Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 38 Love Story' Super Ribet....



"Lucky ... Lucky ... ada apa denganmu? Di mana ambisimu? Apakah kau masih Lucky Luciano yang digadang-gadang jadi The Next Tetua?" Sunny berpaling seraya berdecak keheranan. Saat tatapannya kembali, Sunny bicara dingin. "Kontainer 9 akan segera dikirim dan kau tahu bahwa 'V' tidak suka kau bermain-main dalam pekerjaan. Kau sedang diawasi karena banyak teledor dan gadismu itu mungkin akan berakhir dengan kehilangan jempolnya yang cantik."


V adalah "simbol" untuk memanggil nama Capo atau Tetua, puncak kekuasaan tertinggi dalam organisasi yang tergabung dalam Familly Club', sedangkan Familly Club' merupakan kumpulan para mafia. Sindikat itu teroganisir melakukan kriminal pemerasan, mengintimidasi usaha kecil lain dengan kekerasan untuk memanipulasi kegiatan ekonomi lokal, terlebih terlibat dalam perdagangan gelap. Selain itu masih ada perdagangan narkoba, lintah darat dan penipuan. Mereka terikat secara emosional dan saling melindungi sesama anggota dari jeratan hukum.


Seorang Tetua adalah mentor, guru, orang tua bahkan melebihi kekasih dalam sebuah organisasi. Keputusannya mutlak dan bulat, tak dapat diganggu gugat. Ia mengelola orang lain dan mengendalikan semua orang dalam organisasi. Capo Tua disegani dan ditakuti member Familly Club sebab ilmu pengetahuan, serta pola berpikirnya yang selicin belut, membawa semua member menikmati kekayaan berlimpah ruah. Mereka hidup kaya berkat kecerdasan dan insting sang Tetua.


Namun, ketika ada pembangkangan dan pengkhianatan, Capo Tua akan mengirim "Ciuman Kematian". Kau bisa kehilangan mata, patah jempol atau tempurung lutut retak, tergantung perintah Tetua. Lebih buruk jika "Dalam Kesunyian" diaktifkan, member di eksekusi di tempat oleh sniper yang bersembunyi entah di sebelah mana. Atau hukuman lebih ganas lainnya, direndam dalam tong asam setelah disiksa selama 300 hari penuh.


"Sunny ..., apa aku terlihat takut pada ancamanmu? Satu hal lagi, kau butuh tahu ... gadis itu bukan kekasihku dan tidak ada urusannya denganku."


Sunny majukan bibir tak percaya pada pernyataan Lucky. Mata wanita berambut pendek itu naik turun amati Lucky sebelum menggeleng kecil.


"Peraturan pertama saat kau bergabung di Familly Club ... Lucky, taat pada perintah Tetua! Kau diluar kendali beberapa hari ini dan kau bisa buat kita tersandung. Jadi, mumpung kita bertemu, aku ingatkan ... kembalilah berjalan pulang. 'Ayah' sedang menunggu 'Anak Emas-nya', bahkan adakan perjamuan istimewa untukmu. Kau tahu artinya jika 'anjing pemburu' datang? Peraturan kedua, jangan biarkan cinta halangi tujuanmu."


Sunny Diomanta mengibas mantel bulu dengan jemarinya seolah debu tak kasat mata baru saja menempel di bulu-bulu mantel.


"Lagipula, kau bermain-main dengan adik perempuan Elgio Durante sementara kau tahu, Elgio memburu kita dan mencari celah untuk menghabisi kita? Kembalilah waras!" Sunny memberi peringatan.


Sunny benar, dirinya telah di luar kontrol akibat terjebak pesona maut Reinha Durante. Lebih gila lagi, ia berusaha meningkatkan standar dirinya agar bisa meraih Reinha, memperbaiki diri agar memenuhi kualifikasi Reinha, sungguh melenceng di luar nalar. Lucky mendengus, ini tak masuk akal. Di luar kemampuannya, tobat dan pengampunan, bukan hadiah untuk tangan-tangan berlumuran darah dan nista. Meskipun tampak berseragam bak malaikat pemegang sangkakala, Lucky hanyalah seorang taruna iblis.


Orang-orang macam mereka berderma di jalanan, beramal dari hasil memeras orang lain dan giat menyumbang pembangunan rumah ibadah dari hasil penipuan. Mereka mengambil dari tangan kiri dan memberi dengan tangan kanan. Ia bahkan tak segan-segan menarik pelatuk dan menghabisi nyawa ajudannya yang berkhianat. Dua orang wanita yang ia hormati hanya Ibunya dan Claire, adik perempuannya. Lebih dari itu ia pergi dari satu wanita ke wanita lain dan menyandarkan kepalanya pada paha mereka. Dalam banyak hal, Reinha Durante benar, ia bekas-rusak-hancur dan tongkat peri sekalipun tak akan sanggup memperbaiki. Moral dan nuraninya cacat meskipun saat ini ia menemukan Reinha Durante dan tanpa ia kehendaki, hatinya berbaring pada Reinha. Namun, tak ada tempat untuknya di hati gadis seputih salju seperti Reinha Durante.


Lucky mengejar Reinha sementara Elgio Durante memburu aktivitas mereka selama ini. Elgio Durante diam-diam melacak pergerakan Diomanta dan ikuti perkembangannya. Diomanta dan dirinya kerap melakukan pencucian uang sehingga uang mereka terbaca berasal dari sumber legal dan tervalidasi. Elgio selalu memburu Diomanta oleh dendam kesumat kematian sang Ayah dan keduanya kadang menempatkan Lucky di tengah konflik personal mereka.


"Sunny, semua keterlibatan Elgio Durante berawal dari terbunuhnya Leon Durante oleh Ayahmu. Aku sarankan, selesaikan urusanmu dengannya terlebih dahulu. Apakah perjodohan ponaanmu dengan Elgio tidak lancar? Kau ingin menculik adik perempuannya sebagai sandera dan mengancam kakaknya? Jauhi Reinha!"


Sunny mengeram jengkel sebelum pergi dari sana dengan raut wajah kusut masai tinggalkan Lucky. Pria itu berdiri di bawah jilatan mentari pagi yang menghangat, mengulurkan tangan mencengkeram cahaya bahkan kehangatan mentari bukan tercipta untuk manusia sepertinya. Empat buku jari tangan kanannya berukirkan empat huruf, E-N-Y-A, diukir semalam oleh ahli tato, The Tatum.


Langkah lesu itu membentak aspal jalanan, membawanya sampai di gudang dan Reinha seorang diri di antara rak-rak buku dengan notes dan pena di tangan. Gadis itu bergerak gemulai bak malaikat dalam lukisan bahkan saat ia mematung dengan wajah kesal seperti itu, Reinha tampak sangat rupawan. Ia adalah pigura termahal dan terindah yang pernah dilihat oleh mata berdosanya. Lucky menghela napas dan menahan di dalam dada sebelum berhembus keras.


Apa yang membuat Reinha kesal? Dirinya? Lucky meringis, ia benar-benar terkena kutukan dari Dewa Cinta.


"Mengapa tinggalkan toko?"


Reinha berkerut saat dapati Lucky sedang menerawang di ambang pintu gudang. Tatapan lembut Lucky selalu berhasil mempengaruhinya meskipun ia sering tutupi dengan makian kasar. Tidak ingin pria itu tahu, ia sedikit oleng oleh tatapan itu.


"Kupikir kau butuh bantuan ... " jawab Lucky berat.


Lagi-lagi Reinha benar, dunia mereka berbeda. Ia harus tinggalkan Reinha dan membasmi cinta pada gadis itu sebelum mereka berdua benar-benar dihabisi. Bukan hanya dirinya terjerat hukuman, Reinha bisa terkena imbas, masuk dalam target operasi. Ketika hal itu terjadi, sehebat apapun Elgio Durante tak akan mampu selamatkan Reinha. Ada gerakan dalam dunia mereka, disebut-sebut "Dalam Kesunyian" yang khusus diaktifkan untuk menghilangkan nyawa seseorang. Ia kembali hempaskan napas kasar. V memegang kendali dan niat suci Lucky untuk berjalan dalam kebenaran, tidak akan mendapat restu.


Tak ada cinta sejati dalam dunianya yang kotor, tidak sekarang, saat ia adalah salah satu begundal yang menjarah rakyat. Apalagi, cinta pada saudari dari musuh mereka. Elgio Durante adalah pria yang menjalankan bisnis dengan jujur dan terhormat. Pria itu membenci bisnis yang lucky dan Diomanta tekuni.


"Pergilah! Aku tak butuh bantuanmu," usir Reinha.


Penolakkan itu terlalu terus terang disejajari sikap tegas dan disampaikan dengan begitu pongah. Lucky menekuri lantai gudang sembab dan buram, walau samar, ingatan pada gigitan Reinha tergambar di sana. Itu ciuman cinta sejati sebab berkat ciuman gila itu, Lucky merisau jika ada wanita lain yang menghampirinya. Ia bahkan bersumpah tak akan pernah menyentuh wanita lagi sekeras apapun hasrat dalam dirinya bergemuruh. Tanpa sadar ia bergerak mengelus bibir.


"Aku akan menolongmu untuk yang terakhir kali, Enya. Kita akan bertemu nanti di kelas setelah liburan." Lucky mendekati Reinha, mengangkat dua tumpuk dus dan menaruhnya di atas meja gudang ketika dilihatnya Reinha kesulitan dengan dus-dus berat itu.


"Bagus. Lebih cepat kau pergi lebih baik. Kau hanya membuatku pening saat berkeliaran di sekelilingku. Rasanya tak bisa bernapas dengan benar karenamu."


"Enya ... jauhi dirimu dari masalah dan jangan berurusan dengan Diomanta," kata Lucky lembut. "Jika kau tak datang di kelas saat aku mengajar, aku akan membuat keributan di sekolahmu."


"Terserah kau saja Lucky. Saat ini, menyingkir saja dari sini."


Mereka berdiri berhadapan. Lucky masih menatap Reinha, bertanya-tanya, apakah ... setidaknya ia melintas di kepala gadis itu? Setidaknya Reinha mengingatnya sebagai manusia?


"Kau benar, aku tidak akan pernah pantas untukmu. Senang mengenalmu, Reinha." Lucky berguman terdengar berbisik.


Dari seluruh wanita di muka bumi ini, mengapa ia harus jatuh cinta pada Reinha Durante? Tangannya masih memegangi kardus dan ketika nama itu terlihat oleh pupil mata Reinha, gadis itu membelalak lebar.


"Kemarikan tanganmu!" Reinha menarik kasar tangan Lucky dan menggertakkan gigi-giginya. Ia menyipit menatap Lucky.


"Apa ini? E-N-Y-A?! Kau menulis namaku tanpa minta ijinku?" serunya gusar.


Reinha menarik spidol dari saku celana dan membuat coretan di sana dengan gerakan kasar hingga nama itu menghilang tak peduli tingkahnya sakiti Lucky. Pria itu hanya menatap gadis di depannya kalut. Ia bahkan tak boleh menulis namanya serasa benar-benar pria tanpa jiwa. Prosa tanpa judul, musik tanpa nada. Jemari lembut Reinha menari di tangannya, menyentuh tanpa tahu, perilaku simpel itu membuat Lucky sesak napas.


"Kau berlebihan besar kepala, Enya. Kau sangat takabur. Aku menyukai Enya dan lagu Only Time -nya. Bukan Enya dirimu."


"Hah?!" Reinha panik, menarik cepat tangannya mendengar ujaran itu tetapi terlambat. Lucky menggenggam tangan mungil Reinha dan sekali hentak, Reinha jatuh ke dalam pelukannya.


"Kaulah orangnya ...."


***


Sementara di Durante Land beberapa waktu setelah Reinha pergi bekerja...


Elgio menunggu Marya gelisah di ruang tamu. Ia mengenakan celana jeans butut, dan jaket kulit berhoodie persis seperti Robin Hood. Mereka akan keluar hari ini untuk berkencan di luar rumah. Tujuan mereka adalah The Windows.


Marya muncul tak lama kemudian, menggandeng Elgio dan mereka akan meninggalkan Paviliun Durante ketika Abner merecoki kesenangan mereka.


"Kau sungguhan akan pergi berkencan sementara pekerjaan kita menumpuk?"


Elgio memandang Abner jengkel. Ia mengukur panjang bibir Abner, berniat membeli resleting dan mengancing bibir pria itu.


"Abner, kau ini usil sekali. Ini hari Minggu dan orang-orang pergi keluar rumah untuk refreshing, mengembalikan energi mereka. Jika kau ingin mencuci otakmu dan menjemurnya di bawah loteng lalu mengipasi dengan berkas-berkas kerja hingga menyusut seperti cumi kering, lakukan saja! Aku akan membawa Marya dan membaca buku. Dalam berkas tak ada bahasa cinta."


Abner memandang Elgio jengkel, "Ya ... Ya ... bocah pemarah, lakukan saja sesukamu! Kau harusnya pergi ke laboratorium dan mengontrol produktivitas rasa selai kita. Jika nanti penjualannya menurun, kau teriaki saja landak di bukit-bukit batu di atas sana."


"Mengapa bukan kau saja yang ke sana? Mulutmu lebih lemas dibanding aku. Kau bisa icip-icip sambil melirik seseorang. Siapa tahu kau berhenti jomblo saat keluar dari sana?"


"Hei ... Elgio ...."


"Tidak akan ada pernikahan sampai kerjaanmu beres. Hei ... Elgio Durante!!!"


"Carilah pengganti Sunny dan bersenang-senanglah, Abner. Kau terlihat seperti jomblo patah hati yang tidak suka melihat pasangan lain bahagia."


"Ya Tuhan, bocah ini ...."


Elgio menarik Marya keluar dan mereka segera menghilang dari sana.


Mereka melewati Broken Boulivard dan rona merah menyembul di wajah Marya teringat ciuman pertama mereka di bawah pohon flamboyan.


"Apa kau teringat ciuman pertamamu padaku?" tanya Elgio. Seperti baru kemarin.


Marya meringis sebab kejadian itu begitu manis.


"Aku masih penasaran, bagaimana bisa kau bersembunyi di Durante Land selama itu dan aku sama sekali tak tahu? Sungguh hebat."


Teringat akan hal itu, Marya hembuskan napas panjang dan berat.


"Aku merasa ... kau menyimpan marah pada Ayahku karena menyebabkan kematian Ayahmu."


Marya menjawab pelan.


"Kau sangat aneh ... baiklah, mari lupakan masa lalu kelam itu. Kita akan bersenang-senang hari ini. Reinha pasti senang kita mengunjungi The Windows."


Perjalanan ke pinggiran kota itu hanya membutuhkan waktu 20 menit. Saat tiba di sana, toko begitu ramai. Pembeli datang dan pergi. Beberapa pengawal bermain kartu di depan toko. Elgio mengernyit. Augusto terlihat berdiri tegap di pintu masuk, tetapi gadis dibalik kasir bukan Reinha. Mungkin dia sibuk di dalam.


"Ayo kita turun."


"Elgio ... terlalu banyak orang di sana."


"Ada aku, Marya. Lagipula kita telah menggunakan hoodie, aku yakin Augusto bahkan tak mengenali kita."


Seperti dugaan Augusto tak mengenali Elgio sampai Elgio menegurnya tajam.


"Di mana Enya, Augusto?!"


Augusto terperangah sebelum menjawab gelisah.


"Nona Reinha pergi ke gudang buku, Tuan. Begitu kata Tuan Francis."


"Francis?"


"Ya, Tuan Francis dan Nona Claire bilang begitu. Nona Reinha pergi mengecek buku-buku di gudang."


Elgio melempar pandang ke dalam toko, amarahnya merayap naik. Ada Francis, asisten Lucky dan Claire. Apakah ada Lucky? Apakah Lucky Luciano bersama Reinha?


Wajah Elgio bersungut-sungut.


"Dengan siapa dia di gudang Augusto? Mengapa kau berdiri berjaga di sini sedang Nona-mu ada di tempat lain? Apa kau di pekerjakan untuk menjadi satpam toko ini?"


Augusto membungkuk nyaris seperti menghadang angin beliung.


"Maafkan saya, Tuan Elgio. Saya hanya pergi sebentar saja ke toko Cina. Nona Reinha sangat sibuk hari ini sebab ...."


"Di mana gudang itu?" potong Elgio mencoba menahan marah. Ia belum tahu apa yang terjadi, memarahi Augusto sama sekali tidak bijaksana.


"Di ujung jalan Tuan. The Windows The Shadows."


"Marya, tunggu aku di mobil!"


"Elgio ... apa sesuatu terjadi pada Reinha?" tanya Marya gelisah.


"Tidak, sayang. Hanya saja, aku akan melihatnya ke gudang. Augusto, bawa Nona Marya ke mobil dan berjaga-jagalah di sana!"


Elgio dengan cepat melangkah kearah sesuai petunjuk Augusto. Ia dengan cepat menemukan The Windows The Shadows. Suasana lengang di hari Minggu, tak begitu banyak aktivitas jalanan karena memang jalan itu terletak di pinggir kota, berisi toko-toko tua konvensional yang belakangan beralih sebagai gudang.


Ia mencapai ambang pintu dan pemandangan di dalam membuatnya naik pitam. Amarah mendidih, membumbung tinggi seperti luapan awan panas saat gunung berapi meletus. Matanya menggelap hingga ia bergetar hebat menahan gejolak amarah.


Bagaimana tidak? Lucky Luciano sedang memeluk adik perempuannya. Sialnya, Reinha seperti tersihir.


"Kau benar-benar bedebah sialan," seru Elgio murka.


Lucky terpana menatap ke arah Elgio. Tak menduga Elgio menemukannya di waktu yang sangat tepat untuk menembak kepalanya. Tamatlah riwayatnya. Padahal pelukan itu adalah ucapan selamat tinggal.


Reinha yang mendengar suara itu langsung mendorong Lucky menjauh.


"Ka, Kaakak?!"


"Enya?! Toko buku ini, maksudmu?"


Elgio mendekat dengan langkah panjang. Ia menarik sang adik yang ketakutan dan melayangkan satu tamparan keras di pipi mulus itu hingga Reinha terdorong dan jatuh memeluk kardus.


"Kakak?! Ini tidak seperti yang kau lihat?!"


***


Well, dukung Senja Cewen selalu dengan Doa. Nama pena-ku mungkin akan aku ganti ke nama asliku sebab Ibuku tak menyukai nama penaku ini. Katanya nama asliku lebih cantik. Hiks.