Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 145 Love Examination ....



💌 : Claire, aku pikir semudah bayanganku. Aku belum menemukannya, Cla.


💌 : Aku akan berkelana ke seluruh Pesisir Timur untuk temukan suamiku.


Satu Pesan balasan.


💌 : Reinha, kau tak punya banyak waktu. Tuan Abner dan Elgio Durante akan mengunjungimu di akhir Minggu ini. Marya beritahu aku.


Reinha mengetik pesan balasan untuk Claire.


💌 : Minta Marya halangi Elgio dan tuan Abner sementara waktu, Cla. Kabari aku lagi!


💌 : Vaya con Dios, My Dear Reinha.


Vaya con Dios, Tuhan besertamu.


******


Biara di suatu sore, seminggu berlalu. Terasa menyakitkan untuk dilewati sebab tak semudah yang dibayangkan. Untuk bisa temukan Lucky, Reinha Durante lewati banyak kemalangan. Ia ikut distribusikan bantuan makanan dan mencari informasi tetapi nihil. Ia juga menyusup jadi guru di beberapa desa lain, bagi-bagi hari untuk mengajar meski di desa Thomas ia memilih mengajar 3 kali seminggu dan saat ia kembali ke ruang perawatan untuk meminta obat, tak ada lagi pasien sakit yang waktu itu mengerang. Si Tabib tampak awasi dirinya meski sangat tersanjung saat Reinha minta diobati lagi karena merasa cocok. Tirai telah dibuka dan si pasien telah dipindahkan ke rumah khusus dengan pengamanan tingkat tinggi. Reinha memikirkan secara serius suara kesakitan itu, meski samar-samar, erangan itu bahkan terbawa dalam tidur. Apakah itu .... ?!


"Lucky, tolong aku. Kita tidak punya banyak waktu! Saat Abner Luiz sadar bahwa aku tak ada di Biara maka ia akan lakukan cara untuk membawaku pulang! Jangan lakukan ini padaku! Ya Tuhan, kau brengsek Lucky Luciano!"


Reinha merenung dalam kamar antara semangat dan putus asa, terlilit berbagai emosi terlebih oleh sakit hati dan pedih. Tak punya cara untuk menghibur jiwa yang lara, ia katupkan tangan di depan dada dan memohon Tuhan berbaik hati padanya. Ia datang dengan semangat menggebu-gebu tetapi penyerangan para penambang liar pada mereka beberapa hari lalu lunturkan semangatnya.


Coba alihkan perhatian dengan nonton video pembelajaran di kamarnya di lantai dua setelah mengetik pesan panjang pada Claire. Tak lupa kirimkan jadwal kegiatannya pada Carlos Adelberth. Pria itu tepati janji dengan kirimkan senjata bukan hanya Barret M82 tetapi satu buah pistol MK23 lewat seorang pria tua yang lebih mirip pengemis. Reinha sembunyikan para senjata di bawah kasur. Jam sore menjelang malam, dua buah mobil dan beberapa orang masuk ke pelataran Biara dengan senapan dan memaksa bertemu Suster kepala. Mereka telah lakukan hal itu selama Reinha ada di Biara atau lebih tepatnya, Reinha telah lihat hal itu terjadi sepanjang Reinha ada di Biara. Mereka mengemis dengan paksa berujung pada penjarahan. Kabar bahwa stok pangan dari donatur sampai di telinga para begundal dan mereka bertingkah mirip lalat biru yang berdengung menyebalkan.


Hampir pukul 6 dan lonceng Angelus Domini (Malaikat Tuhan) akan segera berdentang. Para Suster akan berkumpul dan berdoa.


"Suster Bernadeth, kita kedatangan tamu yang tak diundang! Tetap tinggal dalam kamar, Suster! Padre Pio memohon kami untuk lindungi Anda, Suster Bernadeth!"


Suster Felicitas bicara terengah-engah saat Reinha buka pintu.


"Siapa?"


"Para penjarah makanan."


"Suster Felicitas, bukankah kita akan berkumpul untuk Angelus Domini?" tanya Reinha pelan.


Suster Felicitas segera mengangguk. "Ya, Suster Bernadeth!"


"Baiklah, pergilah lebih dahulu! Berlutut dan mintalah perlindungan pada Tuhan!" kata Reinha.


"Anda tak ikut?" tanya Suster Felicitas saat Reinha masih di sisi jendela perhatikan bagaimana Suster Teresa sepertinya berdebat dengan para begundal.


"Aku akan menyusul."


"Baiklah! Mari kita bersimpuh saja dan pejamkan mata lalu terus berdoa tanpa henti khususnya untuk pertobatan orang-orang berdosa di seluruh dunia." Suster Felicitas bicara panjang lebar, Reinha yakin, Tuhan telah dengarkan doa Suster Felicitas sebelum tangan wanita itu terkatup.


"Ya, Anda benar dan kita akan lihat keajaiban."


"Baiklah. Aku pergi."


"Suster Felicitas?!" panggil Reinha.


"Ya, apa masih ada yang lain?"


"Tolong minta Suster Kepala untuk biarkan saja mereka! Ajak Suster Teresa masuk, jangan sampai terluka."


"Tapi ... " ujar Suster Felicitas. "Baiklah, Anda benar Suster!" Mengangguk akhirnya.


Reinha kembali amati parkiran selepas Suster Felicitas pergi. Perdebatan sepertinya sangat alot. Terdengar jelas dari jendela kamarnya.


"Anda tak boleh mengambil semua persediaan sebab bahan pangan ini akan dikirimkan ke banyak saudara di beberapa titik lokasi yang butuh bantuan."


Suster Teresa mencoba untuk beri mereka pemahaman. Reinha dekati ranjang menarik bag gun dari bawah kasur. Jika ia gunakan M82 dalam jarak dekat, bisa jadi kepala si begundal akan lepas dari lehernya di hadapan Suster Kepala dan bisa jadi Suster Kepala akan pingsan. Oh, Reinha memutar jemari gemas, lalu mengepal, tangannya gatal.


"Tidak, kurasa, Anda bisa minta lagi pada Negara!" Suara penolakan si begundal.


"Tolong mengertilah! Bawa secukupnya yang kalian butuh dan simpan lainnya!"


Si begundal sepertinya tak sabaran, pegangi senjata erat beri tanda bahwa ia akan menembak jika sang biarawati masih cerewet.


"Tuan ...."


Pistol diputar dan diarahkan langsung ke kepala suster Teresa.


"Tuan, Anda hanya boleh bawa seberapa yang Anda butuh. Tinggalkan sisanya dalam gudang sebab banyak yang butuh pangan juga!" Suster Kepala bicara cukup tegas.


Suster Felicitas berlarian cepat ke arah Suster Kepala, berbicara pelan untuk biarkan saja mereka membawa bahan makanan.


Sampai di situ. Reinha bertukar pakaian, kenakan jeans hitam, jaket hitam dan memakai 12 gelang hitam Lucky Luciano. Rambutnya dikuncir tinggi. Ia memakai eyeliner di matanya, dark lipstick dan sepatu boot. Keluarkan bubble gum dan mengunyah. Sedikit lakukan peregangan otot, 3 4 peregangan sederhana sebelum satu kaki pada ujung ranjang dan kaki lainnya pada kursi, lakukan split. Sangat dibutuhkan untuk panaskan otot hingga jadi fleksibel, pikirnya geram. Kemudian keluarkan senjata dan mulai merakit The Barret M82, arahkan ke gudang. Ia menghitung para begundal.


Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ....


Amati keadaan seputar biara. Kosong. Tak temukan sniper hanya seseorang. Pembesaran optik 2 kali, ia melihat seseorang di jarak 800 meter. Pengemis Tua, si pengirim senjata untuknya. Baiklah. Carlos benar-benar menjaganya.


Cukup sampai di sini terornya. Ia kembali amati parkiran, Suster Biara dan Suster Felicitas hanya pasrah saat bahan makanan di angkut ke dalam mobil terbuka. Lihatlah para begundal itu, mencuri dan menjarah di saat jam Malaikat Tuhan berkunjung.


"Please forgive me, Lord!" (Ampuni aku Tuhan).


Lonceng berdentang, Angelus Domini dimulai, terdengar khusuk didaraskan.


Angelus Domini nuntiavit Mariae ....


Et concepit de Spiritu Sancto ....


Kalungkan M82 lalu meraih pistol MK23 setelah dipasangi peredam pada moncong senjata, ia bergerak perlahan keluar. Jangan sampai ada yang melihatnya atau mereka akan shock.


Lewati jalur yang tak terlihat, Reinha berlarian di pinggir hutan. Pintu masuk ke biara cuma lewati satu jalan setapak, di antara rerimbunan pohon. Ranting-ranting berderak patah saat terinjak sepatu boot-nya. Ia tak bisa menarik pelatuk di depan Biara atau akan jadi masalah. Jadi ia berlari dengan cepat sejauh dua kilometer di antara pepohonan keluar dari tanah Misionaris. Saat berpakaian seperti itu, ia merasa terbang bersama suaminya. Ia menepuk dada halau air mata saat matanya terasa panas.


2.000 meter, Reinha berlari lagi. Tidak, ini terlalu dekat dengan biara. Ia akhirnya ada di 3 km di zona luar. Terengah-engah, susah payah meneguk liur. Reinha, menunggu dengan sabar dari atas sebuah dataran yang lebih tinggi. Tiga puluh menit tanpa tanda-tanda. Satu jam berlalu ketika dua mobil terlihat mengebut dengan barang jarahan. Ia mengatur napas dan mengulang percakapan Lucky Luciano saat mereka akan berpisah sebab Lucky akan pergi ke penjara.


"Kau tahu, berburu adalah sesuatu yang bisa kau lakukan untuk mengontrol emosi dan melatih kesabaran."


Mencari posisi yang bagus. "Kau benar Lucky, aku akan 'menunggu penuh kesabaran untuk sebuah sensasi yang menantang' tetapi aku tak sabaran. Kau akan bayar semua penderitaan yang kau timbulkan padaku! Aku janji akan menyiksamu!"


Mobil akhirnya mendekat. Tidak, ia akan biarkan mereka pergi sejauh satu kilo meter di wilayah bebas, zona luar, sebelum menembak. Reinha amati senjata kembali meniru Lucky Luciano.


"Kau tak boleh menekan picunya dengan kasar, harus lembut agar arahnya lurus ke depan bukan ke bawah."


"Ya ya ya, aku mendengarkan suaramu, brengsek!" keluh Reinha memeluk senjata, pejamkan mata.


Mereka berakhir sore itu dengan ciuman panjang di gudang penyimpanan senjata. Reinha menunduk, di atas tanah yang dingin dan lembab biarkan rindu pada Lucky menggerogoti dagingnya hingga berdarah-darah.


"Where are you, Lucky? Aku merindukanmu!"


Tak sadari seseorang meniarap dan merayap mendekat.


"Apa kau butuh bantuan, Reinha Durante?"


Reinha terkejut sejadi-jadinya. Langsung arahkan pistol ke arah datang suara. Si Pengemis Tua.


"Carlos Adelberth?!"


"Kau mengenaliku?" tanya Carlos kecewa.


"Tentu saja! Suaramu tak bisa menyamar! Jadi, kau si Pengemis itu?"


"Lalu mengapa kau tak kenali aku kemarin?"


"Aku yakin yang kemarin itu bukan kau!"


"Itu aku, Reinha!"


"Mengapa kau di sini, Carlos?"


"Aku tak bisa biarkan kau sendirian! Dan sahabatmu menerorku tiap hari! Ia terlihat seperti ingin mutilasi aku dan kirimkan potongan tubuhku pada singa lapar."


"Claire?! Kau takut padanya?"


"Ya, dia suka menggertakku. Bahkan dia menggangguku saat aku bertugas!"


"Aku penasaran!"


"Dia menakutkan sama sepertimu!" keluh Carlos.


Suara deru mobil, Reinha kembali fokus. Namun, tiba-tiba saja, mobil bagian depan berhenti. Dua orang turun dari sana memeriksa ban. Mungkin ban mobil pecah. Yang lainnya ikutan turun. Mereka mendorong mobil untuk menepi.


"Apa kau yang ...."


"Bagaimana bisa kau mengendap tanpa sepengetahuanku?"


"Aku terlatih dengan sangat baik, Reinha. Lagipula tak susah sebab kau terlihat pikirkan Lucky Luciano hingga tak fokus."


"Aku merindukannya!"


"Jangan buang waktumu berkelana, aku yakin, Suamimu ada di desa Thomas. Kau bisa gunakan Magnolio, Reinha. Pria itu menyukai Oriana."


"Kau dan Oriana?"


Carlos mengangkat bahunya. Ia mengangguk pada senjata. "Pilih satu yang paling jauh!"


Reinha menarik pelatuk. Suara Lucky Luciano terngiang-ngiang di kepalanya. "Tarik napasmu, tahan, bidik dan tembak!"


Satu tembakan meluncur nyaris tanpa suara dan seorang pria yang paling jauh dari mobil tumbang.


"It's work, great job Reinha Durante! Diafgrama-nya bisa hancur!" puji Carlos lalu menembak dua orang lain dan para begundal itu kocar kacir serempak kembali ke mobil ambil senjata masing-masing dan sembunyi dibalik mobil sambil lakukan serangan balasan.


"Apa kau yakin Lucky ada di Desa Thomas?" tanya Reinha. Mereka menunggu.


"Ya ..., Ratruitanae berhenti berburu beberapa waktu lalu dan tak pernah keluar dari desa. Aku curiga, wanita itu telah temukan Lucky Luciano. Suamimu mungkin sekarat!"


Reinha amati teleskop hela napas sesegukkan. Serangan balasan. Si pemimpin beri tanda untuk maju ke balik pohon. Carlos menembak lagi.


"Ini akan butuh waktu lama. Tunggulah di sini!"


"Aku ikut!"


"Pantas saja Lucky tergila-gila padamu! Kau benar-benar berani dan keras kepala!"


"Trims, aku hanya putus asa!"


"I am so sad for you, Sister! You can hopeless but never faithless, Dear." (Kamu boleh hilang harapan tapi jangan hilang keyakinan.)


"Love felony (kejahatan cinta)."


"No, love examination (ujian cinta)."


Carlos berdiri, jubah pengemisnya melambai-lambai. Mengendap dibalik pepohonan. Tak butuh waktu lama, para begundal dihabisi satu persatu. Dan Reinha berhasil hancurkan paha si bos begundal. Saat Reinha sampai padanya yang bersandar di pohon, si begundal itu menatap Reinha keheranan.


"Siapa kau?" tanyanya dengan napas satu-satu.


"Apa aku biarkan saja kau kehabisan darah dan mati dehidrasi? Sepertinya tengah malam kau akan mati kedinginan!"


"Aku akan mati tapi yang lain masih hidup untuk menjarah. Saat mayat kami ditemukan di wilayah Misionaris maka para Biarawati tak akan selamat."


"Ini diluar wilayah Misionaris. Terima kasih telah bantu aku lenturkan tangan."


"Siapa kau?"


"Malaikat Tuhan," sahut Reinha tersenyum lembut arahkan pistol. "Jiwamu kedaluarsa dan tak terampuni. Kau akan segera dikirim ke neraka! Nikmati perjalananmu, Tuan."


Dooorrr!!!


Carlos manggut-manggut. "Kau terlihat seperti bad girl."


"Aku kekasih seorang berandalan!" sahut Reinha. Mereka turuni sedikit tanjakan.


"Kau dan Claire bisa bergabung bersamaku di militer dan jadi sesuatu yang bersinar terang."


"Tidak, terima kasih. Kami akan mengurusi outlet fashion dan saling mengokang gagasan berbusana. Tetapi jika sesuatu terjadi pada suamiku, aku akan sungguhan tinggal di Biara tertutup dan jadi Biarawati."


"Kau masih tidak punya keyakinan."


"Sssssttt ... aku sedang mengancamnya berharap dia dengar ini dari suatu tempat dan segera tunjukan diri."


"Semangatlah!" sahut Carlos singkirkan mayat dari jalanan. "Mari bawa mobil ini ke Biara. Mereka akan heboh saat temukan kau tak ada di kamarmu untuk makan malam. Aku akan bolak balik mengangkut bahan pangan."


Mereka berkendara pulang dalam diam gunakan mobil kedua para begundal. Mobil pertama dibiarkan di tepi setapak. Belum sampai halaman Biara ketika Reinha melompat turun.


"See you, Brother!"


"See you, Reinha!"


Reinha mengendap-endap dengan cepat di taman bunga, naiki tangga hampir ketahuan dan masuk ke kamarnya. Buru-buru menyimpan senjata, bertukar pakaian saat derap kaki datang dari bawah terdengar menaiki tangga.


Klik ... pintu dibuka. Aroma lilin menyeruak. Suara Reinha terdengar pelan namun damai sedang berdoa.


Benedictus sanctus Ioseph, eius castissimus Sponsus.


Benedictus Deus in Angelis suis, et in Sanctis suis.


"Suster Bernadeth ada di sini sedang berdoa apa yang mereka ributkan?" Berujar pelan penuh keheranan.


****


Sementara Lucky Luciano terbaring dalam balutan ramuan yang melumuri tubuhnya. Pria itu bermimpi terus bermimpi tentang kekasihnya. Merunut kronologi pertemuannya dengan Reinha Durante hingga Reinha jadi istrinya, slide demi slide kisah mereka flashback tayang tanpa jeda di memori otaknya. Tubuh menjadi gelisah lalu tenang sebab Reinha Durante bersayap malaikat dengan lingkaran halo di kepala, datangi dirinya. Senyuman sang gadis sehangat mentari pagi, sorot mata pancarkan cinta yang tak pernah berkesudahan.


"Maukah pergi ke pondokan denganku?" tanya Reinha ulurkan tangan padanya. Namun, ia hanya awasi Reinha. Tubuhnya lumpuh.


"Aku tak bisa bangun, Enya!"


"Baiklah, Lucky. Bertahanlah, cinta kita akan menyembuhkanmu!"


Reinha duduk di pinggir pembaringan. Jemari kekasih singkirkan semua ramuan dari tubuhnya, hembusi dadanya dengan napas hangat dan menatapnya dengan kerinduan. Tubuhnya meremang saat Reinha mengecupnya pelan.


"Enya ...."


"Sssshhh ...." Bibirnya disentuh lembut dan manis. Tangan kekasih bergerak di dadanya. Suara Reinha berbisik halus. "Cinta mengikat kita, Lucky! Detak jantungmu menari di telapak tanganku. Aku mencintaimu."


"Enya ...."


"Jika kau tak kembali, aku akan datang dan menemukanmu. Ingatlah itu baik-baik, Lucky Luciano!"


"Enya ...."


Mereka kembali dekat dan ia bisa rasakan napas Reinha mendesah di wajahnya, hangat dan kuat. Jemari menyusuri rahangnya bergerak turun ke lehernya, membelai pipi dan telinganya. Bibir kembali dikecup perlahan lalu berubah jadi ciuman dalam.


"I want you," desah Reinha lirih dengan tatapan yang bikin dirinya meleleh dan menyerah. Tubuhnya mulai gelisah oleh gaya sensual dan erotis Reinha.


"Me too, Enya. I want you right now, Enya."


"Come away with me, Lucky!"


Bibir mereka bersatu dalam ciuman panjang. Tangannya mencengkeram leher Reinha. Dadanya bergemuruh oleh hasrat yang akan segera terbit. Ia menarik Reinha padanya tak ingin lepaskan begitu saja. Cumbuan itu semakin manis, bayangan malaikat Reinha perlahan pudar sisakan suram. Kesadarannya kembali. Mata Lucky Luciano terbuka pelan, sedikit menyipit oleh sinar lampu ruangan. Saat matanya telah terbiasa, tatapannya melebar, tangannya tiba-tiba kaku. Jemari menahan leher seseorang dengan bibir penuh nan basah yang terpampang eksotis melayang di atas wajahnya. Mata sang gadis terbuka, se-biru samudera, penuh gairah padanya. Bukan mata cokelat Reinha, kekasihnya. Sorot mata Lucky Luciano tajam. Ia memaki dirinya sendiri sebelum bicara lirih.


"Menyingkir dariku, please! Aku milik seseorang bernama Reinha Durante!" ujar Lucky cukup jelas meski mulut dan rahangnya sangat kaku.


Sang gadis buru-buru menjauh. "Aku sedang tambahkan ramuan pada tubuhmu ketika kau menarik aku padamu!" Menyahut.


"Maaf. Aku pikir kau istriku, aku mimpikan Istriku! Apa kau yang merawatku?"


"Ya!"


"Terima kasih, aku harus pulang, istriku menunggu!" Lucky susah payah hendak bangun dari tempat tidur. Ia meringis saat rasakan sakit di seluruh tubuhnya. Jika Reinha Durante melihat apa yang terjadi barusan, ia yakin gadis itu akan lubangi kedua matanya dan menjahit bibirnya. Itu mungkin tak masalah, bagaimana jika Reinha meninggalkannya. Lucky menggeleng tanpa sadar. Ia kembali coba bangkit. Reinha pasti kuatir.


"Tidak. Tolong jangan keras kepala! Berbaringlah! Kau belum benar-benar pulih."


Lucky Luciano menggigit bibirnya kuat sementara si gadis bereskan mangkuk ke atas nampan bambu. Lucky mengetuk kepalanya di bantal dan mengumpat, pandangi langit-langit rumah, marah pada dirinya sendiri. Perlahan-lahan ia gerakan kaki, mencoba bangun. Berapa lama ia tak sadarkan diri? Apakah Enya akan pergi olimpiade? Semoga Olimpiadenya belum dimulai, ia harus datang dengan mobil penuh sejuta kembang. Apakah belum terlambat? Oh sial mengapa tubuhnya mati rasa?


"Aku akan panggilkan tabib. Aku janji tak akan datang kemari jika kau merasa tak nyaman denganku!" ujar sang gadis hendak pergi.


"Kau tak boleh menyentuhku lagi, Cataleia!"


***


NB : Telpon yang digunakan Reinha adalah telpon satelit.


Wait Me Up ya ....


Chapter berikutnya adalah pertemuan mereka. Kali ini pertemuan seperti yang readers tebak. Aku akan selesaikan kisah cinta karakter Heart Darkness satu-persatu.


Komentar readers adalah Mood Booster buat Author recehan sepertiku.


Vote darimu adalah kiriman cinta untukku. Jadi aku akan mengirim chapter indah selepas ini untuk The Readers. Aku mencintaimu....


Makasih sudah dukung Heart Darkness.... (Membungkuk).