Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 89 Terpisah dan Remuk Redam



Marya tak ke sekolah beberapa hari setelah itu. Meski ia membaik tak lagi masuk angin dan muntah-muntah, Elgio tak ijinkan kekasihnya pergi ke sekolah. Marya hanya tiduran sepanjang hari dan sang kekasih bersiaga di samping Marya, dengan raut gelisah dan berikan dekapan terbaik.


"Kau tak pergi ke kantor?" tanya Marya terbenam di dada Elgio.


"Tidak. Apa kau merasa baikan? Apa kata Queena?" tanya Elgio mengecup kening gadis itu. Ia akhirnya bertanya sebab takut untuk dengar jawaban.


"Em, aku harus pergi ke dokter kandungan untuk periksa kehamilan. Kita mungkin akan segera punya bayi. Terlalu dini, tetapi ..., entahlah!" kata Marya murung.


Meski belum sampai dua minggu, Marya yakin ia hamil. Ia mengenal dirinya dengan baik. Oh no, tidak sekarang.


"Marya?!" Tenggorokan tercekat. "Apa kau yakin?"


Marya mendongak pada pria itu, Elgio tampak begitu terkejut.


"Kita akan tahu nanti! Aku mungkin akan kerjakan soal ujian sambil menggendong bayi, ya Tuhan. Apa yang telah kita lakukan?" keluh Marya sebelum tersenyum kecil.


"Maafkan aku, Marya." Elgio menggenggam tangan gadis itu erat, penuh sesal dan bersalah. Dua puluh menit keindahan yang memabukkan, hitamkan akal sehat karena rengkuhan kenikmatan pada kekasih yang pasrah padamu, kini menuntut konsekuensi.


"Kau kedengaran tak bahagia?"


"Aku mungkin telah ganggu masa depanmu, meski aku sangat ingin punya bayi."


Marya berharap ia hanya stress. Kejadian demi kejadian membuatnya sangat tertekan.


"Pergilah ke kantor Elgio, aku akan baik-baik saja di sini bersama Bibi Mai."


"Tidak, aku kembali berkantor di rumah. Istirahatlah, aku harus selesaikan beberapa urusan dan kembali bersamamu," kata Elgio membelai rambut Marya perlahan lalu pergi ke ruangan kerja.


Abner berdiri di sana dengan tongkat golf yang ujungnya telah hilang. Pria itu memukul-mukul telapak tangannya pelan. Reinha bawa kabar padanya, kemungkinan Marya hamil.


"Kemari kau, berandal! Kau selalu takut Enya punya bayi dari hubungan liar, lihatlah kau sekarang! Kemari kau sebelum aku mengejarmu sampai dapat!" seru Abner saat Elgio baru muncul.


"Abner ... Bukankah memang sudah seharusnya aku punya bayi?"


"Kemari kau, Elgio Durante!" bentak Abner lebih keras. Elgio yakin burung-burung gereja di loteng rumah langsung kabur dengar seruan Abner. "Buka bajumu! Kau benar-benar keterlaluan kali ini! Balik di meja, tadah punggungmu!"


"Ya, baiklah!"


Elgio mengalah, bertumpu di kedua lengan di atas meja dengan posisi tengkurap dan biarkan Abner mencambuk punggungnya yang polos. Ia memang harus dihajar agar otaknya tidak eror.


Plaaakkk!!! Satu cambukan dan satu omelan.


"Kau keterlaluan! Gadis itu baru sembuh dari sosiofobia, Elgio Durante. Kau tahu, perubahan hormon saat masa-masa kehamilan bisa pengaruhi mentalnya, kau lengah sedikit saja, kondisinya bisa kembali buruk. Itu bisa pengaruhi bayi. Kau ini bukan pria bodoh, ya Tuhan, aku bisa gila menghadapimu."


Plakkkkkkkk!!! Satu cambukan lebih keras, Elgio pejamkan mata. Abner benar-benar beri cambukan sekuat tenaga.


"Abner, aku berpisah dengannya seharian dan hampir kehilangan Marya. Memangnya aku harus menahan diri untuk tidur dengannya? Aku tak sebaik dirimu, Abner!"


Plaaakkk!!! Satu cambukan keras.


"Dengar bodoh! Apa yang akan kau lakukan sekarang? Marya akan ke sekolah dengan perut sebesar bola basket dan jadi pusat perhatian, kau dapat bayangan soal itu? Bagaimana nanti jadinya?"


"Marya belum tentu hamil, mungkin saja cuma perut kembung, Abner!"


Plaaakkk!!! Elgio meringis.


"Jangan menduga-duga!"


Marya terkaget-kaget di ambang pintu saat lihat Elgio dicambuk dan punggung pria itu penuh bekas merah.


"Ya Tuhan, Tuan Abner, apa yang kau lakukan padanya?"


Abner bulatkan mata pada Marya, "Kau juga mau dicambuk? Aku akan mencambuk pria ini, kau ..., Marya dan bayimu. Kemari kalian!"


"Kami sama-sama ... um ... em ... itu, keinginan bersama." Marya memerah.


"Baiklah! Keinginan bersama, kau gadis masih labil tapi pria ini sudah dewasa. Aku tak yakin kau memulainya, Marya. Berandalan ini pasti menghasut hasratmu," tebak Abner.


"Kau tak dengar, Abner? Marya bilang murni keinginan bersama?" keluh Elgio mulai rasa sakit di punggungnya.


"Ya, kau benar Tuan Abner. Elgio merayuku di ruang makan rumah Ibu waktu Aunty dan dirimu pergi waktu itu," sahut Marya malu-malu dan bersiap kabur saat Elgio tegak berdiri dan menggigit bibir bawahnya gemas. Pria itu menyipit padanya.


"Hei, Marya!" seru Elgio. "Oh ya ampun, awas kau." Elgio Durante lompati sofa dan mengejar gadis yang buru-buru larikan diri.


"Sudah kuduga." Abner geleng-geleng kepala dan menelpon Sunny. Pernikahan harus terjadi sesegera mungkin. Wali Elgio Durante itu menghubungi sejumlah vendor dan karena Reinha bisa diandalkan, ia akan bicara pada Reinha. Abner keluar dari ruangan kerja, tak ada yang bisa ia kerjakan sebab kepalanya sakit. Ia akan bertemu Sunny dan mengatur ulang pernikahan Elgio.


Dari ruangan sebelah terdengar suara-suara tawa.


"Aku tak percaya, kau lemparkan kesalahan padaku?" tanya Elgio dari pintu.


"Lalu, apa aku merayumu Elgio?" tanya Marya pergi ke sudut ranjang, bersiaga. "Kau bernapas di pundakku sedang aku siapkan makanan untukmu."


"Ya, baiklah. Aku yang menggodamu di ruang makan Ibumu dan kau tak beri respon, jadi, aku menyeretmu ke kamar dan paksa kau bercinta denganku, itu skenarionya kah?"


Marya terkekeh, ia pegangi tiang ranjang sebab ia ingin berlari pada Elgio yang polos tanpa atasan.


"Pergilah bekerja Elgio!" suruh Marya. Elgio sangat menggoda di ambang pintu.


"Tidak," geleng Elgio bercekak pinggang. "Aku akan memburumu!"


"Oh tidak, Elgio, kita mungkin bisa bikin bayi kembar jika terus bersama. Pergilah!" pinta Marya masih tertawa kecil.


"Baiklah!" Pria itu berbalik pergi. Bekas kemerah-merahan menggores punggungnya yang indah. Marya meneguk liur, separuh berlari dan memeluk pria itu kuat, takluk pada keinginan hati.


"Eh?! Bukannya aku harus pergi?"


"Tidak, aku ingin bersamamu, lima belas menit saja," sahut Marya berjinjit dan menciumi seluruh punggung pria itu.


"Sebaiknya kita tinggal terpisah, jika begini terus, bisa jadi akan ada banyak bayi dalam lima tahun," keluh Elgio berbalik dan mendekap Marya kemudian berdansa tanpa lagu dalam kamar itu.


***


Hari yang buruk bagi Lucky Luciano ternyata tiba lebih cepat dari yang ia duga. Dimulai dari sore, beberapa hari setelah kemping api unggun tanpa hasil baik untuk berbaikan dengan Reinha. Ia bersiap untuk pergi makan malam bersama Reinha Durante dan Francis datang dengan kabar buruk.


"Ibu September baru saja meninggal, Bos," lapor Francis.


"Apa aku harus kunjungi September, Francis?" tanya Lucky frustasi dalam ruang kerjanya.


Lucky memikirkan psikologi September yang sedang hamil besar itu. Bagaimana jika kondisi psikisnya terganggu dan sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya? Lucky mengerang putus asa, amati jam dinding.


"Anda akan pergi ke sana sebagai tanda belasungkawa, lalu Anda akan makan malam dengan Nona Reinha. Aku sudah siapkan tempat, Bos. Nona Reinha akan menunggu Anda pukul 7 nanti. Aku berharap Anda berdua bisa selesaikan kesalah pahaman dan berdansa. Nona Reinha telah mengubah hidup Anda, aku tak akan biarkan Anda berdua berpisah."


"Baiklah."


"Aku terkejut Anda datang Tuan Lucky?" tegur Irish angguk-angguk hargai kehadiran Lucky Luciano.


"Ya, tapi aku harap September tidak besar kepala apalagi sampai berharap lebih pada kedatanganku ini, aku hanya ingin bayinya baik-baik saja tanpa tekanan," sahut Lucky datar.


"Bayi itu akan baik-baik saja, jika Anda menikahi ibunya dan bertanggung jawab pada kelangsungan hidupnya," balas Irish Bella tajam. "Ia akan segera lahiran dan Anda tahu, ia butuh dukungan agar tak terkena baby blues sindrom."


"Tidak," sambar Lucky cepat. "Aku tak bisa lakukan itu! Aku punya seorang kekasih dan aku hanya akan bertanggung jawab pada hubungan, di mana ada timbal balik rasa di antara kami. Kau harus tahu, aku dan September sepakat untuk tanpa ikatan. Aku mencintai Reinha Durante dan hanya akan menikahinya. Aku tak perlu beritahu-mu cara aku bertanggung jawab pada bayi September, aku akan urus itu," kata Lucky Luciano tegas. "Bukankah kau sendiri yang bilang, September tak butuh aku bertanggung jawab. Meski demikian, aku ucapkan terima kasih kau beritahu aku keadaannya."


"Sayang sekali," balas Irish. "Nona Reinha pasti halangi Anda untuk bertemu September."


Irish Bella baru saja buat pernyataan berdasarkan opini pribadi bukan pertanyaan.


"Jangan berasumsi, Irish! Reinha Durante adalah gadis muda yang berbeda, oleh sebab itu aku tak bisa lepaskan dia meskipun alasannya adalah seorang bayi. Wawasan dan gaya berpikirnya bahkan sangat dewasa lampaui wanita-wanita seusia kita. Ia gadis terhormat, open mind dan punya rasa empati tinggi. Sesuatu yang mungkin saja tak bisa kau lakukan jika ada di posisinya!"


Irish tersenyum lebar sepertinya tersinggung.


"Satu lagi, dia tak picik Irish. Gadisku blak-blakan tetapi ia tak mudah dengki. Dia berbeda dengan banyak wanita terhormat lainnya." Bayangan Reinha yang manis mengisi kepalanya. "Aku harus pergi, Nona Irish," pamit Lucky dan hendak pergi. Ia harus segera ke restoran karena Reinha mungkin menunggu di sana. Belum mencapai pintu ketika suara ribut-ribut dari dalam.


Irish berlarian ke dalam dengan wajah panik. September pingsan. Lucky menatap nanar pada Francis.


"Anda bisa pergi, Bos. Aku akan mengurusnya!" Francis pegang lengan Lucky kuat. "Nona Reinha menunggu Anda," kata Francis lagi.


Lucky menahan napas kesakitan dalam dirinya, sesuatu seperti virus mematikan gerogoti tubuhnya tanpa ampun. Di sini akhirnya dia, sakiti Reinha seperti yang gadis itu perkirakan.


"Aku akan lebih brengsek saat tinggalkan wanita yang mengandung bayiku pingsan di depan mataku. Pergilah Francis, beritahu Enya keadaanku."


Lucky kembali ke dalam, menggendong September yang pucat pasi tak sadarkan diri dan membawa wanita itu ke ruang kesehatan. Dokter datang dan memeriksa.


"Apa bayinya baik-baik saja?" tanya Lucky pelan setelah dokter selesai dengan pemeriksaannya.


"Ya, bayi dan September, baik-baik saja. Hanya mungkin sedikit tertekan oleh kematian Ibunya," jawab dokter keluarga yang bertanggung jawab atas kehamilan September.


Lucky menunggui wanita itu dengan pikiran buntu dan bayangan Reinha menanti dirinya dalam restoran, sendiri dan mungkin merana, menyakiti hatinya. Kekasihnya yang bersinar seperti peri, hanya gadis itu yang bisa bangkitkan gairah liar dalam dirinya tetapi juga bisa meredam dengan sangat baik. Reinha bahkan seperti separuh jiwanya yang lain. Bayangan sang gadis meredup saat September buka mata.


"Kau baik-baik saja?" tanya Lucky di saat bersamaan Irish datang.


"Septie?! Are you okay, honey?" Irish berdiri pegangi jari-jemari wanita itu berikan dukungan.


"Ya, trims kau selalu bersamaku, Irish."


"It's okay, jangan pikirkan apapun. Ibumu telah bahagia di surga. Semua kita pasti pergi ke peti mati, tinggal menunggu waktu, Septie. Aku akan tinggalkan kau dan Tuan Lucky untuk bicara." Irish berbalik pada Lucky. "Aku berharap kau tak sakiti dia, Tuan!"


Lucky tak menyahut.


"Aku tak bisa bertanggung jawab padamu, September. Aku tak bisa menikahimu sebab aku mencintai wanita lain. Aku akan bertanggung jawab untuk kehidupan bayimu, bayiku tetapi bukan dengan menikahimu."


September tampak terpukul. "Maafkan aku, jika merepotkanmu. Bisakah kau bertahan hingga bayi ini lahir?" tanyanya penuh harap dengan raut pucat dan mata bengkak.


"Tidak, mulai hari ini dan seterusnya, Francis yang akan mengurusmu! Kau akhirnya menginginkan lebih," keluh Lucky dingin. Lagi-lagi tebakan Reinha Durante benar.


"Ya, bukankah wajar saja? Aku menginginkan Ayah dari bayiku? Bukan keinginanku semata ...."


"Hentikan!" desis Lucky tak suka. "Jika kau inginkan aku, kau mungkin akan kesakitan sebab aku tak mencintaimu!"


"Aku tak bisa jalani hidup sendirian, Lucky!"


"Aku akan bertanggung jawab padamu dan bayiku tetapi jangan berharap lebih, September. Atau aku sama sekali tak akan peduli!" ujar Lucky.


Apa ini?! Lagi-lagi Reinha Durante benar, September menginginkannya. Jadi, ia akan bertemu Enya dan dengarkan gadis itu.


Sementara itu, Francis menggeram dan katupkan rahangnya di sepanjang perjalanan. September telah menjebak Tuannya dan ia di sana untuk lihat Lucky Luciano tidak berdaya. Ia tahu cara agar Lucky lepas dari genggaman September tetapi ia harus bertindak diam-diam. Francis menduga suatu hari, hal seperti ini akan terjadi. Jadi, tanpa sepengetahuan Lucky ia telah persiapkan tindakan pencegahan. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk peringatkan September. Pengawal itu pergi ke restoran di mana lantai satu telah direservasi khusus untuk bos dan Nona Durante. Dari luar, Nona yang disayangi Bosnya itu duduk termenung dengan pandangan tenang ke arah pintu masuk restoran seakan sedang menghitung angka hingga kekasihnya datang. Francis memotret dan akan kirimkan pada Lucky. Bosnya harus melihat betapa ia tak boleh sia-siakan Puteri Durante karena ia tak akan pernah temukan wanita seperti Nona yang satu ini.


Di dalam Kafe, Reinha duduk dengan gelisah, sejak malam kemping bersama, hubungannya dengan Lucky bergelantungan begitu saja. Ia tak berharap Lucky pahami hatinya yang menderita karena jika di posisi Lucky Luciano, Reinha akan lakukan hal yang sama. Ini tentang darah dan daging meski saat diciptakan mereka sepakat tanpa ikatan tetapi tak ada yang ingin terlahir ke dunia dengan begitu saja. Tuhan mengaturnya demikian, Reinha merasa di ujung tanduk tetapi kekuatan bahwa Lucky Luciano sangat mencintainya, buat ia bertahan dan beri banyak kelonggaran waktu untuk Lucky Luciano.


Selama masa-masa sulit, didorong oleh kekuatan cinta, ia akan bertahan. Bersamanya, pria itu telah berubah jadi baik, ia tak akan biarkan Lucky Luciano kembali ke jalan lama yang berlumpur dan akan membawanya ke neraka.


"Nona ...."


Francis berdiri tegak di depannya sedikit bungkuk dan Reinha tahu, kekasihnya tak bisa datang padanya. Ini telah dimulai.


"Ada apa Francis? Apakah Lucky baik-baik saja?" tanya Reinha berdiri dengan kuatir.


Francis menatap Reinha berharap Nona Durante bisa membaca pesan tanpa harus ia utarakan, sebab, berita yang ia bawa pasti akan sakiti hati kekasih bosnya itu.


"Baiklah, aku mengerti! Kami akan makan malam lain waktu," jawab Reinha tidak ingin tahu kemana kekasihnya pergi.


Gadis yang patah hati itu kembali duduk lunglai, meraih ponsel dan mengirim pesan.


"Mungkin aku hanya bodoh karena cinta, tetapi aku adalah milikmu, di manapun kau berada. Aku akan menyatukan kita perlahan."


"Aku akan antar Anda, Nona!"


"Tidak, Francis. Augusto ada di luar. Pergilah, temani Lucky! Jangan tinggalkan Lucky apapun yang terjadi. Aku punya firasat buruk padanya. Aku rasa September inginkan lebih dari kekasihku," kata Reinha muram.


"Baik, Nona! Aku akan lakukan sesuatu agar Anda bisa makan malam bersama Bos secepatnya," kata Francis dengan nada rendah.


"Trims, Francis. Aku bersyukur memilikimu dan Augusto di sisiku," sahut Reinha tulus.


Francis berpamitan dan pergi, ia akan ambil tindakan tegas jika September banyak tingkah.


Selepas Francis pergi, Reinha membuka ponsel, pergi ke gallery foto dan satukan foto-foto Lucky Luciano berupa slide video.


Tersenyum penuh cinta pada gambar diri pria itu. Ia menaruh ponsel di seberangnya, bersandar pada gelas wine dan makan bersama citra Lucky Luciano yang terus tayang ditemani lagu A Thousand Year yang mistis akan penantian dan puitis. Penuh janji. Reinha akan lebih berani, tak akan biarkan segala hal indah tentang mereka berlalu begitu saja. Potret Lucky mencium lehernya di The Windows tayang di slide ke 3, tak menyangka di sanalah awal cintanya bersemi.


Reinha bersulang pada pria itu, antara cinta dan getir, meneguk sedikit wine di antara hati yang sakit.


"Kau boleh urus bayimu, aku akan sibuk belajar. Mari bertemu lain waktu, Lucky! Aku akan menunggumu."


***


Telling me, do you like this chapter?


Next Chapter, Wanita Penggoda Kekasih. Aku buatkan lima chapter yang akan tayang tiap pukul 6 pagi waktu Indonesia Timur, lima hari ke depan.


Aku harus bekerja. Semoga suka. Beritahu misal ketemu tipo. Senin jangan lupa ngirim vote ya, aku mencintaimu....


Bajawa, 12/06/2021.


Senja Cewen.