
Reinha berdiri di depan The Windows, toko buku tua tidak terawat tetapi tetap tegak percaya diri seakan tak ingin tergerus waktu. Cat tembok telah pudar juga terkelupas di kedua sisi, bersisik akibat lembab dan setengah dinding dilapisi lumut hijau tua yang tampak nyaman melumur di sana. Kaca toko dilaburi debu tipis, mungkin karena jarang dibersihkan, sedang plafon bagian depan bangunan hampir jebol oleh embun menahun. Lantai teras berukir retakan tajam akibat termakan usia, darinya beberapa rayap keluar mengendap tanpa dosa melenggang masuki toko. Beberapa dari mereka pasti melubangi sampul buku, mungkin juga hal yang sama berlaku di bagian dalam; telah berpindah ke perut rayap tanpa disadari pemilik toko. Black board di depan toko berdiri tegak tanpa tulisan pertanda tempat itu ditinggal pergi pengunjung, sudah sejak lama.
"Eeiiiuuu ...." telunjuk Reinha mencolek kaca yang penuh debu.
Alih-alih pergi belajar marketing seperti laporannya pada Elgio, Reinha Durante lebih tertarik bekerja di toko buku tua di pinggiran distrik yang sangat butuh pegawai tapi tak mampu membayar banyak.
Jaman sekarang, buku bukan lagi jendela dunia. Om google telah menempati posisi sebagai jendela, pintu, bahkan lubang ventilasi dunia. Namun, ada beberapa buku antik yang tak bisa Google sadur dan itu harusnya jadi keuntungan untuk toko buku tua. Sayang, pemilik toko mungkin sangat konvensional.
"Anda akan bekerja di sini, Nona?!" Si pengawal yang bernama Augusto bertanya keheranan. The Windows dan Reinha Durante, sangat tidak masuk akal. Reinha lebih cocok bekerja sebagai SOP di sebuah outlet fashion. Yakin, ia akan jadi idola di dunia marketing.
"Ya ... awas kalau kau berani lapor pada Tuan Abner, Augusto! Kau bisa tidur seharian di mobil sambil mengawasiku atau kau bisa pergi kencan. Aku tak akan kabur."
"Baik Nona. Perlu diingat, Anda ada jadwal latihan Muay Thai pukul 5 sore."
"Ya! Aku tahu."
Reinha mendorong pintu toko. Meskipun diluar tampak kotor dan menyedihkan, bagian dalam toko terawat dengan baik. Kendatipun, tumpukan buku berjejal di kiri kanan, membuat ruang toko yang tidak seberapa besar itu menjadi padat hingga mempersempit ruang gerak; nyaris hanya muat untuk satu orang saja di tiap lorong.
Di sudut-sudut ruangan susunan buku menjulang lagi tanpa rak, disusun model rubik yang tingginya sekitar satu setengah meter, bahkan hampir menyentuh langit-langit toko. Bila tidak hati-hati, sedikit senggolan maka rubuhlah tumpukan buku-buku itu dan akan terjadi hujan buku.
Seorang pria tua menyambut gembira saat Reinha masuk ke dalam toko. Wajah sang kakek sama tua dengan buku-buku yang berjejer di rak buku ... kemungkinan ... ia juga telah menyerap banyak ilmu juga kalimat mutiara dari buku-buku di toko ini, sebab pria tua itu terlihat sangat bijaksana. Tuan Lucas adalah wajah-wajah dari masa kecil Reinha.
"Nona Reinha?"
"Ya, Tuan Lucas. Ini aku. Terima kasih telah menerima aku sebagai pegawai Anda."
"Semestinya akulah yang berucap terima kasih. Sungguh suatu kehormatan, Anda mau bekerja di sini. Namun, seperti yang Nona lihat ..., beginilah kondisinya. Toko buku ini nyaris tutup akibat lapuk oleh masa, ponsel telah mengambil alih dunia."
Tuan Lucas bicara sambil mengatur buku-buku yang tampak masih setengah baru ke rak depan meja kasir lalu mengakses komputer tua untuk mulai membarcot tiap buku agar mudah ditemukan.
"Aku salut pada Anda, Tuan Lucas. Masih bertahan padahal era digitalisasi mulai marak dan banyak buku mulai berubah format menjadi daring."
"Itu karena ... ada banyak kenangan di sini. Aku tak bisa melepasnya begitu saja, meskipun banyak pengusaha mengejar-ngejar toko ini untuk diubah menjadi distro dan jenis usaha lain."
Benar sekali, terlalu banyak kenangan di sini. Reinha berguman dalam hati. Aroma buku-buku ini adalah aroma Ibunya.
"Begitukah? Padahal toko ini tak begitu strategis bila beralih jadi distro." Reinha mengangkat bahu. "Baiklah, Tuan Lucas. Coba kita lihat apa yang bisa kulakukan untukmu. Pertama-tama aku perlu bersihkan bagian luar tempat ini."
Mengapa Reinha tertarik pada The Windows?
Tempat tua ini penuh kenangan pada Ayah Ibunya. Dahulu kala, ketika masih kecil, Ibu sering bawa serta Reinha ke The Windows. Reinha akan terbenam sepanjang hari amati komik Cinderella di balik rak-rak yang menjulang tinggi sementara sang Ibunda berkutat dengan banyak jurnal untuk rujukan menulis novel. Ya, Ibunya seorang guru sastra dan penulis novel, sampai kanker menyerangnya kemudian meninggal dunia empat bulan sebelum Ayah meninggal.
Reinha memakai masker, gunakan sarung tangan dan mulai bersih-bersih luar toko. Tak ada waktu memikirkan kedua orang tuanya. Entah di suatu tempat, mereka telah hidup dengan bahagia. Mereka selalu menemaninya setiap hari dan kasih sayang Elgio, kepedulian Tuan Abner dan perhatian Bibi Maribel adalah manifestasi kedua orang tuanya.
Ia menulis pada black board iklan.
Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum membacanya ....
"Buku-buku di sini tak ada label harga?"
Itu berarti Tuan Lucas melempar harga dan pembeli boleh menawarnya.
"Ya ... Nona."
"Apakah Anda keberatan jika aku menjual buku-bukumu di internet? Kita bisa koleksi buku baru lagi, kecuali untuk buku-buku antik. Jika kita dapat kolektor buku, toko ini akan berjalan dengan baik."
"Anda sangat cerdas, Nona."
"Baiklah."
Tiga puluh menit kemudian Reinha berkubang dilorong paling belakang sibuk mendokumentasi tiga buah Novel yang covernya menarik walaupun tidak up to date. Ia memotret, mengetik sinopsis dan mengupload ke beberapa situs jual - beli online sebelum terlebih dahulu membuka akun khusus The Windows. Saking semangat, Reinha tak ambil pusing pada beberapa orang pria yang memasuki toko.
Ekor mata Reinha sempat menangkap bayangan dalam setelan jas hitam, seorang di antara mereka mendekat di rak buku-buku poetry, mengambil buku Love Looks Pretty On You yang berisi kumpulan puisi dan prosa kontemporer yang sangat indah dan mulai membaca lembar demi lembar. Selera yang sangat bagus dan Reinha tersenyum sebab buku itu sangat manis, semanis cover tosca pinknya. Ia kembali sibuk.
"Alih-alih melunasi utang, jual saja toko ini pada kami! Bukankah toko buku ini tak punya pembeli sama sekali?"
Salah seorang di antara mereka bicara sambil mengobrak abrik seakan mencari sesuatu. Buku-buku mulai berjatuhan ke lantai.
"Jangan Tuan, aku mohon. Aku akan lunasi pinjamanku. Beri aku waktu."
Tuan Lucas bicara lirih dan lambat mendatangi si pria, seolah tak ingin Reinha mendengar percakapan itu.
"Ini sudah setahun Tuan Lucas, kau membuat kami kesal saja karena bolak balik kemari. Utangmu menumpuk sangat banyak dan harga toko ini bahkan tak mampu melampaui besar utangmu," kata si pria lagi. Ia mengambil sebuah buku yang paling tebal, merobek satu lembaran dan nyalakan pemantik. Ia membakar lembaran itu.
"Tuan jangan begitu! Ini adalah sebuah buku dan Anda harus menghormatinya." Tuan Lucas memelas. Tatapan nanar saat melihat lembaran buku terbakar berbanding terbalik dengan seringai jahat si pelaku.
"Tentu saja, aku menghormatinya. Tetapi jika Anda tak segera membayar Utangmu, toko buku ini akan seperti ini." Ia meniup debu kertas yang segera berterbangan di udara.
"Tuan ... beri saya waktu ...."
Reinha gerah oleh sikap semena-mena penuh keangkuhan dan bangkit oleh sentilan alami batin, perasaan iba. Kenapa ia selalu bertemu berandalan? Dibalik gedung-gedung pencakar langit kota ini ternyata kebrutalan moral mendapat tempat tersendiri. Tetapi tak bisa sepenuhnya salahkan pemilik uang. Mengapa juga Tuan Lucas berurusan dengan mereka?
"Tuan Lucas? Boleh aku tahu, apa yang sedang terjadi di sini?"
Suara khas Reinha mengagetkan semua yang ada dalam toko tak terkecuali si pria yang sedang membaca Love Looks Pretty on You dan buku itu merosot turun. Ia perhatikan Reinha Durante penuh ketertarikan emosional.
****
Up lebih banyak Chapter hari ini. Menulisnya dari sini, ditemani deru air dari parit-parit sawah dan tempat Author duduk ini kebetulan ada sinyal.
Kalau hati seputih awan, janganlah dibiarkan mendung. Bila hati seindah bulan, hiasilah dengan senyuman. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga banyak keberkahan dan kebahagiaan yang bisa kita dapatkan hari ini.