Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 161 Home Sweet Home ....



Abner Luiz bangun pagi-pagi buta hendak pergi ke hunian Maribella. Ia akan temani Maribella melatih kakinya, mungkin mereka akan lemaskan otot-otot kaki dengan jalan-jalan santai sembari hirup udara segar di perkebunan belakang. Mereka di hunian semalam, nonton Hachiko Dog Story' ditemani Dilly dan Azel. Abner Luiz harus menahan napas oleh karena Maribella Wiliam terus saja menangis sedih.


Lewati ruang tengah, Abner Luiz terkejut luar biasa dapati Lucky Luciano sedang duduk silangkan tangan-tangannya di atas meja dapur perhatikan istrinya, Reinha Durante memasak sesuatu.


Abner menyipit pada kedua manusia yang tak sadari kehadirannya, bersandar di pintu dapur dengan kedua tangan bersidekap. Lucky terlihat tak lepas menatap istrinya yang bergerak di dapur. Intens, tak satupun tindakan istrinya luput dari perhatiannya. Abner bertaruh Lucky mungkin tidak kedipkan mata.


"Enya, kau tak perlu berusaha terlalu keras. Bagaimana kalau kita menunggu Maribella bangun saja?" rayu Lucky terlihat geli amati gerak-gerik Reinha yang kebingungan dengan adonan sarapan pagi, entah apa yang gadis itu buat. Hidung dan pipinya ternoda tepung bahkan sedikit bulu matanya. Sepertinya bagi seorang Reinha Durante, lebih gampang merakit senjata ketimbang mengaduk tepung dan telur.


"Oh diamlah di situ! Ini semua karenamu."


"Aku memujamu, Enya ... meski kau tak bisa memasak."


"Ya Tuhan Lucky, stop disturb me! Sebaiknya aku menyogok mereka dengan sesuatu. Kau tahu ... gabungan antara kakak laki-lakiku yang pemarah dan Tuan Abner Luiz yang kalem, bisa hasilkan kekejaman mengerikan. Aku pasti akan digantung hidup-hidup. Aku berbohong pada mereka bahwa aku pergi ke biara untuk doakan arwah suamiku. Kau tahu akibatnya nanti untukku?"


"Tenanglah Sayang! Jangan terlalu takut pada hal-hal yang belum tentu terjadi!" hibur Lucky Luciano senyum-senyum saat Reinha tak berhasil bikin dadar gulung. "Kekasihku yang cantik, kau mungkin punya skill akurasi menembak tetapi tak pandai memasak ... bagaimana kalau kau bangunkan saja Maribella, aku yakin Maribella akan menolongmu dengan senang hati."


"Apakah Maribella sudah kembali dari Mora?" tanya Reinha pada diri sendiri.


"Aku yakin dia sudah kembali, Dilly dan Azel tak ada di kandang mereka dan lampu hunian Maribella menyala."


"Oh tidak. Aku akan berusaha. Bagaimana ini Lucky? Gulungan ke 10 tetapi tak mirip penekuk hanya mirip gulungan tisu kena air," balas Reinha hampir menangis, "Eeeuuu ... " katanya bergidik geli saat tancapkan penekuk dengan garpu dan amati hasil kerjanya.


"Kau yakin akan terus menuang adonan? Bahkan Dilly tak akan mau makan itu, Enya!" Lucky tersenyum makin lebar.


"Apa yang harus aku lakukan, semua orang akan segera bangun. Mengapa kau terus tersenyum di sana, Lucky? Bukankah kau harusnya membantuku?" keluh Reinha kembali ke teflon.


Abner berdecak panjang hingga Reinha Durante dan Lucky Luciano terkaget-kaget serempak berbalik.


"Wah ... wah ... wah ... lihatlah gadis pemberani kita ini dan kekasihnya yang berandalan! Apakah udara di biara terlalu pengap, Reinha Durante? Atau apakah Tuhan menendangmu keluar dari Biara karena dapati kau berbohong? Aha ... aku tahu, arwah suamimu pasti telah kembali ke raganya."


Mereka temukan Abner Luiz di ambang pintu dapur bicara santai pada mereka.


"Ha ... i, Dad ... ah ... ho...w are you? A... ku sangat merindukanmu," sapa Reinha gagap, wajahnya memerah oleh cemas, tampak berharap ia bisa sembunyi dibalik gulungan penekuk. "Anda terlihat kurusan," tambahnya basa-basi.


"Hai, Tuan Abner ... " sapa Lucky Luciano segera berdiri dan membungkuk, tersenyum riang.


"Em, Lucky Luciano? Senang lihatmu baik-baik saja." Teruskan pandangan pada Reinha. "Siapa yang mau kau sogok, Reinha Durante?!" tanya Abner pelan dengan nada kejam.


"Ayah ... " rengek Reinha dengan gaya khasnya yang bisa bikin luluh hati Abner, tapi si pria yang dia panggil Ayah, menggeleng sambil menggeram.


"A ... a ... ku sungguh minta maaf," ujar Reinha lagi, cari-cari kata yang tepat untuk diucapkan tetapi sorot mata Abner Luiz tak ingin kompromi.


"Maaf?! Setelah berbohong?"


"Tuan Abner ... bukankah harusnya Anda bahagia sebab Puterimu Yang Hilang Telah Kembali Pulang? Mengapa marah-marah padaku?" berengut Reinha.


"Lalu?! Kau ingin aku menyembelih domba muda dan mengundang satu Durante Land untuk menari, menyambut kepulangan-mu?"


"Jadi, kau tak senang aku kembali?"


"Ya, tentu saja aku sangat senang ... kau dan Marya akan segera kucambuk kuku jemari kalian hingga melepuh dan tak bisa pakai pewarna kuku atau memegang gincu!"


"Baiklah, aku akan pergi ke rumah suamiku saja," ucap Reinha bersiap untuk kabur berpikir sebaiknya ia mengungsi ke Puri Luciano sampai amarah walinya reda.


"KEMARI KAU, REINHA DURANTE!!!" pekik Abner di pagi itu. "Berdiri di pojok sana! Jangan coba-coba bergeser 1 derajatpun! Atau kakimu akan aku patahkan!"


"Tuan Abner ... " panggil Lucky.


"Jangan ikut campur, Lucky Luciano! Sampai 21 tahun, gadis itu milik keluarganya sesuai janji pranikah. Tutup saja mulutmu sebelum aku mencambuk punggungmu juga!" kata Abner Luiz tanpa menatap Lucky Luciano. Matanya terus awasi Reinha.


"Huuufttt ...."


Pekikan Abner memicu seluruh penghuni rumah berkumpul. Marya dan Elgio tergopoh-gopoh turun dari lantai dua. Rambut Marya kusut masai. Poninya melambai di atas mata yang kurang tidur, hitam, bengkak serasi dengan wajah pucat pasi ..., amazing ..., mirip hantu. Sedangkan Elgio Durante tak kalah seram mirip boneka besar zombie yang dijahit dengan banyak tambalan kain. Bagian atas tubuh terlilit perban tak beraturan, begitu pula di bagian lengan. Wajah si pria yang biasa klimis dan tampan, kehilangan keseimbangan.


"Eh, ada apa denganmu, Kak? Marya? Apakah kita sedang Halloween?" tanya Reinha keheranan.


Maribella muncul beberapa saat kemudian, tongkatnya berdetak tok tok tok dan saat dia muncul di pintu dapur sisi lain dari arah hunian, Reinha kembali terbelalak. Pengasuhnya juga terlihat aneh dengan perban di kaki, leher dan kepala.


Sebenarnya terjadi, merasa sedikit pening karena cambukan bibir ala Abner kemarin lalu pria itu tak bisa diam semalam saat putuskan temani dirinya nonton film, Maribella akhirnya hiperbola soal rasa sakit. Ia kembali mem-bebat kepala dengan kasa bertingkah seakan-akan kepalanya sangat-sangat nyeri guna mencegah Abner Luiz yang terkadang meledak-ledak padanya.


"Maribella?! Ada apa denganmu?" Reinha kerjab-kerjabkan mata. Meski sangat-sangat gembira dapat melihat Maribella lagi tetapi tak sanggup tutupi kebingungan. Dua Minggu lebih pergi, sekembalinya, orang-orang rumah berubah banyak. "Lucky, apakah keluargaku berubah jadi zombie?"


"Kurasa sesuatu yang buruk menimpa mereka saat kita tak di sini," sahut Lucky mengangkat bahu.


"Tuan Abner, ada apakah gerangan ini?"


"Kau hanya doakan jiwa Lucky Luciano selama di Biara jadi, hanya dirinya yang selamat. Sedangkan keluargamu telah berubah jadi zombie," jawab Abner hingga wajah Reinha kembali cemberut.


"Reinha, aku merindukanmu," ujar Marya segera berlari terseret-seret ke arah Reinha. Memeluk gadis itu erat-erat. "Apakah kau baik-baik saja? Aku sangat cemaskan dirimu, Reinha."


"Ya, aku baik-baik saja. Aku memikirkanmu juga, Marya. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat mirip hantu? Apakah Elgio menyiksamu sepanjang malam? Mengapa kau sangat kurus? Apakah kau berhenti makan atau apa?" Reinha memutar-mutar tubuh sahabatnya.


Berpindah ke ruang tengah, Elgio Durante dan Lucky Luciano duduk gelisah di sofa sementara Abner dengan senyuman tipis, mengambil sebuah stik kayu yang panjangnya kira-kira 40 centi.


"Mana tangan ... mana tangan? Kemarikan jemari kalian, Reinha, Marya!" perintah Abner pada Marya dan Reinha yang berdiri pasrah. "Silahkan menjerit jika sakit, menangis juga lebih bagus tapi sambil lakukan pertobatan!"


"Abner, bukankah kau telah mencambuk aku hingga aku demam tinggi. Mengapa kau lakukan lagi pada Marya?" Elgio ajukan protes dari sofa, tak tega melihat Abner akan menghukum istrinya.


"Tuan Abner, aku akan gantikan Enya. Bisakah kau cambuk saja aku?" Lucky Luciano menimpali dari sebelah. Terlihat ingin bawa kabur Reinha sesegera mungkin. Lucky menoleh pada Elgio Durante, agak mundur untuk perhatikan punggung pria itu penuh bekas cambukan. "Sepertinya terjadi bencana hebat ketika kami tak di sini?" tanya Lucky Luciano.


Elgio mendengus, "Trims sudah bertanya, aku tak ingin bicara denganmu!"


"Kau pasti lakukan sesuatu yang berhasil bikin Tuan Abner Luiz marah besar, Elgio Durante?" tanya Lucky mengira-ngira.


"Kau tampak gembira lihat aku menderita?" balas Elgio menoleh pada berandalan di sisinya.


Lucky Luciano mengangkat bahunya, tersenyum lebar.


"Abner, ayolah, yang penting Reinha selamat. Apalagi? Marya juga sedang mengandung, kurasa kau kelewatan," Maribella menyangga tubuhnya di atas tongkat.


Abner pandangi partai oposisi di hadapannya. Komplotan Elgio Durante bertambah dua anggota.


"Maribella William ... apakah kau ingin dicambuk juga?" tanya Abner menyeringai senang. Ia mencumbu Maribella kemarin, tak sisakan jeda bahkan cuma untuk menghela napas hingga wanita itu kepayahan dan baru berhenti saat Maribella menjerit di antara ciuman mereka bahwa gegar otak-nya kembali.


Maribella menatap Abner, meneguk liur, "Ayolah, bukankah kita harus jalan-jalan? Matahari akan terbit sebentar lagi."


Abner tahu apa yang Maribella pikirkan. Maribella akan lakukan segala cara untuk batalkan hukuman bagi Reinha dan Marya.


"Duduklah diam di sana, Mai! Kau tahu, Reinha baru pulang dari Pesisir Timur? Gadismu ini menyamar jadi Biarawati dan pergi ke perkampungan Thomas Adolfus. Kau tahu siapa Thomas Adolfus, Maribella? Seseorang yang sangat berbahaya."


Maribella ternganga, "A ... pa itu benar?" tanyanya pada Reinha yang hanya berengut dan menunduk. Gesek-gesekkan ujung boot-nya pada lantai.


"Reinha akan aku lecut jemari tangannya karena berbohong soal pergi ke biara, lalu berani-beraninya dia pergi ke Pesisir Timur dan yang ketiga, dia berurusan dengan anak buah Hedgar," ulang Abner angkat tongkatnya.


"Aku akan lakukan hal yang sama kalau kau menghilang Abner, aku akan mencarimu! Tak peduli apapun resikonya," ujar Maribella pelan, tongkat Abner ngambang di udara.


"Aku tak heran dengan jawabanmu, Mai. Kau adalah suri teladan bagi kedua gadis ini. Sekali ini, duduklah di sana sebelum aku menyeretmu untuk dicambuk juga," balas Abner gerah mengerut pada kekasihnya. Ia kembali pada Marya. "Dan Marya Corazon, akan aku cambuk sebab sembunyikan keberadaan Reinha dariku! Selain itu, berani-beraninya mencuri dua orang target dariku dan jerumuskan dirinya sendiri dalam bahaya."


"Hahhh?!" Reinha berbalik pada Marya. "Apa yang barusan kudengar ini?"


"Target?!" tanya Maribella tak berhenti takjub. "Apa ada yang tidak kuketahui Abner selain Reinha pergi ke Pesisir Timur? Kau terus sembunyikan banyak hal dariku?"


Maribella hanya tahu Elgio dan Marya salah paham. Elgio pergi ke klub karena curigai Marya dan cemburu istrinya bersama Archilles. Berdasarkan penjelasan Abner, Marya sembunyikan sesuatu dari Elgio.


"Maribella ... ini kebenarannya. Kau ingat para tahanan satu sel yang menyiksamu saat kau di penjara?" tanya Abner.


"Kau disiksa Maribella?" Reinha mudah marah.


"Abner ... ?!" tuntut Maribella.


"Maribella ..., Puterimu yang sedang mengandung ini, menculik Angel dan Patricia dariku, pergi ke Burka Club dan menuntun dua orang itu pergi ke Indonesia bawa barang-barang terlarang. Walaupun Patricia dan Angel akan menerima hukuman mati di sana, tetapi, perbuatan Marya sangat beresiko." Abner menarik napas panjang. "Kau bisa terluka, Marya," keluh Abner Luiz.


"Marya?!" Reinha membeliak dan dapatkan tatapan balasan, jangan kuatir Reinha.


"Marya ... ?! Sayangku, apa yang kau lakukan?" Maribella mendekat dan mendekap Marya, matanya berkaca-kaca. "Aku baik-baik saja, harusnya tak lakukan sesuatu yang buatmu dan bayimu dalam bahaya, Marya. Ya Tuhan, aku tak akan sanggup bertanggung jawab pada Ayahmu jika sesuatu yang buruk menimpamu," kata Maribella dengan nada sedih.


"Bibi Mai, aku sangat menyayangimu, aku tak suka ada yang menyakitimu," sahut Marya.


Maribella lepaskan pelukan, "Lihat aku! Kau tak boleh ulangi lagi! Atau aku akan sangat marah padamu!"


"Bibi Mai ... "


"Janji? Tak boleh lakukan hal itu lagi!"


Marya mengangguk, "aku berjanji Maribella."


"Kemarilah, Marya! Ya Tuhan, kau juga Reinha! Apa yang kau lakukan diam-diam pergi ke Pesisir Timur?"


"Aku pergi mencari suamiku, Maribella," sahut Reinha suaranya rendah. "Apakah kau baik-baik saja, Maribella? Maafkan aku tak ada di sisimu saat kau terluka!"


Ketiganya berpelukan sementara waktu sarapan hampir dekat. Natalea siapkan sarapan tetapi tak berani menyela.


"Sudah selesai, Maribella?" tanya Abner, mengetuk-ngetuk tongkat di tangannya.


Maribella segera berbalik, kedua tangannya terbentang, menghadang Abner, menahan tubuh Marya juga Reinha di belakang tubuh mungilnya.


"Abner, aku yang akan gantikan keduanya! Em, kau boleh pukuli tanganku saja!"


Maribella ulurkan tangannya. Ia menatap Abner sendu dan matanya yang masih basah, buat Abner Luiz embuskan napas susah payah. Maribella kini tahu cara luluh lantakan dirinya. Mata Maribella seperti mata kelinci bodoh di taman belakang, tak berdosa dan sangat menggemaskan.


"Kalian manis sekali!" Elgio tersenyum dari sofa amati ketiga wanita. Dengan posisi head to head seperti itu, Elgio yakin Abner Luiz sepenuhnya lemah.


"Maafkan aku, Ayah. Jika tak aku lakukan, suamiku mungkin akan dinikahkan dengan anak-anak Thomas," gerutu Reinha.


"Apa itu benar Lucky?" Elgio dan Abner berbalik pada Lucky Luciano yang langsung angkat kedua tangannya sembari menggeleng.


"Aku tertidur hampir sebulan, jadi aku tak bisa jawab pertanyaan itu!"


Oh yang benar saja? Reinha terlihat seperti gadis 18 tahun yang mengadu pada Ayahnya karena tingkah suaminya. Beruntung Reinha tak tahu Cataleia menciumnya, atau ia mencium gadis itu gara-gara mimpikan Reinha. Mungkin saja Ratruitanae juga menciumnya, menurut Magnolia, kedua gadis itu selalu berada di sisinya saat ia tak sadarkan diri.


Apa Reinha sudah tahu? Well, Lucky Luciano sedang pikirkan cara untuk buat Reinha Durante, berbunga-bunga.


"Bisakah kita sarapan? Aku kelaparan," kata Elgio alihkan percakapan sebelum Abner Luiz berubah pikiran. Ia menatap Marya dan berjanji akan menggendong kekasihnya sepanjang hari sampai gadis itu tidur.


"Ini belum selesai!" jawab Abner. "Reinha Durante, kau akan dihukum bekerja di Dream Fashion selama libur musim panas."


Reinha terperangah. "Ayolah Tuan Abner, aku baru saja bersama suamiku, bagaimana bisa aku harus pergi ke Dream Fashion?"


Reinha menggerutu. Abner Luiz tahu cara menyiksa orang. Lucky Luciano harus urusi Double L karena Francis masih tidur lelap. Itu berarti ia dan Lucky akan berpisah.


"Tak ada alasan! Pergilah ke sana setelah pernikahanku dan Maribella lusa pagi," kata Abner Luiz hingga semua orang di ruangan itu lebarkan mulut mereka.


"Lusa pagi?" tanya Maribella, sangat-sangat terkejut. Ia berhenti bernapas.


"Ya, apakah kau keberatan?" tanya Abner Luiz menyipit, mengecup bibir Maribella seakan hanya ada mereka berdua di sana. "Mari menikah sebelum aku mendadak gila."


***


Aku hanya menulis chapter manis soal mereka di Bonus Chapter. Tetapi tidak untuk Arumi.


Keluarkan Vote-mu untukku....