Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 118 Obsession ....



Meski sangat malu, Marya sangat kagumi kedewasaan Maribella. Ia mudah kembali menghangat. Atau mungkinkah karena Marya menemaninya. Mereka berhimpitan di sofa ruang tamu hunian Maribel, menonton acara televisi malam sambil makan tempura bersaos pedas.


"Apa kau merasa baikan, Bibi Mai? Maafkan aku, sejak kini aku akan memanggilmu Maribella. Kau tahu namamu sangat indah, Maribella," kata Marya celupkan dua potongan peixiohos da horta pada saos dan makan dengan nikmat. Oh ia sangat menyukainya walaupun pada akhirnya ia mual-mual.


"Jangan kebanyakan ngemil saos pedas Marya, perutmu bisa sakit," tegur Maribella.


"Oh ini enak sekali, Maribella. Lagipula, aku sudah makan tadi sore. Aku cepat lapar," sahut Marya.


"Apa kau mulai rasakan sesuatu, Sayang?" tanya Maribella pergi ke perut Marya yang datar dan perhatikan kaki di gadis. Tak percaya Aruhi telah tumbuh sebesar dirinya dan sedang mengandung. Waktu seakan cepat berlalu, baru kemarin ia menidurkan Aruhi dan membelai rambutnya saat gadis kecilnya itu tak bisa tidur. Usianya belum 20 tahun tapi Maribella mengurusi dua gadis kecil yang kehilangan kedua orang-tuanya. Ibunya sangat sibuk di dapur jadi ia mengambil alih mengasuh dua anak kecil itu. Aruhi tak begitu suka ditemani. Ia lebih suka baca buku dan berdiam diri di kamar. Gadis itu telah menderita sejak kecil akibat sebuah keegoisan.


"Tidak, Maribella."


"Ya, kau hanya berisi sedikit dan apa kau merasa sedikit kencang di bagian sini?" tanya Maribella menunjuk area dada. Mereka lakukan percakapan Ibu dan anak, Marya menyukai momen itu.


"Tidak. Tetapi aku mudah lemas dan capek. Aku hanya ingin terus mengunyah makanan. Aku juga tak ingin jauh-jauh dari Elgio. Aku tak betah di sekolah, Maribella. Aku selalu ingin bersama Elgio." Marya mengeluh. Mereka perhatikan perutnya. Rata seperti biasa.


"Apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan buatkan untukmu? Rendang?" tanya Maribella kurangi volume televisi.


Marya menggeleng, "Aku tak ingin makan jenis makanan tertentu. Apakah ada yang salah denganku? Oh Maribella, kurasa aku harus ke dokter kandungan dan periksakan diri."


"Ya, kau benar, Sayang. Kalian tidak bisa terus menunda. Oh, aku tak percaya kau hamil di usia sangat muda. Kurasa Nyonya Salsa juga hamil dirimu di usia belia."


Marya mengangguk, "Ya. Ibu dan Ayahku terjebak cinta buta. Ayahku pengawal pribadi Ibuku dan Ibu jatuh cinta padanya. Mereka kemudian tak tahan godaan, backstreet dan putuskan kawin lari. Mereka kabur dari rumah Ibu. Begitulah ceritanya," sahut Marya mengenang. Ia masih punya luka di suatu tempat tetapi cinta Ibu telah sembuhkan. Lepas dari itu, cinta Elgio-lah yang selamatkan dirinya. Oh bagaimana ini, ia ingin meringkuk di bawah lengan Elgio dan menghirup aroma cologne-nya.


"Cinta sesaat akibat ketertarikan fisik biasanya tak bertahan lama, Marya." Colek sambal dan makan lagi. "Kau tahu, Marya ..., aku menyukai Tuan Benn, Ayahmu," ujar Maribel menoleh pada Marya.


"Ya aku tahu, Bibi Mai," sahut Marya santai, sama sekali tak terkejut malah reaksinya buat Maribella terperangah.


"Hah?!" Maribel menelan camilan susah payah.


"Kita kunjungi makam Ayahku tiap akhir pekan dan kau selalu bawakan bunga. Aku sering mendengarmu menangis tengah malam, Maribella dan Nyonya Stevan selalu kesal padamu soal itu. Saat kau menidurkanku, kau merindukannya. Iyakan? Saat di makam kupikir aku sendirian yang bersedih tetapi kau juga terlihat sangat tersiksa, Maribella. Mata kecilku rasakan itu, hanya aku terlalu sibuk dengan diriku hingga abaikan dirimu. Maafkan aku. Kau juga menyimpan foto Ayah di dalam dompetmu," tambah Marya hingga Maribella tak mampu mengelak.


"Hah?!"


"Kau pernah memintaku ambilkan uang di dompetmu untuk tukang kebun dan beberapa kali kau memintaku lagi tanpa sadari bahwa kau menyimpan foto seorang pria kesayanganku. Aku tak sengaja melihatnya Bibi Maribella."


"Jadi?!"


"Jadi, aku tahu kau mencintai Ayahku. Seandainya, dia masih hidup, kurasa kalian akan sangat sempurna," damba Marya. Maribella yang lembut dan penyayang bersama Ayah Benn, mereka akan jadi pasangan terbaik di dunia. Marya akan jadi anak paling beruntung. "Mengapa kau tak ungkapkan perasaanmu bahwa kau menyukainya Maribella. Hidup Ayah mungkin berubah saat itu," lanjut Marya murung.


Maribella mengunyah tempura pelan, hembuskan napas berat, "Beliau sangat setia pada Ibumu. Nyonya Salsa sangat cantik, oh lihatlah Ibumu saat kemari. Aku paham kini, mengapa Ayahmu melarikan Nyonya Salsa. Lagipula, Tuan Benn tak mungkin melirikku yang hanya seorang pelayan."


Marya berhenti mengunyah. Luar biasa ia bicarakan tentang Ayahnya dengan Maribella, pengasuhnya. Maribella tak percaya diri padahal dengan rambut terurai seperti itu, Maribella sangat cantik bahkan Abram Hartley sadari kecantikan Maribel saat kunjungi Durante Land beberapa waktu lalu. Meski demikian, memang Ibu Salsa tak bisa disandingkan dengan Maribella. Ibu seperti super model angkuh yang kecantikannya sangat fenomenal.


"Mengapa Anda menyukai Ayahku, Maribella?"


Maribella menatap Marya, wajahnya merona saat menjawab.


"Kupikir, karena beliau sangat-sangat tampan. Ayahmu seperti Tom Cruise. Tetapi kurasa karena dia sangat murah hati. Matanya selalu bersinar hangat dan lembut. Saat ia bicara padaku, aku merasa sangat istimewa, Marya. Ada pria yang sangat memesona dan pria itu Ayahmu."


Marya berbinar-binar, "Kau tepat sekali, Maribella. Dia memang sangat tampan. Tidak heran Ibuku terjebak padanya."


"Dan tinggalkan Tuan Benn," sambung Maribella sedih.


"Ya, kini Ibu sangat menyesalinya."


"Kuharap, Ibumu segera pulih, Marya."


"Aku belum mengunjunginya lagi. Arumi merawatnya dengan baik," kata Marya berpaling pada Maribella, amati pengasuhnya seksama. "Maribella, sejak kapan kau menyukai Ayahku?" Marya menyukai nama Maribella. Ia ingin menyebut nama itu ditiap percakapan.


"Sejak aku kecil, aku tumbuh besar di Durante Land untuk melihat pemandangan terbaik seumur hidup, seorang pria dewasa yang sangat baik hati dan tampan. Kau tahu, ketika Ayahmu terlihat di Paviliun, aku diam-diam mengintipnya dan buatkan banyak alasan agar bisa melihatnya. Oh kau tahu, aku sering kedapatan oleh Abner."


"Em, jadi Tuan Abner juga tahu, kau menyukai Ayahku?"


"Ya," sahut Maribella. "Abner sering mengancamku jika aku tak patuh padanya."


"Benarkah?"


Maribella mengangguk dengan wajah masam. Ia menelan makanan tersisa dalam rongga mulutnya sebelum mencontohi Abner.


"Maribella bawakan aku teh dan camilan, aku akan beritahu Tuan Ebenn jika permintaanku tak datang dalam waktu, 5 menit."


"Kau punya tangan Abner, aku sedang bersih-bersih!" Kembali ke suara aslinya yang dibuat terdengar seperti remaja belasan tahun.


Sedikit menjerit. "TUAN EBENN, kurasa Anda perlu tahu bahwa Maribella ...."


"Baiklah ... baiklah ... Abner kau sangat bawel!"


Maribella meniru suara bariton Abner dan mengulang percakapan bertahun-tahun lalu hingga Marya cekikikan.


"Oh ya ampun, Maribella, kalian berdua manis sekali."


"Aku dan Ayahmu?"


"Bukan," geleng Marya masih belum reda lucunya. "Kau dan Tuan Abner. Lihatlah Tuan Abner cemburu pada Tuan Hansel. Baru disadarinya hari ini saat kau pergi kencan dengan Tuan Hansel, setelah abaikan kehadiranmu selama bertahun-tahun."


"Oh tidak, Maribella-ku sayang. Aunty Sunny dan Tuan Abner awalnya kencan buta, karena Aunty Sunny ingin temukan aku. Mereka lalu berteman baik."


"Dengar Marya, meski demikian aku menyukai Tuan Hansel. Dia sangat baik hati dengan pikirkan perasaanku."


"Ya, kau benar," angguk Marya sepakat.


"Lihatlah, Tuan Abner juga telah temukan belahan jiwanya. Nona Luna Hugo sangat tergila-gila pada Tuan Abner. Oh, pria yang beruntung," guman Maribella berdecak. Meskipun memuji nadanya agak sumbang hingga Marya ikutan tertarik membahas kisah asmara Tuan Abner dan Luna.


"Luna terlihat ingin menjilati Tuan Abner, kau tak lihat?" tanya Marya hampir terdengar berseru. "Matanya tak berhenti awasi Tuan Abner," lanjut Marya.


"Husssh mari kita hentikan! Jangan mulai bergosip atau Tuan Abner akan menjewer kuping kita?" bentak Maribella pelan. "Walaupun kau benar," tambahnya geli sambil miringkan kepalanya dengan bola mata memutar.


"Aku tak pandai gosip, Maribella. Kurasa kau lihat sendiri, Luna ingin menelan Tuan Abner hidup-hidup."


"Ya ya ya bisa kulihat Marya. Ia akan sembunyikan Abner di belahan pay**dar**nya yang sangat montok," Maribella membusung. "Oh Me Deus, jauhkan kami dari pikiran kotor," lanjutnya kerjab-kerjabkan mata saat bayangan Luna Hugo dan dada wanita itu lewat di beranda pikirannya.


Tawa Marya pecah seketika dan Marya terguncang sangat keras simak celotehan Maribella. Mulutnya tanpa malu-malu menganga lebar dan gadis itu tak akan berhenti tertawa. Tidak bisa berhenti, sampai mendadak, suara Abner Luiz bukan halusinasi terdengar memanggil di pintu berikut ketukan keras.


"Maribella? Mai? Bisa kita bicara?"


Rasa lucu sekonyong-konyong musnah, Marya mengatup rapat lalu menoleh pada Maribella, keduanya saling melotot. Marya lekas panik, bibirnya berukir tanpa bunyi.


"What?! Tuan Abner?! Apa yang harus kita lakukan?"


Keduanya saling menatap dalam diam hanya televisi yang terus menyala. Mereka tak menyangka Tuan Abner Luiz akan datang mencari Maribella.


"Maribella? Aku tahu kau di dalam, kau baru saja bicarakan, sembunyikan Abner di belahan payudara seseorang."


Maribella dan Marya sama-sama menganga. Abner Luiz bahkan mendengar percakapan mereka. Habislah sudah, mereka kedapatan bergosip.


"Maribella, buka pintunya atau aku dobrak, Mai?"


Lima detik berselang Marya langsung tunggang-langgang berlarian ke kamarnya, segera bersembunyi, tinggalkan Maribella menanggung derita. Marya yakin perang tengah malam akan segera meletus. Genderangnya sedang ditabuh, bertalu-talu dan ia tak mungkin terjebak di antara kedua walinya itu.


"Maribella ...." sapa Abner menahan gejolak emosi saat Maribella berdiri di muka pintu berengut padanya.


"Tuan Abner Luiz, kau menguping pembicaraan orang lain!" tuduh Maribella bukan bertanya tapi berseru tidak suka.


"Itu bukan menguping, tetapi suaramu terdengar seantero Durante Land, Maribella. Kau bisa panggil Dilly dan Azel untuk bertanya, seberapa besar kau bersuara!" sahut Abner menyipit tidak senang.


"Kupikir kelakuanmu tidak bijaksana, Tuan Abner Luiz."


"Oh baiklah, Maribella William. Aku mendengarkanmu! Jadi menurutmu, kau sangat bijaksana dengan bicarakan aku bersembunyi di payudara seseorang bersama anakmu? Bukankah itu sangat kasar dan tak bermoral, Maribella?" sambar Abner cepat dan mulai naik darah. Pria itu berseru lewati kepala Maribella. "Marya ..., tulang rusuk Elgio Durante, giliranmu nanti akan tiba, kau akan berurusan denganku! Bersembunyi yang baik ya, bocah nakal!"


Padahal tujuan Abner datang untuk minta maaf pada Maribella tetapi Maribella bersungut-sungut padanya dan wanita itu mengajaknya untuk bertengkar dengan menyinggung-nyinggung sesuatu yang tidak masuk akal. Abner berpikir akan ladeni Maribella.


"Kaulah yang tak bermoral Abner. Kau bepergian dengan Nona Sunny ke mana-mana, kini beliau di penjara ..., kau berkeliaran dengan Nona Luna Hugo tetapi kau kedapatan cemburui aku. Kurasa, kau jadi besar kepala dan banyak bertingkah karena jadi wali resmi Durante," serang Maribella tak tanggung-tanggung. Ia meremas sisi dress saat bicara.


"Kupikir kau juga jadi besar kepala Maribella, karena ketiga bocah bodoh itu mendukungmu! Kau salah, aku tak cemburui dirimu. Lihatlah, siapa yang besar kepala di sini?" balas Abner keheranan. Bagaimana bisa Maribella katai dirinya besar kepala dan banyak tingkah?


"Kau terlihat tidak waras! Aku tak peduli saat kau bersama Nona Sunny juga saat kau menempel pada gadis seksi dengan ukuran payudara seperti dua buah melon hasil rekayasa genetika yang disatukan, menempel padamu seperti perekat lem tikus. Aku tak peduli Abner. Terapkan hal yang sama denganmu! Jangan pedulikan aku karena aku menyukai Tuan Hansel Adelio," cerocos Maribella tanpa jeda dan menggebu-gebu.


Abner mengangguk. "Baiklah, kau sangat detil soalku dan siapa saja yang bersamaku!" Abner berdecak. "Lanjutkan Maribella. Silahkan jalan dengan si sopan Hansel, semoga kau tak tertipu olehnya. Aku akan menunggu hari itu tiba, saat kau patah hati dan akan bersulang untukmu! Jaga saja dirimu karena kau terlihat seperti wanita menjelang 30 tahun yang ketakutan akan jadi perawan tua, jadi, tidak berpikir panjang dan rinci tentang siapa yang diajak kencan. Tunggu sampai kau semaput dan sadari kau telah dibodohi olehnya."


"Ya, biarkan saja aku, Abner Luiz. Kau tak perlu ikut campur terlalu dalam dengan buat-buat alasan aku keluargamu. Kau berlebihan protektif, lagipula aku bukan anak labil yang masih mencari jati diri. Kau tahu, kau tampak seperti pria menjelang 30 tahun yang sangat putus asa soal jodoh sampai-sampai sekali jalan kau kencani dua wanita."


Tanpa takut Maribella pandangi atas bawah menahan muak dan jengkel.


Abner berdecak. "Maribella?! Kaulah yang terdengar cemburu padaku?" balas Abner menahan emosi aneh dalam dirinya. Astaga, Maribella bukan lagi gadis belasan tahun yang sering bepergian dengannya ke pinggir hutan dan meniup dandelion.


"Oh Tuhan, tentu saja aku cemburu padamu karena kau bisa berucap seenaknya pada orang lain, egois, kejam, nurani tumpul dan kehilangan empati. Kau bisa meruncingkan situasi dan semena-mena padaku."


Mereka saling bulatkan mata dan sama-sama bicara dengan intonasi cepat dan dalam satu sentakan napas. Marya tak mampu menahan tawa geli, keduanya bertengkar tak beraturan. Saling menyerang ke sembarang sisi persis kekasih yang saling cemburu. Mereka sangat manis.


"Jangan gurui aku Maribella. Sebaiknya fokus siapkan makanan untuk rapat besok. Aku benar - benar akan marah kalau kau mengacau karena sibuk kencan di kelas pastri dan lupa kalau kau punya tanggung jawab!"


"Apakah kau akan menjegalku besok, Abner Luiz? Sepertinya menu apapun yang aku sajikan besok akan jadi masalah untukmu. Kau bisa minta Luna gantikan aku memasak saat aku mungkin sibuk di kelas pastri sambil berkencan."


"Mai, dengar! Aku kemari untuk minta maaf padamu tetapi sepertinya aku tak perlu minta maaf. Aku pergi. Sampai jumpa besok pagi!"


"Aku tak berharap melihatmu di meja makan saat sarapan, Abner Luiz! Kenapa tak pergi pada kekasihmu dan minta dibuatkan sarapan?"


Abner melambai pada Maribella sebab Maribella menyerang kelemahannya dan ia tak ingin terpancing, mereka bisa saling berteriak hingga ayam berkokok dan matahari bersinar.


***


We'll wait me up ....


Tinggalkan komentar....


Aku ngasih 2 chapter sekaligus tapi jangan lupa komentarnya ya. Agar aku tahu,apakah kalian menyukai chapter-chapter yang Author berikan....


Ja'o Mora Nee Masa Miu (I love you All)