Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 59 Balas Dendam Terbaik....



Reinha Durante merapikan tasnya setelah Marya dan Elgio keluar ruangan aula, ia hendak menyusul mereka. Reinha putuskan akan ikut Marya ke Paviliun Diomanta untuk membahas masalah seragam pernikahan. Tak bisa dipercaya Diomanta keluarganya kini. Beruntung Marya Corazon berbeda dari mereka.


"Kau akan pergi sementara kekasihmu akan berikan seminar?!" Ethan Sanchez mencegahnya, remaja laki-laki itu menahan tas Reinha.


"Ya, aku ada urusan penting bersama Elgio dan Marya. Sejak kapan kau suka bisnis?"


"Bukan masalah suka atau tidak suka ..., Marya pergi, kau pergi dan Pak Jerry akan mengomel," keluh Ethan. Remaja pria yang biasanya pendiam dan serius, makin hari makin dekat dengan Reinha dan Marya. Padahal dulunya Ethan dan Reinha satu geng bersama Claire dan Abram. Sifat asli Ethan Sanchez mencuat, kejam tapi gokil.


"Baiklah, kalau begitu. Aku memang harus pergi. Sampai jumpa nanti, Ethan!"


Reinha keluar dari ruangan, secara tak sengaja hampir menubruk Lucky di depan pintu. Padahal ia ingin menghindari Lucky Luciano. Bagaimana ini? Lucky memaksanya harus ada di ruangan saat ia mengajar, jika tidak pria itu akan membuat onar.


"Kau mau kemana, Enya?!" tanya Lucky keheranan melihat gadis itu buru-buru. Ia mengatakan "aku merindukanmu, Enya" dalam hati berharap Reinha mendengar.


"Eh ... aku akan pergi bersama kakakku! Maaf ya, aku tak bisa ikut kelasmu. Kami harus mempersiapkan pernikahan Marya dan Elgio."


"Tidak boleh!" seru Lucky halangi jalannya. Reinha bergerak ke sisi satu dan Lucky ikut ke sana menghadangnya.


"Ini urusan penting."


"Tidak ada yang lebih penting saat ini selain duduk diam di bangkumu! Aku akan bikin keributan, jika kau memaksa."


"Tolonglah ...."


Mata mereka bertemu. Reinha meringis oleh sorot lembut yang melumpuhkannya itu. Bagaimana caranya ia hancurkan hati Lucky Luciano sedang saat menatap mata Pria itu, ia sendiri merasa seperti gula melarut dalam air?


"Tuan Lucky benar, Reinha Durante. Berikan contoh yang baik! Kembali ke bangkumu!"


Pak Jerry muncul di belakang Lucky dan Reinha menggerutu, manyunkan bibirnya pada Lucky. Mengapa Pak Jerry datang di waktu yang tidak tepat?


"Kau masih marah padaku?!" tanya Lucky saat Pak Jerry lebih dulu ke dalam ruangan aula.


Gara-gara kehebohan saat siswa tak tertib di kelas seminar Elgio Durante, Pak Jerry putuskan untuk ikut di kelas Lucky Luciano dengan tongkat ketertiban di tangannya. Lebih baik ketimbang ia menegur dengan kata-kata. Masih ingatkan? Kau perlu pelindung kepala.


"Ti, tidak ...."


"Kau tak membalas pesanku, juga tak merespon panggilanku," kata Lucky menyelidikinya. "Apa kau sakit?" Pria itu berubah cemas.


"Aku hanya sibuk," jawab Reinha asal-asalan. Sibuk memikirkan cara untuk mengacaukan hatimu dan membuatmu merana.


"Baiklah, kembalilah ke bangkumu. Bisakah kita pergi makan malam hari ini?" tanya Lucky penuh harap. Ia menanti jawaban. Tubuh pria itu berdiri gelisah.


"Em ... sepertinya tak mungkin Lucky." Reinha menoleh ke bangku tempatnya duduk tadi dan Ethan Sanchez melambai padanya. "Em ... aku dan Ethan Sanchez akan pergi nonton bersama pukul 7 nanti. "


Reinha berbohong dan ide mendadak itu berhasil buat Lucky Luciano cemburu berat. Mata pria itu terlihat kecewa, bibirnya mengerucut.


"Apa?! Menonton dengan Ethan Sanchez?" tanya Lucky menyipit tidak suka. Ia hembuskan napas kasar saat akan mengatakan sesuatu, tetapi Reinha buru-buru buka mulut.


"Kami hanya menonton film dokumenter berkaitan dengan Lomba Karya Ilmiah. Seminarmu akan dimulai Lucky. Sampai nanti, ya."


Reinha berbalik kembali ke bangku dan duduk di samping Ethan Sanchez hingga membuat Ethan mengernyit sementara Lucky tak berhenti memandang Reinha yang jelas-jelas sedang menghindarinya.


"Kau tak jadi pergi?"


Reinha mengangguk sebagai jawaban untuk Ethan dan bicara serius, "Ethan, sekali ini saja, bisakah kau menolongku?"


"Ada apa?"


Reinha mengangkat buku dan menutup wajahnya. Ia berbisik di telinga Ethan Sanchez.


Remaja itu terlihat berkerut sebelum tersenyum senang.


"Keren ...."


Reinha tersenyum pada Ethan berterima kasih.


Lucky Luciano kehilangan semangat. Ia kedapatan berulang kali melamun dan sungguh terganggu pada sikap Reinha yang terlihat lebih tertarik pada Ethan Sanchez ketimbang padanya. Wah, gadis itu telah mulai perang hati dengannya.


"Kau tahu Kak, Reinha Durante digilai hampir separuh laki-laki di sekolahku bahkan remaja dari sekolah lain. Jangan buat dia pergi, atau kau benar-benar akan kehilangan Reinha, Kak."


Kata-kata Claire berkumandang di kepalanya. Lihatlah sekarang! Gadis itu duduk merona merah di sana sedang Ethan terus berbisik sangat dekat dengannya.


"Ethan Sanchez menyukai Marya Corazon dan Reinha menyukai Ethan. Itu bukan rahasia lagi di sekolahku, Kak." Suara Claire lagi.


Baiklah, Lucky Luciano kehilangan arah pada materi presentasi. Beruntung Francis perbaiki materi presentasi, membuatnya secara berstruktur gunakan bagan tematik hingga Lucky tak repot-repot keluarkan banyak kata. Francis bahkan menaruh catatan-catatan kecil agar Lucky mudah bawakan materi.


"Strategi pasar dan bagaimana cara anda mengemas produk untuk menarik atensi pembeli menjadi hal paling mendasar dalam dunia berbisnis. Selanjutnya mempertahankan pelanggan adalah hal lain yang menunjang dalam pemasaran."


Lucky kembali pada Reinha. Tangan Ethan memegang tangan Reinha, terlihat seperti mencocokkan garis telapak tangan kemudian ia mengatakan sesuatu. Lucky perhatikan gerakan mulut Ethan Sanchez.


"Kita punya garis telapak tangan yang sama dan jika tangan disatukan, kita sepertinya berjodoh."


Reinha berbinar-binar dan menengok Ethan Sanchez bersemangat, "Benarkah?"


Ethan mengangguk. Tangan remaja laki-laki itu mencoret sesuatu di tangan Reinha dan itu membuat kekasihnya merona merah.


Lucky meniup udara dari dalam mulutnya. Apa yang Reinha lakukan? Mengapa ia terlihat sangat nyaman bersama Ethan? Apakah mereka selalu sedekat itu di sekolah? Padahal terakhir kali saat Lucky menemani Reinha di sekolah, mereka tak seperti itu?


"Ada beberapa teknik pemasaran yang dapat kamu gunakan untuk meningkatkan penjualan sehingga bisnismu semakin meningkat di era teknologi canggih. Alih-alih gunakan smartphone-mu untuk menulis status galau, narsis berlebihan dan hanya buang-buang waktu stalking status mantan pacar ...."


Tawa seisi aula pecah. Lucky Luciano bicara berdasarkan pengalaman pribadi. Ia sering mengintip Reinha Durante di akun sosial media gadis itu dan menyimpan semua foto Enya. Ethan dan Reinha ikut tertawa sebelum kembali sibuk berduaan.


"Coba fungsikan untuk hal-hal berguna yang bisa menghasilkan uang. You know, kita hidup di era di mana, orang tidak harus ke kantor dan duduk di belakang kabinet untuk kebebasan finansial. Lewat ponselmu, kamu bisa berkantor dari mana saja kerjakan bisnis dan menghasilkan uang."


Para siswa mengangguk-angguk sepakat begitupun Pak Jerry. Lucky Luciano bukan saja tampan, pria itu memang hebat.


"Aku punya seseorang yang berasal dari sekolah ini dan sangat pandai menjalankan bisnis. Kupikir Nona ini bisa berbagi ilmu strategi pemasaran di era digital. Aku sangat kagum pada kecerdasannya mengelola bisnis."


Sementara Reinha dan Ethan seakan tak peduli dan berkubang dengan dunia mereka berdua. Sedikit terkejut ketika bisik-bisik mengisi aula.


"Nona Reinha Durante adalah pemilik Dream Fashion dan gadis ini menjalankan bisnisnya secara luar biasa ...."


Wooowwww .... Desas-desus di sana-sini membuat Reinha dan Ethan berhenti berbisik-bisik.


"*Reinha Durante?! Tidak heran dia sangat pintar dan cerdas."


"Dia begitu sempurna*** ...."


Lucky bersorak dalam hati ketika melihat Reinha kelabakan. Gadis itu sangat terperanjat mendengar namanya disebut-sebut.


"Aku mengundang Nona Reinha Durante untuk ke podium! Kemarilah, Nona Reinha! Anda mungkin bisa berbagi pengetahuan bisnis untuk teman-temanmu."


Ethan Sanchez dan Reinha Durante saling pandang, "Apa yang pria itu lakukan?!"


Reinha memutar kepala ke seluruh ruangan. Seisi aula menuntutnya bangun termasuk Pak Jerry yang manggut-manggut penuh kekaguman, mempersilahkan ia maju. Apa yang sedang pria itu lakukan? Reinha terpaksa berdiri canggung dan kumpulkan percaya diri, pergi ke depan aula.


"Apa yang kau lakukan?" bisik Reinha pada Lucky Luciano setengah jengkel.


Lucky mengangkat bahu, "Bukankah aku benar? Kau menjalankan bisnis dengan baik selama seminggu, kau bahkan mengatur cup bra-mu saat akan rapat dengan CEO dari Flamingo Shopping. Kau bisa berbagi strategi bisnismu, bukan?" ejek Lucky Luciano balas berbisik, pria itu setengah menyeringai padanya.


"Kau ... arrghhh ... apa maumu?!"


Apa aku harus diam saja saat melihatmu bersentuhan dengan Ethan Sanchez? Kau milikku Enya dan kau tak boleh disentuh oleh lelaki lain.


"Kau sialan, Lucky Luciano. Beraninya menyeretku ke sini ...." Reinha merah padam. "Apa yang harus kukatakan? Apa aku akan berbagi strategi hebat, cara seorang pria menjual tampangnya, membuat si gadis jatuh cinta setengah mati sebelum melukainya? Begitukah? Ya ya ya, itu terlihat lebih menarik." Reinha berbisik gusar.


Lucky terdiam. Jadi, dugaannya benar, gadis itu masih marah bahkan setelah seminggu. Ia menghela napas berat.


"Kau masih marah padaku?" tanya Lucky murung.


Reinha tak menggubris, "Jadi, darimana aku harus mulai? Apa aku mulai dari dalam bis saat aku diracuni dengan obat anti mabuk dosis tinggi?"


"Enya ...."


"Atau saat kau meninggalkan aku di Hotel dan menyelamatkan wanita lain?"


"Hei Enya ...."


"Atau saat kau melamar wanita lain tanpa pedulikan kekasihmu? Kayaknya aku suka bagian paling akhir itu."


"Enya ... tolonglah!"


Reinha berpikir sejenak, apa yang harus dijelaskan pada teman-temannya? Ia sama sekali tidak siap.


"Kau brengsek sekali, Lucky Luciano," rutuk Reinha seraya angkat kaki ke balik microfon.


"Terima kasih, ini sungguh tiba-tiba. Aku sama sekali tak punya persiapan. Tetapi aku akan berbagi sedikit. Aku dan Kakakku mengelola Dream Fashion, outlet fashion dan kami menjual produk eksklusif label Dream Fashion sendiri, juga beberapa produk dari brand-brand ternama. Kami memasarkannya lewat, Search Engine Marketing. Kalian tahu google-kan? Rata-rata pengguna ponsel mencari produk di google. Jadi Search Engine Marketing bertujuan agar produk kita muncul pada halaman utama Search Engine Result Page. Cara kerjanya adalah memasang banner iklan dengan menargetkan kata kunci yang punya keterkaitan dengan produk yang dijual.


Bukan cuma itu saja ada sistem pemasaran


melaluiĀ inbound marketing, jadi, para customer akan menemukan produk lewat beragam jenis saluran yang digunakan setiap saat seperti media sosial dan website. Belakangan aku juga mengembangkan kerja sama dengan para reseller lewat content marketing. Mereka boleh berkantor di Dream Fashion, membuat foto, tulisan, audio, video dan bahkan melakukan live streaming untuk menjual produk Dream Fashion. Mereka mengambil keuntungan dari setiap produk yang terjual. Ini cukup berhasil untuk tingkatkan penjualan."


Ethan Sanchez berdecak dari bangku duduknya, "Keren sekali dia."


Sementara Lucky terpukau tanpa berkedip, ia semakin jatuh cinta pada gadis cerdas itu sembari memikirkan cara untuk menyeret Reinha makan malam bersamanya. Hubungan mereka sepertinya butuh di-charger.


"Hal yang paling dasar dari marketing daring adalah pemanfaatan media sosial teman-teman, seperti yang disinggung Tuan Lucky Luciano. Alih-alih, stalking akun seseorang, mencuri foto-fotonya, menyimpannya dalam ponselmu dan akhirnya merusak otakmu ... kau bisa gunakan untuk sesuatu yang lebih efisien yakni pasarkan produkmu."


"Wow, apa yang dia bicarakan?"


Ethan mengerut keheranan. Itu terdengar seperti menyinggung seseorang. Sementara Lucky Luciano menahan senyum pada gadis yang terdengar seakan sedang menamparnya secara elegan.


"Teman-teman yang ingin jadi reseller boleh bergabung bersamaku di Dream Fashion. Kau tak perlu repotkan orang tuamu hanya untuk urusan membeli pulsa. Terima kasih sudah mendengarkan aku."


Reinha mendapat tepuk tangan dari seisi ruangan dan mereka berdecak kagum padanya.


"Luar biasa ... " seru Pak Jerry ceria.


Lucky memegangi tangan Reinha saat ia akan melangkah kembali ke bangkunya. Sementara tepuk tangan tampaknya tak akan berakhir dengan cepat.


"Kau akan makan malam denganku!"


"Tidak, Lucky. Aku sudah berjanji pada Ethan."


"Jangan konyol! Aku kekasihmu."


"Ya, tetapi bukan kau yang akan berdiri di sampingku saat debat karya ilmiah? Tidak ada senjata yang bisa ditodongkan di kompetisi Karya Ilmiah."


Lucky terperanjat oleh kata-kata kasar gadis itu. Semarah itu Reinha padanya.


"Baiklah. Aku akan mengikuti kalian berdua." Lucky tak putus asa. Reinha sering mengumpat padanya bahkan sangat bar-bar saat memakinya, tetapi sekali ini, Lucky tiba-tiba merasa hatinya berdenyut sakit. Ia menginginkan gadis itu meski hanya untuk menontonnya mengunyah sepotong daging atau mengumpat marah.


"Lakukan saja sesukamu, lepaskan aku!"


Reinha memegang tangan Lucky dan lepas dari pria itu serta kembali ke bangku dan beradu telapak tangan di sana dengan Ethan Sanchez.


"Kau keren Reinha Durante. Kau bisa jadi motivator bisnis, kau membuatku terpesona padamu."


"Hentikan, Ethan. Jika tahu kau akan se-ekspresif ini, aku akan lakukan sejak dulu dan kau akan tergila-gila padaku."


"Aku tidak bisa berubah. Aku sangat menyukai Marya Corazon."


Reinha mencibir, "Ya, tetapi kau jangan coba-coba! Elgio sangat mencintainya."


Kelas berakhir dengan cepat dan tidak ada siswa yang bertanya, "Apakah Lucky punya pacar?" seperti yang mereka lakukan pada Elgio. Tentu saja, Pak Jerry menatap tajam dari ujung kaca- matanya hingga tak ada yang berani bertanya macam-macam.


Ethan memegang kedua bahu Reinha dan mendorongnya keluar dari aula, berdesakan di antara siswa lain. Lucky Luciano benar-benar tak menyukai remaja itu.


"Enya, kita harus bicara." Pria itu melangkah cepat dan menghadang Reinha di koridor sekolah.


"Hai, Tuan Lucky. Kami akan pergi bersama."


Ethan menegur basa-basi tak indahkan pria di hadapannya yang makan hati melihat tingkah mereka.


"Lepaskan tanganmu darinya, Ethan!" Lucky tersenyum dingin. Em, dia tak akan menghajar Ethan Sanchez, tidak, tetapi ia terbakar cemburu.


Reinha menghela napas malas, "Baiklah. Mari bicara dan biarkan aku pergi setelah itu."


Reinha melangkah ke dalam kelas yang kosong dan Lucky menyusul dan berdiri di pintu masuk sementara Reinha melompat duduk di salah satu meja. Jemari gadis itu mengetuk meja pelan.


"Baiklah, bicaralah!"


Lucky menatap Reinha tak mampu membaca isi pikiran gadis itu.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti marah padaku Enya? Aku pikir kita baik-baik saja?"


Reinha membalas tatapan itu, menghujam langsung ke mata cokelat Lucky Luciano.


"Kau tahu ciuman, cumbuan dan kata-kata manis bisa meredakan amarah tetapi tidak benar-benar berhasil obati luka hati. Aku butuh waktu untuk sembuh meski aku terlihat baik-baik saja."


"Enya ...."


"Kau tahu, cinta kita, kupikir sangat serius dan bahkan seseorang menulis banyak chapter tentang kita dengan pemikiran mendalam. Kau dan aku digoreskan melalui permenungan panjang, dilukiskan lewat kata-kata intim bak pujangga, mengalahkan tokoh utama. Tetapi kau membuat pernyataan dalam dua kalimat yang benar-benar menghancurkan, seakan-akan chapter-chapter hebat tentang kita sama sekali tidak berarti. Hanya sekedar omong kosong."


Tatapan mereka bertemu tersorot kesakitan dan penyesalan.


"I am so die regret, Enya .... Aku sungguh-sungguh menyesal."


Kau mungkin mati saat kutembak Lucky Luciano, tetapi semua akan terasa mudah bagimu untuk berakhir begitu saja. Aku akan menyiksamu sehingga kau akan berpikir seribu kali untuk sakiti aku. Kau akan mengerang, meraung dan mengemis karena menginginkan aku. Meskipun aku sangat mencintaimu dan selalu luluh padamu, aku harus membuatmu benar-benar jatuh padaku, tanpa pilihan. Aku akan memberimu pelajaran, Lucky Luciano.


***


Noveltoon memberikan aku cover eksklusif untuk novel ini untuk promosi banner dua hari. Aku tak menyukai cover itu. Jadi, aku diminta buat cover sendiri dan sepertinya, covernya berisi Elgio Durante dan Lucky Luciano, aku juga mungkin harus menulis ulang sinopsis sebelum self publishing ... Itu berarti Readers bisa melihat visual Lucky Luciano di cover Novel dan aku akan menulis karakter ganda.


Berikan pendapatmu, ya tentang hal ini?


Cintai aku, aku mencintaimu ....


Beri dukungan juga untuk novel pertama saya ya. Dijamin gak mengecewakan.