Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 160 The End Of Us, Elgio ..



Punggung terkoyak oleh hantaman cemeti, Elgio Durante susah untuk tidur di malam hari. Marya telah oleskan cream pengering luka dan berikan Elgio obat pereda nyeri. Ya Tuhan, sadisnya cara menghukum ala Tuan Abner dan Elgio telah dicambuk semacam itu sepanjang kebersamaan mereka jika ia lakukan kesalahan, tetapi kali ini benar-benar lecutan segenap emosi.


"Apa aku perlu panggil dokter?" tanya Marya saat Elgio terus saja merintih kesakitan.


"No, aku pantas dicambuk!"


Marya tatapi Elgio tak tahu harus bagaimana hentikan sesuatu yang mendera Elgio. Kepala Marya tertancap di atas bantal guling, jadikan pemisah di antara keduanya.


"Kupikir kita sudah baikan?" keluh Elgio suram. Pria malang itu bisa menahan sakit fisik tetapi jiwa seakan hampa saat Marya mengatur jarak di atas ranjang.


Marya sembunyikan wajah di balik bantal. Susah untuk menghapus bayangan Elgio yang berbaring tanpa pakaian di sebuah suite club' sedangkan seorang wanita lain juga mungkin tanpa pakaian sedang mencumbu suaminya. Saat ia menatap wajah Elgio Durante, bayangan itu kembali, sungguh mengusik.


Ini soal ikhlas dan tidak. Marya hanya mampu pejamkan mata. Tak semudah anggukan kepala ternyata. Marya mulai berdoa, dirasa cuma itu satu-satunya cara. People said, berdoa mengubah segalanya. Jadi, ia serahkan hatinya pada Tuhan dan pinta hatinya terpulihkan untuk cintai Elgio Durante lagi tanpa cacat. Sedangkan Elgio menahan kehendak hati yang sangat kuat untuk menyentuh Marya tetapi ketika tak sanggup lagi, pria itu coba singkirkan guling yang pisahkan tubuh mereka, meringis saat gerakannya buat ia kesakitan.


"Marya ... i am so sorry for us."


"It's okay, Elgio. Aku hanya butuh waktu untuk sembuhkan hati. Ingatanku terlalu bagus, mereka terkadang lukai aku. Hatiku penuh hasutan jahat, berpikir mungkin kau lebih menikmati sensasi yang lebih indah di luar sana, buatku sulit kendalikan diri. Kau tahu ... aku hanya anak remaja dan aku tidak punya pengalaman ...," keluh Marya dengan suara serak seakan takut Elgio kembali ke sana. Ia kemudian biarkan Elgio merengkuhnya, akhiri pembicaraan yang menyiksa itu. Bibir mereka bertemu di antara kesakitan, luka dan cinta. Di antara penyesalan dan rasa bersalah. "Aku akan bertahan. Aku rapuh, mungkin saja karena aku masih gadis remaja."


"Maafkan aku, oleh amarah aku biarkan kehendak daging menguasaiku," ujar Elgio penuh penyesalan mendalam. Marya lakukan hal yang tak bisa ia lakukan untuk Maribella. Elgio membeli tas mahal dan mewah untuk Maribella tapi tak ikut rasakan penderitaannya. Mungkin karena mereka hanya seorang pria. Itu juga buktikan bahwa Marya sangat statis dan setia ketika ia telah mencintai seseorang bahkan pertaruhkan diri sendiri demi orang yang dicintainya.


"Tidurlah Elgio, aku akan memelukmu sampai pagi. Obatnya akan bekerja dengan baik."


Tengah malam. Elgio demam tinggi, menggigil hingga gigi-giginya gemelutuk berderik. Pereda nyeri yang diminum tak mempan. Marya periksa keadaan suaminya dan temukan ia juga kedinginan karena tak bisa gunakan selimut untuk tutupi punggung. Gesekan kain pada luka timbulkan nyeri. Marya turun dari ranjang saat pria itu kembali dalam tidur setengah nyenyak dan pergi ke dapur, memeriksa semua bumbu dapur.


Suster Zelinda pernah resepkan beberapa ramuan yang sangat bagus hilangkan perih luka lecet saat ia di biara dulu. Curcuma, garlic, union dan beberapa bumbu lainnya kemudian di masak dalam virgin oil. Gunakan tim pada baskom es untuk dinginkan minyak, Marya bekerja tengah malam suntuk hingga merambat pagi untuk membuat ramuan. Ia menguap beberapa kali tetapi gigih selesaikan pekerjaan. Menahan aroma kuat rempah-rempah saat dimasak, Marya akhirnya mual-mual lalu muntahkan banyak angin. Tetap setia mengaduk hingga virgin oil bewarna kekuningan, ia sangat bersemangat akan percobaan pertama yang dirasa sukses. Ia kembali ke kamar, tengkurapkan tubuh Elgio dan oleskan minyak pada luka-luka Elgio. Minyak meresap dengan cepat, menurut Suster Zelinda, itu pertanda ramuannya bekerja. Dengan sabar Marya terus oleskan minyak hingga tersisa ampas yang lantas segera ditempelkan pada punggung dan pinggang suaminya.


"Apakah iya, harus melecut suamiku sampai berdarah-darah?" tanya Marya pada dirinya sendiri. Meski tadinya ia mendukung Tuan Abner tetapi saat Elgio merintih sakit, Marya menjadi iba.


"Marya ... ?!"


"Ya, Elgio. Apa kamu rasakan sesuatu?"


"Em ya, rasanya sejuk," sahutnya berat. Suaranya sangat seksi.


"Aku akan balut lukamu dengan perban. Kau akan merasa baikan. Obatnya hanya sementara waktu saja bekerja, jadi, aku buatkan ramuan untukmu. Tidurlah lagi! Aku akan menjagamu."


"Marya ... kekasihku yang luar biasa," balas Elgio tak terdengar jelas. Ia segera tertidur lelap, sangat lelap, sedikit terhibur oleh karena ia dan Marya telah baikan. Tangan lembut Marya di punggungnya begitu halus dan lembut. Ia segera terlena.


Pagi menjelang. Elgio Durante terbangun oleh cahaya terang pagi yang menembus celah gorden. Ia menyipit dan saat ia tersadar, Marya sedang siapkan kemeja juga jasnya. Marya tersenyum lembut padanya. Wah, thanks God, mereka baikan.


"Elgio, aku tahu punggungmu sakit tetapi Tuan Abner memintamu pergi ke kantor sebab ada rapat penting hari ini," ujar Marya sembari mengecup kening lalu turun ke bibirnya dan bisikan kalimat yang sangat indah. "I love you so much Elgio Durante."


"Marya," balasnya dan mereka berciuman sangat intim. Ia suka jalinan bibir mereka, terasa pas. "Bisakah aku tinggal saja hari ini? Aku ingin bersamamu. Mari kita pergi ke dokter kandungan dan melihat bayi kita."


"Ya ya ya, Honey. Nanti sore ya, sekarang bersiaplah. Augusto telah menunggu untuk mengantarmu. Aku akan ke kantor nanti siang untuk antarkan makanan."


"Baiklah!" sahut Elgio. Marya meraih tangannya dan menuntunnya ke kamar mandi.


Marya berikan banyak pertolongan, mulai dari bersihkan tubuhnya dengan telaten termasuk merawat luka di punggungnya yang aneh bin ajaib mengering dengan cepat. Meski demikian ia masih merasa sedikit dingin dan demam. Tubuhnya dilap perlahan dan ia terus mendengar Marya katakan, I love you so much hingga buatnya lekas hangus bak kertas terbakar api.


Marya bahkan suapi ia sarapan sebelum antarkan ia ke halaman depan, melambai padanya. Elgio bertanya-tanya dalam hati, sebab perasaannya menjadi gelisah. Ia akhirnya minta Augusto mundurkan mobil dan menegur Marya tepat sebelum Marya hendak pergi.


"Marya, kau tak berniat kabur dan tinggalkan aku kan?"


Marya keheranan dengan pertanyaan itu. "Elgio, aku sedang belajar jadi istri yang baik dan sempurna untukmu. Tetapi, jika aku dapati dirimu bersama wanita lain, aku akan pergi dari sisimu. Tak akan ada jalan tengah soal itu."


Elgio tersenyum lumayan lega.


"Aku mencintaimu, Marya," kata Elgio hingga Marya berlari ke mobil dan menciumnya dari luar mobil.


"Me too, Elgio Durante. Jaga matamu dan hatimu, Elgio."


Mereka berpisah dan lekas pergi ke kantor, berjanji tak akan lakukan hal yang menjijikan itu lagi. Ia melamun sepanjang jalan. Mereka sampai di kantor dengan cepat. Takut telat, ia menuju ke ruang rapat. Disadari ia mulai kembali menggigil malah semakin keras. Tak ada point' pada rapat yang bisa dicerna dikarenakan pikirannya terus melayang pada Marya sepanjang detik. Ia terus berjanji tak akan minum alkohol lagi.


"Elgio, kau kelihatan tidak fokus! Kembalilah ke ruanganmu, aku akan rapat hingga selesai dan kita bertemu nanti!"


Suara Abner terdengar samar-samar dan lambat dari depan ruang rapat menyuruhnya pergi dan beristirahat. Terhuyung-huyung ia melangkah pulang ke ruangannya, para staff sedang di ruang rapat, tak ada satupun terlihat. Suasana kantor begitu hening. Bernapas ngos-ngosan saat mencapai kursi kebesaran, ia segera duduk di balik meja dan menyangga kepala. Ia melihat secangkir minuman di atas mejanya segera meneguk minuman dan baru menyadari kalau itu bukan air mineral tetapi ....


Pintu ruangannya diketuk lalu seseorang masuk.


"Tuan Elgio Durante, aku staf yang baru gantikan Nona Luna Hugo, aku datang untuk perkenalkan diri. Apakah Anda sudah mereguk minuman yang kusediakan? Aku harap Anda menyukainya, Tuan."


Elgio pegangi kepala yang bertambah pening, mengangkat wajah dan terperanjat.


"Kamu?!"


Si pelayan dari Burka Club' berdiri menantang di hadapannya. Dalam balutan miniskirt hitam pendek dan kemeja putih dengan kancing-kancing terbuka, wanita itu datang mendekat. Bibirnya tersenyum, merekah dan menggoda.


"Aku merindukanmu, Tuan! Berani sekali Anda mengusirku waktu di klub?"


Tangan-tangan lentiknya lepaskan kancing kemeja hingga b*** berenda terpampang dan setengah dada mencuat keluar.


"Tolong menjauh dariku!"


"Apa kau merindukanku?"


"Abner?! Augusto?! Di mana kalian?" panggil Elgio semakin menggigil, pegangi kursi duduk, coba bangkit tetapi ia merasa lumpuh.


"Anda demam, aku akan sembuhkan Anda. Aku akan membuatmu bahagia, Tuan!" lirikan dan ucapan bibir merekah sangat sensual.


"Menyingkir dariku!" usirnya menolak saat si wanita dengan leluasa duduk di atas pangkuannya, menarik dasinya hingga wajah mereka rapat. Bibir berbisik di telinga mengandung rayuan maut.


"Anda akan merasa hangat sebab Anda telah menenggak w***ski sama seperti kemarin. Aku tahu kelemahan Anda kini. Jadi, aku akan sering datang dan menggodamu hingga kau inginkan aku!"


Praaanggg !!!


"El ... gio ... apa yang sedang kau lakukan?"


Rantang makanan jatuh dari tangan Marya. Istrinya berdiri di pintu dengan dress sedikit ketat dan perutnya mulai tampak. Ada seorang bayi di dalam sana. Ia dipergoki istri dan bayi mereka.


"El ... gio, mengapa kau lakukan ini padaku?" tanya Marya berkaca-kaca.


"Marya ... ini tidak seperti yang kau lihat!"


"Apa maksudmu? Kau bersama wanita lain!"


Marya pergi dari sana. Elgio terkejut, para staf melihat kejadian itu. Abner tampak sangat-sangat murka. Elgio berpakaian, tak pakai jas hanya kemeja dan menarik celananya. Ia berlari dengan berat dan susah payah mengejar Marya.


"Marya!!! Jangan pergi!!! Marya!!!"


Marya berbalik. "Kau tak pantas jadi seorang suami Elgio Durante, kau juga tak pantas jadi Ayah. Kami pergi, selamat tinggal Elgio!"


***


"No no no! Jangan pergi Marya! Jangan tinggalkan aku!"


"Marya ...."


"Marya!!!"


Masih belum pagi benar ketika Marya terbangun dalam pelukan Elgio Durante yang bersuara penuh rengekan-rengekan berat bergetar dari bibirnya. Tangan Elgio segera mencengkeram Marya makin erat dan ia terisak dalam tidurnya. Marya sangat-sangat trenyuh. Elgio benar-benar terhanyut dalam penyesalan mendalam sampai-sampai terbawa dalam mimpi. Marya mengecup pria yang ketakutan itu.


"Elgio ... aku tak akan pergi. Mari lupakan momen yang menyakitkan! Maafkan aku dan aku memaafkanmu, aku mencintaimu." Marya berbisik pada pria itu, membelai wajah tampan yang indah dan mengecup kedua pelupuk mata Elgio.


Marya leraikan pelukan berganti posisi memeluk Elgio yang kalut, menenangkannya.


"Marya, aku sungguh-sungguh menyesal! Jangan coba-coba pergi! Kau boleh menyiksaku sesuka hatimu, tolong jangan tinggalkan aku!"


"Suatu waktu, jika kau berlarian bersama wanita lain dan menyakitiku, aku akan tinggalkanmu."


***


Jatuh bangun dalam mimpi buruk, Elgio Durante berhasil lalui malam kelam. Meski telah sadar sepenuhnya dari tidur, mimpi-mimpi yang datang seperti kenyataan, memaksanya banyak merenung dan lakukan pertobatan. Tangannya meraba-raba ke sisi tubuh, tak dapati tubuh istrinya. Kalau tak salah semalam Marya mendekapnya erat..Apakah Marya pergi? Ya Tuhan, ia segera buka mata berharap tak bermimpi konyol lagi.


Matanya seketika membentur kepala Marya yang tengkurap di sisinya, sangat nyenyak, dari tarikan napas yang panjang dan damai. Namun ..., mungkinkah Marya tidur sambil menangis? Lantaran masih terdengar isakannya padahal Marya masih lelap. Melihat itu, si pria tak tahan. Bangkit, turuni tempat tidur dan menggendong Marya. Terus mendekap istrinya. Elgio hanya berharap waktu bisa sembuhkan Marya, dan ia berhenti bermimpi aneh.


"Apa kau merasa baikan, Elgio? Aku buatkan ramuan herbal dan tempeli pada tubuhmu!" bisik Marya di dadanya.


"Ya, aku lihat! Aromanya bikin perutku gemerisik, aku berasa seperti seekor ayam berbumbu yang siap-sedia digoreng," sahut Elgio.


Marya mendongak menatap Elgio dan bola mata di bawah bulu mata itu sangat indah. Elgio jadi gugup sendiri. Saat ia mabuk di Burka Club' yang ia lihat adalah Marya. Dalam keadaan mabuk, alam bawah sadarnya terjemahkan si pelayan sebagai Marya. That's means, Marya pengaruhi dirinya dengan sangat kuat.


"Aku curiga, Abner Luiz tak hanya murka padaku karena setumpuk dosa-dosaku. Waliku itu terlihat sangat dendam padaku gegara aku gagalkan aktivitas ingin taklukan Maribella. Aku yakin modus itu paling dominan untuk menyabet punggungku dengan keras."


Marya bersandar di dadanya. Kendati terbalut perban, Elgio yakin Marya bisa dengar detak jantungnya yang seakan ber-disco ria.


"Marya ...?!"


"Hmm ... ?!" Marya bangkit sedikit tengadah mulai menyeguk bibir Elgio, mengusap belahan dagu pria itu gunakan bibirnya. Cukup sudah dengan rasa tidak nyaman pada suaminya. Ia tak bisa terus-terusan tenggelam di sana. Kecupan itu cukup sebagai permintaan yang dilontarkan untuk segera dipenuhi tuntutannya oleh Elgio.


Cemas Marya berubah pikiran, Elgio membalas gadis itu dengan lembut dan sangat hati-hati. Sumringah saat Marya tersenyum padanya. Marya layaknya pintu yang terbuka, inginkan dirinya masuk.


Tanpa sepatah kata, mata bertemu. Hatinya terselamatkan dari kedinginan dan kini rasakan kehangatan dari tatapan mata yang bersinar lembut.


"I love you so much, Elgio Durante, so much love and no word can explain that."


"Ya, ampuni kekasihmu yang bodoh ini, Marya."


Kamar berbau aneh oleh ramuan rempah-rempah tetapi seakan tak peduli, keduanya sibuk berpautan. Kaki-kaki Marya berbelitan di pinggang Elgio, ingin turunkan tapi ditahan.


Menyenangkan habiskan pagi bersama orang tercinta kalau saja teriakan Abner tak lemparkan gairah keduanya ke dasar bumi. Hancurkan dalam hitungan per sekian detik. Elgio memandang Marya, merengus ke arah pintu kamar.


"Terkutuklah Abner Luiz! Apa yang membuatnya menggila pagi-pagi buta? Apakah ia kesal karena matahari baru akan terbit pukul 6.30 nanti?" tanya Elgio Durante menggerutu di cekungan leher Marya. Ia sangat sukai area itu, bisa ciptakan kecanduan. Bibirnya berlabuh di sana, menyesap perlahan. "Kurasa pria itu harus segera salurkan sesuatu dalam dirinya, jika tidak ia akan membantai semua orang dalam rumah ini!" keluh Elgio, bergumul di rahang Marya, pergi ke dagu gadis itu dan bercumbu dengannya.


"Marya ...."


Saat Marya balas menyusuri lehernya, gairah pria itu bangkit lagi tanpa malu-malu. Menyukai jemari lembut Marya saat membelai wajahnya. Feeling crazy. Mereka kembali satukan ritme napas, mendesah dan saling mengikat dalam rongga-rongga mulut.


Namun, ketika gelegar suara Abner Luiz kembali terdengar, keduanya berhenti total untuk menyimak.


"KEMARI KAU, REINHA DURANTE!!!"


"Kau dengar itu, Marya?"


"Ya."


"Gadis nakal itu akhirnya datang juga!"


"Kurasa kita harus segera bergabung!"


****


Chapternya ini aku pisah ke beberapa part Bonus... Sumpah demi apa, aku gak sanggup lagi nulis.... Makasih vote-nya ya meski dari 3000 favorit yang vote cuma 30 orang, hiks. Tahu gak, alasan aku tetap lanjut nulis meski sungguh sangat jenuh karena aku mencintaimu readers....


Oh c'mon NT, review-nya bikin darah tinggi...