
"Abner, apa yang wanita itu lakukan di sini?" tanya Elgio gusar saat temukan Irish Bella sibuk di ruang kantor dengan para kru. Semakin hari, wanita itu semakin jadi-jadi. Semakin berani bahkan ada semacam pertemuan tak di sengaja berujung pada kebetulan atau semacam takdir. Benar-benar menguji Elgio.
"Reporter yang harusnya wawancarai-mu tak bisa datang karena ditugaskan ke Gaza, jadi Irish gantikan dia," sahut Abner coba tenangkan Elgio dan bad mood-nya.
"Abner, kenapa tak katakan sejak pagi?" keluh Elgio. Ia bisa menghindari Irish, cari alasan atau apalah.
"Lucunya, wanita itu baru katakan saat injakan kaki di kantor ini. Apakah ada sesuatu di antara kalian yang tidak kuketahui?"
Elgio mengangguk lesu. "Ya, ia punya gambaran Al Shiva soal kekasih masa depannya. Itu aku! Kau tak dengar saat wawancara pertama?"
"Bukan itu! Pasti ada sesuatu lain yang membuatnya merasa ingin taklukan hatimu?!"
"Bagaimana kalau kau tanya dia?!" Elgio makin geram.
Lebih buruknya lagi, ia tak mungkin pergi sementara Irish telah bersiap-siap menunggunya. Jika ia kabur sekarang, maka makin jelaslah kalau ia takut akan tergoda Irish.
"Ada banyak wanita hebat di sekelilingmu waktu di New York dan kau hanya bergairah pada Nona Marya, mengapa kau gelisah pada yang satu ini?" tanya Abner keheranan. "Anggap saja dia angin lalu!"
"Karena Irish Bella jelas-jelas tunjukan rasa suka-nya padaku, aku tak akan tanggapi tetapi Marya?! Mudah saja baginya untuk salah paham padaku. Ini terakhir kali Abner, atau aku akan pecahkan kamera-kamera itu."
Elgio masuk ke kantor dengan suasana hati buruk, duduk berseberangan dengan Irish Bella, tanpa senyum, tanpa ekspresi hingga Irish mengernyit.
"Apa kau sedang ada masalah dengan kekasihmu? Para ABG kadang tidak stabil. Mereka labil dan sensitif cenderung manja dan banyak mau," kata Irish tanpa alihkan pandangan dari naskah wawancara di tangannya. Bibirnya miring seakan senang jika Elgio benaran bermasalah dengan gadis yang bernama Marya itu. Mereka akan bertemu beberapa hari lagi untuk wawancara eksklusif. Ia tak menyukai Marya dan juga Nona Durante yang pemarah bermulut setajam samurai.
"Tidak, aku bermasalah dengan sikap seorang wanita yang terlalu ekspresif dan agresif padaku," sahut Elgio dingin. Menatap Irish muak.
"Oh, ayolah Elgion Durante! Aku tak menipumu, ini sangat sulit bagiku datang ke acara ini sementara tahu bahwa kau tak peduli padaku! Ini juga salahmu, harusnya kau tak lari diawal wawancara. Pikirmu, aku suka secara sengaja terjebak denganmu?!" serang Irish tak kalah dingin.
"Baiklah, lakukan dengan cepat! Bukankah kau seorang jurnalis, mestinya tahu, bahwa wawancara untuk siaran langsung butuh kenyamanan."
"Kau tak nyaman denganku?" tanya Irish heran. Elgio satu-satunya pria yang tak nyaman dengannya, sungguh aneh.
"Ya, karena kau terang-terang suka padaku, kurasa kau datang kemari dan ambil kerjaan ini karena kau terobsesi padaku! Bukankah seorang wanita cerdas sepertimu terlihat murahan saat mengejar seorang pria, Irish?!"
Irish Bella terpojok oleh kata-kata Elgio, kehilangan kata sejenak, sebelum kembali dan sunggingkan senyuman sinis.
"Hanya karena aku kagum padamu, bukan berarti kau bisa merendahkan aku, Elgio Durante. Ini pertemuan kita yang terakhir, aku janji!"
"Ya, kuharap begitu. Jangan buang waktuku, Irish dan sebaiknya tidak bertanya pada sesuatu yang bisa buat aku pecahkan kepala kameraman-mu!"
Wawancara dimulai dan Elgio menjawab seperlunya, sepentingnya tetapi dengan kata-kata yang singkat, jelas dan padat. ia memikirkan tiap jawaban agar Irish tak cari-cari alasan untuk bertemu dengannya. Banyak wanita tergila-gila padanya tetapi Irish yang sangat agresif membuat Elgio gelisah.
Sementara Marya tinggalkan sekolah untuk makan siang bersama Elgio. Mereka hanya makan kotak bekal yang disiapkan Bibi Maribel dan akan kembali ke sekolah untuk belajar sore bersama Reinha dan Ethan.
Marya tak sabar ingin cepat-cepat sampai kantor. Mereka hindari kegiatan di ranjang seperti terakhir kali dan sibuk dengan kegiatan masing-masing, muka itu lekas memerah. Augusto mengemudi dalam diam.
"Kau bisa kembali ke rumah untuk temani Bibi Mai ke supermarket, Augusto. Aku akan minta Elgio antarkan aku kembali ke sekolah. Terima kasih sudah menjemputku, ya," kata Marya sebelum turun dari mobil.
"Baik, Nona."
Marya melangkah ringan dengan dua kotak makan siang di tangannya. Ini pertama kali ia akan makan siang dengan Elgio di kantor pria itu. Wajahnya berbinar-binar oleh rasa bahagia.
Marya sampai di bagian luar ruangan kantor Elgio dan beberapa pegawai terlihat mondar-mandir dengan berkas dan mesin fotocopy yang terus berdengung.
"Nyonya, Anda datang?" sapa salah seorang pegawai. "Bos masih ada wawancara eksklusif, Anda bisa menunggu dulu! Hampir selesai sepertinya."
"Benarkah?"
"Ya Nyonya, Nona reporter Irish Bella ada bersamanya di dalam."
"Irish Bella?" tanya Marya sedikit terusik. Bukankah wanita itu, Irish Bella, yang punya lukisan Elgio sama dengannya dari Al Shiva?!
"Ini wawancara mereka yang kedua, Nyonya. Sebelumnya Nona Irish juga datang wawancara tetapi katanya tak cukup untuk menulis artikel. Jadi, ia datang lagi."
Marya manggut-manggut paham. "Boleh aku masuk?" tanya Marya pelan.
"Silahkan Nyonya, asal Anda tak mengganggu jalannya wawancara. Jika mau, Anda bisa menunggu di ruangan sebelah sampai Tuan Elgio selesai?!"
"Aku ingin melihat wawancara itu!" kata Marya.
"Baiklah, masuk saja, Nyonya."
"Terima kasih."
Marya berdiri di luar kantor ingin masuk tetapi ragu-ragu takut mengganggu konsentrasi Elgio. Marya putuskan berdiri di dekat pintu kaca, di antara beberapa kru televisi. Elgio tampak sangat tampan dalam balutan jas abu-abu. Wajah tampan kekasihnya itu tampak luar biasa di kamera. Alasan, Elgio sangat dipuja adalah sukses, cerdas dan tentu saja sangat tampan.
Lalu Irish?!
Marya menahan napas, sesuatu bergejolak di dalam dirinya saat menangkap sosok Irish Bella. Wanita itu dewasa, sangat cantik, modis, dan terlihat penuh semangat. Sangat cerdas dari caranya ajukan pertanyaan, menyimak jawaban Elgio dan bermanuver dengan kata-kata. Sekali lihat, Marya tahu, karakter mereka berbeda jauh, bertolak belakang. Elgio dan Irish mengobrol santai meski Elgio terlihat tak nyaman di dekat wanita itu. Sebenarnya Elgio tak nyaman bersinggungan dengan wanita lain selain dirinya.
Beruntung wawancara berakhir. Elgio berdiri dan pergi ke meja kerja, bersandar di sana dengan dua tangan terlipat di depan dada sedang Irish bersiap-siap kembali.
"Terima kasih Elgio, untuk waktumu!" ujar Irish tersenyum hangat.
"Ini yang terakhir Irish!" balas Elgio.
Irish Bella bangkit pergi pada Elgio seraya ulurkan tangan untuk ucapkan terima kasih dan sampai jumpa. Namun, ia terlalu tergesa-gesa sebab ujung sepatunya tersangkut di kaki sofa. Wanita itu serta Merta terbang pada Elgio, dan pria itu refleks menangkapnya. Tak masalah Elgio berikan bantuan.
Tetapi ....
Bibir mereka bertemu. Marya pegangi jantungnya yang seakan berhenti berdenyut. Ia berdiri kaku di ujung sana menghitung detik, dan terpukul karena sentuhan itu lebih lama dari seharusnya. Mata-mata indah itu terpejam sedang kamera masih menyala. Seorang kru mengambil gambar, Marya merebut ponsel itu dan masukan dalam saku jasnya.
"Eh, Nona?! Apa yang kau lakukan?"
"Kau tak boleh ambil gambar, atau aku akan menuntutmu!" seru Marya marah.
"Nona, Anda di sini?" tegur Abner riang dari arah luar datangi ruang kantor Elgio, keheranan saat Marya terlihat berkaca-kaca. "Dua kotak makan?" tanya Abner lagi merasa Maribel mengabaikannya.
Marya tak perhatikan lagi Elgio yang tercengang sadari kehadirannya. Marya berbalik pergi pada Abner.
"Aku harus pergi, Tuan. Ini bekal makan siangmu dan Elgio," kata Marya meraih tangan Abner dan serahkan kotak makan sebelum pergi dari sana. Gadis itu berlari cepat turuni tangga.
Apakah Elgio mulai pergi ke lain hati? Tidak, itu tak akan mungkin terjadi. Marya menahan taxi depan perusahaan Elgio dan buru-buru naik. Ia kembali ke sekolah.
Prianya yang sangat romantis, menyentuh wanita lain meski tak sengaja. Marya menangkup wajah dengan kedua tangan, pusing dan mual-mual. Jika dibandingkan dengan Irish, ia sama sekali tak ada apa-apanya. Ponselnya berdering dan Elgio memanggil. Marya hanya perhatikan sejenak. Mereka bersentuhan lebih lama dari 10 detik dan kontak mata seperti itu hanya dilakukan oleh seseorang yang suka satu sama lain.
Panggilan kedua, Marya abaikan, merasa terluka. Itu sentuhan tanpa disengaja tetapi Marya dan hatinya yang rapuh kesakitan. Marya turun di sekolah, ia pergi ke perpustakaan dan terkejut dapati Reinha juga di sana, uring-uringan sama sepertinya.
"Kau di sini, Marya?!" tanya Reinha heran. "Bukankah kau akan pergi makan siang bersama Kakak?!"
Marya duduk dengan wajah lesu, menangkup wajah di atas meja.
"Ada apa Marya?!"
"Bicaralah padaku! Aku akan menolongmu!"
Ponsel Reinha berdering dan melipat kening saat lihat siapa yang memanggil. Ia berharap itu Lucky Luciano tetapi ternyata Elgio.
"Kalian marahan?!" selidik Reinha. Mengangkat ponsel.
"Enya, apa Marya bersamamu?"
Reinha menyipit, sesuatu pasti terjadi. "Tidak! Bukankah dia pergi ke tempat kakak untuk makan siang bersama?!" Reinha berbohong.
"Ya ya ya, tetapi ...."
"Apa sesuatu terjadi?!" tanya Reinha curiga.
"Emm, ya, aku melihat Marya tadi di kantorku dan aku sedang wawancara. Irish terjatuh dan aku menolongnya, aku tak sengaja ...." Elgio terdengar depresi.
Reinha berdecak, "Sudah kuduga begini akhirnya! Kau harus tegas pada Irish, Kak! Atau kau akan kehilangan Marya! Kakak tahu, Ethan sangat setia menunggu Marya! Atau kau biarkan saja Ethan bersama Marya dan kau bisa pergi dengan Irish!" omel Reinha dan matikan ponsel.
Irish Bella, si jalang itu, berani sekali dia datang dengan raut cantik dan tatapan tajamnya dan ciptakan kekacauan. Gara-gara pertemuan dengan Irish dan September, ia dan Lucky agak renggang. Kini, ia buat Marya bersedih.
"Ayo kita pergi bersenang-senang!" ajak Reinha. "Double L launching banyak produk baru untuk dress. Kita akan pergi ke ulang tahun perusahaan dan mari beli beberapa dress baru."
"Baiklah!" jawab Marya tak tahu caranya kendalikan perasaan. Memori otaknya sangat bagus, mereka selalu menyimpan tiap memori dengan detil sejak ia balita. Siluet Irish dalam pelukan Elgio dan sentuhan itu, hadirkan perih.
"Aku ikut!" Ethan Sanchez tiba-tiba muncul. Ia tak tahan lihat Marya bersedih tetapi tak mungkin menghibur gadis itu meski sangat ingin. Marya terlihat sangat terluka, mata gadis itu tampak tak bersemangat, Ethan tak berharap Elgio menyakiti Marya.
"Ayo, bertiga lebih baik."
Mereka pergi dan Arumi perhatikan ketiganya, sangat dekat dan saling menjaga satu sama lain, sangat solid. Ethan sangat menyukai Marya, itu tak dapat dibohongi. Ethan diam-diam perhatikan Marya dari balik celah buku dengan tatapan penuh sayang, sorot mata lembut dan sendu. Arumi menunduk menatap sepatunya. Seandainya ia jadi baik, apakah Ethan akan melihat padanya? Ia mulai menyukai Ethan. Aneh, suka pada sikap kasarnya.
Marya, Reinha dan Ethan pergi ke Double L Distro dan meski tak sepenuhnya lupa, Marya terhibur dengan tingkah konyol Ethan dan Reinha. Mereka hunting dress dan Ethan jadi kelinci percobaan. Lelaki itu rela dipakaikan bando kelinci bahkan dengan santainya ukur-ukur dress ke tubuhnya dan bicara tidak-tidak soal lady boy hingga Marya dan Reinha kecekikan.
"Kita akan pakai ruangan VIP, aku punya kartunya! Jadi, kita tak perlu reservasi!" kata Reinha bangga.
"Tahu, tahu ... kau tak ingin bertemu kekasihmu dulu? Tumben?! Kalian selalu terlihat kasmaran berat sampai-sampai terlihat tak waras," goda Ethan mulai usil.
"Sebenarnya kita harus bertemu dia dulu. Kartunya juga masih di Lucky!" sahut Reinha cengar-cengir.
"Ya Tuhan, gadis ini .... Ku pikir sudah dia pegang kartunya? Kau dapat diskon atau apa? Jangan sampai kartu itu hanya berisi kata-kata cinta?"
Reinha cengengesan. Mereka pergi ke ruangan Lucky dan Reinha hendak mengetuk pintu, beri Lucky Luciano kejutan. Mereka tak berkomunikasi beberapa waktu sejak pertemuan dengan September.
"Ooopss, Nona Anda tidak boleh masuk dulu. Tuan sedang bersama tamu penting!" cegah sekertaris Lucky.
"Eh?! Apa ada pertemuan bisnis?"
"Bukan, Nona."
Beberapa pegawai berbaris dengan banyak troli berisi pakaian bayi dan perlengkapan bayi lain. Perasaan Reinha tak karuan. Ia sedikit mundur saat salah seorang di antara mereka mengetuk pintu. Reinha melongok ketika pintu sedikit terbuka.
Lucky sedang berbincang serius dengan dua orang wanita, abaikan pegawainya yang datang mendorong troli. Pria itu lalu mulai amati satu persatu barang yang dibawa sebelum beri perintah packing dengan baik. Saat pintu makin lebar, Reinha melihat si wanita lebih jelas. September dan mungkin Ibunya, karena tampak jauh lebih tua dan sangat bersahaja. Lucky meski tak terang-terangan tunjukan ekspresi wajah, Reinha bisa rasakan bahwa prianya sangat peduli. Reinha menahan napas, tidak, ia tak akan goyah. Lucky sedang cari solusi seperti yang ia harapkan meskipun solusi itu macam yang Reinha lihat. Jemari cantiknya singgah di dada sebab hatinya sangat sakit.
"Kalian sangat kompak ya, disakiti di hari yang bersamaan?!" seru Ethan mencibir.
Reinha perhatikan dalam diam. Saat wajah Lucky terangkat, mata mereka bertemu. Kesakitan menjalar di mata jernih itu meski samar dan berhasil dikontrol dengan baik. Reinha tak bisa pergi karena sesuatu menahan ia di sana. Lucky Luciano tinggalkan semua di dalam, termasuk September dan buru-buru datang dengan kekuatiran luar biasa di wajah tampannya. Bukan takut Reinha marah, atau takut tindakannya tak wajar tetapi ekspresi takut kehilangan, takut sakiti gadis itu, cemas Reinha salah paham.
"Enya, kau tak kabari aku kalau akan datang?" tanya Lucky. Napas keras dan berat, kepercayaan Reinha padanya setipis kulit bawang, mudah sobek dan butuh waktu berhari-hari untuk membujuk gadis itu jika sedang marah.
Reinha tersenyum meski hati teriris-iris dan terasa nyeri.
"Ya, tak ada rencana. Kami hanya akan mencari beberapa dress dan tadinya aku ingin minta kartu VIP padamu!"
Meskipun ia menerima Lucky apa adanya, dan percaya pada pria itu. Bagaimana jika Lucky seperti Axel? Bahagia saat punya bayi dan ingin bersama wanita yang mengandung bayinya. Pikiran Reinha kembali ke sana, selalu pergi ke sana.
"Enya ... aku hampir selesai. Bisakah kau menunggu sebentar? Aku akan temani kalian," kata Lucky Luciano terlihat tak ingin Reinha kecewa, tak ingin melepas gadis itu pergi.
"Em, kami akan berbelanja, Lucky! Kau bisa selesaikan urusanmu dan kita akan bertemu lagi, ya!" Reinha menyeret Marya pergi.
"Hei, Enya?!"
Ethan berdecak perhatikan Lucky Luciano dan tampang ganteng tetapi tak berdaya seperti pria bodoh.
"Pria-pria bodoh. Tak cukup puas menggenggam berlian murni mereka coba mengejar berlian palsu! Menyedihkan untuk dilihat."
"Jangan ikut campur, Ethan Sanchez!" desis Lucky tidak suka, "Ini bukan seperti yang terlihat."
"Tentu saja," balas Ethan angguk-angguk lemah. "Aku akan bawa Reinha dan Marya ke kafe, beritahu Elgio Durante juga. Aku tak mengerti, masalah percintaan kalian, tetapi aku tak suka Marya atau Reinha murung. Kalian bisa bermesraan di sana tanpa batas waktu dan berbaikan."
"Terima kasih Ethan untuk bantuanmu."
Ethan menyusul teman-temannya yang pergi dengan cepat.
"Kau baik-baik saja Reinha?" tanya Marya saat wajah Reinha sangat-sangat kelabu.
"Ya, Marya."
Apa Tuan Lucky menghamili wanita lain? Pikir Marya suram. Oh, benar-benar hari yang buruk untuk mereka berdua.
Mereka memilih beberapa gaun dan pura-pura bersenang-senang, kamuflase yang sempurna. Ethan menggeleng lihat kedua sahabatnya bermuram durja kelabu tua mendung menggelap. Seakan-akan seluruh awan gelap mengandung butiran hujan pindah di wajah keduanya.
"Ayo kita ke kafe dan aku traktir minum."
Ethan menyeret dua gadis itu pergi ke kafe. Arumi di sana sedang bersihkan kaca dan lantai, tak berani menoleh pada Ethan.
Ketiganya duduk dengan wajah lesu.
"Saatnya kalian berhenti pacaran dan serius belajar. Ya Tuhan, harusnya ada peraturan dalam kurikulum, siswa di bawah umur 18 tahun tak boleh berkencan terlalu serius seperti orang dewasa sebab bisa ganggu konsentrasi, turunkan daya ingat, buat malas belajar dan selalu tak berbentuk, terlebih saat patah hati, macam begini," keluh Ethan.
Arumi datang dengan dua gelas cappucino. Reinha dan Marya saling pandang.
"Kami tak akan minum apapun yang kau bawa, Arumi!"
"Maafkan aku, ku pikir ...."
"Tolong pergi saja, Arumi!" potong Reinha dingin hingga Arumi lekas angkat kaki.
***
Wait me Up ya, cintai aku, aku mencintaimu....