan duduk di tengah."


"Eh?!"


"Cepatlah menyingkir, Reinha Durante! Aku akan duduk di tengah kalian."


Ethan Sanchez memaksa Reinha bergeser dan duduk di antara keduanya. Ia menggoyang satu kaki santai sementara para gadis lain mendesah kecewa. Ethan duduk diapiti dua gadis populer di sekolah. Kecantikan natural Marya dengan cepat tersebar dan akhirnya jadi idola sekolah. Kini ia duduk bersemu merah di samping Ethan Sanchez lantaran akan mengikuti kelas Elgio. Ia memegang pipinya yang terus menghangat. Sementara Reinha Durante yang supel, cantik dan cerdas duduk di sisi satunya.


Ethan berdecak ketika ekor mata melirik pada Marya, "Kau terus malu-malu sejak tadi ... ya Tuhan ... buat cemburu saja!"


"Huushhh, diamlah! Jangan ganggu dia, Ethan. Kakakku mengawasimu dari depan. Jangan memancing marahnya," seru Reinha dari sebelah.


"Baiklah." Ethan menoleh pada Reinha. Mengedipkan satu mata genit, "Aku akan mengganggumu saja dan kita lihat apakah Lucky Luciano akan cemburu nanti? Kau semakin menarik semenjak pacaran dengannya."


Ethan Sanchez cuma bercanda tetapi Reinha menanggapi serius perkataan Ethan. Mereka di pondokan dan itu terakhir kalinya Reinha melihat Lucky. Ia mengatur jarak meskipun merindukan Lucky hampir gila. Reinha pergi dari pondokan setelah panggilan telpon kedua Pak Jerry. Meskipun Lucky menahannya untuk tinggal. Cintanya pada pria itu sedikit tercoreng dan Reinha memikirkan cara untuk menghajar hati Lucky sampai babak belur. Ia belum temukan cara.


"Di mana Claire?" tanya Ethan.


"Claire dan Abram tidak masuk sekolah," jawab Reinha.


Kelas dimulai. Elgio di sana di podium aula dengan wajah tampannya yang menggoda. Para gadis terang-terangan jatuh cinta padanya, mereka bahkan memuji bokongnya. Ya Tuhan, Marya menahan napas. Ia perhatikan para gadis yang terus melongo pada Elgio. Bagaimana kalau ia keluar saja dari kelas dan membawa Elgio pergi?


Mereka tak mendengar presentasi Elgio, seperti dugaan Marya, para gadis hanya terpesona pada Elgio. Mereka separuh menganga dan bahkan liur mereka nyaris meleleh. Dia memang sangat tampan. Kau bisa lihat ketampanannya di sampul sebuah novel berjudul Heart Darkness yang ditulis novelis amatiran bersamaran Senja Cewen. Elgio Durante adalah cover untuk karakter novel tersebut.


"Agar mudah dipahami aku membuat bagan berstruktur tentang pedoman dasar dalam bisnis daring. Kalian tahu bahwa, teknologi telah mengambil alih dunia dan aktivitas perekonomian berbasis teknologi informasi akan memainkan peran lebih penting di masa mendatang."


Elgio mulai membahas materi, pandangannya menyapu ke seluruh aula dan berhenti pada Marya. Ia terganggu.


Apa yang dilakukan gadis itu? Marya terus memerah di samping Ethan Sanchez, apa-apaan dia? Kelasnya baru dimulai dan masih 35 menit lagi, apa Marya akan terus memerah sepanjang 35 menit?


"Marya, kekasihmu hebat juga. Kupikir Elgio Durante hanya jago memikat gadis?" bisik Ethan lebih dekat dan mengedip. Marya makin tersipu. Pipinya seperti apel Fuji kini, memerah sempurna.


Apa yang Ethan Sanchez katakan hingga pipinya membara seperti daging mentah? Apa aku kurang menyanjungnya atau bagaimana? Elgio mulai terganggu.


"Berikut ini akan saya jelaskan panduan dasar untuk mulai bisnis berbasis internet, atau bisnis online. Pertama, menentukan produk atau layanan Anda. Produk adalah titik awal dari sebuah bisnis. Produk berupa barang atau layanan jasa, Anda bisa membaca peluang pasar."


"Apa kau akan ikuti jejaknya? Duduk di sisinya dan jadi sekretaris pribadi? Sekarangkan lagi tren kisah cinta CEO dan Sekretaris." Ethan bicara lagi. Sepertinya ia mengikuti seminar Elgio hanya untuk menggoda Marya. Ethan tidak tertarik belajar bisnis.


"Tidak, aku tak tertarik."


"Ya ya ya, kau akan menunggunya di rumah seharian ..., memasak, mengasuh bayi dan sia-siakan otak Einstein-mu itu," goda Ethan. Remaja itu menyikut Marya.


"Apaan kau ini, Ethan?!" Marya merasa darah merah naik dan berkumpul di kedua pipinya. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bangun pagi di samping Elgio, menyikat gigi bersama, membuatkannya sarapan dan menunggui Elgio pulang bekerja. Ia akan mengasuh bayi .... Ya Tuhan, itu manis sekali. Marya mengurut kepalanya oleh bayangan-bayangan spektakuler itu.


"Price (harga). Point pertama, produk butuh harga. Jika kamu punya produk, kamu butuh menaruh harga di setiap produk. Untuk menentukan harga, pemilik produk atau jasa dapat memeriksa harga kompetitor atau melihat sejauh mana calon pembeli bersedia membayar."


Mereka sikut-sikutan di sana, yang benar saja? Ada dirinya di depan saja, berani sekali begitu? Apa kulempar saja mereka pakai spidol?! Jangan, Elgio, kau akan bikin masalah baru.


Elgio kehilangan fokusnya hampir secara utuh dan ia mengirim sinyal pada Marya. Sayangnya, gadis itu sama sekali sibuk memerah di samping Ethan Sanchez.


Well, baiklah. Aku akan membangun menara untukmu dan mengurungmu di sana.


Ketika materi presentasinya selesai dan sesi tanya jawab dibuka, pertanyaan pertama yang ditanya oleh para siswi malah bikin Elgio geleng-geleng.


"Apakah Anda sudah punya pacar?!"


Diikuti gelak tawa dari satu aula hingga ruangan itu bergemuruh. Elgio mengelus kening tak mampu menahan senyum. Ia menatap materi presentasi sebelum kembali pada khayalak yang 80 persen diisi para gadis.


"Apa aku harus menjawab pertanyaan diluar konteks ini?"


Itu berarti video Marya menciumnya di kelas waktu itu tidak begitu viral seperti yang gadis itu takutkan.


Elgio berdehem, "Aku berpikir ... hanya akan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan materi seminar. Em, Anda bisa skip pertanyaan sebab aku keberatan untuk menjawab."


Dengung kecewa mengisi aula. Mereka berbisik-bisik, angguk-angguk dan menoleh pada Marya.


Mengapa gadis-gadis ini membahas cintanya? Mengapa mereka tertarik pada kehidupan pribadinya? Ya Tuhan, merepotkan saja.


"Well, pertanyaan ini gambarkan bahwa kalian ada di kelas seminarku bukan karena ingin belajar bisnis tetapi kalian tertarik padaku."


Satu aula terkekeh dan kembali bergemuruh. Napas Marya hampir habis, sebaiknya ia pergi saja.


"Eh, kau mau kemana?" Ethan Sanchez memegang tangan Marya. "Sesinya belum habis."


"Aku akan menunggu Elgio di luar."


"Duduklah! Kau akan mengundang perhatian teman-teman!"


"Kembalilah fokus teman-teman!" Elgio ingin abaikan pertanyaan mereka. "Kita akan kembali ke materi."


"Apa Anda pacaran dengan Marya Corazon?! Kalian berciuman di kelas sebulan lalu."


Satu aula bersorak sorai mendukung pertanyaan itu, ternyata mereka belum lupa. Aula menjadi sangat ramai. Ya Tuhan, ini seminar apa jumpa fans atau klarifikasi kehidupan cintanya? Di mana Pak Jerry? Reinha tak mampu menahan tawa.


"Habislah ... kau Kak!"


Raut Marya telah merah padam, ia mengipas wajahnya dengan buku tulis. Ethan berdecak melihat wajah-wajah penasaran teman-temannya.


"Baiklah ... sepertinya sesi tanya jawab ini tak akan selesai sebab teman-teman sangat penasaran padaku dan kehidupanku."


Ada baiknya ia bicara tentang kehidupan asmaranya dengan Marya, jadi para remaja di sekolah ini akan tahu, Marya kekasihnya dan mereka tak berani mendekati Marya. Kecuali ... Ethan Sanchez yang tampak tidak peduli. Remaja pria itu bahkan berani memegangi tangan kekasihnya.


"Em, sebenarnya ...."


Aula mendadak hening, gadis-gadis ini, untung Elgio bukan guru mereka. Jika iya, sudah diketuknya kepala mereka satu persatu.


"Aku akan menikahi Marya Corazon dalam waktu dekat. Mohon dukungannya." Elgio sedikit membungkuk. Marya hampir saja meledak di tempatnya duduk. Ia tercengang tak menyangka Elgio akan terang-terangan mengakui hubungan mereka. Pria itu mengedip padanya. Seluruh isi ruangan menengok padanya kini. Jantungnya berdetak tak beraturan. Ya Tuhan, pria itu membuatnya malu, bahagia, jatuh cinta dan ia seakan terjatuh di atas hamparan padang bunga bermekaran.


WwwoooowwW ....


Tak bisa dihindari kegaduhan yang terjadi dan beragam ekspresi wajah-wajah penasaran yang seakan tak ada habisnya.


"*Keren ... mereka benar-benar serasi ...."


"Beruntung Marya menikahi pria tampan dan keren sepertinya ...."


"Ya Tuhan, pasangan serasi ...."


"Hebat, Marya Corazon dan Elgio Durante akan menikah."


"Apa mereka tak terlalu cepat menikah? Marya masih kelas 3 SMA*?!"


"Apakah saat berciuman mereka telah berkencan?"


"Mereka romantis sekali."


Ethan Sanchez mengerut di tempatnya duduk. Luar biasa sekali antusiasme publik sekolah pada Elgio dan Marya.


"Lihatlah euforia ruangan ini padamu, Marya?! Aku jadi sangat cemburu. Aku berharap bisa menemukan seseorang sepertimu," kata Ethan Sanchez blak-blakan.


"Kau bisa mengencani Arumi, adiknya." Reinha menyambung.


Ethan miringkan bibirnya, "Arumi Chavez yang sangat angkuh itu? Aku berniat kerjain dia besok di Masa Orientasi Sekolah hari kedua. Gadis itu menyebalkan. Ia membuat banyak masalah tadi."


Reinha mengangguk setuju, ia hentikan jarinya, "Wah, aku setuju. Kau harus beri dia pelajaran keras. Memangnya artis istimewa di sini?" Reinha memanas-manasi Ethan Sanchez.


"Apa yang kalian lakukan, Arumi adikku! Jangan ganggu dia, Ethan!" Marya menggeleng tidak suka.


"Aku tidak janji ...."


Seminar itu berakhir dan Elgio tidak yakin pada level kesuksesan. Jika begini terus, ia harus bicara lagi pada Pak Jerry dan meminta Abner gantikan dia. Para siswa penuhi aula dan sangat antusias bukan karena tertarik belajar bisnis, mereka tertarik pada kehidupan pribadinya.


Ia merapikan barang-barangnya sementara Marya terlebih dahulu menunggu di luar. Ia merasa sangat bahagia sebab kalimat manis Elgio tentang menikahinya. Ia memegangi kedua pipi.


"Apa kau bersenang-senang tadi, Marya?!" tanya Elgio ketika mereka menuju mobil. Marya tinggalkan Reinha dan Ethan, ia tak ingin ikutan kelas Lucky Luciano sebab ingin bersama Elgio.


"Eh?! Apa maksudmu?"


Elgio menunjukkan ekspresi wajah malas-malasan, ia menggiring Marya masuk ke mobil, pasangkan sabuk pengaman gadis itu. Marya sedikit kebingungan. Apa yang terjadi pada Elgio? Gestur tubuhnya berbeda dan wajahnya nyaris cemberut.


Oh, apa yang terjadi. Jangan rusak hatiku yang sedang berbunga-bunga?!


"Apa ada masalah Elgio? Kau bisa beritahu aku?" tanya Marya pelan, menerka tetapi tak temukan jawaban.


Elgio menggeleng kecewa sebab Marya tidak peka padanya. Ia malu-malu digoda Ethan sedangkan ada dirinya di depan sana. Itu melukai harga dirinya sebagai kekasih Marya.


"Bisakah kita ke rumah Ibumu nanti besok saja, aku harus bekerja."


Elgio bicara seadanya. Ia ingin mendinginkan kepala, tak masuk akal, ia sangat cemburu pada Ethan Sanchez.


****


Gema takbir berkumandang, mengumandangkan hari kemenangan, bersama dengan pesan Lebaran nan fitri, semoga akan mempererat silaturrahmi.


Semoga di hari nan fitri diterima semua amalan, selamat hari Lebaran, semua kesalahan mohon maafkan....


Selamat Hari Lebaran untuk keluargaku, sahabatku dan semua Readers. Mohon maaf lahir batin.


Cintai aku, aku cinta kalian....


NB :


Aku menulis dua kisah di sini, karena ceritanya ini sistematis, hari ke hari, peristiwa ke peristiwa. Jadi apa yang dialami tokoh gak bisa lompat-lompat termasuk konflik yang akan Elgio hadapi bersama Marya. Aku tambahkan karakter-marakter lain di sini agar ceritanya tidak monoton.


Apakah kalian menyukai chapter ini?!