Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 113 How I Adore You, Enya....



Putaran air semakin kencang menyedot tubuh mereka, seperti kekasih pemaksa penuh tuntutan agar takluk pada kekuatannya. Oh, habislah mereka oleh ulah September, lebih buruk lagi September sepertinya pingsan. Reinha kesulitan menahan beban sedang tubuh September lebih besar darinya. Baiklah, jika mereka selamat, Reinha bersumpah akan pukuli kepala wanita itu dengan kapak agar berhenti bertingkah konyol. Saat ini selamatkan saja dia. Reinha berusaha ke tepian sementara Claire berteriak keras dari tepian sungai sembari mendorong sebatang kayu kering ukuran besar sekuat tenaga dan saat kayu mengapung di atas sungai, Francis pegangi benda itu berenang dengan cepat ke arah Reinha yang memeluk September.


Reinha tak ingin ingat apa yang terjadi tetapi matanya tanpa ampun nikmati sendiri mereka hampir tersedot di pusara air yang tak tahu ke mana mengalirnya. Napas sesak dan jantungnya seakan hampir meledak. Sungguh nyata. Francis berhasil menggapai mereka berusaha sekuat tenaga menggiring ke daratan sementara putaran air terlihat menelan apa saja yang datang padanya. Claire meraih Reinha yang gemetaran dan memeluk gadis itu ketakutan.


"Aku hampir kehilanganmu, ya Tuhan. Lucky akan membunuh kami jika sesuatu yang buruk menimpamu," ujar Claire hilang keceriaan dari wajahnya. Reinha bersandar pada Claire meneguk ludah susah payah.


"Claire, mengapa tak ada peringatan bahwa sungai ini sangat berbahaya?" keluh Reinha saat napasnya mulai normal.


"Hanya ada dua penghuni sekitar sini, kita satu-satunya pemilik tempat ini di sisi barat dan klan Juan Suarez di sisi Timur."


"Oh ya Tuhan, tempat ini indah tapi sungguh mengerikan!"


Francis beri napas buatan pada September yang sepertinya minum banyak air dan pingsan. Saat September terbangun dengan semburan air dari mulutnya, Francis terduduk lemah di sisi wanita itu. Ia amati September, menepuk punggung wanita itu pelan. Kemudian menengok Reinha yang pucat pasi.


"Apa Anda baik-baik saja, Nona? Aku benar-benar akan ditembak mati di tempat jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anda, Nona! Apakah Anda selalu refleks seperti tadi meskipun itu sangat berbahaya?" tanya Francis dengan ekspresi tak senang.


"Tenanglah, aku baik-baik saja!" sahut Reinha. "Kurasa kau harus mulai membangun pagar pembatas di sekitar sini, Francis. Tempat ini sungguh sangat menakutkan. Apalagi jika berencana bawa anak-anak kemari! Oh, sungguh mengerikan."


"Ya, Nona. Aku akan segera bangun pembatas. Aliran air ini masuk ke dalam rongga semacam terowongan alami bumi dan keluar di sisi bukit sebagai danau lain."


Reinha merinding. Ia hampir kehilangan nyawanya.


"Ayo kita pulang, Nona!"


Francis menggendong September yang lemah kembali pulang ke vila, abaikan lengan-lengan yang tertikam besi.


"Aku bisa berjalan, Francis," kata September pelan terdengar menyesal. Sadari tingkahnya hampir membunuh Francis dan Reinha. Namun, Francis tak hiraukan wanita itu.


"Apa kau terluka?" tanya Francis dengan napas berat. Ia dan Lucky sering menantang maut dan mereka bukan orang yang takut bahaya, aneh saja, hari ini ia tiba-tiba punya rasa takut. Saat September menggeleng, Francis menghela napas lega. Tetapi, ia yakin September alami luka goresan di suatu tempat hanya wanita itu belum sadari.


Sedang Claire memeluk Reinha dan melangkah bersama di belakang Francis.


"Apa kau masih ingin lihat bayinya?" tanya Claire, mungkin saja, Reinha ingin kembali ke kota.


"Ya, kita datang untuk itu!" jawab Reinha muram. Ia sedikit berjinjit sebab kakinya tadi kemungkinan tergores batu di dasar sungai, sangat perih di telapak.


"Apa kakimu terluka?" tanya Claire kuatir. Gadis ini sangat luar biasa, terlihat angkuh tetapi miliki hati yang luas. Jika, Lucky macam-macam pada Reinha, Claire sendiri yang akan bikin perhitungan dengan kakaknya.


"Aku baik-baik saja Cla."


Mereka kembali ke Vila. Sementara Claire mencari pakaian yang cocok untuk Reinha yang basah, Reinha duduk di dekat perapian hangatkan tubuh.


Francis temui September setelah wanita itu berpakaian, sodorkan susu hangat.


"Berkemaslah setelah selesai minum susu, aku akan mengantarmu pulang," ujar Francis datar. September tak menyahut, ia hanya pandangi lengan Francis yang basah, sobek, dan berdarah, masih tatapan penuh penyesalan. Ia menyeruput susu sedikit, letakan di meja.


"Biarkan kuobati lenganmu!" pinta September ragu-ragu. Ia turun dari ranjang, dekati Francis yang bergeming.


"Tak perlu, September! Aku terbiasa dengan banyak luka," tolak Francis masih bernada datar.


"Tidak, maafkan aku, Francis," ujar September sedih. "Aku sungguh konyol dan hampir mencelakaimu juga Reinha. Setidaknya biarkan aku menolongmu sebagai permintaan maaf." Septie mendekat, menarik ujung jas tangan kanan pria itu pergi ke ranjang.


"Kurasa kau harus bertukar pakaian," kata September sembari lepaskan jas hati-hati.


"Ya."


Sepertinya setelah insiden di sungai, September jadi waras dan wanita itu terlihat berbeda. Atau titik balik kehidupan September adalah pada hari ini di jembatan patah tadi.


Ketukan di pintu dan Claire berdiri pegang kotak obat di tangannya. Claire berkata pada Francis tanpa melihat pada September, "Kemarilah, aku akan obati lukamu!"


Francis segera berdiri hendak pergi pada Claire tetapi September kaitkan jemari mereka erat, menahan pria itu tanpa kata. Hanya menatap hampa lengan terluka. Claire berdecak, mengutuki September dalam hati agar jatuh cinta setengah mati pada Francis karena pria itu sangat peduli padanya. Semoga September berhenti gilai kakaknya.


Senyum terkembang di bibir mungil Claire saat Francis memilih duduk kembali. Meski wajah selalu datar tetapi Claire menangkap kegelisahan Francis saat September dalam bahaya. Sangat terlihat jelas.


"Obati dia dan bergabunglah untuk makan siang September. Kami bawakanmu strawberry dessert yang lezat. Kau akan rasa baikan nantinya setelah makan sepotong kue manis."


Claire tinggalkan kotak obat di sana dan keluar tanpa ingin mengganggu. Ia menutup pintu di belakangnya.


"Apakah Nona Reinha baik-baik saja?" tanya September belum selesai menyesal. Sudut pandang tentang pria kasar, kejam dan tak punya hati telah tenggelam ke dasar bumi.


Francis perhatikan tangan mereka yang saling terjalin seakan tak ingin terlepas. Tersadar saat didapati punggung tangan September banyak goresan. Raut pria itu turun seketika. Ia meraih tangan September lalu bubuhkan obat, baluti dengan kasa putih kemudian buat simpul seadanya.


Hal sederhana mestinya kau peka, wanita bodoh!


"Ya, kau hampir mati bersamanya," sahut Francis pendek. Kemejanya coba dilepas agak susah sebab dalam perjalanan pulang, kemeja melengket di luka, menyatu bersama darah dan mengering dengan cepat. Ia berusaha lepaskan dan hati-hati September gunakan cairan infus bersihkan luka. Francis tak bereaksi sama sekali. Ia menatap lurus ke tembok. Saat terluka di hutan ia akan gunakan bensin atau bubuk mesiu untuk membakar daging tubuhnya agar cepat sembuh. Infus dan September di luar kebiasaannya.


"Kau tak merasa sakit?" tanya September.


"Tidak." Francis menoleh pada September perhatikan wanita yang rambutnya masih basah. "Biarkan saja aku Septie! Kemasi barangmu. Aku akan antar kau pulang."


Wanita itu tak menyahut abaikan kata-katanya hanya terus bergerak di lengannya.


"Apa kau marah padaku?"


Pergi ke jembatan untuk mengancam Francis dan malah hampir buat banyak orang mati, pertanyaan terdengar konyol. Francis berhembus kasar tetapi jawabannya terdengar halus.


"Tidak, Septie. Jangan lakukan hal macam tadi lagi! Jika kau mati, siapa pikirmu akan mengurus bayimu? Aku?" Francis menatapnya tajam. "Jangan lakukan hal bodoh dan jaga bayimu dengan benar." Francis berdiri meski ia belum selesai diobati seakan berlari takut ia jatuh cinta pada September. "Kau harus pergi! Aku akan menunggumu selesai berkemas."


"Biarkan aku selesai obati lukamu!" September menghadangnya.


Francis biasanya tak sabaran hadapi September yang selalu bertingkah. Hari ini, ia sekali lagi buat pengecualian. Duduk dibawah pengawasan September dan biarkan wanita itu bersihkan luka. Francis berdekatan dengan banyak wanita yang rata-rata adalah wanita bosnya tetapi ia sendiri tak pernah punya wanita untuk dirinya sendiri. Ia ciptakan dokumen tentang perjanjian hubungan kencan untuk Bos Lucky dan hanya September satu-satunya yang berisi perjanjian tambahan di mana, ia akan nikahi wanita itu jika September hamil.


Dulunya ia lakukan itu karena September terlihat sangat lugu dan polos tetapi sangat menggilai Bos Lucky. Ya ya ya, semua wanita gilai Lucky Luciano tetapi September terlihat berbeda. Kini, entah mengapa ia merasa dokumen itu dibuat oleh kehendak lain darinya.


"Kami sering jadi petugas medis dadakan saat sedang meliput berita di wilayah konflik tetapi kau harus pergi ke dokter, besi jembatan berkarat dan kau bisa terkena infeksi," ucap September pelan hampir tak terdengar. "Aku tak bisa pergi tanpa peralatan lengkap medis untuk si bayi," katanya beberapa saat kemudian.


"Aku akan mengaturnya untukmu," jawab Francis cepat. Ia tak mungkin menahan wanita itu lebih lama lagi meski ia mulai dekat dengan si bayi.


"Kemasi barangmu! Kita makan bersama dan aku akan mengantarmu pulang!"


"Kau tak takut lagi melepasku?"


"Kau sangat tersiksa di sini ... lakukan apapun yang kau inginkan. Jika kau ingin media tahu tentang skandalmu, kau bisa lakukan itu. Permalukan dirimu sendiri dan bayimu," jawab Francis setenang mungkin meski bayangkan bayinya akan menderita buatnya geram.


Francis berdiri dan pergi dari sana bawa serta pakaiannya yang terkoyak tinggalkan September yang hanya mematung. Disadari Francis, ia mulai goyah. Lunglai ..., pria itu bertukar pakaian kemudian pergi ke ruangan bayi. Ia renungi tubuh mungil yang mulai tampak berisi. Perkembangannya bagus dan tubuh merah yang sangat rapuh seakan sadari kehadirannya, sedikit hadiahkan ia gerakan kecil. Mengapa ia merasa miliki bayi itu?


"Aku akan tinggal untuk merawatmu dan akan pergi setelah kau sembuh."


Lamunan Francis buyar oleh ucapan September, termangu sebentar dan berbalik amati September yang menatapnya lurus. Ia melirik lengan yang luka seakan bertanya, apakah kalian terluka parah dan butuh seseorang untuk merawat secara khusus? Ia mengernyit, untuk pertama kalinya merasa sangat bodoh. Mengapa pernyataan September terdengar masuk akal?


"Aku bisa biarkan kau pergi, tetapi bagaimana dengan bayimu? Kita butuh persiapan untuk inkubator dan perlengkapan medis lainnya. Di sini sangat tenang, jauh dari keramaian dan banyak yang mengurusmu, Septie. Kau sering bertingkah tak masuk akal, bagaimana jika kau lakukan hal konyol lagi dan buat bayimu dalam masalah?"


Tak percaya ia terdengar mengemis pada seseorang untuk tinggal. Seseorang itu, mantan wanita bosnya.


"Bergabunglah untuk makan siang dan jangan buat yang lain menunggu."


September diam di tempat. Francis yakini September malu hadapi Reinha juga Claire. Di luar dirinya ia meraih tangan September biarkan wanita itu pegangi ujung jasnya.


"Mari pergi bersama!"


Reinha tampak perhatikan tingkah kedua orang yang baru datang, pada September yang tidak nyaman lantas gunakan Francis sebagai pelindung sebelum duduk dengan kikuk. Tak ada yang bahas insiden mengerikan itu di ruang makan. Tetapi, September merasa wajib minta maaf karena bertingkah memalukan.


"Apa Anda baik-baik saja, Nona Reinha?" tanyanya pada Reinha.


"Kau lihat sendiri, September," sahut Reinha tajam. "Aku ingin mencungkil otakmu dengan sesuatu agar kau berhenti bermasalah. But, well, kurasa kau telah sadar setelah hampir mati dalam kubangan rawa-rawa air. Saat kau mati, aku akan mengambil bayimu dan mengasuhnya. Kau mungkin ingin begitu."


"Maafkan aku! Aku sungguh-sungguh menyesal."


"Mari kita makan saja! Aku akan pergi setelah ini. Senang kau baik-baik saja dan bayinya juga sangat sehat," ujar Reinha lagi tidak ingin September ungkit-ungkit soal sungai.


Reinha hanya berharap September temukan kehidupan baru yang baik dan seseorang yang mencintainya sepenuh hati.


"Aku akan menikahi Tuan Francis dan akan gunakan nama keluarga Tuan Francis di belakang nama Puteriku."


Pernyataan itu buat semua yang ada di sana menengok pada September lalu pada Francis yang tampak terperangah sebelum datar tanpa ekspresi.


"Apa kau serius?" tanya Claire pada September lalu menoleh pada Francis menuntut konfirmasi.


"Bukankah akhirnya memang seperti ini, nona Claire? Mengapa Anda sangat terkejut?" tanya Francis mengangkat keningnya tinggi. Ia mulai makan dan tak ada satupun di ruangan itu yang bisa menebak ekspresi wajah ajudan setia Lucky Luciano itu.


Reinha tak mampu berkata-kata, so complicated. Pura-pura tergugah saat lihat steak di depan matanya padahal ia ingin tahu reaksi Francis. Ia makan sedikit dan ketika bayangan menu seperti apa yang dimakan Lucky Luciano di penjara berkelebat, gairah makannya pudar. Ia ingin melihat wajah suaminya.


"Francis, aku harus pergi ke posko layanan sosial dan bantu-bantu masak untuk makan malam, bisakah kau mengantarku?"


"Ya, tentu saja, Nona!"


Di sanalah Reinha Durante sepanjang sisa hari bahkan hampir menjelang malam. Abaikan panggilan profesor Samael, Reinha hanya tidak ingin hari minggunya dipakai belajar. Profesor Samael terlihat tidak ingin pertahankan ia sebagai peserta kompetisi tetapi tak punya pilihan. Profesor Samael, tak pernah baik padanya tetapi juga tak pernah berkata buruk, tipikal jenius sejati. Sikap mereka agak nyentrik.


Reinha mengatur makanan ke dalam termos makanan agar tetap hangat ketika hari menjelang malam. Para tunawisma, anak terlantar, segerombolan preman, orang-orang marginal pada umumnya telah berkumpul dengan jaket lusuh dan topi dingin. Mereka tak hanya butuh makanan, mereka juga butuh pakaian. Tetapi mereka terlalu banyak, ia akan pikirkan cara agar mendapatkan bantuan pakaian dalam jumlah banyak. Pukul tujuh malam, lupakan bahwa ia harus siapkan makan malam bersama Marya di rumah, gadis itu mulai mengisi mangkuk makanan.


Dari kejauhan, seseorang amati Reinha yang layani para gelandangan. Tanpa celah tanpa batas, ia sangat dekat dengan mereka seakan ia salah satu dari mereka. Wajah kuning keemasan dengan rambut digelung tinggi di puncak kepala, kecantikan gadis itu adalah kecantikan outer dan inner yang terpancar dan memikat siapa saja yang melihatnya. Bahkan dalam cahaya yang tak seberapa terang, senyuman Reinha Durante tampak sangat cemerlang. Cahaya bulan jatuh di atas kepala, bias-bias sinar seakan membentuk lingkaran halo di kepalanya. Tinggal tambahkan sayap maka Reinha Durante akan benar-benar mirip malaikat.


"So so pretty." Berdecak. "Apakah kau jelmaan malaikat yang tersesat di bumi? Apa sayapmu dicuri seseorang, Sayang?"


Seorang gelandangan tua, terseok-seok datang pada Reinha.


"Apa Tuan Lucky Luciano dalam keadaan sehat, Nyonya Luciano?" tanya seorang kakek tua pada Reinha setelah ia mengisi mangkuk si kakek dengan makanan. Tak bisa dipungkiri ia merasa aneh dengan sapaan itu sekaligus berbunga-bunga.


"Ya, Tuan. Doakan suamiku agar beliau selalu sehat." Sedikit membungkuk dan ia akhirnya terus mengulang kalimat yang sama setelah mangkuk-mangkuk terisi makanan sambil membungkuk. Petugas di sebelahnya menyingkir ketika antrian hampir habis.


"Doakan kesehatan suamiku."


"Doakan kesehatan suamiku." Reinha terus saja mengulang kalimat yang sama sambil sodorkan mangkuk makanan.


"Doakan kesehatan, Istriku. Tuan ..., Nyonya ..." sambar seseorang.


Satu mangkuk terulur pada seorang tunawisma dan suara berat yang indah itu, berkata rendah penuh makna dari sebelahnya. Reinha merasa jantungnya seketika hampir copot saat cincin pernikahan berkilau di jemari yang sangat ia rindukan. Ia menoleh, dapati Lucky Luciano di sisinya, tersenyum menawan hingga satu lesung pipi pria itu melengkung indah. Wajahnya sangat rapi tanpa janggut baru tubuh dan aroma glacier mengacau di tengah aroma makanan.


Mulut Reinha separuh menganga saat Lucky sodorkan mangkuk dan membungkuk pada seorang tunawisma di antrean paling terakhir.


"Doakan kesehatan istriku, Nyonya. Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku merindukannya, aku sangat-sangat mencintainya," kata Lucky tak berkedip menatap Reinha.


"Lucky ... ?!"


"Kau menyogok orang dengan makanan, Reinha Durante?" tanya Lucky Luciano.


Reinha mengangguk lesu. "Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk seseorang yang sangat aku cintai," sahut Reinha terharu nyaris menangis. Tidak ingin tanya mengapa pria itu berkeliaran di kota padahal ia seorang narapidana.


"Aku memujamu bahkan rembulan memujamu, Enya."


***


Wait Me Up ....


Apakah kamu suka Chapter ini?