
Marya dibawa ke sebuah peternakan terpencil dan lumayan jauh dari pemukiman. Untuk alasan yang tak diketahui, Marya tak merasa canggung atau aneh pada pria di sebelahnya yang duduk dengan tenang dengan angkuh. Saat ia bicara, gesturnya mirip Ibu juga Aunty Sunny; angkuh dan percaya diri.
"Apa Arumi baik-baik saja? Aku mengunjungi Sunny dan dengar kabar Arumi memilih hidup mandiri," tanya Tuan Hellton.
"Ya. Tuan Hellton, kemana Anda akan membawaku?"
"Ini peternakan Kakek Nenekmu, Aruhi. Kami mengolah susu UHT di sebuah pabrik tak jauh dari sini, susu segar murni berkualitas tinggi dari sapi-sapi di sini. Ibumu juga Aunty-mu masuk dalam jajaran direksi ini," jawabnya sedikit beri penjelasan. "Turunkan kaca mobilmu dan lihat keluar sana! Awalnya ini cuma industri rumah tangga lalu buyutku mengubahnya jadi entitas perusahaan besar dengan mesin pemroses minuman tercanggih di negara ini."
"Aku tak tahu soal ini?" keluh Marya. Memang tak akan tahu, ia baru beberapa bulan bersama Ibu dan mereka jarang bahas masalah bisnis.
"Ya, karena Kakekmu termasuk dalam sebuah kartel Mafia. Aku termasuk di dalamnya, jadi, hanya bisnis dari sanalah yang terkenal. Kau tahu pekerjaan buruk lebih mudah diingat ketimbang pekerjaan baik. Kami tidak sepenuhnya lakukan pekerjaan kotor."
Marya ikuti saran Tuan Hellton untuk turunkan kaca mobil. Ia terpesona oleh Padang rerumputan hijau di mana sapi-sapi merumput dengan tenang dan damai. Entah mengapa, suara-suara sapi itu tak asing di telinganya. Seakan ia pernah kemari. Seakan ia dekat dengan tempat ini.
"Kita juga punya kandang kelinci di sini. Kau akan suka di sini, tetapi, sebelumnya kabari suamimu. Aku ingin bicara dengannya!" kata Tuan Hellton lagi.
"Baiklah, Tuan."
"Bisakah kau memanggilku, Uncle? Aku merasa aneh dipanggil Tuan."
Ia menyodorkan ponsel dan perlihatkan foto Arumi. "Lihat ini, Arumi saat berumur 6 tahun, bermain bersama kelinci. Aku dengar soal pernikahanmu yang dikacaukannya. Sungguh gadis bodoh, tapi aku sangat sayang padanya meski ia tak suka padaku."
Marya belum pernah lihat foto Arumi saat kecil dan sedikit tercengang dapati wajah mereka sangat mirip. Jika ditunjukan pada Elgio, suaminya pasti akan setuju betapa miripnya mereka. Elgio? Elgio? Marya mendesah oleh cemburu buta di hatinya. Berani-beraninya Elgio berdekatan dengan Irish dan indahkan larangannya. Marya percaya pada Elgio tapi tidak pada Irish. Bagaimana jika ia menjebak Elgio untuk tidur dengannya? Marya mulai cemas dan meraih ponselnya. Elgio sering pulang larut malam, apakah dia bersama Irish? Apakah mereka makan malam di suatu tempat? Apakah ....?! Apakah ....?!
Mereka sampai di halaman rumah yang luas dan Tuan Hellton persilahkan Marya turun.
"Apakah tersambung?"
"Ya, Tuan. Hanya belum dijawab."
"Baiklah, mau lihat kelinci? Mereka ada di sebelah sana," angguk Tuan Hellton padanya ke arah samping rumah di mana ada sebuah pagar dan di dalamnya begitu banyak kelinci terlihat. Marya terpesona. Ia menelpon Elgio dan saat diangkat, Marya mengangkat ponsel dengan nada sedikit ketus.
"Seseorang ingin bicara denganmu, Elgio Durante."
"Marya?! Siapa?!"
"Aku tak tahu, bicaralah padanya!" kata Marya lagi cemberut. Elgio terdengar gugup dari sebelah.
"Marya?!"
"Halo, Elgio Durante?" sapa Tuan Hellton mengangguk pada Marya untuk pergi melihat kelinci. Marya yang panas hatinya tak ingin dengar suara Elgio. Ia merasa Elgio abaikan peringatannya. Itu buat Marya sangat kesal.
"Siapa kamu?!" tanya Elgio Durante di ujung sambungan terdengar panik. "Di mana istriku?"
Benar sekali, Elgio Durante yang sedang bicara serius dengan Abner soal Irish langsung memucat di tempatnya duduk. Ia sontak bangkit dengan gelisah lantas mondar-mandir ketakutan. Apakah salah satu mafia menculik istrinya? Apa yang terjadi? Mengapa Marya terdengar marah padanya?
"Ada apa, Elgio?" tanya Abner saat Elgio Durante kedapatan menegang. Elgio hidupkan loud speaker.
"Elgio, aku Pascal. Hellton Pascalito. Aruhi bersamaku, dia sedang bermain bersama kelinci. Bisakah ubah panggilan ke video call? Aku akan perlihatkan istrimu!"
Elgio segera beralih ke panggilan video dan napasnya tercekat saat Marya sedang menggendong kelinci yang tampak jinak duduk di atas ayunan sembari mengelus punggung kelinci. Ia tertawa ke arah kamera.
"Tuan Hellton, bolehkah aku bawa pulang sepasang kelinci ini? Kurasa kehilangan sepasang tak akan membuatmu merugi." Marya bercakap seolah-olah mereka saling mengenal satu dengan lain.
"Tentu saja, Sayang. Kau boleh bawa beberapa jika kau sangat ingin. Aku akan masukan mereka dalam kandang dan kita bisa minum teh sambil menunggu suamimu datang," balas Hellton Pascalito dan alihkan kamera pada wajahnya.
Elgio menggertakkan giginya marah.
"Siapa kamu? Apa yang kau inginkan?"
"Irish Bella! Bawa dia padaku, sekarang!" kata Pascal dingin dan tajam. Ia bicara dengan nada penuh tekanan.
"Baiklah! Jangan sentuh istriku!" angguk Elgio tanpa pikir panjang.
"Tidak akan, Elgio Durante. Aku sangat sayang padanya seperti aku sayang pada Arumi meski aku baru bertemu dengan Aruhi. Tapi sebaiknya kau bawa Irish Bella padaku! Beruntung itu aku, jika mafia yang lain, kau mungkin dalam masalah."
Ponsel dimatikan dan Elgio mengerang marah. Siapa dia?
"Abner, seseorang menculik istriku. Caritahu siapa dia? Bawa Irish padaku, aku tak peduli!" raungnya antara marah dan putus asa. Apakah mereka pindah ke negara lain dan menjual Durante Land?
"Hmmm, aku akan caritahu siapa dia! Aku yakin dia mafia salah satu anggota Mafia Club yang dekat dengan Diomanta. Ia menyebut nama Arumi dan Aruhi." Abner berasumsi. "Well, kau urus masalah ini! Aku harus rapat, Elgio. Kita punya banyak masalah dan butuh penyelesaian. Ini urgent dan tak bisa ditunda lagi. Lokasi Irish kukirim ke ponselmu. Kau bisa jemput dia dan bawa dia pada Pascal. Kali ini, kau lakukan sendiri dan jangan andalkan aku. Saat aku mati, apa kau akan meneriaki aku dari pinggir kubur untuk bangkit dan selesaikan masalah yang kau buat, Elgio Durante?"
Elgio menatap nanar walinya. "Apakah perlu bicara yang tidak-tidak sekarang, Abner Luiz? Jika kau mati, aku akan awetkan mayatmu, jadikan kau mumi dan menyembahmu tiap aku butuh bantuan," sahut Elgio sebelum tinggalkan Abner.
Pria malang itu mengendarai mobil pergi ke lokasi di mana Irish di lindungi Abner. Tempat itu ternyata laboratorium pribadinya.
"Abner, kau sudah gila?" desis Elgio dan tak percaya, tempat aman yang Abner maksudkan adalah laboratorium mininya. Tingkat keamanan laboratorium itu sangat canggih, apalagi setelah data komputernya dicuri. Sistem keamanannya di upgrade agar hacker Rusia tak seenaknya membobol sistem keamanan lab dan mencuri datanya. Ia akan sembunyikan keluarganya di sini untuk sementara waktu tetapi seperti biasa, Reinha akan menolak keras.
"Elgio, kau di sini?" tanya Irish. Wanita itu tampak sibuk ikuti perkembangan berita terbaru. Abner matikan semua sistem di ruangan lain hanya sisakan ruang tengah, dapur dan toilet belakang.
"Ya, ikut denganku Irish!" sahut Elgio pendek.
"Kemana? Apa kau akan serahkan aku pada walikota?" tanya Irish menatap lurus Elgio Durante yang terlihat kacau. "Apa walikota ... "
"Tidak," potong Elgio cepat. "Aku tak bisa lindungimu lagi. Aku tak peduli jika kau menyeretku ke pengadilan bahkan ke penjara sekalipun, kau hanya harus ikut denganku!" kata Elgio, datangi Irish meraih tangan wanita itu dan setengah menyeretnya.
"Apa yang kau lakukan? Aku tak akan pergi, bicaralah yang jelas!" Irish menahan dirinya dengan satu tangan lain di pegangan sofa.
Elgio berbalik tidak sabaran dan satu kali hentakan tangan Irish terlepas. Elgio menatap Irish antara kesal, marah, rahangnya menegang.
"Istriku diculik hari ini oleh seorang pria bernama Hellton Pascalito, kau kenal dia?" seru Elgio menggebu-gebu.
"Tidak," sahut Irish pendek. "Apa hubungannya denganku?"
"Dia menginginkanmu! Kau akan ikut aku, atau aku biarkan dia kemari. Kau bisa pilih yang mana Irish. Istriku sedang mengandung, aku tak bisa lindungi wanita lain dan korbankan istri juga anakku. Mengertilah!"
Irish memandang Elgio muram. Betapa cintanya Elgio Durante pada istrinya.
"Maafkan aku, Elgio."
Elgio meraih syal, menutupi kepalanya asal-asalan lalu melempar kaca mata hitam yang diambil dari atas meja untuk Irish pakai. Tangannya diraih dan ia dibawa ke mobil. Pria itu buka pintu mobil dan pastikan dirinya duduk dengan aman. Itu cuma hal sederhana, seandainya Elgio Durante miliknya, situasi seperti ini akan terasa manis. Baiklah, ia mungkin jatuh cinta pada Elgio Durante tetapi pria itu sudah beristri. Ia tak ingin disebut perusak rumah tangga orang lain. Itu lebih memalukan ketimbang perawan seumur hidup.
"Tolong jangan macam-macam, jangan memaksaku kasar padamu, Irish!"
***
Saat sampai di peternakan yang dituju, Elgio menggiring Irish masuk ke halaman rumah dan pemandangan di teras vila sangat-sangat tak masuk akal bagi Elgio. Pria yang ia lihat di video, Hellton Pascalito bersama Marya sedang minum teh dan mereka mengobrol dengan santai. Marya bahkan tertawa terbahak-bahak saat pria di sisinya bercerita tentang sesuatu. Hari mulai gelap.
"Kau yakin itu, Ibuku? Ya Tuhan, lawakan Anda sangat-sangat lucu ternyata."
Masih menggiring Irish, mereka mendatangi teras vila. Marya langsung mengatup bibirnya. Meski cemburu, hampir muntah dan hatinya terus-terusan menyala, ia menatap Irish tenang.
Irish membuang pandangan. Ia tak suka pada Marya untuk banyak hal dan gadis belia itu terlihat lebih menakutkan dari Iblis.
"Marya?! Apa kau baik-baik saja?" tanya Elgio di ujung tangga.
"Tentu saja, Sayang! Nah, Irish sudah datang. Aku pamit dulu, Tuan Hellton. Trims, untuk kelincinya. Aku akan merawat mereka dengan baik." Marya bangkit berdiri dan menenteng kandang berisi sepasang kelinci, lebih dulu pergi tinggalkan Elgio.
"Trims, Elgio Durante. Senang berkenalan denganmu," kata Pascal basa-basi.
Elgio tinggalkan Irish di sana, di beranda seorang pria asing sementara ia mengejar Marya ke mobil. Elgio mengenal Marya dengan baik dan istrinya itu walaupun bicara ceria padanya, ia sedang memendam amarah. Tinggal menunggu letusannya saja.
"Marya, apa kau baik-baik saja?" tanya Elgio saat mereka di dalam mobil. Wajah Marya masih sama tenang terkendali. Ia kelabui Elgio di luar sana hanya untuk tunjukan pada Irish bahwa ia sangat percaya pada suaminya. Namun, dalam benaknya, ia benci saat suaminya melangkah di belakang Irish. Elgio berbohong padanya, pointnya di sana.
"Tentu saja, apa kau berharap terjadi sesuatu padaku dan bayiku? Kau bisa pergi dengan wanita lain yang mengejar-ngejarmu!" sahut Marya tersenyum sangat sinis. Itulah pertama kali, Elgio lihat rupa Marya seperti itu.
"Marya ...."
"Mari pulang, Elgio. Aku akan abaikan fakta bahwa kau menyembunyikan hal sebesar ini dari istrimu. Apa karena aku hanya seorang remaja?" tanya Marya dengan raut kecewa. Mereka berbagi segala hal, tetapi Elgio sembunyikan Irish berhari-hari dan jika pria yang Marya yakini memang pamannya tidak datang, Marya tak akan pernah tahu.
"Marya, aku tak bermaksud begitu."
"Baiklah, aku tak ingin dengar lebih jauh lagi. Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Marya. Suasana hatinya berubah buruk, sangat buruk. Ia ingin muntah saat melihat Irish Bella, ditahan-tahan, dan sesuatu di dalamnya sungguh-sungguh muak pada Irish. Oh, terkutuklah wanita itu.
"Marya .... "
"Tolong jangan bicara padaku, Elgio Durante! Aku akan turun dan berjalan kaki jika kau coba-coba buka mulut!" ancam Marya dan menyender di bangku mobil pejamkan mata.
Begitulah kedua orang itu akhirnya satu mobil dalam diam. Sementara Hellton Pascalito berdiri dan pandangi Irish tersenyum kecil.
"Siapa kau?" tanya Irish.
"Hellton Pascalito, Irishak Bella. Aku sebut diriku 'Yang beruntung' sebab aku mendapatkanmu!"
"Apa maumu?" tanya Irish, coba-coba mengingat nama Hellton Pascalito tetapi ia tak temukan siapa pria yang tersenyum aneh padanya itu.
"Apa pertanyaan beranimu ini akan kau tulis dalam salah satu buku tentang genosida Mafia? Kau tahu, aku pebisnis yang sangat sibuk. Tetapi, kau mencuri perhatianku dan sangat-sangat mengusik. Aku terpaksa harus kemari dan menemuimu langsung. Beruntung Elgio Durante berbaik hati mau serahkan dirimu!"
"Jangan buang-buang waktuku!" Merasa sangat sial sebab ia bahkan tak punya ponsel untuk cari bantuan. "Aku pergi!"
"Kemana, Nona? Sekelompok Mafia sedang mengokang senjata dan berburu. Siapa yang berhasil membawamu, akan diberikan imbalan sangat besar. Kau harus rekonstruksi wajah, jika tak ingin dikenali."
Meski terdengar seperti lelucon, pria di depannya benar. Ia adalah buruan empuk para mafia kini. Sialnya lagi, para pebisnis banyak yang terseret di dalamnya. Betapa korup dan kotornya negara ini.
"Maka biarkan seperti itu, aku akan jalani takdirku! Aku tak takut pada sekelompok pecundang, hanya sampah sialan. Mereka perdagangkan gadis di bawah umur setelah menyuntik mereka dengan narkoba, dan biarkan jadi santapan fedofilia. Kau salah satu dari mereka? Ya ampun, Elgio Durante bukan pria terhormat yang kukenal. Pria itu hanya kaki tangan penjahat sepertimu."
"Kau terdengar patah hati!"
"Bukan urusanmu, aku pergi!"
Irish turuni tangga hendak pergi tetapi Hellton Pascalito dengan langkah panjang meraihnya dan menyeret Irish yang terperanjat ke dalam rumah dan hempaskan wanita itu di sofa.
"Ap ... ?!"
"Apa yang aku lakukan?" sambung Hellton kalap. "Kau menyentuh keluargaku, bisnisku, orang-orangku, Irishak Bella. Mengapa tak berjalan di jalanmu?"
Irish bangkit tanpa rasa takut. Apakah ia akan berakhir di tangan pria yang tampak kejam saat tersenyum ini? Maka akhiri saja ini.
"Aku hanya abdi negara dan jalankan tugasku. Apa aku menyinggungmu? Kau marah?" Irish tersenyum mengejek.
Irish bicara sambil bergerak ke pintu belakang, ia harus kabur tetapi pintu terkunci, ia terjebak di dalam rumah itu. Hellton amati tingkah wanita yang tampak putus asa dan tahu tak ada jalan untuk pergi, kembali padanya tanpa rasa takut. Menarik untuk disimak.
"Apa kau salah satu mafia yang bisnisnya hancur?"
Hellton berdecak saat Irish melepas kaca mata dan menatapnya tajam.
"Itu belum seberapa, Tuan. Saat aku lolos, kau akan berakhir di penjara seperti mafia-mafia lainnya."
"Oleh sebab itu, Irish. Aku akan menyekapmu dan tak akan biarkan kau lolos. Kau akan berbaring sangat dekat dengan kejahatan."
Tanpa aba-aba memanggul Irish di pundaknya dan membawa wanita itu ke ruangan lain, lemparkan Irish ke atas ranjang, mengunci pintu dengan gerakan angkuh.
Irish segera menyadari, ini tidak benar. Pria itu tidak menyekapnya untuk membunuhnya.
"Kau juga akan lakukan hal gila dan menambah daftar kejahatanmu?" desis Irish mati rasa. Ia pernah disekap di kamp ter*ris hampir dinodai pemimpin mereka tetapi Carlos Adelberth datang selamatkan dirinya. Menyesal, kenapa ia abaikan perhatian Carlos padanya malah sibuk diperbudak cinta pada Elgio Durante, harusnya ia pergi bersama Carlos ke Gaza.
"Aku akan membawamu ke neraka!" kata Hellton dingin datangi Irish yang membeku.
"Tidak! Kau tak akan lakukan itu!" geleng Irish menyipit.
"Mengapa tidak? Aku buang-buang waktu dan tenaga dengan datang kemari, kau menarik atensiku, Nona. Harusnya kau tak menyinggungku." Melepas kemeja. Raut itu mengerikan. Nyali si wanita melorot hingga ke titik nol. Apakah ia mendapat kutukan dari Marya? Apakah Marya meminta pria aneh ini bertindak buruk padanya? Mereka tampak akrab tadi.
"Kau tak akan dapatkan apa yang kau inginkan!" desis Irish bangkit dan meloncat berlari ke pintu. Sebatas itu, pintu terkunci. Satu pegangan pada punggungnya, ia kembali terlempar ke ranjang.
"Kau akan tidur bersama kejahatan dan tahu bahwa dunia tak akan seimbang tanpa pria sepertiku!" ujar Hellton tajam dan marah.
"Hentikan! Menjauh dariku, freak!" maki Irish mundur menjauh sebisa mungkin tapi, pria besar yang marah itu separuh mencengkeram lehernya hingga ia hampir kehabisan napas. Tangannya bergerak dan menampar Hellton sangat keras yang malah menyeringai semakin terpancing.
"Kupikir saat kau menyerang keluargaku, kau bisa antisipasi hal-hal seperti ini. Tetapi kau hanya wanita angkuh yang berkoar-koar."
"Jangan coba sentuh aku!" kata Irish tersendat-sendat. Kedua tangannya di satukan dan dicengkeram kuat di atas kepalanya. Sedang tangan lain pria itu masih mencekik lehernya. Ia berusaha sekuat tenaga menendang tapi tampaknya tak berarti untuk pria sebesar Hellton.
Irish mengumpat marah saat Hellton membungkuk, dekatinya.
"No no no! Sialan kau, brengsek jahat, menjauh dariku!" Menggeleng keras saat satu raupan di bibirnya, membungkam makian dan langsung pada sedotan ekstrim membuat mata-mata terbeliak sebab lidahnya serasa ditarik keluar dari tenggorokan. Semakin ia meronta, ia semakin kehabisan napas. Sapuan diikuti gigitan yang sangat menyakiti bibirnya. Otot-otot wajahnya menegang sedang urat-urat wajah ia yakini mencuat dibalik kulit arinya.
Psikopat itu mengangkat wajah amati hasil perbuatannya dan menyeringai puas saat Irish terbatuk-batuk. Ia menunggu sebelum menarik lepas kancing kemeja Irish dengan gigi-giginya. Irish menjerit histeris saat pria itu dengan kasar menarik lepas dress yang dipakainya dan menindihnya kuat.
"Kau tahu, saat menyadari saksi penting sepertiku menghilang, Perdana Menteri akan umumkan perang terhadap Mafia. Kau tak akan bertahan lama!" desis Irish dengan bibir bengkak dan kesakitan, menggeliat coba bangkit dan kabur.
"Aku akan pikirkan itu nanti! Saat ini, kau akan nikmati sensasi liar, gairah seksi yang kasar dan romantisme kotor. Kau akan beruap nanti. Harusnya kau tak memancing aku mencarimu!"
"Terbakarlah kau di neraka, bedebah!"
"Aku akan bawa kau serta, Irish! Itu aturan mainnya!"
***
Wait me for update . Aku yang nulis tapi aku sendiri yang pening bacanya. Chapternya sengaja aku potong.... Apakah kalian akan menduga chapter ini akan terjadi? Beritahu aku di kolom komentar