
Reinha membisu di tempatnya berdiri dan tersadar saat Lucky meraih tangannya dan ia separuh terengkuh ke dalam mobil sedang Elgio dan Marya telah lebih dulu naik ke mobil Elgio.
"Masuklah!" kata Lucky dengan nada suara dingin pada Reinha, pasangkan gadis itu sabuk pengaman lalu ambil alih kemudi. Pria itu menyetir berbalik arah dalam diam, begitu abu-abu sementara mobil Elgio mengekor di belakang mereka. Lucky selalu keluarkan kata-kata; mari kita putus, tinggalkan aku, campakkan aku ..., ujung-ujung ia menggapai Reinha kembali, lebih dekat ke hatinya. Mengisi gadis itu ke jantung, di pusat kehidupannya. Seakan terprogram, tiap helaan napas, nama Enya disebut, tiap hembusan napas, ia inginkan Reinha Durante.
Saling tersiksa hanya kebisuan di sepanjang jalan bahkan tak ada lagu meskipun lagu-lagu patah hati. Seakan hati sedang menggali kuburan bersiap untuk kematian cinta, seakan tanpa harapan. Lucky ingin tahu apa yang Reinha inginkan, sebab ia kebingungan, kehabisan cara untuk ungkapkan pada Reinha betapa ia sangat mencintai gadis itu dan tidak ingin mereka berpisah.
"Apa maumu, Enya? Tolong katakan padaku!"
"Aku tak tahu," sahut Reinha pendek.
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?"
"Bukan kau masalahnya, Lucky, tetapi aku!" tambah gadis itu.
"Aku tak akan menemui September, jika kau mau. Aku bisa abaikan bayi itu. Untukmu aku bisa lakukan apapun meski melawan nurani sekalipun. Lagipula, kemarin itu yang terakhir," kata Lucky mendung.
"Ya Tuhan, aku tak tahu apa masalahku?" keluh Reinha setengah histeris. "Haruskah aku beritahu kau secara detil segala rasa yang berkecamuk dalam hatiku? Sedang aku sendiri tak mampu mengerti diriku sendiri?" tambahnya uring-uringan.
Jika Reinha melarang Lucky temui September dan si bayi, ia merasa telah jadi seorang wanita jahat. Mengutuk masa lalu Lucky Luciano juga buang-buang energi. Ia tak bisa tinggalkan Lucky, demi Tuhan, pria itu telah berubah jadi pria baik-baik. Reinha tak akan biarkan Lucky kembali ke masa lalunya dan kembali jadi jahat. Mereka telah lalui banyak hal rumit dan kelam, manis, suka duka, ia tak mungkin pergi begitu saja dengan hati lapang seolah tak terjadi apa-apa. Orang berpikir ia sudah gila tetapi bukan mereka yang rasakan cintanya. Meski Lucky bertanggung jawab pada bayi itu, Reinha tak akan biarkan September dapatkan Lucky Luciano. Ia akan egois pada September tapi tidak dengan bayinya.
"Baiklah, bisakah kita nikmati saja malam ini, Enya? Aku harap suasana hatimu membaik," ujar Lucky akhirnya coba pahami Reinha. Sulit bagimu punya kekasih dengan banyak skandal, sesuatu yang tak habis-habisnya ia sesali.
Kembali ke Kafe ....
Arumi pergi ke ruang karyawan dan memijat betisnya yang keram akibat terlalu lama berdiri. Punggung dan tangannya juga pegal-pegal. Kapan ini akan berakhir? Ia tak berhenti mengomel. Sembari bertukar pakaian, Arumi pikirkan kondisi Aruhi. Kakaknya bertengkar dengan Elgio Durante gara-gara Irish Bella. Arumi mengenal wanita itu, Irishak Bella, reporter cantik dan cerdas. Arumi hempaskan napas berat, Aruhi punya saingan berat. Seandainya ia tak kacaukan pernikahan Aruhi, Kakaknya itu tak perlu takut kehilangan Elgio Durante seperti tadi. Apa yang telah ia lakukan pada Aruhi?
Ethan masih terpaku setelah drama cinta sahabat-sahabatnya berlalu dan begitu kaget saat Arumi pamit bersiap-siap dengan tas hendak pulang. Ethan tak tahu bahwa Arumi punya jadwal temu dengan manager dari rumah produksi untuk jadwal ulang pemotretan produk.
"Apa sudah waktunya pulang?" tanya Ethan menyipit pada Arumi saat melihat gadis itu bersiap-siap.
"Belum, tetapi kau telah menyiksaku seharian sementara kau bersenang-senang!" balas Arumi jengkel.
"Kau masih cemburu pada kakakmu?!" tanya Ethan curiga.
Arumi tergagap. "Bu,bukan itu maksudku, Ethan! Apa aku sebutkan nama kakakku tadi?"
"Lalu?!" Ethan mendekat dengan dua tangan di belakang. "Kau tidak berpikiran untuk sakiti, Marya lagi kan?"
Arumi menatap Ethan gundah gulana. "Apakah Aruhi baik-baik saja? Kakakku terlihat tidak sehat, Ethan!"
"Buang omong kosongmu, Arumi! Kaulah yang memulai semua hal buruk padanya!" sambar Ethan dingin. "Buang sampah dulu sana! Lalu ambil bukumu dan duduk belajar di pojok!" katanya lagi lebih kasar. Nadanya seru semua tetapi Arumi mulai terbiasa.
"Ethan, aku harus pergi!" sahut Arumi. Ia tak mungkin bilang pada Ethan ada janjian.
"Tidak, kau akan pulang saat jam kerja selesai. Itu aturannya! Lagipula, kita kedatangan banyak pelanggan. Ambil celemekmu!"
Arumi kesal hingga ke ubun-ubun tetapi tak berani membantah Ethan. Sekelompok remaja masuk dan ambil tempat duduk. Salah satu di antara mereka mengantri. Arumi sigap pergi ke balik counter setelah memakai kembali seragam kerjanya dan mulai mencatat pesanan.
"Dua latte, 1 flat white, 1 affogato, Nona! Tambahkan 8 croissant, 2 pack nachos," pesannya sembari menunjuk ke etalase. "Bisa tolong antarkan ke meja kami, Nona?" tanya sang pelanggan.
"Baiklah, silahkan tunggu sebentar!"
Ethan sibuk memeriksa stok susu dan sirup, list ulang semua camilan yang kosong untuk diisi ulang ke etalase. Arumi masih tak terlalu mahir dengan affogato. Gadis itu hanya bisa bikin kopi yang umum dipesan. Sementara, musik akustik You are My Sunshine terdengar dari pemutar musik.
"Aku akan bantu kau bikin affogato, perhatikan baik-baik Arumi, kau tak bisa terus-terusan andalkan aku," ujar Ethan dan mengajari gadis itu. Beruntung ia berhenti dari lembaga privat karena bayaran Nyonya Salsa yang cukup tinggi untuk jadi guru les dan pengawas Arumi. "Satu sendok ice cream dan double shoot espresso."
Arumi bengong saat Ethan menuntun tangannya. Otaknya langsung cemerlang saat tangan panjang Ethan menyentuhnya, bersinar terang seperti lampu-lampu kota di malam hari. Sementara hatinya berubah seperti lirik lagu, benderang setelah lama kecokelatan. Sayangnya, Ethan Sanchez cuma cinta pada Kakaknya, ditambah dirinya yang punya level kebodohan platinum, lupakan saja soal punya rasa pada Ethan. Ia akan belajar dari Aruhi, jadi baik dan rendah hati walau mungkin susah, kemudian akan temukan seseorang yang benar tulus padanya.
"Berhentilah berpikir jadi model iklan, Arumi! Ibumu telah menutup masa depanmu untuk jadi artis!" kata Ethan gusar saat dapati Arumi melamun jauh entah kemana.
"Mengapa Ibu lakukan itu padaku?" keluh Arumi jengkel.
"Tanya dirimu sendiri!" gerutu Ethan
"Say cheese, Arumi!" Ethan lebarkan senyuman Arumi gunakan jempol dan telunjuknya. "Customer adalah raja, jangan masam pada mereka karena urusan pribadimu!"
Meskipun hatinya lagi bad mood, Arumi pasang senyuman manis, senyum penuh kepalsuan dan antarkan pesanan.
"Kau terlihat tak asing, Nona," sapa seorang di antara mereka. "Aku benarkan?" tanya si pria pada teman-temannya.
"Ya, kau benar. Dia terlihat mirip seorang artis," sambung lainnya.
Arumi tersenyum. "Trims untuk sanjungannya. Wajahku pasaran, Kak!" sahut Arumi merendah. Ia tak ingin dikenali sebagai pelayan kafe. Apa-apaan? Ia tak pernah pergi ke kafe yang tidak terkenal meski hanya untuk duduk minum dan bersantai; bukan seleranya. Oh apa ini, ia mulai meninggi padahal ia harus rendah hati. Susah juga ternyata.
"Kamu sangat cantik, Nona," kata salah seorang di antara mereka.
"Boleh kenalan? Eh? Kau benar, wajahnya mirip Arumi Chavez," timpal yang lain.
"Benaran dia. Namanya Arumi, lihat saja papan namanya!" seru yang paling pertama menegur. "Mengapa kamu bekerja di sini?" tanya si pria bersemangat.
"Aku berhenti jadi artis karena harus serius sekolah, silahkan dinikmati, trims sebelumnya sudah mampir kemari," katanya ramah.
"Ya, kami dengar kau menyuap produser untuk dapatkan iklan. Aku tak percaya sih. Bisakah kau iklankan kopi ini dan aku buatkan video? Ini bisa mengubah pandangan orang tentangmu, Nona Arumi," kata seorang yang lain di antara mereka. "Pemirsa bisa lihat bahwa kau memang gadis bertalenta bukan karena sogokan seperti narasi akun gosip."
"Tidak, maafkan aku! Silahkan dinikmati!" tolak Arumi sopan.
"Ayolah, jangan sungkan, Nona!" Seseorang yang duduk paling pinggir, pegangi tangan Arumi, menahannya untuk tidak pergi dulu. "Bisakah temani kami? Ini kejutan melihatmu di sini. Kamu terlihat sangat eksklusif di televisi dan tak mudah dijangkau. Sungguh keajaiban, bertemu denganmu di sini!"
"Em, tidak teman-teman. Maafkan aku, bisa tolong lepaskan tanganku. Aku hanya harus bekerja." Arumi coba lepaskan diri. "Bisa lepaskan aku?"
"Ayolah, kau sudah punya pacar?" tanya si pria tak ingin lepaskan Arumi, menatap dengan kekaguman seorang pria pada wanita, ketertarikan besar. Arumi sangat cantik bahkan dengan seragam pelayan kafe.
Ethan bawakan 3 bungkus nachos. "Man, singkirkan tanganmu darinya! Aku pacarnya," kata Ethan tersenyum lebar tetapi penuh serangan, cengkeram tangan si pria kuat hingga pegangan pada Arumi lepas.
Mereka angguk-angguk dengan kening berkerut tetapi terus menatap Arumi.
"Aku tak nyaman, pacarku di ganggu. Bisakah nikmati saja pesanan kalian? Aku tambahkan satu nachos sebagai salam perkenalan. Aku Ethan Sanchez dan mantan artis ini, pacarku. Ia berhenti jadi artis karena suka padaku dan tak tega aku diekspos sebab aku cuma pekerja kafe." Ethan mengedip genit pada Arumi yang menatap Ethan atas bawah.
"Ooopss, sorry Ethan. Kupikir Nona Arumi masih single," sahut si remaja yang pegangi Arumi tadi.
"Tidak, dia bersamaku. Nikmati waktu kalian dan maaf aku menyela," kata Ethan sopan dan lingkari pergelangan tangan Arumi, bawa gadis itu pergi ke balik counter. Ethan pandangi Arumi. "Kau tak harus ladeni pelanggan Arumi!"
"Kau selalu bilang jadikan pelanggan raja dan teman dekat, ladeni mereka sebaik mungkin. Pelanggan regular bisa jadi teman dekat bahkan mungkin bisa bawa keuntungan buat kafe?" sahut Arumi. "Apa yang terjadi?"
"Bukan berarti kau berlebihan senyum! Kau jualan kopi bukan model iklan pasta gigi. Kau tak perlu senyum lebar hingga gusi-gusimu nampang di luar!" Ethan mengetuk gadis itu keras.
"Ethan, ada apa denganmu? Kau bilang harus banyak senyum, senyum palsu pun tak apa?" Arumi meringis kesakitan. Mengapa pria ini suka sekali mengetuk kepala orang lain?
"Baiklah, kau mulai pintar, kuijinkan kau pulang cepat hari ini! Jangan coba-coba berbelok dan keluyuran sebab ini hampir malam. Aku mengawasimu, Arumi Chavez."
Arumi mengangguk buru-buru menghilang sebelum Ethan Sanchez berubah pikiran.
***
Malam merambat naik ketika mobil-mobil beriringan menuju sebuah tempat terpencil. Pondokan tepi danau di tengah hutan Pinus berubah gemerlap. Queena terlihat mondar-mandir di luar pondokan dengan Axel Anthony menunggui tahan-tahan sabar.
"Berhentilah jika kau capek! Apa yang dilakukan bedebah itu? Menyuruhmu sediakan makanan untuk mereka makan malam romantis dengan kekasihnya?" Axel berujar tak senang.
"Kau terus mengeluh dari tadi, Axel? Tak ada yang minta kau untuk ikut, hmm?! Lagipula, Lucky tak memintaku, ia mungkin akan sangat marah saat lihat aku di sini malam-malam begini," balas Queena menata karpet dan letakan banyak makanan di atas stage yang disiapkan Francis dalam waktu singkat.
"Jangan sampai kelelahan, Queena!" kata Axel lagi terganggu wanita itu bergerak berjam-jam dengan lincah. Tiap Queena bergerak, Axel merasa ngilu-ngilu.
"Pulanglah! Aku akan pulang bersama Francis."
"Tidak, kau akan ikut aku malam ini! Bukankah kau kelewat menyiksaku Queena? Aku hanya ingin bersama bayiku," keluh Axel suram.
"Hei Pequeena, kenapa kau di sini jam segini? Mana Claire?" tanya Lucky tak senang.
"Uhh, akhirnya kau datang Lucky Luciano!"
"Axel?!" panggil Queena pelan tetapi tajam menghujam hingga pria itu diam.
"Aku akan pulang sebentar lagi," senyum Queena mengembang pada Reinha yang muram.
"Queena akan tinggal denganku mulai malam ini, Lucky. Nama bayinya nanti Anthony bukan Luciano! Kau bisa buat bayimu sendiri dan mengurung mereka di Purimu!"
"Axel?!" seru Queena makin gerah.
"Masalah kalian belum beres juga?" tanya Lucky berusaha tenang. Ingin sekali bungkam mulut Axel hingga berhenti bicara soal bayi.
"Queena menolak tinggal bersamaku!"
"Baiklah, mari kita pergi setelah aku selesai dengan hidangan penutup!" keluh Queena saat wajah Reinha makin muram. Entah ada apa dengan mereka?
"Hai Queena," lambai Reinha malas-malasan.
Sementara Elgio masih duduk dalam mobil temani Marya yang hanya bersandar padanya. Marya tidak ingin kembali ke Durante Land atau pulang ke rumah Ibunya. Ia hanya ingin ikut ide untuk kemping bersama.
"Kau masuk angin sepertinya?" Elgio mengaitkan jemari mereka, tak percaya hari ini lewati dengan berat. "Aku akan kembali berkantor di rumah dan tak akan temui wanita manapun," kata Elgio tak percaya ikuti saran Ethan Sanchez.
"Irish punya fotomu dari Al Shiva," ujar Marya sendu.
"Gadis di sekolahmu juga akan punya foto-ku jika mereka datang pada Al Shiva, mau taruhan?" Elgio mendekap kekasihnya erat. "Aku hanya mencintaimu, saja. Banyak wanita di sekelilingku, Marya. Saat aku di New York tetapi aku tak tertarik, aku hanya memikirkanmu. Satu bulan tak cukup untuk mengenaliku, Marya? Aku pria logis, sensitif dan komitmen pada sebuah hubungan. Aku sangat tradisional Marya, tak bisa bayangkan diriku dalam hubungan non-monogami. Aku sulit jatuh cinta, hanya padamu saja, aku serahkan diriku! Harusnya kau mengenal aku lebih baik."
"Aku takut kau berubah. Bagaimana jika kau melihat karakter lain yang lebih baik dariku, lebih unggul dariku dan menyukai mereka?"
"Aku bukan pria seperti itu, sudah kubilang aku sulit jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta padamu, akan intens menginginkanmu bahkan hanya bergairah padamu, Marya."
Meski hati terpukul, ada rasa yang berbeda oleh kejadian siang tadi, Marya coba pahami Elgio. Walaupun tak bisa anggap angin lalu.
"Irish Bella akan wawancarai kami, Elgio. Aku takut tak bisa hadapi dia! Kau tahu aku jenius untuk materi pelajaran, tetapi aku tak pandai mengatur kata-kata," ucap Marya.
"Kapan wawancaranya?"
"Tak tahu, beberapa hari lagi!"
"Be yourself, Marya. Kau sangat unik dengan kepribadianmu yang lemah lembut, kau bisa mengatasinya!"
"Ia pasti akan mencariku, ponsel salah satu kru ada padaku."
"Eh?! Mengapa bisa begitu?"
"Mereka mengambil fotomu tadi, aku merebutnya dan kusimpan."
"Jika begitu, aku yakin Irish akan mencarimu ke Durante Land besok."
"Tidak, aku akan pergi ke studionya," kata Marya. Ia mungkin terlihat rapuh dan lemah, tetapi Elgio adalah miliknya. Irish baru saja menabuh genderang perang, ia akan ladeni Irish meski belum temukan cara. Ia tak seberani Reinha, tak masalah, Elgio Durante adalah kekasihnya utuh dan mutlak miliknya. Irish, atau bahkan jelmaan malaikat pun tak boleh menyentuh Elgio. Sesuatu dalam dirinya membara.
Lucky datangi mobil dan mengetuk kaca jendela. Pria itu menyodorkan selimut hangat.
"Apa kalian ingin makan di mobil? Angin malam tidak begitu bagus tetapi aku bawa selimut, juga ada api unggun."
"Kami akan segera bergabung, Lucky. Trims untuk undangan makan malamnya."
"Makanan bisa dingin dengan cepat karena angin danau."
"Baiklah," sahut Elgio berat hati lepaskan pelukan. Turun dari mobil dan membantu Marya. Pria itu selimuti kekasihnya dan melangkah dalam dekapan pada api unggun.
"Ini Elgio Durante dan istrinya Nona Marya. Elgio, ini Pequeena dan Axel Anthony," kata Lucky Luciano, masih tak tenang karena Reinha duduk di dalam situasi hati rumit.
"Hai Tuan Elgio Durante," sapa Queena. "Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung setelah situasi aneh dan rumit beberapa waktu lalu. Anda lebih tampan dari yang terakhir kali kulihat. Kau tahu, Ayahku sangat memujamu. Aku berharap punya bayi setampan Anda, Tuan Elgio!" kata Queena bercahaya di samping api unggun sedang Axel mengerut sempurna. Apakah wanita hamil memang kadang aneh? Bagaimana bisa bayinya lahir dengan wajah tampan Elgio Durante?
"Benarkah? Aku merasa tersanjung, Nona!" sahut Elgio.
Axel tampak tak suka wanitanya terang-terangan memuja Elgio Durante. Ia cemburu.
"Ini kekasihku, Ayah dari bayiku, Axel Anthony. Kami akan pergi sebentar lagi," kata Queena tiba-tiba tersenyum pada Axel hingga Axel hampir jatuh dari tempatnya duduk, meleleh karena Pequeena perkenalkan dirinya dengan cara yang manis. Ia melongo pada wanita yang pernah dikasarinya itu. "Bangunlah, kita akan pulang ke rumahmu seperti maumu!" kata Queena lagi tak berhenti buat pria itu takjub.
"Oh, Tuan Axel Anthony, apa kabar?" sapa Elgio sopan. "Aku yakin bayinya akan setampan Anda. Terima kasih Anda telah selamatkan adikku beberapa waktu lalu. Aku kehabisan kata. Bisakah Anda dan Istri Anda, mampir ke Durante Land akhir Minggu ini untuk jamuan makan malam?" ujar Elgio sumringah, bicara pada Axel.
"Sebenarnya, aku tak selamatkan adikmu. Aku hanya lakukan itu untuk dapatkan wanitaku dari Lucky Luciano. Tetapi, aku senang salah paham berakhir. Semoga malam Anda menyenangkan Tuan Durante."
"Tuan Elgio, jika tak keberatan bisakah aku memeriksa istri Anda? Ia terlihat sangat pucat," tawar Queena memohon pengertian Axel. Pria itu tersanjung berulang kali. Ia tak perlu repot-repot romantis, Queena mengalahkannya.
"Wah, kebetulan. Marya muntah-muntah sejak tadi dan masih mual hingga saat ini. Ia juga merasa pening."
"Hai Marya, mau ikut denganku?" Queena ulurkan tangan pada Marya dan saat Marya mengangguk, Queena menuntunnya pergi ke pondokan.
Reinha menyipit pada Kakaknya, berbisik dekat api unggun.
"Kau belum tidur dengannya kan, Kak?"
"Enya?!" Mata Elgio mengecil hingga kerutan tampak di sisi-sisi kelopak matanya.
"Jawab saja, aku!" Reinha awasi kakaknya, saat lihat wajah Elgio sekali tebak Reinha langsung tahu. "Sudah kuduga, pengendalian dirimu buruk sekali, Kak. Kau tahu, jika Marya hamil sekarang, ia akan punya bayi 9 bulan lagi. Bisa dibayangkan ia ikut ujian akhir sambil menyusui bayi. Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?" Reinha memukuli lengan kakaknya gemas. "Marya bahkan belum berusia 18 tahun, Kak! Ya Tuhan, ia akan mual-mual pagi hari dan tersiksa saat pergi ke sekolah. Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan, aku tak percaya kau lakukan itu padanya?" Gadis itu merinding geli sedang Elgio menegang di sisinya. Lucky Luciano perhatikan Reinha yang mendamprat kakaknya habis-habisan. Jika bisa, gadisnya itu ingin menendang Elgio Durante ke danau. Akan susah kini hindari percakapan soal bayi sementara ada bayi di mana-mana, makin runyam saja.
"Enya?! Kau terdengar seperti Ayah saat mengomel." Elgio pikirkan perkataan Reinha. Bayangan Marya dengan perut besar pergi ke sekolah berhasil bikin ia bergidik. Abner akan menggantungnya dengan kain seprei di balkon. Lihat saja nanti!
"Tentu saja, semoga arwah Ayah Leon mampir nanti malam dan memukuli kepalamu! Jika 21 tahun terlalu lama, setidaknya kau bisa tunggu setahun lagi saat ia lulus sekolah. Kau ini bodoh atau apa, Kak?"
Elgio menggigit bibirnya ingin sekali menggampar adiknya tetapi Reinha benar di segala sisi.
"Berhenti gunakan kata, bodoh! Belum tentu, Marya hamil. Dia mungkin cuma masuk angin biasa, kalian sibuk patah hati hingga lupa makan siang."
"Oh ya, semoga saja, Kak," ujar Reinha sinis.
"Lagipula, aku sangat senang jika bisa segera punya bayi. Berhentilah mengomel!"
"Kau tak pikirkan dampaknya pada Marya, Kak? Ya Tuhan, terserah kau sajalah!"
Tak bisa dipercaya, umurnya baru 18 tahun tapi Reinha Durante akan melihat banyak bayi. Ia akan jadi aunty dari bayi Elgio Durante, jadi ibu baptis dari bayi Axel Anthony dan akan jadi ibu sambung untuk bayi dari kekasihnya, Lucky Luciano. Oh tidak, ia akan jadi Ibu Baptis tetapi tak akan mau jadi Ibu Sambung. Ia akan menendang Lucky Luciano dan pacari profesor seperti saran Ethan. Apa bisa, sedang hatinya cintai pria itu tak tersisa?
"Apakah ini musim bayi bersemi?" keluhnya tambah pening, memikirkan seperti apa nanti rupa bayi dari Lucky Luciano?
Ya, Tuhan ....
***
Aku naruh visual berdasarkan deskripsi karakter. Marya seperti Thyne Blondeau kecuali warna mata cokelat terang. Tetapi deskripsi ilustrasi di beberapa chapter malah jatuhnya ke Liza Soeberano. Itulah mengapa aku gak suka ada visual karakter, kacaukan imajinasi.
Marya....
Sedang Reinha yang pemberani lebih mirip wonder woman. Aku gak bisa taruh visual Reinha sebab Reinha adalah campuran antara Kendall dan Ariana Grande. Itu susah untuk ditemukan profilnya.
Cintai aku, aku mencintaimu! Apakah kamu menyukai chapter ini, terus terang padaku di kolom komentar.