
Beberapa Hari Kemudian ....
Headline News ....
Seorang warga asing ditangkap di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Ngurah Rai - Denpasar - Bali - Indonesia. Petugas Bandara saat itu melihat ada yang mencurigakan pada tas penumpang bernama Jorgia Patricia Una (32 tahun), warga Peru yang bekerja sebagai beauty consultant yang tiba dari Dubai pada hari Kamis siang Waktu Indonesia Bagian Tengah.
Petugas Bea Cukai kemudian membongkar beauty case (koper make up) milik Patricia, dan di dalamnya ada koper lain berukuran lebih kecil. Petugas lantas menemukan 4,7 kg benda padatan berwarna hitam.
"Itu campuran dari k0***k41n dan plastik. Padatan itu dibuat mirip dengan dinding koper. Ini adalah modus pertama di Indonesia," kata Debby Asri Nugroho, Kasubdit I Nark****ba Polda Bali.
Petugas menaksir nilai 4,7 gram k0*****1n dari Amerika Selatan itu mencapai lebih dari Rp10 miliar. K0****1n sebanyak itu bisa dipakai 16.240 orang, dengan perhitungan setiap 1 gram dikonsumsi empat orang. Untuk memakainya, pengguna harus terlebih dulu mengekstraksi benda berbentuk padatan tersebut.
Sementara di waktu terpisah hari yang sama, seorang warga asing yang tiba dari Thailand bernama Angelica Saclamente (28 tahun), bekerja sebagai Desainer, ditangkap Petugas Bandara setelah mencurigai paket yang dibawa Angelica. Setelah lakukan pemindaian dan pemeriksaan ulang, petugas menemukan 6 botol minyak esensial berupa cairan kental kekuningan yang diduga g4***j4 cair.
Berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, para pelaku akan dijerat dengan dua pasal yaitu Pasal 113 ayat (2) UU Nar ****** pada dakwa kesatu atau Pasal 13 ayat (2) UU N4*****1k4 dakwaan kedua. Kegiatan mengimpor benda haram sebanyak itu ke Indonesia, baik Angelica Saclamente maupun Patricia Una terancam Hukuman Mati.
***
Televisi dimatikan.
"Kau tahu Elgio Durante, Aruhi-mu yang pendiam sangat mematikan ketika dia mulai putuskan untuk bertindak. Kurasa kau sebaiknya hati-hati. Aku tak menjamin suatu waktu, dia tak mengeliminasi bagian bawahmu jika kau coba-coba tidur dengan wanita lain."
"Ya Tuhan, Abner Luiz. Kau baru saja mengutukku yang tidak-tidak!"
Acuhkan Elgio Durante yang sewot padanya, Abner membentak dengan keras.
"Oleh karena itu, pikirkan matang-matang sebelum bertindak!"
"Aku akan ingat dengan baik peringatanmu."
"Aku sibuk beberapa hari ini mengejar Eduarda, sekarang saatnya hukumanmu direalisasikan."
"Kau luar biasa, Abner!" puji Elgio sarkas.
"Lepaskan pakaianmu dan berbaliklah! Segera tadah punggungmu!" kata Abner lemaskan jari-jemari dan sedikit olahraga lenturkan tengkuk.
Elgio mendesah tetapi tak menolak, ia segera tengkurap di meja ruang tengah dengan pasrah setelah lepaskan kemeja. Abner uraikan gulungan pecut cemeti yang ia pegang.
"Jadi, si bodoh ini akan aku cambuk dengan banyak tuduhan. Pertama, mencurigai istrinya. Kedua, pergi ke bar dan memesan minuman beralkohol, ketiga ... aku tak perlu sebutkan. Apa kau bersiap menerima hukumanmu?"
Elgio tak menyahut, pejamkan mata bak terdakwa di kasus sidang perselingkuhan.
"Kau tak menyahut?"
"Yes Sir!"
"Aku akan menggores tubuhmu dan sebabkan korengan."
"Berisik, lakukan saja!" balas Elgio lama-lama kesal juga sebab Abner terus ingatkan dosa-dosanya.
Abner melirik lantai atas sengaja berseru nyaring, kelewat besar malah, agar Marya mendengar suaranya. Beruntung Maribella sakit, jadi bisa dipakai alasan agar Marya ikut pulang ke Durante Land. Jika tidak, Marya gigih bertahan di rumah Ibunya dan Abner yakin Marya berencana larikan diri dari Elgio Durante.
Plaaakkk ....
Elgio meringis. Abner sungguhan mencambuk punggungnya sekuat tenaga. Meskipun ikut pulang, Marya berubah pendiam, menolak disentuh Elgio dan hanya bicara seperlunya. Senyum Marya hilang dan ia berduka seakan hati Elgio Durante benaran telah pergi darinya hingga Elgio sangat iri, Marya lebih mudah maafkan Ibunya yang buat ia menderita selama bertahun-tahun dibanding kesalahan yang dilakukannya dalam semalam. Walaupun Elgio paham, itu berarti, yang ia lakukan lebih menyakitkan ketimbang yang Salsa lakukan.
Plaaakkk ....
Uggghhhh ... aghhhhh .... Pria malang itu meringis.
Marya layani mereka sarapan, duduk habiskan sarapan setelah itu kembali ke kamar dan giat belajar. Siang ..., ia akan kembali ke dapur mengasah skill memasak di bawah pantauan Maribella yang duduk di kursi roda kemudian ia mengurus makan siang Elgio, mengisi perut dan kembali ke kamarnya, mengunci diri. Sikap dingin Marya telah menyiksa Elgio Durante kendati belum sampai seminggu, Elgio telah merana seperti pria idiot terdampar di padang gurun karena lupakan kantong air. Marya hanya sekali dua kali lakukan sentuhan pada Elgio, segera sadar lalu menghindar. Taktik jitu bikin Elgio Durante semakin menderita.
Elgio menarik napas panjang. Malam hari Marya juga menyiksanya. Menolak pelukan, bertingkah seakan tak butuh dirinya, terus tidur dengan guling berkemeja miliknya. Ingin hati lemparkan guling itu keluar tapi takut Marya semakin murka. Jadi, saat Marya tertidur, pria itu mengecup istrinya sampai hatinya puas.
Plaaaakkkkk!!!
"Aaarrrgghhhh ... Aish ... " keluh Elgio kesakitan.
"Reinha berhasil temukan Lucky Luciano. Mereka sedang dalam perjalanan kemari!"
"Benarkah?" tanya Elgio dengan suara gemetar seperti pria yang tak bisa beol karena sembelit akut. Yakini, kulit punggung telah lecet sebab ia merasa sangat perih. Apakah Abner memukulinya dengan cemeti duri? Walinya sungguhan akan mengorek setengah daging tubuhnya? Kulit-kulit mulai panas dan terbakar.
"Apa bagian dada perlu kucambuk juga ya? Sebab bagian itu paling banyak ternoda," tanya Abner menimang, bertanya pada dirinya sendiri. "Atau junior-nya saja yang aku cambuk? Kurasa ..., dia yang paling bersalah ..., telah kurang ajar inginkan wanita lain."
"Terserah padamu! Lakukan saja menurutmu yang kau rasa bagus! Cepat lakukan dan akhiri ini."
"Kau diam saja, brengsek! Aku tak bertanya padamu!" hardik Abner keras ayunkan satu cambukan. "Aku yang putuskan akan melecutmu di sebelah mana. Jika, Juniormu kulecut, test**smu bisa saja tak lagi berproduksi."
Aaarggghhh ....
"Oh Marya, menurutmu apa aku perlu mencambuk dada dan juga ... em ... ?!" tanya Abner saat lihat Marya menuruni tangga.
Marya terpana sejenak, pada pemandangan di bawah, pada Elgio dengan punggung memerah, goresan panjang dan pria itu terlihat kesakitan. Marya seketika bermuram durja. Tetapi, ia memilih abaikan keduanya saat Elgio menatapnya seakan memohon pertolongan. Terus turuni tangga lewati ruang tengah pergi ke dapur. Elgio pandangi Abner, mengeluh, merasa nyeri hati sendiri. Marya lagi-lagi acuhkan dirinya.
Sedang Marya saat melihat Maribella, langsung berseri-seri datangi sang pengasuh yang memangkas rambut panjangnya hingga sebatas bahu dengan model layer dan tampak sangat cantik.
"Maribella William, kau lebih mirip kakak sulungku ketimbang pengasuhku," sapa Marya ceria bergerak mendekat. Mereka bertemu di antara kitchen set dan meja dapur, berpelukan dan gesekkan hidung. Maribella masih gunakan tongkat untuk menyangga kakinya. Natalea tersenyum melihat mereka sambil terus mengaduk sesuatu dalam panci.
"Aku bisa tersandung dengar pujianmu, Marya," balas Maribella. "Apa lehermu membaik?" tanya Maribella lagi periksa leher Marya. Gelisah Maribella usai, memar di seputar leher Marya telah hilang. "Apa bidadariku merasa baikan hari ini?" tanya Maribella amati wajah Marya.
"Ya ... " angguk Marya.
Aaaarrrggghhhh ....
Satu jeritan terdengar dari dalam. Maribella dan Marya saling pandang.
"Mereka lakukan lagi," ujar Maribella seraya mencomot satu keping biskuit gandum, celupkan pada saos strawberry, "aaa ... aaa!!!" suruh Maribella dan saat Marya menganga, ia mengisi biskuit ke dalam rongga mulut Marya yang langsung katupkan bibirnya dan mulai mengunyah. Marya lantas mengangguk-angguk.
"Aku suka ... rasanya enak," kata Marya sambil mengunyah.
"Aaargggghhh ... Abner, ini sakit sekali!" pekik Elgio terdengar setengah menangis.
"Tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau berikan pada Marya! Jangan cengeng!" balas Abner lantang.
Maribella menatap Marya.
"Marya, aku tahu rasa yang berkecamuk di hatimu. Aku pernah alaminya."
"Benarkah?"
"Em ya ..., suatu pagi aku pergi ke apartemen Abner dan pergoki Luna keluar dari kamar tidur Abner, memakai kemeja Abner dengan banyak noda di paha wanita itu. Mereka seperti habis bercinta."
Marya ternganga ....
Maribella mengambil kepingan biskuit lagi celupkan pada saos cokelat, menganggukkan kepingan itu pada Marya sebagai perintah buka mulut lebih lebar dan jejali biskuit ke dalam mulut gadis muda yang sedang mengandung itu.
"Kau serius, Maribella?" tanya Marya sangat-sangat terkejut. Marya menoleh ke ruang tengah. Apakah kedua pria itu sedang bermain, si brengsek mencambuk si brengsek lainnya? Oh, tidak mungkin Tuan Abner begituan dengan Luna.
"Mereka berduaan di dalam kantor, Luna melekat pada Abner sementara pria itu bersandar di meja kerjanya. Bibir mereka bertemu dan kau tahu, itu bukan yang pertama aku lihat. Dalam lift aku melihat Luna lakukan hal yang sama," lanjut Maribella terdengar gundah. "Kau beruntung karena telah miliki Elgio sebagai suamimu tetapi aku ... bahkan tak punya pegangan. Aku dan Abner bersentuhan dengan mesra tapi kami masih belum sepakat jadi kekasih. Kau tak tahu rasanya bahwa kau mungkin tak akan bisa bersama cintamu. Aku sangat-sangat terluka."
"Lalu ... ?!"
"Ternyata itu cuma salah paham. Luna sengaja provokasi aku. Hhhhhh, sungguh ironi sebab ternyata Luna adalah kembaran Tuan Elgio. Ya Tuhan." Maribella menepuk dadanya sebelum bicara lagi. "Salah paham seperti itu mudah terjadi. Sentuhan satu pihak untuk bangkitkan sejumlah emosi berujung sakit hati pihak lain. Tetapi kau harus tahu Marya, pasangan kita bukan malaikat. Kita bukan Peri. Suatu waktu dalam perjalanan hidup, kita lakukan kesalahan. Cobalah untuk tidak hakimi suamimu dan maafkan dia! Kurasa kau telah cukup menyiksanya."
"Begitukah?"
Maribella mengangguk. "Apa tujuanmu menikahi Elgio, Marya? Apa kau ingin hidup bersamanya? Atau karena kau tak bisa hidup tanpanya?"
Marya berpikir sejenak. "Dua-duanya tetapi kurasa, karena aku tak bisa hidup tanpanya. Aku sangat mencintainya."
"Ya, pertahankan rumah tanggamu meski kau sangat tersakiti. Kurasa sikapmu juga menyakiti Tuan Elgio dan aku tak benarkan cara Tuan Elgio selesaikan masalah dengan alkohol. Saat kau berpisah dari Elgio dan si pelayan club' mendengarnya, ia akan sangat bangga sebab merasa berhasil pisahkan cinta kalian."
"Begitukah?"
Maribella mengangguk. "Ke dalamlah. Kau tahu saat cambukan ke- 100 kurasa Tuan Elgio tersisa tulang belulang!"
"Tetapi ... "
Maribella meraih tangan Marya dan letakan di dada Marya. "Rasakan dia di hatimu! Semua kenangan indah kalian! Saat Tuan Elgio menemukanmu dan selamatkanmu. Saat ia rencanakan makan malam romantis di tenda denganmu. Aku tahu kalian bersama malam itu dalam satu kantong tidur. Aku yakin, ketika kau terbangun di sisinya, kau akan sadari tak ingin berpisah dan tak sanggup hidup tanpanya."
Marya termangu sebelum mengangguk sebab Maribella benar.
"Kau benar Maribella."
"Ada untungnya juga aku suka begadang nonton drama romantis. Mereka sering tayangkan bagian itu. Saat seorang gadis terbangun di pagi hari dapati kekasih di sisinya dan mereka mulai merenung."
"Aaaarrggghhh ... " Suara Elgio diiringi sesuatu seperti huh huh huh huh ... bukan tangisan tetapi menahan kesakitan. Marya tak tahan juga, ia tergugah.
"Aku pergi Maribella ...."
Marya seketika kembali ke ruang tengah, matanya terbelalak, punggung suaminya benar-benar telah luka bahkan berdarah. Saat melihat Marya, tak buang kesempatan Abner mencambuk Elgio cukup keras hingga Elgio menjerit sejadi-jadinya.
"Aaarrgggghhhhh ... Ya Tu ... han, Abner. Bisakah hukuman ini dicicil? Aku tak tahan lagi. Aku bersumpah tak akan lakukan lagi. Aku tak bisa berjanji tak sakiti Marya, tapi aku janji akan benahi diriku dan jadi lebih baik Abner, tolonglah!"
"Apa janjimu bisa kupegang, Elgio Durante?" Abner melirik Marya, pura-pura pasang kuda-kuda. "Ini belum seberapa, masih 92 cambukan."
"Ya Tuhan, Tuan Abner! Hentikan! Apa yang Anda lakukan padanya?"
Marya berlari ke sisi Elgio, menghalau Elgio dari cemeti. Abner tak sanggup tahan geli tetapi pasang wajah marah.
"Dia tak termaafkan! Aku mendidiknya sangat keras selama bertahun-tahun tapi ia hancurkan hanya dalam waktu semalam! Itu buatku sangat marah! Menyingkirlah Marya!" seru Abner.
"Elgio hanya manusia biasa Tuan Abner, ia juga lakukan kesalahan. Kau bisa menghukumku juga. Jika, aku terbuka padanya malam itu, Elgio tak akan pergi ke sana," sahut Marya, ulurkan jemarinya untuk dicambuk.
"Ya ya ya, jangan berpikir karena kau lagi hamil, kau akan lolos dariku! Akan tiba giliranmu dan Reinha Durante untuk aku cambuk jemari kalian! Sekarang Menyingkirlah dari situ! Ini baru cambukan ke delapan, masih 92 lagi!"
Marya tengkurap di atas punggung Elgio. "Tidak, kurasa sudah cukup. Anda tak lihat, punggungnya luka dan berdarah?"
"Ya, aku sengaja tinggalkan bekas. Suatu waktu saat dia kalap dan pergi ke bar lalu bertemu seorang wanita, mereka tak akan mau menyentuhnya sebab tubuhnya penuh korengan! Bahkan mereka tak akan bern****su padanya, walau ia punya banyak uang! Berbalik Elgio Durante dan tadah dadamu! Bagian bawahmu belum kucambuk. Bokongmu juga bermasalah, bisa timbulkan halusinasi berlebihan pada kaum hawa. Aku akan bikin mereka cacat," ancam Abner mengada-ada berhasil dapat reaksi keras dari Marya. Sangat menggelitik.
"Tidak, sudah cukup Tuan!" Marya merengek, memelas hampir menangis. Bagaimana bisa Tuan Abner akan bikin bokong suaminya cacat? Yang benar saja? Tetapi Abner Luiz terlihat tak main-main.
"Jadi, apakah kau maafkan dia dengan mudah?" tanya Abner pura-pura keheranan.
Marya mengangguk meski ragu-ragu. Elgio mengintip dari celah tubuh Marya pada Abner dan kedipkan satu mata meski dalam hati merutuk Abner Luiz.
"Tidak, kupikir butuh 92 lecutan lagi!" Abner memaksa tak tahan senyuman.
Marya, Maribella, Reinha miliki hati yang luar biasa. Dan mereka adalah wanita-wanita Durante Land.
"Tuan Abner, bukankah kau berlebihan padanya?!" tegur Maribella mendadak bergabung, berdiri di muka pintu dengan nada tidak suka.
"Oh tolonglah, Mai."
"Bangunlah Elgio, ayo kita kabur sekarang!" bisik Marya di kuping suaminya dan Elgio mengangguk sepakat.
"Haruskah kau ikut campur, Mai? Bocah ini buatku muak." Abner mengerut. "Ia merasa paling tampan satu semesta, jadi banyak tingkah."
"Ayolah Abner, Elgio telah sadari kekeliruannya." Maribella tersenyum lembut.
"Pelajarannya baru dimulai, Mai ...."
Marya meraih tangan Elgio dan menuntun suaminya kabur ketika Abner Luiz sibuk ladeni Maribella.
"Heeeiiii BOCAH! Kemari kau!!!" pekikan Abner membahana. Seperti biasa, burung-burung di loteng luar langsung kabur, tak tahan dengan jeritan falset itu.
Maribella tertawa terbahak-bahak melihat Elgio dan Marya yang lari terbirit-birit. Mereka manis sekali. Abner alihkan perhatiannya pada Maribella yang tertawa lepas dan hal sepele macam itu, sungguh herankan sebab bisa ciptakan sensasi ajaib di hatinya.
"Maribella William, Apakah kau mengejekku?"
"Oh Tidak, Tuan Abner Luiz, mana berani aku begitu. Aku tak mungkin mengejekmu," jawab Maribella di antara sela tawa.
"Apakah kau akan terus tertawa di situ atau kau butuh aku untuk menutup mulutmu?" tanya Abner.
"Ooopss ...." Maribella refleks katupkan bibirnya dengar ancaman penuh niat Abner Luiz. "Aku harus pergi!" Maribella buru-buru berbalik. Tongkatnya tok tok tok mengetuk lantai. Abner biarkan Maribella pergi lima langkah sebelum bergerak cepat ke arah wanita itu, menghadangnya tepat sesaat Maribella hendak mencapai pintu dapur.
"Karena kau menyela dan aku jadi tak punya kerjaan, Maribella William, maka kuputuskan kau harus bertanggung jawab."
"Baiklah. Aku punya biskuit kesukaanmu, Tuan Abner. Ayo kita minum teh di taman belakang," sahut Maribella lekas gugup.
"Emmm ... bagaimana ya? Aku tak ingin biskuit juga tak ingin taman belakang."
"Abner ... kurasa otakmu juga butuh dicambuk."
"Aku tak keberatan, kau boleh lakukan sesuka hatimu, Mai."
Abner menggendong wanita itu sesegera mungkin berbalik ke ruang tengah, pergi ke kamarnya alih-alih hunian Maribella.
"Hei, bukankah kau sangat bijaksana terlihat. Apa yang kau lakukan?" tanya Maribella kalungi leher Abner sekuat tenaga.
"Ayolah, ini waktu yang tepat bagi kita. Tak ada yang akan mengganggu."
"Abner ... sebaiknya kita menikah dulu."
"Tentu saja! Siang ini, aku hanya akan mencambuk bibirmu, tak lebih dari itu!"
***
Vote - mu Readers kutunggu....
Wajib Like dan Komentar, please. Jangan lupa bahagia ya!