Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 65 Ibu bukan Ilusi ....



Sementara Sunny, Abner dan Lucky Luciano terlibat dalam percakapan serius setelah jamuan makan malam, Marya menemani Salsa mengobrol. Elgio dan Reinha sibuk dengan seorang desainer undangan dari La Bridal untuk membuat invitation card. Tidak banyak yang mereka undang, pernikahan mereka tertutup tetapi satu Durante Land akan hadir menyaksikan.


Elgio tak ingin masuk ranah percakapan berat ketiga orang di ruang tamu. Walinya lebih bisa diandalkan atasi masalah ketimbang dirinya yang meledak-ledak apalagi jika Lucky Luciano mulai melempar kail. Ditambah ia tak ingin menyimak soal Sunny, Lucky dan seseorang yang mereka sebut-sebut V, bikin pusing saja. Bagaimana ia akan menyeret Sunny dan Lucky Luciano ke publik tanpa menyakiti Marya dan Reinha? Konyol sekali, ia terjebak di antara dua anggota Familly Club' dan mereka terlibat dengan kekasih dan adik perempuannya. Elgio mengurut keningnya. Abner terlihat berdebat dengan Sunny dan Lucky Luciano seperti wasit garis tanpa peluit.


"Kau sungguhan dengan Lucky? Ya Tuhan, aku benar-benar berharap hubungan kalian kandas tetapi kau terlihat mabuk kepayang tak tertolong pada Lucky Luciano," gerutu Elgio membuat Reinha cemberut. Kakaknya masih tak suka pada Lucky.


"Aku hanya pacaran dengannya belum tentu menikahinya." Reinha mengangkat bahu melirik Lucky yang sangat serius bercakap dan ia berdebar-debar.


"Kau yakin?" tanya Elgio serius, "Terakhir kali kau katakan ingin melubangi kepalanya kau malah melubangi hatinya?"


"Kakak ini ... memang kau bisa mengatur kemana cinta pergi, Kak?"


"Dengar Enya! Kau tak akan melangkah lebih jauh selain pacaran dan kencan! Kau tahu Enya, aku tidak ingin punya ponaan hasil dari hubungan liar. Mau taruh di mana muka-ku?"


Wajah Reinha memerah oleh kata-kata Elgio terlebih bayangan Lucky tanpa atasan di ranjang sejuta helai mawar, saat pria itu menculiknya dan mereka nyaris saja ....


"Kami tak lakukan apapun!" katanya gugup. Aku nyaris tidur dengannya di Civic Center. Itu tidak akan terjadi lagi. Jeritnya dalam hati.


"Aku harap begitu. Jika itu terjadi, kau boleh ikut dengannya dan tidak perlu melihatku lagi."


Reinha menghela napas berat. Saat bersama Lucky, mereka selalu terbakar asmara tak berkesudahan, tak ingin berpisah dan ingin waktu berhenti berputar.


"Kau harus belajar! Oh iya sebelum Abner memberitahumu, kau akan bertemu dengan Giuseppe besok malam. Aku telah siapkan jadwalmu."


"Kakak?!"


"Kau tidak akan kencan dengannya, kau harus perbaiki kontrak dan perbarui dengan Flamingo Shop."


Reinha mendengus bosan, "Apa yang dilakukan Giuseppe, Kak? Kontraknya baru dua Minggu lalu dan akan diperpanjang dua Minggu lagi."


"Pergilah! Temui dia!" sahut Elgio tak ingin dibantah. "Lihat apa maunya!"


"Ya ya ya, baiklah." Lucky Luciano tak akan suka jika diberitahu. Apa perlu memberitahunya? Reinha melirik pria itu sekali lagi dan saat itulah Arumi masuk, mungkin pulang syuting.


"Kakak?!" serunya gembira saat melihat Lucky duduk di sofa membelakangi arah datangnya. Tanpa ragu-ragu gadis itu memeluk leher Lucky dari belakang. Kegiatan serius para orang dewasa terjeda. "Kejutan, kau mampir kemari setelah sekian lama. Apa kita akan bermain game lagi seperti terakhir kali? Aku akan mengalahkanmu, Kak!"


Lucky Luciano terlihat kepayahan menjaga raut saat Reinha menatapnya tajam.


"Arumi, jaga sikapmu!" tegur Sunny.


"Mengapa? Hanya karena Kakak sudah punya kekasih bukan berarti kami berhenti dekat, kan?" Matanya bertemu mata Reinha yang tak dapat ditebak.


"Baiklah. Kita akan bertanding nanti! Kau bisa lepaskan aku? Kau tak boleh lagi memelukku seperti itu! Hmm?!"


"Apa kau keberatan Nona Reinha Durante? Kami sangat dekat, sejak aku masih kecil."


Reinha mengangkat bahu, "Kau bisa memeluknya sesuka-mu, tidak mengapa. Jika terlalu berlebihan, aku akan melemparmu dengan sesuatu hingga ubun-ubunmu terangkat. Lagipula, kau terlihat seperti siswi taman kanak-kanak, menggemaskan."


Arumi mengerut jengkel mendengar nada mencemooh Reinha dan melepaskan Lucky. Sementara Lucky Luciano melengkung senyuman di sudut-sudut bibir. Gadis itu kekasihnya dan dia selalu mencetuskan isi pikirannya.


"Kau sudah pulang syuting?" tanya Sunny pada Arumi.


"Ya, aku mendapat banyak kontrak iklan," pamernya. " Aku hebatkan?"


"Aku membatalkan semua kontrakmu atas permintaan Ibu-mu. Kau hanya harus belajar dan pergi ke sekolah saat ini. Aku telah menelpon agensi-mu juga manajermu. Kita akan membayar denda."


Pernyataan Sunny itu membuat Arumi tercengang. Ia menatap Bibi-nya tidak senang dengan mulut separuh menganga. Ia sangat shock hingga hampir menangis.


"Kau tak bisa lakukan itu, Aunty. Aku bekerja keras untuk dapatkan kontrak."


"Kau tak bekerja keras, kau menyogok Arumi. Kau pikir aku tak tahu."


"Kalian sungguh jahat padaku," serunya gusar.


Sementara di dalam kamar pribadi Salsa, masih tidak enak membuat Ibunya sedih, Marya berbincang hangat, berjanji akan perbaiki keadaan agar Ibu dan dirinya tak sisakan gap untuk loloskan kesedihan dan kembali ke masa lalu, meski itu akan sangat sulit sebab mereka tidak punya kenangan baik di masa lalu. Satu-satunya kenangan yang ditinggalkan Ibu dalam memori Aruhi adalah kepedihan; minum-minuman keras, merokok dan Ibu pergi.


"Bisakah kamu mencarikan Arumi guru privat, Nak? Adikmu itu butuh banyak belajar, Aruhi."


Marya terdiam. Arumi agak susah diatur dan sangat keras kepala. Aruhi tidak begitu menyukai Arumi untuk alasan tertentu terlebih dia sangat arogan.


"Akan aku usahakan, Ibu. Jangan kuatir."


Arumi muncul di pintu kamar Ibunya, ia selalu kesal saat melihat Aruhi.


"Ibu ini aneh, aku tak suka sekolah. Aku bisa kaya raya tanpa harus sekolah Ibu. Aku bahkan menghasilkan banyak uang. Tega sekali Ibu meminta Aunty Sunny membatalkan seluruh kontrak iklanku," katanya ketus. "Aku menyukai dunia akting, Ibu. Tolonglah! Aku akan pindah dan tinggal bersama Valerie."


Marya tak ingin ikut campur masalah Arumi sebab dirinya sendiri punya banyak masalah, tetapi hal berbeda jika Arumi menghardik Ibu. Apa yang dilakukan Arumi pada Ibu? Ia kehilangan sopan santun pada orang yang telah melahirkannya.


"Arumi! Kau tak boleh bicara kasar pada Ibu," tegur Aruhi tidak suka. Arumi selalu bersikap sangat menyebalkan dan pongah.


"Jangan ikut campur masalahku, Kak! Sampai beberapa Minggu lalu kau adalah orang asing, tolong bersikaplah seperti itu!"


Marya menggeleng sedih, "Baiklah ... kau boleh anggap aku orang asing tetapi jangan bicara kasar pada Ibu."


Arumi cemberut, "Aku telah berkomunikasi seperti itu pada Ibu sejak aku kecil. Ngomong-ngomong, kakak menyuruh Ethan Sanchez mengerjai aku dengan ular, iya kan?"


Arumi melotot padanya. Marya terpana, ya Tuhan, buruk sekali jalan pikiran Arumi.


"Ibu tak akan memarahinya? Teman sekelas kakak mengerjai aku di sekolah, Bu, dengan ular." Gadis itu mengadu. Salsa memegang kepalanya.


"Hentikan Arumi, itu tidak benar! Kau melihat isi tas orang lain dan ular itu adalah materi karya ilmiah kami. Ethan cerita padaku, jangan menuduhku sembarangan! Oh ya, kebetulan kau membahas soal Ethan, aku akan memanggil Ethan untuk jadi guru privatmu!" seru Marya oleh gagasan tiba-tiba yang lewat di otaknya. Marya bicara sangat tegas hingga Arumi mangap-mangap. Raut wajah Arumi memucat. Ethan Sanchez akan jadi guru privat-nya? Apakah cowok itu akan datang dengan ular besar mengerikan itu dan mengintimidasinya? Arumi merinding geli.


Salsa melihat ketakutan di mata Arumi, bagaimana nama Ethan Sanchez membuat gadis itu gagap. Akhirnya, ada seseorang yang bisa membuatnya mati kutu.


"Panggil Ethan Sanchez, Aruhi! Katakan Ibu akan memberinya upah yang sangat besar," sambung Salsa manfaatkan keadaan.


"Ibu?! Apa yang Ibu lakukan?" jerit Arumi tidak senang. Ethan Sanchez jelas akan dengan senang hati menyiksanya. Lelaki itu suka membuatnya kesal dan marah.


"Kau akan ikut kelas tambahan di rumah dan berhenti jadi artis. Apa Ibu kekurangan uang untuk menghidupimu?" Salsa menarik napas kuat. "Ethan akan datang secara rutin untuk membantumu belajar. Kau tak boleh pindah ke rumah Valerie dan akan tinggal di kamarmu! Jika kau ingin tinggal dengan Valerie, keluarkan nama keluargaku dan suamiku dari namamu." Salsa memberi peringatan keras.


Arumi membelalak pada Ibunya lalu pada Marya, ia berteriak kesal, "Aku benci Ibu! Aku benci kau, Kak!" Kemudian berlari keluar kamar sambil menangis.


Salsa memegangi dadanya, ia terbatuk-batuk kesakitan. Marya berlari dan mendekatinya gelisah. Harusnya mereka tak bertengkar di depan Ibu.


"Ibu, apa Ibu tak apa? Maafkan aku, bukan bermaksud kasar pada Arumi, Ibu."


Salsa menggeleng. "Aku senang kamu bicara sangat tegas padanya, Nak. Arumi terlalu dimanja, lihatlah dia sekarang. Tak ada sesuatu hal baikpun padanya."


"Ibu, Arumi masih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Beri dia kesempatan."


"Apakah Ethan teman sekelasmu?"


"Iya Bu, kami sangat dekat dan bersahabat. Ethan akan mengajari Arumi. Meski aku belum yakin, Ethan mau apa tidak."


"Ibu, Ethan tak menyukai Arumi. Ibu tenang saja. Aku akan bicara pada Ethan. Tadi aku hanya asal bicara untuk menakuti Arumi."


"Baiklah, aku menunggu kabar bagus dari Ethan!"


Sementara Arumi berlari ke kamar dan menangis. Ia melempar semua yang terlihat di kamarnya. Sejak Aruhi datang, Ibu dan Aunty Sunny jadi berubah penuh. Ibu bahkan berani kasar padanya. Arumi meraih ponsel dan menekan nomer seseorang.


"Kau tahu Valerie, aku sangat membenci mereka. Aku ingin Aruhi pergi dari keluargaku." Ia menangis jengkel.


"Apa dia ada di sana?" tanya suara lembut dari seberang.


"Ya, Aruhi dan kekasihnya, Elgio Durante. Kau tahukan mereka akan menikah setelah Ibu cukup kuat. Mereka makan malam bersama bahkan Reinha Durante dan Lucky Luciano ada di sini."


"Arumi, tenanglah! Aku selalu di sisimu. Ingat janjiku? Aku akan lakukan apapun untuk membuatmu bahagia?" bujuk rayu Valerie membuat Arumi tenang. Setidaknya ada satu orang yang sangat perhatian padanya. Arumi yang bodoh.


"Aku menyayangimu V."


"Ya, aku tahu. Nah, apa kau sangat membenci kakakmu? Kau bisa membalasnya sesekali untuk memberinya pelajaran," usul Valerie.


"Bisa beritahu aku?"


"Tentu saja, tenangkan dirimu. Aku akan membantumu."


Malam yang tenang di Paviliun Diomanta saat Salsa menahan Marya untuk tidur semalam dengannya. Elgio tampak gelisah.


"Biarkan Aruhi tidur bersamaku malam ini, Elgio. Aku ingin memeluknya sekali saja," pinta Salsa.


Baik Marya maupun Salsa menunggu jawaban Elgio. Pria itu berdiri serba salah seolah-olah membiarkan Marya tinggal bersama Ibunya adalah keputusan yang sangat sulit.


"Kau bisa tinggal jika kau ingin, Elgio."


"Tidak Marya. Kau boleh di sini bersama Ibumu, aku akan menjemputmu jika kau ingin pulang. Bagaimana?"


Salsa menghembuskan napas tertahan dan memandang Marya sukacita.


"Terima kasih, Elgio." Gadis itu berjinjit, mengecup Elgio dan memeluknya erat. Arumi perhatikan drama itu dari lantai atas. Meskipun Aruhi tampak sangat lembut, saat marah, kakaknya itu sedikit menakutkan. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk mengerjai Aruhi. Melihatnya berpelukan dengan Elgio, Arumi cemberut jengkel. Mengapa Elgio sangat terpesona pada Aruhi? Padahal ia merasa lebih cantik dari Aruhi.


"Bisakah aku mengantarkan Reinha pulang?" tanya Lucky pada Elgio. Tentu saja Abner dan Elgio menggeleng bersamaan.


"Tidak. Kau ini, tak puas bersamanya sepanjang sore?" tegur Elgio tajam.


"Bisakah aku menjemputnya besok pagi ke sekolah?" tanyanya lagi tidak putus asa.


"Tidak, jangan coba-coba!" sahut Elgio lagi senang sebab wajah Lucky terlihat suram. "Augusto akan mengantarnya ke sekolah. Bagaimana kalau kau biarkan Enya belajar dengan tenang dan jangan merusak jadwal belajarnya?"


Reinha menggeram pada Elgio dan Tuan Abner. Nilainya tak akan hancur lebur hanya karena ia pacaran dengan Lucky Luciano.


"Kau bisa menjemputku pulang sekolah. Aku akan menunggumu. Kita bisa pergi ke The Windows dan membaca buku," kata Reinha menatap Lucky abaikan Abner dan Elgio yang mendelik padanya.


"Kami hanya akan kencan di toko buku, bukannya pergi merusak moral. Ya Tuhan, kalian berlebihan padaku!" serunya dan pergi lebih dulu ke mobil.


Lucky Luciano masih tinggal untuk battle game seperti janjinya pada Arumi, itu sedikit menghibur Arumi.


"Valerie merindukanmu. Ia bertanya bisakah kau melihatnya sebentar?" tanya Arumi di sela main game.


"Tidak. Aku sangat sibuk." Lucky menekan tombol pause pada stik game dan memandang Arumi serius. "Kau itu, jangan terlalu bersama Valerie. Apa dia menyuruhmu melakukan sesuatu?" Selidik Lucky.


Arumi gagap, "T,ti,ti-dak kok. Ia selalu baik padaku dan mengajariku banyak hal. Valerie bahkan datang pada acara launching premier film pertamaku. Sunny dan Ibu bahkan tak hiraukan itu."


"Dengar Arumi! Berhentilah pergi ke Mansion Valerie dan rajin sekolah."


"Aku tak suka sekolah."


"Banyak orang yang tak bisa mendapatkan pendidikan bagus karena biaya sekolah yang sangat mahal. Jangan sia-siakan kesempatan."


"Baiklah. Apa kau akan pulang?"


"Ya, kau bisa mengajak kakakmu main game."


"Tidak. Aku tak menyukainya."


Marya mendadak muncul di ruang tengah.


"Apa kalian ingin camilan?" tanya Marya pelan.


"Tidak, pergilah! Jangan ganggu kami!" sahut Arumi ketus.


"Baiklah. Jangan sampai larut mainnya. Kau harus ke sekolah besok. Ini sudah malam. Anda belum pulang Tuan Lucky?" tanya Marya.


Lucky mengangkat bahunya, pantas saja Arumi tak menyukai kakaknya. Karakter mereka bertolak belakang.


"Aku pamit sekarang."


Selepas Lucky Luciano pergi, Arumi menatap kakaknya pura-pura baik.


"Kak, aku tak ingin Ethan jadi guru privat. Aku bisa carikan guru privat sendiri."


"Tidak Arumi. Ethan sangat pintar, ia bisa menjadi guru yang baik."


Arumi melempar stiknya, "Terserahlah. Aku pergi."


Marya menggeleng dan merapikan ruang tengah yang berantakan memikirkan betapa buruknya sikap Arumi. Apa yang harus ia lakukan agar ia dan Arumi bisa seakrab Ibu dan Aunty Sunny? Ia akan menemukan cara untuk mengajak Arumi lebih dekat. Marya kembali ke kamar Ibu. Ini pertama kalinya ia tidur bersama Ibu setelah sekian tahun, Ibu bukanlah ilusi. Marya tak bisa gambarkan perasaannya.


"Kemarilah, Nak!"


Marya pergi ke sana merapat pada Salsa, biarkan wanita itu memeluk dan membelai rambutnya. Mata Salsa penuh air mata saat membelai kulit wajah Marya halus.


"Maafkan Ibumu yang jahat ini. Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk mengurangi penderitaanmu, Aruhi."


"Sudahlah, Ibu. Tidurlah." Marya mengecup tangan Ibunya sebelum mengusap air mata di pipi Salsa.


"Kita akan bersama dan aku sangat menyayangimu, Ibu."


***


Nikmati chapter-chapter ini, aku sebutnya chapter pertama dari Ketenangan sebelum Badai ....


Bajawa, 19 05 2021


Senja Cewen