
"Marya, kupikir Arumi butuh seseorang untuk menjaganya."
Ethan Sanchez duduk di sebelah Marya di perpustakaan sekolah saat jam pelajaran sekolah selesai, tetapi mereka harus berlatih dengan guru mata pelajaran masing-masing bidang studi untuk olimpiade.
"Benarkah?" tanya Marya manggut-manggut betapa perhatiannya Ethan pada Arumi.
"Ya, Arumi selalu jadi bulan-bulanan orang jahat. Beruntung, ia harus merawat Ibumu dan aku melarangnya bekerja di kafe selama aku rehat meski aku masih jadi guru privatnya. Upahku dibayar penuh untuk setahun."
"Apakah hubunganmu dan Arumi alami progress?! Apa kalian kencan?"
Ethan menggeleng cepat. Arumi sangat manis padanya. Gadis itu selalu mengekor dirinya saat datang ke sekolah. Diam-diam mengintipnya dari balik celah buku. Kadang-kadang hampiri dirinya dan hadiahkan sekaleng minuman sebelum buru-buru kabur.
Ethan tersenyum. "Sudah kubilang aku tak tertarik pacaran dan pusingkan otakku dengan produksi hormon aneh. Aku cukup melihat kalian repot, aku tak ingin terjerumus.Tetapi, Arumi selalu berhasil buat aku cemas."
Marya perhatikan Ethan Sanchez, sipitkan matanya. "Itu kemajuan. Aku akan bicarakan dengan Elgio, Ethan. Kurasa, kami ingin temukan seseorang yang sepertimu, untuknya."
"Itu sulit," geleng Ethan lagi. "Kau tahu aku, limited edition," katanya mulai membual.
Marya terkekeh, "baiklah, Ethan Sanchez. Trims sangat perhatian pada Arumi."
Mereka kembali ke buku pelajaran masing-masing sebelum Ethan tinggalkan Marya untuk mencari beberapa buku referensi. Arumi muncul di perpustakaan dengan wajah berseri-seri. Ia sepertinya bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
"Kakak, aku merindukanmu," serunya pelan dan memeluk Marya.
"Arumi, kita bertemu tiap hari di sekolah tapi kau seperti baru melihatku saja," ujar Marya tapi sangat senang mereka akhirnya saling memiliki seperti Ibu dan Aunty Sunny.
"Hallo Baby Cute. Aku aunty-mu yang paling cantik sejagad raya. Kau harus sering-sering dengar suaraku ya, biar nanti saat kau datang kau tak takut padaku," bisiknya pelan pada perut Marya. "Apa dia sudah punya telinga, Kak?" tanya Arumi mengira-ngira. Marya terkekeh geli.
"Um, belum kurasa. Tapi dia bisa mendengarmu, Sayang. Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan pacarmu yang rapper itu?" tanya Marya pelan. "Moses?"
Arumi celingukan. "Entahlah, Kak. Kurasa kami jalan di tempat." Sapukan pandangan ke seluruh ruang perpustakaan.
"Jangan ikuti aku, Arumi. Belajarlah yang rajin dan pacaran setelah kau dewasa. Nikmati masa mudaku dan bersenang-senanglah. Aku mendukungmu. Hmm?"
Arumi mengangguk sambil celingukan mencari seseorang, menahan lengkung senyuman bibir di atas wajah cantiknya, mungkin menunggu sampai ia melihat lelaki idola sekolah itu terpantau mata beningnya. Marya berdecak, sangat-sangat manis untuk dilihat.
"Kau merindukanku atau rindukan Ethan Sanchez?" Marya mengernyit jenaka. Perhatikan adiknya seksama.
"Kalian berdua," sahut Arumi tanpa malu-malu. "Apa kau melihatnya, Kak?" tanya Arumi setengah berbisik, takut ketahuan. Sejak ia kembali ke rumah, ia hanya bertemu Ethan di sekolah. Itupun, hanya mengintip Ethan dari balik rak buku sebab Ethan selalu bersama Ibu Guru Anastasia atau hanya mengekor Ethan. Arumi berhenti sementara jadi pelayan kafe meski ia sangat suka bekerja di sana. Lagipula, Ethan sedang giat belajar. Arumi jarang bertemu Ethan karena Ethan juga berhenti sementara waktu jadi guru lesnya.
"Ethan pergi mencari buku referensi," sahut Marya perhatikan Arumi yang berbinar-binar tiap dengar nama Ethan Sanchez.
"Baiklah, aku juga butuh beberapa buku Ekonomi, kutinggal sebentar, Kak," balas Arumi segera beranjak. Marya geleng-gelengkan kepala. Banyak gadis idolakan Ethan Sanchez tapi Arumi sepertinya sungguhan sukai Ethan.
Arumi pergi dari satu rak ke rak lain, lewati rak dengan berdebar-debar berharap melihat Ethan. Ia sampai di rak buku-buku sosial untuk anak tingkat satu memilih beberapa buku.
"Sambil menyelam minum air, semoga tak kesedak kau, Arumi Chavez," gumannya pada diri sendiri.
Agak kecewa sebab Ethan tak tampak. Apakah dia di lantai dua? Arumi pergi ke lantai dua. Apa Ethan membaca ensiklopedia?
Ia memeriksa pengunjung perpustakaan di komputer dan sangat senang temukan nama Ethan. Ternyata, Ethan ada di bangku komputer laboratorium paling belakang. Arumi mengintip dari celah buku. Sempat celingukan takut kepergok siswa lain. Beruntung perpustakaan lantai dua tak ada pengunjung. Ia kembali mengintai tapi Ethan telah berpindah ke rak belakang, bersandar dan meneliti buku. Ya Tuhan, dia sangat tampan. Arumi tak mampu menahan senyuman. Baiklah, hanya segitu saja. Ia tak ingin ganggu Ethan lebih jauh lagi. Ia memilih beberapa buku kamus ekonomi, merencanakan sesuatu dalam benaknya untuk mendukung Ethan kemudian memutuskan untuk pergi. Ia mengintip sekali lagi, keheranan sebab Ethan tak ada lagi di tempatnya semula. Arumi mendesah kecewa.
"Mencariku?" tanya Ethan pelan di kupingnya. Sangat pelan malah tetapi hal itu cukup buat Arumi terkejut, berbalik dan malah tanpa sengaja mengecup Ethan. Gadis itu langsung gugup.
Ethan tegak sambil berdecak pandangi Arumi yang salah tingkah tapi pasang senyuman senang di wajah cantiknya.
"Lagi? Kau dalam bahaya Arumi sebab terus-terusan menciumku."
"Salahmu Ethan, kau mengagetkan aku," sahut Arumi bersandar di rak menjawab sembari tersenyum penuh cinta saat melihat wajah menyipit Ethan. Ia benar-benar menyukai Ethan Sanchez hingga kedapatan seperti gadis-gadis penguntit.
"Kau semakin sering menciumku? Pacaran dengan pria lain dan mengintip pria lain. Lihatlah gadis bodoh yang cantik ini," tegur Ethan.
"Aku merindukanmu, Ethan."
"Ya, itu terlihat jelas," sahut Ethan. "Apa kekasihmu tahu, kau sering mengintaiku? Kau bahkan merindukanku? Lalu mengecupku dengan sengaja. Apa kau ingin keningmu kena ketuk?" tanya Ethan lagi-lagi berdecak lihat tingkah Arumi.
Arumi menggeleng kuat. Moses mungkin sedang sibuk di suatu tempat, menulis lagu dan merayu seorang gadis.
"Dengar Arumi Chavez, rajinlah belajar dan berhenti mengintai seorang pria, okay?"
"Segitu saja?" tanya Arumi berharap Ethan mengajaknya makan malam.
Ethan mengacak-acak rambut Arumi gemas. "Kau masih kecil untuk pacaran serius, Arumi. Lagipula, jangan sukai aku terlalu berlebihan. Aku tak ingin terjebak dalam urusan cinta karena aku hanya ingin belajar."
"Baiklah Ethan Sanchez, abaikan saja aku. Biarkan saja aku tetap menyukaimu."
****
Malamnya, Marya dan Elgio duduk berdua di ruangan makan merasa sangat kesepian dan muram. Reinha ingin sendirian dan Abner tak muncul di ruangan makan. Pria itu mungkin marahan dengan Maribella.
"Elgio, bisakah carikan pengawal untuk Arumi?" tanya Marya.
Elgio perhatikan Marya berharap bisa romantis pada Marya tetapi ia sangat kelelahan. "Ethan selalu bersamanya, apakah Arumi butuh orang lain?"
Marya mengangguk. "Ya, Elgio. Ethan sedang sibuk dan berhenti awasi Arumi sementara waktu."
Elgio menimbang sesuatu. "Aku memikirkan Archilles, Marya. Jika kau tak keberatan, pria itu cocok jadi pengawal Arumi."
"Maksudmu Arch?" tanya Marya.
"Ya, ia mengenal semua musuh Diomanta sebab ia bekerja pada Valerie dan pada para mafia cukup lama. Archilles ada di kamp pelatihan militer saat ini dan ia akan datang kapan saja jika aku memanggilnya. Aku hanya takut kau trauma pada pria itu."
Marya terlihat berpikir. Ia merinding teringat pada kejadian itu bukan pada Arch tetapi pada Jack. Apakah pria itu mati?
"Tidak, panggil dia untuk menjaga Arumi. Kurasa dia bukan pria jahat."
"Ya, ia sedang menunggu hukuman darimu," sahut Elgio mengangguk senang sebab banyak kejadian buat Marya semakin kuat secara mental. Itu mengagumkan diamati. Ia ingin berduaan dalam mobil dengan Marya dan ajari gadis itu mengemudi. Baru saja hendak diutarakan ketika Maribella muncul kembali di ruang makan dengan Moussaka berlumuran saus tomat dan saus berbahan yogurt yang dipanggang dengan kematangan sempurna dalam oven, karena tercium dari aroma lezatnya.
"Oh Bibi Mai, aromanya buat aku kelaparan," seru Marya padahal ia telah habiskan banyak salad shopska.
"Ya, makanlah yang banyak, Sayang."
"Aku mencintaimu Maribella William," sahut Marya meneguk liur.
"Ya, aku tahu, Sayang," balas Maribella. "Tuan Muda, aku akan bawakan Tuan Abner makan malam. Kurasa kami harus bicara," kata Maribella.
Tanpa diduga, Maribella menolak pergi kencan. Ia dapati dirinya tak nyaman bersama Hansel dan ia akan beritahu Hansel secepatnya sebelum pria itu inginkan hubungan mereka lebih jauh.
"Apa perlu kuantar, Bibi Mai?"
"Em, tak perlu Tuan Muda. Taxi menungguku di depan."
"Baiklah, aku harap Augusto segera kembali."
Sementara itu Abner di apartemennya selepas pulang bekerja, masak hotchpotch dan masukan beras dalam penanak nasi. Ia sibuk di dapur dan siapkan makanannya sendiri. Melihat Maribella tadi siang ia merasa sangat terganggu. Hansel sepertinya serius pada Maribella. Abner menarik napas kuat-kuat. Ia baru saja akan makan ketika bel pintu apartemen berdering. Mengerutkan kening.
"Apa aku punya tamu?" tanyanya pada diri sendiri perhatikan makanan yang ia buat hanya untuk dirinya sendiri. Meskipun heran Abner melihat siapa yang datang. Keningnya semakin terlipat.
"Luna?"
"Surprise!!!" seru Luna mengangkat kantong penuh makanan siap saji dan wine sebelum goyang-goyangkan kantong itu di depan wajah Abner.
"Darimana kau tahu alamatku, Luna?" tanya Abner keheranan.
Luna tersenyum lebar, "Aku sangat cerdas, Sayang. Aku dapatkan dari bagian HRD, alamat apartemen ini," sahut Luna mengecup Abner ringan sebelum menyerobot masuk. "Aku sudah was-was tadi, takutnya kau malah di rumah besar untuk makan malam."
"Aku belikan banyak ayam goreng dan tempura. Kita bisa nikmati ini sambil minum wine," katanya mendorong Abner pergi ke sofa.
"Luna ... ini sudah malam, bagaimana bisa kau berkeliaran dengan pakaian terbuka seperti itu di jalanan dan datang ke rumah seorang pria?" tegur Abner dengan nada halus.
Luna melotot padanya. "Oh ya ampun, kekasihku sangat kolot. Hei Tuan Abner Luiz, kita hidup di jaman modern. Oh ayolah, apakah aku harus berpenampilan seperti Nona Maribella?" tanya Luna tajam.
"Lupakan! Mari kita makan ..., setelah itu ..., aku akan antar kau pulang."
"Oh, ayolah Abner. Kita akan minum wine dan mengobrol," rayu Luna dengan nada seksi yang menggoda. Abner hembuskan napas berat sekali lagi. Habislah sudah, ia tak akan selamat sampai pagi.
"Luna, besok kita punya banyak kerjaan di kantor. Aku harus pergi ke laboratorium dan memeriksa sampel. Siangnya aku ada rapat dengan bagian marketing."
"Ya baiklah, baiklah," potong Luna. "Mari kita nikmati saja makanan ini."
Abner pandangi makanan siap saji di hadapannya sebab ia membenci makanan seperti itu. Tetapi, Luna terlihat tulus bawakan ia makanan. Luna perhatikan Abner.
"Apa kau tak suka makanan siap saji?"
"Em, aku punya makanan di dapur. Sebentar aku ambilkan."
Pria itu pergi ke sana dan bawakan hotchpotch dalam mangkuk besar dan dua mangkuk nasi.
"Aku menyukai ayam goreng Kentucky, Abner, dengan kentang goreng dan saos pedas ditambah tempura. Aku hindari makan nasi di malam hari."
"It's okay Luna, mari makan," sahut Abner. Emm, Luna tak cocok untuknya, Elgio benar.
"Kau tidak nyaman bersamaku, Tuan Abner?" teliti Luna awasi Abner. Mereka belum mulai makan. Luna menatap Abner tajam.
"Mengapa kau pikir demikian, Luna?"
"Kau terlihat tak suka aku berkunjung," balas Luna.
"Apakah terlihat begitu?" Abner menatap wanita cantik di depannya. "Jujur, aku belum terbiasa dengan kekasih yang berkunjung."
Luna menggeleng. "Kurasa bukan itu masalahnya. Apa karena Nona Maribella?"
Abner terperanjat dan terdiam. Luna bangkit berdiri.
"Tuan Abner, kupikir, aku pergi saja ...."
"Luna, hei, makanlah dulu. Aku akan mengantarmu pulang."
"Em, tidak perlu. Kau seperti bersamaku tetapi memikirkan orang lain."
Luna keluar dari apartemen sedang Abner mengikutinya dari belakang setelah memakai mantel. Luna masuk ke dalam lift dan Abner menyusul hendak meraih Luna tetapi gadis itu pergi ke pojok dengan wajah cemberut. Para pria berlomba-lomba menangkan hatinya dan mereka memuja ia bak rembulan purnama, tetapi Abner Luiz berkencan dengannya tetapi sama sekali tampak tak serius.
"Luna ... maafkan aku." Abner bersandar pada dinding dengan dua tangan mencengkeram pegangan dalam lift. Ia malah lebih brengsek dari si Sopan Hansel. "Aku berbeda dengan pria kebanyakan yang kau kenal. Aku sangat konvensional dan bukan pria agresif ... aku rasa aku tak cocok un ...."
Terputus.
Luna hampiri Abner cepat menempel di dada pria itu dan menyentuh Abner. Dua tangannya memeluk tengkuk Abner dan tanpa buang-buang waktu mencium Abner yang tak menduga Luna akan lakukan hal itu. Sentuhan itu lambat sebelum berubah liar.
"Baiklah, aku akan jadi agresif ... " kata Luna sebelum kembali mencium Abner lebih panas.
Abner berpegangan erat pada pegangan di dalam lift, berkunang-kunang sementara Luna separuh jalan taklukan bibirnya. Bell pintu lift berdenting pertanda mereka telah sampai di lantai dasar dan pintu terbuka.
Maribella terperangah di depan pintu lift dengan rantang makan malam di tangannya. Pemandangan dalam lift sungguh buat ia sesak napas. Wanita itu palingkan wajahnya tepat ketika Luna selesai dengan urusannya, tersenyum lebar pada Abner yang kikuk tak sadari kehadirannya.
"Luna, kau tak boleh seperti ini!" keluh Abner. "Kurasa aku bukan pria yang tepat ...."
Terputus.
"Eh, Nona Maribella? Anda di sini?" sapa Luna mendadak riang sebab wajah Maribella tampak salah tingkah dan kemerahan. Abner segera menengok dan dapati Maribella berdiri gelisah di depan pintu lift.
"Mai?" Abner berdiri kaku seperti robot.
"Ma, ma, maaf aku mengganggu, em, Anda tidak datang untuk makan malam bersama, jadi, aku ... em ... bawakan Anda makanan," sahut Maribella tersendat-sendat, kebingungan di depan pintu. Antara ingin pergi atau tetap tinggal. "Ini ... cukup untuk porsi dua orang. Anda dan Nona Luna bisa makan malam bersama," kata Maribella lagi sodorkan rantang makanan. Dalam lift saja mereka seperti itu, apa yang terjadi jika mereka makan malam bersama dan ... dan ... dan ....
"Oh tidak, Nona Maribella. Abner akan antarkan aku pulang," tolak Luna. Maribella dan dirinya sangat bertolak belakang. Maribella begitu sederhana tetapi sangat menawan dengan mantel dingin keluaran terbaru. Luna dapati dirinya cemburu. Maribella bahkan memakai tas limited edition dan sepatu boot dari perancang terkenal. Produk-produk yang dipakai Maribella adalah produk dari etalase eksklusif Dream Fashion.
"Taruh saja di dapur, Maribella! Aku akan antarkan Luna ke depan."
"Apa staff Anda menyukai menu tadi siang, Tuan Abner?"
"Ya, sampaikan pada Hansel Adelio ucapan terima kasihku."
"Baiklah, aku akan pergi setelah menaruh makanan di dapur," angguk Maribella dan masuk ke lift. Menekan angka 3 dan berdiri dengan gugup, tak mampu perhatikan Luna yang bergelayut di lengan Abner saat keluar dari apartemen.
Ia pergi ke lantai tiga, ke apartemen Abner, masuk ke sana dan perhatikan ruang tengah apartemen bergaya Jepang itu. Mereka sepertinya belum makan malam. Apakah mereka bertengkar? Makanan masih terhidang di atas meja. Tetapi, keduanya berciuman dengan lambat dan panas dalam lift. Maribella bertambah gelisah teringat penglihatannya tadi, menaruh rantang makanan di dapur dan segera keluar dari apartemen. Ia menunggu di depan lift dan berpikir untuk gunakan saja tangga. Ia tak ingin bertemu Abner, jika mungkin pria itu masih di depan. Oh, ada apa ini? Ada apa dengannya? Mengapa ia merasa sangat sedih?
Lift terbuka dan Abner di dalam sana hingga Maribella mengerut.
"Bukankah harusnya Anda mengantar Nona Luna, Tuan Abner. Apakah tak mengapa Luna pulang sendirian malam-malam?"
"Luna ingin sendirian," sahut Abner tak melangkah keluar dari dalam lift.
"Apa kalian ribut?"
"Kau sudah makan malam, Mai?" tanya Abner acuhkan pertanyaan Maribella.
Hening.
"Aku harus pulang," sahut Maribella ingin masuk ke dalam lift tetapi Abner tampak tak ingin keluar dari sana. "Aku lewat tangga saja," kata Maribella lagi gugup.
"Tidak Mai. Kau bisa lewat sini," tawar Abner canggung dan segera keluar persilahkan Maribella masuk ke dalam lift.
Maribella melangkah ragu ke dalam. Tanpa disangka Abner pegangi pergelangan tangannya.
"Bisakah kau temani aku makan malam?" tanya Abner pelan. "Kurasa kau juga belum makan."
Maribella terkejut perhatikan tangan mereka lalu beralih pada Abner. Ini harusnya salah, Abner punya kekasih dan ia sendiri serius ingin berkencan dengan Hansel Adelio. Tetapi mengapa terasa benar? Maribella menggeleng. Ia baru saja melihat Luna dan Abner berciuman dengan menggebu dan liar dalam lift.
"Tidak," jawab Maribella memaksa akal sehat bekerja keras. Ia sukai sentuhan itu, terasa manis hingga mengganggu seluruh sarafnya hingga ia merinding. Namun, ia akan sakiti Luna. Ia tak ingin begitu.
"Kita hanya akan makan malam dan berbaikan," kata Abner lagi. "Maafkan aku bertingkah menyebalkan padamu."
Mereka terpaku di tempat masing-masing sementara pintu lift masih terus terbuka. Abner menahan pintu dengan tubuhnya terlihat tak ingin biarkan Maribella pergi.
"Kau akan inginkan lebih." Maribella berkata tanpa diduga terlontar dari bibirnya. Sebenarnya ia sedang peringatkan dirinya sendiri. Namun, kata-kata itu terlepas kuat hingga terdengar oleh Abner.
"Mai?!"
"Anda tampak seperti Don Juan, Tuan Abner," keluh Maribella menatap pria itu gundah.
"Kami putus. Aku dan Luna. Aku tak bisa bersama Luna sementara aku terus memikirkan orang lain," jawab Abner lurus menatap Maribella ingin wanita itu peka.
"Abner ...."
"Bisakah kau tinggal bersamaku malam ini, Maribella?"
***
Akkkhhhh, sekian dan terima kasih.... Cintai aku....