Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 157 Goodbye Aruhi ....



Sementara Elgio sibuk rapat, terkejut saat panggilan Abner buyarkan konsentrasinya, mendesak untuk diangkat. Ia menyingkir dari ruang rapat, beruntung rapat hampir selesai. Elgio merasa kelimpungan tanpa Abner dan juga Luna yang cekatan.


"Elgio Durante, istrimu menarik saldo dari rekening bank dengan jumlah yang bisa bikin jantungku meledak," sambut Abner dengan kalimat berita terbaik yang pernah Elgio dengar. Marya pergi ke bank dan gunakan uangnya.


"Kau yakin itu, Marya?"


Setelah menikah, Marya menerima sejumlah uang dalam tabungan dari Elgio, disimpan langsung ke rekening atas nama Marya. Ia juga dapatkan sejumlah aset, uang dari laba perusahaan yang menjadi haknya, setengah dari harta Durante berdasarkan wasiat mendiang Leon Durante. Ia juga menerima banyak uang dari Salsa dan Sunny di hari pernikahannya, hingga di usia 17 tahun, Marya si pegawai laundry telah menjelma jadi Billionaire. Tetapi, gadis itu tampak tak peduli pada uangnya.


"Ya, seberapa banyak? Mungkin dia ingin membeli sesuatu di double L."


Bayangkan Marya akan membeli lingerie seksi atau sejumlah kostum untuk pancing-pancing gairahnya buat Elgio lekas mabuk kebayang. Apakah Marya akan meliuk di dalam kamar, pada tiang ranjang dan mengajaknya ....


"Hei bocah, beli sesuatu di Double L tak perlu sampai ratusan juta."


Wajah Elgio langsung kusut masai saat Abner membentaknya keras dari seberang.


"Apa?!"


"Sebaiknya temui dia, sekarang! Oh ya Tuhan, ada apa dengan gadis-gadis ini?" keluh Abner di ponsel.


"Di mana dia?"


Elgio buru-buru mengendarai mobil. Menelpon Augusto tetapi Marya sudah kembali ke rumah Ibunya sejak pagi dijemput Archilles. Langsung menuju rumah, tak terkejut saat Marya tak ada di rumah.


"Apa yang dilakukan gadis itu?"


Elgio parkirkan mobil di halaman belakang. Ia penasaran apa yang Marya lakukan dengan menarik uang ratusan juta. Ia menelpon Abner.


"Apa kau dapatkan sesuatu?" tanya Elgio.


"Ya ..., Marya sedang lakukan sesuatu. Dia pergi ke Burka Club' aktifkan keanggotaan VIP Diomanta dan menyewa sebuah kamar. Tetapi Elgio, kita tak tahu apa yang terjadi. Tanyakan padanya baik-baik. Istrimu pas ...."


Click ... ponsel dimatikan sepihak oleh Elgio tanpa dengarkan penjelasan Abner.


Mobil masuk, Archilles turun bukakan pintu mobil. Mereka mengobrol sesuatu sepertinya Archilles minta ijin untuk menopang Marya masuk sebab kekasihnya tampak pucat pasi. Mary menggeleng sembari beri peringatan keras pada Archilles, pria itu lantas hanya membungkuk dalam. Istrinya seperti gadis yang berbeda bukan Aruhi atau Marya Corazon. Gadis itu mirip kembaran Sunny Diomanta dengan model rambut mirip Cleopatra. Elgio tak sukai itu.


Marya tapaki undakan tangga serambi rumah, masuk ke dalam ruang tamu sedang Archilles parkirkan mobil. Marya hampir terjerembab ketika Elgio Durante menegurnya dari belakang.


"Honey, maukah beritahu aku, apa yang sedang coba kau lakukan?" tanya Elgio pelan, tak bermaksud kageti Marya.


Sontak berbalik dan temukan Elgio berdiri dengan wajah menuntut jawaban. Marya mundur ketakutan hingga tubuhnya membentur sofa. Terperangah. Ia seakan kepergok lakukan hal nista. Marya sangat jenius tapi ia tak sadari bahwa rekeningnya terkoneksi langsung pada smartphone milik Abner Luiz. Tidak akan ketahuan jika cuma bernilai jutaan tetapi ratusan juta, akan langsung terdeteksi oleh Abner.


"Elgio ... " ucap Marya kaku di tempatnya berdiri, tak punya persiapan jika ia ketahuan sebab ia telah bekerja dengan sangat hati-hati.


"Habis dari mana, Marya? Mau ceritakan padaku? Sebab kepalaku rasanya akan segera meledak." Elgio tak bergairah pada wanita seksi hanya pada Marya. Kini, tahu Marya menyewa sebuah kamar di Club yang tak bisa diakses informasinya sama sekali, Elgio meradang. Siapa yang pria itu temui? Apakah ia bersama Archilles?


"A ... a ... ku ...," sahut Marya tersendat-sendat.


"Aruhi?!" tegur Elgio pelan tetapi nada suaranya menyimpan sejuta tanda tanya yang akan berujung pada kemarahan.


"Baiklah, diam saja! Aku akan tanya pada Archilles Lucca."


Waktu yang tepat ketika Arumi keluar dari lantai dua, saksikan drama di bawahnya sedikit heran. Turuni tangga dengan terpincang-pincang, agak lega lihat Archilles kembali sebab seharian tak melihat pengawalnya itu. Entah apa yang dia kerjakan.


Archilles muncul di ruang tamu sama seperti Marya, sedikit terkejut saat melihat Elgio Durante berdiri dengan posisi tubuh menyimpan sesuatu, emosi negatif.


"Archilles, aku berharap kamu tak khianati aku!"


"Tuan Elgio ...."


"Jawab aku yang jelas, Archilles!" hardik Elgio. Archilles ingin bicara tetapi Marya menatapnya tajam dari sebelah hingga Elgio berbalik pada Marya. Dapati istrinya sembunyikan sesuatu, pria itu jadi sangat marah.


"Baiklah, aku akan caritahu sendiri."


"Elgio ...." Marya memanggil pelan, berpegangan pada sofa sebab ia nyaris limbung.


"Kau bisa habiskan uang-uangmu sesuka hati, Marya. Itu hak-mu. Tetapi, jika kau terlibat sesuatu yang berbahaya, pikirmu rekening-mu tak akan terlacak? Kau tak dalam bahaya? Aku harap kau tak lakukan sesuatu yang bisa bahayakan dirimu!"


"Elgio ...." Marya berlari dapati suaminya hanya untuk didorong keras. Marya tersandung ke belakang dan Archilles menangkap tubuh yang tak seimbang oleh heels yang tergelincir. Marya dalam pelukan Archilles, Elgio Durante marah besar.


"Katakan padaku, Archilles?! Apa yang terjadi?"


"Tuan ...."


Marya segera lepaskan diri dari Archilles, berlari pada suaminya.


"Kau menyewa kamar eksklusif di Burka Club, apa yang kau lakukan di sana Marya?" tanya pria itu menatap bolak-balik penuh curiga.


"Elgio?!" bentak Marya kasar. "Berani sekali kau curigai aku?"


"Lalu?! Mengapa tak jawab aku?"


"Mari bicara, Tuan. Kita tak bisa bicara dalam keadaan seperti ini."


Oleh amarah satu kepalan melayang pada Archilles, hingga pria yang tak siap itu terjengkang jatuh ke belakang. Elgio mendekat meraih kerah baju sementara Arumi dan Marya berlarian menahan tubuh Elgio, lindungi Archilles dari pukulannya. Pria yang cemburu itu tafsirkan sesuatu yang salah.


"Tidak, Elgio. Hentikan!"


"Kakak?!"


Elgio menarik kepalannya, lepaskan diri dari tangan Marya sedang Arumi berlutut di samping Archilles. Pria itu beranjak dari rumah tak peduli pada panggilan Marya yang menyusul di belakang.


"Baiklah, Elgio. Mari kita bicara!" seru Marya tak mampu lagi sembunyikan rahasia. Elgio menepis pegangan tangan Marya. Pergi ke halaman belakang. Marya terantuk-antuk di belakang ingin menggapai Elgio. Tak pedulikan Marya, pria itu masuk ke dalam mobil dan mengunci seluruh pintu mobil.


Marya pukuli kaca mobil, separuh menjerit.


"Elgio, jangan pergi! Demi Tuhan, aku tak khianatimu." Mengetuk-ngetuk. "Elgio, mari bicara!"


Lega saat kaca mobil diturunkan.


"Jangan pergi, baiklah, mari kita bicara!" seru Marya. "Maafkan aku, baiklah. Turunlah Elgio Durante!"


"Masuklah Marya! Aku ingin tenangkan diriku! Kita bisa bicara nanti saja!" balasnya dingin dengan tatapan tajam menukik hingga buat Marya segera menyingkir. Terduduk lemas di halaman. Ia tak bisa kendarai mobil dan tak mungkin minta bantuan Archilles, atau Elgio tambah meradang.


Sementara Elgio pergi ke Burka Club, berpikir keras apa yang dilakukan Marya hingga memilih kafe tertutup dan sangat rahasia untuk bertemu seseorang. Ia masuk ke dalam Club disambut seorang pelayan wanita. Tanpa basa-basi memesan minuman dengan sadar bahwa ia tak bisa minum sebab tubuhnya intoleran pada alkohol. Oleh amarah, ia menolak warning tubuhnya dan duduk dengan kesal di meja kosong.


Seorang pelayan cantik jelita antarkan minuman. Tersenyum dan letakan minuman.


"Bisakah temani aku minum?" tanya Elgio pada si pelayan yang langsung mengangguk.


"Aku akan kembali sesegera mungkin, Tuan," sahut si pelayan tersenyum manis. Saat ia kembali, kancing-kancing kemeja dibalik blazer ketatnya telah terbuka.


Begitulah akhirnya Elgio Durante minum anggur ditemani si waitress yang tak banyak bicara, hanya menuang minum dan menjawab hal-hal penting ketika Elgio bertanya. Abaikan panggilan telpon Marya juga Abner. Malam merambat naik, kepalanya sedikit pening. Wajah waitress di depannya, tertangkap samar oleh matanya yang mabuk sebagai Marya istrinya dalam balutan kemeja putih kedodorannya.


"Marya, apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya buram.


"Mau pergi denganku?"


Merasa sangat rileks dan nyaman, ikuti tuntunan tangan-tangan dengan jemari lentik yang membawanya lewati lorong-lorong. Tubuhnya menghangat. Bibirnya disentuh. Pria itu merasa sangat-sangat mabuk kepayang. Masuki kamar, ia dibaringkan di ranjang sedang, jasnya dibuka. Dasinya dilepas dan kancing kemeja terlepas satu-persatu. Ciuman menjadi sering dan ia terdengar mendesah di antara kepala bergelora. Sapuan lidah bermain-main di dada turun ke pusar di area bagian bawah perutnya, gerakan tertunda. Ketika dimulai kembali, pergelangan kakinya di sentuh dengan sangat intim. Pria itu separuh terlena oleh cumbuan yang begitu ahli seakan tahu titik-titik sensitif dirinya. Seolah temukan tempat-tempat terbaik untuk bermain.


"Elgio, Sumpah Demi Tuhan, aku tak khianatimu."


"Elgio, aku Laluna menerangimu, Lacielo!!"


"Kau persis Ayahmu!"


"Kakak, aku sangat menyayangimu!"


"Jangan coba-coba minum anggur, Bocah! Kau hebat tapi kau sangat lemah pada alkohol!"


"Aku mencintaimu, Elgio Durante."


"Elgio selamatkan aku, tolong aku!"


Suara-suara timbul tenggelam di pendengarannya. Suara Marya terdengar paling dominan berbisik di antara sedih dan putus asa, menyayat hatinya.


"Aku berjanji untuk selalu setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan juga sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Aku akan selalu mencintai dan juga menghormatimu sepanjang hidupku. Aku bersedia menjadi orangtua yang baik bagi anak-anakĀ  yang akan dipercayakan Tuhan kepada kita."


Ia mendengar sumpahnya sendiri yang ia ucapkan dengan lantang dan penuh penghayatan sedang Marya di depannya berkaca-kaca dengan gaun putih juga mahkota bunga yang cantik. Sedikit otaknya yang waras dan nurani yang terganggu, memaksa Elgio Durante berusaha keras melawan pengaruh alkohol dalam tubuhnya. Ia kembali akan dikecup, tangannya susah payah bergerak menahan tubuh indah begitu molek yang merayap di atasnya.


"Elgio, kita akan punya bayi!"


Suara ribut-ribut di pintu, kaki-kaki yang melangkah. Elgio tak ingat, ia hanya merasa ... mabuk.


****


Di sudut lain, Marya menggenggam ponsel kuat, mondar-mandir di kamar. Kepalanya kelabu begitu pula hatinya. Ia ingin lakukan panggilan lagi tetapi takut Elgio semakin marah. Melawan hiruk pikuk gelisah yang kerubuti diri, Marya lakukan panggilan, antusias ketika panggilan direspon.


"Elgio ... dengarkan ini baik-baik! Aku menarik sejumlah uang untuk buat perhitungan dengan orang-orang yang menyiksa Maribella ... " ujarnya buru-buru. "Aku ...."


"Nyonya ... pemilik ponsel ini sedang tidur. Tuan Elgio berpesan, untuk tidak mengganggunya."


Marya tercekat, telinganya berdenging seakan rongga telinganya baru saja terisi air dalam jumlah besar. Sesuatu tanpa ampun gerogoti hatinya dengan kejam dan hancurkan kerapuhannya hingga berkeping-keping. Suara merdu itu terdengar begitu intim saat menyebut nama suaminya. Mencari pegangan, menggapai-gapai. Suaranya bergetar penuh emosi.


"Siapa kau? Beritahu, di mana suamiku?"


Marya temukan topang, bersandar pada nakas, mengatur napas.


"Maafkan aku, Nyonya. Beliau akan bermalam bersamaku!"


Ponsel dimatikan begitu saja. Marya tak mampu memekik hanya membeku, sangat shock, terlebih oleh satu pesan gambar dari ponsel Elgio yang merobek hatinya hingga ia tak sanggup rasakan sakitnya. Suaminya tanpa pakaian sedang berbaring di atas ranjang. Ponsel terjatuh begitu saja dari tangan. Napasnya memburu, tekanan di kepala tiba-tiba seperti lusinan batuan besar jatuh menghantam dirinya. Kian kuat menghimpit saat otak jenius menyimpan gambaran Elgio Durante yang terbaring tanpa pakaian. Tubuh itu miliknya tetapi ia tak yakin kini.


Beginikah akhirnya untuk kita, Elgio?


Pegangi jantung yang seakan meloncat keluar, Marya dengan kesadaran penuh rasakan urat-urat saraf wajah berdenyut di bawah kulit seakan hendak terlepas. Lemas seketika, berusaha merangkak ke kamar mandi susah payah. Tumpahkan angin dari dalam perutnya di pintu kamar mandi. Terbatuk-batuk.


"Elgio, aku tak khianatimu. Demi Tuhan," bisiknya pada lantai yang dingin. Sementara tubuhnya terguncang hebat, serasa seluruh sendi menghilang. Tak tahu cara atasi dirinya. Entah berapa lama meringkuk di ambang pintu. Ia kembali ke ranjang, membuka nakas dan mencari-cari sesuatu dengan tangan gemetar. Ia tak pernah lagi minum obat tetapi ini sangat menyakiti untuk dilewati. Marya berbaring ke ranjang setelah menenggak obat-obatan, merasa dunianya telah berakhir dan ia telah kehilangan segalanya. Ia berputar-putar dalam sesuatu yang membelit jiwa, mencengkeram kuat dan menariknya pada sesuatu yang damai. Tak berusaha melawan. Ia berbaring kaku di atas ranjang.


"Bawa aku pada Ayahku, aku mohon! Tuhan tolong aku," katanya pejamkan mata, rasakan energi kuat selimuti tubuh dan sesuatu yang tenang kendalikan dirinya. Abaikan panggilan di pintu. Ia hanya ingin ditendang pergi ke dunia lain di mana ia tak perlu rasakan sakit yang merajam hatinya seakan ribuan anak panah tertancap tanpa sisakan celah.


"Tuhan, katakan padanya aku mencintainya. Jangan lakukan ini padaku!" bisiknya lagi tak ingin rasakan apapun. Biarkan dirinya terlempar dalam kehampaan tanpa batas, tak menolak untuk tidur di bawah pengaruh obat-obatan. Apakah ia tenggelam ke dasar neraka? Maka biarkan saja para belatung mengisap tubuhnya.


"Marya ...."


Seseorang memanggilnya. Suara anak kecil.


"Marya ...."


"Siapa kau?"


"Aruhi ...."


"Aruhi?!"


Ia melihat tubuh mungilnya dengan poni Sadako, berwajah pucat, datang mendekat. Matanya tajam dan menusuk.


"Aruhi?!"


"Ya, ini aku Marya. Mengapa kau buat Elgio pergi tinggalkan kita, Marya? Kita sangat mencintainya. Kita tak bisa hidup tanpanya."


"Maafkan aku tetapi aku tak berharap semua ini terjadi!"


"Sekali ini kau sangat keterlaluan. Aku tak sabaran padamu, Marya. Aku akan membunuhmu, kau membuat kita kehilangan Elgio Durante."


Aruhi naik ke atas tubuhnya, menindihnya, sekonyong-konyong mencekik lehernya.


"Kita tak bisa tinggal bersama, Marya. Tolong mati saja! Gara-gara kau, Elgio pergi. Aku akan membunuhmu."


Marya menggeliat di tempat tidur, menahan cengkeraman kuat pada lehernya. Bernapas tersengal-sengal.


"Le ... pas ... kan a ... ku!"


"Tidak akan. Kau harus mati! Elgio pergi pada gadis lain, kau membuatnya pergi!"


"Ell ... gioooo, to ... long a ... ku." Marya berusaha bangkit tetapi tangan-tangan kecil yang menakutkan menahannya di atas bantal.


"A ... yah ... A ... yah ...."


"A ... yah ... to ... long ...."


"Aruhi?!! Apa yang kau lakukan?" Ayah Benn datang tepat waktu untuk jauhkan Aruhi darinya.


"A ... yah ... to ... long aku!"


"Dia buat aku kehilangan Elgio Durante, Ayah!" Mengadu.


"Aruhi ... Kemarilah! Kau bisa terbunuh!"


Benn memeluk tubuh mungil Aruhi, mendekapnya erat lalu membelai rambutnya perlahan. Sayap-sayapnya berkilauan.


"Aruhi ... namamu Marya Corazon."


"Aku telah terbiasa dengan Aruhi!"


Ayah Benn tersenyum sangat lembut.


"Sayang, Aruhi itu nama yang indah. Namun, penuh kesedihan. Kau tak akan gunakan nama itu lagi. Namamu adalah Marya Corazon Aquino, punya arti gadis kuat, ulet, dan memiliki hati yang indah."


"Oh Ayah, tapi lihatlah dia. Karena kekuatannya Marya buat kami kehilangan Elgio Durante."


"Aruhi Sayang. Kau tak akan kehilangan Elgio tetapi kau harus biarkan hatimu miliki tubuhmu dengan penuh cinta kasih, menerima kelemahanmu dan maafkan dirimu dengan tulus. Cintai dirimu dan jangan salahkan dirimu untuk setiap kemalangan. Berdamailah!"


Aruhi mengangguk patuh, mendekap tubuh Marya hangat, hembuskan kedamaian.


"Tidurlah Marya, maafkan aku telah kasar padamu! Bisakah kita berdamai? Bisakah kita bersama? Apa aku menyakitimu, Marya?"


"Ketika kau mengikat Elgio di depan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga ikatan itu untukmu."


"ARUHII?!" gedoran di pintu. Suara Ibu.


"KAKAK?!" Arumi.


Pintu terkunci. Tak bisa dibuka dari luar.


"Ayah?!"


"Tidurlah Marya! Kau akan merasa baikan!" Sebuah ciuman. "Aruhi, ikutlah dengan Ayah."


"Bagaimana dengan Elgio, Ayah?"


"Marya akan mengurusnya! Mau pergi ke wahana dengan Ayah? Kau akan dapatkan sayapmu di sana, Aruhi."


"Ayo ... Ayah. Goodbye Marya! Aku akan dapatkan sayap dan menjaga Elgio kita." Aruhi tersenyum ceria, poni mistisnya hilang, dress pink bergambar sakura melambai-lambai. Tangannya menggenggam tangan Ayah Benn kuat, terayun-ayun menyusuri lorong.


"Goodbye Aruhi!"


Pintu dibongkar paksa, Marya terbaring di atas ranjang, menggelepar kehabisan udara. Tangannya mencengkeram lehernya kuat. Beberapa detik berselang, tubuhnya berhenti bergerak. Diam membisu.


"Arumi, panggil dokter!"


***