
"Tuan Elgio Durante ... aku datang."
"Archilles?!"
Archilles Lucca, membungkuk saat bertemu Elgio. Arch, si penjahat bayaran yang beberapa waktu lalu digaji tinggi oleh Valerie untuk awasi Marya dalam penyekapan, telah berubah drastis sampai hampir tidak dikenali. Ia beralih dari penjahat kelas satu jadi pengawal profesional berkat Carlos Adelberth. Oleh Carlos, Archilles disiksa, dihukum sebelum dibina di sebuah kamp militer, bekerja di bagian layanan sosial. Archilles kemudian dikirim ke sebuah organisasi pelatihan pengawal unggulan yang jasa mereka biasa dipakai untuk pekerjaan VIP, handle pelanggan kelas atas.
"Ya Tuan, apa kabar Anda?" tanya pria itu membungkuk semakin dalam tak berani
angkat wajah, hanya terus membungkuk. Terlebih pada Marya Corazon di sisi Elgio Durante.
"Aku minta maaf soal kejadian di masa lalu, Nyonya Durante, terima kasih untuk kebaikan hati Anda dan suami Anda, mengampuni nyawaku," kata pria itu lagi.
"Kuharap kau manfaatkan kebaikan kami Arch, dengan berubah jadi orang baik," sahut Marya mencengkeram lengan Elgio erat-erat.
Archilles mengangguk. "Ya, aku berjanji tak akan kecewakanmu, terima kasih banyak Nyonya!"
Elgio sodorkan tas berisi seragam pengawal, jas hitam-hitam, man in black bodyguard uniform, pada umumnya.
"Mari lupakan masa lalu. Kau akan bekerja padaku untuk mengawal seorang gadis, dia adalah adik dari istriku."
"Baik, Tuan."
"Namanya Arumi Chavez Diomanta, pelajar tingkat 1 Sekolah Menengah Atas. Kamu akan lindungi dia, antarkan dia ke sekolah, temani dia belajar, lakukan hal yang penting untuk dilakukan baginya. Gadis itu sedikit bawel dan satu lagi, ajari dia keahlian bela diri. Kau lebih tahu dari aku, apa yang dibutuhkan seorang klien dari seorang bodyguard, Archilles."
"Siap Tuan ... " sahut Archilles.
"Temuilah Arumi di lantai bawah!"
"Baik Tuan, saya pamit," katanya lagi sebelum berlalu dari hadapan Elgio dan Marya. Trauma Marya benar-benar hilang tetapi berganti dengan sikap waspada.
"Elgio, aku berharap, kita tidak salah memilih orang."
Elgio memeluk sang istri, coba redakan waspada gadis itu. "Marya, Archilles di bawah kendaliku, Carlos Adelberth juga Lucky Luciano. Dia banyak pengalaman dulunya di dunia kejahatan, tetapi kini, setelah Carlos mendidiknya, dia telah berubah. Lagipula, hanya dia orang yang paling tepat karena dia begitu paham musuh-musuh Familly Club'."
"Baiklah," jawab Marya. "Elgio, aku akan temui Ibu."
"Tentu, aku akan menunggumu. Atau kau ingin aku temani?" tanya Elgio perhatikan raut Marya yang semakin hari semakin bersinar oleh kecantikan. Kemilau raut indah memesona dengan poni yang tidak ingin dilenyapkan. Elgio memeluk sang gadis erat-erat. Paviliun Diomanta adalah rumah yang menyakitkan bagi Aruhi kecil tetapi rumah yang sama berhasil ciptakan gairah aneh di antara mereka saat mereka berkunjung. Namun, teringat pada Abner, Elgio merinding sendiri dan gairahnya tiba-tiba pergi begitu saja. Ya Tuhan, Abner Luiz, kau sungguh mengerikan.
Mereka kemudian bergandengan tangan menuju kamar Salsa. Saat melihat Marya, Salsa Diomanta segera bangkit dari tidur dan bentangkan tangan.
"Aruhi, apa kau lupa padaku, Nak?" sapanya berkaca-kaca. Marya lari ke pelukan sang Ibunda dan biarkan Salsa membelai rambutnya penuh kerinduan.
"Akkhh, Ibu mana bisa begitu? Maaf, aku baru datang. Ibu tahu bahwa aku harus belajar."
"Tentu saja, Sayang. Kapan kau akan pergi? Aku ingin sekali ikut denganmu, Sayang." Mengecup puncak kepala Marya dan kembali mendekapnya hangat.
"Ibu, istirahatlah yang cukup dan jaga kesehatanmu ya. Aku bersama Reinha juga Ethan. Aku akan baik-baik saja."
"Aruhi, Ibu ingin bicarakan hal penting denganmu dan Arumi."
Pintu diketuk dan Arumi masuk beberapa detik berselang sedang Archilles di belakangnya dengan jas pengawal.
"Kak, apa aku butuh bodyguard? Aku bisa sendiri, Kak?" keluhnya melirik pada Archilles sedang Arch menunduk patuh.
"Ethan meminta kami Arumi, kamu sangat bahaya tanpa pengawalan," sahut Marya berpandangan dengan Elgio.
"Lagipula, terlepas dari usul Ethan, kamu memang butuh seseorang, Arumi. Archilles akan ajari-mu bela diri dan keahlian dasar lindungi diri sendiri. Kamu akan belajar di bawah pengawasan dan Archilles akan laporan padaku," kata Elgio tegas tidak ingin dibantah.
"Aku tersanjung kalian kuatirkan aku," balas Arumi lekas tersenyum ceria oleh sebab pikirkan Ethan Sanchez. Baiklah, ia akan menerima Archilles jika itu bisa buat semua orang berhenti gelisah, terlebih Ethan Sanchez. Arumi pikirkan tugas pertama Archilles setelah jadi pengawalnya.
"Kau tersanjung karena Ethan peduli padamu bukan pada yang kami lakukan," tambah Marya berdecak lihat wajah kemerahan Arumi.
"Bukan begitu, Kak. Aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu dan Tuan Elgio Durante," balas Arumi pergi ke sisi pembaringan dan memeluk Marya.
"Jadi, ini pengawal untuk Arumi?" tanya Salsa menyipit pada Archilles.
"Ya, Bu," sahut Marya, senyumnya musnah seketika saat wajah Salsa tampak aneh. "Apa Ibu tak suka padanya?" tanya Marya kuatir ketika didapatinya wajah Salsa makin terlipat.
"Siapa namamu?" tanya Salsa lirih. "Darimana asal-mu?"
"Nyonya, Namaku Archilles Lucca. Aku berasal dari Braga, Nyonya. Keluargaku tinggal di sana, 30 km dari sini," sahut Archilles tegas.
"Baiklah, Archilles. Aku punya satu permintaan padamu," kata Salsabila lagi. Terlihat ragu tetapi seakan yang ingin ia sampaikan adalah hal penting.
"Silahkan Nyonya ...." Archilles bersiap dengarkan permintaan Salsa Diomanta.
"Jika ..., kebetulan dalam perjalanan semasa jadi pengawal Arumi, kau tiba-tiba menyukai Puteriku atau sebaliknya --"
"Ibu?!" potong Arumi keheranan pada Ibunya.
"Ibu?!" Marya menatap sang Ibunda sama bingungnya dengan Arumi.
"Biarkan aku selesai bicara sebab aku rasa ini penting. Aku tak ingin ada kejadian yang sisakan banyak trauma nantinya, Aruhi! Kau tahu, aku terkenang pada sebuah kisah saat melihatnya dan Arumi," Salsa menatap Marya dengan lukanya sendiri dan seakan mengerti, Marya terdiam.
"Aku menyukai Ethan Sanchez dan akan mengejarnya sampai dapat. Apa-apaan Ibu? Ada apa denganmu?" keluh Arumi perhatikan Archilles yang menunduk dengan tampang serius. "Apakah Ibu berpikir aku akan jatuh cinta pada pengawalku?" tanya Arumi tak habis pikir.
"Arumi ..., aku temukan diriku deja vu saat melihat kau masuk bersama dengannya, Nak. Aku merasa kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Biarkan aku bicara!" tatap mata Salsa tajam saat membentur bola mata Arumi.
"Baiklah, maafkan aku, Ibu." Arumi mengalah meski ia sangat tidak senang.
Salsa mengatur napas. "Jika nanti kau temukan ..., hatimu ..., jatuh cinta pada Puteriku atau sebaliknya, Arumi jatuh cinta padamu, tolong bicarakan denganku, dengan Marya dan Elgio; salah satu di antara kami. Tolong, jangan menghilang dengan Puteriku, Archilles!"
Perkataan Salsa buat Arumi gusar, ia hembuskan napas kuat sebelum perhatikan Ibunya lalu pada Archilles, pandangi pengawal barunya atas bawah dengan mulut separuh melebar dan mengerut; apakah ada laki-laki lain lebih menarik selain Ethan Sanchez? Ia menggeleng. Demi apapun, Ethan Sanchez ada di dalam otak, di relung hati, di pelupuk mata, dan bahkan ada di udara yang ia hirup.
"Ibu, aku pahami sekarang. Tetapi, hanya karena Ibu punya masa kelam bersama Ayah Benn, bukan berarti aku akan ikuti jejakmu Ibu. Aku hanya akan mengejar Ethan Sanchez. Ibu tahu, aku hanya akan belajar, sekolah dan jadi juara 1 di kelas sosial lalu berkencan dengan Ethan Sanchez saat kami dewasa. Aku harus imbangi Ethan jika ingin pacaran dengannya. Ibu tidak masuk akal," gerutu Arumi.
Arumi akan belajar yang rajin dan pergi ke kampus yang sama dengan Ethan. Ia akan bersiap hadapi kenyataan banyak gadis inginkan Ethan Sanchez, tak menutup kemungkinan Ethan bertemu gadis sempurna seperti Aruhi yang kemudian buat laki-laki itu jatuh hati, tetapi Arumi sungguh menyukai pada Ethan dan berusaha penuhi kriteria Ethan.
"Aku hanya akan bekerja, Nyonya! Tujuanku nanti setelah tidak diperlukan lagi adalah jadi seorang biarawan dan pergi ke pusat-pusat layanan sosial yang butuhkan bantuan," jawab Archilles tenang. "Aku tak akan permalukan Tuan Elgio dan Nyonya Marya yang telah selamatkan nyawaku," tambahnya menunduk dengan serius.
"Baiklah, maafkan aku telah menyinggungmu, Tuan Archilles," kata Salsa sopan.
"Tidak masalah, Nyonya. Kurasa, aku juga perlu tahu apa saja keinginan Anda dan Nona Arumi," sahut Archilles.
Salsa menghalau ia dan Benn di pikirannya. Arumi persis dirinya belasan tahun silam. Bodoh, na'if, cantik dan mudah jatuh cinta. Tetapi tampaknya Arumi benar-benar inginkan Ethan Sanchez dan menurut Salsa Diomanta, Ethan memang kekasih masa depan gadis kecilnya itu. Ethan berhasil mengubah sikap Arumi dan kepribadian Arumi. Lihatlah puterinya semakin dewasa dan sopan. Salsa ingin bertemu Ethan sekali lagi untuk ucapkan terima kasih.
"Baiklah, Ibu."
"Kalian akan ke peternakan kakek buyutmu dan bertemu Paman Hellton juga Paman-Bibiku. Pamanku mengundang kalian berdua gantikan aku dan Sunny sebab Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa akan dilaksakan beberapa Minggu lagi. Kalian berdua akan menerima saham dariku. Ini wajib diterima sebab Diomanta adalah satu kesatuan dan tak terpisahkan. Leluhur kita telah sepakat untuk menjaga persaudaraan ini."
"Em, aku tak suka paman Hellton, Ibu. Wajahnya terlalu garang dan dia selalu mengancamku," keluh Arumi menggeleng. "Kakak saja yang pergi, ya."
"Arumi, Paman Hellton tidak seburuk itu. Dia hanya bertampang garang tetapi ia sangat menyayangimu. Kurasa Aruhi dan Elgio telah bertemu dengan Hellton." Salsa ingin tambahkan bahwa Hellton sedang berupaya keluarkan Lucky dan Sunny dari penjara tetapi, ia sendiri adalah tahanan kota dalam pengawasan. Wanita itu akhirnya tutup mulut.
"Kapan akan dimulai, Ibu? Aku harus pergi kompetisi dan sangat sibuk."
"Ibu akan kabarimu, Sayang. Mungkin akhir pekan. Hanya makan malam keluarga seperti biasa Aruhi. Kalian akan bertemu kerabat kita. Bergabunglah Elgio, temani Aruhi dan Arumi."
Marya pandangi Elgio minta pendapat pria itu.
"Ya, Baiklah Ibu."
Salsa tersenyum saat dengar sapaan "Ibu" dari Elgio Durante. Betapa sempurnanya pria itu untuk Aruhi, berdoa dalam hati, keduanya akan bahagia selalu dan selamanya.
***
Siang hari ketika Maribella berdiri dalam ruangan kantor Abner menunggui pria itu selesai bertemu klien penting. Maribella duduk penuh gelisah karena mereka akan pergi ke toko khusus untuk memesan cincin, merekah senyum pikirkan hal-hal manis tentang mereka. Hari kemarin, keduanya berakhir sepanjang siang di dapur, bersihkan dapur dan kemudian pergi kencan ke pinggiran hutan tempat mereka biasa pergi dulu. Maribella terkejut saat pintu ruangan Abner terbuka, segera berdiri dan menoleh dengan senyuman sumringah di wajahnya. Namun ....
"Nona Maribella?"
Luna berdiri di pintu dengan berkas di tangan, mengerut saat temukan Maribella di ruangan kantor Abner dengan mantel lagi-lagi edisi terbatas berwarna cokelat terang, boot dan tas? Astaga, Luna tahan napas. Seumur hidup ia tak akan sanggup miliki tas itu, mengapa salah satu bag termahal di dunia dipakai oleh seorang pelayan? Tidak mungkin, itu mungkin cuma tiruan.
Maribella perhatikan Luna yang tertarik pada tasnya. Ikuti pandangan Luna, Maribella angkat tas yang dipakai. Tas merah muda dengan banyak butiran manik, hadiah pemberian Elgio padanya saat kembali dari New York. Waktu itu Elgio berkata, "Bibi Maribel, ini hanya sesuatu yang sederhana, semoga ini cocok untukmu dan kau menyukainya. Terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan padaku dan Reinha."
Maribella tak pernah memakainya karena ia hanya di rumah dan tas seimut itu tak bisa dipakai untuk mengisi makanan ketika piknik. Jadi, Maribella pajang tas itu di kamarnya sebagai salah satu accecories berharga, pemberian Elgio. Ini pertama kali, tas pink itu ia bawa.
"Apa ada yang salah?"
"Ya, sesuatu terasa salah Nona Maribella. Aku baru saja lihat Leiber Precious Rose?!"
Luna benar-benar terlihat iri-hati dan cemburu padanya. Hanya karena tas ini? Tak masuk akal.
"Nona Luna, ini hanya tas biasa."
"Kau akan berikan padaku jika aku minta sebab itu cuma tas biasa?" tanya Luna.
Maribella menggeleng, "Nona, tas ini pemberian Tuan Elgio padaku. Aku tak pernah memakainya, baru sekali ini." Maribella menyesal karena katakan tasnya adalah tas biasa. Ia hanya tak paham, mengapa Luna inginkan tasnya.
Luna ternganga. Bagaimana bisa seorang pelayan memakai tas branded yang didesain bertaburan ribuan berlian, safir merah muda sangat indah dengan ratusan turmalin dan semuanya di desain dalam emas putih 18 karat. Tas itu hanya ada satu di dunia dan dipakai seorang pelayan? Lelucon macam apa ini?
Luna Hugo semakin inginkan Abner Luiz sedang Maribella yang tak sadar telah bawa-bawa tas ratusan Euro merasa Luna hanya gadis materialistis. Wanita itu mendadak tak ingin Luna dekati Abner.
"Nona Luna, Anda akan jauhi Tuan Abner Luiz karena kami akan segera menikah," kata Maribella tiba-tiba hingga Luna terhenyak.
"Menikah?"
"Ya, aku menunggunya di sini. Kami akan menikah dalam waktu dekat, kuharap Anda doakan kami."
"Doakan-mu?" tanya Luna miring seakan Maribella sudah gila. "Nona Maribella, hanya karena kau gunakan mantel mahal juga tas termahal di dunia, kau tetap seorang pelayan rendahan terlihat bagiku. Bertambah buruk sebab kau mencuri kekasih orang lain dengan wajah polos-mu. Patut disayangkan."
"Nona Luna Hugo ... Anda sangat kasar," kata Maribella beri peringatan, pegangi tasnya erat hingga buku jari memutih. Apakah karena ia hanya seorang pelayan rendahan, wanita lain boleh mengintimidasinya? Yang benar saja.
"Ya, aku sangat kasar, kau tak suka Maribella? Kau hanya seorang pelacur murahan dengan wajah polos yang pandai menggoda kekasih orang!"
"Kekasih orang?" keluh Maribella pelan. "Oh tolonglah, apakah Tuan Abner masih kekasih Anda?" Maribella makin sakit hati di katakan pelacur murahan.
"Tentu saja, Abner adalah kekasihku. Abner putuskan aku dengan cara yang tidak hormat karenamu dan aku merasa kami belum putus. Tidak sama sekali." Luna berkata berang dan terlihat ingin menelan Maribella hidup-hidup.
"Anda-lah yang terdengar seperti inginkan kekasih orang lain, Nona," balas Maribella tajam tak menyangka Luna akan menyerangnya dengan sangat kasar.
"Begitukah?" Luna mendekat. "Berani sekali seorang rendahan dan murahan sepertimu permainkan aku. Kamu akan lepaskan Abner untukku sebab kamu sama sekali tak pantas bersama Abner, Maribella. Kurasa, kau mengkhayal terlalu tinggi."
"Nona, aku mungkin hanya pelayan rendahan tetapi aku tak pergi ke apartemen seorang pria tengah malam, mencuri kemejanya di pagi hari dan bertingkah laku seolah habis-habisan bercinta hanya untuk buat wanita lain terpancing. Kurasa Anda-lah pelacur murahan itu."
Plaaakkk !!! Satu tamparan keras hingga tubuh mungil Maribella terdorong. Maribella pegangi pipinya yang memanas, kembali pandangi Luna dengan sorot mata marah dan terluka. Baiklah, ia hanya seorang pelayan tapi Abner Luiz mencintainya.
Maribella kembali berdiri tegak, kakinya sedikit terkilir. "Aku juga tak perlu memoles gincu di paha untuk buat drama yang menjijikan ...."
Luna Hugo jadi sangat gregetan, kembangkan jemari dan bersiap hendak menggampar Maribella. Bagaimana bisa seorang pelayan berani sekali bicara tak sopan sedang Maribella sendirilah yang telah mencuri Abner darinya. Tangan Luna melayang tetapi tak diduga Maribella pegangi tangan Luna yang terangkat hendak menyentuh pipinya dan hempaskan kuat sebelum balas menampar sangat kuat oleh sebab ledakan emosi hingga Luna Hugo sempoyongan terjatuh di bawah kaki Maribella. Ingin rasa Maribella menginjak jemari Luna yang terkulai di lantai. Maribella serentak mundur, sama sekali tak menduga ia menjadi sangat marah dan berpikiran jahat. Kenapa jika ia hanya seorang pelayan? Apakah pelayan bukan manusia berhati? Mereka tak layak jatuh cinta?
"Aku memang pelayan rendahan, tak masalah. Menjauhlah dari Tuan Abner dan juga Tuan Elgio. Kulihat kau sangat materialistis, Nona! Aku akan mengawasimu."
"Mai ... ?!" Abner muncul di pintu ruangan, sangat terperanjat lihat pemandangan yang terjadi. Luna terduduk meringis kesakitan di bawah kaki Maribella yang memerah marah.
"Mai ... apa yang terjadi?"
Abner Luiz tergopoh-gopoh masuk dan menutup pintu. Beberapa staf mendengar perang mulut dan mengintip dari balik kaca. Desas-desus dimulai. Maribella hanya terdiam sedang Abner bantu Luna berdiri.
"Mai ... " panggil Abner saat wajah Maribella benar-benar bersemu merah. Bekas tamparan terlihat di sepanjang pipi Maribella. Abner mengerut.
"Mai ... ?!" ulang pria itu dan saat Maribella menoleh dengan mata mengerut di kedua sudutnya, Abner tercengang sebab ia seakan melihat ekspresi murka Reinha Durante.
"Maafkan aku, Tuan Abner, hilang kendali," sahut Maribella tersenyum muram.
Ya Tuhan, sedang saat ia tersenyum, Maribella perlihatkan senyuman halus Marya Corazon. Abner melihat dua bocah perempuan jenius di wajah sang pengasuh. Maribella William, kolaborasi sempurna dari gaya lembut Marya Corazon dan kuat Reinha Durante. Ataukah kedua bocah ajaib itu adalah representasi seorang Maribella William sebagai pribadi yang paling berpengaruh pada terbentuknya karakter dua gadis Durante? Abner benar-benar terperangah dibuatnya. Maribella memang sering menghardik atau melengking saat terpojok, tetapi tak pernah menyerang seseorang dengan keras. Abner seakan baru saja lihat salah satu keajaiban dunia.
Luna berdiri menatap marah pada Maribella tetapi tak bertindak.
"Syukurlah aku hanya pelayan rendahan, jadi aku tak perlu aturan memukul orang," kata Maribella masukan tangannya ke dalam saku mantel. Anda lebih muda dariku Luna dan sangat cantik. Aku menghormatimu tadinya. Tetapi kurasa, kita tak perlu saling respek atau saling menghargai. Aku dan Tuan Abner akan menikah, kuharap Anda tak sengaja datang ke ruangannya untuk menggodanya," kata Maribella selembut mungkin dengan bahasa yang cukup tajam.
"Aku tak akan lupakan penyerangan ini, Maribella!" kata Luna geram.
Maribella abaikan wanita itu, menatap sendu pada Abner. "Bisakah kita pergi, Tuan Abner? Atau apakah Anda ingin terus pegangi Nona Luna Hugo?" tanya Maribella lagi.
"Maribella William ...."
***
Cintai aku, selalu ....