Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 77 Pria Masa Depan, Bukan Kekasihmu....



Valerie bergerak dari balik pintu dengan moncong pistol tertancap di otak kecil Elgio. Irish Bella tampak tak berani menengok, ia kembali bermain piano tempo lebih cepat, jemarinya bergetar. Mata gadis itu bergerak-gerak gelisah seakan ingin bilang, "pergi dari sini".


Dua orang bodyguard bertubuh kekar dengan peringai kejam masuk ke dalam ruangan. Sementara Valerie berjinjit dan bersuara lembut tapi lebih mirip psikopat.


"Jatuhkan senjatamu, Tuan Durante!" bisik Valerie bergairah dan lembut di kuping Elgio. Tak ada tindakan untuk sesaat sebelum Elgio menyerah sebab tak punya pilihan. Pria itu mengangkat tangan, sedikit bungkuk dan menaruh senjata di lantai yang lantas ditendang kuat Valerie. Senjata itu meluncur ke bawah kaki piano.


"Jadi, kau adalah pion Diomanta? Mereka memang pecundang!" desis Valerie.


"Di mana istriku?!" tanya Elgio tenang abaikan Valerie, semua inderanya bekerja lebih aktif.


"Aruhi?!" tanya Valerie pelan.


"Ya ... Aruhi."


"Di suatu tempat yang damai," jawab Velerie santai.


"Beritahu aku, apa yang kau inginkan dan biarkan aku membawa istriku pergi!"


"Kau lebih tampan dari yang dibicarakan banyak orang, senang kau datang."


Pistol itu bergerak turun dari kepala ke punggung Elgio dengan gerakan menggoda. Wanita itu berputar dari belakang ke depan Elgio. Pistolnya melingkar dari pinggang Elgio, naik ke dada, menelusuri leher, sebelum bersarang di kening Elgio.


"Jadi, kau Valerie?!" tanya Elgio naikan satu alis.


"Ya, ini aku. Glad to meet you, Tuan Tampan."


Valerie hanya gunakan lingerie tipis yang sangat seksi pamerkan tubuh estetisnya yang mulus dan dadanya yang penuh berisi. Riasan mata wanita itu tebal dan mencolok, extra ordinary, dengan smokey eyes sangat tajam. Lipstik merah terang menyala di atas kedua bibirnya yang sensual. Beruntung, satu-satunya wanita yang berhasil memancing gairahnya hanya Marya, padahal gadis itu tak pernah "sembrono" dalam berpakaian. Ia rindukan kekasihnya.


"Katakan apa maumu?!" tanya Elgio tanpa kedip sedang denting piano terus berbunyi.


"Kau menguntitku selama bertahun-tahun, kirimkan semua file hasil perburuanmu padaku!"


"Tidak!" tolak Elgio. "Sampai aku tahu keberadaan istriku! Bawa dia kemari, Valerie dan aku akan penuhi permintaanmu."


"Sayang sekali, kau sangat keras kepala." Valerie bicara pelan tetapi penuh tekanan. "Penuhi keinginanku dan kau akan melihat istrimu."


"Tak ada jaminan setelah kuberikan kau file-nya, Istriku tak disakiti. Bagaimana kalau kau bawa istriku sekarang dan aku berikan file-mu?" tanya Elgio mulai negosiasi.


Valerie mengangguk pada pengawalnya dan salah seorang di antara mereka datangi irish Bella, menodong kepala gadis itu dengan senjata. Irish berhenti sejenak, sebelum kembali bermain lebih lembut, Für Elise terdengar sangat menyayat hati.


"Senang kau juga datang kemari, Irish. Aku muak pada sok jenius-mu itu. Apa yang kau dapatkan di kontainer 13?"


Tangan Irish terus bermain piano, wanita itu tersenyum. "Tak ada yang abadi, Valerie. Perdagangan manusia, narkoba dan kejahatan lainnya, kau tak akan selamat. Aku berharap kau mendekam dalam bui."


Valerie tertawa sumbang, keras dan menggelegar. "Tidak segampang itu Irish. Mati satu tumbuh seribu, begitulah kami." Berhenti tertawa. Mengangguk beri kode untuk menembak Irish. Valerie tersenyum pada Elgio seakan minta pendapat.


"Aku tak peduli kau membunuhnya, Valerie!" ujar Elgio dingin. "Di mana istriku?!"


Denting piano berkahir. Irish tampak terkejut mendengar pernyataan Elgio Durante. Namun, wanita itu kembali menekan tuts-tuts piano.


"Benarkah?!"


"Aku mencari istriku, bukan yang lain."


"Baiklah! Selamat tinggal Irish! Waktumu habis. Trims untuk permainan piano-mu yang indah."


Wajah Irish Bella memucat, dipejamkan mata dan tubuh itu gemetaran. Tangannya terus bergerak di piano meski produksi nada mulai false.


Mendadak ....


DOR!!!


Prang!! Kaca jendela pecah.


Satu tembakan, kening pengawal di sebelah Irish lubang. Tembakan kedua pengawal Valerie di ambang pintu, jatuh. Suara tembakan kemudian terdengar balas-balasan di luar sana, berikut barang pecah belah dan entah apa lagi.


Manfaatkan situasi lengah, Elgio bergerak cepat, kaitkan lengannya pada lengan Valerie yang terapung dengan pistol di keningnya dan sekali hentakan kuat senjata Valerie jatuh ke lantai. Tangan lain yang bebas merengkuh leher wanita itu sebelum mendorongnya ke tembok, gantungkan ia di sana. Valerie kesulitan bernapas, mata-mata terbelalak, tetapi sangat lincah, mencabut sesuatu dari pahanya. Satu sambetan belati tajam, kemeja Elgio robek dan lengan itu berdarah. Elgio mengerang sakit sontak lepaskan Valerie. Wanita itu baca peluang, berputar gemulai seperti penari balet dan ayunkan satu sabetan lagi tetapi Elgio sigap menghindar. Elgio mendekat dengan jengkel sedang Valerie dapatkan kembali senjatanya. Ia akan menembak Elgio tetapi Irish acungkan senjata Elgio yang diambilnya dari bawah kolong meja piano.


"Berhenti kau jalang!" Wanita itu mengancam Valerie.


Mereka saling menodong sedang Elgio terjebak di tengah. Irish bergerak waspada ke arah Elgio.


"Kupikir kita bisa sahabatan, Irish?!"


"Tentu, kalau kau berubah baik. Sayang sekali, ya?" keluh Irish.


Valerie berdiri was-was, ia telah menyewa Jiuvanni khusus untuk melindunginya tetapi sepertinya seseorang telah kacaukan Jiuvanni. Para sniper sepertinya sedang sibuk saling lumpuhkan lawan. Valerie perhatikan Irish, tangan wanita yang gemetar itu beri pertanda bahwa Irish tak pandai gunakan senjata. Valerie menarik pelatuk dan menembak Irish yang tak bisa menjaga posisi menembak. Peluru terbang dan Elgio yang tersadar mendorong Irish hingga wanita itu tersungkur ke lantai dan peluru lukai lengan kiri Elgio.


"Akkhh ...." Pria itu menjerit saat timah panas jarak dekat terbentur lantas mengeram dalam otot lengannya.


Dengan kedua lengan terluka, gerakan Elgio melambat. Valerie kembali akan menembak tetapi Dilly masuk, menyerbu tangan Valerie dan menggigitnya kuat hingga separuh daging tercabik. Valerie terjengkang jatuh. Dilly kembali meloncat hendak menyerang lagi, ketika senjata Valerie meletus, peluru melesat cepat, bersarang di tubuh Dilly. Lontaran peluru jarak dekat merobek badan Anjing itu yang langsung meluruh ke lantai.


"DILLY?!" seru Elgio. Kemarahan pria itu memuncak.


Valerie kembali hendak menembak tetapi Elgio lebih cepat meraih tangan Irish dan menuntunnya menembak kaki Valerie hingga wanita itu bertekuk lutut dan mengerang kesakitan bahkan tak sanggup memegang senjatanya lagi. Irish sigap merangkak dan merenggut pistol Valerie dari tangan wanita itu. Elgio dekati Dilly, merobek lengan kemejanya dan membungkus luka Dilly. Ia lalu lepaskan rompi selimuti Dilly yang menggigil, menolak bantuan Irish.


"Hey, buddy. Bertahan sedikit lagi. Kita akan pulang ke rumah dan obati lukamu," guman Elgio mengelus Dilly yang sekarat. "Jadi, gadis kita tak ada di sini? Trims kau menyelamatkan aku."


Elgio bangkit, bangun, melangkah sempoyongan dan letakan pistol di kepala Valerie.


"Kau sudah tamat!"


Valerie menahan sakit, tetap bicara dengan lemah lembut sehalus air mengalir di telaga tetapi penuh ejekan.


"Belum, kurasa. Kau tak akan menembakku, Sebab hanya aku yang tahu di mana Aruhi."


"Kau akan beritahu aku!"


Lucky Luciano berdiri di ujung tangga sisakan kejutan untuk Valerie. Pria itu melongok ke bawah, arahkan senjata, tembaki seluruh ruangan tanpa sisa. Ia mengisi peluru lagi dan bersenang-senang dengan senjata.


"Lucky?!" balas Valerie menahan darah dari tangannya akibat gigitan Dilly juga luka di kakinya. "Apa kabar Reinha?!" tanya Valerie keheranan saat lihat Lucky Luciano seakan hidup tanpa beban. Lupa bahwa pria itu berandalan sejati.


"Baik, terima kasih! Ia akan menyapamu lain waktu. Kau tahu Valerie, semoga kau masih hidup untuk lihat betapa kerennya kekasihku itu, kau mungkin akan makan hati! Reinha pasti akan datang padamu suatu waktu, bisa jadi kau akan menghirup sup beraroma kematian," kata Lucky ringan tersenyum manis hingga lesung di pipi semakin menonjol.


Valerie tertawa sinis. "Omong kosong sekali kau Lucky Luciano. Sementara ditampar tadi, gadismu langsung pingsan tak berkutik."


Lucky terpaku sejenak, begitupula Elgio yang menahan marah dengar adik perempuannya ditampar. Pria itu semakin menekan pistol di kepala Valerie. Lucky berjongkok di depan Valerie, mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja meski ia sangat-sangat murka saat tahu Reinha disakiti.


"Mungkinkah kau curang? Sebab, dalam pertarungan adil, gadisku itu bisa membuatmu jungkir balik tak karuan."


Valerie mencemooh. "No body knows. Sayang ya, dia mungkin telah kehilangan keperawanannya saat ini."


"Jangan cemas, kami berbagi hal-hal intim, kami pernah tidur di Civic Center bahkan di hotel setelah kau racuni aku dengan obat perangsang. Kau pasti berharap aku liar dan primitif bersamamu, tetapi ternyata aku bersama Reinha. Terima kasih, berkat kau, kami bersama malam itu setelah krisis cinta berkepanjangan," ujar Lucky sengaja bikin kesal Valerie.


Elgio menyipit dengar perkataan Lucky Luciano, merasa ditipu mentah-mentah. Lucky segera sadari itu, buru-buru berkedip satu mata pada Elgio agar kakak kekasihnya itu tidak tembaki kepalanya. Tatapan murka Elgio bikin jantung Lucky cenat-cenut. Pria pemarah itu bisa jadi berubah haluan dan lubangi kepalanya.


"Aku akan beritahu yang telah habiskan banyak harta untuk dapatkan Reinha, bahwa ia telah ditipu olehmu. Kau akan berhadapan dengan Axel Anthony, untuk kematian Rocco Anthony dan untuk banyak hal. Berumur panjanglah Valerie! Kita lihat saja nanti!"


Valerie tertawa miringkan sudut bibir. "Umm, jangan senang dulu, Lucky! Kau tahu, aku punya banyak kejutan untukmu juga Sunny!"


"Ya, aku tunggu kejutanmu. Ngomong-ngomong, di mana Nona Marya, Valerie?!"


Seakan menjawab pertanyaan Lucky, deru suara helikopter terdengar landing di atap Mansion. Valerie tersenyum sakit.


"Aku tak percaya, kau mengurusi kekasih orang lain, Lucky?!" Valerie berdecak. "Kau bisa lihat kekasihmu, Elgio Durante! Jangan sampai orangmu menembaki helikopter, kekasihmu bisa jadi tewas terbakar."


Lucky meringkus Valerie dengan senjata stand by di kepala wanita itu. Beberapa orang-orang Valerie masuk, angkat tangan dan hanya akan mengawal Valerie. Seakan dapat tenaga tambahan, Elgio abaikan sakit melangkah ingin segera bertemu Marya. Mereka pergi ke atap.


Marya terlihat di helikopter, riasan masih melekat di wajah, rambutnya dikepang dengan beberapa helaian terjatuh di pelipis. Gadis itu tak terlihat menangis atau terluka. Saat melihat Elgio, gadis itu berkaca-kaca. Elgio tersenyum padanya seakan bilang, jangan cemas ..., semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan lakukan pertukaran.


Marya digiring dengan senjata terarah ke kepala, Elgio menunggu dalam gelisah. Tiba-tiba saja, helikopter lain datang dari arah yang sama. Turunkan hujan peluru, Lucky menarik Elgio berlindung sedang Marya diseret kembali ke helikopter, dipaksa masuk dan pergi dari sana. Begitupula Valerie.


"Elgio!" jerit Marya di antara bising helikopter dan desing senjata yang berterbangan, "pergi dari sini!"


"Marya?! No ... Marya?!" Elgio hendak berlari mengejar helikopter yang mulai take off, mengejar Marya tetapi Lucky menyeret Elgio yang bisa bahayakan nyawa, pergi dari atap.


Scout Sniper rekanan Abner, Carlos Adelbert, sambil berlari tembaki helikopter dari depan Mansion hingga berasap dan jatuh di belakang mansion kemudian meledak hingga tanah-tanah bergetar. Tetapi ia tak berani tembaki yang satunya lagi sebab ada sandera di dalam sana. Pria itu berlari ke dalam mansion.


Sementara Lucky Luciano menyeret Elgio yang kecewa.


"Elgio, kita akan ikuti mereka. Ini terlalu berbahaya! Aku akan jemput Dilly!"


"Aku saja, Lucky! Kau tunggu aku di bawah!"


Elgio turun dari atap, pergi ke ruangan di mana Dilly telah sepenuhnya hilang kesadaran dan Irish terlihat di sana sedang si sniper, salah satu tentara paling mematikan di dunia Carlos Adelbert, yang disewa Abner, berdiri di sampingnya. Siap siaga lindungi gadis itu.


"Maafkan aku telah libatkan Anda dalam pertempuranku, Carlos."


"Jangan sungkan, Elgio. Aku berutang pada Ayahmu," jawab Carlos. "Apa aku ikut denganmu mencari istrimu? Maaf, harusnya mereka tidak lolos."


"Tidak perlu Carl, cukup sampai di sini saja. Kau bisa terseret dalam masalah karena kau abdi negara. Aku yakin kau telah lakukan yang terbaik, Carl. Kita akan mengobrol nanti, aku harus pergi."


Elgio hendak menggendong Dilly ketika tangan Irish menahannya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Irish kuatir pada Elgio.


"Ya, pergilah dan tolong jangan mengacau!"


"Terima kasih telah melindungiku."


Elgio menatap Irish dengan sorot mata lebih lembut.


"Ini mungkin maksud Al Shiva, Irish. Aku ada di waktu tepat untuk selamatkan nyawamu. Aku adalah pria dari masa depanmu tetapi bukan kekasihmu, Irish. Aku pria beristri dan tak pernah ada wanita lain dalam hidupku kecuali Marya."


Irish tersenyum penuh pengertian. "Maaf soal itu. Selamatkan dia, Tuan Elgio Durante. Aku akan mengurus anjingmu dan membawanya ke klinik hewan terdekat. Kau bisa jemput dia nanti, setelah urusanmu beres. Senang mengenalmu."


Elgio bangun dan setengah berlari turuni tangga sedang Lucky telah bersiap di belakang kemudi.


Mereka masuk ke mobil, harus berlawanan arah ke jalan utama dan ikuti helikopter. Lucky Luciano kendarai mobil dengan kecepatan tinggi sedang Elgio di sisinya, mengerang frustasi, patah hati, marah, merana dan terluka. Pria itu mengumpat kasar dan tulang-tulang rahangnya menegang.


Ponsel Lucky bergetar.


"Valerie mengirim lokasi, ini gudang penyimpanan dan Nona Marya di sana. Waktu kita 20 menit." Lucky menekan pedal gas kuat.


"Apa ini jebakan? Kurasa dia ingin main-main dengan kita," kata Elgio tak mampu kondisikan perasaannya.


"Jika itu maunya, mari bermain-main."


"Aku pikirkan keselamatan, Marya ... Lucky!"


"Mari kita periksa! Ia tak akan sakiti, Nona Marya, selama kau tak berikan dia file yang ia inginkan." Lucky menoleh sebentar pada Elgio.


"Lenganmu terlalu banyak darah, lakukan sesuatu!"


Elgio yang berantakan tak hiraukan kondisinya sendiri. Raut Marya tadi, menghantui. Ia menyender di kursi mobil, pejamkan mata.


Marya, semoga Tuhan melihat ikatan cinta kita dan melindungimu, untukku.


***


Do you like this Chapter?!


Tinggalkan Komentar Ya,


Cintai aku, aku mencintaimu ....