
Elgio Durante. (Cast)....
Saat siuman dari tidur dengan banyak mimpi yang menakutkan, Elgio dapati dirinya terbaring di rumah sakit. Kedua lengan terlilit perban putih, tangannya digenggam erat dan kepala Reinha terkulai di sisi pembaringan. Elgio membelai rambut adiknya yang lelap, bersyukur gadis itu baik-baik saja. Lucky Luciano duduk di sofa, melek dengan pikiran terbang entah kemana, hanya perhatikan punggung Reinha yang berbaring di sisi kakaknya.
"Kalian tak jadi bersama semalam?" tanya Elgio pada Lucky.
"Hampir saja," sahut Lucky berhenti melamun. "Ketika tahu kau di rumah sakit, Enya mengomeliku tanpa henti. Seakan gara-gara aku, kau terluka!" Lucky berdecak. Reinha tidak beranjak satu menitpun dari sisi Elgio. Gadis itu menangis seolah-olah kakaknya akan segera mati.
"Pipinya bengkak," kata Elgio murung dan mengelus pipi adiknya yang membiru. Reinha bergerak tidak nyaman ketika jemari Elgio timbulkan perih. Elgio menahan marah di hatinya. Mereka memajang adik perempuannya di situs dewasa, keji sekali mereka.
"Bisakah kau bawa dia ke sofa, Lucky? Lehernya bisa sakit jika terus-menerus miring," pinta Elgio kembali membelai rambut Reinha. Bagaimana dengan Marya? Di mana dia semalam? Apakah kekasihnya tidur nyenyak di suatu tempat? Elgio menggigit ujung bibir menahan nyeri di dada. Apakah dia baik-baik saja?
"Em, aku tak berani Elgio. Aku tak ingin kena semprot. Ia sangat marah padaku karena tak beritahu kondisimu lebih cepat. Bisakah kalian kendalikan emosi diri? Jika marah, kalian sangat menakutkan!"
Elgio tersenyum kecil, "Bawa dia Lucky! Aku akan bertanggung jawab!"
Mereka sangat manis, Lucky Luciano si berandal itu takut buat adik perempuannya gusar.
Elgio tidak tenang menunggu pagi untuk segera bertemu Valerie dan membawa Marya pergi.
"Valerie mungkin rencanakan sesuatu untuk menjebak kita lagi!" kata Elgio.
"Ya, aku sedang mengira-ngira apa yang sedang wanita itu rencanakan," jawab Lucky. Kepala Reinha terkulai di atas pahanya. Saat tidur, wajah gadis itu begitu indah, selalu berhasil buat Lucky Luciano tersesat makin dalam padanya. Apa yang Reinha mimpikan? Lucky Luciano yakin ia ada dalam di sana menulis chapter demi chapter cinta mereka.
"Aku tak bisa berpikir!" keluh Elgio terdengar kesakitan.
"Hadapi saja, Elgio!"
Menjelang pagi, Irish Bella masuk ke ruang rawat dengan seikat mawar merah yang sangat cantik. Ia tersenyum pada Elgio.
"Apa Anda sudah baikan Tuan Elgio?!" tanya Irish mendekat dan mengatur bunga ke dalam vas di samping tempat tidur Elgio.
"Kau tak perlu datang Irish," jawab Elgio.
"Hai, Elgio. Apa kau merasa baikan?" sapa Carlos ikut masuk dan berdiri di ujung kaki pembaringan.
"Hai Carl, aku harus membaik sebab perjalananku masih panjang. Apa kalian datang barengan?" tanya Elgio.
"Tidak juga sih. Kami bertemu di depan. Bagaimana keadaanmu?" tanya Carl lagi.
"Baikan. Aku akan keluar dari rumah sakit dua jam lagi dan menjemput istriku."
"Maafkan aku, tidak bisa ikut denganmu, Elgio."
"Tidak perlu juga, Carl."
"Terima kasih sekali lagi telah selamatkan aku," kata Irish menyela dan berdiri dekat Elgio, perhatikan lengan Elgio seksama.
"Tidak masalah. Aku hanya ada di waktu yang tepat. Ngomong-ngomong, trims sudah menunggui Dilly."
Irish tersenyum lebar, merasa senang Elgio bicara lembut padanya. "Dilly akan segera membaik."
"Anda juga harus berterima kasih pada Carlos karena menembak kening pengawal yang menodong senjata pada Anda, Nona Irish."
Irish berbalik dan menyipit melihat Lucky Luciano dengan seorang gadis tertidur di atas pahanya.
"Hai, Nona Irish Bella."
"Tuan Lucky Luciano?" Irish sering bertemu Lucky Luciano di acara amal dan banyak acara lainnya. Pria itu sangat populer oleh dermawan tetapi pria itu suka bermain wanita. Bahkan beberapa temannya punya hubungan liar dengan Lucky Luciano. Salah satu di antara mereka malah hamil dan pria brengsek di depannya tidak tahu.
Irish kembali menoleh dan tersenyum pada Carlos. "Trims untukmu juga, Carl," kata Irish tulus.
"Tak perlu begitu Irish, aku menyelamatkanmu banyak kali," jawab Carlos apa-adanya.
"Kupikir kau hanya urusi negara," kata Irish lagi.
"Aku hanya menolong seorang sahabat dekat. Berhati-hatilah dalam beropini, kadang kau terlalu frontal saat menyerang seseorang dan itu bisa buatmu kena masalah. Aku tak bisa selamatkan kau tiap waktu!" jawab Carlos.
"Trims untuk perhatianmu, Carlos Adelberth."
Elgio memandangi keduanya. "Jadi, kalian saling kenal?" tanya Elgio.
Carlos mengangguk. "Ya, kami sering bertemu di tempat tugas. Irak, Afganistan, Palestina, Suriah. Kau tahu Irish, jurnalis yang sangat berani, ia seringkali kena todongan senjata, pernah di kejar ter**is, disandera sepa**tis ...." Carlos tersenyum pada Elgio, tampak tak ingin bahas lebih lanjut. "Kurasa aku harus pergi, Elgio. Dua jam lagi aku akan terbang."
"Apakah kau akan bertugas?"
Carlos mengangguk. "Yup, melayani negara. Semoga beruntung Elgio."
"Trims Carl sudah berkunjung, semoga beruntung."
Carlos berbalik pergi, keluar dari ruangan setelah pamitan dengan Lucky Luciano juga. Elgio perhatikan jam yang berputar lambat. Pukul tujuh lewat ketika satu pesan masuk dari Padre Pio.
"Elgio, Nona Marya saat ini bersama Suster Zelinda di Desa Kuno. Ia disekap oleh penjahat dan berhasil kabur. Jemputlah dia!"
Elgio membaca pesan itu dengan tangan gemetaran, mata berkaca-kaca. Ia segera turun dari ranjang, cabut infus dan tanpa sengaja menyenggol vas berisi bunga yang Irish bawa hingga jatuh, pecah berkeping-keping. Bunga-bunga berserakan di lantai. Irish menatap nanar pada bunga-bunga itu.
"Maaf Irish. Aku tak sengaja. Aku harus pergi!" kata Elgio abaikan tatapan kosong Irish Bella.
"Hei, Elgio, ada apa?" Lucky berseru dan Reinha terbangun akibat keributan itu.
"Ada apa, Kak?"
Elgio datangi Lucky, bicara pelan pada pria itu.
"Lucky, sepertinya Valerie tak tahu Marya kabur dan dibawa oleh seorang biarawati yang kami kenal ke Desa Kuno, Kastil Tua. Aku akan menjemputnya."
"Eh, kami ikut!" kata Reinha.
"Tidak Enya, tunggu kabar dariku," kata Elgio. "Aku akan segera kembali bersama Marya!"
Elgio memakai jaket dan abaikan lengannya yang baru dijahit. Naik ke mobilnya yang berisi banyak senjata. Masih ada sisa bius di tubuhnya pasca operasi, tetapi siapa peduli, ia hanya ingin bertemu Marya.
Irish masih terdiam di kamar itu dan Lucky Luciano menegurnya.
"Anda belum pergi, Nona? Kami harus segera pergi."
Irish berpaling pada Lucky Luciano, mengerut saat lihat pria itu pakaikan jaket untuk Nona Durante yang berantakan dengan penuh kasih sayang.
"Tuan Lucky, apa kau masih ingat salah satu kru Televisi di acara sosial Miopi 6 bulan lalu? Kita bertemu pertama kali di acara itu dan Anda menjalin hubungan dengannya?" tanya Irish.
Lucky terperangah dan berhenti beraktivitas sejenak. Pria itu menggeleng.
"Maaf, aku tidak ingat. Aku punya masa lalu dengan banyak wanita dan kami sepakat tak ada ikatan," balas Lucky. Ia tak berani melirik pada Reinha.
Irish Bella pergi dari sana setelah menampar keras Lucky Luciano dengan kata-katanya. Reinha pura-pura tak ambil pusing, tetapi ia pikirkan secara serius ucapan Irish. Well, kekasihnya berandalan, punya banyak kisah liar dengan banyak wanita dan pria itu telah bertobat meski akibat perbuatannya dari masa lalu sedang menunggu di masa depan. Lucky menabur benih di masa lalu, di tengah jalan ia bertobat pada Reinha, tetapi benih-benih itu terus tumbuh dan badai sedang menunggu mereka di hari-hari esok. Berapa banyak wanita lagi? Reinha meraih tangan Lucky dan menggenggamnya.
"Jangan cemas, cintaku tak akan berubah dengan mudah hanya karena kesalahan masa lalu-mu. Introspeksi dirimu Lucky! Kau harus banyak bertobat."
Mata mereka bertemu dan Reinha terlihat jauh lebih dewasa dari usianya.
"Kecuali kau berpikir untuk bersama bayimu, aku akan menyerah," tukas Reinha terus-terang.
****
Sementara Marya duduk di pembaringan, suster Zelinda melumuri kaki gadis itu dengan minyak obat.
"Ini dari daerahku. Kami jarang pergi ke rumah sakit untuk luka-luka seperti ini. Ayahku seorang tabib, jadi, beliau buatkan ramuan obat ini."
"Aromanya sangat aneh tetapi sangat dingin dan segar di kaki-ku, Suster."
"Ya, ini dari virgin oil dan dimasak dengan rempah-rempah seperti kunyit, bawang putih yang punya banyak khasiat untuk penyembuhan luka. Oh, Anda mungkin belum bisa pakai sepatu untuk sementara waktu."
Marya mengangguk. "Iyah, Suster. Sekarang baru terasa perihnya."
"Nah, duduklah yang manis. Anda pasti lapar," kata suster Zelinda membantu Marya bersandar di ranjang. Masing-masing kakinya dililit perban.
"Aku belum makan sejak kemarin," jawab Marya dan perutnya berbunyi setuju.
"Gadis malang, aku menyiapkan sarapanmu. Sayang, rendangnya habis. Tetapi aku punya sesuatu yang lain untukmu dan saya yakin Nona akan sangat suka."
Suster Zelinda pergi dan Marya dari balik jendela kaca menikmati halaman biara yang dipenuhi bunga-bunga mawar dan Krisan. Kupu-kupu beterbangan di sana, di atas permukaan bunga dan kepakan sayap-sayap cantik mereka. Marya mengucap syukur dalam hati, ia berhasil selamat dari penjahat. Rindu pada Elgio semakin menjadi-jadi. Kekasihnya sedang dalam perjalanan dan Marya tak bisa bendung rasa ingin jumpa. Tanpa Elgio ia merasa hampa.
"Ini dia ...." Suster Zelinda kembali dengan nampan berisi nasi, sup dan daging tusuk. Ada dua cup kecil saos kecap dan saos kacang. "Ini makanan terenak lainnya dari Indonesia. Namanya sate. Makanlah, Nona!"
Aroma saos kacang dan daging panggang buat Marya tanpa basa-basi makan dengan lahap.
"Pelan-pelan saja! Awas makanannya nyangkut di tenggorokan."
Suster Zelinda temani ia makan. Benar-benar lezat, nasinya masih panas dan agak lengket hingga pas dilidah dengan daging panggang yang lembut. Makanannya dengan cepat ludes dan Marya kemerahan karena malu.
"Tubuh Anda benar-benar kuat ya, tanpa makan hampir 24 jam."
"Aku mencuri dua potong pizza kemarin di tempat di mana aku disekap. Lalu, malamnya aku bermimpi, ayahku memberiku makan," ujar Marya lirih. "Beliau sudah lama meninggal saat aku masih kecil. Semalam saat kelaparan, ia memberiku makan semangkuk mie dan memelukku hingga pagi."
Suster Zelinda angguk-angguk. "Itu pertanda, Ayah Anda selalu bersamamu, Nona. Hidup dalam hati Anda. Tuhan kadang bekerja dengan cara diluar pemahaman kita, tak terduga, tidak masuk akal, tetapi percayalah, Tuhan selalu bersama orang-orang yang lurus hatinya. Aku berdoa setelah ini, Anda dan Tuan Elgio, temukan kebahagiaan sejati."
"Aku merindukannya, Suster," guman Marya.
"Doakan perjalanannya lancar agar Anda segera bisa bersamanya. Istirahatlah, Nona!"
Berbaring dengan banyak bantal penyangga di kepalanya, Marya gelisah oleh serangan berbagai rasa campur aduk, Marya temukan dirinya tak bisa istirahat.
Jantung berpacu cepat saat isi lamunannya hanya terjemahkan Elgio dan pria itu mengisi otaknya hingga ke tepi-tepi saraf. Pecahan-pecahan rindu menyatu mengisi palung hati, menjelma jadi sesuatu yang menggetarkan, Marya tak tahan. Ia bangkit dari ranjang, sedikit kepayahan melangkah ke depan serambi Biara, duduk di undakan tangga dan menunggu Elgio di sana. Biara begitu sunyi menjelang siang sebab para biarawan berkumpul untuk sembahyang.
"Datanglah padaku!" Marya katupkan dua tangan dan terus saja katakan kalimat yang sama. "Datanglah padaku, Elgio! Aku mencintaimu, aku merindukanmu." Diucapkan terus-terusan. Ia berhenti ketika sebuah suara menyapanya.
"Halo, Nyonya. Apakah kebetulan nama Anda Marya? Nyonya Durante?!"
Marya terkejut dan membuka matanya. Dihadapannya berdiri seorang bocah berusia kita-kira 7 tahunan dengan wajah gelisah.
"Eh?! Kau tahu namaku?"
"Ya, seorang pria kecelakaan 200 meter dari Desa ini dan dia mengatakan bahwa namanya Elgio Durante. Ia datang mencari istrinya di Biara," jelas bocah laki-laki itu.
Marya terkejut dan gagap. "Ya Tuhan, apa lagi ini? D,di,dii mana dia?"
"Beliau mengirim aku untuk kabari pada Anda dan minta Anda datang padanya."
Marya menangkup kedua wajahnya dan mulai menangis. Ya Tuhan, apa lagi ini?
Marya tak ingat lagi memberitahu Suster Zelinda, gadis yang panik itu berlari keluar dari halaman biara dan terus menyusuri jalanan di Desa Tua. Ia tak lagi peduli pada kakinya yang sakit. Al Shiva tak terlihat di tempatnya biasa, Marya berlari makin cepat.
"Elgio?! Ya Tuhan, mengapa Kau tega sekali padaku?"
Marya keluar dari portal masuk Desa, tak ada security terlihat di sana. Dua ratus meter berarti di tanjakan tajam sebelum dataran rata di perbukitan menuju Desa. Ia berlari di pinggir jalan tanpa alas kaki dengan perban terbalut di telapak-telapak kakinya.
"Elgio?!" teriaknya di jalanan dekat tebing. Ia duduk di pinggiran jalan lengang. Melongok ke jurang, tak ada apapun.
"Elgio?!" pekiknya lagi lebih keras. Tak terlihat mobil Elgio.
"Elgio?! Di mana kau?!"
Seseorang berdecak di belakangnya.
"Hmm, sudah kuduga kau di sini, Nona! Untung aku ikuti minibus itu kemari." Arch muncul dari balik pepohonan.
"Kau?! Berani sekali kau menipuku?!" desis Marya. Wajah gadis itu langsung pucat pasi, ia mundur perlahan dan akan berlari kembali ke perkampungan ketika Arch bergerak lebih cepat menangkap tubuhnya.
"Lepaskan aku!"
"Tidak, kali ini!"
"Lepaskan aku!" Marya berontak lebih kuat dan melawan Arch yang sangat kuat.
"Kau membuatku dalam masalah, Nona." Arch memeluk pinggangnya kuat dan membopong Marya.
"No no no .... Tolong aku! Lepaskan aku!"
Sebuah mobil datang dari arah berlawanan dan melihat Istrinya meronta dalam lengan seseorang asing, kemarahan Elgio naik berlipat ganda. Ujung-ujung saraf menegang dan ia berhenti tepat di depan Arch yang terkaget.
Elgio turun dari sana dengan wajah merah membara terbakar marah. Langkah-langkah panjang dan cepat, satu kepalan keras membentur wajah Arch yang langsung terjengkang jatuh ke belakang. Marya terlontar keluar dari genggaman Arch segera mundur ketakutan dari sana, sejauh mungkin dari jangkauan Arch.
"Elgio?!" jerit histeris Marya antara bahagia dan sedih.
"Berani sekali kau menyentuh istriku!" ujar Elgio dingin.
Pria yang marah itu, merenggut Arch yang terjatuh dan meninjunya kuat. Arch baru akan bangkit tetapi Elgio ayunkan satu tendangan tepat di dada pria itu sangat keras hingga Arch kembali terbuang ke belakang. Kepingan amarah, emosi, murka yang memuncak buat Elgio tak kendalikan dirinya lagi. Arch tak berdaya dalam cengkeraman kuat Elgio yang radang, dan kembali layangkan tinju beruntun hingga Arch babak belur. Tidak puas, pria itu menyeret Arch ke mobil. Ia meraih senjata di jok depan dan menodongkan moncongnya pada Arch.
"Berani sekali kau menyentuh Istriku, bangsat!"
***
Beri komentarmu, sebab tanpa komentar Readers, aku gak tahu chapter ini bagus atau tidak. Author macam aku pertimbangkan komentar Readers hingga buatku tidak akhiri novel ini dengan cepat...
Cintai aku ya!
Visual Lucky Luciano dan lainnya bisa lihat di chat group. Follow me terus join group.