Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 168 Bon Chap - Orquídea Branca ....



"Nyonya, rapat akan segera dimulai."


Reinha menikmati pagi yang mulai bergolak di jalanan Civic Center, rindukan Lucky Luciano. Baru beberapa hari berpisah dari Lucky Luciano, rindunya menggebu-gebu. Augusto bersiap bacakan rincian kerja mereka hari ini.


"Baiklah." Berbalik pada pengawalnya. "Apakah harimu buruk, Augusto?" tegur Reinha amati tampang suntuk Augusto.


"Apa sesuatu terjadi di wajahku?" Augusto balik bertanya, sedikit terkejut seraya mengangkat ponsel dan perhatikan pantulan wajahnya di sana.


"Ya, kau terlihat seperti orang patah hati!"


Augusto menarik sudut-sudut bibirnya. "Aku punya istri, Nyonya. Mungkin aku patah hati sementara waktu karena berpisah darinya."


"Ya, aku ingin dengar jawaban itu darimu meski aku ragukan itu! Kamu kedapatan berbohong."


"Terima kasih, Anda perhatian padaku."


"Apakah ... berkaitan dengan Claire Luciano?! Kau tahu, sama seperti kakaknya, Claire punya banyak pria untuk rontokan jantung mereka. Dia tak pernah serius dengan seseorang."


Reinha perhatikan Augusto yang mengerutkan kening. Pengawalnya itu terlihat berpikir keras. Meski tak sepandai Francis Blanco tetapi loyalitas Augusto padanya tak kalah dengan Francis, sampai-sampai Elgio Durante sering kesal pada Augusto karena terlalu berpihak pada Reinha. Butuh waktu untuk menambah kadar setia pria itu pada Reinha.


"Nyonya ...."


Augusto menggeleng. Mungkin ia egois atau jahat saat minta Natalea naik taxi pergi ke supermarket sendirian kemudian menyusul Nona Claire untuk akhiri kegelisahannya sendiri. Ia benar-benar kuatir Claire sungguhan menyerang seseorang yang ia duga Tuan Adelberth sebab Nona Claire ada di kawasan tempat tinggal pria itu. Ia kembali pulang setelah akhirnya melihat Nona Claire keluar dari hutan di punggung Tuan Carlos Adelberth. Mereka saling mengejek sambil melangkah. Augusto hembuskan napas berat. "Aku telah menikah."


Reinha mengangguk. "Ya, kau benar. Kau tahu, Claire Luciano patah hati saat kamu bohong padanya tentang nenekmu yang sakit. Ia kemudian dengar kamu menikah."


"Aku tidak berbohong. Aku dan Nona Claire tak berkencan, Nyonya! Kami mungkin kebetulan ada di situasi di mana harus selalu bersinggungan sebab intensitas pertemuan Anda dan Tuan Lucky."


Meski tahu Augusto berbohong, Reinha tak ingin memperpanjang percakapan itu.


"Baiklah. Augusto, apakah aku terlihat tua setelah menikah hingga kamu terus menyapa 'Nyonya'?"


Augusto segera menggeleng. "Tentu tidak. Anda miliki wajah baby face dan aku akan kembali memanggil Anda, Nona Reinha. Nah, bagaimana kalau Anda ke ruang rapat sekarang?"


"Baiklah. Mari pergi. Ayo selesaikan pekerjaan dan bersenang-senang di suatu tempat dengan para pengasuhku."


Reinha memikirkan Tuan Abner dan Maribella, apakah mereka menikmati honey moon? Maribella menolak tinggalkan Durante Land. Sedang Tuan Abner sungguh ingin mereka pergi ke Swiss dan tak terpisahkan selama seminggu penuh. Reinha tersenyum geli bayangkan kedua pengasuhnya itu.


Apakah Marya berhasil pergi ke dokter kandungan setelah gagal berkali-kali? Apakah Elgio dan Marya penuhi undangan Ibunda Luna untuk makan malam? Ia penasaran dan home sick menyerangnya.


"Oh, aku sungguh rindukan rumah!"


Reinha keluar dari ruangannya kenakan medium dress beludru yang hangat dengan kerah tinggi dan berlengan panjang. Saat ia melangkah, ia dapatkan atensi dari para staf. Reinha perhatikan woman formal shoes para pegawai Dream Fashion, kitten heels. Meski kira-kira cuma 5 centi ... apakah mereka bisa nyaman dengan model sepatu seperti itu sepanjang hari?


"Augusto, aku pikir, sepatu para pegawai perlu diganti ke flatshoes dengan sedikit block heels. Atau model loafers. Ingatkan aku untuk gagasan ini nanti."


"Baiklah, Nona!"


Well, meeting.


Ingin tahu apa yang Lucky Luciano lakukan? Huufttt ... rindu.


Tuan Abner mengirim pesan untuk camping keluarga dalam waktu dekat. Reinha pikirkan tempatnya. Bayangkan akan bersama Marya dan Maribella sungguh menggairahkan. Carlos mungkin akan bergabung, katanya sebelum ia pergi ke Afrika. Pria itu telah mengganggunya seharian suntuk agar Reinha bocorkan hal-hal mengenai Claire.


"Rapat pagi ini untuk menyusun strategi pengenalan produk baru dan target penjualan."


"Ada beberapa model pria yang akan dipilih jadi brand ambasador."


"Aku ingin Jhon Horta!"


"Nona ... ada kandidat lain selain Jhon Horta."


"Tidak, bawa Jhon Horta padaku! Besok!" ujar Reinha tak ingin lihat hasil casting. Para stafnya saling pandang ingin utarakan pendapat tetapi Reinha tampak gigih inginkan Jhon Horta.


Mereka masih bahas tentang strategi dan target hingga menjelang lunch. Ia kemudian kembali ke ruangannya dan meneliti katalog produk di laptop.


Kejutan mendatanginya.


"Apa kabarmu, Reinha Durante?"


Suara berat menyapa di pintu dan melengkung senyuman hangat di bibirnya. Reinha melongo, mengerutkan kening. Ia kemudian berseru kegirangan.


"Magnolio Jose? Apa kabar Anda, Tuan?" Bangkit dari duduknya.


Magnolio berdiri di ambang ruang kerjanya. Postur primitif-nya berganti necis dan ia benar-benar sangat tampan terlihat hingga Reinha hampir-hampir tak kenali pria itu.


"Baik, terima kasih. Bagaimana denganmu, Reinha?"


"Aku sangat baik terlebih melihatmu berkunjung. Ya Tuhan. Tak menyangka secepat ini."


"Well, aku mampir karena harus kirimkan sesuatu dari Chiquimoreth Szeczesny untukmu, Reinha."


"Apa hanya itu? Oh, ya Tuhan aku hampir-hampir tak mengenalimu. Aku sangat rindukan Chiquimoreth. Bisakah Anda bawa Chiquimoreth kemari saat kamu berkunjung? Aku sangat rindukannya." Celotehan Reinha cukup membuat Magnolio kembali tersenyum.


Magnolio serahkan sesuatu dalam kotak kayu, Reinha tersenyum sumringah dapati kalung dari manik-manik kayu yang sangat cantik dengan sesuatu seperti gading yang diukir menyerupai bunga anggrek sebagai hiasan kalungnya.


"Oh, ini indah sekali!"


"Ya, dan cinta darinya untukmu."


Magnolio dipersilahkan duduk di sofa. Sementara Reinha menggantung kalung cantik tersebut di display accecories samping meja kerja. Ia amati benda itu dan tak berhenti tersenyum. Ia segera meraih ponsel dan kirimkan pesan pada Lucky Luciano kabari kedatangan Magnolio. Lima menit berselang satu panggilan video dari Lucky Luciano.


"Lucky ... kamu tak akan percaya ini ... Magnolio Jose mengunjungiku!" seru Reinha riang.


"Ya ya ya ...," sahut Lucky tak seantusias Reinha. Terlihat tak suka Magnolio dekat-dekat istrinya apalagi tampak akrab. Lucky Luciano tampak cemaskan sesuatu. Namun, Reinha Durante terlalu bersemangat pada pertemuannya dengan Magnolio hingga tak menggubris ekspresi suaminya. "Bisa aku lihat wajahnya? Apakah ia mampir dengan panah di punggungnya?" tanya Lucky tersenyum kecil.


"Lucky?!" sapa Magnolio. "Apa kabarmu, Tuan?"


"Baik. Apa kabarmu juga, Tuan?" tanya Lucky.


"Sangat baik," sahut Magnolio. "Kamu tak tanyakan kabar dua saudariku?" tanya Magnolio serius.


Lucky menyipit. "Kamu suka memancing, ya? Apa ikan di sungai Pesisir Timur telah habis dijarah?" tanya Lucky lekas makan hati.


"Cataleia mengirim salam. Kamu tahu, adik perempuanku itu tak bisa move on oleh ciuman-mu padanya. Ia sangat menyesal lepaskan kamu pergi!"


"Eii ei Tuan, apa yang kau bicarakan?" ujar Lucky kalang kabut. Terlihat ia akan mengumpat pada Magnolio.


"Lucky Luciano, benarkah apa yang aku dengar?!" Reinha bertanya cepat dihinggapi cemburu. Bayangan Lucky Luciano mencium Cataleia ... oh sial. Magnolio fokuskan kamera ponsel pada Reinha yang cemberut. "Kau mencium Cataleia?! Oh, si brengsek ini!" Reinha menatap suaminya murka.


"Jangan dengarkan pria gila itu! Hei, Magnolio Hose, apakah kau datang temui istriku untuk bawa gosip tak senonoh itu?" seru Lucky di ponsel.


"Calm down, man!" sahut Magnolio santai. "Nyatanya kau memang mencium adik perempuanku juga kakak perempuanku," tambah Magnolio datar. "Kau menggebu-gebu pada mereka."


"Ratruitanae juga?!" Reinha lebarkan mata. Napasnya memburu. Rasa-rasanya ingin Lucky ada didekatnya dan ia ingin pukuli pria itu. Ia ingin menjahit bibir Lucky Luciano saking cemburu. Oh ya Tuhan si brengsek itu, apakah gila wanitanya kumat?


"Oh, brengsek kau Magnolio, aku akan membalasmu!" umpat Lucky akhirnya terdengar mengandung berbagai getaran emosi dari sebelah. "Reinha, kau tak akan dengarkan bualan-nya! Aku hanya sedang kritis, dan ... dan ...."


"Sampai nanti!" ujar Reinha murka.


"Eennyaaaaaaaaa!!!??? Nooooo Baby ... dengarkan aku Enya ...."


"Ya Tuhan, teganya kau. Sedang aku hampir dimakan ikan monster kau malah sibuk menebar pesona pada wanita lain?" Menebar pesona adalah kelebihan suaminya.


"No no no, Enya! Adik perempuannya merayuku saat aku sedang koma. Kau tak boleh dengarkan iblis terkutuk itu. Hei, Tuan, menjauh dari istriku! Aku akan membalasmu nanti, Magnolio Jo...." Pekikan panik Lucky Luciano terdengar dari seberang. Reinha akhiri panggilan sebelum kata-kata Lucky habis dan memblokir nomor suaminya.


Magnolio tak tahan geli. Ia tersenyum senang saat wajah Lucky Luciano terlihat tak beraturan.


"Apa Anda serius Lucky lakukan hal itu pada kedua saudarimu?"


"Ya. Tapi, jangan salah paham padanya Reinha. Pria itu rindukanmu dalam mimpi panjang. Dia terus menyebut namamu. Kau tahu bahwa meskipun kritis, pesonanya tetap bertebaran secara alami! Kedua saudariku menyukai Lucky Luciano, manfaatkan kondisinya yang sekarat. Maafkan mereka juga. Suamimu sangat setia. Ia berulang kali katakan milik seorang gadis bernama Reinha Durante. Aku hanya iseng tadi jahili Lucky Luciano!"


"Aku tak akan ijinkan suamiku pergi ke Pesisir Timur lagi," kata Reinha jengkel.


"Oh ayolah, Nona! Ratruitanae akan menikah. Cataleia juga menyusul. Lagipula, sudah kubilang aku hanya usil padanya."


"Dan Anda, Tuan? Apakah kamu akan tetap melajang?" tanya Reinha. Seorang staf antarkan dua cangkir teh dan croissant.


"Aku masih sibuk berjuang!" jawab Magnolio.


"Mumpung di sini, tak ingin temui dia?"


"Siapa?!" tanya Magnolio minum tehnya.


"Aku perlu aku sebutkan namanya?" goda Reinha. Meski tampak berakhir kesalnya tetapi ia benar-benar dihasut oleh cemburu di kedalaman dirinya. Oh, brengsek kau, Lucky Luciano. Bisa-bisanya mencium puteri-puteri Thomas sedangkan ia menghadang maut mencemaskan-nya.


Awas kau brengsek!


"Aku tidak yakin ingin bertemu dengannya!"


***


Home - YouTube - Searching.


Oriana Fritelli.


Suara pewarta berita, Oriana Fritelli, dari saluran YouTube terus bergema dari sana. Magnolio meneguk minuman sedikit.


"Politik adalah seni lembut untuk mendapatkan suara dari orang miskin dan dana kampanye dari orang kaya, dengan berjanji untuk melindungi satu sama lain. Dikutip dari Oscar Amringer. "Jadi, jika kita berbohong pada pemerintah, itu adalah kejahatan. Jika pemerintah bohong kepada kami, itu politik. Oleh Bill Murray."


Oriana Fritteli sangat gencar mengabarkan kondisi Pesisir Timur sekembalinya dari sana. Dalam sebuah film dokumenter berdurasi 1 jam 30 menit, Oriana Fritteli memotret kondisi terbaru dan up to date dari kawasan Pesisir Timur. Oriana menyatakan mendukung perjuangan para penduduk Pesisir Timur untuk tak biarkan sejengkal pun tanah mereka dirusak untuk ketamakan. Kegiatan tambang hanya akan merusak lingkungan. Tak ada yang selaras antara pertambangan dan kelestarian alam. Meskipun banyak ahli ekologi meyakinkan dapat mencegah kerusakan setelah aktivitas penambangan. Film dokumenter lewat ponsel itu telah menggugah banyak pihak. Termasuk dari para pemerhati lingkungan, para mahasiswa yang kemudian berdiri bersama Oriana untuk unjuk rasa, tanda tangan petisi. Oriana terlihat memaksa pemerintah menoleh pada Pesisir Timur yang sangat tertinggal dan terabaikan, namun miliki pesona hutan yang luar biasa indah.


Suara Oriana masih terus terdengar.


Next ....


Pertumbuhan Ekonomi negara dalam beberapa tahun terakhir mencapai 8 - 9% per tahun. Kegiatan perekonomian yang makin masif didukung usaha pemerintah di bidang ekspor produk semakin aktif, sehingga sangat berpengaruh pada pendapatan per kapita masyarakat mencapai beberapa kali lipat. Data tercatat, kategori penduduk miskin negara ini semakin berkurang.


Next ....


Pemerintah dan warga Pesisir Timur berjalan disharmoni sebab terdapat stereotip negatif yang melekat di antara kedua belah pihak. Suku pedalaman mendapatkan label negatif, dianggap pemberontak sebaliknya penduduk Pesisir Timur mencap pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab karena bebaskan pengerukan liar terjadi di Pesisir Timur. Pemerintah dianggap pemeras dan sejuta klaim negatif lainnya. Stereotipe ini kemudian digeneralisasikan secara turun-temurun sehingga konflik ini tak berkesudahan. Kita bisa lihat akhirnya.


Mereka bukan orang-orang yang kasar dan liar. Kehidupan mereka sangat sederhana dan secara personal, aku tak mengakui peristiwa yang menimpaku sebagai sebuah penculikan oleh Thomas Adolfus. Beliau punya tujuan mulia untuk wilayah tanah air mereka. Pemerintah hanya perlu berdiri di sisi masyarakat Pesisir Timur. Sudah saatnya pemerintah merangkul Pesisir Timur dan temukan solusi untuk keselarasan hidup yang lebih baik.


Diulang berkali-kali.


Magnolio menyukai suara wanita itu. Bahkan saat pertama kali, prajurit mereka menggiring Oriana padanya, hal yang paling menarik dari wanita itu adalah suaranya. Suara berat indah, representasi kepribadian seseorang yang berani, lugas dan tegas. Sorot mata Oriana tajam dan tak mudah digertak. Wanita yang luar biasa.


Suara bell di pintu diikuti dengan pemberitahuan.


"Service room, Tuan Javier."


Seorang pelayan masuk, antarkan banyak makanan. Layanan yang bagus. Ia jarang ke Ibukota setelah resmi jadi insinyur. Bisa dihitung dengan satu tangannya. Mereka tinggal di negara ini tetapi merasa tak miliki negara ini. Itu dikarenakan, mereka dianggap pemberontak. Jika identitas mereka terbongkar, ia akan hadapi banyak pemeriksaan dan birokrasi. Mereka punya dua identitas tetapi tak asal digunakan. Dirinya dan adik-adiknya menimba ilmu di wilayah barat dan saat itulah "identitas lain" mereka digunakan seperti saat ini.


Di Pesisir Timur tak ada hotel, mobil mewah dan gedung-gedung megah, tak ada kehidupan sebaik di tempat ia sedang berdiri. Ia menghela napas panjang. Mereka benar-benar terpinggirkan padahal mereka punya harta karun.


Kehidupan di mana wanita reporter bernapas, terlalu mewah untuknya. Jadi, ia dan Oriana seperti samudera dan langit.


"Tuan, Anda butuh ditemani?"


Sebuah tangan terulur memeluk pinggangnya, merayap di dadanya dan berbisik di telinganya sangat ekspresif, menggoda dan liar. Darimana si wanita datang? Ia sibuk dengan pikirannya dan terbenam pada Oriana.


"Pergilah! Aku tak butuh layanan kamar yang seperti ini!"


Luar biasa, mereka bahkan mengirim seorang wanita untuk menghiburnya. Ia berdecak.


"Tidak, aku ditugaskan untuk temani Anda!


"Aku ingin sendiri!"


"Ayolah, Tuan!"


Ponselnya berdering, ia melihat layar dan satu number private.


"Magnolio Jose?!" sapa seseorang dari seberang.


Ia kenali suara penelpon.


"Lucky Luciano?!"


"Kuharap kau suka kejutan dariku!"


"Kejutan?"


"Selamat menikmati pertunjukan, Brengsek!"


Pintu suite-nya diakses masuk, beberapa waktu berselang detak sepatu seseorang terdengar berjalan penuh percaya diri. Magnolio spontan berbalik sedang si wanita layanan memeluknya erat. Rahang Magnolio seketika membatu dapati Oriana di dalam ruangan itu, berdiri menatap tanpa ekspresi padanya.


"Apa aku mengganggu?" tanya Oriana beberapa saat kemudian setelah berhasil mengontrol keterkejutan. Mata sang wanita membentur layar televisi. Channel pribadinya sedang di-view. "Aku kemari atas permintaan Reinha Durante," tambah Oriana mengangkat card keylock hotel.


Magnolio berusaha lepaskan diri dari si wanita. Bicara dengan bibir nyaris terkatup pada si wanita.


"Pergilah! Aku tak butuh la ...." Baru sadar. Bukan layanan kamar tetapi dikirim Lucky Luciano.


Shits!


"Aku pergi!" kata Oriana saat Magnolio kelihatan seperti patung hidup sementara seorang wanita menjalar di tubuh pria itu.


"Tidak! Jangan! Orquídea ... " ujarnya pelan. Terlalu pelan untuk didengar. Dan terlalu terlambat untuk mencegah. Wanita itu berbalik dan pergi dari sana tidak tergesa-gesa, sama seperti saat ia datang. Seakan tak heran.


"Brengsek kau, Lucky!" guman Magnolio di ponsel, mendorong si wanita kiriman menjauh darinya. "Tolong tinggalkan aku!" desisnya. Ia mengambil mantel dan bergerak keluar.


Suara tawa keras dan puas terdengar di ponsel. "Rasakan itu brengsek. Kau tampak santai tadi, saat buatku kepayahan! Mengapa kau terdengar panik sekarang?"


"Pertunjukan selesai," keluh Magnolio menahan geram.


"Apa dia pergi? Selamat habiskan harimu untuk membujuknya!"


"Aku tak akan lakukan itu, Lucky! Kau tahu, aku tak akan mengejarnya!"


"Oh ayolah! Apakah kau akan bertingkah seperti pecundang?"


"Terserah, apa katamu!"


"Katakan tak ingin mengejar, tapi kau terdengar bicara sambil berlari!" ejek Lucky dari seberang. "Butuh bantuan untuk membujuknya?" tanya Lucky tak berhenti mengolok-olok.


"Harusnya kau pikirkan dirimu sendiri, Lucky Luciano. Nona Reinha sangat murka padamu!"


"Ya, brengsek. Berkatmu!"


"Sampai jumpa, Lucky!"


Magnolio matikan ponsel, kesal pada Lucky Luciano tetapi tak berdaya. Ia yang mulai keisengan. Tak menduga dapat serangan balasan. Harusnya ia tak mengganggu Lucky Luciano. Magnolio kehilangan Oriana menduga wanita itu melangkah dengan gerakan cepat setelah keluar dari kamar ke parkiran lantai itu, tak ingin dikejar. Tepat seperti dugaannya. Oriana terlihat di parkiran melangkah tergesa-gesa ke arah mobil putih. Magnolio mengejar wanita itu tepat ketika Oriana meraih pintu mobil.


"Orquídea Branca ...," panggil Magnolio pegangi tangan Oriana yang hendak membuka pintu mobil. "Bisa kita bicara?" tanya Magnolio menatap Oriana tak berharap banyak.


"Apa Anda sudah selesai bersenang-senang?" tanya Oriana tenang dan dingin, persis ketika pertama kali mereka bertemu. Wanita itu tenang dan dingin, seakan tak takut apapun. "Apa Anda nikmati hiburan di Ibukota?"


"Orquídea ...."


"Oriana ...."


Magnolio mengangguk iyakan dengan cepat tak ingin berdebat. Orquídea Branca, anggrek putih, sebab kulit Oriana sangat putih dengan sedikit bintik-bintik cokelat kemerahan, seperti Anggrek Putih di Pesisir Timur yang sangat langka.


"Bisakah kita bicara?" Magnolio lepaskan pegangan tangannya sedikit mundur. Bicara ragu-ragu. Pasrah saja jika Oriana mendepaknya pergi. Ia tak punya sesuatu yang bisa ditawarkan pada wanita itu. Hanya dorongan ingin melihatnya, lewati batasan yang ia buat sendiri dan si brengsek Lucky Luciano telah mengacau.


"Yang tadi itu ...."


"Anda tak perlu beritahu aku, Tuan."


Magnolio mengangguk, kehilangan kata. Lebih mudah berorasi di depan banyak prajurit ketimbang mengajak bicara wanita di depannya. Ia temukan dirinya kelu tanpa daya.


"Apa kabarmu?" tanya Magnolio. Hanya itu yang ada di pikirannya atau setidaknya itu adalah pertanyaan otomatis yang ada di otak setiap manusia.


"Baik. Bagaimana Anda?"


Beberapa petugas keamanan berpatroli ditemani seorang petugas kepolisian. Mereka bicarakan sesuatu dan amati Oriana juga Magnolio dari kejauhan. Mengangguk-angguk ke arah mereka. Sementara kedua orang diawasi berdiri satu depa jauhnya dan tak saling bicara. Hanya saling memandang dalam diam.


Apa yang diharapkan dari seorang Magnolio Hose?


"Aku memikirkanmu!" kata si pria mendadak, tercetus begitu saja. Ia kemudian lebih terpana dari Oriana, tampak kaget sendiri setelah bicara dua kata itu.


Hening. Kata-kata si pria cukup untuk berikan semacam percikan di antara mereka. Oriana datangi Magnolio, dekati pria itu dengan langkah lambat tanpa lepaskan tatapannya dari Magnolio Hose.


"Bisakah aku meminjam mantel Anda, Tuan?" tanya Oriana melirik mantel di tangan Magnolio yang belum sempat pria itu pakai, mungkin terburu-buru. Dengan kaku tangan si pria tersodor.


"Apa kamu kedinginan?" tanya Magnolio.


Oriana menggeleng, ia bentangkan mantel, sedikit berjinjit selimuti tubuh Magnolio. Sekali sentakan ia menarik pria itu membungkuk padanya hingga pria di depannya berhenti bernapas dan segera linglung dalam hitungan detik.


"Orquídea ...?!"


"Apa yang membawamu kemari, Tuan?" tanya Oriana dengan tatapan berani yang mengintimidasi. Para security yang mulanya mendekat untuk memeriksa mereka berhenti di tengah jalan. Mereka bertukar pandang, tak mungkin memeriksa sepasang kekasih yang terlihat kasmaran tetapi terkesan kikuk.


"Orquídea ... " guman Magnolio lirih.


Meski telah merengkuh kerah-kerah mantel Magnolio, menghapus jarak di antara mereka Oriana tetap butuh sedikit jinjitan untuk mencapai tujuannya. Mata biru Magnolio Jose seperti samudera luas, begitu memikat untuk dilihat. Ia seakan tenggelam di dalamnya. Sementara si pria kedapatan seperti akan pingsan terkena panah beracun. Ia pegangi pinggang si wanita erat merasa hampir limbung. Oriana mengecupnya halus.


"Aku juga memikirkan Anda, Tuan."


***


Ngirim Vote-mu....


Jangan lupa komentar. Ini Bon Chap untuk yang minta kisah Magnolio dan Oriana.


Jangan lupa komentarmu, aku mencintaimu.