
Dev bersiap lampiaskan nafsu bejat pada tubuh mungil yang terpampang indah dan eksotis di hadapannya. Sahwat di ubun-ubun, pria mesum itu telah sepenuhnya telanjang. Kamera video terus menyala, fokus pada tubuh bugil Arumi sedang sang gadis masih lemah setengah tak sadarkan diri. Saat Arumi Chavez sibuk di depan kamera, asisten menaruh obat dalam minuman gadis itu. Begitulah cara kerja agar Arumi Chavez diam tak berkutik, terlentang di atas sofa dengan tubuh polos yang sangat menggiurkan.
"Mari bersenang-senang, Sayang. Kau masih suci, sangat-sangat menggairahkan," bisik liar pria itu hingga Arumi merinding makin ketakutan. Ia tak berani minta pertolongan Tuhan, akibat dosanya pada Aruhi, Arumi takut menyebut nama Tuhan.
Gadis itu merasakan sesuatu di selangkangannya dan hanya bisa diam dalam putus asa. Dev benar-benar akan gagahi dirinya dan tak ada yang akan datang sebagai penyelamat. Ia kabur dari Ethan diam-diam dan tak angkat telpon Ethan. Patut disayangkan.
Dev yang tak sanggup menahan gairah akan segera lancarkan aksinya ketika satu seruan terdengar di pintu studio.
"Delivery order!!! Hola, anybody home?!"
Dev berhenti bergerak, tajamkan pendengaran. Gairahnya tertahan, itu buatnya kesal.
"Delivery order!!!" Seseorang berteriak lagi tak sabaran dari luar. Pintu studio diketuk keras. Dev menggerutu dan mengerang marah akibat gairah pahit yang harus kembali ditelan tubuhnya. Pria itu pakai celana gemetaran oleh hawa nafsu dan tutupi Arumi dengan sesuatu dari ujung kaki hingga ujung kepala sisakan celah sedikit untuk gadis itu bernapas kemudian bergerak ke pintu.
"Delivery order, Bro! Dua caramel macchiato," sambut seorang pria dengan pakaian seragam kerja dari sebuah kafe, tersenyum padanya.
"Aku tak pesan minuman!" tolak Dev mengerut. "Pergilah!"
"Pesanan ini atas nama Nona Arumi Chavez dan aku tak salah alamat." Si pengantar periksa lokasi. "Apa Nona Arumi di dalam? Tolong katakan padanya, pesanan kopi datang!"
"Tak ada yang pesan minuman, dan Nona Arumi tak ada di sini!" kata Dev coba tenang. Namun, mata tak bisa berbohong.
"Begitukah?" Si pelayan kafe menyipit tak percaya pada Dev, otak-atik ponsel dan menelpon. Ponsel Arumi di dalam sana berbunyi nyaring.
La... la... la....
Aku sayang sekali...
Doraemon
La... la... la....
Aku sayang sekali...
Doraemon ...
Nada dering Arumi berteriak kencang pecahkan keheningan studio, ponsel tak dijawab. Arumi pasti telah dijahati.
"Kau berbohong, Bro. Dia ada di dalamkan? Panggil Nona Arumi!"
Dev mendesis tidak suka pada sikap pengantar kiriman yang berseragam pelayan kafe. "Arumi Chavez jadi model kami hari ini, terikat kontrak dan sedang sibuk pemotretan. Kau bisa taruh di meja kasir kopinya dan pergilah!"
"Tidak, Nona Arumi yang harus bayar!" geleng si pelayan kafe kalem. Tingkah menyebalkan pengantar kiriman bikin Dev gemas ingin meninju wajah itu.
"Aku yang akan bayar! Berapa?" Pria itu mengambil uang dari saku celana.
"3000 Euro," sahut yang ditanya enteng. "Dua cup caramel macchiato, 3000 Euro," ulangnya lagi lebih jelas.
"3000 Euro? Itu kopi atau apa? Harganya hampir sama dengan pembayaran awal sebuah mobil? Kau ingin menipu?" Dev terbelalak.
"Ini kopi ajaib, Bro. Aku pengantar kopi juga diupah 3000 Euro untuk menjaga gadis bodoh bernama Arumi Chavez. Dia berada di bawah pengawasanku."
"Apa maksudmu?" tanya Dev mulai curiga tetapi terlambat.
"Silahkan diminum kopinya, bajingan!" kata Ethan sembari menyiram wajah Dev dengan kopi panas dari salah satu box.
"Aaawwwhhh, f**k," jerit Dev saat air panas menerpa wajahnya. Mata mengerjab-ngerjab.
Pintu studio ditendang dan tangan Ethan secepat kilat meninju wajah Dev hingga pria itu jatuh terjungkang pada display pakaian yang langsung jungkir balik. Ethan meraih yang jatuh dan mencekik lehernya kuat. Dev berusaha membalas tetapi Ethan ayunkan sekali lagi tinju keras. Ethan meringis sambil mengibas tangannya yang agak ngilu. Namun, tetap saja datang dengan cepat merengkuh Dev yang sempoyongan dan mencekik leher pria itu sekali lagi, lebih kuat. Ethan perhatikan studio dan foto Arumi tanpa busana terpampang di layar laptop.
"Aku apakan ya, manusia berotak dangkal sepertimu? Kau menipu seorang gadis, ya ampun, mengapa banyak sekali orang jahat berkeliaran?"
"Kami membayar gadis itu, sialan kau!" Dev coba melawan.
"Apa kau juga beri dia uang untuk foto-foto tak senonoh? Apa kau berniat merenggut kesuciannya?" tanya Ethan geram.
Satu ayunan kuat dan Dev melorot jatuh ke lantai. Ethan masih menendang Dev bolak balik hingga Dev menjerit kesakitan tak berdaya. Setengah diseret, tubuh mesum Dev akhirnya terikat oleh kabel-kabel yang terlihat oleh Ethan dan terlintas di otaknya hendak menelpon polisi. Tempat ini tidak wajar, sebaiknya ia melapor ke pihak berwajib agar tak ada korban lain yang terkena jeratan. Ethan berubah pikiran, ia menelpon Sunny. Bedebah seperti Dev akan diurus Sunny dengan gaya ala-ala mafia, lebih sadis ketimbang mengirimnya ke polisi.
Ethan periksa kamera dan berdecak, delete semua foto tidak senonoh Arumi dari kamera, sisakan beberapa foto Arumi dan sending file ke ponselnya sendiri. Tiap Arumi bertingkah, Ethan akan perlihatkan foto sebagai peringatan. Bedebah sinting itu bahkan merekam saat ia akan setubuhi Arumi. Ethan menghembuskan napas lega, setidaknya si cantik yang sangat bodoh ini tidak hilang perawan.
"Seluruh kebodohan di dunia telah pindah ke otakmu Arumi Chavez! Pekerjaanku rumit, menjagamu dan kesucianmu, aku harus minta upah lebih banyak pada Ibumu," keluh Ethan. "30.000 Euro, aku rasa pantas, aku akan buka kafe sendiri. Baiklah, mari kita pulang! Untung kau bodoh, jadi tak susah baca gelagatmu, Arumi!"
Ethan pergi ke sofa, turunkan penutup dari wajah Arumi. Wajah cantik itu tertidur tetapi pupil mata terus bergerak-gerak, pertanda tak sepenuhnya pingsan. Air mata bergulir dari kedua pipi. Ethan berdecak sebelum melilit tubuh Arumi dengan kain, mengambil tas milik Arumi dan pergi dari sana dengan Arumi di punggungnya. Beberapa pengawal berdatangan ke studio masuk ke dalam dan meringkus Dev.
Ethan membawa Arumi kembali ke flat gadis itu dan tidurkan Arumi di tempat tidur. Ia pergi ke dapur dan buatkan susu pekat untuk membantu Arumi menawar racun dalam tubuhnya.
"Ah aku mirip pengasuhmu, kini," katanya mengeluh, bangunkan Arumi, posisikan tubuh Arumi hingga duduk, menyangga gadis itu dengan satu lengan sementara tangan lainnya menyuapi Arumi susu. Suapan demi suapan dipaksa masuk hingga secangkir susu habis. Ethan masih memeluk gadis itu, berpikir untuk menelpon Marya. Tetapi ini sudah malam.
Arumi bergerak perlahan mulai sepenuhnya sadar tetapi dekapan Ethan adalah sesuatu terbaik yang pernah dilakukan seseorang padanya. Gadis itu terus pura-pura pingsan.
"Cepat bangun Arumi! Aku tahu kau sudah bangun, jangan bodohi aku," kata Ethan saat Arumi masih saja tidur dalam pelukannya, tidak ada tanda-tanda bangun. Hanya saja detak jantung gadis itu memburu setengah ketukan lebih cepat, pertanda ia tak lagi pingsan.
Ponsel Ethan berdering dan nama Sunny tertera di layar ponsel.
"Bagaimana Arumi, Ethan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Sunny bernada cemas.
"Ya, kurasa. Aku akan mengurusnya!" jawab Ethan. "Kau akan tambahkan upahku, Nona Sunny," kata Ethan kuatkan lengan. Untuk alasan yang tak diketahuinya, dibiarkan saja Arumi bodohi dirinya.
"Jaga saja dia, Ethan! Aku akan beri kau banyak uang."
"Baiklah, tak masalah! Dia sedang tidur, apakah kau bisa datang? Seseorang harus bantu Arumi ...," kata-katanya terputus.
"Bukankah kau baru saja minta tambahan upah 10 kali lipat?" potong Sunny dari seberang. "Jaga dia baik-baik Ethan!"
Ponsel dimatikan. Ethan mendengus. "Maksudku seseorang harus datang membantunya berpakaian."
Tak mungkin menelpon Marya, ini hampir pukul 9 malam. Ethan harus segera pulang atau Ibunya akan gelisah. Apa dia bawa saja Arumi pulang ke rumah? Oh Ibunya bisa mencakar wajahnya dengan garfu dan adik perempuannya yang sangat usil akan jahili Arumi hingga kasus bertambah parah. Tetapi tak mungkin tinggalkan Arumi sendirian. Tak mungkin pula minta bantuan Reinha Durante. Gadis itu pasti capek sibuk bikin box bayi seharian. Ethan tahu sebab Reinha pamerkan di media sosial seakan-akan bersiap punya bayi. Para sahabatnya mulai linglung.
Sial sekali, apa yang harus ia lakukan pada Arumi?
"Aku harus pergi, Arumi! Kau harus bangun dan berpakaian. Makan dan tidur!"
Arumi tak menyahut, makin bisu di dada Ethan hingga Ethan berpikir untuk beri Arumi satu gentong susu protein tinggi. Sebagai penawar racun juga untuk penawar kebodohan.
"Ethan jangan pergi!" kata gadis itu terisak. Tak ingin tahu bagaimana Ethan bisa tahu ia ada di D & M Studios tetapi bersyukur sangat bersyukur pria itu datang selamatkan dirinya.
Susah kelabui Ethan sebab laki-laki itu sangat cerdas, lagi-lagi ia bersyukur. Tidak heran, satu sekolah memuja Ethan Sanchez. Ia tampan, cerdas dan cool. Gadis dari sekolah lain bahkan mengejar-ngejarnya, tetapi Ethan hanya tertarik pada gadis pintar, jenius seperti Marya Corazon kakaknya dan Reinha Durante.
"Kau punya air mata Arumi?" tanya Ethan mengolok. Huh, ia memeluk seorang gadis idiot di ranjang dan gadis itu memintanya jangan pergi! "Berhentilah bodoh, Arumi! Kau hampir diperkosa seseorang, ya Tuhan. Seandainya aku tak datang, kau benar-benar tamat."
"Trims sudah datang," balas Arumi pelan. Apa Ethan melihat tubuhnya tanpa pakaian? Tidak, Ethan tak melihatnya tetapi bajingan bernama Dev itu. Tubuh Arumi seketika menggigil antara kengerian dan kedinginan. Ethan meraba kening, Arumi panas tinggi.
***
Sementara Elgio Durante sampai di rumah, disambut bibi Maribel.
"Sudah pulang Tuan Muda?"
"Hhh, Bibi Mai, panggil aku Elgio!" jawabnya.
"Mau makan malam dulu? Nona Marya sudah masakan Anda banyak makanan. Anda bisa menyuruhnya sekalian makan," kata Maribel lagi.
"Istirahatlah Bibi Mai, aku akan makan dengannya nanti! Sepi sekali rumah, di mana Enya?"
"Nona muda kembali ke kamarnya di Paviliun Barat, Tu - an, eh, Elgio." Belepotan. "Tuan Muda. Tolong jangan paksa saya memanggil Anda Elgio! Saya tak terbiasa!" keluh Maribel.
"Baiklah, Marya di atas?"
"Ya Tuan," sahut Maribel tersenyum geli.
"Ada apa? Wajahmu aneh bibi Mai?"
"Eh itu, Tuan, Nona Marya menunggu Anda. Aku akan pergi tidur. Tolong turun dan makan malam, Tuan."
"Baiklah, trims bibi Mai."
Elgio naik ke kamar. Marya benar-benar telah kacaukan sistem saraf dan seluruh inderanya. Gadis itu telah mendorong hasrat, menekan tombol panas dalam dirinya dan ia tak berdaya hadapi Marya.
"Elgio!!!" Marya berlari padanya dan melompat, "Kau sungguhan tinggalkan rapat?" tanya Marya tersenyum lebar.
"Ya, dan kurasa kau tahu akibatnya karena telah memancingku datang padamu, Marya. Sebaiknya kau bersiap," balas Elgio memeluk pinggang Marya erat dan berlabuh di bibir gadis itu tanpa basa-basi. Tak percaya gadisnya berani bermain-main dengan ponsel untuk menggodanya. Elgio membawa gadis itu ke ranjang, memeluknya di atas hamparan bunga. Aroma bunga, aroma Marya dan lelah di kantor musnah. Pria itu ingin bercinta dengan istrinya. Ingin bersama Marya tiap menit dan itu berarti setengah otaknya akan melumpuh.
"Reinha pindah ke barat dan aku kesepian," kata Marya.
"Aku akan suruh dia kembali! Jangan-jangan gadis itu pindah karena ingin selundupkan Lucky Luciano ke dalam kamarnya?" curiga Elgio.
Marya mencium bibir Elgio yang seksi di bawah lampu temaram, "Reinha tak akan lakukan itu!"
Pria itu mendesah dan memeluk Marya terbenam di lehernya. Ia akan mulai ketika ponsel Marya berdering, panggilan masuk.
"Siapa yang menelpon istriku di malam buta begini?"
Elgio bangun dan mengambil ponsel Marya, menyipit saat lihat nama Ethan Sanchez.
"Boleh kuangkat Marya, ini dari Ethan!"
"Em, ada apa ya? Ini pukul 9 malam."
"Hei Ethan Sanchez, apa kau harus mengganggu istriku di malam hari?" tanya Elgio dengan nada tak senang.
"Maafkan aku Elgio, bisakah kamu dan Marya kemari sebentar."
"Ada apa?"
"Aku akan kirimkan lokasi flat Arumi, em, bisakah datang saja tanpa banyak tanya? Aku tahu kalian mungkin sedang saling mencumbu seperti lama tak jumpa, tapi, aku tak punya orang lain untuk dimintai tolong."
"Ah, ya, smart. Tebakanmu benar sekali. Kami akan pergi ke ranjang dan kau merusak momen. Baiklah aku akan datang bersama Marya," keluh Elgio dan tambah darah tinggi saat Ethan terkekeh lucu di ujung sambungan senang buatnya uring-uringan.
"Ada apa Elgio?" tanya Marya.
"Em, entahlah, bisakah kau berpakaian Marya. Kurasa sesuatu terjadi pada adikmu," jawab Elgio.
"Arumi?"
Elgio mengangguk. Marya memakai sweater dan jaket tebal.sebab udara di luar sangat dingin. Mereka pergi ke flat Arumi dan Marya tak terkejut saat Ethan memeluk adiknya di atas ranjang dengan wajah tak terbaca.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Marya cemas dan datangi Arumi.
"Kau bisa tanya dia nanti setelah siuman. Ah ya, maaf interupsi acara kalian, aku hanya tak terbiasa dengan gadis bodoh yang panas tinggi!"
Ethan baringkan Arumi di atas ranjang dan Marya bergegas siapkan air hangat untuk mengompres dahi adiknya.
"Apa tak sebaiknya bawa dia ke dokter?" saran Elgio, pandangi Ethan Sanchez atas bawah. Elgio Durante agak curiga.
"Mari bicara di luar, Arumi harus berpakaian Marya!" kata Ethan dan mendorong Elgio keluar dari kamar Arumi.
Pintu tertutup di belakang mereka.
"Apa yang terjadi Ethan? Apa kau berusaha ... " ucap Elgio terputus, mengira-ngira. Apa Arumi merayu Ethan? Atau sebaliknya?
"Aku tidak nafsuan sepertimu, Elgio Durante!" potong Ethan bermuka masam.
Elgio ingin menggampar mulut Ethan. "Jangan spekulasi Ethan!" sahut Elgio mendesis.
"Kurasa aku benar, Marya sering kedapatan melamun dengan wajah memerah, senyum-senyum tidak jelas. Kau pasti lakukan sesuatu pada gadis sepolos Marya. Aku benarkan?" tebak Ethan.
"Ya, aku bersyukur sebab dulunya aku mungkin penyuka sesama jenis," aku Elgio.
"What's the hell? Padahal kau terlihat jantan sejati?" Ethan menjauh, pandangi Elgio ngeri.
"Aku tak suka wanita tetapi Marya berbeda. Kau tahu aku lari dari rapat penting hari ini dan ingin bersamanya. Trims kau merusak acara kami."
"Sorry, Elgio. Arumi hampir diperkosa di sebuah studio. Beruntung aku buntuti gadis itu," kata Elgio.
"Benarkah? Mengapa bisa?"
"Hhhh ...." Menghela napas berat. "Kau bisa tanya Arumi. Aku tak bisa selami isi otaknya. Aku harus pulang Elgio."
"Oh tidak bisa, Ethan. Kurasa kau harus tinggal di sini. Marya sedang hamil dan dia harus istirahat."
"Ha, hamil?" Ethan termangap. "Maksudmu ... " guman Ethan gagap dan tangannya bergerak-gerak meniru gerakan melendung. "Aku benarkan soal na ...."
"Kami akan punya bayi perempuan, aku berharap," potong Elgio cepat. "Tetapi sepertinya kau akan menikahi aunty dari bayi kami. Kau terlihat macam kekasih sungguhan Arumi Chavez."
"Tak akan terjadi, Elgio. Aku selalu bertindak dengan logika, tanpa libatkan hati. Orang tampak bodoh saat jatuh cinta karena mereka gunakan perasaan kesampingkan logika. Aku tak akan mau dihasut sentimentil. Hasil penelitian buktikan, kepintaran anak-anak didapat dari Ibu. Jadi, wanita masa depanku harus cerdas seperti Marya atau Reinha." Ethan menggeleng. Arumi, si gadis bodoh itu? Oh, jangan sampai.
"Ya, semoga kau tak jatuh cinta padanya!"
***
Wait me Up ....