
Take the ribbon from your hair, Shake it loose and let it fall,
Layin' soft upon my skin.
Like the shadows on the wall.
Sementara lagu "Help Me Make it Through The Night" mengalun lembut, Lucky ajak Reinha berdansa ikuti alunan lembut mengurangi kegelisahan Reinha.
Pria itu bahkan bernyanyi setengah berbisik di puncak telinga sang kekasih.
Come and lay down by my side till the early morning light,
(Kemarilah dan berbaring di sisiku hingga menjelang pagi)
All I'm takin' is your time
(Semua yang aku butuhkan adalah waktumu)
Help me make it through the night
(Bantu aku lewati malam ini)
Ia sedang keluarkan jurus maut rayuan untuk tiadakan kerisauan. Tetapi Reinha terlalu fokus hingga apa yang dilakukan Lucky tak berarti sama sekali.
"Lucky, tahukah kau bahkan pasukan paling elite sedunia bisa kacau dalam operasi penyelamatan sandera? Banyak kasus sering kita lihat di televisi, Lucky. Itu buatku takut."
"Enya, aku bukan pasukan elit bukan juga militer, aku hanya seorang mafia, gangster. Kami punya gaya yang berbeda. Kami bahkan tak berpakaian loreng dan tak perlu patuhi protokol," sahut Lucky santai.
"Berhenti becanda!" erang Reinha frustasi. "Kau tahu bahwa, suasana kacau, kesalah-pahaman komunikasi di lapangan bisa bingungkan siapa saja yang terlatih, Lucky. Aku sangat ketakutan," keluh Reinha menahan isak di dada Lucky Luciano. Ia sering lihat hal-hal seperti itu dalam film-film dokumenter tentang peperangan. "Beberapa pemberitaan media tentang berbagai kasus pembebasan sandera, dalam satu tim kadang hanya tersisa seorang saja yang selamat. Padahal mereka sangat terlatih. Bagaimana denganmu?"
Lucky rapatkan pelukannya, membelai rambut gadis yang sangat ketakutan itu. Ia bisa rasakan detak jantung Reinha di dadanya. Pasti yang dipikirkan Reinha adalah mereka merangkak di semak dan baku tembak. Tidak sepenuhnya begitu.
"Enya, kau menikahi seorang mantan gangster. Suamimu baru beberapa bulan berhenti jadi berandalan. Kau tahu, operasi militer direncanakan dengan baik oleh beberapa pihak. Kadang itu disebut operasi gabungan karena libatkan pasukan khusus, inteligen, militer tetapi aku dan Francis bukan golongan seperti itu. Kami telah terlatih sejak kecil andalkan insting dan intuisi. Kau tahu Francis pengatur strategi yang hebat. Kami hanya orang-orang pragmatis dan tidak sabaran."
"Itu maksudku, kau sangat praktis tanpa pikir panjang. Aku takut pada kelakuanmu itu, Lucky!"
"Carlos telah siapkan strategi penyelamatan tanpa penyerangan, aku dan Francis menyusun rencana penyamaran. Aku tak akan bikin improvisasi yang bahayakan diriku karena seseorang menungguku. Enya, kau harus tahu satu hal lagi, mengapa Carlos memilih aku dan Francis satu tim dengannya dan pemerintah mendukung Carlos?"
Reinha tengadah menatap Lucky Luciano yang tampan. Rahangnya ditumbuhi janggut tipis tapi sangat rapi. Lucky mengecupnya pelan. Sementara lagu membuai mereka. Tangan Lucky melingkari pinggang sang gadis erat.
"Pesisir Timur adalah rumahku, Enya. Kami mengenal daerah itu dengan baik karena kami sering beroperasi di sana untuk pengiriman senjata ilegal dan banyak kejahatan lain. Sejak usiaku 13 tahun hutan pesisir Timur adalah rumahku dan suku-suku pedalaman di sana adalah teman kami. Aku bahkan mengenal Thomas dengan baik. Maafkan aku, kami akan kembali jadi penjahat untuk kelabui Thomas. Sepertinya ia belum sadar kalau aku telah bertobat dan bukan lagi pemasok senjata tetapi sebagai mata-mata pemerintah. Thomas tak akan curigai aku."
Meski itu dikatakan dengan santai, Reinha malah semakin resah. Bagaimana jika Thomas Adolfus mengetahui penyamaran itu.
"Aku akan datangi Thomas seperti biasa saat aku berkunjung untuk transaksi. Thomas bisa dibilang juga seorang bandit," tambah Lucky lagi.
"Apakah dia punya Puteri?" tanya Reinha alihkan pikirannya yang berkecamuk.
"Siapa? Thomas Adolfus?" tanya Lucky heran.
"Ya," angguk Reinha.
"Pria itu punya 32 istri dan 64 anak, bulan kemarin. Kadang para sandera jatuh cinta padanya dan memilih tinggal lalu ikut berjuang dengannya."
"Sebrutal itu? Bagaimana kalau Adolfus kepincut padamu dan menyanderamu untuk dinikahkan dengan anak perempuannya. Oh, aku akan memaksa Tuan Abner membeli senjata biokimia otomatis dari pasar gelap dan ledakkan pesisir Timur."
"Wah, imajinasimu luar biasa Enya."
"Itu karena kau sangat tampan," keluh Reinha.
"Oh lihatlah dia, apakah kita akan bicarakan hal tidak berguna sampai pagi dan biarkan waktu berlalu."
"Apa yang kau inginkan, Lucky? Apa kau ingin kita em - um," kata Reinha terbata-bata.
"Kau manis sekali, Sayang," potong Lucky kuatkan jalinan jemari membopong Reinha berpijak pada kaki-kakinya dan berdansa.
Wajah si gadis merona. "Kau tahu, aku takut punya bayi di usia muda dan aku harus bersekolah pukul 7 pagi. Profesor Samael sedang bersiap menerorku karena aku tak fokus belajar, Lucky. Sungguh buruk." Ia mengadu.
"Apa perlu aku bocorkan otak profesor itu, Enya? Jika dia terus recokimu, aku akan menculiknya dan merendamnya dalam larutan asam," ancam Lucky untuk hentikan kemelut Reinha.
"Kau tahu dia sangat tampan, jika kau tak kembali aku akan mengajaknya kencan."
"Segitu saja kesetiaanmu Reinha Durante?" Lucky menyipit tak suka, ciumi kelopak mata Reinha. Ia akan rindukan saat-saat Reinha dalam dekapannya.
"Kurasa ia sedang mengadu domba aku dan Claire. Ia memilih Claire untuk siap-siap gantikan aku."
"Begitukah? Apa Claire sanggupi?"
"Aku tak tahu. Aku tak bisa mengalah pada Claire sebab aku inginkan medali dan akan pergi kompetisi dengan Ethan dan Marya."
"Baiklah, do the best, Honey! Aku akan hadir saat kau terima medali dan bawakan kembang bunga indah."
Reinha menggeliat di dada kekasih saat kegelisahannya memuncak amati jam dinding yang bergerak sebab waktunya melepas Lucky hampir tiba. Pelukannya semakin kokoh. Lucky menggendong gadis yang resah itu ke ranjang dan menidurkannya. Ia akan pergi ketika Reinha terlelap.
Menjelang pagi saat udara terasa dingin menyusup hingga ke tulang-belulang, menggantung di langit-langit hati, Lucky semakin intens mengecup kening Reinha. Ia menyebut nama gadis itu berulang kali di lehernya, mengikis rahang feminim lembut itu pelan dan tak mampu membendung gairah bibir. Kemudian ketika hasrat bicara, Reinha luluh padanya. Mereka saling mengisi bukan dengan rasa lapar, hanya rayuan untuk tenangkan kekasih yang risau. Ajari Reinha bergerak untuk lepaskan kegundahan dan mencintai tiap lekukan, kesempurnaan, ketidak-sempurnaan. Pria itu mengendalikan pergumulan dan biarkan Reinha sibuk menikmatinya.
Belalang selipkan syair pagi di bawah bulatan cahaya bulan dan balada itu terbawa bersama desahan angin lewati celah pintu. Seorang pria pandangi kekasih yang pura-pura terlena, menggema sumpah dalam kalbu akan menjaga diri sebaik mungkin agar bisa kembali pada sang kekasih. Lucky tahu Reinha tidak tidur, hanya pejamkan mata, menolak lihat dirinya pergi. Gadis dalam dekapan telah bernapas lamat, menahan sesenggukan sedari tadi. Mungkin akan pecah nanti diam-diam saat ia pergi.
Lucky hembuskan napas berat, membelai rambut cokelat indah dan kaitkan jemari mereka. Entah puluhan kecupan, meski ia tahu tak cukup sebagai hiburan tetapi leluasa sebagai janji bahwa ia akan kembali.
"Aku akan pulang padamu, Enya. apapun yang terjadi. Aku harus pergi sekarang. Aku tinggalkan gadget di sini, kau bisa deteksi keberadaanku atau Francis lewat satelit, jika kau cemas aku menghilang. Tapi jangan sering lakukan sebab lokasiku mungkin akan terlacak oleh peretas yang dibayar oleh pihak lain. Itu mungkin akan buat rumit situasi," ujarnya pada sang kekasih yang tampak pulas dengan bibir bergetar. Satu sapuan pada bibir tipis yang menggoda itu, Lucky menarik lengannya dari tengkuk Reinha, rasakan hentakan berat napas sang kekasih.
Mobil terdengar masuki halaman rumah. Satu kecupan terakhir pada kening sang gadis, pria itu keluar dari sana. Reinha hanya terdiam dalam keheningan panjang nan menyiksa, jika ia buka mata dan melihat Lucky maka bisa jadi Lucky Luciano batal tinggalkan dirinya. Ia akan menahan suaminya demi apapun tak akan ijinkan Lucky pergi. Ia tak mampu lindungi dirinya dari pemikiran tentang hari esok, pada apa yang mungkin akan terjadi. Ia mulai terisak dan menggeliat di ranjang menahan sakit. Bagaimana jika pria itu terluka? Ia bisa mencegah Lucky sekarang untuk tidak pergi.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" keluhnya saat pintu kamar tertutup dan aroma glacier yang tajam perlahan sisakan wangi samar-samar di antara timbunan langkah kaki pada lantai yang perlahan menghilang. Reinha meratap sedih, tenggelam di bantal. Ia tak pernah semerana ini.
Sementara Lucky menjauh ....
Elgio dan Tuan Abner menunggu di ruang tamu. Berdiri saat Lucky Luciano turuni tangga.
"Hei brengsek, kau harus kembali, ini perintah!" kata Elgio muram.
"Ya benar, kau telah memulai hal rumit dengan Reinha dan kau tak bisa biarkan dia terus menderita karenamu, Lucky Luciano," sambung Abner.
"Tentu saja,Tuan-Tuan. Jaga saja Enya untukku. Aku akan kembali tapi aku tidak yakin secepat yang aku katakan padanya, Tuan Abner. Operasi ini bersifat tertutup. Proses pembebasan sandera butuhkan waktu lebih panjang, kesabaran, ketelitian, fokus sebab negosiasi berjalan rumit dan operasi militer di pesisir Timur beberapa hari lalu memicu perdebatan dan menambah marah kaum pemberontak. Mereka menolak militer bahkan perdana menteri. Aku pikir Reinha paham mengapa orang-orang sepertiku akhirnya dipilih oleh Carlos untuk pembebasan ini. Kami akan menyamar, tetapi jika terbongkar, mungkin butuh waktu untuk melarikan diri."
"Susah bagi Reinha untuk menerima ... Lucky ..., sebab kau suaminya kini. Entahlah, aku hanya berharap kau beruntung seperti namamu, Lucky Luciano."
"Kalau kau tak kembali, kurasa dia akan berkencan dengan pria lain," sahut Elgio terdengar seperti ancaman.
"Oh, tak akan terjadi. Aku akan segera kembali dan pergi ke universitas dengannya. Kami bisa sebangku di kelas Manajemen Bisnis atau di kelas Sastra meskipun aku bosan kembali lagi ke kampus."
"Ide bagus," sahut Elgio amati Lucky yang gelisah sedari tadi, ekor matanya terus bergerak ke lantai atas.
"Kurasa kau menunggu dia berikan restu padamu," ujar Elgio mengerut.
"Em, tidak juga. Aku telah pamitan. Baiklah, aku pergi. Kuharap bisa mengunjungi Al Shiva setelah kami kembali."
"Oh yang benar saja?" keluh Elgio teringat tragedi bersama Irish Bella.
"Tenang saja," potong Lucky cepat cermati Elgio. "Kami tak akan minta potret masa depan yang konyol seperti yang kau lakukan Elgio Durante. Kami hanya akan minta lukisan kami berdua yang indah."
"Ya lakukan saja setelah kau kembali. Pergilah! Kurasa Enya tak akan turun dan lihat kau pergi," tambah Elgio.
Lucky mengangkat bahu dan mengangguk. "Sampai nanti, Elgio, Tuan Abner." Pria itu berbalik pergi.
Ia baru saja menuruni tangga ketika Reinha Durante berlari dari kamarnya dengan tergesa-gesa, bernada panik yang terdengar menyayat hati.
"Lucky!!!" panggil Reinha.
Wajah Elgio dan Abner turun seketika. Ya, akan ada drama haru biru nan sedih yang menguras emosi. Beruntung Marya dan Maribella tak ada untuk menonton. Bisa jadi mereka akan habiskan tisu berkotak-kotak.
"Lucky, tunggu aku!" seru Reinha keras semakin panik saat Lucky tak lagi terlihat di ruang tamu.
Tanpa diduga, gadis itu turuni tangga gunakan railing tangga, meluncur dengan cepat hingga buat Elgio juga Abner ternganga. Mereka bersedih tadinya tapi lihat tingkah Reinha seluncuran, keduanya saling pandang.
"Apa dia sering begitu tiap pagi saat ke sekolah?" tanya Elgio pada Abner keheranan. Mereka baru lihat hal itu terjadi.
"Tidak, kurasa dia lakukan itu saat sedang panik atau marah," sahut Abner mengira-ngira. "Atau dia sering lakukan itu tetapi kita tak sadari."
Reinha mendarat dengan mulus dan gaun tidurnya melambai-lambai sebelum berlari cepat lalu melompat ke pelukan Lucky Luciano yang tersenyum kecut lihat tingkah laku istrinya.
"Ya Tuhan Enya, kau sangat ekstrim," gerutu Lucky. "Kau bisa ja ...."
Satu ciuman didaratkan dan mereka lakukan itu di tangga depan. Tanpa kata lebih baik sebagai ungkapan rasa yang tersampaikan antara ketakutan akan kehilangan. Mungkin juga, rindu yang akan selalu diiringi kegelisahan yang pekat. Reinha menatap wajah Lucky, pada ketampanan dengan akurasi tinggi, pada hidung indah di samping pahatan rahang manly yang kokoh dan keras. Menyentuh lesung pipi yang melengkung indah di sudut tulang pipi seolah Tuhan sangat gemas padanya hingga tinggalkan satu cubitan di sana, yang akhirnya jadi daya tarik paling kuat pada karakter raut Lucky Luciano. Dengan segala cinta yang ia miliki berdoa Tuhan menjaga suaminya sebelum kembali beri kecupan. Jika Lucky pergi dengan beban ia tak akan bisa "bersenang-senang" dan jiwa berandalnya mungkin terkunci di suatu tempat. Sedang Reinha yakin Lucky butuhkan jiwa gangster, bandit, mafia, berandalannya yang jenaka tapi optimis, urakan tapi cerdik saat ini. Reinha tak akan menangisi kekasihnya, ia akan percaya saja Lucky kembali padanya.
"Aku tak akan bersedih, bersenang-senanglah berandal! Kau akan kembali padaku dan aku akan menangkan medali emas. Mari perbaiki situasi ini," ujar Reinha sebelum mencium kekasihnya lagi. "Aku tak akan mengakses lokasimu, tapi jika kau tak kembali aku akan pergi ke sana dan mencarimu! Aku janji!"
Reinha kembalikan gadget percaya diri dan antusias berharap Lucky pergi dengan pikiran positif.
"Itu tak akan terjadi, aku tak akan biarkan kau mencariku. Belajarlah dengan benar dan jangan pikirkan tentang aku. Hmmm?"
"Baiklah, aku mencintaimu, Lucky Luciano."
"Ya, I know. Aku pergi, kurasa aku akan kembali lebih cepat karena berkat Tuhan dan berkat istriku."
Pagi itu mereka akan berpisah. Reinha tahu ia sedang membuat keputusan besar dalam hidupnya dan berdoa keputusannya tidak menikamnya nanti dengan penyesalan.
Francis turun dari mobil, tadinya ingin menunggu, ekspresinya datar seperti biasa.
"Francis," tegur Reinha dengan sisa-sisa sembab di wajah kuning keemasannya. Meski tampilan ajudan itu datar, aura tubuhnya ekspresikan banyak hal. Untuk pertama kali Reinha melihat Francis gelisah dan Reinha yakin September sedang bersedih di suatu tempat. Kejadian siang tadi, sepertinya buat kedua orang itu sadar tentang perasaan mereka masing-masing.
"Nona Reinha, kurasa Anda telah begadang semalaman menonton wajah bos Lucky, meneliti mungkin saja ada yang hilang dari wajahnya." Francis menatap keduanya silih berganti, naikkan alis.
"Ya, kami berdansa sampai pagi," sahut Reinha pergi ke lengan Lucky dan memeluknya erat.
"Bisa kulihat," balas Francis.
"Kau terlihat gelisah, apa sesuatu terjadi?" tanya Reinha peka pada situasi.
Francis mengangguk cepat. "Aku ingin bicarakan sesuatu dengan Anda berdua. Ini sangat mendesak."
"Apa ini soal September?" tanya Reinha menebak.
Francis mengangguk. "Aku akan menikahinya setelah aku kembali, dan aku berharap Bos berdua lupakan soal bayi September sebab aku telah menamainya tadi pagi dan bayi itu akan segera jadi Puteriku."
Reinha dan Lucky terdiam sebelum saling menatap. Keduanya saling menggenggam tangan.
"Namanya Amora Shine Blanco ... sesuai nama family keluargaku. Aku harap Anda berdua bersedia biarkan aku mengambil Amora sebagai Puteri kandungku," katanya lagi amati reaksi dua orang di hadapannya.
Baik Reinha maupun Lucky tak punya kata yang bisa diucapkan. Francis selalu sungguh-sungguh dengan perkataannya tetapi saat bicarakan bayi Amora, Francis sangat serius hingga terdengar agak sangar bagi Reinha.
"Kau menakuti aku, Francis!" ujar Reinha terus terang. Francis terlihat benar-benar mencintai Amora dan ia seperti harimau yang siap mencabik musuh yang berani dekati anaknya. "Seakan-akan aku akan pergi pada September dan merebut bayinya. Oh, aku tak akan lakukan itu. Hanya saja, biarkan kami menjadi orang tua angkatnya, kau tahu aku tak ingin ada pernikahan sedarah di masa depan karena kecerobohan kita."
"Anda memikirkan hal itu?" tanya Francis kagum pada gadis usia 18 tahun itu.
"Ya, bagaimanapun kita tak bisa menolak fakta. Hanya saja, aku sangat mengagumimu. Kau pria yang baik. Aku akan berkunjung bersama Claire jika aku tak sibuk. Kau tahu, kami akan segera ikut kompetisi."
"Aku mengerti, Nona. Kuharap kita bisa merayakan pesta pembaptisan yang meriah untuk Amora."
"Ya, baiklah. Aku berharap kalian segera kembali dan kirimkan aku kabar jika kau mungkin sempat," kata Reinha meskipun ia tak yakin. Pesisir Timur tanpa jaringan seluler dan listrik, mengirim kabar akan sangat susah.
"Baiklah," angguk Lucky diikuti Francis. "Aku pergi Enya!" Lucky mendekap Reinha sekali lagi, tinggalkan gadis itu.
Lambaian Reinha masih di sana saat mobil Lucky tinggalkan Durante Land. Ia terus awasi Reinha yang tabah dari spion mobil.
"Francis, berjanjilah padaku, kau akan menjaga dan patuh pada Nona Reinha jika aku tak selamat," ujar Lucky saat siluet Reinha menghilang.
Francis memeriksa bosnya dari spion mobil.
"Aku akan lakukan itu selama aku bernapas. Tetapi, Bos, apakah Anda akan menjaga September untukku saat aku tak selamat?" Francis balik bertanya.
Lucky menarik napas panjang dan berat pada ajudannya yang mulai tampak bersemi oleh bunga-bunga cinta di wajah datarnya.
"Lupakan obrolan barusan! Mari selesaikan ini dan kembali pada kekasih masing-masing!"
***
Wait me up ....
Aku akan temani Lucky dan Francis sebentar berkunjung ke pesisir Timur. Mungkin besok updatenya telat sebab pondokan kami ini tanpa sinyal dan listrik hanya perkebunan kopi dengan biji kopi, salah satu yang terbaik di dunia.