Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 150 My Stupid Girl ....



Sore hari setelah bangun tidur, Marya berdiri di balkon menikmati pemandangan belakang rumah. Sesekali menguap sebab ia merasa masih sangat mengantuk. Arumi men-dribble bola di lapangan basket sedang Archilles berusaha menghalau bola dari tangan Arumi.


Marya tak tahu Arumi pandai mengolah bola basket di ujung jari lembutnya. Sungguh luar biasa gadis itu terlihat. Tubuhnya rendah dengan lutut sedikit menekuk, Arumi men-dribble bola di bawah pinggang dengan cepat dan lincah hingga Marya terpesona pada Arumi.


Saat Arumi mulai berlari dengan tekanan bola yang semakin cepat, Archilles berusaha keras untuk merebut bola, Arumi lakukan sambil berputar, bergerak cepat dekati ring. Gadis itu mendongak dan lepaskan bola, satu shooting, dari sikunya yang terbentuk sempurna, bola berhasil masuk keranjang. Arumi terlihat sangat gembira. Ia melompat sedang Archilles berdiri bercakak pinggang sambil mengangguk - angguk. Percakapan mereka terdengar jelas.


"Kau mengakui bakatku sekarang, Archilles?" tanya Arumi. Ia berdiri di tengah lapangan lakukan beberapa gerakan celebration dance.


"Anda luar biasa, Nona!" Archilles mengambil botol minuman, bukakan penutupnya dan sodorkan pada Arumi saat gadis itu selesai dengan gerakan bagian chorus "How you like that - Blackpink."


"Yang kalah wajib traktir!" seru Arumi minum air dari botol lalu menaruh botol di sudut lapangan sedang Archilles dribbling bola menunggu Arumi, sukai cara sang gadis menjegalnya. Arumi terlihat berani di lapangan basket seperti atlet sejati.


"Jika aku menang, ijinkan aku pergi nanti malam. Aku harus kunjungi Nenekku untuk makan malam, Nona."


Archilles berseru sembari bawa bola hindari hadangan Arumi. Dribble bola berbalik arah lalu maju sedang Arumi bentangkan dua tangan menempel di belakang pria itu.


"Oh, sepertinya kau cari-cari alasan agar aku mengalah darimu? Kau gunakan alasan nenekmu?"


"Tidak, Nona. Aku tak mungkin begitu." Archilles berbalik cepat, bawa bola dan melompat, shooting dari jarak jauh. Berhasil. Ia mengatur napas. "Kurasa kita harus berhenti. Tuan Ethan mungkin telah datang dan menunggu Anda," ujar Archilles tengok jam tangan.


"Telat sedikit tidak mengapa, bukan?" Satu tangan dribbling tangan lain bersiaga halau Archilles yang bergerak di depannya. Berusaha lewati Archilles, bola berpindah dari kiri ke kanan.


"Anda mungkin akan diketuk kening lagi jika Anda telat. Waktu Anda, 15 menit untuk bersiap."


"Ayolah, kau tahu, aku suka keningku diketuk oleh Ethan Sanchez!"


Saat bicarakan Ethan fokusnya hilang, bolanya segera dicuri. Archilles ladeni keinginan Nonanya.


"Oh, kau curang!"


"Bukan curang, Nona. Ini peluang emas."


Mulai bergerak, irama pantulan bola pada lantai dan bunyi gesekan sepatu temani mereka sore itu. Archilles tak ingin mengalah pada Nona yang coba menghadangnya. Lakukan fake shoot hingga Arumi melompat tinggi coba untuk blocking bola, Arumi tertipu, pria itu segera mencetak tiga poin tambahan.


"Nona, kurasa cukup. Tuan Ethan menunggu Anda."


"Ethan?" Arumi tersenyum sumringah di antara napas terengah-engah segera berbalik ikuti anggukan Archilles. Senyumnya memudar dengan cepat sebab terkejut melihat Ethan Sanchez muncul di halaman belakang bersama seseorang ... Sarah?! Arumi melihat Sarah melambai senang padanya, balas lambaian itu, kembali berbalik menatap ring basket gundah-gulana. Apakah Ethan akan pamerkan kebodohannya pada Sarah?


Hufttt ....


Bola di tangan, driblling penuh tekanan, Arumi mengoper bola pada Archilles. Semangatnya menguap.


"Ayolah, Nona! Mereka belum berkencan. Tuan Ethan mungkin hanya sedang penjajakan," hibur Archilles kembalikan bola pada Arumi sebab Nona Arumi berubah murung. "Mari kita akhiri ini, Anda akan traktir aku sebab aku kalah dua poin."


"Tidak, mari lakukan sekali lagi!"


"Baiklah! Tetapi tali sepatu Anda terlepas," ujar Archilles lekas menunduk dan mengikat ulang tali sepatu untuk Arumi. Nonanya selalu bermasalah dengan tali sepatu. Archilles lalu kembali mengambil bola. Apakah saking di manja, Arumi tampak tak pandai mengikat tali sepatu?


"Trims. Kalahkan aku, Archilles!" ujar Arumi mencuri bola dari tangan Archilles saat pria itu lengah, men-dribble cepat bahkan di bawah lutut, berputar saat Archilles mendekat kelilingi tubuh si pria yang bengong lihat aksi Nona-nya yang dribbling seakan lampiaskan emosi pada si bola, gadis itu dengan cepat melesat dan mencetak 3 poin.


"Kau kalah, Archilles Lucca."


"Baiklah Nona, waktu Anda sisa 10 menit untuk bersiap!"


"Kurasa aku tak perlu cantik atau sesuatu seperti itu sebab Ethan Sanchez hanya tertarik pada kecerdasan otak." Arumi bicara perhatikan Archilles yang menjadi agresif sejak bola berpindah ke tangannya, tak ingin berikan peluang pada Arumi. Stamina sempurna pengaruhi kecepatan, lompatan serta akurasi shoot, Archilles berhasil menambah poin.


Arumi bertepuk tangan, tak berhasil menghadang Archilles untuk tak mencetak angka. Ditambah ia patah hati, sempurna sudah.


"Kurasa cukup, Nona!"


"Kau saja gantikan aku ikuti kelasnya dan ajari aku nanti!" ujar Arumi bermain-main dengan bola. Patah hati buat ia hilang konsentrasi. Archilles lagi-lagi mencuri bola basket darinya.


"Kau curang lagi, Archilles Lucca. Kau curangi aku dua kali?" seru Arumi saat lihat pengawalnya terkekeh bersiap lakukan tembakan jarak jauh. Arumi tak tinggal diam, berlari dan memeluk Archilles dari belakang mengunci gerakan pria itu hingga tak bisa men-dribble bola.


"Kau curang padaku, Tuan!"


"Em, kurasa sekarang Andalah yang curang, Nona!"


Arumi ayunkan ujung sepatunya pada tulang kaki pengawalnya hingga pria itu terjatuh. Buru-buru lepaskan pelukan dan mengambil bola. Ia berlari sambil memukul bola dan melompat sangat tinggi untuk masukan bola dalam ring. Ia bergelantungan di sana dan tiba-tiba terlihat kesulitan untuk turun.


"Anda butuh bantuan?" tanya Archilles. Apakah si Nona akan buat Tuan Ethan cemburu lagi, seperti terakhir kali. Sungguh konyol.


"Tidak," sahut Arumi melompat turun tapi landing tak sempurna segera terkilir. "Awhhh ... awh ... awh ...."


"Apa Anda baik-baik saja?" Archilles datang dengan cepat abaikan tulangnya yang agak ngilu terkena tendangan sepatu Arumi. Pengawal itu membungkuk lepaskan sepatu dan memeriksa kaki Arumi.


"Anda mungkin keseleo."


"Kurasa sudah cukup, kakiku sedikit sakit!"


"Ya, kaki Anda sedikit terkilir! Minta ijin menggendong Anda kembali ke rumah!"


"Aku bisa sendiri, Archilles!" Arumi bangkit berdiri dan hilang seimbang sebab kakinya nyeri. Tanpa menunggu, Archilles menggendong gadis itu berjalan pulang.


Marya perhatikan Arumi, pada Ethan yang terlihat cemas. Berapa lama Ethan akan bertahan gunakan logika dan menyangkal suka pada Arumi? Tatapannya beralih pada Archilles yang melangkah buru-buru seakan Arumi terluka parah.


Marya menggeleng, segera keluar untuk menyambut Ethan. Mungkin karena dia dibayar, Archilles terlihat akan lakukan apa saja untuk Arumi. Marya tak ingin berpikir lebih jauh, kembali pada masalahnya, ia perlu menahan Ethan untuk makan malam dan minta bantuan sahabatnya itu.


"Hah, kejutan kau di sini, Sayang?" sapa Ethan mengedip saat melihat Marya muncul di taman belakang.


"Kau genit sementara ada seorang gadis cantik di sisimu?" tegur Marya dan tersenyum pada Sarah. Mengapa tak masuk dan menunggu di ruang tamu?"


"Pemandangan taman belakang sepertinya lebih menarik," sahut Ethan. "Sarah ikut denganku sebab kami baru dari kafe."


"Hai, Sarah!"


"Hai Marya, senang melihatmu di sini! Pantas saja, kamu dan Arumi begitu mirip ternyata kamu kakaknya."


"Ya, Arumi adikku." Menoleh saat melihat Archilles mendekat dengan Arumi dalam lengannya. Marya mendesah. "Apa kakinya terkilir?" tanya Marya.


"Apa kau ingin pamer padaku bahwa kau bisa lompati ring basket, Arumi?" sambung Ethan gelengkan kepalanya.


"Nona sering bergelantungan di sana. Hanya saja, tadi on accident. Sesuatu mengganggu konsentrasinya."


"Jangan toleransi saat ia bersikap konyol, Archilles!" tegur Ethan. "Dia terluka akhirnya!"


Archilles mengangguk. "Anda benar. Maafkan aku!"


"Jika Arumi terlihat tak normal, kau boleh gantikan aku untuk mengetuk keningnya! Jangan patuh pada ucapannya."


Mengangguk pada Ethan, Archilles malah sering diketuk keningnya oleh Arumi untuk alasan yang tak diketahui. "Aku akan bawa Nona ke dalam dan periksa kakinya!"


"Bawa dia ke ruang belajar, Archilles. Biar aku saja yang memeriksanya," kata Marya tertarik amati reaksi Ethan saat lihat Arumi dalam lengan berotot Archilles. Sahabatnya terlihat tak terbaca atau dia makan hati. Emosi berkelebat ganti-gantian di wajah Ethan. Okay, pria itu masih menolak rasa sukanya pada Arumi.


"Baik, Nyonya!" jawab Archilles segera berlalu.


"Masuklah Sarah dan kita akan mengobrol beberapa kasus."


Sarah mengangguk, "Kami akan di sini sambil menunggu Arumi siap."


Marya tersenyum, menepuk bahu Ethan dan masuk ke dalam. Arumi duduk di sofa, Marya segera bersimpuh di lantai dan memeriksa kaki adiknya, menekan-nekan. Archilles tampak merasa sangat bersalah, kembali dari dapur dengan es dan pengompres.


"Ada apa denganmu, Arumi?"


"Bukan itu maksudku."


Arumi terdiam. Sarah makin sering terlihat sepulang sekolah, naik bis bersama Ethan. Arumi tetap saja menunggui Ethan pagi hari, mengekor di belakang Ethan dan mengintainya di perpustakaan. Meskipun akhirnya ia berakhir di kelas, duduk uncomfort dalam kelas lantaran teman-temannya mulai berisik soal kedekatan Ethan Sanchez dan Sarah. Kata mereka, Ethan pantas bersama Sarah dibanding dirinya. Jadi, ia telah ditertawakan satu kelas kecuali anak laki-laki yang tiba-tiba sangat mendukungnya.


Marya perhatikan adiknya yang lesu. "Ethan bertemu Sarah di olimpiade tetapi kami ada di Sains Club' yang dibentuk beberapa waktu sebelum olimpiade. Ethan adalah ketua organisasi dan Sarah, wakilnya. Mereka dekat saat pergi ke olimpiade kemarin. Cukup berat menyukai Ethan karena dia populer. Jangan menyerah, Arumi! Hanya saja, bagusan kalau kau belajar yang rajin dan jadi pintar. Jangan terlibat cinta di usia muda, kau tahu, aku mungkin tak bisa kuliah karena harus urusi bayi."


Arumi menyimak nasihat kakaknya dan agak meremang jika itu terjadinya.


"Aku akan dengarkanmu, Kak. Oh tapi susah, satu sekolahan tahu, aku menyukai Ethan Sanchez."


Archilles muncul dengan baskom es dan waslap.


"Aku akan kompres kaki Nona Arumi dengan Es."


"Berikan padaku Archilles."


"Aku saja, Nyonya. Ini salahku," sahut Archilles. Marya segera bergeser. Hati-hati Archilles tempelkan kompresan dingin pada pergelangan kaki Arumi.


"Ethan Sanchez hanya dekat dengan Sarah, tetapi ia selalu pakai logika. Kecuali ia dan Sarah putuskan berkencan gunakan logika, maka kurasa kau berhenti mengejarnya, Sayang. Fokus saja belajar. Jika kau tetap memaksa, cobalah jual mahal dan biarkan dia mengejar-ngejarmu. Kau tahu, pria suka penasaran saat gadis terlihat sulit dijangkau."


"Begitukah?!"


"Emm ...," angguk Marya amati adiknya yang berubah semangat. "Ethan sahabatku, aku kenal dia dengan baik. Berhenti mengekor di belakangnya atau mengintipnya di perpustakaan, meskipun sulit. Bertemu hanya karena memang kalian harus bertemu."


"Baiklah, aku akan coba!"


Marya dan Archilles pergi dari sana setelah oleskan krim anti nyeri pada kaki Arumi. Saat Ethan masuk ke ruang belajar, Arumi pikirkan secara serius perkataan kakaknya. Baiklah, mari berhenti mengejar-ngejar Ethan Sanchez.


"Kau tak apa-apa?" tanya Ethan duduk di sofa perhatikan Arumi lalu pada kaki gadis itu.


"Hanya sedikit keseleo."


"Berhentilah lakukan hal-hal konyol, Arumi!"


"Aku terlahir seperti itu, selalu bodoh dan konyol. Mau kuapakan lagi? Apakah Sarah tak ikut masuk? Kau mungkin bisa pamer kebodohanku padanya?"


"Lain kali akan kulakukan, jika kudapati kau bertingkah lagi!"


"Kau bisa berhenti Ethan, aku bisa belajar sendiri!"


"Tidak, aku telah digaji dan aku yang akan tentukan aturan!"


"Baiklah, terserah kau saja!" sahut Arumi mengangkat bahu. Meski ia ingin menatap Ethan, ditahan-tahannya. Mengapa ia berharap Ethan yang menciumnya di rumah hantu. Tetapi jika Ethan lakukan itu, mengapa sikapnya sangat dingin. Arumi balik lembaran.


"Nilaimu jelek di akutansi. Jadi, kita akan fokus ke sana."


"Baiklah!"


Abaikan Ethan Sanchez tak semudah bayangannya. Arumi temukan ia menyukai suara pria itu, wajah cute yang tampan dan tatapan tajamnya. Ia berhembus napas panjang.


"Aku tak bisa mengajarmu terlalu lama hari ini. Marya ingin bicarakan sesuatu denganku! Pelajari tentang Journal, jangan lewatkan fungsinya, kita akan bertemu dua sore lagi untuk bahas Bentuk Jurnal Umum. Kau dengar aku?"


Arumi berhenti melamun, "Sip, trims sudah datang, Ethan!"


Ketika Ethan hendak pergi, Arumi bertanya pelan, "Segitu saja?"


Ethan berdecak, perhatikan Arumi dan segera menunduk di depan gadis itu. Ia memeriksa kaki si gadis hingga buat Arumi sulit bernapas. Pria itu selalu manis dan hatinya selalu salah tanggap.


"Apa kau rasa sakit di sini?" tanya Ethan, menekan sedikit pergelangan kaki Arumi.


"Ya, sedikit. Aku baik-baik saja, Ethan!"


Ethan oleskan lagi krim lalu melilitnya dengan perban. "Beritahu aku jika aku melilitnya terlalu kuat. Hmm?!"


"Baiklah," jawab Arumi pandangi wajah Ethan yang tampan dan menyukai Ethan Sanchez. Hatinya lekas berbunga-bunga. Oh, di sinilah masalahnya. Ia menyukai Ethan secara sukarela.


Ethan berdiri, mengusap kepalanya lembut. "Coba berdiri pelan-pelan!" pinta Ethan. Gadis itu terlihat tak ingin ditinggal. Arumi mengangguk, coba berpijak pada kakinya yang terkilir sedang Ethan amati gadis itu.


"Apa kau merasa baikan setelah dibungkus seperti itu?" tanya Ethan.


"Ya," sahut Arumi coba melangkah. Tak begitu sakit lagi tetapi Ethan di hadapannya buat Arumi gelap mata.


"ETHAANNN!!!"


Jatuhkan diri mode on. Ethan sigap menangkap gadis yang jatuh bebas padanya. Berdecak saat Arumi tenggelam dalam pelukannya.


"Lihatlah gadis bodoh ini! Padahal baru tadi kulihat dia memeluk pria lain dengan semangat?" Meski begitu tak dilepaskan gadis itu. "Dia bahkan tak bersihkan dirinya dari bau keringat!"


"Kau tak tertarik pada gadis bodoh, jadi aku tak perlu repot-repot wangi dan cantik," sahut Arumi.


"Lepaskan pelukanmu, Arumi! Kau harus kena ketukan keras di keningmu agar segera sadar!"


Arumi meringis.


"Aku akan memelukmu sebentar saja, Ethan Sanchez untuk terakhir kali dan aku akan berhenti menyukaimu. Aku akan belajar jadi pintar dan temukan seseorang yang menyukaiku apa adanya."


"Apakah kau bisa begitu?"


"Kita lihat saja nanti!"


"Kau masih pakai gelang pengusir hantu dari wahana?" tanya Ethan keheranan. "Apa kau berharap hantu yang menciummu datang?"


Arumi mendongak pada Ethan Sanchez, untuk pertama kali dapati Ethan Sanchez bodoh.


Arumi tersenyum senang. "Darimana kau tahu kalau ada hantu yang menciumku?"


Ethan berdecak pandangi Arumi, terjebak oleh kata-katanya sendiri, terasa gila saja lihat gadis itu bergelayutan di lengan pengawalnya. Terasa menegangkan saat mencium Arumi di dalam kegelapan.


"Apakah itu alasannya gelang tak menyala? Itu karena bukan hantu ...."


"Ya," potong Ethan cepat. "Apakah kau keberatan?"


Sementara jarak wajah kian dekat dan Arumi yakin, ia akan dicium, Arumi meneguk liur.


"Kau tahu, remaja kasmaran tak boleh terlalu banyak berciuman sebab sangat bahayakan otak mereka."


"Lalu ...."


"Kurasa, aku tak peduli jika otakku sedikit rusak, aku akan perbaiki nanti malam sebab seorang gadis bodoh sungguh sangat menggemaskan." Basahi bibirnya dan ia terlihat tak bisa menahan godaan.


Jadi ... di sanalah, Ethan Sanchez, mencium si gadis bodoh di atas mata-mata terpejam si gadis. Tak ingin akui perasaannya hanya terbenam pada Arumi yang melingkari tangan-tangan padanya.


Saat Marya berdiri di ambang pintu dengan nampan teh, pria itu meraih buku ekonomi dan menutupi wajah mereka, tak ingin Marya mengganggu.


****


Seandainya solusi masalah Maribella segampang Shiva dan Inspektur Ladu Singh saat hadapi penjahat.... Hehehehe...


But, kita akan segera tahu ya, Nikmati Chapter-Chapter terakhir Heart Darkness sebab isi Chapter agak ... agak ... gimana kebelakang ini.


Aku harap kalian menyukai ini.