
"Ibu? Adik tiri?"
Abner Luiz mengangguk lesu oleh pertanyaan Elgio, bersandar ke sofa pejamkan mata. Kepalanya sedikit goyah. Ia acapkali goyah tapi baru sekali ini ia merasa limbung. Leluconnya soal Sylvia Chaterine, Ibunda Elgio beberapa waktu lalu, malah sungguhan terjadi. Itu karena cara wanita itu bicara dan tatapan matanya langsung tag di pikiran Abner, sama seperti saat ia mengenal Elgio Durante.
Adik tiri karena Luna tercatat sebagai anak dari seorang pria bernama Christian Hugo dan Sylvia. Abner mengelus kening. Ia memeriksa profil Luna dan temukan tanggal lahir gadis itu sama dengan Elgio Durante, sungguh gila. Apakah ada adik tiri yang lahirnya barengan? Apakah Ibu Elgio selingkuh dari Tuan Leon, itulah mengapa Leon Durante berpisah? Tidak, tak masuk akal. Luna dan Ibunya pasti berbohong untuk tujuan tertentu. Termasuk palsukan kelahiran Luna. Bisa saja kan? Tetapi Tango temukan fakta tak ada kepalsuan dari identitas Luna.
"Kita akan caritahu nanti, Elgio!"
Elgio tatapi Abner lama termenung bahkan menit-menit berlalu setelah mereka ditinggal sendirian di rumah sakit; sisakan Tango, Augusto dan Marco juga dua pengawal lain di depan ruangan kamar rumah sakit. Segera datangi Abner Luiz, pada walinya yang tampak tertekan, berlutut di depan pria itu.
"Abner, I am so sorry! Aku sering bandel dan selalu menyusahkanmu. Aku sering buatmu marah dan keram-keram. Tetapi saat ini, kau butuh istirahat dan aku akan berikanmu perawatan terbaik. Marya akan jaga Maribella, ayo kita bertemu psikiater," kata Elgio dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Abner."You need a doctor."
Abner buka mata, mengerut pada Elgio yang berlutut di depannya. Menghela napas panjang, kuat dan dalam.
"Kau masih bisa melawak, Elgio Durante?"
"Abner, aku tahu kau tertekan, jadi kau hilang warasmu. Adik perempuanku hanya Reinha Durante, Ibuku Maribella William dan dirimu, Abner Luiz. Tak ada Ibu lain untuk Elgio Durante."
"Elgio ...."
"Aku hidup bersama Ayahku sejak bayi, tak punya Ibu karena Ibuku sudah mati."
"Kenyataannya Tuan Leon berkata, anggap saja Ibumu sudah mati, bukan Ibumu sungguhan mati."
"Mengapa aku tiba-tiba punya Ibu? Mengapa ibu dadakan Elgio Durante ingin kau hengkang dari sisiku? Agar bisa kuasai aku? Harta Ayahku? Harta Ayah hanya dibagi antara aku dan Aruhi Amarante di bawah pengawasan Abner Luiz sebagai wali pertama dan Maribella William sebagai wali kedua. Jika aku ingin wariskan, akan aku berikan pada Reinha sebab dia adik perempuanku. Aku tak punya adik perempuan lain. Kau diijinkan mengusir Luna dari perusahaan karena penipuan."
Elgio bendung berbagai emosi. Ia seorang bocah lelaki 11 tahun yang kehilangan Ayahnya dan tak pernah kenal Ibu. Mengapa seseorang berpikir bisa singkirkan Abner Luiz dari sisinya?
"Ibuku telah lama mati!"
"Mari selesaikan urusan kita dengan Hedgar. Itu yang lebih penting sekarang," sahut Abner Luiz putuskan akan cari tahu nanti.
"Kapan kita bisa menemuinya?"
"Besok malam, Elgio!"
"Minta untuk bertemu sekarang! Kita harus selesaikan masalah ini sebab besok kita harus segera gelar konferensi pers."
"Apa yang ingin kau lakukan dengan puluhan kilatan cahaya kamera, Elgio? Bicara pada khayalak bahwa kau terlibat dengan seorang gangster?"
"Baiklah, jangan pikirkan apapun! Istirahatkan otakmu!"
"Aku pikir, Anda perlu bertemu Hedgar secepatnya Tuan Abner Luiz! Jika Anda setuju aku akan atur itu untuk Anda." Tango bicara.
"Dia benar. Kita tak bisa menunda. Aku ingin lihat apa maunya?"
"Baiklah," angguk Abner Luiz. "Kirimkan lokasi tujuan kita pada Archilles Lucca! Minta dia menyusul."
"Baik, Tuan!"
Augusto, Marco, tinggalah di sini." Abner berdiri segera menelpon dan tak berapa lama kemudian telponnya berdering lagi. Abner bicara pada Elgio. "Mari selesaikan ini, Elgio."
Ketiganya naik mobil, sedang tengah malam akan segera berakhir berganti pagi. Tango menyupiri mereka setelah lakukan kontak dan janji temu dibuat.
"Di mana Hedgar?"
"Old Harbour Pub, Tuan!"
"Apa dia setuju untuk bertemu?
"Ya, sebab dia berencana untuk targetkan The Durante di planning berikutnya sebab Fernando adalah adik laki-laki kesayangannya. Ia sangat marah atas kematian Fernando dan bertambah kesal karena sianida tak berhasil sebabkan banyak guncangan pada The Durante Company. Mulanya ia ingin menculik adik perempuan Anda, Nona Reinha Durante tetapi, ia tidak ingin berurusan dengan Lucky Luciano atau Francis Blanco. Hedgar kemudian menginginkan Irishak Bella dari Anda! Ia ingin Anda dapatkan Irish Bella dari Tuan Pascalito."
"Itu tak akan mungkin terjadi!"
"Ya, Tuan Pascalito telah kirimkan peringatan keras pada Hedgar. Saat habisi para gangster yang menginginkan Irishak Bella, Tuan Pascalito pastikan seluruh anggota gangster hingga pemimpin mereka tahu dengan jelas cara orang-orang mereka mati hingga tak ada yang berani mengejar Irishak. Namun demikian, Anda tahu bahwa beberapa pemimpin pantang menyerah. Mereka menunggu Tuan Pascal lakukan kesalahan. Mereka sedang memancing Irishak keluar."
"Lalu, mereka langsung targetkan aku, begitu?"
"Ya dan Tuan Abner Luiz."
Selama sisa perjalanan, Tango jelaskan secara detil bangunan dan beberapa orang yang dekat dengan Hedgar. Mereka akhirnya sampai di kawasan old harbour Pub, tempat hiburan malam yang cukup terkenal ramai oleh aktifitas malam dan kehidupan yang menggila.
Gedung lima lantai dengan penempatan berbagai jenis tempat hang out. Chinese restaurant di lantai satu, pub dan cafe di lantai dua, diskotik dan message spa di lantai tiga, tempat karaoke di lantai 4 lengkap dengan aquarium berisi ikan cantik tanpa sisik yang meliuk dalam aquarium pamerkan tubuh-tubuh molek, shinny dan erotis. Tanpa bra hanya secuil kain beberapa inci tutupi aurat.
Lantai paling atas, disebut Red Floor. Pelayan bar yang rata-rata sangat seksi dengan lekuk tubuh tegas, payudara berisi dan bokong menyembul yang bisa diduduki, rata-rata tidak cukup puas menerima upah 250 dollar. Jadi, sebagian melacurkan diri di lantai lima dengan para pria hidung belang. Dunia penuh hipers**ks dan penyimpangan, benar-benar berisi kekotoran dan kejahatan. Manajemen menempatkan seorang bandar di lantai tiga, dari sanalah ineks atau ekstasi dikendalikan, dapat dipesan pengunjung dengan berbagai nama samaran, melon, semangka, apple, blackforest, tiramisu dan lain sebagainya.
Elgio tak pernah yakin ingin pergi ke sana tetapi Hedgar adalah sebuah tuntutan saat ini.
"Jangan lupa senjatamu!" ujar Abner beri peringatan pada Elgio. Mereka bukan tipe pemegang senjata sebab Abner seorang plegmatis yang sangat menggilai ketenangan dan kedamaian. Memegang senjata untuk bicara bukan gayanya, tapi mereka tak punya pilihan.
"Senjata dilarang di dalam sana!" kata Tango menggeleng.
Ketiganya beriringan, diperiksa di pintu masuk gedung. Tango bertugas sebagai penghubung, berbisik di telinga pria itu dan tunjukan identitas. Ketika si pengawal mengangguk, mereka diiring masuk oleh seorang pengawal lain menuju ke lantai atas.
Meski telah dapat ijinan masuk, di lantai empat, mereka tetap diperiksa. Hedgar terlihat di dalam sebuah ruangan di antara para wanita seksi, meneguk minuman sambil bicara dengan beberapa pria.
"Pria sipit di sampingnya adalah orang kepercayaannya," bisik Tango pada Elgio dan Abner. "Seperti Anda bagi Tuan Elgio. Sedangkan wanita cantik yang selalu berdiri di sisinya adik perempuannya setelah Fernando namanya Egiana. Sama seperti kakaknya, wanita itu punya kendali atas peredaran narkotika dan kekuasaan pada para gadis pelayan yang bekerja di sini!"
Mereka masuk ke dalam setelah para gadis seksi keluar dari ruangan jelas-jelas tertarik pada Elgio Durante dan Abner Luiz yang terlihat sangat berbeda dengan pengunjung pria kebanyakan. Bahkan saku jas Elgio mendadak kedatangan tamu dari tangan cekatan salah satu gadis seksi, yang masukan secarik tisu berisikan nomer ponsel. Saat Elgio menepis, si gadis dengan genit mengerling dan mainkan jempol juga kelingkingnya, gerakan tangan seperti katakan "telepon aku!"
Elgio kuatkan diri di tempatnya berdiri, seumur-umur tak pernah pergi ke pub atau diskotik. Abner mengekangnya. Habiskan waktu untuk belajar dan bekerja. Suasana pub buatnya pening. Ia mencintai Durante Land yang tenang dan damai. Ia juga sadari satu hal, gadis seksi buatnya mual. Apakah ia tak normal? Bodoh amat, ia memang bukan pria normal.
"Elgio Durante, aku terkejut kau berani tampakkan dirimu di depanku setelah mengeksekusi adikku dengan sadis."
Hedgar menatapnya tajam begitupula gadis di sisinya yang seakan-akan ingin datangi Elgio Durante dan mencekiknya. Dandanan si gadis persis Reinha ketika sedang kumat oleh sesuatu. Menurut Reinha itu sedang tren, kehitam-hitaman seperti penyihir. Ruangan sisakan mereka bertujuh. Hedgar didampingi pria bermata sipit, seorang wanita cantik yang menurut Tango bernama Egiana, juga seorang gadis lain dengan mantel bulu, jemari lentik yang sibuk dengan laptop sepertinya seorang akunting yang sibuk lakukan transaksi.
"Aku tidak membunuh Fernando!"
"Berhenti berbohong!"
"Aku bawa pistol FN five seven malam itu dan gunakan dua peluru 5,7 x 28 mm buatan FN. Selain dari itu bukan peluruku. Kau sedang dikhianati oleh seseorang bawahanmu."
"Kau ingin aku percaya?" tanya si gadis dari sebelah menatap tajam Elgio.
"Bukan urusanku, Nona! Aku melumpuhkannya untuk pertahanan diri. Aku tak menembak lima enam kali seperti yang kau dengar!"
"Kau tahu bahwa istrimu yang cantik jelita bisa jadi targetku!" kata Hedgar memangku kaki-kakinya.
"Kau tak akan sentuh istriku," balas Elgio tajam pada Hedgar.
"Apa yang tak bisa aku lakukan?" tanya Hedgar pada adik perempuannya dan si gadis tersenyum mengejek. "Siapa istri Elgio Durante, Egiana?"
"Marya Corazon Aquino, pelajar 17 tahun, menderita sosiofobia dan mudah ketakutan."
"Di mana dia saat ini?"
"Disebuah ruangan sedang tidur menemani kekasih Tuan Abner Luiz. Manis sekali," sahut Egiana seakan-akan sedang menerawang. "Aku bisa menculiknya sekarang dan habisi dia sama seperti ketika kau menembak Fernando."
"Istriku, Aruhi Diomanta tak selemah yang kau lihat. Dia Puteri seorang Mafia Queen. Diomanta dan Hellton Pascalito akan mengurusmu dengan cara yang tak terduga. Begitu pula saat kau coba menyentuh adik perempuanku!"
"Oh ayolah, aku tak takut pada Pascalito dan Diomanta juga pada Luciano meski satu gang Familly Club' berkumpul," ujar Hedgar pongah. "Aku juga akan memburu Reinha Durante sebab adik perempuanmu membunuh semua orang-orangku di Pesisir Timur."
Elgio ingin bertanya pada Abner, apa yang terjadi?
"Itu bukan adikku, Reinha sedang dalam masa pertapaan. Kami baru mengunjunginya kemarin," sahut Elgio berbohong. "Informasimu salah! Adikku tak akan berurusan dengan Mafia terlebih dia tak ada di Pesisir Timur. Kau ingin mengintimidasi aku?"
"Ya, aku juga yakini itu. Tetapi identitasnya terbongkar. Reinha Durante mencari Lucky Luciano di Pesisir Timur dan membunuh orang-orangku!"
Abner berdecak. "Mari hentikan ini. Kami datang untuk perdamaian, katakan apa maumu? Kau bisa memeriksa ulang tubuh adikmu! Elgio Durante menembaknya di kaki dan lengan untuk selamatkan diri! Kasus di Pesisir Timur, aku bisa bawa Reinha Durante besok pagi, kau bisa yakini penglihatanmu bahwa bukan Reinha yang habisi anak buahmu."
"Jadi...."
"Apa maumu? Uang?" tanya Elgio.
Hedgar tertawa terbahak-bahak, "Apakah pikirmu hanya kau yang punya uang Elgio Durante? Kekayaanku lebih banyak darimu."
"Aku paham, kekayaan dari pencucian uang, penjualan narkoba. Aku tak peduli, Hedgar. Katakan apa maumu?"
Hedgar berdecak. "Bawa mereka! Kita akan lihat apa yang aku inginkan!"
Mereka kembali digiring menuju ke luar ruangan yang berlawanan dengan arah mereka datang, naik ke ruangan paling atas, ke sebuah ballroom. Ruangan berhiaskan banyak bunga dan lampu-lampu kristal yang menjuntai dari atas langit-langit loteng. Rectangle arc di satu sisi berkonsep monochrome minimalis dengan sentuhan untaian bunga di kedua sisi membuat tempat itu terkesan elegan. Kursi dan meja bundar tersusun memenuhi ruangan. Seseorang dengan wajah dalam kantong tertutup diseret pada mereka di antara meja-meja dan kursi.
"Tempat ini disiapkan bagi pasangan yang akan menikah," jelas Hedgar lalu beberapa pengawal mengunci pintu, menodong senjata pada mereka.
"Tak perlu basa-basi, apa yang kau inginkan?" tanya Elgio, melirik Abner yang amati situasi. Mereka tak punya senjata dan ditodong. Seorang wanita sepertinya dibalik kantong terdengar sesegukkan.
"Aku menginginkanmu, Elgio Durante."
"Aku?"
"Nyawa-mu. Tetapi, aku ampuni nyawamu dan tak akan mengikat dendam di antara kita. Kau hanya harus nikahi adik perempuanku! Kau tahu, aku kehilangan adik laki-lakiku, kau akan membalasnya dengan seorang anak laki-laki untukku."
Elgio terpana, pandangi Hedgar. Menolak dengan tegas. "Tidak akan terjadi, Hedgar! Kau bisa minta yang lain."
"Nyawa dibalas nyawa Elgio Durante! Kau akan mengganti Fernando dengan dirimu!"
"Kau pikir aku bodoh, Elgio? Pria terhormat sepertimu mau selipkan kapsul setan kami? Aku tak butuh kapalmu, aku punya pengiriman dengan caraku sendiri!"
Elgio menahan napas. Apa pria sakit jiwa di depannya pikir dirinya pejantan tangguh?
"Aku tak akan menikahi adikmu!"
"Sayang sekali. Dengan begitu, nyawa adikku akan dibalas oleh nyawa seseorang terdekatmu. Kau bisa pilih siapa yang akan aku tembak lebih dulu? Istrimu? Pengasuhmu? atau sudara perempuanmu?" tanya Edgar dan arahkan pistol ke kepala seseorang dalam kantung.
"Kau akan berurusan dengan Lucky Luciano jika kau sentuh adik perempuanku, Hedgar!" Elgio berpikir sangat buruk tetapi dari bentuk tubuhnya itu bukan adik kesayangannya yang imut-imut. Elgio rindukan adik perempuannya, Reinha Durante tetapi wanita dibalik kantong bukan Reinha, bukan Marya.
"No no no, adik perempuanmu yang ini? Aku bisa menjual tubuh seksinya pada pria hidung belang biarkan dia diperkosa bolak-balik tetapi kupikir ... alangkah bagusnya jika aku tembak mati dia di depanmu lalu berikan tubuhnya pada pria psikopat yang suka menguliti seorang wanita cantik dan mengawetkan mereka dengan cairan lilin."
"Kau sakit jiwa Hedgar!" geram Abner saat Hedgar menarik penutup dan Luna terlihat dibalik kantung dengan wajah lemas seakan baru habis disuntik sesuatu. Elgio menatap gadis cantik yang dikata Abner adik tirinya itu.
"Kami tak punya hubungan," kata Luna pelan. "Dia hanya bosku! Kabar bahwa aku adiknya itu tak benar. Kau bisa menyiksaku sesukamu, lepaskan dia!" ujar Luna lemah. Kepalanya tertunduk sangat dalam. Hedgar menarik rambutnya kasar hingga gadis itu tengadah sebelum hempaskan kepala Luna yang seolah tanpa sendi.
Wajah Luna pucat pasi. Adiknya? Mereka punya Ibu yang sama? Luna dan dirinya? Tetapi terlepas jika itu tak benar, bagaimana bisa seorang pria berlaku seperti itu pada seorang gadis?
"Biarkan pria sinting ini membunuhku, Tuan Elgio Durante. Jangan dengarkan dia!" Luna bicara lagi, menenggak liurnya di antara bibir pecah-pecah.
"Luna, apa kau baik-baik saja?"
"Tentu saja, hanya beberapa ekstasi yang bisa bikinnya fly away!" sahut Hedgar terdengar bangga.
"Kau sakit jiwa, Hedgar!"
"Aku ingin menyiksanya tadi, sedikit dis*d*mi beberapa pria terlihat mengairahkan. Aku bisa lakukan itu di depanmu!"
"Lakukan itu pada adik perempuanmu!" maki Elgio terpancing akhirnya dekati Hedgar dan hendak mencekiknya. Namun, Abner menahan lengannya berikan peringatan bahwa ia harus kendalikan diri, jangan terpancing.
"Hei Luna. Kau tahu bahwa hasil investigasi, bukan Maribella yang racuni dirimu?" tanya Elgio mencoba mengulur waktu dan alihkan dirinya dari Hedgar. Buat Luna terus sadar.
"Ya, aku tahu. Maafkan aku Tuan Abner. Pengacaraku ditangkap tadi pagi, ter ... sangkut langsung ... penyiksaan pada Maribella saat dalam penjara. A... ku sama sekali tak terlibat dengannya," jawab Luna tersendat-sendat.
"Aku percaya. Yang tak aku percaya, kau datang ke perusahaanku untuk menggoda waliku dan lakukan konspirasi singkirkannya dari sisiku."
Luna terdiam. Ia menatap Elgio Durante dengan tatapan sendu separuh tertutup. "Aku tak mengerti hal itu. Aku hanya ikut seleksi di kantormu, jadi karyawan terbaik dan membantumu berkembang. Kau bisa usir aku ke penjara jika kau merasa aku merugikanmu," jawab Luna semakin lemah.
"Aku akan memecatmu, Luna. Kau dengar aku?"
"Tidak. aku telah kirimkan surat pengunduran diriku ke alamat emailmu."
Elgio menatap si gadis lurus-lurus. Adik tiri? Mereka terlihat seumuran. Luna dan Ibunya mungkin berbohong.
"Kau tak perlu takut aku bocorkan rahasia perusahaan. Senang bisa bekerja untukmu. Lain kali, jangan terlibat dengan mafia, Elgio!" kata Luna.
"Wah wah, berhenti baca naskah, Elgio Durante! Tanda tangani surat perjanjian di sebelah sana, lalu pergilah ke ruangan lain untuk malam pengantinmu. Adikku menunggu."
"Jangan, Elgio! Pria ini tak akan berani menembak istrimu atau Maribella. Dia hanya psikopat gila," seru Luna, satu pukulan mendarat di pelipisnya. Luna terjatuh menabrak kursi yang ada di sisinya, menghantam bagian depan dada Luna. Gadis itu tersungkur di lantai.
"Hei, kau tak perlu kasar padanya!" Elgio tanpa sengaja pegangi jantungnya. Ia merasa sesak napas, tak suka pada Luna tetapi sangat terganggu gadis itu dikasari.
"Kau brengsek Hedgar! Tak perlu memukulinya," umpat Abner ketularan Elgio.
"Diamlah, Abner Luiz. Aku akan menembak kekasihmu lebih dulu! Yang ini atau yang di rumah sakit? Kau tahu Abner, kau tak bisa satukan kebijaksanaan dan kekuatan. Kau hanya harus memilih salah satu. Sama seperti kau tak bisa kencani Ibu angkat Elgio Durante dan pacari adik perempuannya! Ucapkan selamat tinggal untuk salah satu di antara mereka."
Keseharian mereka diawasi, itu benar adanya. Elgio melirik Abner seakan berikan pertanda. Hedgar tak akan berani menembak Marya dan Maribella sebab tempat itu telah dijaga ketat, dikelilingi interpol dan pasukan Wagner (pasukan rahasia bayaran).
"Baiklah, aku akan ikuti maumu, pertama lepaskan Luna!" Elgio mengalah cari celah.
"Jangan banyak bicara! Cepat ke sana!" angguk Hedgar ke arah meja. Elgio melangkah ke arah meja menghitung jumlah pengawal dalam ruangan itu. Sepuluh orang bersenjata lengkap, mereka akan habis dibantai dalam satu kali tembakan.
Baru saja meraih pena ketika satu ketukan di pintu. Si penjaga pintu mengintip. Ia beritahu temannya yang segera berlari pada Hedgar, berbisik di kuping pria itu. Hedgar mengangguk. Pintu terbuka sedikit. Egiana, dengan gaun pengantin terlihat di sana, memegang buket bunga.
Damn it.
Ia berjalan menyusuri lorong mengganti riasannya datang pada Elgio dan sebelum pintu tertutup, seseorang menendang pintu arahkan senjata dan rangkaian peluru terlontar hancurkan rangkaian lampu kristal di atas kepala mereka. Pecahan benda itu turun bak hujan batu, berkilat-kilat di bawah lampu ruangan. Semua orang segera lindungi diri mereka sendiri. Peluru mendesing, terlepas ke lantai bertubi-tubi berbarengan dengan pecahan kaca termasuk si gadis dengan gaun pengantin.
Hedgar segera berlindung tak jauh dari Luna, mulai membalas. Ia hendak menyeret Luna untuk dijadikan sandera tetapi Luna menendang kursi di dekat pria itu, merangkak ke sisi berlawanan. Berbaring di lantai. Satu senjata melejit pada Abner Luiz, yang langsung meraih lemparan itu terjatuh kembali merunduk ke lantai dan menembak pengawal Hedgar yang siap menembak Elgio. Tak banyak tempat bersembunyi dalam ruangan itu. Mereka merangkak di bawah kursi di kolong-kolong meja hindari peluru nyasar. Suasana menjadi bising. Sementara dari diskotik suara bingar bingar musik tiba-tiba getarkan bangunan.
"Hedgar, kau mencari pembunuh adikmu bukan? Kita bisa bicara!" teriak sebuah suara di antara desing peluru. "Kau salah menangkap orang! Atau kita bisa mulai saling lubangi kening hingga kau menyusul adikmu!"
"Siapa kau? Berani sekali ikut campur urusanku?"
"Bukankah tadi kau bilang tak takut padaku? Aku datang untukmu. Kemari kau brengsek! Atau aku akan jadikan tempat ini rata dengan tanah?"
"Kau muncul juga!"
"Tentu saja, kau ribut memanggil namaku, jadi aku datang!"
Elgio merayap perlahan di antara bangku ke arah Luna segera dapati gadis itu tertembak dan terluka parah, kehilangan banyak darah sepertinya terkena peluru nyasar. Elgio hendak menyeretnya ketika punggungnya dipukuli keras dengan kursi. Elgio berbalik cepat dan saat tubuh lincah itu melompat padanya, segera mendorong Luna menjauh. Lalu berkelit. Pertarungan tak terelakan. Elgio menendang tubuh pengawal Hedgar menjauh dan Abner tanpa basa-basi menembak.
"Kau tak apa?" tanya Abner.
"Kemana Hedgar? Luna terluka parah!" kata Elgio pegangi punggungnya yang sakit.
"Bawa Luna keluar dari sini, Elgio. Aku akan melindungimu!"
Sementara di bagian depan ruangan beberapa pengawal terlihat terlempar oleh perkelahian.
Archilles terlihat. Saat ia masuk, si gadis dengan gaun pengantin menyambarnya dengan sebuah tendangan. Beberapa kali jungkir balik, Archilles berhasil dapati si gadis dan membekuknya. Menembak banyak kali ke loteng hingga perang itu berhenti.
"Kami bawa pria yang membunuh adikmu Hedgar!" ujar Archilles arahkan senjata pada kepala si gadis. "Mari kita bicara!"
Hedgar akhirnya keluar sedang seorang pria dengan tangan terikat dilempar ke hadapannya oleh Hellton Pascalito. Elgio lepaskan jasnya selubungi tubuh Luna.
Abner memeriksa detak jantung Luna. Makin lemah.
"Bawa gadis itu Elgio, aku akan selesaikan urusanku dengannya! Pergilah Abner, aku akan mengurusnya!" ujar Hellton.
Elgio dan Abner keluar dari sana. Beberapa pria terlihat di depan, sepertinya orang-orang Hellton, berjaga-jaga. Buru-buru menuju parkiran dan Tango menunggu di basement lantai itu. Segera larikan mobil.
"Rumah sakit paling terdekat adalah rumah sakit angkatan udara," kata Tango.
"Hubungi Carlos!"
"Dia di Pesisir Timur," sahut Abner. "Kurasa pria itu menemani Reinha ke Pesisir Timur."
**** off .... Elgio memaki keras sedang Luna mulai hilang kesadaran.
"Ajak dia bicara, Elgio! Jangan sampai dia pingsan."
"Apa kau benar adik tiriku?"
Luna hanya diam.
"Luna?!"
"Kau dengar aku? Mengangguk ... jika kau dengar aku!"
Luna mengangguk.
"Apa benar kau adik tiriku?"
Luna menggeleng. Elgio mengeluh. "Sudah kuduga itu tak benar."
"A, a ... ku ...."
"Berapa usiamu?"
"23"
"Tanggal lahirmu?"
Lama terdiam. Elgio mengguncang tubuh gadis itu perlahan. "Luna?!"
"26 Desember."
"Mengapa kita punya tanggal lahir yang sama?"
"Karena aku lahir lima menit setelahmu. Aku sangat lemah, Ibu memilihku ... kau terlihat lebih kuat, tangisanmu kencang. Ibu mengirimmu ... saat purnama, Laluna (rembulan) terangi Lacielo (langit malam), namamu."
"Abner?! Apa-apaan ini?"
***
Sumpret ngantuk parah aku. Dua apa tiga chapter lagi akan berakhir. But tetap ada bonus chapter. Bonus chapternya nanti aku akan rolling sesuai keinginan Readers.
Sehat selalu untuk Bapa Jeremias dan Mama Agatha. (Kembar sulung dari mama)....
Cintai aku, aku mencintaimu readers.