
Riasan masih melekat di wajah, hairpin masih tertancap di rambut, Marya masih separuh tak percaya pernikahannya gagal. Dirinya dan Reinha diracuni, diculik kemudian terpisah. Ia dibawa naik mobil, helikopter, melihat Elgio ditembaki dan pria itu mengejarnya sambil menangis kesakitan; hari ini sungguh terlampau kejam. Disergap hal-hal mengerikan sepanjang hari ditambah teh yang bikin matanya terus mengantuk, Marya mulai jatuh tertidur.
"Elgio, aku telah menderita sejauh aku hidup. Mengapa Tuhan menyiksaku lagi?" keluhnya dalam hati sebelum terlelap.
Mereka di Double L dengan beberapa kantong belanja. Tangannya digandeng dan digenggam dalam saku mantel, jantungnya selalu dihangati kedamaian dan berlumuran cinta, jika Elgio bertingkah penuh kasih sayang seperti itu. Bibir pria itu basah dan memerah oleh aksi ciuman membabi buta dalam ruang VIP Double L dan Marya suka pada hasil perbuatannya. Lewati counter di mana banyak jepitan dan accecories rambut banyak terpampang di etalase, Marya berhenti pandangi dengan muka ingin memiliki beberapa.
"Kau mau hairpin?" tanya Elgio.
"Ya, aku ingin beberapa untuk pernikahan nanti," jawab Marya.
"Tentu saja, aku sangat suka saat kau melangkah di altar dengan banyak hairpin bunga yang cantik di rambutmu," kata Elgio mulai melankolis.
"Benarkah? Lalu aku apakan poniku?"
Elgio mendesah dan cemberut. Diacak-acak poni-nya gemas.
"Aku sangat-sangat terganggu dengan poni-mu yang mirip kumis kambing itu. Bisakah kau singkirkan mereka nanti?"
"Baiklah, Elgio. Jangan mengomel!" sahut Marya rapikan poni ajaibnya.
Elgio memilih hairpin mutiara dengan hiasan bunga yang cantik, coba-coba pada rambutnya dan ia pilihkan yang paling indah. Rambutnya akan di kepang ekor kuda di hari pernikahan dan di setiap simpul akan ditaruh hairpin.
"Maaf soal 21 tahun, tetapi aku tak bisa menunggu sampai kau 21 tahun. Sepertinya kita akan bersama di malam pengantin."
Ucapan Elgio yang berhasil buatnya berdebar-debar dan tersipu-sipu. Mereka akan pergi ke ranjang, tangannya lekas berkeringat.
"Bukan sekarang Marya. Kenapa kau gugup?" Elgio terkekeh dan pria itu menciumnya di accecories counter di antara etalase-etalase dengan begitu banyak perhiasan bergelantungan. Kasmaran gila-gilaan.
Elgio, datanglah padaku!
Marya tersadar saat merasa sangat-sangat kedinginan hingga kuduknya meremang. Mata terbuka dan pupilnya segera terbelalak lebar, saat seorang pria asing bergerak di atas tubuhnya dan kendalikan kedua tangannya. Pria itu menyeringai mesum dengan tatapan gairah menjijikan, gerayangi tubuhnya dengan mulut berbau alkohol sangat tajam. Marya tersadar tetapi kaki-kakinya dijepit. Ia meronta sekuat tenaga.
"Elgio, tolong aku!!! Elgio!!! Aku mohon, datanglah padaku!!! Elgio!!!"
Marya coba melawan sekuat tenaga dan berontak keras. Dia tak bermimpi sementara pria itu semakin menjadi-jadi bernafsu padanya.
"Kau sangat cantik, Bonita. Sungguh menggiurkan. Kita akan bersenang-senang!"
"Tolong menjauh dariku!" jerit Marya histeris. "Aku mohon ... suamiku punya banyak uang. Ia akan berikan padamu seberapapun yang kau minta! Jangan sentuh aku!"
Marya berteriak putus asa, napasnya memburu cepat dan jantung seakan mampu meledak oleh sebab ketakutan terdahsyat yang dialami tubuh dan jiwanya.
"Ya ... setelah bersenang-senang, aku akan minta tebusan pada suamimu."
Pria itu mendekat dan Marya berusaha keras menghindar. Urat-urat leher Marya telah mencuat dan Marya mohon pada Tuhan untuk segera dicabut saja nyawanya daripada dinodai oleh seorang penjahat.
"ELGIO!!! ELGIO!!!ELGIO!!!" Ia berteriak makin kencang.
"Jangan berisik, tak ada siapapun di sini!"
"Elgio! Tolong aku! Tuhan tolong!" jeritnya menjadi-jadi saat si pria benar-benar sudah bersiap akan lampiaskan kebejatannya. Kedua pahanya tertindih di atas pembaringan.
Seakan mukjizat datang, pintu terbuka dan seorang pria berdiri di ambang pintu.
"Jack?! Apa yang kau lakukan?" Si pria yang baru datang menghardik. "Menjauh darinya, Jack!"
Marya makin lemas ketakutan. Tubuhnya tanpa gaun dengan dua pria jahat dalam ruangan, ia meratap minta perlindungan pada Tuhan.
"Ayolah, Arch. Aku hanya ingin bersenang-senang!"
"Menjauh darinya, Jack! Gadis itu tak boleh tersentuh atau kau tahu, kita akan tamat."
"Kita bisa bersenang-senang, Arch. Tak ada yang tahu! Ayolah!"
"Jack, menjauhlah atau aku terpaksa menyeretmu!"
Pria yang bernama Jack, terlihat kesal dan turun dari sana. Marya buru-buru meremas seprei dan menggulung tubuhnya di dalam sampai terjatuh di sudut kamar. Ia meringkuk di sana, terisak-isak terus menyebut nama Tuhan dan memanggil Elgio tanpa henti.
"Ambil uang ini dan pergilah bersenang-senang! Jangan ganggu dia!"
Si pria bernama Arch lemparkan sejumlah uang dan si Jack kancingkan celana, pungut uang dengan senang hati sebelum pergi dari sana. Deru motor di starter kemudian bunyi itu pergi menjauh.
"Maaf, aku tak melihatnya tadi masuk sebab aku sedang mandi. Kenakanlah pakaianmu, Nona, dan keluarlah! Makan siangmu telah kusediakan. Tolong jangan kabur!"
Marya duduk saja beberapa menit di lantai, meratap tangis dan tak berdaya. Ia sesegukan dan merasa sangat lemas. Ia nyaris di perkosa penjahat.
Otaknya kemudian bekerja. Ia harus cari cara kabur sebab tak ada jaminan ia akan selamat dari para penjahat ini. Marya kuatkan hati meski cepat rapuh saat lukisan raut Elgio dan lengan-lengan terluka pria itu tadi siang, membias dalam ingatan. Tidak, ia harus pergi dari sini.
Gaun dipakai lagi dan diam-diam ia mengintip lewat celah-celah dinding sebab ruangan itu tanpa ventilasi. Ia berada di sebuah hutan penuh pepohonan cemara dan ada sungai mengalir dekat rumah itu. Marya melangkah ke arah pintu kamar yang dibiarkan terbuka. Arch sedang asyik menonton sesuatu di laptop, belakangi kamar Marya disekap. Ini kesempatan bagus. Pria itu tak akan segera sadar ia kabur.
"Cepat kemari, Nona dan makanlah sebelum makanannya dingin!" serunya sambil mengunyah pizza.
Marya berjinjit pelan, pintu keluar rumah terbuka. Jantungnya berdetak sangat cepat. Marya bergerak pelan ke arah pintu dan langsung berlari sekuat tenaga keluar rumah. Arch yang tersadar pantulan siluet bayang Marya melarikan diri, mengumpat kesal.
Marya tak lagi menoleh. Ia berlari ikuti jalan setapak depan bangunan itu, ujung-ujungnya pasti pergi ke jalan raya. Ia percepat langkah berlari kian cepat, jantungnya terpacu.
Marya tak bisa berhenti, ia hanya perlu temukan jalan keluar dan pergi dari sini. Wajahnya mulai menghangat dan meski napasnya mulai tersengal-sengal, Marya terus berlari.
Ia hanya terus berlari meski akhirnya lebih lambat. Tak ada liur dalam mulutnya dan napasnya akan berakhir. Ia belum makan sejak pagi ditambah minum teh beracun, belum berapa jauh, tubuhnya melemah.
"Elgio, aku akan mati di sini!" tangisnya di antara dada yang kesakitan.
Saat larinya makin pelan, Marya menoleh dan Arch telah berada di sampingnya, berlari pelan bersamanya.
"Biarkan aku pergi!" ujar Marya pegangi dadanya yang mulai sakit, lutut dan kakinya gemetaran. Wajahnya panas terbakar.
"Suamiku menunggu! Ia akan memberimu banyak uang, aku janji, aku tak akan lapor polisi."
Marya berhenti karena tak sanggup lagi berlari dan Arch ikut berhenti. Pria itu membungkuk pegangi kedua lututnya sendiri, menelan liur susah payah.
"Sayangnya aku juga dibayar sangat tinggi!" kata Arch. "Dengar! Ini bukan masalah uang." Arch mengatur napas. "Anda akan dikembalikan pada suami Anda setelah kesepakatannya berjalan bagus. Selama itu, tolong jangan kabur!"
"Aku mewarisi harta sangat banyak, aku bisa berikan padamu! Lepaskan aku!" tangis Marya semakin menjadi-jadi.
Arch menggeleng. "Maafkan aku, Nona!" Pria itu tiba-tiba mendekat dan membopong Marya, setengah berlari kembali pulang.
"Elgio! Tolong aku!" jerit Marya di tengah hutan, berharap daun-daun cemara bawa kabar pada kekasihnya. "Elgio?!"
Marya dilemparkan di atas ranjang. Arch Kembali dengan tali dan mengikat tangan Marya pada pegangan ranjang.
"Maaf harus berakhir begini! Jika kau tak coba kabur, aku sedikit beri kau keringanan, Nona," kata pria itu sementara wajah Marya telah memerah darah dipenuhi air mata, ia kesulitan bernapas.
Arch pergi dari sana, pintu ditutup. Marya terkulai di tempat tidur dan menangis meraung-raung. Mobil berbunyi, Arch pergi, dan tak berapa lama, hanya sisakan hening di rumah itu. Marya coba lepaskan diri. Ia menggigit tali di tangan tetapi ikatan terlalu kuat. Semakin digerakan tangan-tangannya malah semakin lecet dan berdarah. Entah berapa lama ia bertarung dengan tali di pergelangan tangannya itu.
Saat suara deru motor terdengar di kejauhan dan mendekat dengan cepat, Marya semakin ketakutan. Jack kembali. Ia mulai gelisah. Pria itu hampir memperkosanya tadi dan Arch tak ada untuk menolongnya. Marya terisak dan ia menyebut nama Tuhan tanpa henti.
Tak ada aktivitas setelah suara motor berhenti. Ia pasang telinga, berharap kunci pintu dibawa Arch. Mendadak pintu kamar terbuka.
No ... No ... No ... desis Marya. Si Jack muncul di pintu melepas atasan. Tubuhnya dipenuhi tato yang menjijikan dan Marya merinding ketakutan.
Tuhan, mengapa Kau tega sekali padaku? Ayah, tolong aku.
Gadis itu menjerit dalam hati, air matanya pecah dan merekah turun. Kisahnya benar-benar akan berakhir di sini. Jika pria itu menodainya, ia akan bunuh diri.
"Halo cantik! Kau tahu, meski Arch beri aku banyak uang, aku tak bertemu satupun wanita semenarik dirimu. Jadi, aku kembali. Mumpung Arch tak ada, maukah kita bersenang-senang?" tanyanya mendekat.
Marya semakin meringkuk, melekat pada kepala ranjang. Jack melepas celana jeans-nya. Pria itu menyeringai senang dan menarik kaki Marya.
"Tidak, tolong, jangan!"
"Tolong jangan! Aku akan beri kau uang yang banyak! Aku janji!" ujar Marya menggeleng saat pria mesum itu menelusuri betis-betisnya.
"Kau sangat menggiurkan."
"Baiklah," kata Marya tiba-tiba. "Tetapi, bisakah kau lepaskan pengikat tanganku? Aku akan melayanimu."
Ia tak akan bisa bergerak jika tangannya diikat, ia juga tak seberani Reinha. Tetapi, biarkan pria kotor ini menyentuhnya, lebih baik ia bunuh diri.
Si pria tampak senang. "Jadi, kau mau juga?"
Marya mengangguk. Jack dengan senang hati melepas pengikat kaki dan tangan Marya.
"Kemarilah!" kata Marya saat kaki dan tangannya bebas.
Jack dengan gembira pergi pada Marya, memeluk gadis itu. Tak di sangka tangan-tangan Marya mencabut hairpin di rambutnya dan arahkan tepat di pembuluh darah leher Jack. Satu-dua-tiga tusukan dan bertubi-tubi, darah muncrat dari leher Jack dan menodai dress Marya bahkan tertinggal di kasur. Seakan dirasuki sesuatu, Marya lakukan berulang-ulang hingga Jack terkapar dengan banyak luka tusukan.
Marya turun dari sana, muntah-muntah, berjalan sempoyongan. Tangannya gemetaran. Ia baru saja membunuh seseorang. Ia keluar dari kamar dan mengunci pintu itu agar Jack tak bisa keluar. Marya pergi ke westafel mencuci wajah dan tangannya yang berdarah. Hairpin dipasang lagi di rambutnya.
Dressnya telah penuh darah. Marya amati rumah itu dan temukan kemeja putih, mungkin milik Arch. Ada pizza di atas meja bekas Arch, gadis itu mengambil dua potongan besar dan makan dengan terburu-buru, harus ada energi. Setelah bertukar dengan kemeja, Marya pergi dari sana sebelum Arch datang.
Marya hindari setapak takut terlihat Arch. Ia masuk ke hutan dan berlari dengan cepat di sisi setapak. Kaki-kakinya mulai tergores batu, ranting tajam dan semak-semak berduri. Marya tak peduli. Ia hanya harus berlari dan temukan jalan besar.
Hari makin gelap. Jalan raya tak terlihat, ia ada di tengah hutan yang luas sebab rasa-rasanya sudah berlari berjam-jam tapi tak temukan jalanan. Marya kecapaian, kehabisan tenaga. Ia pergi ke sebuah pohon besar sedang malam merambat naik. Langit malam di hutan rimbun tanpa selimut, Marya memeluk dirinya, merindukan Elgio. Merindukan pelukan pria itu.
Mendekam lemas dibalik pohon separuh pingsan ketika suara Ayah terdengar sangat jelas dan damai memanggil namanya.
"Aruhi?! Aruhi?!"
"Ayah?!"
Marya berdiri dan menengok ke arah datangnya suara. Ayah Ben bersinar terang seperti bulan purnama dalam pekat malam. Kemeja putihnya benderang dan Ayah punya sayap putih berkilau di kedua punggungnya.
"Ayah?!" teriaknya berlarian ke dalam pelukan Benn.
"Kau lapar?"
"Ya, Ayah. Maukah Ayah buatkan aku mie instan? Aku sangat suka Ayah."
Mereka duduk di atas bebatuan di tengah hutan yang gelap. Ada mie dalam mangkuk mengepulkan uap panas di tangan Ayah.
"Makanlah!"
"Ayah, aku merindukanmu!"
"Ayah juga sayang, makanlah!"
Aruhi makan sampai kenyang dengan Ayah Benn setia menemani.
Anjing menyalak di kejauhan dan suara-suara derak kaki di atas ranting-ranting terdengar kian dekat.
"Kau sudah kenyang? Kemarilah, Ayah akan memelukmu. Tidurlah, Sayang!"
"Janji, Ayah tak akan pergi!"
"Aku selalu bersama-mu, Sayang. Kau harus kuat, apapun masalahmu, Ayah selalu bersamamu."
Sayap-sayap Ayah terkembang dan ketika Ayah memeluknya, tubuh yang kedinginan menjadi hangat. Aruhi tertidur dalam dekapan erat Ayah. Cinta Ayah sebening embun, sehangat mentari pagi dan mendayu seperti aliran sungai. Ayahnya yang sangat ia sayangi. Otak jenius-nya menyimpan banyak memori tentang ayah. Mungkin tak masuk akal, anak sekecilnya punya ingatan yang baik tentang masa kecilnya, tetapi adakah satu manusia di bumi yang bisa pertanyakan kebesaran Tuhan?
Rambutnya terus dibelai dan kepalanya terus dikecup.
"Ayah, aku sangat menyayangimu."
Kicau burung, dering helai cemara yang bersentuhan oleh angin dan suara alam bangunkan Marya dari tidur pulas. Hari mulai pagi. Ia tertidur dalam semak belukar yang sangat rimbun tanpa kedinginan. Ayah terlihat semalam antara nyata dan ilusi, menemaninya di hutan yang gelap dan dingin. Marya amati keadaan dan bergerak keluar dari semak. Seakan mendapat energi baru, gadis itu mulai berlari menembus hutan.
Cukup jauh langkah-langkah itu terayun, jatuh bangun, jatuh dan bangkit lagi. Sangat gembira ketika ia sampai di jalan negara. Jalanan ini seperti tak asing, tetapi ia tak tahu ini di mana. Entah lonceng menara atau lonceng Biara berdentang di kejauhan dan Marya semakin girang sebab ia akan mencari perlindungan. Dengan takut-takut, gadis itu melongok di jalanan. Kuatir Arch menemukannya.
Satu mobil terlihat, Marya tak berani menahan. Ia bersembunyi. Dua tiga mobil lewat dan ketika sebuah minibus putih dengan lambang Kepausan terlihat dari jauh, Marya berulang kali mengucap syukur.
Gadis itu berdiri di tengah jalan, lambaikan tangan sambil menangis dan berteriak minta tolong.
"Help me, please!"
"Help me, please!"
Mini bus berhenti dan sopir bus turun dari sana, keheranan.
"Tolong aku, Sir. Aku diculik dan disekap oleh orang-orang jahat!"
Marya bicara sambil celingukan sebab gelisah takut pada Arch. Seorang biarawati turun dari minibus dan saat melihat Marya, sang biarawati terperangah kaget. Ia memekik antara sedih, gembira dan terharu.
"Oh, Me Deus (Oh, Tuhanku), Nona Marya?!"
Suster Zelinda berlari hampiri Marya dan memeluk tubuh yang langsung lemas itu.
"Suster Zelinda, tolong aku. Beberapa orang memburuku."
"Mari ikut saya, Nona Marya!" Marya dituntun naik bus dan duduk di bangku paling belakang. "Padre Pio beri kabar bahwa Anda menghilang di hari pernikahan! Apa yang terjadi? Ya Tuhanku, semoga orang-orang jahat itu mendapat cinta-Mu, agar segera bertobat! Dunia ini makin dipenuhi kejahatan!"
Marya duduk dengan gelisah dan jelaskan situasi rumitnya. Suster Zelinda dan biarawati yang lain menyimak sebelum mengangguk paham. Mereka akan lakukan sesuatu untuk selamatkan Marya dari kejaran orang jahat.
Minibus bergerak perlahan menyusuri pepohonan oak dan marple menuju Biara di Kastil tua. Di tengah jalan, mobil dihadang dan Arch turun dari sana.
"Permisi?"
Sopir bus biarkan Arch masuk ke dalam mini bus. Pria itu melongok dan amati satu-persatu wajah dalam bis.
"Ada apa, Tuan. Mini bus ini milik Biara dan kami dalam perjalanan pulang."
"Apakah Anda kebetulan bertemu seorang gadis?!"
"Gadis?!" tanya sopir bus dengan keheranan alami.
"Ya," jawab Arch salah tingkah. Mereka pasti akan berpikir ia penjahat, kini.
"Em, istriku! Dia terlihat agak kacau!" kata Arch lagi dengan penuh keyakinan.
"Anda bisa periksa sendiri, Tuan. Bus ini hanya berisi biarawati!"
Arch kembali menengok sekali lagi. Sementara Marya dibalik jubah biarawati, berkerudung dan tertutup, ia tanpa riasan, berkaca mata dengan wajah sangat berbeda. Rosario di tangannya, dan butiran-butiran bergulir satu-persatu di antara jemarinya. Ia terus berdoa dalam hati dengan khusuk walau agak gemetaran.
"Our Father in heaven, hallowed be your name. Your kingdom come, You will be done on earth as it is in heaven ... "
Arch turun dari mini bus setelah tak ditemukan apapun dan sopir bus segera menutup pintu bus. Mereka kembali melaju.
Suster Zelinda menggenggam tangan Marya dan beri gadis itu penguatan. Suster Zelinda mengirim pesan.
"Padre, Istri Tuan Elgio Durante ada bersama kami di Biara. Ia disekap oleh orang jahat. Bisakah, beritahu Tuan Elgio untuk segera menjemputnya?"
***
Selama nulis novel ini, aku gak pernah nangis. Baru chapter ini! Aku nulisnya sambil nangis dan suamiku bilang,
"Tak ada tulis-tulis novel lagi mulai besok, Beib! Dapat duit enggak, tapi ganggu kerjaan iya."
Tolong beri komentar ya! Apakah Anda suka chapter ini?!