
"Hai Elgio ... namaku Arumi, i am so glad to meet you."
Arumi Diomanta Chavez penuhi syarat- syarat absolut sebuah relativitas keindahan; hampir lewati standar kecantikan dari segi bentuk, keseimbangan, dan proporsi seorang gadis idola. Dengan outer beauty paras jelita, elok dan molek ... Arumi yang tinggi, kurus, putih, dan pirang, wajah tanpa pori-pori, asimetri, anggun ... "sepenuhnya" sempurna tanpa cela.
Sekilas Arumi bak pinang dibelah dua dengan Aruhi Amarante kecuali attitude ceria berseri yang selalu menaungi raut wajah Arumi. Ia selalu tersenyum manis penuh persahabatan atau gadis itu berperilaku seolah-olah sedang di lokasi syuting melodrama, nobody knows.
Tidak heran karakter luwes Arumi seperti itu. Arumi tumbuh di tengah kehangatan dan kasih sayang keluarga dengan jalinan ikatan darah kuat yang cenderung bahagia, sebuah keluarga sempurna ..., berbeda dengan Aruhi. Elgio menahan napas tercekat di dada saat mengingat Aruhi. Gadis itu tumbuh oleh perhatian Maribel sejak masih kanak-kanak, seseorang tanpa ikatan darah. Terlebih Aruhi mungkin tidak benar-benar menerima kasih sayang sebab waktunya habis untuk menghidupi diri sendiri.
Arumi yang merintis karir sebagai seorang bintang film remaja dan penyanyi solo dengan beberapa garapan proyek bersama produser ternama, menyimpan ambisi ditiap tatapan matanya. Persis Ibunya, Salsa Diomanta.
Satu hal menarik, Arumi memuja Elgio, tampak jelas dari intensitas mencuri pandang berulang kali, terus mengulas senyuman; reaksi umum para hawa saat berdekatan dengan Elgio. Namun, Arumi belia berbeda. Ia ekspresikan perasaannya pada Elgio tanpa malu-malu dan terang-terangan seolah Elgio memang lahir ke bumi untuknya dan tulang rusuk pria itu ada padanya. Bola mata Arumi bersinar gemerlap ketika Elgio bicara, nyaris menggelinding keluar dari kelopak mata bulat itu dan menempel langsung pada Elgio. Mereka hanya berjarak dua depa saja, berhadapan di meja makan dan sikap " know you more" Arumi, tak pelak membuat Elgio terganggu.
Di sayap kanan meja jamuan, duduk Nyonya Salsa, Arumi dan Sunny Diomanta. Abner duduk kikuk di samping Elgio di sisi seberang dan tampak terus menyala pada Sunny Diomanta yang tidak lain adalah adik bungsu Salsa. Elgio perhatikan sekilas pada Abner yang bersikap tak lazim sejak kedatangan keluarga Diomanta. Elgio mengintai dan tak mampu memendam penasaran.
"Kau tidak pergi kencan buta dengan Sunny Diomanta, kan? Apa kau membocorkan rahasia kita padanya? Kulihat kau ketakutan semenjak tadi seakan bertemu hantu?!"
Elgio miringkan kepala mendekat pada Abner dan menguntai pertanyaan. Ia berbisik pelan hampir berguman, melempar dadu dan terkejut saat dapati tebakannya mungkin benar sebab Abner terlihat ingin menyeberang ke sisi sebelah dan bicara empat mata pada Sunny. Sementara Sunny yang berambut pendek sebahu dengan sorot mata terculas yang pernah Elgio lihat,miliki warna mata sama persis seperti Marya; abaikan tatapan murka Abner. Saat makan, Sunny mengunyah chicken grilled tanpa kendala lalu minum wine seakan ia ada di rumah sendiri. Ia seperti tak perduli.
Elgio mengelus kening, Abner yang selalu fleksibel bertingkah kaku ... tanda tanya besar.
"Aku minta maaf untuk kejadian buruk di masa lampau, mengenai Tuan Leon dan kecelakaan yang direncanakan Ayahku padanya. Aku tahu mungkin ini sangat tidak layak, tetapi dari dalam lubuk hati, aku mohon maaf mendalam," ujar Salsa berdiri membungkuk seraya memulai percakapan setelah makan malam berakhir. Nadanya penuh penyesalan dan memohon pengampunan tulus.
Wanita yang paling dinantikan oleh Aruhi dan Marya, meskipun pasti menua ikuti hirarki tetap tampak rupawan dan keibuan malah kian bersinar di usia matang. Elgio meludah dalam hati saat sekelebat ingatan kembali pada kekasihnya yang menderita sejak kecil akibat penelantaran Salsa.
Begitu banyak duri ditancapkan pada daging Aruhi hingga gadis itu berdarah-darah nyaris sekarat. Penderitaan sisakan trauma besar tanpa penyembuhan sampai Elgio menemukannya.
Apakah Salsa tahu, perbuatan mereka telah "habisi" dan mengikis mental Aruhi hingga gadis itu ... mati - enggan - hidup pun- tak-mau?
"Juga pada Benn Amarante, Aruhi dan seorang Security Plaza ... " sambung Elgio dengan ekspresi hampa. Bisa-bisanya Salsa mengatur perjodohan dengan Arumi sementara dalam darah Arumi mengalir darah murni Diomanta -pembunuh Ayahnya. Elgio katupkan rahang coba bendung amarah.
Salsa terdiam bak patung saat Elgio mengungkit nama Benn dan Aruhi. Ia susah payah meneguk liur sendiri dan berakhir dengan dehem - dehem kecil yang nodai tatanan keanggunan raut awet. Meskipun begitu, Salsa berusaha tenang dan terkendali.
"Bisakah kita akhiri kemelut di antara kita dan mulai lembaran baru?! Berdampingan sebagai relasi bisnis dan mungkin ...."
"Pria malang, istrinya pergi dan ia tewas kecelakaan tinggalkan gadis kecil yang ketakutan, puterinya. Entah, apa yang dipikirkan Tuan Diomanta? Ia memburu cucunya sendiri," sambar Elgio berisi kecaman tak hiraukan tatapan tajam Salsa dan Sunny.
"Kami tidak memburunya! Anda salah paham!" protes Salsa. Gemeletuk gigi-gigi bisa terdengar hingga ke kuping Elgio.
"Tentu saja, tidak memburunya," sindir Elgio. "Kalau begitu, mungkinkah Anda tahu di mana Aruhi, Nyonya? Aku hanya akan nikahi Aruhi, maaf aku berterus terang. Jika, tujuan makan malam ini adalah ingin ada perjodohan antara aku dan Puterimu, maka aku katakan terus terang Nyonya ... bawa Aruhi kemari dan aku akan menikahinya tanpa syarat. Lagipula, Aruhi warisi setengah Durante Land. Aku bahkan memakai cincin nikah bertuliskan nama Aruhi," balas Elgio sengit.
Marya sekalipun sangat membenci Salsa, hati gadis itu terlalu murni. Marya memacu kebencian dalam diri berulang kali tetapi tak sanggup benar-benar dalami emosi itu. Marya hanyalah Aruhi di kedalaman yang sangat rindukan Salsa. Mata indah gadis itu banyak bercerita tentang keinginan untuk ditemukan Ibunya. Marya masih menunggu Ibu dalam penantian tanpa akhir, entah hanya untuk permintaan maaf atau untuk sebuah pelukan.
Sangat miris.
"Jika kebetulan kamu tahu di mana Aruhi, bisakah beritahu aku? Untuk saat ini, aku hanya punya seorang Puteri namanya Arumi," sahut Salsa berusaha keras tidak impulsif. Ia bergetar menahan marah atau rindu, ambigu bagi Elgio.
Elgio tersenyum tanpa buka mulut, salah dengar Salsa menyebut nama Aruhi penuh kelembutan tetapi mematikan. Salsa seperti pegangi kendi berisi bisa racun dan penawar racun sekaligus. Ingin rasanya lihat reaksi Abner tetapi pria itu mendadak lumpuh otak. Elgio menggeleng kecut, bisa jadi, Abner kena jebakan kencan buta.
"Apakah ... Anda akan membakarnya hidup-hidup di suatu tempat jika Anda mengetahui keberadaannya?"
Salsa kepalkan jemari hingga buku-buku jari memutih dan urat-urat hijau tua menyembul keluar dari sana. Elgio bersandar ke kursi makan, amati Salsa seksama.
"Berhentilah bicara omong kosong, Tuan Muda Durante!"
Apakah wanita itu setidaknya rindukan Aruhi? Bukankah ia harus temukan Aruhi dan minta maaf?
Apakah ia akan memikul dosa hingga pergi ke balik peti mati?
Bagaimana kalau makan malam konyol ini berakhir saja?
Marya pasti tersiksa di dapur, mengintip Ibunya dalam kerinduan tetapi menerima tamparan keras. Salsa meneguk sedikit wine untuk mengontrol diri. Kegelisahan bayangi wajah terawat itu.
"Seumpama aku menemukan Aruhi, aku tak akan biarkan dia berjumpa Ibunya."
Salsa terlihat gelisah ketika Elgio terus menerus bahas tentang Aruhi.
"Bagaimana jika, Anda berhenti bicarakan Aruhi? Bisakah Anda coba mengenal Arumi? Dia sungguh rupawan dan miliki banyak keunggulan. Kita bisa akhiri kekelaman dan dendam di antara dua keluarga dan berhenti jadi musuh kebuyutan." Salsa mengganti topik.
Elgio tersenyum sinis, "Tentu saja Arumi unggul, ia adalah duplikat langsung dari Anda."
Arumi menaruh gelas cukup keras. Wajah berseri itu mendadak murung. Sedari tadi menyimak percakapan tetapi hanya satu nama yang dibahas "Aruhi".
"Siapa itu Aruhi?!" tanya Arumi menatap bolak - balik dari sang Ibu lalu pada Elgio.
Salsa terdiam, ia begitu terkejut pada pertanyaan Arumi, tak sanggup membuka mulut. Mata Salsa berubah muram dan meredup. Ia menjawab pertanyaan Arumi dengan lembut sembari menoleh pada anak perempuannya itu, mengelus tangan si gadis belia.
"Bukan siapa-siapa Arumi!""
Elgio berdecak tidak percaya, Salsa berbicara santai seakan bilang, ' Aruhi hanya seekor tungau'. Elgio berdiri, sudah cukup.
"Trims Mom telah merusak makan malam berharga ini. Aku bingung soal Aruhi, apakah dia kembaranku atau apa? Mengapa Diomanta memburu Aruhi?" tanyanya kesal sebelum bicara pada Elgio. "Aku punya dua tiket konser BTS, maukah kau pergi denganku?"
Arumi keluarkan dua buah tiket dari clutchnya dan sodorkan di atas meja ke arah Elgio. Pria itu naikan satu alis sebelum menggeleng.
"Aku hanya akan pergi bersama Aruhi."
Arumi menjadi murka dan amarah yang berkobar itu buyarkan semua prosentase keindahan dan kecantikan yang dimiliki. Pupil mata melebar dan berkilat-kilat.
"Siapa itu Aruhi? Kalian terus bicara tentang Aruhi Aruhi Aruhi, siapa itu Aruhi?!" Arumi berontak marah. "Jika kamu ingin menikahi Aruhi, mengapa mengundang kami ke Durante Land untuk makan malam perjodohan ini? Kau ingin pamer padaku bahwa kau menikahi Aruhi," serunya kasar dan berapi-api.
Perbedaan paling menonjol di antara Aruhi dan Arumi adalah, Aruhi sehalus kapas bahkan saat ia marah. Aruhi miliki inner beauty yang tidak dimiliki Arumi. Itulah mengapa Aruhi bersinar terang bahkan ketika seluruh tubuhnya berselimut tebal.
"Arumi! Minta maaf padanya. Kamu tidak sopan!"
Sunny yang sedari tadi diam mengangguk keras pada Arumi.
"Masa bodoh! Kalian jadikan aku lelucon, aku berhak marah."
"Arumi?!" geram Sunny mengangguk tajam membuat Arumi terpaksa meminta maaf dengan sopan.
"Aku minta maaf. Aku tak ingin perjodohan konyol ini ... cukup ... datanglah dan berfoto denganku di Xmast Cinema sebab aku terlanjur bilang pada teman-temanku kalau aku akan jadi kekasihmu. Aku akan menanggung malu dan katakan, kau campakkan aku," ujar Arumi tahan tangis.
"Aruhi adalah kakakmu. Aku akan menikahi kakakmu, Arumi."
"Kau akan menikahi Aruhi. Oke. Cukup katakan itu dan tak perlu mengulang kalimat yang sama. Itu buatku muak."
"Apa yang sedang coba kau lakukan, Elgio Durante?!" Salsa mendengus kasar, "Kau menyakitinya."
"Aku beritahu Arumi kenyataan bahwa Anda punya seorang Puteri bernama Aruhi dan dia mungkin menunggu Anda di suatu tempat karena merindukanmu. Apa Anda lupa meninggalkannya kesakitan dan membiarkan Ayah Anda memburunya seperti berburu tikus?"
"Hentikan Elgio Durante! Hanya karena aku memohon untuk melihat kembali hubungan kita yang mungkin bisa diperbaiki bukan berarti Anda berhak permalukank aku." Salsa berdiri dan menggebrak meja. Piring di atas meja ikutan melenting dan berderak nyaring. "Bukankah Anda sangat keterlaluan?"
Salsa Diomanta lebih mirip wanita jahat saat kulit wajah terlipat begitu dengan mata sembab memerah yang bengis.
Abner akhirnya bicara setelah tak bersuara selama hampir beberapa jam. Ia menjaga nada dan wibawanya sebagai seorang wali resmi Durante, tanpa senyum dan tegas.
"Tidak akan ada perjodohan dan seharusnya tidak ada kesalah-pahaman yang perlu diluruskan. Pada kenyataannya, Tuan Leon Durante terbunuh oleh Tuan Diomanta dan aku tak melihat celah untuk satukan benang terputus. Aku akan antar kalian pergi. Tak perlu mata-matai aku, Sunny! Tak perlu berpura-pura mengubah identitasmu hanya untuk mencuri informasi dariku dan hanya untuk mencaritahu keberadaan Nona Aruhi. Dia tak ada di Durante Land dan sekalipun ia ada di sini, tak ada satu setanpun yang boleh menyentuhnya. Pikirkan baik-baik sebelum mengambil tindakan. Mari aku antar Anda sekalian."
Sunny tersenyum seadanya, "Aku senang bisa mengenal pria sopan sepertimu. Kau harus paham bahwa aku juga harus lakukan sesuatu untuk melindungi orang-orang yang kusayangi."
Abner manggut-manggut kecil tak mampu sembunyikan ekspresi berang dari wajahnya. Elgio mengerti, Abner adalah seseorang yang menghargai sebuah ikatan percintaan. Sepertinya Abner telah memulai hubungan penuh tipu muslihat.
Keluarga Salsa tinggalkan Paviliun Durante tepat ketika Reinha memasuki halaman rumah.
"Bisa beritahu aku, siapa Aruhi? Atau aku akan membangkang pada kalian berdua sampai napasmu putus!" Arumi menatapi dua wanita di depannya jengkel.
"Arumi, kepala Ibu sakit. Bisakah ...."
"Baiklah, semoga kepala Ibu bertambah sakit besok dan selamanya karena telah permalukan aku."
Arumi yang kesal menggunakan headset dan memutar lagu Boys In Love hingga volume akhir.
"Ada seorang gadis yang tinggal di Durante Land dan dia bernama Reinha Durante. Ia seumuran Aruhi meskipun aku ragu itu Aruhi," kata Sunny saat mobil masuki Broken Boulivard abaikan Arumi yang sangat kesal.
"Selidiki dia, bila perlu bawa dia padaku!" Salsa memijat kening. "Apakah Elgio tahu bahwa aku sangat menderita karena tak berhasil temukan anak itu?"
"Jika Reinha adalah Aruhi, tak mungkin Elgio bertanya di mana Aruhi pada kita? Sudah jelas ia setujui jamuan makan malam ini hanya untuk pastikan kita tidak sembunyikan Aruhi."
"Temukan Aruhi! Kau kerja apa saja Sunny? Bukankah kau berkencan dengan Abner untuk temukan jawaban?"
"Maafkan aku. Abner terlalu berhati-hati."
"Apa Aruhi masih sering mengirim pesan suara ke nomer Ebenn? Sudah saatnya kamu balaskan pesan dari nomer itu. Aruhi akan datang ketika tahu aku sakit dan ingin bertemu dengannya. Temukan dia sebelum Elgio atau aku akan kehilangan Aruhi lagi."
"Aku pernah mengirim pesan, minta bertemu. Tetapi sepertinya Aruhi tak pernah baca pesan di kotak suara. Ponsel Eben adalah ponsel keluaran lama yang tidak canggih sehingga tak bisa terlacak. Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Kak? Aruhi adalah Puterimu. Entah mengapa, aku yakin Aruhi ada di Durante Land."
"Aku tak terampuni dan tak tahu cara menebus dosa padanya. Biarkan saja aku jadi jahat, Sunny."
"Kau menghukum dirimu sendiri, Kak!"
"Temukan saja Aruhi sebelum keadaan jadi bertambah rumit."
***
Maaf ya kalau Narasinya lebih banyak dari dialog. Semoga suka....