Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 135 Sensual in Arrogant ....



"Kemana kau akan bawa aku, Hellton?" tanya Irish mudah marah pada Hellton Pascalito ketika temukan mereka memasuki distrik tua yang telah ditinggalkan penghuninya akibat sengketa tanah. Irish ingin mengumpat tetapi Hellton terbaca tak mau bertengkar.


Atau pria itu sedang menghindar, jika tidak, Hellton yakin akan lemparkan Irish ke ranjang sekali lagi dan baru akan berhenti bercinta saat Irish lebam-lebam. Hellton Pascalito gertakkan gigi, kendalikan dirinya sendiri. Irish tak tahu bahwa semakin Irish buka mulut, semakin ia terhasut dan dirinya akan semakin ingin membungkam Irishak.


Mereka menuju ke sebuah gedung yang belum selesai dibangun, terbengkalai dan tidak terawat di kota mati. Irishak temukan dirinya keheranan saat Hellton membuka gerbang tua di antara semak dan ilalang, masukkan mobil ke sana. Di parkiran lantai satu yang tampak kosong, sunyi tanpa banyak cahaya, mobil lewati sebuah lorong gelap sebelum masuk ke balik jeruji.


"Keluarlah, kau akan tinggal di sini sementara waktu," kata Hellton sedang Irishak was-was.


"Tempat apa ini?" Irishak menggeleng. Blok-blok berisi bangunan-bangunan di sepanjang jalanan tampak seperti tempat nyata untuk perburuan hantu. Irishak bahkan temukan ia merinding ngeri seakan-akan ada makhluk astral di sekitarnya.


"Hellton, tempat apa ini?"


Pria itu tak merespon. Wajahnya menggelap, selalu murung seakan menyimpan jutaan kesedihan dan kemarahan tetapi juga tampak angkuh tak ingin tersentuh. Karakteristik raut super maskulinitas sejati dengan janggut tebal sepanjang rahang, bola mata kecil di bawah naungan alis lebat natural dan gaya rambut klasik, semakin kental sematkan "The Real Bad Boy" pada Hellton dengan sedikit luka goresan di bawah leher yang memanjang. Pria itu sepertinya habiskan hidup dengan banyak pertarungan. Irish berdecak, siapa pria ini sebenarnya? Ia tak pernah dengar nama Hellton Pascalito selama ia jadi jurnalis.


"Kau akan bersembunyi di sini, Irish," kata Hellton pendek. "Sementara waktu."


"Baiklah, berapa lama?" tanyanya lebih pada diri sendiri tetapi didengar Hellton.


"Sepertinya kau belum peka pada situasimu Irish."


"Bukan begitu, aku ingin keluar dari negara ini dan pergi ke suatu tempat. Aku muak pada penjahat juga padamu," jawab Irish terdengar mual sungguhan.


"Semua ini kesalahanmu, Irishak. Kau memancing dan sekarang semua orang terpancing, apa yang kau harapkan? Bisnisku bahkan kocar-kacir sebab aku sibuk denganmu."


"Jika kau lepaskan aku, tak ada hal serumit ini!" Irish bicara separuh berteriak karena gusar.


"Berhenti geram padaku Irishak. Kau tahu bahwa akhirnya tak akan bagus untukmu," desak pria itu tidak ingin terpancing.


Hellton tak ingin berdebat, mengangguk pada Irish untuk segera turun dari mobil dan menggiring wanita itu ke lift. Ringkihan besi tua terdengar samar. Mereka turun bukan naik. Jadi, apakah itu berarti mereka akan pergi ke bawah tanah? Irishak menahan napas. Hellton benaran akan menyekapnya? Berduaan dengan si Iblis buat Irish semakin meremang.


"Kau gila, Hellton! Kau mengurungku di ruang bawah tanah?"


Apakah Hellton Pascalito benaran seorang Iblis? Ia bahkan punya tempat tinggal teraneh di dunia.


"Oh ayolah, Irishak. Berhenti bicara sebab celotehanmu buat aku muak."


Pintu lift didorong kasar dan Hellton Pascalito memencet sandi pada smart door lock di ruangan gelap itu. Pintu terbuka tetapi di dalam sana sama gelapnya.


"Kau akan tinggal di situ?" tanya Hellton saat dapati Irish hanya termenung, ragu-ragu dipintu. "Terserah kau saja! Aku sering menyiksa orang yang tak kusuka di sebelah sana," tambah Hellton membual, anggukkan kepala ke sebelah kanan, pada satu sisi gelap, sebelum melangkah angkuh ke dalam kegelapan. Ia menakut-nakuti Irish yang langsung tersentak bangun dan berlari menyusul tetapi terlambat, pintu tertutup. Irish mengumpat jengkel.


"Oh shits ...." Bulu kuduk Irishak berdiri sebab tempat itu sungguh amat sangat menakutkan di tambah bau-bau tanah, entahlah, lumpur atau sesuatu. Bau anyir, lembab, basah, Irish mendekat ke pintu.


"Brengsek, buka pintunya!" jeritannya bergaung kembali padanya. Irish dekati smart lock dan led kedip-kedip benda itu bantu ia pencet angka yang tertera di ingatannya.


"17071997"


Pintu terbuka, oleh sederetan angka, sandi lahirnya. Cahaya terang bersinar di dalam sana sebab pria itu telah nyalakan lampu. Jadi, pria itu tak bohong saat katakan sandi apartemennya adalah tanggal lahir Irish. Hellton berbalik saat Irish berdiri di pintu masuk, amati wanita itu sejenak sebelum mengangguk ke salah satu ruangan.


"Kau tak akan keluar dari sini sampai situasimu aman. Aku akan mengurus sisanya. Berhenti kabur Irishak! Setidaknya beritahu aku kemana kau pergi!"


Di luar memang sangat menyeramkan tetapi di dalam hunian pemandangannya sungguh berbeda. Irish mengernyit sebab ia seakan masuk ke dalam salah satu hunian termewah di dunia. Tempat Hellton bak residence dari salah satu apartemen di Tower Center Park didominasi kayu dan marmer yang wah. Ia bahkan punya mini bar, ruang billiard, ruang gym terlihat dari panah petunjuk arah.


"Apa kau akan terus diam di sana?" Hellton mengangkat minuman dan meneguk. "Aku akan tinggalkan kau di sini sementara waktu."


"Kemana kau akan pergi?"


"Kau ingin tahu? Aku pria yang sibuk Irishak!" Hellton mendekat dan tiap pria itu bergerak ke arahnya Irish jadi waspada.


"Aku tak bisa tinggal di sini sendirian! Kau bisa sembunyikan aku di peternakan!"


"Dan gampang untuk dihabisi? Itukah maumu? Apa yang kau takutkan, Irish? Kau ingin kembali ke apartemenmu?" tanya Hellton datar. "Pergilah jika kau bosan di sini!"


"Jika kau biarkan aku pergi tadi, aku mungkin sudah sampai di perbatasan."


"Irishak ...," ucap Hellton pelan, datangi Irish, lepaskan jaket. Lemparkan ke sofa dan lepaskan kancing kemejanya hingga selesai. "Berhenti mengomel padaku!" tambahnya datar, lemparkan kemeja. "Gunakan dapur jika kau lapar, segala yang kau perlukan ada dalam pendingin. Aku akan mandi dan pergi! Jika kau kabur sekali ini, aku tak akan mencarimu atau selamatkanmu!"


Hellton berbalik pergi bawa serta rahang kaku dan kepalan tangan lebih seperti kendalikan diri sebab ia ingin menyeret Irishak. Hellton benar-benar tinggalkan Irishak di huniannya setelah bertukar pakaian kemudian menghilang entah kemana. Tinggallah Irish kebingungan di tempat itu. Akhirnya ia habiskan hari dengan memeriksa televisi, ikuti perkembangan dari sana. Tak ada yang bahas kegiatan para mafia, perburuan terhadap mafia atau berita tentang ia yang menghilang. Kabar berita hanya berisi konflik di Pesisir Timur.


Empat hari berlalu ....


Hellton Pascalito masih menghilang. Entah apa yang pria itu kerjakan. Irish memasak sesuatu di dapur, tak banyak, sebab ia tak pandai masak. Televisi terus menyala. Irish tak bisa berpikir tentang apa yang harus ia lakukan. Apakah ia hadapi saja para mafia? Atau terus bersembunyi? Ibunya pasti gelisah saat ini sebab tak dengar kabar darinya.


Sebuah berita menarik perhatiannya.


"Sekelompok gadis belia yang menghilang beberapa minggu lalu, hari ini berhasil dibebaskan oleh otoritas setempat. Keterangan pihak kepolisian bahwa para gadis belia telah diculik dan disekap selama berhari-hari di bawah ruang bawah tanah dan diperkosa oleh seorang pria pedofilia berusia 56 tahun. Keberadaannya terbongkar setelah sebuah akun anonim gunakan user ID Dare Devil, kirimkan lokasi dan beberapa foto identitas pelaku penyekapan pada otoritas Negara. Pelaku berhasil diringkus petugas setempat saat berupaya melarikan diri."


Irish amati profil dan temukan nama salah seorang gadis yang ia cari selama ini.


"Apakah Hellton?" tanyanya pada diri sendiri. Siapakah Hellton sebenarnya.


Irish meraih koper, membukanya dan keluarkan laptop. Saat berhasil dihidupkan laptop menangkap sinyal WiFi yang terkunci.


"We need password?!"


Irish masukan tanggal lahirnya seperti yang ia lakukan pada smart lock tadi tapi ditolak. Irish berpikir keras.


Hellton?!


No


Iblisterkutuk?!


No


"Mana ada seseorang ciptakan password yang merutuki diri sendiri?" guman Irish.


"Daredevil?!"


No


Coba-coba saja dengan namanya sendiri.


Irishak


Amazing ..., WiFi langsung terkoneksi. Tanpa buang waktu Irishak mengetik nama Hellton Pascalito di mesin pencarian.


Not Found ....


"Who are you?!" tanya Irish.


Beralih ke kotak surat yang terus berkedip. Banyak notifikasi masuk. Harusnya ia lakukan sejak dua hari lalu periksa laptop dan baca email. Satu pesan paling menarik perhatiannya, ia segera lupa untuk memeriksa identitas Hellton.


"Missing You Honey - Mom."


Secepat kilat membaca pesan email.


"Irish, kamu di mana? Mari bertemu, Sayang. Ibu merindukanmu. Datanglah ke tempat favorit kita. Ibu selalu menunggumu dan baru akan pulang saat bertemu denganmu."


Irish periksa tanggal dapati bahwa pesan dari Ibu baru dikirim beberapa jam lalu. Ia berpikir sejenak. Jika ia pergi dari apartemen Hellton, maka ia yakin akan diperebutkan banyak penjahat di luar sana. Ya Tuhan, bodoh amat. Ia rindukan Ibunya dan wanita itu pasti cemas pada keadaannya. Kabar bahwa ia hilang dari pengawasan pemerintah pasti sampai pada Ibu dan wanita malang itu pasti bermuram durja pikirkan kondisinya. Tanpa menimbang lebih jauh lagi, Irish menunggu gelap untuk keluar dari persembunyian.


Sungguh menyeramkan saat ia berjalan keluar dari hunian Hellton, naik lift, lewati lorong gelap mencekam dan buka pintu gerbang yang berdecit horor. Astaga. Tak kalah mengerikan tak kala ia berkelana di hari hampir gelap di jalanan kota mati yang ditumbuhi ilalang. Beberapa anak jalanan, tuna wisma terlihat gontai datang ke tempat yang terbengkalai. Mungkin, mereka akan berlindung dibalik tembok untuk halau dingin yang kejam. Irish celingukkan rapatkan syal milik Hellton yang ia temukan di hunian pria itu.


Jarang ada taxi lewat di tempat sunyi ini, bahkan hampir tak ada. Jadi, ia berjalan kaki separuh berlari hingga betis-betisnya mengencang. Percepat langkah, liur diteguk basahi kerongkongan yang kering kerontang akibat berjalan terlalu jauh. Entah berapa lama, sampai akhirnya ia temukan jalanan negara. Berhenti di pembatas jalan, Irishak menunggu taxi. Beberapa taxi lewat tetapi tak berhenti padahal ia telah melambai sambil tersenyum. Mereka bahkan menoleh aneh padanya. Apa yang terjadi? Sumringah terukir saat sebuah taxi datang dan berhenti. Wanita itu buru-buru naik.


"Maafkan aku sebelumnya, Nona. Anda manusia kan? Bukan sejenis hantu?"


"Apa maksud Anda, Tuan?" Jadi inilah alasan tak ada taxi yang mau berhenti. "Tuan, aku bersama kekasihku tadinya. Tetapi kami sedikit cekcok dan ia turunkan aku di tengah jalan menuju distrik tua. Aku berjalan kaki tadi hingga sampai di sini."


Apakah Hellton Pascalito sejenis Iblis setengah manusia? Ia bahkan punya kuburan untuk bersembunyi dan sial karena Irish tak tahu siapa pria itu sebenarnya?


"Maafkan saya, Nona! Sebab Anda seperti yang diriwayatkan dalam urban legenda yang sering mengganggu pengendara yang lewat di jalanan ini. Wanita sekitaran 26 tahun, pucat dan sangat cantik."


Irish tertawa, "Non sense-lah. Apakah aku tampak seperti hantu?" Irish pikirkan perkataan si sopir taxi dan bercermin. Sendiri kaget. Pantas saja, ia disangka hantu, wajahnya sangat pucat. "Wajahku pucat karena aku selalu begadang. Look, aku akan bayar Anda mahal. Antarkan saja aku ke Oranjje Bakery karena Ibuku sedang menunggu."


"Tentu saja, Nona!"


Sementara Hellton Pascalito kembali ke hunian bawah tanah setelah bekerja keras dua hari tanpa henti untuk ikuti seseorang. Ia juga harus pergi ke kantor dua hari berikutnya untuk rapat penting. Harinya sangat lelah karena ia juga penderita insomnia parah. Pria itu lekas mengumpat marah saat tak temukan Irish di ruang bawah tanah sedang laptop menyala di ruang tengah. Hellton memeriksa dan temukan email yang mungkin memancing Irish untuk keluar. Pria itu geram tetapi tak ingin bertindak. Ia akan biarkan Irish jadi bulan-bulanan penjahat, biarkan saja. Wanita itu terlalu keras kepala. Mungkin ketika ia benar-benar jadi target dan terkunci, Irish baru akan menyerah. Hellton masuk ke kamar mandi, nyalakan shower dan coba alihkan perhatiannya dari Irish. Air basahi rambutnya. Apakah wanita itu masih saja bernyali sementara ia lihat sendiri bagaimana penjahat berburu dirinya?


Namun, Irish yang berani tapi ceroboh sangat mengganggu Hellton. Pria itu meninju dinding kuat sebab ketika bayangan Irish didorong dengan kasar dan tersungkur saat di bandara buatnya naik pitam. Ia tak suka seseorang mengganggu Irish. Hanya dirinya, satu-satunya manusia di muka bumi ini yang boleh menyiksa Irishak Bella. Ia tak butuh alasan untuk lakukan itu. Buru-buru, pria itu keluar dari kamar mandi, berpakaian dan mengambil senjata.


Ia memeriksa email satu per satu dengan sorot mata dingin.


"Tempat favorit Irish dan Ibunya?"


Hellton memeriksa Instagram yang tidak di log out. Tak butuh waktu lama, pria itu temukan bahwa Irish dan Ibunya sering janjian untuk habiskan waktu di Oranjje Bakery yang ada di sudut kota. Hellton yang tak mengerti mengapa ia sangat posesif pada Irish Bella, mengebut di jalanan sambil pelajari lokasi Oranjje Bakery. Baiklah, ia akan awasi Irish dari sana dan bergerak saat wanita itu dalam bahaya.


Oranjje Bakery jelang malam tampak ramai. Toko roti itu sepertinya tidak berkonsep take away, beberapa pelanggan terlihat nongkrong bercengkerama dan Irish Bella duduk di toko sendirian dengan raut cemas.


"Dia bahkan tak menyamar," keluh Hellton berdecak. "Bukankah dia sangat cerdas? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia tak tahu bahwa Ibunya mungkin diikuti oleh beberapa orang?"


Seorang wanita berkerudung mendekat, duduk belakangi Irish, sepertinya itu Ibunda Irish. Tak lama berselang beberapa preman muncul di luar toko. Hellton amati situasi, terlalu banyak pengunjung. Mereka tak bisa ciptakan keributan tanpa menarik perhatian, jadi hanya berjaga-jaga di luar toko, mungkin menunggu Irish pergi dari toko. Seseorang dari mereka lakukan panggilan dan bicara serius di telpon.


Lima menit semenjak telpon dimatikan, sebuah mobil polisi hampiri toko. Seorang pria berseragam turun dari sana dan masuk ke dalam toko menuju tempat Irish, tunjukkan tanda pengenal kemudian dengan sopan meminta Irish ikut.


Hellton amati; Ibunda Irish yang sesegukkan. Tangan kedua wanita itu saling terkait seakan tak ingin berpisah atau sang Ibunda punya firasat. Irish digiring ke dalam mobil patroli lalu tinggalkan toko.


Hellton Pascalito ikuti iringan mobil. Irish di bawa keluar kota. Jalanan itu menuju sebuah tempat, di mana, para mafia sering mengeksekusi musuh atau pengkhianat; tempat pengerukkan pasir. Irish akan diangkut dalam taring-taring tajam backhoe atau buldozer di lemparkan ke dalam terowongan sebelum ditimbun dengan pasir satu truk penuh. Ia harus mencegah Irish sampai ke tempat pengerukkan sebab ia sendiri akan kesulitan hadapi begitu banyak mafia yang ada di dalam tempat itu. Atau, biarkan saja Irish melihat betapa mereka sangat menginginkannya mati.


Mengapa wanita itu kacaukan dirinya? Hellton tak sabaran ingin tahu keadaan Irish. Ia memacu mobil hingga kecepatan maksimum, siapkan senjata dan sejajarkan mobilnya dengan mobil paling akhir. Ia menembaki pengemudi mobil hingga mobil itu hilang kendali lalu terjungkal ke sisi jalan. Mobil di depan yang sadar segera turunkan kaca dan ancang-ancang menembak. Hellton arahkan tembakan pada ban mobil hingga kempis dan oleng. Mereka mulai balas menembak sebelum mobil patroli berhenti karena nyaris hilang keseimbangan.


Hellton turun dari mobil, mengendap, tak ada tanda-tanda mobil di depan akan lakukan serangan. Ia mendekat.


"Angkat tanganmu, Bung!"


Seseorang muncul dengan pistol di kepala Irish. Polisi lainnya menyusul dari balik mobil. Hellton amati posisinya yang tak bagus.


"Oh, Ayolah! Ku sangka kau polisi yang jujur, Matt!" sapa Hellton saat lihat siapa pria yang menodong Irish. Bibir Irish berdarah, sepertinya ia dipukuli saat di dalam mobil.


"Aku tidak terkejut kau mengejar wanita ini!"


"Semua sedang berlomba, aku termasuk. Lepaskan dia! Kau butuh uang? Aku bisa berikanmu uang."


"Pascalito, aku dapat bayaran sangat tinggi!" Matt menolak.


"Aku akan bayar lebih tinggi!"


"Tidak, kau hanya harus menyingkir, Hellton!" Matt arahkan senjata pada Hellton. "Simpan uangmu!"


"Apa Freya tahu kau juga bekerja seperti ini, Matt?"


"Kau tak akan beritahu dia! Menyingkirlah, Hellton!"


Mendadak saja ....


DOR !!!


Satu tembakan dan Matt tertembak di kepalanya. Irish menjerit ketakutan, terduduk lemas.


"Mana uangnya? Kau bisa berikan padaku dan pergilah dari sini!" Polisi di sisi Matt arahkan moncong senjata pada Irish.


"Baiklah, kita sepakat," sahut Hellton perhatikan Matt yang tewas mengenaskan. Pria itu pergi ke mobil dan kembali seraya lemparkan tas pada si polisi korup yang langsung disambar dan diperiksa.


"Ini masih belum cukup," kata si pria acungkan senjata sekali lagi saat menimbang isinya. Si Polisi jadi tidak fokus.


Dor!!! Dor!!! Dor!!!


Tiga tembakan dari Hellton dan pria itu tewas di tempat dengan lubang di kening.


"Kurasa, itu cukup!" kata Hellton tanpa ekspresi mengerutkan kening, mendekat ke mayat si pria dan mengambil kembali tasnya. Ia memandang Irish kejam.


"Masuklah! Atau kau mau dilemparkan ke dalam lubang sebelum ditimbun dengan pasir?"


Irish masih terdiam. Hellton jadi tak sabaran, menarik paksa wanita itu dan menyeretnya ke mobil. Mereka tak kembali ke hunian aneh sebelumnya, tetapi pergi ke peternakan, menggiring Irish yang linglung masuk ke dalam rumah.


"Jika kau terus kabur, kau akan semakin lihat aku membunuh banyak orang!"


"Kau bisa lepaskan aku! Biarkan saja aku, Hellton!"


Hellton menatap wanita itu tajam, sebelum tinggalkan Irishak. Ia pergi ke kamar mandi, nyalakan shower dan berkubang di bawah pancuran. Kedua tangannya di tembok, menyangga tubuh hingga belikat dan otot-ototnya mengembang. Terperanjat saat sebuah sentuhan terasa di pundaknya. Hellton berbalik cepat pegangi tangan itu dan terkejut saat temukan Irish di sana.


"Jika kau biarkan aku pergi, kau tak perlu bunuh banyak orang! Bisakah temukan cara ...."


"Irish apa kau idiot?" potong Hellton tajam. "Kau tak lihat bahwa hidupmu telah berakhir?" tanya Hellton geram.


"Itu karena aku masih ada di negara ini tanpa perlindungan!" sahut Irish naik pitam. "Jika saja kau biarkan aku pergi, kau tak perlu membunuh orang. Kau menahanku di sini. Siapa kau, berani kendalikan hidupku?" bentak Irish marah. Ia ingin bujuk Hellton tadinya tetapi pria di depannya sangat angkuh.


"Jangan memancingku Irish!"


Rahang Hellton membeku. Tulangnya bahkan tercetak jelas. Ini sangat aneh, saat Irish marah, ekspresikan semua energi lewat pancaran aura penuh emosi, raut sombong, mata yang berbinar garang, dada naik turun oleh napas yang memburu ..., di mata Hellton ..., Irish Bella terlihat berkali-kali lebih menggairahkan. That's why, tanpa aba-aba, pria itu merengkuh leher Irish, dekatkan wajah mereka dan mulai mengunyah bibir wanita itu. Ia membara di dalam sana oleh sebab Irish telah mengikat emosi. Foreplay panas dimulai bukan oleh sesuatu yang sensual tetapi oleh emosi yang memuncak. Amarah berubah jadi gairah.


Pria itu menjauh susah payah dan amati Irish, mengusap sudut bibir yang luka, sedang Irish setelah pertengkaran seakan lebih terbuka padanya. Wanita itu tak menolak saat dielus. Hellton Pascalito segera membopong Irish ke ranjang, biarkan bara gairah tersulut di antara mereka. Keduanya saling menggeram, bergulingan, saling menjatuhkan, sama-sama angkuh untuk meredam ego, tetapi tak lepaskan pagutan.


Akhirnya ciuman dimulai tidak terburu-buru, menyesap dagu dan telinga sang wanita, perlahan seakan ingin mengajak Irish nikmati sentuhannya. Serangan penakluk di antara belaian sorot mata utarakan seberapa besar hasrat dan otot-otot rileks lidah yang meliuk intens menuntut sang wanita tak punya pilihan selain rasakan dirinya. Ketika akhirnya melaju, sang wanita berhasil dibuat terengah-engah, menarik Hellton dekat padanya seakan ingin katakan; don't stop!


Begitulah akhirnya senandung di antara kedua tubuh diselaraskan di malam yang dingin. Pantulan tubuh perkasa kecokelatan Hellton dan tubuh putih mulus Irish yang bergerak di cermin kamar itu, memicu desiran hingga ke ujung-ujung saraf. Memompa gairah menjadi dahsyat dan liar.


Seolah pelajari reaksi tubuh Irish, Hellton pahami bahwa Irish punya kisah panas tetapi tak punya pengalaman bercinta, pria itu beri sisipan bagi Irish agar lebih inginkan dirinya. Cocokkan ritme dari bahasa tubuh Irish, sang pria kembali bereksperimen lewat tenaga yang meningkat dan intensitas cumbuan. Tangannya juga diberi kesempatan. Selanjutnya tak ada jeda, lecutan semakin buas dan belaian bibir Irish pada bekas luka di sepanjang lehernya, semacam rangsangan satukan sensasi indah. Ketika Irish melenguh di lehernya, pria itu telah melihat gambaran kenikmatan. Ia mendekap Irish semakin erat, tak ingin akhiri itu dengan cepat berganti posisi biarkan Irish menjelajahi dirinya, menyukai Irish saat bercinta dengannya.


Semakin malam suasana semakin panas, rangkulan erat, kecupan, bisikan dan desakan; hanya luapan gejolak hasrat.


Hanya bercinta, tak ingin berhenti.


***


Dan Author malas mau nulis. Lha dua orang itu gak mau berhenti.


Note :


Teman-teman, kisah Irish akan aku tulis di novel pendek terpisah, ya. Mungkin 30 chapter. Sebab kalau nulis di sini kayaknya Heart Darkness baru akan tamat tahun depan. Hellton dan Irish adalah bagian dari Heart Darkness terlibat langsung dengan Marya dan Elgio tetapi mereka punya kisah sendiri. Irish nanti hamil (yang di group udah tahu ya, aku udah ngasih bocorannya di sana), oleh sebuah keadaan tragis, salah paham, mereka akhirnya terpisah.


Kasih komentar soal Chapter ini ya dan bantu aku berikan judul Novel pendek untuk mereka!


Say goodbye here to Hellton Pascalito ....