Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 45 Akhir Yang Tidak Tertebak....



"Apa Anda akan terus mengintai Nona Durante sepanjang hari, Bos?"


Francis mengernyit penuh tanda tanya pada Lucky Luciano. Pria itu terus membidik pada Reinha hingga melupakan makan siangnya. Ia telah bicara sendirian pada teleskop setengah hari penuh, mengeluh pada benda itu, tersenyum sumringah, menyampaikan cinta, berharap si teleskop mengirim pesan pada target.


Lucky Luciano, penakluk para wanita, telah sepenuhnya knock-out, ditundukkan oleh Reinha Durante. Padahal, Reinha Durante tampak tidak begitu peduli padanya. Mungkin saja, setelah menggiring Puteri Durante ke ranjang, kegilaan Bos-nya itu akan berakhir. Tetapi keanehan malah, Francis tidak menangkap ada hasrat macam begitu di mata yang selalu liar dan kelaparan. Pria itu hanya menatap penuh cinta, kelembutan dan kehangatan, tak lagi tampak seperti maniak yang suka bermain-main dengan wanita. Penjelajahan telah berakhir. Jiwa petualang buntu pada seorang gadis muda, tangguh, berkarisma dengan kelugasan yang berkelas.


"Apa ada hal lain yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Lucky tidak suka Francis menyela kesenangannya.


"Mungkin saja, Bos ... Rocco Anthony bergerak ke arah terowongan Black Hole 88. Sepertinya, dia menjual informasi penting pada seseorang atau sedang melakukan transaksi. Ia menguasai penjualan narkoba di lapas tempat ia disekap."


Terowongan Black Hole miles 88 adalah sebuah terowongan terabaikan. Tempat itu adalah terowongan yang dibangun untuk proyek kereta cepat, namun karena korup, tidak dilanjutkan dibiarkan terbengkalai lalu terlupakan. Di sanalah akhirnya kejahatan mendapat tempat terlayak. Kejahatan demi kejahatan tumbuh subur lewat transaksi- transaksi kotor dan suap-menyuap. Bahkan perdagangan manusia lumrah terjadi, di bawah lorong-lorong gelap dan bau. Anak-anak jalanan hidup dengan keras dan dari sanalah Lucky juga Claire adiknya menjalani kehidupan setelah orang tuanya tewas terbunuh. Lucky menjadi penjahat kecil, pemalak, kaki tangan pengedar narkoba sebelum ia tanpa sengaja memberi informasi penting bagi Viktor lantas dipungut Viktor. Orang tua mereka adalah pujangga yang suka mengkritik sebuah orde lewat sastra. Ketika kecil mereka hidup secara terhormat sebab Ayahnya adalah penyair terkenal sampai seorang tak dikenal datang dan membunuh kedua orang tuanya, menculik Lucky dan Claire lalu meninggalkan mereka di terowongan Black Hole.


Di terowongan Black Hole, gadis-gadis muda yang putus asa dipajang dalam situs khusus dewasa yang dikelola secara rahasia dengan keamanan super super canggih oleh beberapa mafia dan para gadis itu dipamerkan "Made by order" untuk pemuasan nafsu hidung belang. Tidak hanya itu, gadis di bawah 13 tahun pun masuk dalam situs tersendiri bagi pedofilia, dipesan untuk fantasi s*x. Sayangnya, modus-modus kejahatan itu terendus pihak berwenang tetapi tidak cukup membasmi kejahatan. Ibarat rumput kering, boleh musnah saat kemarau tetapi akar-akarnya tak pernah mati, pucuk-pucuk tua mereka telah menabur benih saat angin kemarau berhembus. Ketika hujan datang, terbitlah mereka dengan sangat rimbun, beranak-pinak tak terkendali.


Namun satu hal yang menarik, tidak ada larangan seseorang ditembak mati di tempat itu. Jadi, jika memasuki Black Hole 88, seseorang seperti siap menghadapi kematian tiba-tiba, siap dibunuh, siap dibantai. Itulah mengapa terowongan itu dinamakan Black Hole.


"Apa kita perlu ke sana?" tanya Lucky kemudian menggeleng, "Tidak Francis, kita akan mengeksekusi dia di tempat umum. Bukankah harus nyata secara 'simbolis'? Kau awasi saja dia. Kita akan temukan lokasi tepat untuk membasminya."


Membunuh seseorang di Black Hole bukan tipikal Lucky.


"Baiklah Bos .... Aku juga membawa pesan untuk Anda, Bos. Nyonya Valerie menyiapkan rencana cadangan. Ia mengundang Anda ke Mansion untuk jamuan makan malam dan membahas rencana eksekusi denganmu."


Lucky tak alihkan perhatian dari Reinha di dalam outlet. Jiwanya seperti oase di tengah Padang gurun saat iris cokelat tuanya berkelana pada Reinha. Ia mendengus sedikit pada undangan yang disampaikan oleh Francis, sudah menerka akal bulus Valerie. Wanita itu memanggilnya ke perjamuan makan malam, jelas-jelas berambisi menyeretnya untuk menghangatkan ranjang; ia telah berupaya menggoda Lucky selama ini bahkan setelah statusnya sebagai wanita Viktor.


"Katakan padanya aku akan datang. Sambungkan aku pada Viktor nanti sore. Kau harus cari cara menyingkirkan Valerie dariku. Aku muak padanya."


"Baik, Bos," sahut Francis patuh. Ia harus mencari cara untuk ini-itu, termasuk untuk singkirkan semua wanita yang mengejar Bosnya, ditambah beban kerjaan berpindah padanya sementara yang dilakukan si Bos hanyalah mengintai Dream Fashion. Cinta itu gila. Cinta adalah Puteri Durante, gila adalah ... Francis bergidik.


"Caritahu di mana Elgio Durante dan Tuan Abner!"


"Baik, Bos." Ia mulai lagi dengan gadgetnya. "Mereka ada di Durante Land, Bos."


"Awas kalau akurasimu buruk, aku benar-benar akan menghukummu."


Abner Luiz mengirim mata-mata untuk mengawasi Reinha Durante dari jarak yang tak terlihat. Lucky mendengus lalu menghempas napas keras. Seminggu ini ia terpaksa membuntuti Reinha dalam keheningan, sungguh menyiksa. Ia ingin berlari dan memeluk Reinha saat gadis itu menghabiskan dua gelas caramel macchiato sendirian di Starbucks Coffee, menikmati dan menanti, seakan menunggu dirinya datang. Reinha duduk selama hampir dua jam dalam keramaian sedangkan Lucky ingin mendatanginya tetapi tak bisa mengambil kesempatan itu, ia mempertimbangkan banyak hal.


Lucky kembali mengawasi Reinha dari teleskop senjatanya. Gadis itu sedang menekuk gulungan brokat pada patung membentuk gaun yang indah. Ia terlihat sangat profesional.


"Bos, Anda tidak akan percaya ini." Francis kembali mengganggu, mendekat lalu menyodorkan gadget lantas bikin kening Lucky mengkerut.


"Apa ini?"


"Sunny Diomanta di bandara dalam perjalanan menuju Dream Fashion. Diperkirakan 10 menit lagi mereka akan sampai."


"Apa kau yakin?" Lucky mengintai sekali lagi. Reinha sedang di lantai dua akan menuju lantai berikutnya sementara beberapa staff mengikut dari belakang. Bagaimana gadis itu bisa spektakuler seperti itu? Ia bisa jadi gadis sederhana ketika jadi penjaga toko buku, manis seperti prosa dan ambisius di Dream Fashion.


No one like you, Enya. Impossible to find a girl like you.


"Aku butuh waktu 7 menit," gumannya. "Francis, cari cara agar aku bisa ke Dream Fashion tanpa ketahuan. Lakukan sekarang!"


"Baik Bos. Aku akan pancing mata-mata Abner menjauh. Anda hanya punya waktu 20 menit untuk menyingkirkan Nyonya Sunny. Tetapi Bos, bukankah kita tidak tahu maksud kedatangan Sunny?"


"Aku tidak tahu pasti, tetapi mereka cuma punya dua tujuan, menculik Reinha atau memancing aku keluar."


"Bagaimana dengan 'membuat Elgio murka'?" sahut Francis berasumsi. Lucky menyimak Francis, bisa jadi taksiran itu benar. Elgio sangat sensitif jika menyangkut adik perempuannya. Lucky melakukan hal itu dulu, untuk memancing kemarahan Elgio. Tetapi untuk apa membuat Elgio murka?


"Entahlah, mereka selalu berperang. Kau cari tahu juga seorang gadis bernama Aruhi Amarante, Puteri asisten Leon Durante. Salsa dan Sunny sedang mencari gadis itu."


Lucky memakai topi dan masker lalu bergerak cepat keluar. Mengapa Sunny Diomanta abaikan kecamannya untuk tidak mengganggu Reinha? Berani sekali dia. Ia akan melempar wanita itu ke samudera raya sebagai umpan paus jika berani menyentuh Reinha.


Sementara Reinha sibuk di outlet. Ia mengerjakan banyak pekerjaan, mulai dari pertemuan dan rapat penting dengan beberapa CEO aplikasi online shopping, mencapai kesepakatan untuk menaruh produk Dream Fashion secara berkala di lapak mereka hingga masalah sepele menyangkut kinerja internal outlet.


Ia bereksperimen di ruang ganti outlet sebelum memberi ijinan para reseller regular untuk menjual produk Dream Fashion secara live streaming. Seminggu ini, penjualan mereka meningkat drastis dan ia mendapat pujian dari Tuan Abner. Meskipun dalam hati kecilnya terselip keinginan melihat Lucky Luciano, ia sedikit acuhkan. Reinha terus sibukkan diri, menghindari kebengongan, sebab jika tidak, arwahnya akan berhamburan pada Lucky. Menyebalkan lantaran hatinya kini bergeser sedikit demi sedikit, mulai mengarah pada Lucky. Tinggal menunggu waktu, ia benar-benar akan terjebak pada pria itu. Tidak, jangan sekarang. Ia tak akan siap.


"Nona, Anda kedatangan tamu, seseorang yang ingin bicara secara pribadi pada Anda. Apakah aku bisa mengatur jadwal pertemuan Anda dengan beliau?"


Asistennya bicara bubarkan lamunan Reinha.


"Siapa?"


"Nyonya Sunny Diomanta, Nona."


Reinha naikan satu alis, "Aku sedang sibuk."


"Beliau akan sampai 10 menit lagi."


Augusto mendekat, ia bicara pada seseorang setelah menerima panggilan. Buru-buru mendekat, "Nona ... aku akan mengawal Anda ke tempat yang aman."


"Mengapa Augusto? Kita hadapi saja Sunny. Ia sedang mencari Aruhi."


"Beliau di Durante Land tadi pagi Nona."


"Apa dia berhasil bertemu Aruhi?"


"Tidak Nona. Tuan Abner mengusirnya dari sana."


"Baguslah. Kita lihat saja apa maunya."


"Baiklah."


Lima belas menit kemudian, Sunny Diomanta menerobos masuk ke kantornya setelah gagal ditahan petugas keamanan outlet atas perintah Reinha. Augusto mendekat berdiri di samping meja Reinha dan mengawasi dari sana. Sunny tidak sendirian. Dua orang berbadan kekar mengikutinya. Mereka berjaga di luar kantor Reinha.


"Kita harus bicara, ini penting," kata Sunny tanpa basa-basi.


"Aku tak punya jawaban untuk pertanyaan konyolmu tentang Aruhi. Jika itu yang ingin kau bicarakan padaku," jawab Reinha tak peduli.


"Baiklah, ini bukan tentang Aruhi. Ini tentang Lucky Luciano."


Reinha terdiam sejenak. Apakah terjadi sesuatu pada pria itu? Ia tidak terlihat selama seminggu tetapi mengapa Sunny ingin membahas Lucky dengannya? Mencurigakan.


Reinha tersenyum misterius, "Aku tak punya urusan dengan brengsek gila itu. Kalau-kalau kau pikir aku tertarik mengulas Lucky Luciano."


Sunny tampak terkejut. Mata tajam Reinha memberitahunya bahwa gadis itu tak peduli pada Lucky.


"Kau sungguh tak ingin tahu ... "


Reinha berdiri dari tempatnya duduk. Ia tampak tidak takut sama sekali.


"Kakakku sedang sakit, ia sekarat dan kami butuh Aruhi." Sunny akhirnya bicara setelah berbelit-belit.


"Aku bukan Aruhi. Ayahku Leon Durante dan Kakakku, Elgio Durante." Reinha tersenyum sinis, "Mencari Aruhi, apakah setelah Nyonya Salsa tahu, Aruhi mewarisi setengah Durante?"


"Jaga ucapanmu, Nona Muda Durante!" sorot mata Sunny menajam. "Kakakku benar-benar sekarat. Kupikir, aku bisa bicara denganmu dan mendapat atensi."


"Apakah aku harus peduli pada orang-orang yang telah menyebabkan kami tumbuh tanpa orang tua? Kau tak akan pernah dapatkan apapun yang kau mau, Nona Sunny. Tidak atensiku dan Aruhi," ujar Reinha memberi peringatan keras.


"Terima kasih untuk waktumu, sampai jumpa."


Sunny pergi dengan raut wajah marah dan kesal. Tak bisa dipercaya wanita licik itu adalah Tanta Marya Corazon. Ia kembali fokus pada kerjaan. Ia ingin memeriksa, apakah ruang ganti di lantai tiga telah sepenuhnya siap untuk digunakan para reseller. Ia melangkah sambil memikirkan apa yang terjadi pada Lucky Luciano. Apa pria itu sedang dalam masalah? Tidak heran, pria itu adalah pembuat keonaran.


"Pergilah Augusto, aku merasa aneh terus dikawal," katanya saat Augusto mengekor di belakangnya.


"Tidak, Nona. Aku diminta untuk mengawal Anda. Jika tidak seseorang akan menembak keningku dari radius 2000 kaki."


Reinha menoleh aneh pada pengawalnya, tidak begitu paham maksud perkataan Augusto tetapi tidak berniat untuk bertanya.


"Aku di lantai tiga menunggu reseller, kau boleh berjaga-jaga di dekat lift."


Reinha mengangguk ke arah lift yang berdampingan dengan tangga. Augusto membungkuk, mengerti.


Ruangan lantai tiga berisi produk-produk dari brand ternama partner dream fashion begitu sepi memasuki jam siang. Lagu Surrender by Natalie Taylor menghibur pengunjung di siang itu.


We let the waters rise


We drifted to survive


Reinha menghela napas berat. Sialnya, lagu itu lambungkan ia pada Lucky Luciano. Ia memeriksa ruang ganti satu-persatu dan manggut-manggut, sesuai ekspetasi. Ia mendekorasi ruang ganti dengan wallpaper polkadot purple white sehingga membuat reseller betah menjual di sana. Empat ruang ganti selesai dipoles. Ia melangkah sambil bersenandung mencerna lirik. Meringis saat makna lagu itu serasa pas untuknya.


*I needed you to stay (Aku membutuhkanmu untuk tinggal)


But I let you drift away (Tapi aku membiarkanmu pergi*)


Ruang kelima ... ia mendorong pintu.


*My love, where are you? (Cintaku dimana kamu?)


My love, where are you? (Cintaku dimana kamu*?)


Ia terperangah. Sebuah tangan terulur dan menariknya cepat masuk ke ruang ganti nomer 5. Papan pemberitahuan dibalik dari open menjadi close sebelum menutup pintu dan menguncinya. Pria berpakaian serba hitam itu berbalik mendekat padanya.


Whenever you're ready


whenever you're ready


"Hai Enya, aku sangat merindukanmu ... " ujar Lucky melepaskan masker dan topi. Ia tersenyum hangat mengalahkan dingin ruangan lantai tiga yang ber-AC sangat dingin.


Wajah Lucky Luciano telah sepenuhnya pulih dari lebam dan memar, menampilkan raut tampan kompleksi 'kasar' maskulinitas terhakiki. Jabang janggut tumbuh liar dan kasar mengisi fitur berahang tajam, entah mengapa, telak merubah pandangan Reinha. Ia jauh lebih tampan dari terakhir kali yang Reinha lihat. Sorot mata itu terpancar lembut dan mendalam penuh keseriusan dan kedewasaan di dalam dirinya saat mengatakan "aku merindukanmu". Ia begitu tenang dan terkendali tak takut Reinha akan mengumpat. Jantung Reinha berpacu deras oleh daya pikat seksi itu.


"Ups, kau dalam bahaya Enya," desis Reinha tanpa sadar, meremas tengah dada kuat, takut detak jantungnya dibalik kerangka rusuk didengar Lucky. Bisa jadi pria itu akan besar kepala.


"Tak akan ada bahaya, ruangan ini satu-satunya tanpa kamera pengawas," sahut Lucky santai senang Reinha tak mengumpat lagi padanya.


"Mengapa kau kemari?" tanya Reinha galak berusaha mengusir pesona karismatik Lucky.


"Aku merindukanmu."


"Berhentilah omong-kosong. A, A-aku ada banyak kerjaan, aku pergi."


"Bukankah kau menungguku juga?" sergah Lucky mencegah Reinha pergi dengan ocehannya. Ia menempel di sisi dinding di depan Reinha, melipat tangan dan menyilangkan kaki di sana. Ia tak ingin menyentuh Reinha, urusannya bisa panjang.


"Menunggumu? Hah?" Reinha menelan liur. "Mumpung ada cermin, cobalah kau berkaca!" sahut Reinha melotot pada Lucky yang membalas dengan senyuman misterius. Lucky berpaling pada kaca. Ia mengernyit lalu memandang Reinha intens melempar senyuman menggoda.


"Aku terlihat menggiurkan dan kau tampak terpesona padaku. Itu yang kulihat di kaca."


Reinha menghela napas panjang, "Baiklah, terserah kau saja. Aku harus pergi." Reinha melirik jam tangan. Para reseller akan datang setengah jam lagi. Ia tak ingin mendengar Lucky meracau walaupun ia gelisah selama seminggu ingin melihat pria itu.


Enya, wake up....


"Apa kau menyukai pria seperti Giuseppe Gustav? Si anak mami yang punya harta warisan berlimpah-ruah?" Lucky miringkan salah satu sudut bibir, menatap Reinha berengut, "Kau mengatur bra-mu agar terlihat menantang di depan Gustav serta melempar lirikan manis padanya."


Reinha terbelalak, buru-buru menutup dadanya dengan dua belah tangan, ia separuh menganga. Darimana pria ini tahu hal detil seperti itu? Apakah ia mengintipku juga saat tidur?


"Dan kau sangat seksi saat tidur. Tutuplah tirai jendelamu sebelum tidur, Enya! Kau bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat."


"Kau bedebah sialan." Reinha maju dan memukul pria itu berulang kali dengan telapak tangannya. Wajah Reinha merah padam. "Oh sialan ... kau mengintipku?! Kau masih maniak gila."


"Ya, kau bisa membalas-ku dengan Barret M82-mu," goda Lucky tak menghindar.


"Ya Tuhan, aku tak percaya kau melakukannya padaku."


Reinha meninju Lucky oleh perasaan malu. Ia hanya mengenakan pakaian dalam saat pergi ke balik selimut. Bagaimana bisa, pria itu mengintipnya? Ia memukul lebih keras dan cepat.


"Hei hentikan! Kau ini, suka sekali kekerasan." Lucky terkekeh geli, suka melihat Reinha kesal dan marah. Gadis itu sangat manis dengan raut muka merah padam, begitu semerbak.


"Kau mengintipku. Kau memang sangat mesum."


"Hentikan, Enya!" Lucky menangkap tangan-tangan mungil Reinha dan menariknya hingga tubuh Reinha membentur padanya. Ia memeluk Reinha sangat erat. Tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki jika ada Reinha di puncaknya.


"Aku sangat merindukanmu, Enya."


***


Dear Readers,


Rentetan peristiwa yang terjadi pada Lucky dan Reinha pada akhirnya yang membawa Aruhi atau Marya, pada Salsa, Ibunya.


Nikmati karakter ini, sebab Reader mungkin akan seperti Reinha Durante nantinya, merana ditinggal pergi. Ups, Author mulai jahat....